<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189</atom:id><lastBuildDate>Tue, 27 Oct 2009 04:32:05 +0000</lastBuildDate><title>Formasio Diri Sendiri</title><description>Membentuk diri sendiri menjadi peribadi utuh, religius dan bijaksana...</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8104032508580643395</guid><pubDate>Fri, 27 Mar 2009 05:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-26T22:32:42.094-07:00</atom:updated><title>ATUR WAKTU AGAR TUGAS LANCAR</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Bagi pekerja kantor yang sibuk, waktu ibarat benda hidup yang selalu mengejar-ngejar anda. Seringkali tugas tidak terselesaikan secara maksimal karena diburu-buru waktu. Hal ini salah satunya disebabkan kurangnya kemampuan anda dalam mengatur waktu. Untuk mengantisipasinya, perhatikanlah kiat-kiat berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pertama, kerjakanlah tugas anda sesuai dengan prioritas. Jika tugas anda banyak, susunlah tugas tersebut sesuai dengan skala prioritas. Bisa dimulai dengan mengerjakan tugas yang tersulit hingga yang termudah atau sebaliknya, sebaiknya sesuai dengan cara anda bekerja. Janganlah lupa kerjakanlah tugas tersebut dengan irama pas, tidak terlalu lambat atau cepat.&lt;br /&gt;Kedua, perkirakanlah berapa lama waktu yang anda perlukan untuk menyelesaikan tugas. Selain itu, aturlah waktu yang tepat untuk memulai tugas tersebut. Dengan kedua hal ini, anda akan bersikap realistis terhadap rencana dan tugas-tugas. Jangan lupa, anda juga perlu mempertimbangkan kemampuan anda dan tim dalam menyelesaikan tugas tersebut.&lt;br /&gt;Ketiga, jangan terlalu terpaku pada lama waktu yang anda rencanakan untuk mengerjakan suatu tugas. Jika anda merencanakan untuk menyelesaikan tugas dalam waktu dua jam, misalnya jangan terpaku untuk menyelesaikannya dalam waktu tersebut. Akan jauh lebih baik jika anda berusaha menyelesaikannya dalam waktu yang lebih cepat. Dengan demikian anda dapat segera beralih ke tugas yang berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Keempat, kerjakanlah tugas sesuai dengan disiplin diri yang baik. Kerjakanlah tugas sesuai dengan skala prioritasnya. Usahakan agar anda tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang kecil, seperti browsing internet yang tidak berhubungan dengan pekerjaan anda. Setelah tugas selesai dikerjakan, pastikan tidak ada bagian yang tercecer baru kemudian beri waktu bagi diri anda sendiri beristirahat sejenak untuk melonggarkan pikiran.Kelima, salah satu hal terpenting dalam mengatur waktu adalah dengan bersikap efisien. Hal ini sama dengan bersikap mudah dan berpikir praktis. Anda tak perlu menghabiskan waktu untuk berpikir rumit tentang bagaimana cara mengerjakan tugas. Intinya, jika suatu tugas dapat dibuat sederhana, mengapa harus dibuat sulit. Dengan bersikap efisien, tugas akan mudah diselesaikan dan anda akan mendapatkan lebih banyak waktu lagi untuk menyelesaikan tugas berikutnya. (INO/Kompas/13-11-2008).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8104032508580643395?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/03/atur-waktu-agar-tugas-lancar.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8515731338578258877</guid><pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-10T21:14:53.549-07:00</atom:updated><title>Pengalaman Bukan Syarat Mutlak Melamar Pekerjaan</title><description>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sbc6XlXPzoI/AAAAAAAAALM/YK_JDvkSZTQ/s1600-h/interview.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311778462347808386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sbc6XlXPzoI/AAAAAAAAALM/YK_JDvkSZTQ/s400/interview.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Saat baru lulus kuliah, sering kali para calon pelamar ini bingung akan menulis surat lamaran pekerjaan seperti apa, karena pada umumnya banyak perusahaan yang mensyaratkan pengalaman kerja. Mau tak mau, hal ini membuat sebagian calon pelamar merasa minder lantaran selama kuliah nyaris tak punya pengalaman kerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sebelum melamar pekerjaan kita terlebih dahulu harus tahu apa yang diinginkan perusahaan. Umumnya perusahaan menginginkan calon karyawan yang bisa berkontribusi langsung. Buat yang baru lulus kuliah, jangan pernah putus asa karena pengalaman yang dimaksud bukan melulu pengalaman kerja di perusahaan lain, tetapi pengalaman yang berkaitan dengan bidang industri yang digeluti.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, jika anda ingin berkontribusi dan bekerja pada perusahaan periklanan, pastikan anda memiliki kemampuan – syukur-syukur pernah menang lomba – menggambar, mengkreasikan iklan, atau bahkan menulis karena sebuah biro iklan pastinya memiliki kebutuhan yang tinggi akan desainer grafis atau copy writer sebagai bagiannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dalam melamar, perhatikan kualifikasi apa yang perusahaan tersebut inginkan. Lazimnya lagi, perusahaan mengharapkan oramg yang dapat belajar dan menyesuaikan diri dengan cepat agar bisa dikembangkan untuk kemudian berkontribusi secara maksimal.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tidak sedikit lho, perusahaan yang lebih suka mencari sarjana fresh graduate ketimbang yang sudah berpengalaman agar bisa dididik sesuai dengan visi dan misi perusahaan yang bersangkutan. Pastinya mereka yang terpilih umumnya memiliki prestasi, aktivitas, dan kreativitas di atas rata-rata karena perusahaan mengharapkan kecerdasan dan kreativitas mereka akan berguna bagi perusahaan dan nantinya bisa berkontribusi secara maksimal.Oleh karena itu, saat kuliah jangan hanya terpaku pada buku teks. Tak ada salahnya jika anda sesekali membantu kegiatn kampus, mengikuti kegiatan ekstra kurikuler atau organisasi lainnya yang dapat mengasah kreativitas dan memberikan nilai tambah pada pengalaman hidup anda. AYA/ Kompas/21/12/2008.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8515731338578258877?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/03/pengalaman-bukan-syarat-mutlak-melamar.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sbc6XlXPzoI/AAAAAAAAALM/YK_JDvkSZTQ/s72-c/interview.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5533784759302194002</guid><pubDate>Tue, 03 Mar 2009 08:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-03T00:32:59.911-08:00</atom:updated><title>KONTROL DIRI ADALAH SENJATA PERUBAHAN</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sazq8x-vLZI/AAAAAAAAALE/dDi0MWeycF4/s1600-h/anjing+setia1a.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308876390692498834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 231px; CURSOR: hand; HEIGHT: 197px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sazq8x-vLZI/AAAAAAAAALE/dDi0MWeycF4/s400/anjing+setia1a.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Semua orang pasti setuju dengan “magic”-nya puasa di bulan Ramadhan (atau di masa Prapaskah pada umat Katolik, red.). Kekuatan niat yang begitu besar menjadikan kita yang tadinya tidak kuat menahan haus dan lapar di hari biasa, di bulan Ramadhan bisa melakukannya tanpa merasa berat. Bahkan, dengan puasa penyakit malah sembuh, badan terasa lebih ringan. Latihan kesabaran, kegigihan dan keuletan ini memang benar-benar memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk lebih banyak bertaqwa, lebih bisa mengelola diri sendiri dan tentunya “naik kelas” sebagai manusia. Suatu latihan yang sangat berharga untuk individu yang memang ingin mematangkan jiwa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan kita, tentu saja, me-maintain kompetensi control diri, emosi dan pikiran ini seusai masa Ramadhan. Sayang sekali bila kita kembali “loss control”, sehingga upaya latihan kita selama Ramadhan tidak kelihatan impact-nya. Misalnya kita kehilangan control diri lagi dengan kembali memborong barang yang tidak perlu, boros energi, melanggar lampu lalu lintas, terlambat dating ke kantor, sehingga semangat untuk bersabar dan menjadi manusia yang gigih kembali ke titik nol lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan yang naik bobot badannya 20 kg semasa hamil, menjamin bahwa berat badannya bisa kembali seperti sedia kala dalam waktu 4 bulan. Ketika ditanya kunci kesuksesannya, ia menjawab santai: “Puasa”. Ia mengatakan bahwa dengan berpuasa senin kamis, ia mempunyai control diri terhadap pola makannya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa selama ini ia makan berlebihan dan menciptakan mekanisme persepsi terhadap terhadap makahan yang beda. Akhirnya pola disiplin dan pola makannya berubah. Ini adalah contoh orang yang memanfaatkan latihan sebagai sarana peningkatan kualitas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol Diri adalah Senjata Perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti burung-burung yang bermigrasi secara otomatis saat pergantian musim, manusia, makhluk berakal budi paling super di muka bumi ini, memang tidak bisa mengandalkan instingnya lagi untuk berdisiplin. Manusia digerakkan oleh habit-nya. Manusia juga pengambil keputusan yang sangat berbasis emosi, juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, sehingga ia mudah sekali berubah atau melanggar rencananya sendiri. Itulah sebabnya orang bisa memanfaatkan emosi untuk berbisnis, misalnya dengan membuat tren, membentuk komunitas, merangsang konsumerisme dan tanpa sadar menghancurkan pertahanan control diri individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, keunikan individu membuat manusia mempunyai control penuh atas kemauannya, apakah ia akan memenuhi kebutuhannya atau tidak, memilih kapan “timing” terbaik, memilih di mana mendapatkannya dan mengontrol dengan cara apa ia akan memenuhi kebutuhannya. Contoh mudah, kita yang sudah berniat berhenti merokok, tiba-tiba ada di kerumunan perokok, yang menawarkan rokok pula. Pada saat ini, keputusan untuk memilih adalah seratus persen disadari oleh individu. Namun impuls, kebutuhan, keinginan individu bisa berkolaborasi dalam melemahkan control drinya. Pada saat inilah biasanya rasio atau pikiran individu bekerja, untuk mencari alasan pengampunan terhadap pelanggaran dirinya, untuk mengurangi rasa bersalah, sehingga individu tetap merasa “seimbang”. Situasi ini kita kenal dengan istilah rasionalisasi alias pembenaran. Pembenaran ini semula hanyalah dialog internal. Namun, bila individu berhadapan dengan lingkungan social, maka ia akan menyusun cerita pembenaran yang bisa diterima, sehingga perbuatannya cocok dengan situasi. Di sinilah control pertahanan diri bisa bobol dan tanpa sadar, tindakan pelanggaran di-“bela” oleh individu sendiri. Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya berubah tanpa control diri yang kuat. Sebagaimana kita sadari, banyak yang berteori dengan perubahan tetapi tidak sadar bahwa kuncinya justru pada control dirinya. “Everybody thinks of changing humanity and nobody thinks of changing himself” (Leo Tolstoy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin sebagai Impelementasi Kontrol Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman sekarang, kita jarang menemui orang yang sangat bangga dengan sikap disiplinnya. Bahkan disiplin dikaitkan dengan hukuman, surat peringatan, teguran keras, bahkan PHK. Padahal ini baru penerapan disiplin “kelas kambing”. Bila kita menaati rambu lalu lintas hanya bila ada polisi, tentunya kita tidak bisa mengaku bahwa kita orang berdisiplin. Untuk menjadi seorang yang berdisiplin, latihan-latihan untuk mengontrol diri harus dilakukan jutaan kali dan melalui proses yang panjang. Latihannya antara lain menahan desakan keinginan sambil mengevaluasi keyakinan, memperkuat motivasi dengan membayangkan hasil akhir yang lebih baik, serta mengelola konflik dengan membayangkan konsekuensi pelanggaran versus komitmen yang dibuat. Disiplin memang sering dimulai dari peraturan, tetapi disiplin yang sebenarnya adalah kalau sudah menjadi persepsi tentang hidup atau gaya hidup. Pada tingkat inilah individu baru bisa bangga pada kompetensinya ini dan bisa merasa percaya diri karena mempunyai sikap mental yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya Menadi Orang yang Terkontrol&lt;br /&gt;Banyak orang mencampuradukkan sikap mengontrol diri dengan sikap kaku, keras, tegang atau terhambat. Sikap ini tentunya sangat berbeda, karena orang yang bisa mengontrol dirinya, sangat mampu untuk bersikap fleksibel pula. Sementara yang kaku dan terhambat, bisa saja tampil terkontrol, tetapi mudah patah, dan bahkan bisa meledak, lepas control. Orang yang terkontrol biasanya akan tampil tepercaya di pergaulan dan pekerjaan, berintegritas dan yang paling penting, mempunyai daya adaptasi terhadap perubahan. Orang dengan control diri yang baik akan mudah menjadi orang yang inovatif, bahkan dalam pergaulan bisa mengembangkan “sense of humor” dan empatinya. Bagaimana tidak? Orang seperti ini sudah mengalami gemblengan latihan control diri, di luar kewajiban puasa, secara berjuta-juta kali. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas/ 20/09/2008). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5533784759302194002?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/03/kontrol-diri-adalah-senjata-perubahan.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sazq8x-vLZI/AAAAAAAAALE/dDi0MWeycF4/s72-c/anjing+setia1a.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8949463260875384675</guid><pubDate>Mon, 23 Feb 2009 09:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-23T01:05:10.461-08:00</atom:updated><title>MARI BERBURU MASUKAN</title><description>&lt;span style="color:#006600;"&gt;Semua orang pasti setuju pentingnya masukan untuk perbaikan. Namun, seberapa baik dan terbukanya kita mendengar masukan, ketika masukan itu datang di depan mata kita? Seorang pebisnis teman saya tahu persis bahwa saat sekarang, kecanggihan pengaturan cashflow merupakan kunci pertahanan dan kesuksesan bisnisnya saat ini. Ia pun menyetujui direkrutnya seorang eksekutif yang bisa melakukan pengaturan keuangan secara lebih canggih. Saat eksekutif tadi mengemukakan perbaikan  dan langkah perubahan yang ia canangkan, pebisnis tersebut langsung berkilah. Dengan daya persuasi yang kuat, ia justru mengarahkan eksekutifnya untuk mengerjakan cara lama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi lain, saya menyaksikan seorang atasan mendengarkan presentasi bawahan yang menyajikan brutal facts  yang perlu diwaspadai. Lucunya, atasan tersebut tidak me-“welcome” fakta yang disajikan, mengabaikan untuk menggali fakta dengan sikap skeptis yang sehat, tetapi malah berusaha mempersuasi audiens untuk berpikir bahwa ada kemungkinan data salah, cara pengambilan datanya tidak tepat, dan banyaknya pertimbangan yang tidak dimasukkan. Akhirnya, ‘brutal facts’ yang ditemui dimentahkan lagi, situasi pun tidak berubah, perbaikan bahkan tertolak karena tidak masuk ke benak pemikiran orang-orang yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar komentar dari orang-orang yang sedang mengalami ke-“ribet”-an, “Anda tidak ngerti persoalannya, sih”. Padahal, saat kita berada dalam ketidakpastian dan kompleksitas seperti inilah, masukan pihak lain menjadi sangat penting. Rasanya tidak perlu mengadaptasi sikap periset yang selalu mengedepankan sikap kreatif dan kritis dalam memperoleh dan mengolah data. “Stakes are high, Feedback is a must”, kata orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukan: Obyektif atau Subyektif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berburu masukan itu ibarat berkeliling menanyakan pendapat tetangga tentang masakan yang baru pertama kali kita buat. Perasaan yang timbul memang bermacam-macam, mulai dari bertaanya-tanya, bangga, tersinggung, atau was-was. Apakah pendapat orang lain obyektif? Bukankah kita yang lebih tahu mengenai apa yang kita tekuni? Apakah mereka cukup ahli dan tidak asal cuap? Sepanjang kita bisa meyakini bahwa masukan itu berguna, kita akan tetap bisa memanfaatkannya. Kita hanya perlu betul-betul mendengar dulu. Kita sering lupa bahwa masukan itu tidak mengenal pangkat, status atau usia. Masukan dari para sesepuh, senior ataupun pegawai rendahan bisa sama berharganya, tergantung seberapa pasnya masukan itu dengan kebutuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tidak bisa serta merta meragukan obyektivitas masukan orang. Hampir semua situasi atau produk yang kompleks dinilai secara subyektif dan tidak mempunyai ukuran yang pas. Sebut saja produk “I-MAC Supert-thin” atau film “Laskar Pelangi”. Kita tidak akan bisa melihat dan menentukan apakah masukan orang bersifat subyektif atau obyektif, berdasarkan rasa suka atau tidak suka. Lalu, kalau begitu, apakah kita akan berhenti mengejar masukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transparansi Berharga Mahal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah tulisan mengenai tren 2009, dikatakan bahwa ini era adalah era ‘instant feedback’. Melalui GPS (Global Positioning System),  keberadaan dan pembicaraan siapapun bisa dilacak secara real time. Orang butuh memotret kemacetan lalu lintas saat ini juga, polling pendapat mengenai popularitas diri sebagai politisi harus akurat dan terkini, bahkan instant. Ini adalah era transparansi. “Corporate Governance” pun sebetulnya tidak perlu disosialisasikan karena tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bila ada pihak yang menutup-nutupi kecurangan, pasti ada pihak lain yang akan membongkar faktanya. Tengok saja betapa KPK demikian cerdik mendaptkan fakta, demikian pula pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sekarang kita memang mesti berlomba adu cepat untuk mendapatkan fakta, baik mengenai situasi pasar, competitor, kinerja perusahaan, kebijakan yang baru dibuat, terutama mengenai diri sendiri. Inilah saatnya kita menciptakan lingkungan dimana setiap orang dimanfaatkan pendapatnya  tanpa rasa takut bicara. Kebutuhan terhadap masukan bukan berarti mengombang-ambingkan  profesionalisme dan kekokohan prinsip kita, namun kita perlu meyakini bahwa pikiran kita mempunyai keterbatasan dan kita butuh pendapat lain, terutama untuk hal-hal yang menyangkut pengambilan keputusan yang kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola Tetap di Tangan Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa jadi tidak sadar bahwa kita sering mentah-mentah menolak masukan. Padahal. bagi lembaga yang berbisnis servis serta orang-orang yang terbiasa bergerak maju, mereka bahkan rela membayar mekanisme feedback dengan harga mahal.  Individu yang memberi masukan diberi hadiah, bahkan membeli haril riset dan survey kepuasan pelanggan berharga miliyaran rupiah pun dilakukan. Mengapa kesadaran mengenai perlunya berburu masukan ini tidak merata? Bahkan, pengelola pemerintah pun seolah enggan mendengar fakta di lapangan, mengabikan saran-saran ahli yang mumpuni, bahkan menolak brainstorming, yang sesungguhnya bisa menambah wawasan dan khazanah pengetahuan sebelum mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali, tertutupnya pikiran dan hati untuk berburu masukan, disebabkan karena kita tidak bisa memisahkan antara perasaan serta penjiwaan kita dengan permasalahannya secara obyektif. Bila kita terlalu lebur dengan masalahnya, kita bisa merasa ‘diserang’  bila pendapat atau tindakan kita dipertanyakan. Sebaliknya, kita pun sering lupa bahwa kita tidak perlu segera mengubah  apa yang sudah ada pada kita atau kebijakan maupun tindakan yang sudah kita buat, kalau kita mendapatkan masukan yang bertentagan  ataupun “nyeleneh”.  Bolanya tetap di tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu secara intensif melakukan evaluasi tindakan kita, dan hanya masukan pihak lainlah yang bisa kita manfaatkan. Bayangkan, betapa ‘basi’-nya sikap keras kepala  dan tidak mau menerima ‘feedback’. Hanya orang yang aktif berburu masukanlah yang bisa maju dan mampu menembus unpredictables, ketidakjelasan yang memang ditakuti semua orang. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/  Klasika/Kompas, 24/01/2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8949463260875384675?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/02/mari-berburu-masukan.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1449481945250369557</guid><pubDate>Sun, 25 Jan 2009 13:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-25T05:20:29.941-08:00</atom:updated><title>Sense of  Urgency</title><description>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Seorang manajer mengeluh bahwa walaupun pencapaian target bagiannya hampir selalu tercapai, ia merasa bahwa teman-teman di bagiannya kurang berinisiatif untuk mengejar target baru dan kurang kreatif dalam mencari tantangan baru. Bahkan, ada yang berkomentar mengenai dirinya sebagai orang yang tidak pernah puas dan pesimis. “Sebenarnya yang saya inginkan adalah anak buah saya bisa merasakan sense of urgency,  sehingga mereka lebih siap dengan perubahan pasar dan realitas kompetisi. Dalam perasaan nyaman begini, mana mungkin mereka mengidentifikasi dan mendiskusikan potensi krisis sekaligus kesempatan-kesempatan besar?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Ketika pada tahun 1989 Stephen R Covey mengentaskan konsep manajemen waktu, dalam buku 7 Habits, yang diantaranya mengemukakan pentingnya membedakan hal yang “penting dan mendesak (urgen)” dan hal yang “penting dan tidak mendesak”, kita dibuat menyadari betapa kita harus membedakan antara apa yang ‘penting’ dan apa yang ‘urgen’. Stephen R. Covey mengingatkan bahwa kita sering kali hanya berkonsentrasi pada hal yang mendesak (urgen), yang sudah bermasalah dan harus cepat ditangani, karena sebelumnya hal-hal ini diabaikan, tidak diperhatikan karena dianggap tidak penting. Sekarang kita kurang lebih sudah lihat hasilnya: budaya mementingkan “yang penting” menjadi semakin kuat. Buktinya kata ‘penting’ menjadi sangat populer di lingkungan pergaulan. “Ah, nggak penting …” kata seorang remaja atau “Atasan saya hanya mengurusi yang ‘tidak penting’ …” demikian ujar seorang karyawan perusahaan. Mengutamaka hal yang ‘penting’ tentunya merupakan sikap antisipatif yang sangat positif, misalnya menyelesaikan laporan sebelum waktunya, mengecek peralatan secara rutin, melaksanakan pengawasan secara berkala, melakukan rapat regular dan komunikasi efektif, sehingga kita bisa menekan munculnya masalah yang urgen. Pertanyaannya, apakah perhatian terhadap hal-hal yang penting ini juga mencakup perhatian kita terhadap terpeliharanya mental waspada dan sikap “bergegas” kita dalam bekerja?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;“Sense of Urgency” Tidak sama dengan “menghadapi ‘urgency’”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dalam dunia kerja dan bisnis sekarang, kita tentunya harus mempertanyakan kapan masih bisa menerapkan faham “alon-alon asal kelakon”. Kita bisa memilih mengatakan pada rekan kerja kita: “Ayo ini sudah bulan Oktober” atau “Ini masih bulan Oktober”. Kecenderungan untuk hidup ‘enak’, menutup mata dari kabar buruk dan dorongan untuk menghindar dari kenyataan pahit, sering membuat kita menjerumuskan diri dan tim kita dalam posisi ‘nina bobo’ alias comfort zone. Keadaan ini dipersubur bila tidak ada ukuran yang obyektif mengenai kinerja dan sikap yang disingkirkan, sehingga tanpa terasa individu semakin nyaman berada di abu-abu dan menghindari konfrontasi hitam putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Di sebuah bank klien saya, baru-baru ini beredar sebuah selogan unik: “No business as usual”, yang agak bertentangan dengan budaya di dunia perbankan yang biasanya mengembangkan sikap konservatif, mantap dan pasti. Sentakan yang dilontarkan pimpinan perusahaan ternyata menghasilkan kewaspadaan karyawan yang lebih  baik, sehingga semangat kompetisi dan memenangkan tantangan menjadi lebih kuat. Tentunya peningkatan kewaspadaan ini bisa dicapai bila organisai tidak bosan-bosannya menyiapkan sasaran-sasaran baru, meningkatkan tantangan penjualan, produktivitas maupun kepuasan pelanggan, dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka tentang kejadian enak dan tidak enak di dalam dan di luar perusahaan. Tidak banyak “happy talk”  lagi dalam meeting, namun komunikasi digantikan dengan fakta-fakta mengenai pencapaian  target, kesempatan di masa depan dan keberhasilan orang luar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kondisi inilah yang membangunkan individu agar tidak terlalu banyak berkonsentrasi pada upaya ‘menyamankan diri’ dan mendorong diri untuk bersikap waspada, dinamis dan berkeinginan untuk menyambut tantangan baru atau “urgency” yang sesungguhnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;‘4-A’ Sense of Urgency&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Seoran salesman saya terperangah, ketika saya tanyakan sasaran penjualan berikutnya, sesaat setelah baru saja kami sukses menutup sebuah penjualan yang ‘manis’. Mungkin dalam hatinya ia berkata, “Nggak ada matinya ibu ini …”. Persoalannya, sense of urgency adalah sebuah siklus yang berpedoman, “Succes motivates more success”. Siklus 4-A, yang terdiri dari Achive-Asses-Activate  dan Accelerate dimulai dari sebuah upaya pencapaian tantangan (achievemet) yang bila tercapai, segera dievaluasi (asses), kemudian segera direvisi dan dihidupkan kembali (activate) untuk memulai sesuatu yang baru lagi, sambil tak lengah mendorong dan menggenjot energi (accelerate) untukmengoptimalkan pencapaian hasil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Banyak sekali hal-hal yang bisa menyebabkan individu lengah atau “slow down”, seperti menunggu keputusan, merayakan keberhasilan, menyusun anggaran, faktor birokrasi dan proses di pihak ketiga. Di sinilah sesungguhnya kekuatan kita diuji untuk tetap bergerak, dan mengayuh energi. Begitu kita berhasil, atau “achieve” lagi, kita boleh merayakan suksesnya. Namun kita tidak boleh terlena karena dengan segera kita pun meng-“asses” dan membuat tantangan baru lagi. “Sense of urgency” hanya bisa didapatkan oleh individu yang mau menceburkan diri ke dalam siklus yang bergerak kencang, bahkan bergoyang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Jadilah “Person in Motion”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kita semua pasti setuju bahwa lebih mudah mengendalikan obyek yang bergerak daripada diam. Berpatokan pada hal ini, kita bisa mengadaptasi untuk lebih bersikap dinamis daripada statis. Seorang ahli mengatakan bahwa langkah pertama untuk menghidupan “sense of urgency” adalah dengan berjalan kaki lebih cepat, sehingga kita juga mensugesti diri sendiri bahwa kita sedang bergegas. Bersikap responsive, misalnya dengan segera menjawab telepon, merespons email, voice mail, blackberry, SMS, serta berorientasi ‘action’  seperti ini akan mendorong individu tidak mengijinkan dirinya untuk mencari-cari alas an  menunda pekerjaan. Dalam berkomunikasi, kita pun bisa membiasakan untuk tidak berbelit-belit, sehingga orang lain pun terpengaruh untuk berbicara “to the point”. Hal ini membuat kita bisa mengefisiensikan banyak waktu di dalam rapat dan pergaulan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kita mudah sekali melihat orang lain tidak mengadaptasi “sense of urgency”, padahal kita sendiri pun barangkali mempunyai penyakit yang sama. Karenanya, bergeraklah, “Do it now!” (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas, 27 Sept. 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1449481945250369557?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/sense-of-urgency.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2942661590119020905</guid><pubDate>Sun, 25 Jan 2009 13:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-25T05:19:10.427-08:00</atom:updated><title>Cara Jitu Atasi Stres di Kantor</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Rutinitas yang serba sibuk di kantor tentunya dapat membuat pikiran anda menjadi stress. Apalagi ditambah dengan tekanan dari berbagai pihak yang dapat ikut menambah tingkat stress anda. Hati-hati, jangan sampai anda menyalurkan stress pada hal-hal yang negative. Untuk mengatasi stress yang semakin membuncah, simaklah kiat-kita berikut ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pertama, manfaatkan waktu istirahat makan siang. Setelah setengah hari bekerja, tentu anda merasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suntuk dan lapar. Tanpa disadari, rasa lapar dapat memicu tingkat seseorang. Pulihkan kondisi anda pada jam istirahat, sembari menyegarkan pikiran dengan berkumpul bersama rekan atau sahabat anda di kantor. Bicarakan hal-hal yang ringan dan dengarkanlah cerita-cerita humor dari mereka. Bersantai sejenak seperti ini terbukti ampuh untuk mengembalikan kesegaran pikiran anda. Jangan lupa, sebaiknya anda tidak membahas masalah pekerjaan ketika makan siang, agar stress anda tidak muncul lagi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Kedua, lakukan peregangan tubuh. Sesibuk-sibuknya anda jangan biarkan tubuh kelelahan akibat terlalu banyak duduk dan berpikir. Saat merasa lelah, lakukan peregangan tubuh dengan melakukan &lt;i style=""&gt;stretching &lt;/i&gt;ringan di tempat. Caranya, regangkan kedua tangan atau menggerakkan kepala anda ke kiri dan kanan. Lalu, kira-kira setiap dua jam sekali, keluarlah sejenak dari ruangan untuk menghirup udara yang lebih segar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Ketiga, bagi banyak orang, musik terbukti ampuh untuk megatasi stress. Jika anda termasuk salah satu penikmat musik, dengarkanlah musik dari computer anda. Pilihlah musik yang sesuai dengan selera anda. Sambil bekerja, anda pun dapat sambil bersenandung, selama suara anda tidak mengganggu rekan kerja lain.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Keempat, manfaatkan waktu libur untuk melenyapkan segala beban pekerjaan di kantor. Berolahraga, memasak, berkebun, ataupun tidur merupakan beberapa cara untuk mengisi waktu libur anda. Jangan gunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Nikmatilah waktu libur anda sebelum menyambut kembali hari-hari sibuk di kantor.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Satu lagi cara jitu menghindari stress, yaitu selalu berpikir positif. Terkadang rasa stress itu dapat berasal dari pikiran negative anda sendiri. Cobalah berpikir segala sesuatu dengan positif agar anda terhindar dari stress. lagi pula, jika anda bisa menghindari stress, hidup anda akan terasa lebih indah dan damai. &lt;i style=""&gt;(INO/ Klasika/ Kompas. 26 Okt. 2008)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2942661590119020905?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/cara-jitu-atasi-stres-di-kantor.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-6921401543194316172</guid><pubDate>Fri, 23 Jan 2009 05:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-22T21:10:52.488-08:00</atom:updated><title>Kita Memang Beda</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294352111770908258" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 179px; CURSOR: hand; HEIGHT: 153px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SXlRMenxtmI/AAAAAAAAAKY/e5pmVuH8wg8/s400/100E0621.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Kalau ada dua orang berhadapan, saling menatap, dan kemudian salah satu mengambil kesimpulan: “kita beda”, maka menurut pendapat saya, justru mereka sebetulnya sudah menemukan kesamaan. Di sinilah persepsi mengenai perbedaan dan persamaan akan terasa keindahannya, karena masing-masing individu yang berhadapan itu sudah “menemukan dirinya”, keunikannya, dan bahkan value adding-nya, sebagai manusia utuh. Itulah sebabnya kita perlu berbangga dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika; kesamaan dalam perbedaan, yang sampai-sampai oleh DJ Romy, cucu Soekarno juga dijadikan tema album terbarunya: Unity in diversity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, meski kita sering mengakui bahwa perbedaan itu indah, begitu sering juga kita tidak melihat perbedaan sebagai suatu kekayaan. Pikirkan betapa sering kita “buang muka” bila menemukan orang yang berbeda pandangan dengan kita, bergosip di belakang orangnya, membahas mengapa dia beda, dan bahkan kemudian kita mulai melakukan maneuver-manuver penyerangan seolah dia atau mereka itu musuh bebuyutan yang harus dibasmi. Di dalam rapat sering kita menemui jalan buntu sekadar karena berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah atau cara meraih sasaran yang sebetulnya adalah sasaran bersama. Dalam kondisi begini, ternyata perbedaan membuat kita tidak nyaman dan bahkan membangkitkan suasana permusuhan. Alih-alih menyamakan visi dan sasaran, berbicara pun sering tidak kita upayakan, bila sudah terjebak dalam konflik yang disebabkan adanya perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama tapi beda&lt;br /&gt;Sikap jijik terhadap perbedaan adalah sikap yang mutlak salah, karena dengan demikian kita lupa bahwa kesamaan bisa membuat kita justru miskin dan tidak berkembang. Kesamaan latarbelakang, pendidikan, kompetensi, dan komitmen yang sering membuat lingkungan kita nyaman, terkadang justru membuat kita jadi tidak bisa menggerakkan satu tim. Mereka yang bisa menampilkan keberbedaannya, kemenonjolannya, dan keunikannyalah yang kemudian malah bisa mulai memberi nilai tambah kepada tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman mengenai kesamaan dan perbedaan sesungguhnya adalah dasar untuk mengolah sebuah tim yang berkekuatan besar. Tanpa menyamakan persepsi, misalnya mengenai situasi yang kita hadapi, perilaku yang muncul, serta kekuatan dan kelemahan yang ada, kita tidak bisa mempunyai dasar untuk tinggal landas. Padahal, bukankah suatu situasi yang sama sering dilihat dengan pendekatan yang beda? Individu yang satu melihat detilnya, sementara yang lain melihat keseluruhannya. ada individu yang banyak melihat, ada individu yang lebih mendengar, sementara yang lain lebih dominant perasaannya dalam mendekat sutau gejala dan fenomena. Belum lagi, pandangan dua orang yang akan berbeda total bila yang satu melihat dengan kepentingan jangka pendek, sementara yang lain melihat dengan kepentingan jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyamaan persepsi ini sebetulnya terjadi pada setiap manusia dewasa yang berniat dan mampu melihat suatu gejala secara obyektif. Tanpa kemampuan ini, individu akan mencampuradukkan keyakinan, nilai dan visinya dengan perbedaan pandangan pihak lain, sehingga individu lain dianggapnya berseberangan. Di sinilah kemudian, kelompok bisa tidak sejalan satu dengan yang lain, divisi A berkonflik dengan divisi B, partai politik berseteru dengan yang lain, akibat tidak mampu melihat kepentingan bersama, visi dan tujuan bersama yang sebetulnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dengan memotret diri sendiri&lt;br /&gt;Ilmu emotional intelligence mengajarkan pada kita untuk meningkatkan self awareness kita dulu, bila kita berharap untuk mampu menguasai situasi social atau mampu mempengaruhi orang lain. Ini adalah bagian dari eksplorasi mental yang perlu kita lakukan dengan sengaja. Tanpa melakukannya, kita akan tumbuh menjadi orang yang kian picik, karena tidak bisa memanfaatkan keberbedaan yang berangkat dari analisa diri dan situasi yang obyektif. Banyak istilah seperti “test the water”, feel the breeze”, yang kurang lebih artinya adalah menajamkan sensor untuk memahami diri dan situasi sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang paling mudah untuk “memotret diri” ini adalah dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, memahami kesamaan, terutama persepsi dan pemahaman, kemudian mengidentifikasi keunikan serta keberbedaan orang lain. Hanya dengan ketajaman mental seperti ini kita bisa mengembangkan respek terhadap orang lain. Dalam proses eksplorasi mental ini, kita pasti secara otomatis ingin merasa benar, ingin membela diri dan bahkan ingin meneruskan cara-cara kita yang lama dan yang sudah ada. Hal ini sangat manusiawi karena manusia dibekali proses mental untuk menjaga keseimbangan jiwanya. Namun demikian, orang yang ingin memperkuat mentalnya, perlu juga melakukan judging, comparing, interpreting, anticipating, rehearsing, yang artinya mengolah input yang masuk dan mencocokkannya dengan realita, mencari kebenaran dan mengambil resiko bahwa ada kemungkinan ia harus berubah. Hanya dengan cara inilah kita sebagai manusia, berkembang menjadi manusia yang berpikiran fleksibel dan berpikiran terbuka dalam menghadapi tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan kalau kita semua sama&lt;br /&gt;Kalau kita, di dunia ini sama semua, maka pastilah kita akan merasa seperti robot ciptaan manusia yang sudah diberi bobot emosi, seperti yang digambarkan lewat film-film science fiction yang marak sekarang. Berbedanya bakat, latarbelakang, pendidikan, dan kompetensi lainnya adalah kekayaan keluarga, kelompok, bahkan Negara. Perbedaanlah yang memungkinkan kita bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain, hingga terciptanya sinergi. Hanya saja memang perlu diakui bahwa menonjolkan keberbedaan alias keunikan kita tidaklah mudah.&lt;br /&gt;Kita tentunya tidak bisa berperilaku aneh-aneh untuk mengekspresikan keberbedaan kita. Kita pun tidak bisa berkoar-koar menonjolkannya. Kita tahu bahwa kita memang perlu mengekspresikan bahwa “saya adalah saya”, sementara “saya” ini mempunyai nilai, keyakinan, kompetensi dan sasaran sendiri. Satu-satunya jalan bersikap dewasa adalah dengan sedikit mengambil ‘jarak’ terhadap diri dan memperbolehkan diri kita sendiri atau siapa saja meninjau kembali mengetes lagi, kompetensi, nilai, keyakinan kita. Bukankah keyakinan juga bisa salah dan nilai pun bisa usang? Untuk Negara dengan 12.000 pulau dan ribuan suku bangsa yang ingin bersatu, dengan 33 (44) partai politik peserta pemilu 2009 yang disahkan, keterbukaan inilah yang mutlak diperlukan: Bhinneka Tunggal Ika. Merdeka! (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas, 16 Agt. 2008).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-6921401543194316172?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/kita-memang-beda.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SXlRMenxtmI/AAAAAAAAAKY/e5pmVuH8wg8/s72-c/100E0621.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2063820916361192203</guid><pubDate>Sat, 17 Jan 2009 14:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-17T06:08:58.605-08:00</atom:updated><title>BEBASKAN DIRI DARI KEBIASAAN LAMA</title><description>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;BEBASKAN DIRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Menggonta-ganti merek ponsel menyebabkan saya sering  salah ketik saat menulis SMS. Posisi tombol-tombol yang berbeda antara satu produsen dengan produsen lain, menyebabkan kebiasaan menekan tombol tertentu terbawa ketika mengetik di ponsel yang baru.  Anak saya mengkritik, “SMSmu sering aneh. Kenapa sih tidak lebih berhati-hati saat mengetiknya?” Tentu saja kita bisa lebih berhati-hati dan bekerja lebih perlahan. Namun, seringkali saat terburu-buru, secara tidak sadar kita kerap membawa kebiasaan lama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Sadar ataupun tidak,  salah satu sebab kita tidak lincah berubah, jalan di tempat atau bahkan mundur, terjadi karena kita tidak belajar untuk menghapus pola atau kebiasaan di masa lalu. Kita hanya bisa bergerak ke depan dan membuat terobosan bila kita mampu membebaskan diri dari hal-hal yang kekinian, bahkan masa lalu yang menghambat dan menggandoli kita untuk berubah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Mengapa orang sulit membuang kebiasaan lama? Dan juga, mengapa orang sering berfokus pada kegiatan belajar hal baru, tanpa ‘concern’ pada menghilangkan kebiasaan lama terlebih dahulu? Ternyata, bila kita pelajari, tidak bisanya kita berubah, atau bahkan sikap pesimis kita untuk bergerak dan mengadakan perubahan banyak dilatarbelakangi oleh cerita sukses masa lampau, yang sulit kita hilangkan. Kalimat seperti, “Saya memang dari dulu begini”, “biasanya ini yang saya lakukan…”, “dari pengalaman saya…” Saat saya memberi saran pada seorang teman untuk mengurangi biaya hidup sebesar 30 persen, sewaktu ia mengeluh tentang situasi krisis, serta-merta ia menjawab, “Mana mungkin..? Sudah bertahun-tahun…” Bila banyak orang memegang paradigma ini, bisa jadi kita akan mengalami keterpurukan lebih jauh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Tahan  Respons, Aktifkan Berpikir Kritis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Konon, mengajari para pilot juga dimulai dari proses “unleasing”. Proses emosi, asumsi, dan kesalahan ekspekstansi bisa membatasi presisi dalam mengukur jarak. Calon pilot harus belajar untuk  menahan respons yang datang dan berupaya betul memikirkannya sejenak, sebelum bereaksi. Seorang salesman pun harus ‘menghapus’ pengalaman penolakan-penolakan yang pernah dia alami sejak kecil, baru kemudian bisa menumbuhkan “killer instinct”-nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dalam perusahaan, terutama yang sudah sukses mengimplementasi cara konvensional, kebiasaan para pimpinan menyepelekan, bahkan menahan para junior untuk berpendapat, rasanya sudah saatnya di-“unlean”. Persepsi bahwa senior lebih pintar karena lebih berpengalaman, bisa membutakan seluruh organisasi dari bad news yang ada. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya bila kita jalan terus, menghadapi tantangan, tanpa menyadari bahwa masih ada faham-faham yang usang, asumsi-asumsi  dalam system nilai yang menahan kita untuk berubah. Hal inilah yang menyebabkan orang maju mundur untuk berinovasi, terutama bila menghadapi tekanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Manusia yang sehat sebenarnya bisa membekali dirinya dengan daya berpikir kritis, yang sudah disebut-sebut Socrates di zaman dahulu. Berpikir kritis antara lain mempertanyakan persepsi, asumsi, system nilai yang ada dalam system penalaran kita. Dalam menghadapi tekanan, kita perlu mengaktifkan daya berpikir kritis kita untuk memerangi praktik-praktik usang yang sudah kita terapkan selama bertahun-tahun. Saatnya kita mempertanyakan, apa masih mau meneruskan berhutang? Apakah masih meneruskan gaya hidup konsumerisme? Apakah kita akan meneruskan cara berkomunikasi yang lama? “Apa iya, tidak bisa diubah…?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;“The Reality Check”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Jangankan orang-orang pandai, pembantu rumah tangga saya pun mulai berubah pola membelinya. Pelanggan menjadi sangat selektif memilah-milah antara yang perlu dan tidak perlu, mana yang membuat mereka benar-benar happy dan mana yang sekadar mengikuti tren. Kita memang harus mengkalkulasikan kocek konsumen yang akan mengempis karena situasi krisis. Bila kita bisa menangkap kebutuhan tersebut, kita pun bisa menyusun langkah untuk menjadi pemenang kembali. Inilah reasoning utama mengapa cara lama yang membuat sukses sudah tidak bisa disebut-sebut lagi. Konstelasi pasar, organisasi, system penggajian akan berubah sesuai dengan situasi terkini (baca: krisis global). Jadi, kita perlu masuk ke dalam tuntutan baru dan menghapus kebiasaan lama. Tidak ada pilihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan kekuatan yang sudah kita bangun bertahun-tahun? Apakah kita buang begitu saja? Kekuatan seperti pengalaman sukses sebagai professional handal, tentunya bukanlah kekuatan yang tidak bisa digunakan lagi. Hanya saja, kekuatan tersebut harus disiapkan untuk menjawab situasi yang belum kita kenal, belum terbukti dan menantang kita untuk menemukan lahan-lahan baru. Karyawan lama yang kuat dan trampil harus bisa menghandel proses baru, membuat produk baru. Inilah tantangannya. Bahkan ada kompetensi yang perlu dibongkar dan diperbaharui. Misalnya, yang dahulu melakukan penjualan partai besar, sekarang masuk ke ritel  bahkan menjajakan barang sendiri. Kita mesti bertindak, ber-mindset dan berparadigma ibarat pegawai baru yang membawa pemikiran dan persepsi yang segar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;“A Great Moment to Innovate”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Bertahannya manajemen perusahaan atau pemerintahan pada praktik-praktik lama, sering membuat kita yang di dalamnya merasa asing pada hal yang “tidak jelas”. Padahal kalau dipikir-pikir, di dalam ketidakjelasan itulah ada fakta yang membuka peluang bagi kita untuk berinovasi. Sulitnya, inovasi yang kita temukan di dalam ketidakjelasan ini hanya bisa kita lakukan bila kita percaya bahwa kesempatan itu ada, dan terjun di dalamnya. Dalam situasi ini kita tidak bisa mereka-reka karena tidak ada teori yang sudah bisa membuktikan kesuksesannya. Di sinilah kita ditantang untuk kuat dan tetap komit pada semangat mengeksplorasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dengan semangat optimistis kita sebenarnya bisa melihat bahwa budget yang mengerut dan berkurangnya angka penjualan adalah momentum untuk melahirkan pemikiran-pemikiran kreatif. Tentunya hal ini hanya terjadi pada orang-orang yang mempunyai keyakinan, ego kuat serta visi yang jelas. Sekaranglah waktunya meneguhkan diri untuk membuat pendekatan baru, menemukan pangsa pasar baru, membuat produk baru serta terjun dan menggunakan bahasa pelanggan baru. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ klasika/ Kompas/20/12/2008)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2063820916361192203?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/bebaskan-diri-dari-kebiasaan-lama.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7683763124351898820</guid><pubDate>Fri, 16 Jan 2009 13:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-16T06:01:01.403-08:00</atom:updated><title>MENJADI MANUSIA BEBAS</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;MENJADI MANUSIA BEBAS&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Krisi dahsyat menghantam Bumi, dan konon, puncaknya akan terjadi di sekitar pertengahan tahun yang baru ini. Disadari atau tidak, kekhawatiran dan ketakutan melanda umat manusia. Ketakutan kehilangan pekerjaan, nasib usaha,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang semuanya bermuara pada ketidakpastian dan ketidaknyamanan. Kegalauan melanda jiwa-jiwa yang tanpa disadari mengganggu produktivitas kerja dan fungsi hidup manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Namun, krisis itu tidak bisa dihadapi dan dijalani hanya dengan rasa takut dan khawatir. Itu adalah sikap mental pecundang (&lt;i style=""&gt;loser mentality)…&lt;/i&gt; Krisis dahsyat itu hanya bisa dihadapi dan ditakhlukkan dengan sikap sebaliknya &lt;i style=""&gt;(winner mentality)&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;ada dua esensi sikap mental pemenang yang diperlukan: Pertama, menjadi “penyapu jalan terbaik”! Martin Luther King Jr&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pernah mengatakan, …Seandainya seseorang terpanggil menjadi tukang sapu, maka seharusnya ia menyapu sebagaimana halnya Michelangelo melukis, atau Bethoven mengomposisi musiknya, atau Shakespeare menuliskan puisinya. Ia seharusnya menyapu sedemikian baiknya sehingga segenap penghuni surga maupun Bumi berhenti sejenak untuk berkata: “Di sini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan demikian baik”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Maka, profesi dan pekerjaan apa pun, yang dijalani sekarang, lebih dulu perlu diterima dengan rasa syukur. Masih banyak saudara lain yang kehilangan pekerjaan, belum bekerja, tak tahu harus berbuat apa. Krisis tak berhak mengganggu dan menggugat yang ada di tangan kita sekarang. Dari rasa syukur akan timbuk kesadaran baru bahwa apa yang masih ada itu adalah karunia, sekaligus amanah. Harus dijalankan sebaik-baiknya dan yang terbaik.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Itulah bentuk mental syukur terpenting dalam kondisi serba krisis dan menakutkan seperti sekarang. Menjalankan sebaik-baiknya apa yang ada di tangan adalah “ibadah” paling bernilai (bentuk rasa syukur paling konkret), yang bukan hanya berguna bagi kita, tetapi juga bagi manusia lain yang terkait dengan kita. Menjalankan segala sesuatunya dibarengi kekhawatiran dan ketakutan akan dahsyatnya krisis, apa adanya, seadanya (yang penting masih ada yang dikerjakan) sama sekali tak berguna bagi siapa pun dan hanya membuat penghuni surga dan Bumi mencibir serta menangis.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Manusia budak atau bebas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Kedua, menjadi “manusia bebas”! Esensi sikap mental pertama tersebut hanya bisa dibentuk melalui esensi kedua, yakni menjadi “manusia bebas”, seperti dimaksudkan Lao Tzu: “…Jika engkau hanya mengerjakan segala sesuatu sebatas apa diharapkan darimu, maka engkau tak ubahnya seorang budak. Namun jika engkau mengerjakan lebih dari yang diharpkan, barulah engkau menjadi manusia bebas”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Kalimat bijak itu sungguh menyiratkan esensi makna yang indah sekaligus dahsyat. Jika kita hanya bekerja dan menjalankan kewajiban sebatas yang diharapkan, di-standardkan, diminta, maka sesungguhnya kita masih dibatasi dan dikurung oleh batasan-batasan eksternal. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Misalnya, karyawan yang bekerja tentu mempunyai target-target atau KPI (&lt;i style=""&gt;Key Performance Indicator).&lt;/i&gt; Target atau KPI ini tentunya ditetapkan oleh pihak eksternal (manajemen, atasan atau perusahaan). Maka, karyawan yang bekerja hanya “sebatas” memenuhi target dan KPI-nya, secara hakiki, ia dibatasi dan dikendalikan oleh pihak eksternal. Itulah yang dimaksud “budak”. Apalagi jika ia bekerja kurang atau di bawah KPI-nya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Bagaimana menjadi manusia bebas? Ya, dia seseorang (sesuai profesinya masing-masing), mau memberi dan bekerja lebih dari apa yang diharapkan, lebih dari target dan KPI-nya. Artinya, ia telah berani, bersedia,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mampu menetapkan sendiri batasan-batasan kerja dan hidupnya (tidak lagi oleh pihak eksternal). Karyawan “budak” hanya bekerja sebatas KPI-nya. Karyawan “bebas” bekerja melebihi KPI-nya tanpa diminta.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Sikap mental menjadi “manusia bebas” inilah yang sangat diperlukan di negeri ini. Makna kemerdekaan bukan hanya sekedar lepas dari para penjajah bangsa asing. Bukan jadi “bangsa budak”, melainkan bangsa pemenang yang mampu mengatasi krisis global sehebat apapun.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Sesaat lagi kita akan memilih para pemimpin bangsa di segenap dimensinya. Bangsa ini butuh para “manusia bebas” yang mampu menjadi “penyapu jalan terbaik” di bidangnya masing-masing. (Herry Tjahyono, Corporate Culture Theraphist &amp;amp; President The XO Way, Kompas/3/1/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7683763124351898820?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/menjadi-manusia-bebas.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1634897060691681436</guid><pubDate>Wed, 14 Jan 2009 13:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-14T05:44:09.711-08:00</atom:updated><title>MENYELESAIKAN KONFLIK DI LINGKUNGAN KERJA</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Tw Cen MT Condensed";  panose-1:2 11 6 6 2 1 4 2 2 3;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:7 0 0 0 3 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:5208124;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:314459990 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;} ol  {margin-bottom:0cm;} ul  {margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;MENYELESAIKAN KONFLIK DI LINGKUNGAN KERJA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Ada banyak hal yang bisa memicu konflik di lingkungan kerja, mulai yang terkait dengan tugas dan pekerjaan sampai ke masalah pribadi. Keadaan ini tentu akan menimbulkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketidaknyamanan saat beraktivitas di kantor, dan bukan sesuatu yang mustahil kalau berbuntut pada menurunnya produktivitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Agar tidak semakin berlarut-larut dan malah merambat ke mana-mana, maka sudah sepatutnya kalau hal ini segera diselesaikan dengan beberapa pendekatan diantaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm; color: rgb(51, 204, 0);" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Mengajak orang yang bersangkutan (terlibat konflik)      untuk bicara empat mata di tempat yang jauh dari keramaian. Dengan      demikian anda dan lawan bicara bisa lebih bebas mengemukakan isi hati dan      pikiran tanpa takut terganggu suasana sekitar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Saat berbicara, usahakan untuk tetap tenang dan      jangan terbawa emosi. Ungkapkan isi hati dan pikiran dengan tenang dan      sopan. Satu hal yang perlu diingat adalah mendasarkan semua ucapan      berdasarkan fakta atau kenyataan, bukan atas dasar gossip atau asumsi      pribadi. Jika tidak, bukannya menyelesaikan masalah, anda malah dapat      memperuncing atau menambah masalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Perhatikan pula ekspresi dan bahasa tubuh anda saat      berbicara. Jangan biarkan, misalnya, anda tidak menatap lawan bicara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau menunjukkan mimik wajah cemberut.      Bahasa tubuh yang tepat tentu akan mendukung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;niat baik anda untuk berdamai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Dengarkan dengan baik saat rekan anda berbicara dan      jangan potong pembicaraan agar pesan yang hendak disampaikan bisa diterima      dengan baik. Usahakan untuk berempati, sehingga anda tidak melihat masalah      melulu dari sudut pandang anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Setelah masing-masing mengungkapkan isi hati dan      pikirannya, cobalah untuk memberi satu solusi yang sifatnya fleksibel dan      terbuka sehingga jalan tengah atas masalah yang dihadapi bisa tercapai.      Jangan lupa di sini anda juga dituntut untuk tenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"    lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Kalau masalah belum juga selesai, ada baiknya untuk berkonsultasi kepada atasan anda, tentunya dengan tidak menjelek-jelekkan rekan anda sendiri. Toh semua ini demi kebaikan anda sendiri. (ASP/Klasika/Kompas/6/11/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1634897060691681436?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/menyelesaikan-konflik-di-lingkungan.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1070836013275984624</guid><pubDate>Thu, 01 Jan 2009 12:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-01T04:07:48.717-08:00</atom:updated><title>KUAT DALAM BADAI</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVyyCevdyZI/AAAAAAAAAJ0/6iFvVkRYqwc/s1600-h/kuat+lawan+badai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 122px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVyyCevdyZI/AAAAAAAAAJ0/6iFvVkRYqwc/s400/kuat+lawan+badai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286295818307750290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Sebuah foto hitam putih, menampilkan perahu kecil berbendera merah putih mengarungi badai, yang ditampilkan saat mengawali presentasi seorang pakar ekonomi, membuat saya berpikir, “Kenapa tidak?” Perahu kecil pun bias bertahan, bahkan mencapai tujuannya, asalkan berjuang, cerdik dan melakukan langkah-langkah yang benar, sebelum, selama, dan sesudah badai terjadi.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Situasi tsunami di depan mata ini memang bisa membuat mental kita &lt;i style=""&gt;down&lt;/i&gt; dan bila tidak hati-hati membuat kita tidak berdaya. Riset membuktikan bahwa dalam keadaan terpuruk, banyak eksekutif yang tidak lagi berusaha membuka diri terhadap ide-ide baru pada saat berada dalam situasi stres. Situasi eksternal yang berubah begitu cepat, &lt;i style=""&gt;unpredictable&lt;/i&gt;, membuat tak sedikit orang merasa bahwa segala upaya sudah gagal dan tidak akan da upaya lain yang lebih mempan menanggulangi situasi. Bila dicermati lebih jauh, sebenarnya kegagalan tidak selalu harus berasal dari situasi eksternal yang buruk. Kita pun bisa gagal dalam situasi adem ayem, kalau tindakan, keputusan dan cara monitor kita yang salah. Sebaliknya, Grameen Bank tumbuh cemerlang atas prakarsa Prof. Yunus, di lingkungan yang tanpa hujan dan angin pun sudah sangat miskin dan papa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Cek “Alarm” Diri Anda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dalam pertemuan pada suatu divisi di sebuah bank, saya mengecek reaksi dari para karyawan terhadap situasi krisis, dengan menampilkan berita 12.600 karyawan yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terancam PHK. Sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah peluang bagi perusahaan lain yang membutuhkan. Namun, terasa bahwa mayoritas karyawan yang berada di divisi yang cukup masih bisa merasakan &lt;i style=""&gt;‘comfort zone’ &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini, masih adem ayem, belum betul-betul menangkap pesan krisis yang disampaikan oleh berbagai media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tentu saja, normalnya, tidak seorang pun dalam dunia bisnis maupun non bisnis yang bisa bersikap masa bodoh terhadap kesulitan ekonomi yang dihadapi perusahaan, negara bahkan dunia, saat ini. Kenyataannya, banyak eksekutif yang masih berharap akan datangnya kejutan, atau masih mengira-ngira apakah “mendung” benar-benar akan berubah menjadi “badai”. Sebaliknya, tak sedikit yang berharap bahwa awan yang sedang berkumpul akan berlalu begitu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Seorang teman eksekutif bersungut-sungut ketika rapat memutuskan untuk melakukan &lt;i style=""&gt;brainstorming&lt;/i&gt; mendadak untuk memikirkan langkah-langkah pertahanan perusahaan, karena hasil raker sebulan yang lalu pun belum sempat ia presentasikan. Pada saat-saat beginilah setiap individu mestinya perlun mengecek sistem alarm di dalam dirinya. Jika alarm diri tidak bekerja, tidak membuatnya lebih waspada, tidak menjadikannya “berlari”, perlu dicek mengapa tidak bekerja? Bisa saja keadaan ini disebabkan karena kurangnya informasi, kurangnya bergaul, kurangnya kepekaan atau memang tidak inginnya kita menghadapi kenyataan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Menyusun Kekuatan untuk “Survive”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Teman saya yang tinggal di Inggris mengatakan bahwa krisis ekonomi di negaranya bagaikan siklus. Ia sudah mengalami beberapa kali “&lt;i style=""&gt;ups and down” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan sudah melihatnya dengan cara antisipatif. Dalam keaadaan anjlok begini, tindakan utama yang bisa dilakukan adalah mengencangkan ikat pinggang dan menghentikan pengeluaran yang tidak perlu. Tindakan &lt;i style=""&gt;quick fix &lt;/i&gt;seperti meng-“&lt;i style=""&gt;cut”&lt;/i&gt; karyawan, mengurangi biaya R&amp;amp;D, menghentikan servis-servis tambahan yang tidak terlalu signifikan, dan berfokus pada &lt;i style=""&gt;‘survival”&lt;/i&gt; jangka pendek memang sudah sering dan lumrah kita dengar dimana-mana. Tentunya ini adalah jalan yang paling bijaksana yang bisa dilakukan, bila perusahaan sudah mencapai titik nol dalam angka penjualan, atau titik minus dalam pertumbuhan laba. Kemungkinan terburuk seperti inilah, yang perlu kita waspadai, walaupun sebisa mungkin kita hindari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dalam masa sulit, perusahaan-perusahaan seperti Southwest Airlines, Harley Davidson dan FedEx pernah tidak mem-PHK karyawannya. Sebaliknya, karyawan diajak untuk menggali kekuatan mereka habis-habisan dan mengupayakan segala daya untuk membuat perusahaannya bertahan ketimbang sibuk mencari lowongan pekerjaan lain. Banyak perusahaan bahkan membentuk loyalitas dan kepercayaan karyawan pada situasi yang sulit. Tentunya sudah sangat basi dan ketinggalan kereta jika kita masih memegang &lt;i style=""&gt;mindset “&lt;/i&gt;bagaimana nanti saja ...” atau “kita bangun bila sudah ada kesempatan ...” Saatnyalah kita berpikir untuk “&lt;i style=""&gt;cross cutting”&lt;/i&gt; secara agresif, sambil tetap merapatkan barisan, menyusun serta meningkatkan profesionalisme. Dengan melakukannya sekaligus, sesungguhnya kita bisa menabung tenaga, spirit, kekuatan, kepandaian untuk menghadapi tantangan dan kesempatan baru dengan memanfaatkan sikap proaktif, kreatif dan inovatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Retooling &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;dan restrukturasi tidak bisa dianggap sebagai ancaman, karena perubahan internal sudah harus bersifat sefleksibel mungkin. Lengkah seperti “&lt;i style=""&gt;everybody sells”, &lt;/i&gt;pembentukan kerja lintas fungsi, “gunting-copot” individu yang “&lt;i style=""&gt;in charge”&lt;/i&gt; tidak bisa lagi dilakukan secara berkala, tetapi harus terjadi setiap saat, karena kinerja pun perlu dimonitor setiap saat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Belajar dan Menjadi Lebih Kuat dari Situasi Buruk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dari sejarah yang ada, kita semua menyadari bahwa “badai pasti berlalu”. Tinggal kita jugalah yang menentukan bagaimana kita akan “bermain” di dalamnya. Apakah kita akan mengambil peran sebagai penonton? Sebagai korban? Atau justru aktif berpikir, berencana, belajar dan menjadi lebih kuat dari situasi buruk. Individu atau perusahaan yang cerdik tentunya akan merangkul teman senasib, karyawan, vendor, mitra bisnis, pelanggan, untuk bersama-sama merapatkan barisan dan berstrategi. Perencanaan yang cerdik bahkan membuktikan adanya pertumbuhan bisnis di seputar keterpurukan. “&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Contingency plan”&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt; yang kita kenal dengan istilah plan B, perlu dilengkapi dengan alternatif-alternatif lain, yaitu plan C, D, E dan seterusnya, tanpa meninggalkan fokus dan kekuatan perusahaan. Berada di situasi “bawah” dalam siklus perkembagnan ekonomi, kita bisa berkaca pada ‘mercu suar’, yang selalu berisiko diterjang badai, tetapi tetap melihat jauh ke cakrawala dan bahkan berkinerja terus memancarkan sinar &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;alarm-&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;nya. &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;(Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/Kompas/06/12/2008)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1070836013275984624?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/kuat-dalam-badai.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVyyCevdyZI/AAAAAAAAAJ0/6iFvVkRYqwc/s72-c/kuat+lawan+badai.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2695509672626639807</guid><pubDate>Tue, 30 Dec 2008 03:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-29T19:59:33.316-08:00</atom:updated><title>FAKTOR-FAKTOR MENJADI SUKSES DI KANTOR</title><description>&lt;span style="color:#009900;"&gt;Semua orang pasti ingin menjadi orang sukses dalam hidupnya. Apalagi sukses dalam karir atau pekerjaannya. Untuk mencapai kesuksesan tentunya tidak akan mudah. Berikut ini adalah beberapa faktor yang harus anda miliki agar menjadi orang yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hilangkan semua pikiran negatif anda. Rasa gugup pasti akan mendera siapa saja. Biasanya rasa gugup inilah akan timbul rasa khawatir gagal. Jika anda membayangkan hal positif maka kemungkinan anda akan sukses semakin besar. Namun, jika anda berpikiran negative, maka kemungkinan anda akan mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hilangkan kebiasaan mengeluh atau menggerutu. Salah satu hambatan untuk sukses adalah kebiasaan mengeluh dan menggerutu. Kebiasaan menggerutu terkadang anda lakukan baik sadar maupun tidak sadar. Contohnya, ketika anda diberi pekerjaan oleh atasan, lalu dalam hati anda berkata, “Aduh... yang ini belum selesai masih diberi lagi”. Jika hal ini sering terjadi pada diri anda, cobalah hentikan kebiasaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,  hilangkan kata-kata seperti “nanti dulu atau tunda dulu”. Sering kali dalam satu hari tugas akan datang silih berganti bahkan hingga menumpuk. Melihat kondisi tersebut, perasaan malas akan langsung menyerang anda. Kemudian, timbullah niat untuk menunda menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Alhasil, tugas anda pun akan terbengkalai. Untuk menyiasatinya, cobalah menyelesaikan  tugas-tugas tersebut sedikit demi sedikit. Jika anda adalah seorang yang pelupa, coba buat daftar tugas yang harus anda lakukan. Berikan setiap tanda apabila tuas tersebut itu selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, salah satu kunci meraih meraih kesuksesan adalah dengan cara selalu fokus. Fokus dalam mengerjakan suatu tugas di kantor memang cukup sulit. Banyaknya beban pikiran dalam diri anda dapat menyebabkan anda kurang fokus terhadap suatu tugas kantor. Oleh sebab itu, cobalah anda bersikap profesional. Pisahkanlah waktu dan pikiran untuk urusan tugas kantor dan masalah pribadi anda. Lalu berikanlah konsentrasi yang lebih pada tugas kantor anda agar hasilnya lebih memuaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Keenam, jadilah orang yang selalu terbuka terhadap pendapat orang lain. Biasanya orang lain lebih bisa menilai kekurangan dan kelebihan anda. Oleh sebab itu, belajarlah menerima pendapat orang lain. Jika anda dinilai kurang oleh orang lain, perbaikilah kekurangan anda. Niscaya, cepat atau lambat kesuksesan akan berhasil anda gapai (INO/Kompas/ Klasika/19/12/2008).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2695509672626639807?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/faktor-faktor-menjadi-sukses-di-kantor.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5869335234047578468</guid><pubDate>Wed, 24 Dec 2008 14:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-24T06:23:55.364-08:00</atom:updated><title>PABRIK TALENTA</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVJFIcxEzqI/AAAAAAAAAJs/tgYqKJtMa6M/s1600-h/pabrik+talenta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 143px; height: 175px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVJFIcxEzqI/AAAAAAAAAJs/tgYqKJtMa6M/s400/pabrik+talenta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283361324322311842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;PABRIK TALENTA&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru pernah mengatakan kepada saya bahwa mengasah manusia bekerja jauh lebih mudah daripada mengasuh-asah murid di sekolah. Alasannya, bibit yang masuk ke perusahaan adalah bibit-bibit pilihan, sementara yang masuk ke sekolah, masih tercampur aduk. Hal ini memang ada benarnya.  Namun, teman saya ini lupa bahwa mengajar di sekolah ataupun di universitas, seperti yang saya alami sendiri, sangat dimudahkan oleh niat mahasiswa untuk belajar dan untuk lulus ujian, sehingga si pengajar biasanya lebih punya power.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Di perusahaan, terasa betul betapa manusia dewasa ini punya pilihan untuk belajar ataupun tidak belajar, serta ingin menentukan cara belajarnya sendiri. Sarana pelatihan, “sharing knowledge” maupun seminar-seminar yang sudah susah-susah diupayakan dan diselenggarakan oleh perusahaan untuk mengembangkan talenta, tak jarang disepelekan.  Sebagai fasilitator pelatihan di perusahaan, teman saya geleng-geleng kepala bila melihat sikap-sikap manusia dewasa yang terlihat tidak bersemangat lagi untuk belajar, seperti titip absent, banyak bercanda, dating terlambat, merayu trainer untuk menyelesaikan sesi lebih cepat, sibuk ber-sms, menelepon berlama-lama, ataupun sengaja memperpanjang-panjang waktu istirahat.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bicara mengenai pabrik talenta, banyak orang langsung menarik nafas panjang dan mengisyaratkan ‘frustrasi’. Mulai dari yang lemot, sampai yang tidak ada motivasi. Singkat kata, di samping kesulitan fungsional kita juga menghadapi kesulitan vitalitas, dari yang ingin memperkaya aset maupun yang mau dijadikan  aset. Sebagai akibat, banyak manajemen perusahaan yang kemudian memutuskan untuk “membeli jadi” saja orang bertalenta dan menomorduakan pengembangan sumber daya manusia di tempat kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Membangun talenta bukanlah hal yang baru. Selain itu, istilah talenta bukanlah ditujukan hanya kepada orang-orang yang berbakat spesial (baca: gifted), yang populasinya hanya seperberapa persen dari populasi dunia. Adanya ‘welders’ Indonesia alias tukang las bersertifikat yang bekerja secara global, bukan hal yang terjadi kemarin sore. Tukang kayu yang mumpuni secara teknis, dan bekerja rapih dan teliti, juga adalah individu bertalenta dan bisa membawa devisa negara. Keadaan sekarang di mana ketersediaan orang bertalenta tidak seimbang dibandingkan dengan kebutuhannyalah yang menyebabkan kita tidak bisa berlama-lama menunggu agar talenta sumber daya manusia kita matang.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan pembinaan  talenta perlu kita sikapi secara optimis, terutama karena jumlah manusia di negara kita yang demikian banyak, sehingga menggambarkan potensi kekuatan ‘human capital’ yang tidak terhingga. Bukankah kita sudah membuktikan terciptanya kampung pengrajin tas di Tanggulangin? Bayangkan bila kemudian di salah satu kampung kita, berkembang keterampilan IT yang hebat, sehingga bisa menelorkan programmer-programmer kelas dunia seperti programmer asal Bangalore, India.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Gantung Standar yang Super-Tinggi&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi yang sanggup menelorkan manusia bertalenta, biasanya mempunyai standar kinerja yang menuntut individunya bekerja mati-matian untuk mencapai presisi dan keunggulan kinerja, tidak tanggung-tanggung. GE adalah contoh perusahaan yang tidak ragu-ragu menuntut para top manajemennya untuk berkinerja lebih. Perusahaan ini juga menjunjung tinggi nilai-nilai profesi yang distandarkan dan senantiasa diujikan ke setiap eksekutif. Tidak lulus ujian berarti keluar dari perusahaan. GE juga adalah contoh perusahaan yang memperhatikan dan melakukan pendekatan pada setiap individu di perusahaan secara utuh dan unik, sampai kepada kesejahteraan keluarganya. “Tidak ada formula yang general untuk membentuk talenta individual”, demikian ujar CEO General Electrics.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dapatkan Hatinya Dulu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang sering menghambat dalam pengembangan talenta adalah bila kita melihat talenta sebagai sesuatu yang melulu vocational, sehingga fokus kita hanya memompakan ilmu dan keterampilan pada individunya. Saat individu dinilai seharusnya ‘sudah lulus’ dan ‘bisa dilepas’, pada kenyataannya tak jarang kita frustrasi sendiri bila kita tidak melihat pembelajaran yang diberikan membuahkan hasil yang diinginkan. Ternyata, kita masih sering lupa bahwa individu yang bertalenta adalah individu yang selain pandai, juga bermotivasi tinggi, berinisiatif dan kuat dalam menyambut tantangan. Artinya, latihan keterampilan teknis saja, sama sekali tidak menjamin terbentuknya talenta yang kita inginkan. Individu bertalenta, sudah hafal mati prosedur kerjanya, sudah menikmati seni berprofesinya, bahkan mempunyai semangat yang memancar dari kinerjanya, apapun profesinya.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kita semua setuju bahwa tanpa perhatian sepenuh hati, individu tidak mungkin menguasai suatu keterampilan sampai tuntas. Adanya ‘passion’, konsenterasi dan fokus-lah yang akan membuat individu bisa memberikan seluruh perasaan dan energinya untuk menguasai suatu keterampilan dan pengetahuan. Jangan anggap sepele pernyataan: “companies neet to not only capture people’s minds but their hearts”. Bila dalam mengembangkan individu kita juga menstrategikan program yang menyentuh hatinya, membuatnya excited,  membawa individu merasakan secara langsung, barulah kita bisa lihat pembelajaran membuahkan hasil yang lebih nyata. Saat kita serius melakukan komunikasi efektif dan tidak lelah memacu, mendera, memonitor kemajuannya, barulah pengembangan  ‘mindset’ dan prinsip bekerja berkualitas dan profesional akan menyertai pembelajaran yang diberikan.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan pabrik talenta yang efektif, suasana belajar perlu dibuat kondusif. Hubungan psikologis dilandasi trust dan respect antara manajemen dan individu-lah yang juga akan membentuk sikap belajar individu. Individu perlu mendapat kesempatan untuk mengeluarkan ide, berani bereskperimen, berinovasi dan merasa aman bahwa ide  dan buah pikirannya akan dihargai dan ditanggapi. Talenta yang optimal hanya ditampilkan oleh individu dewasa yang ‘self directed’ dan tertantang untuk menyandang tanggung jawab lebih. Bila kita sudah memahami bahwa pikiran, pengetahuan, keterampilan manusia bisa berkembang tidak terbatas, mengapa tidak kita bersikeras mengembangkannya mati-matian? &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Kompas/Klasika/22/11/2008).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5869335234047578468?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/pabrik-talenta.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVJFIcxEzqI/AAAAAAAAAJs/tgYqKJtMa6M/s72-c/pabrik+talenta.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2744515257440025243</guid><pubDate>Tue, 23 Dec 2008 13:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-23T06:01:36.618-08:00</atom:updated><title>BERANI SUSAH UNTUK SUKSES DALAM KARIR</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDvG5pm42I/AAAAAAAAAJU/BpE_sR0pE4k/s1600-h/kunci+sukses.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDvG5pm42I/AAAAAAAAAJU/BpE_sR0pE4k/s400/kunci+sukses.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282985264739181410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;BERANI SUSAH&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Salah satu karyawan di kantor saya, benar-benar sulit mengkontrol pengeluarannya. Ia tidak bisa lepas untuk melakukan gali lubang tutup lubang dalam me-&lt;i style=""&gt;manage&lt;/i&gt; hutangnya. Hutang itu mula-mula dipinjam dari sebuah jasa kredit tanpa agunan bank dan berkembang menjadi hutang ysng lain, terutama untuk menutupi hutang yang lam. Ketika saya sangat kecewa melihat hal itu bias dilakukan oleh orang yang selama ini saya percaya, teman saya mengatakan bahwa ibu mertuanya juga terbelit hutang dengan cara yang sama. Terkesan bahwa di antar kita sudah banyak kebiasaan mencari solusi yang “ambil gampangnya”, “instant”, dan tidak mau sedikit bersusah untuk mengerem diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saya terkagum-kagum juga dengan cara mendapatkan hutang yang begitu mudah di saat sekarang. Di zaman ketika saya sangat membutuhkan modal atau uang lebih, rasanya tidak mungkin kita bias dengan mudah mendapatkan pinjaman dari bank atau orang lain, bahkan dengan janji bunga yang relatif rendah. Rupanya perkembangan bisnis jasa sudah demikian pesatnya sehingga masyarakaat “dimudahkan” dan “dimanjakan” oleh solusi-solusi sementara, “&lt;i style=""&gt;fast and easy”&lt;/i&gt;, instant, yang tidak prinsipiil lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Ketidaktegasan dalam berdisiplin dan ketidakjelasan dalam aturan, menyebabkan orang mundur maju untuk menentukan apa yang perlu diperjuangkan. Orang jadi enggan meramal, membuat rancangan, berusaha mati-matian dan menentukan hidupnya, alias pasrah, menghidupkan mental yang lemah, mengharapkan hadiah, berhutang, tidak berdaya, bahkan mengemis dan menumbuhkan mental “tidak berani susah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Penyebaran informasi yang tidak memadai mengenai semangat berprofesi, keadaan finansial perusahaan atau pun negara, menyebabkan ketidakjelasan menjadi alasan bagi individu untuk bersikap pasrah dan lemah. Sebaliknya, kita masih bisa menemui sekelompok orang-orang yang sangat produktif, “&lt;i style=""&gt;low profile”, &lt;/i&gt;tetap sabar, optimis dan gigih dalam lingkungan dengan disiplin kuat. Bisa kita bayang kan betapa beruntungnya orang-orang ini, karena sistem atau organisasi sudah menyuguhkan lingkungan yang kondusif. Bagi kebanyak kita yang justru berada di lingkungan yang tidak kondusif, kitalah motor penggerak dan perlu “&lt;i style=""&gt;in charge”&lt;/i&gt; untuk memperkuat diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bangkit!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kita masih ingat bagaimana kita menyaksikan tim piala Uber kita dikalahkan oleh tim China. Saya yakin bahwa setiap penonton berbangsa Indonesia, merasa babak belur, dan merasakan sakitnya kekalahan tim kita, yang rankingnya memang jauh di bawah pemain-pemain China itu. Pada saat itu terasa oleh kita bahwa tim Indonesia berspirit “&lt;i style=""&gt;rise and shine”&lt;/i&gt; bermental “A”. Pada saat itu kita merasa siap bermain, tidak takut, ingin meng-“&lt;i style=""&gt;combat&lt;/i&gt; sukses. Bahkan setelah kalah sekalipun, “rasa” itu masih ada. Tidak ada yang memaki tim piala Uber, tidak ada yang mencerca, semua orang merasa “&lt;i style=""&gt;fight”&lt;/i&gt;nya. Rasa-rasanya semangat seperti ini sudah harus kita hidupkan kembali, melihat kesulitan dan persaingan yang ada di dunia bisnis maupun di arena global. Semua “&lt;i style=""&gt;hardware”&lt;/i&gt;dan perangkat teknis sudah sama, yang bisa bersaing hanyalah manusianya. Bila manusianya berpotensi dan berkompetisi sama, yang bisa disaingkan adalah mentalnya dan “&lt;i style=""&gt;willpower”&lt;/i&gt;nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Perkuat “&lt;i style=""&gt;Willpower”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Sikap “tidak ada matinya” tidak bisa kita biarkan mati suri, karena pada akhirnya hal inilah yang menjadi daya saing bangsa. Kekuatan kemauan atau &lt;i style=""&gt;willpower &lt;/i&gt;ini adalah kemampuan individu untuk menyulut mental dan mengatakan pada diri sendiri untuk bertahan, kemudian mengeluarkan daya sekuat tenaga bagaikan mesin yang saat mulai bekerja selalu mengambil daya listrik yang lebih besar. &lt;i style=""&gt;Willpower &lt;/i&gt;ini adalah pengumpulan energi yang kuat dan besar, yang perlu dikeluarkan sekaligus pada saat kita berada dalam posisi kritis. Pada saat itu kita menyerang titik lemah dalam diri kita, sehinga kita bisa mematahkan ketakutan, keraguan, kecengengan, kelelahan kita untuk untuk sampai pada titik dima kita seolah-olah mempunyai ruang energi untuk melenting dan bergerakdan mendapatkan tenaga untuk maju dan ingin memenangkan situasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kita butuh memelihara &lt;i style=""&gt;willpower&lt;/i&gt; ini pada masing-masing individu. Begitu banyak tantangan berat kita hadapi yang membutuhkan mental yang superkuat. Kita dihadapkan pada tantangan untuk mengencangkan ikat pinggang karena kenaikan harga, melangsingkan badan karena kesehatan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersaing secara profesi di kancah internasional, super hati-hati dalam kontrol kualitas, mencermati keadaan keuangan yang ketat, meningkatkan kinerja tanpa kenaikan imbalan yang kita harapkan, menghentikan kebiasaan korupsi berbentuk uang maupun waktu, menghentikan memberikan suap demi sikap mental “yang penting cepat beres”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;“Susah” untuk Menang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kebanyakan orang mendambakan saat-saat di mana kita merasa situasi rileks, aman, positif dan optimis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, kita sering lupa bahwa perlu cara untuk mencapainya dan kita pun perlu tahu resepnya. Bila kita ingin mencapai situasi yang “nyaman”, tentunya kita tidak bisa berharap bahwa orang lain akan memberikannya secara cuma-cuma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik, kita tampaknya tidak bisa berfokus pada hal-hal material semata karena materi justru sekarang tidak bisa ditandingkan. Seperti prinsip para atlet pelari rintangan, “&lt;i style=""&gt;Run to be good, practice to better, and train to be the best”. &lt;/i&gt;Kita perlu mendera diri-sendiri untuk menyetop kebiasaan-kebiasaan buruk dan mengembangkan perilaku yang lebih positif. Tentunya latihan ini akan butuh ‘pengorbanan’, seperti tersiksanya kita berjam-jam antri untuk mendapatkan servis dengan jalan halal, begadang demi terselesaikannya pekerjaan yang sudah dijanjikan, bekerja sambil belajar demi karir yang lebih baik, melakukan hal yang sama ribuan kali, sampai dianggap kompeten, menerima penugasan yang lebih banyak supaya atasan “percaya”, makan lebih tidak enak demi kesehatan dan penghematan, bahkan hilangnya teman karena mempertaruhkan prinsip. Namun, bersamaan dengan itulah kita berhasil menguatkan &lt;i style=""&gt;willpower&lt;/i&gt; kita dan bisa mengembangkan mental tahan banting. Efek samping yang didapat dari latihan begini adalah hilangnya rasa bersalah, tumbuhnya keberanian menghadapi kenyataan, penghargaan pada diri sendiri, dan meningkatnya kepuasan dan &lt;i style=""&gt;happiness&lt;/i&gt; dalam kehidupan kita. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Kompas/ Klasika/ 21/06/2008)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2744515257440025243?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/berani-susah-untuk-sukses-dalam-karir.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDvG5pm42I/AAAAAAAAAJU/BpE_sR0pE4k/s72-c/kunci+sukses.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7473605188896209338</guid><pubDate>Tue, 23 Dec 2008 13:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-23T05:54:11.796-08:00</atom:updated><title>MENJADI SAHABAT SEJATI</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDtX9npqzI/AAAAAAAAAJM/SXH4iE1r2y0/s1600-h/teman+sejati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 113px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDtX9npqzI/AAAAAAAAAJM/SXH4iE1r2y0/s400/teman+sejati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282983358839237426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;TRIK MENJADI TEMAN SEJATI&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sulit rasanya membayangkan hidup tanpa kehadiran teman di samping anda. Ya, tanpa kehadiran teman, hari-hari anda akan terasa kosong dan hampa. Oleh sebab itu, hubungan pertemanan harus dipupuk dengan baik. Apakah anda sudah merasa menjadi teman sejati bagi teman anda? Untuk lebih jelasnya simaklah ciri-ciri teman yang sejati berikut ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pertama, teman yang sejati adalah teman yang bersedia mendengarkan segala keluh kesah temannya. Oleh sebab itu, jadilah pendengar yang baik untuk teman-teman anda. Jika mereka membutuhkan masukan, berilah pendapat anda tanpa bersikap menggurui. Lalu, pastikan teman anda mau mendengarkan masihat anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kedua, belajarlah menghargai segala macam perbedaan sifat teman anda. Ingat setiap orang memiliki berbagai kepribadian yang berbeda. Cobalah mengerti bagaimana karakter&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;teman anda. Jika anda mengalami perbedaan pendapat, selesaikanlah masalah tersebut dengan baik-baik. Sebab, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Ketiga, jagalah baik-baik kepercayaan yang telah diberikan oleh teman anda. Jangan pernah sekalipun anda membocorkan rahasia penting teman anda. Apalagi berupa aib. Banyak kejadian teman berubah menjadi musuh karena telah membocorkan rahasia penting temannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Keempat, jadilah teman yang selalu siap memberikan dukungan. Jika teman anda melakukan kesalahan, jadilah orang pertama yang menyemangatinya. Jika perlu sebisa mungkin anda jangan menyalahkannya. Berilah teman anda motivasi agar dapat bangkit dari kesalahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kelima, jangan jadikan teman anda sebagai saingan terberat anda. Hilangkan perasaan iri atas keberhasilan teman anda. Jadikanlah rasa iri tersebut sebagai cambuk bagi anda agar berbuat lebih baik lagi. Lalu, jangan lupa ikutlah berbahagia dengan keberhasilan yang telah dicapainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Keenam, jangan pernah ragu untuk minta maaf kepada teman saat anda melakukan kesalahan padanya. Setelah itu, berusahalah perbaiki kesalahan anda. Begitu pula sebaliknya, berikanlah maaf dan lupakan kesalahan teman anda jika ia bersalah. (INO/Kompas/Klasika/21/12/2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7473605188896209338?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/menjadi-sahabat-sejati.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDtX9npqzI/AAAAAAAAAJM/SXH4iE1r2y0/s72-c/teman+sejati.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7680795404027803060</guid><pubDate>Sun, 21 Dec 2008 13:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-21T05:52:09.771-08:00</atom:updated><title>BERPOLITIK DI TEMPAT KERJA</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU5J9R1zVpI/AAAAAAAAAJE/is48qwpW4c8/s1600-h/politik+di+kantor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU5J9R1zVpI/AAAAAAAAAJE/is48qwpW4c8/s400/politik+di+kantor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282240730062083730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;POLITIK KANTOR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Pada sebuah acara makan siang seorang teman mengeluhkan suasana kantornya, sebuah perusahaan multinasional, yang sarat dengan kegiatan “berpolitik”. Di tempat kerjanya, berkembang “klik-klikan” makan siang ataupun jemputan yang kemudian menjadi hubungan tertutup. Hubungan tersebut sangat erat satu sama lain, di mana mereka berbagai gossip dan fakta, menunjukkan sikap subyektif dalam melihat masalah dan bahkan mempengaruhi pemilihan dan penunjukkan anggota tim. Teman saya yang lain kemudian berkomentar, “Yaah…, kalau sudah ada lebih dari dua orang karyawan dalam satu tim, sudah pastilah ada ‘politik’-nya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Politik kantor yang sering ditangapi orang dengan sikap “alergik” pada kenyataannya tidak pernah punah, bahkan merupakan realita. Kita sering tidak bersimpati dengan seseorang yang “sok bener” terutama di depan atasan, bahkan tega “menyingkirkan” semua orang dianggap tidak benar, apalagi membahayakan kedudukannya. Ada juga individu yang tidak kita sukai karena ia pandai sekali memanfaatkan “&lt;i style=""&gt;power”&lt;/i&gt;, dan bisa membuat ketergantungan atasan, atau perusahaan kepadanya, sehingga “&lt;i style=""&gt;timing”&lt;/i&gt; yang tepat, ia bisa unjuk gigi alias bermain dengan &lt;i style=""&gt;bargaining power-&lt;/i&gt;nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Mengapa situasi “politik” seperti ini menjengkelkan orang-orang yang berada di luar permainan? Menurut ahlinya, politik kantor ini menjadi kelihatan lebih nyata pada lembaga yang kekuatannya SDM-nya tidak seimbang, misalnya banyak yang produktif sementara banyak yang bermalas-malasan. Ada istilah “&lt;i style=""&gt;like and dislike”&lt;/i&gt;yang muncul karena standar kinerja yang sulit dibuktikan apalagi dihitung, juga &lt;i style=""&gt;job description&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tidak seimbang dan tidak jelas, yang kesemuanya bisa membangkitkan rasa tidak nyaman dalam bekerja. Rasa tidak aman ini terutama akan lebih terasa lagi, pada orang sama sekali tidak mau “bermain” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan tidak menyadari apalagi tahu cara mainnya. Politik kantor memang sangat subyektif dan informal, inilah sebabnya hal itu terasa tetapi sulit diraba dan teraga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Tahu Apa Yang Kita Mau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Teman saya, yang bekerja di sebuah perusahaan yang berukuran sedang merasa bahwa ia juga harus melakukan kegiatan &lt;i style=""&gt;lobby&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengikuti kegiatan-kegiatan minum teh bahkan mempersuasi pengambil keputusan, ketika ia berusaha menjalankan rencana mengubah &lt;i style=""&gt;operating system&lt;/i&gt; jaringan informasi di perusahaannya. Melihat bahwa ia benar-benar berjuang demi penggantian sistem tanpa berniat mendaptkan kedudukan, kedekatan dan &lt;i style=""&gt;power &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bagi dirinya, saya lantas menanyakan hal apa yang ia bela mati-matian. Dengan santai ia menjawab bahwa yang ia bela adalah sekedar kinerja pribadinya. Tanoa kasak-kusuk, bujuk-membujuk, sikap super baik, dan mendekati orang-orang kunci, ia tahu tidak mungkin ia berhasil menjalankan perubahan yang menyulitkan di perusahaan tanpa adanya dukungan. “Sebetulnya saya tidak idealis-idealis amat. Saya tahu bila penerapan sistem ini gagal, karir saya akan terhambat”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Untuk &lt;i style=""&gt;survive &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di lingkungan organisasi, kita memang perlu kuat dan berakar, serta tahu apa yang kita mau. Kita bisa menyasar hal-hal material, kita bisa mementingkan karir, kinerja dan peningkatan kompetensi, sementara orang lain yang memburu keterlibatannya dalam kelompok tertentu, &lt;i style=""&gt;power &lt;/i&gt;atau kontrol terhadap situasi. Namun, berdiam diri, dan berharap bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan sistem yang ada, memang hampir tidak mungkin. “Kita perlu tahu di mana pusat kekuatan, siapa orang yang berpengaruh dan bisa mempengaruhi lingkungan sosial. Kita pun bisa me-‘licin’-kan upaya kita melalui pendekatan” demikian ungkap teman saya. Sepanjang kita bersikap fair, tidak manipulatif dan curang, me-&lt;i style=""&gt;lobby&lt;/i&gt; , mempersuasi dan berpolitik memang harus dilakukan. Sikap negatif seperti yang kita kenal misalnya “sistem kodok”, menyembah ke atas menendang ke bawah, tentunya adalah gaya yang tidak anggun dan tidak dilakukan oleh orang yang tahu berpolitik dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bertindak Halal Tanpa Menghalalkan Segala Cara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Ketika dalam suatu rapat, CEO tempat saya bekerja mengumumkan bahwa rekrutmen di perusahaan ini menganut sistem keluarga dan pertemanan, saya baru memahami bahwa di dalam berorganisasi ada realitas berpolitik yang perlu dicermati. Hal iini menyangkut siapa dekat dengan siapa, siapa mempunyai pandangan yang sama dengan yang mana, siapa pemain kunci dan siapa sekadar pengikut atau penggembira. Jejaring pertemanan yang berdasarkan kedekatan masa kecil, almamater, kesamaan pandangan meupaun ideologi biasanaya merupakan lahan berpolitik, baik di perusahaan maupun di organisasi lainnya. Sama seperti strategi perang, berpolitik pun memiliki pemetaan dan perencanaan yang mapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Dari pengamatan para ahli, orang-orang kuat dalam perusahaan dan organisasi biasanya memang bukannya tidak berstrategi, mereka juga “&lt;i style=""&gt;politically savvy”. &lt;/i&gt;Orang-orang ini tahu berhubungan dengan atasan, bahkan mendukung atasannya agar sukses. Bersamaan dengan upaya itu, seorang yang tahu berpolitik pasti berupaya untuk selalu “tampil” di rapat-rapat penting, tahu mendekati “orang-orang kunci”, menunjukkan “&lt;i style=""&gt;corporate manners” &lt;/i&gt;yang baik, dan menampilkan kemampuannya sebagai “&lt;i style=""&gt;team player”. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berproduksi itu Mutlak, Berpolitik itu Cara Bergaul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Dalam organisasi apapun, kita hanya bisa eksis bila mempunyai kontribusi yang signifikan. Bila kita amati orang yang pandai me-&lt;i style=""&gt;lobby&lt;/i&gt; dan berpolitik, sementaranya produksinya “kosong”, maka orang ini lambat laun tidak bisa meneruskan karirnya. Kekuatan kita dalam berproduksi merupakan modal agar kita bisa diperhitungkan dalam peta organisasi. Individu yang produksinya di atas rata-rata tinggal mengasah cara berinteraksi, berapat, mendekati atasan dan orang-orang kunci, serta membuat diri lebih diperhitungkan dengan berusaha lebih bermain fakta, membina hubungan emosional yang sehat, berusaha menonjolkan orang lain tanpa lupa memunculkan diri sendiri. Kontribusi yang sudah kita tunjukkan jangan sampai dikotori dengan mempraktekkan cara gaul murahan seperti bergosip, menekan, menyalahgunakan jabatan, mencari muka tanpa alasan. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Kompas/ Klasika/ 28/06/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7680795404027803060?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/berpolitik-di-tempat-kerja.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU5J9R1zVpI/AAAAAAAAAJE/is48qwpW4c8/s72-c/politik+di+kantor.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1339533555379817005</guid><pubDate>Sat, 20 Dec 2008 14:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-20T06:36:37.986-08:00</atom:updated><title>organisasi Pembelajar dan Semangat Pengembangan Diri</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU0ClAnTmWI/AAAAAAAAAI8/LoGIVVaBrj8/s1600-h/organisasi+yang+belajar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 99px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU0ClAnTmWI/AAAAAAAAAI8/LoGIVVaBrj8/s400/organisasi+yang+belajar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281880772818737506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-size:78%;" &gt;ORGANISASI PEMBELAJAR&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sebuah perusahaan yang sukses, namun kegiatan manajemennya dipandang terlalu terlalu “praktis”, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menyelenggarakan program bisnis dan manajemen kepada karyawan, yang dilakukan ekstra di malam hari seusai aktivitas kantor. Salah satu peminat program tersebut dalam acara &lt;i style=""&gt;kick-off&lt;/i&gt; program menanyakan pada saya mengenai “agenda” top manajemen dalam mengadakan program ini. Ternyata, beberapa karyawan di perusahaan yang sudah mencantumkan &lt;i style=""&gt;“learning organization&lt;/i&gt;” dalam falsafah perusahaannya selama hampir 10 tahun, program yang beragenda untuk memintarkan karyawan ini masih dipandang aneh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Di tengah dunia yang kini menjadi begitu kompetitif dan terus berubah, di mana akses informasi menjadi sangat berlimpah dan dan terbuka, kita semua makin sadar bahwa individu dan organisasi yang senantiasa belajar-lah yang bisa &lt;i style=""&gt;survive.&lt;/i&gt; Namun, sekadar menambah kelas &lt;i style=""&gt;training&lt;/i&gt; atau mengirimkan sejumlah karyawan untuk sekolah, nyata-nyata tidak semata lantas membuat organisasi menjadi &lt;i style=""&gt;learning organization.&lt;/i&gt; Sebuah lembaga pemerintah bergengsi, yang secara terprogram membiayai karyawannya untuk meningkatkan gelar pendidikan ke jenjang S2, bahkan sangat lumrah sampai ke jenjang PhD, dan sangat rajin mengirimkan para ahlinya ke luar negeri, tetap belum dapat digolongkan sebagai &lt;i style=""&gt;learning organization&lt;/i&gt; karena budaya belajarnya tidak kelihatan dari luar, maupun tidak terasa di dalam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Menurut para ahli,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;In a learning organization, when one of us gets smarter, we all can get smarter”.&lt;/i&gt; Ternyata dalam organisasi pembelajar, tidak semua orang harus belajar, tetapi proses pembelajaran akan menular tanpa terasa dan perlahan namun pasti pencerdasan sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi tanpa perlu formalitas belajar secara harafiah. Bisa kita bayangkan, kalau dalam sebuah organisasi saja proses pembelajaran formal dan non-formal yang sudah diupayakan mati-matian masih sulit terlaksana, bagaimana nasib sebuah negara yang tidak serius mendesain proses pembelajaran bangsa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Organisasi Pembelajar: “Shared Experiences”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dari beberapa organisasi pembelajar yang sukses, kita bisa mem-&lt;i style=""&gt;bench mark &lt;/i&gt;beberapa praktik yang sebetulnya sudah kita laksanakan, walaupun belum sistematis. Dalam organisasi pembelajar yang sudah jadi, saya amati individunya menampilkan tindakan yang terkontrol dan kata-katanya tidak sekadar “asbun” (asal bunyi), namun lebih bisa dipertanggungjawabkan, terkait &lt;i style=""&gt;“lesson learned” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan informasi kunci untuk menampilkan pemikiran terbaiknya. Yang jelas, setiap individu di dalam perusahaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menampilkan sikap “tidak pelit ilmu” dan juga meyakini bahwa kompetensi seperti sikap, nilai, dan keterampilan juga bisa ditularkan pada orang lain. Suasana dalam organisasi pembelajar tidak muncul dalam suasana “sinau” (belajar intensif, bahasa Jawa), namun lebih tampak pada diskusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seru, komunikasi intensif, keinginan untuk &lt;i style=""&gt;updating&lt;/i&gt;, serta rasa haus akan kesempatan belajar. Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Darimana kamu dapat ide itu?”, “Bagaimana kalau ...”, berkumandang di rapat-rapat, yang membuat setiap orang di perusahaan seperti berada di sebuah laboratorium raksasa yang tiada hentinya menyambut tantangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berasal dari masalah dan kesempatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang terlihat. Kegagalan atau hampir gagal dan kesuksesan di lapanganlah yang menjadi fokus untuk memperoleh “&lt;i style=""&gt;lesson learned”&lt;/i&gt;, bukan semata teori.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Organisasi boleh berharap menjadi organisasi pembelajar, bahkan mengeluarkan banyak biaya untuk mendukung pelatihan dan bentuk program pembelajaran lainnya, tetapi kalau suasana kerja tidak “&lt;i style=""&gt;customer friendly”&lt;/i&gt;, kaku, tidak mampu melakukan komunikasi yang menembus divisi, doyan berpolitik, berperilaku tidak sejalan dengan misi perusahaan alias penuh birokrasi dan sibuk mementingkan kebutuhan pribadi, semua upaya akan percuma. Tampaknya, organisasi pembelajar tercipta hanya bila suasana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerja mendorong “pengembangan pribadi” dan “&lt;i style=""&gt;personal mastery”&lt;/i&gt; secara utuh, menyemangati kerja tim, memberi kesempatan untuk “&lt;i style=""&gt;problem solving” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan mengupayakan evaluasi yang jujur dan tulus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Senantiasa Tumbuhkan Aura “Waspada”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kalau kita ingat di masa sekolah dulu, kita akan belajar lebih intensif bila guru sering membuat pertanyaan tiba-tiba. Sayangnya di perusahaan kita sering lupa menghidupkan aura kewaspadaan ini. Ada yang berpikir harus mencari waktu secara khusus untuk mempelajari, menganalisa atau memikirkan sesuatu. Bahkan ada yang berpikir: “ Ah, belajar hal baru itu tidak penting.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Biarkan yang muda-muda saja yang mempelajarinya”. Sikap “layu” inilah yang merupakan cikal bakal kesulitan terbangunnya spirit belajar dari organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Seorang yang kuat belajar pasti meyakini bahwa ia bisa belajar kapan saja, di mana saja, dan dalam situasi apapun. Hanya saja karena proses belajar tidak dilakukan dalam waktu tertentu dan disengaja, maka kita sebagai individulah yang perlu aktif menangkap signal atau gejala yang secara signifikan bisa menambah wawasan kita, sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di sinilah sikap waspada kita sangat diperlukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Belajar Formal Hanya Efektif Bila Semangat Pengembangan Diri Sudah Bangkit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sebuah perusahaan mengambil langkah untuk meningkatkan kualitas &lt;i style=""&gt;customer service-&lt;/i&gt;nya melalui program jumpa pelanggan, riset kepuasan pelanggan dan membuka jalur keluhan langsung. Hasil dari program tersebut adalah “&lt;i style=""&gt;brutal facts”&lt;/i&gt; dan “&lt;i style=""&gt;bad news”&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang bertubi-tubi dan dan membuat semua orang &lt;i style=""&gt;shock&lt;/i&gt;, sehingga terdorong mencari jalan keluarnya bersama-sama. Tanpa diduga, pada saat inilah organisasi merapatkan barisan, bertekad untuk belajar dan mengembangkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Sebuah studi menemukan bahwa 70% dari pembelajaran di tempat kerja bersifat informasi, misalnya dari observasi dan refleksi dari pengalaman individu, tim, perusahaan dan pihak lain. Kita lihat bahwa dalam proses pembelajaran di tempat kerja, dosis “&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;action”&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt; dalam proses belajar memakan hampir seluruh materi pembelajaran. Pencanangan target dan dan tujuan, rotasi jabatan dan kerjasama lintas fungsi justru merupakan kegiatan belajar yang terpenting. Saat semangat untuk belajar, memperbaiki diri dan berubah sudah bangkit dan berapi-api, barulah kemudian pelatihan dan pembelajaran formal bisa lebih efektif sebagai tindak lanjut. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/26/07/2008).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1339533555379817005?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/organisasi-pembelajar-dan-semangat.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU0ClAnTmWI/AAAAAAAAAI8/LoGIVVaBrj8/s72-c/organisasi+yang+belajar.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1970742373148190839</guid><pubDate>Fri, 19 Dec 2008 13:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-19T06:12:59.755-08:00</atom:updated><title>Berniat Benar, Bergerak, Bertindak</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUurszewIFI/AAAAAAAAAI0/Apll6Up5bN4/s1600-h/pemenang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 172px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUurszewIFI/AAAAAAAAAI0/Apll6Up5bN4/s400/pemenang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281503774243823698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;BERJIWA PEMENANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Tanpa menggunakan alat pengukur yang reliable, kita semua bias membedakan “rasa” di dalam dada kita saat melihat atlet Indonesia di halaman muka &lt;i style=""&gt;Kompas &lt;/i&gt;yang memamerkan medalinya dari ajang olimpiade, disbanding dengan melihat foto model koruptor yang sedang dalam proses “didandani”. Rasa yang “melambung” bila masuk dalam situasi “pemenang” dan sebaliknya rasa “terpukul” dalam situasi “pecundang” sangat mudah kita bedakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saat situasi “pecundang” lebih sering kita alami, rasa pahit yang bertubi-tubi bias tergantikan dengan rasa terpuruk, pesimis, bahkan bila tidak hati-hati bias mengakar menjadi sikap apatis dan cuek terhadap situasi sekitar. Dalam situasi Negara yang sulit begini, baik kondisi moral maupun material, mau tidak mau media massa memberitakan realita yang membuat kita sulit menepuk dada kemenangan. Lebih kecut lagi, bila kita sedang tidak beruntung, dan bertemu dengan individu berbangsa lain, yang dengan sinis membeberkan kelemahan bangsa kita, seperti kesenjangan antara kaya dan miskin, komsumerisme orang-orang berduit, lemahnya solidaritas dan korupsi yang merajalela. Menghadapi situasi ini, berat rasanya bias “merasa menang”, mengangkat dagu dan bersemangat pemenang. Pertanyaannya, haruskah kita merasaa terpuruk terus, dan menuggu terus sampai keadaan Negara dan ekonomi lebih baik, lebih bersih dan lebih makmur?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Disadari atau tidak, sikap pecundang yang terpelihara seperti ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tentunya akan mempengaruhi kinerja kita dalam porsi yang lebih mikro, misalnya di perusahaan, dan akan mempengaruhi “&lt;i style=""&gt;fighting spirit”&lt;/i&gt; kita secara umum dalam bersaing bisnis dengan negara lain. Bisa-bisa kita tergiring oleh lingkaran setan dan semakin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tenggelam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam ke-“pecundang”-an dalam rasa. Vince Lombardi, seorang &lt;i style=""&gt;coach american football &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;legendaris tahun 50-an mengumandangkan: “&lt;i style=""&gt;winning isn’t everything, it’s the only thing”, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sementara kita di sini masih sibuk dengan rasa cemas karena semangat korupsi yang tidak kunjung padam, tidak meyakini bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa pembayaran pajak akan kembali kepada kesejahteraan rakyat, merasa sulit memprediksi sukses, bahkan menyembunyukan perasaan “kalah” dengan bersikap jumawa. Kita semua tahu bahwa bersemangat pemenang itu positif, namun demikian kita tidak gampang memenangkannya tanpa upaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Pemenang yang Sehat, Memperhitungkan Kekalahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Teman saya, anak sulung harapan keluarga, selalu “dimenangkan” oleh orang tuanya dan kebetulan jarang sekali menghadapi kegagalan, baik di dalam pendidikan, berorganisasi dan aspek kehidupan lainya. Keadaan menang terus-menerus ia tidak akrab dengan kekalahan. Sebagai akibat, sikapnya jadi tidak mau menghadapi kekalahan, apapu aturan dan konsekuensinya, alias, “tidak mau kalah atau mengalah”. Teman kita ini memang sering menang, tetapi ia belum mempunyai “&lt;i style=""&gt;mindset”&lt;/i&gt; pemenang yang sebenarnya, karena ia tidak siap kelah. Orang seperti ini bahkan ada yang bisa menghalalkan segala cara demi mempertahankan posisi pemenangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Orang yang berusaha menang secara obsesif semata untuk mendaptkan penghargaan, menghindari rasa malu, biasanya tidak bisa mengatur energi, sehingga dalam situasi kalah ia tidak siap bahkan menunjukkan kemarahan. Mungkin kita masih ingat betapa petenis juara, John McEnroe, yang mengekspresikan kemarahannya dalam banyak situasi pertandinganyang bermasalah baginya, sehingga mengesankan dirinya bukan sebagai pemenang tetapi justru pecundang. Kita perlu sadari bahwa sikap pemenang tidak selalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membawa kemenangan, tetapi justru kita perlu tetap mempertahankan &lt;i style=""&gt;mindset&lt;/i&gt; pemenang dalam situasi apapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Menang yang sebenarnya adalah termasuk memperlihatkan komitmen, kebesaran jiwa dan penghargaan terhadap aturan, aturan main, sistem dan prosedur yang sudah dibuat. Komitmen terhadap semua konsekuensi yang perlu ditanggung,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyebabkan kita bisa berangkat ke suatu situasi dengan sensasi dan memori positif, sehingga dampak emosi positif ini berubah menjadi emosi positif. Inilah mindset pemenang yang sebenarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berniat Benar, Bergerak, Bertindak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Ayah saya selalu mengingatkan, sejahat-jahatnya perbuatan seseorang, pada dasarnya manusia normal itu ingin melakukan hal-hal benar dan baik, bukan kerena diperintahkan, tetapi memang secara natural mempunyai sikap demikian. Kenyataan ini cukup menjadi dasar setiap keyakinan kita untuk senantiasa merasa kuat, benar dan baik terlepas dari situasi yang kita hadapi kondusif atau kurang menguntungkan. Namun, sikap merasa bersikap benar ini saja belum cukup. Tengoklah betapa banyak orang, penulis, kritikus, politikus, ahli-ahli yang betul-betul merasa benar, namun tidak menyambung perasaan ini dengan komitmen untuk berusaha, bertindak, mengubah kebiasaan diri, orang lain dan membangun sukses. Sebuah kalimat bijak mengatakan: “&lt;i style=""&gt;Winners actually SEE their success BEFORE it happens”, &lt;/i&gt;tetapi melihat saja tidak cukup. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Untuk menang atau memiliki jiwa pemenang kita harus bergerak, bertindak, dan “masuk” ke lapangan, bukan menjadi penonton saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Semangat Pemenang Perlu Dipelihara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Dalam penutup email dan sms-nya, seorang teman sering menuliskan kata penyemangat pada rekan-rekan kerjanya. Semula saya sendiri kikuk menerimanya, tetapi lama-kelamaan timbul emosi positif dan semangat menularkannya juga ke orang lain. Tanpa kita sadari kata-kata bisa sangat “powerful” untuk membangkit mindset pemenang, karenanya perlu dipilih secara hati-hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kita juga perlu memelihara semangat pemenang ini dengan berlatih berada di bawah tekanan. Target penjualan yang ditingkatkan terus, tingkat kesulitan pekerjaan yang ditambah, berjuang untuk jabatan yang lebih tinggi, adalah upaya untuk membiasakan diri menguatkan mental dan mempertebal kepercayaan diri untuk menghadapi kesulitan yang tidak kunjung henti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Hal yang juga senantiasa perlu ditemukan individu dalam kehidupan berkarya adalah perasaan bangga atas hasil kerjanya, di mana seorang tukang sapu harus sama bangganya atas hasil sapuannya seperti Micheangelo bangga terhadap hasil sapuan kuasnya. (Eileen Racham &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/Kompas/ Klasika/23/08/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1970742373148190839?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/berniat-benar-bergerak-bertindak.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUurszewIFI/AAAAAAAAAI0/Apll6Up5bN4/s72-c/pemenang.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-4065841450915801059</guid><pubDate>Mon, 15 Dec 2008 12:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-15T04:47:14.836-08:00</atom:updated><title>Teknik BerbicaraDi Depan Publik</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUZRmL6TuJI/AAAAAAAAAIs/XNBbl-9sHEI/s1600-h/berbicara+di+depan+publik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 121px; height: 188px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUZRmL6TuJI/AAAAAAAAAIs/XNBbl-9sHEI/s400/berbicara+di+depan+publik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279997329612716178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;TEKNIK BERBICARA DI DEPAN UMUM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum atau presentasi seringkali menjadi hal yang sulit dilakukan. Merasa malu, minder, kurang percaya diri, takut ditertawakan, atau merasa belum layak, adalah alasan yang membuat banyak kesempatan “tampil” lewat begitu saja dan diambil oleh orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Untuk mengatasi hal tersebut, anda dapat mencoba teknik-teknik berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;, sebelum tampil di depan umum, persiapkanlah segala macam bahan untuk presentasi. Rincilah bahan-bahan apa saja yang akan dibicarakan. Bahan presentasi sebaiknya singkat, padat, dan jelas. Untuk memudahkan anda, tulislah rincian bahan tersebut pada selembar kertas sehingga anda akan lebih mudah mengingatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;, persiapkanlah penampilan anda sebelum tampil di depan umum. Ingat, penampilan yang baik dan rapi akan membuat rasa percaya diri anda muncul. Perhatikan penampilan anda mulai dari dbawah hingga ke atas. Usahakan agar sepatu anda bersih dan mengkilat. Celana dan kemeja pastikan warnanya selaras dengan dasi dan jas. Sisirlah rambut hingga rapi dan sopan, dan jangan lupa menggunakan parfum yang tepat. Ini merupakan faktor penting yang akan membuat anda lebih percaya diri saat berbicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berlatihlah dengan cara berbicara di depan kaca atau berbicara dengan pasangan, saudara, atau orang dekat anda. Selain itu, jangan lupa siapkan intonasi, gaya bahasa, dan susunan kata yang baik. lalu, mintalah agar mereka menilai penampilan anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Keempat, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengevaluasi diri anda setelah latihan. Salah satu caranya adalah dengan merekam suara anda melalui telepon genggam, atau alat perekam lainnya. Dengan cara ini, anda jadi tahu di bagian mana yang menjadi kelebihan dan kekurangan anda tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kelima, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;perhatikanlah gaya serta cara berbicara dari seorang tokoh yang dapat anda jadikan panutan. Tirulah segala macam hal positif dari tokoh tersebut. Namun, satu hal harus diingat, anda harus tetap menjadi diri anda sendiri. Tonjolkanlah karakter anda dalam berbicara, sehingga para pendengar terkagum-kagum dengan cara anda berbicara di depan umum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Keenam, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;siapkanlah mental positif bahwa anda bisa melakukannya walaupun untuk yang pertama kalinya. Tanamkanlah sikap percaya diri dan berpikiran positif. yakinlah bahwa anda mempunyai kemampuan yang baik untuk dapat berbicara di depan umum. (INO/Kompas/Klasika/3/12/2008).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-4065841450915801059?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/teknik-berbicaradi-depan-publik.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUZRmL6TuJI/AAAAAAAAAIs/XNBbl-9sHEI/s72-c/berbicara+di+depan+publik.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-6844641961658129533</guid><pubDate>Sun, 14 Dec 2008 13:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-14T05:36:33.720-08:00</atom:updated><title>Hemat itu Harus Menjadi Gaya</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUULza18fyI/AAAAAAAAAIk/LaYsVLU78sg/s1600-h/hemat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 186px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUULza18fyI/AAAAAAAAAIk/LaYsVLU78sg/s400/hemat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279639116168593186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;HEMAT ITU GAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;“Dapatkan satu set dapur &lt;i style=""&gt;branded,&lt;/i&gt; ditambah satu jaket kulit ekslusif, bila anda membeli apartemen sebelum akhir bulan ini”, “Bagi putra-putri anda, mainan kecil selama penerbangan”. Serbuan promosi ini, kesemuanya ditanggapi oleh kita, baik yang maupun yang miskin, yang perlu atau tidak memerlukan, dengan ungkapan: “Kenapa tidak?” Apakah sesudah itu jaket maupun mainan di buang ke tong sampah karena tidak cukup “berharga” untuk disimpan, itu urusan lain. Yang penting, kita “mendapatkan”-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Tanpa sadar perilaku konsumsi kita sudah berjalan tanpa pikir panjang lagi. Kita tidak perlu memedulikan lagi, apakah kita menjalankan “&lt;i style=""&gt;over consumption”&lt;/i&gt; yang diikuti perilaku membuang sampah, sesaat menggunakan produk kemudian mengganti lagi dengan produk lain atau mengikuti tren produk selanjutnya. Gejala “&lt;i style=""&gt;over consumption”&lt;/i&gt; ini sudah menggejala di setiap lapisan masyarakat secara menyedihkan. Tengok betapa yang berpenghasilan di bawah satu juta rupiah membelanjakan uangnya untuk membeli pulsa ponsel. Seberapa pentingnyakah komunikasi instan ini bagi dirinya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Seiring dengan ajakan banyak pihak termasuk pemerintah untuk mengencangkan ikat pinggang, semakin gencar pula para produsen bersaing melalui upaya pemasaran yang gila-gilaan. “Lima puluh persen diskon untuk makan di restoran ternama, selama tiga bulan ini”. Alhasil, makanan restoran yang dulunya kita nikmati sedikit dan perlahan-lahan sekarang kita konsumsi lebih banyak, bahkan kadang sampai terbuang percuma. Meskipun beberapa orang tua masih kerap menasehati putra-putrinya untuk “ingat pada yang tidak punya makanan”, namun konsumsi makanan (baca: berlebihan) tetap berjalan terus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kita jadi sadar bahwa kita berada di tengah ambivalensi perasaan dan evaluasi mengenai realitas sosial dan konsumsi kita sendiri. Keadaan yang kita sadari ini pun ingin kita ubah, namun tenaga serasa tidak cukup untuk berubah dan mengubah gaya hidup seketika. Tanpa terasa badai konsumsi sudah begitu kuat mewarnai hidup kita dan sudah kita anggap sebagai kebutuhan pokok. Keluarga menengah yang tinggal, misalnya di bilangan Bekasi, sering kita lihat mengupayakan untuk punya mobil dua. “Saya bekerja di Tangerang dan istri berkantor di daerah Sudirman. kami tidak punya pilihan. Kalau tidak menggunakan 2 mobil, kami tidak punya waktu untuk keluarga”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kenyataan seperti ini seolah berbunyi “&lt;i style=""&gt;no way out”&lt;/i&gt;, yang kemudian bisa membuahkan sikap apatis, tidak berdaya, tanpa ancang-ancang langkah mundur bila, misalnya, harga BBM melonjak dan tidak terbayarkan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Cerminan Diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Semenjak tahun 80-an, keberadaan mal-mal indah, sejuk dan nyaman seakan menjadikan kegiatan &lt;i style=""&gt;shopping&lt;/i&gt; sebagai ritual yang sah,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahkan dijadikan sarana untuk mengumandangkan “siapa saya” alias identitas diri. “Apa yang kita beli dan konsumsi, adalah cerminan dari diri kita”. Tanpa sadar kita sudah berada pada situasi di mana konsumsi tidak ada hubungannya dengan “biaya” dan kebutuhan. Konsumsi adalah “&lt;i style=""&gt;impulse”, &lt;/i&gt;yaitu reaksi impulsif yang secara sengaja dipelajari dan didalami oleh kaum &lt;i style=""&gt;marketers&lt;/i&gt; yang berusaha untuk menyasar para konsumen agar lebih mengonsumsi dan mengonsumsi lagi. Operator telepon, penjual minuman, bahkan rokok sangat menyadari bahwa konsumen yang paling empuk adalah remaja. Dan, karenanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;remaja ini dininabobokan dengan konsumsi yang mudah, ringan tetapi adiktif, menjebak, dan sulit bisa lepas lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertanyaannya, mungkinkah kita kembali ke era dimana kita melakukan “&lt;i style=""&gt;reasonable and reflective consumption”,&lt;/i&gt; dan dengannya berpikir keras&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenai kuantitas dan kualitas berang yang kita konsumsi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Antara ‘Punya” dan “Berbagi”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saya teringat kebiasaan ayah saya di tahun 60-an, yang setiap pagi hari pukul 6 berangkat dari rumah di Cilandak dan mengangkut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa anak sekolah langganan sepanjang Jl. Fatmawati, yang sudah seolah ber-“&lt;i style=""&gt;gentleman agreement”&lt;/i&gt; untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berangkat bersama. “Daripada kosong”, begitu komentar ayah saya, yang dengan bangga mengendarai Austin Thames-nya, mobil pribadi pertama yang dimilikinya. Memiliki mobil pada jaman itu merupakan prestasi yang sangat dibanggakan, tetapi kemudian, berbagi fungsi dan kemudahan membuat hidup lebih bermakna lagi. Mengapa di zaman sekarang, kita tidak kunjung bisa menanggulangi jalan macet dengan berbagai? bahkan, kitamenghalalkan pelanggaran dengan memanfaatkan para “joki” demi “&lt;i style=""&gt;privacy”&lt;/i&gt; alias &lt;i style=""&gt;“selfishness”.&lt;/i&gt; Gaya hidup “berbagi” memang tidak terlalu populer di kalangan “gaul”, dibandingkan dengan isu “mempunyai”. Di sinilah budaya &lt;i style=""&gt;selfishness&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tumbuh subur tanpa sadar bahwa dengan memanfaatkan dan menikmati kebersamaan dan hubungan sosial, kita bisa lebih sejahtera.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berhemat itu Canggih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Isu “matre” atau sikap materialistis nampaknya sudah kuno, basi, tidak signifikan lagi, karena kita memang sudah terbiasa, bahkan terbelenggu menjadi konsumen setia. Kemudahan dan keuntungan sebagai pemegang kartu kredit dan kartu debet dan segala macam kemudahan berutang menjadikan kita tidak kuasa lagi untuk setiap kali berhenti sejenak, berpikir dan mempertimbangkan tentang pengeluaran uang, ongkos, serta keguanaan dari barang, produk maupun jasa yang kita konsumsi. Nampaknya untuk berhemat, semua dari kita perlu “&lt;i style=""&gt;start from scratch”&lt;/i&gt; dan berpikir sangat keras, merekayasa dan mendesain suatu pendekatan, yang lebih manusiawi ketimbang komersialisasi, lokal ketimbang global, dan membuat sendiri ketimbang membeli, demi menyelamatkan kesejahteraan fisiologis, psikologis, emosional, dan spiritual. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/24/05/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-6844641961658129533?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/hemat-itu-harus-menjadi-gaya.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUULza18fyI/AAAAAAAAAIk/LaYsVLU78sg/s72-c/hemat.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8435802018802217277</guid><pubDate>Sun, 14 Dec 2008 13:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-14T05:32:38.854-08:00</atom:updated><title>Piawai Menulis Esai</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUK4HSxZkI/AAAAAAAAAIc/K0rYTypgUfA/s1600-h/writing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 228px; height: 196px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUK4HSxZkI/AAAAAAAAAIc/K0rYTypgUfA/s400/writing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279638097308509762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"   lang="IN" &gt;PIAWAI MENULIS ESAI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat. Selain melatih logika dan kemampuan berbahasa, aktivitas ini juga melatih pelakunya menyampaikan gagasan – sebuah ketrampilan yang penting namun masih jarang dimiliki oleh pekerja di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Menulis bisa juga menjadi medium ekspresi. Simak saja betapa &lt;i style=""&gt;blogging (&lt;/i&gt;jurnal online) kini sedang marak, bahkan di Indonesia. Selain itu, bukan tak mungkin kegiatan ini mendatangkan uang, jika tulisan anda dimuat di media massa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Untuk mulai menulis, salah satu bentuk tulisan yang dapat dimanfaatkan adalah esai, yaitu karangan yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Pada tulisan ini, kepribadian, pola pikir dan cara pandang esais (pengarang esai) sangat menonjol. Berikut ini beberapa acuan yang dapat digunakan saat menulis esai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan topik. Pillihlah satu topik yang benar-benar disukai agar anda dapat lebih menikmati proses penciptaan esai tersebut, misalnya tentang remaja, kehidupan sosial di perkotaan, atau tentang seni dan budaya. Sebelum memutuskan topik mana yang hendak dipakai, ada baiknya untuk melihat beberapa bahan bacaan guna mengetahui seberapa menarik topik ini untuk diangkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Setelah menentukan topik, persempit ruang pembahasan anda agar nantinya tulisan tersebut tetap fokus, dalam dan tidak rancu. Misalnya topik tentang perkotaan, anda bisa mempersempit pembahasan dengan mengangkat tentang tata kota atau sistem transportasi di dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berikut pikiran atau diskusi denan rekan-rekan merupakan cara produktif untuk mendapat masukan mengenai topik yang akan diangkat dalam esai. Dari diskusi ini pun mungkin anda bisa menemukan argumen-argumen baru untuk mendukung esai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saat menulis anda bisa memasukkan ide-ide menarik atau mengutip komentar orang-orang yang dirasa mampu memberi inspirasi bagi pembaca. Sedapat mungkin hindarilah kata-kata klise yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan dalam tulisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Terakhir adalah kesimpulan yang di dalamnya berisi inti dari semua yang telah anda tulis. Sebaiknya gunakan kalimat yang singkat namun padat. (ASP/Kompas/Klasika/9/12/2008)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8435802018802217277?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/piawai-menulis-esai.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUK4HSxZkI/AAAAAAAAAIc/K0rYTypgUfA/s72-c/writing.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7950898070574619670</guid><pubDate>Sun, 14 Dec 2008 13:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-14T05:29:19.052-08:00</atom:updated><title>BAGAIMANA MENJAJAKI KARIR?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUKAub8kFI/AAAAAAAAAIU/jC2blXG__Ww/s1600-h/karier.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 218px; height: 219px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUKAub8kFI/AAAAAAAAAIU/jC2blXG__Ww/s400/karier.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279637145743298642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"   lang="IN" &gt;RAMUAN UNTUK MENJAJAKI KARIER&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Membuat tujuan dalam bekerja merupakan salah satu bumbuynag diperlukan untuk terus memompa semangat. Seperti yang sering dikatakan, memiliki ambisi diperlukan untuk menuai kesuksesan, namun jangan sampai ambisius tinggi yang memegang peranan. Lakukan dengan cara benar dan tepat sasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Setiap langkah kesuksesan bisa diperoleh dengan cara yang berbeda-beda oleh setiap orang. Namun patut dipahami bahwa ada beberapa nilai dan tahapan yang akan memberi nilai plus bagi anda dan pada akhirnya mendatangkan kesuksesan dalam berkarier, antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kejujuran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bidang pekerjaan apapun membutuhkan nilai kejujuran tinggi, terlebih jika bidang pekerjaan anda menyangkut masalah keuangan. Korupsi dalam skala terkecil, sekalipun adalah bentuk ketidakjujuran yang lama kelamaan akan berkembang ke hal yang lebih besar. Kejujuran ini menjadi dasar dalam segala hal, baik dalam bekerja, hubungan dengan atasan, maupun rekan kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kenalilah kelemahan dan kekuatan yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Hal ini akan membantu anda untuk memetakan diri dan menentukan bidang pekerjaan yang paling tepat dan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berani menghadapi tantangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Meski mengetahui kelemahan diri sendiri, bukan berarti anda harus menjauhi pekerjaan yang sama sekali baru atau pekerjaan yang lebih menantang dengan tanggung jawab&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang lebih besar. Justru di sinilah tantangan yang harus dijalani untuk menguji ilmu maupun kemamouan yang telah anda miliki. Di sisi lain, hal ini pun membuktikan anda memiliki satu kelebihan yang dianggap mampu oleh atasan untuk menjalani dan merupakan salah satu bentuk pencapaian dalam berkarier.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Selalu belajar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saat sudah memegang posisi tertentu dengan tanggung jawab yang lebih tinggi, jangan pernah usai untuk terus mengembangkan diri dan belajar. Karena hal hal ini pulalah yang akan mengantarkan anda untuk terus meniti tangga karier selanjutnya. Lagipula, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki juga semakin membantu anda dalam mengemban tugas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Membangun jejaring&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Membuat jejaring komunikasi bisa dilakukan dalam berbagai kesempatan, baik di internal kantor maupun eksternal, seperti &lt;i style=""&gt;training, &lt;/i&gt;seminar, dan masih banyak lagi. Anda bisa belajar banyak dari mereka dan tak ada yang tahu jika suatu hari nanti justru di antara kenalan anda itulah yang akan menghantarakan anda menuju tanggal selanjutnya. (ADT/Kompas/Klasika/7/12/2008).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7950898070574619670?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/bagaimana-menjajaki-karir.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUKAub8kFI/AAAAAAAAAIU/jC2blXG__Ww/s72-c/karier.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8448850021260237366</guid><pubDate>Sun, 14 Dec 2008 13:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-14T05:20:20.108-08:00</atom:updated><title>PEMIMPIN YANG "MELAYANI"</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUH_nD8YgI/AAAAAAAAAIM/VgKprghbxI4/s1600-h/pemimpin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 220px; height: 186px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUH_nD8YgI/AAAAAAAAAIM/VgKprghbxI4/s400/pemimpin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279634927560450562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;Pemimpin yang “Melayani”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Semakin banyak saya membaca literature atau konsep mengenai kepemimpinan, semakin saya merasa tidak mungkin menjadi seorang pemimpin yang baik. Bayangkan, menurut berbagai ahli kepemimpinan, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang kharismatik, &lt;i style=""&gt;inspirational&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;transformational, innovative, motivational, &lt;/i&gt;memiliki kesadaran global, dan masih banyak lagi istilah-istilah canggih yang semakin menunjukkan betapa predikat “pemimpin” menjadi sangat ekslusif. Jika untuk menjadi pemimpin harus memiliki kualifikasiyang secanggih itu, lalu berapa banyak orang yang mampu menjadi pemimpin di masa mendatang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saya teringat pengalaman pada saat menyelesaikan program pasca-sarjana. Saat itu saya melakukan penelitian guna mencari jawaban atas pertanyaan apakah saya dapat memprediksi gaya kepemimpinan seseorang bedasarkan &lt;i style=""&gt;personal value&lt;/i&gt;-nya? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Suatu pertanyaan yang sederhana, namun memiliki jawaban yang membuat saya sering sakit kepala karena saya harus membaca dan memahami berbagai gaya kepemimpinan dari berbagai literatur yang semuanya berakhir pada suatu kesimpulan: konsep kepemimpinan umumnya rumit, sulit dipahami maupun diterapkan. Saya rasa bukan hanya seorang yang merasa demikian. Buktinya? Salah seorang rekan di sebuah perusahaan besar sedang mencari lulusan terbaik dari universitas-universitas di Indonesia untuk didik menjadi manajer atau pemimpin masa depan. Ketika saya tanya, “Kriteria manajer masa depan itu seperti apa?”, ternyata ia sendiri juga bingung. Ia mencoba mengungkapkan istilah-istilah canggih seperti diungkapkan sebelumnya, tanpa mampu memberikan contoh tingkah laku konkret dari manajer masa depan khayalannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saya jadi bertanya-tanya, adakah konsep kepemimpinan yang sederhana, tidak sulit untuk diterapkan, namun memiliki dampak langsung yang terlihat terhadap kinerja anak buah maupun tim kerja? Menurut saya, seorang pemimpin atau manajer yang baik adalah pemimpin yang bersedia “melayani”, artinya bersedia bekerja bagi tim dan sekaligus memimpin tim tersebut. Tentu saja kita tetap harus mempertimbangkan aspek keseimbangan dalam pelayanan. Artinya, pelayanan dari manajer tidak boleh berlebihan sehingga tugas manajer&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih mirip denan tugas &lt;i style=""&gt;office boy&lt;/i&gt;. Bagaimanapun, peran manajer&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai pemimpin tim tetap harus menonjol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Lalu, agar seorang manajer dapat menjadi pemimpin yang “melayani”, karakter seperti apa yang harus ia miliki? Hal yang paling utama, tentunya manajer tersebut harus menyukai manusia sehingga ia mampu memahami hubungan antar-manusia dengan lebih baik. Dengan demikian, ia akan melihat konsep ini sebagai manifestasi dari rasa cintanya terhadap hubungan antar-manusia, bukan lagi sebagai tuntutan peran semata. Dengan bahasa sederhana, ia mampu melayani anak buah karena ia memang mau dan senang melakukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh seorang manajer kepada anak buahnya dapat bervariasi, dari aktivitas sehari-hari hingga keputusan manajemen yang lebih kompleks. Misalnya ia akan berusaha meluangkan waktu saat anak buahnya sedang membutuhkan saran dan masukan. Atau, setiap kali seorang manajer memberikan tugas kepada anak buahnya, ia tidak lupa menanyakan kegiatan anak buah saat akhir pekan karena ia tidak hanya tertarik dengan masalah pekerjaan tetapi juga kehidupan sosial anak buah (yang sering diartikan oleh sebagian orang sebagai basa-basi yang tidak perlu). Contoh lain, misalnya ketika anak buah tidak berhasil melaksanakan tugas sesuai harapan anda sebagai manajer, maka anda akan berusaha membesarkan hatinya dan menunjukkan cara yang lebih efektif untuk menyelesaikan tugas serupa di masa mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Selain itu, ada pula bentuk pelayanan dari seorang manajer terhadap anak buahnya dalam bentuk yang lebih luas dan menyangkut kebijaksanaan perusahaan secara keseluruhan. Misalnya, yang diusulkan oleh Tony Barnes berdasarkan teori Kaizen mengenai kepemimpinan (1998:hal.85). Ia menyatakan bahwa pada dasarnya seorang manajer dapat memberikan bantuan dalam 5 bentuk sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau seorang karyawan tidak tahu apa yang harus dikerjakan ...beri ia penjelasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau seorang karyawan tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya ... beri ia pelatihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau seorang karyawan tidak ingin mengerjakannya ....beri ia motivasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;kalau seorang karyawan tahu apa yang harus dikerjakan, berkompetensi, dan memiliki motivasi untuk mengerjakannya ... beri aia kesempatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau seorang karyawan sudah mengerjakannya dan memenuhi standar (bahkan melebihi) ... beri ia penghargaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Sudahkan anda menjadi pemimpin yang mampu “melayani” anak buah?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Mira Trispuspita/EXPERD/Kompas/11/11/2001)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8448850021260237366?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/pemimpin-yang-melayani.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUH_nD8YgI/AAAAAAAAAIM/VgKprghbxI4/s72-c/pemimpin.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1038549247735457291</guid><pubDate>Sat, 13 Dec 2008 11:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-13T03:07:49.910-08:00</atom:updated><title>SIAPA  MENENTUKAN KARIR ANDA?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOXdrT9F3I/AAAAAAAAAIE/-3fQKdgDDEI/s1600-h/career.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 216px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOXdrT9F3I/AAAAAAAAAIE/-3fQKdgDDEI/s400/career.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279229724306773874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:22;"  lang="IN" &gt;KARIR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pada sebuah workshop dalam sebuah perusahaan, saat peserta diminta menyatakan pendapatnya atas pernyataan: “&lt;i style=""&gt;Atasan adalah penentu karir”&lt;/i&gt;, serta merta melihat respons yang sangat berbeda antara kelompok ‘top manajemen’ dan kelompok ‘manajemen menengah’. Para pimpinan merasa bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas karir bawahan, sementara yang dipimpin merasa bahwa karir mereka ditentukan atasan. Jelas-jelas para atasan menganut faham bahwa ambisi, kompetensi bawahan ada di tangan bawahan sendiri sementara bawahan masih bersikap “&lt;i style=""&gt;kumaha juragan wae”.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Persepsi di mana manajemen karir, baik penunjukkan, pengangkatan dan penilaian datang dari ‘atas’, memang ada dan masih kita temukan sampai sekarang, terutama di organisasi yang birokratis, seperti organisasi pemerintah atau ketentaraan. Sementara dalam bisnis, dengan perkembangan praktek yang kompetitif dan semakin nyatanya eksodus akibat pasar, kerja global, banyak kita lihat pergeseran pada hubungan ketenagakerjaan. Metafora seperti “karir itu berbentuk tangga atau piramid”, sudah berganti dengan paradigma baru seperti “jeruk makan jeruk”, “wolak walik ing jaman”; atasan bisa jadi bawahan. Tangga karir yang semakin berkurang anak tangganya, bahkan kadang hilang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena dihilangkannya suatu divisi besar dalam organisasi, sudah semakin menggejala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Demi efisiensi, perusahaan biasa melakukan pengurangan karyawan, ‘&lt;i style=""&gt;delayering’,&lt;/i&gt; desentralisasi, automasi dan pengukuran kinerja yang lebih cermat. Kompetensi yang tadinya dikonsenterasikan pada kompetensi teknis, cepat sekali basi dengan tingginya kompetensi untuk meraih &lt;i style=""&gt;excelence&lt;/i&gt;. Sebuah perusahaan bisa bangga sekali dengan kapasitas &lt;i style=""&gt;engineering-&lt;/i&gt;nya pada suatu waktu, lima tahun kemudian ‘&lt;i style=""&gt;excelence’&lt;/i&gt; ini sudah terkikis dengan dibutuhkannya keterampilan-keterampilan baru, misalnya saja peralatan yang semakin dikendalikan software. Menjawab tantangan ini, mau tidak mau, perusahaan akan menyuntikkan tenaga-tenaga mumpuni, bila individu dalam perusahaannya tidak meng-&lt;i style=""&gt;update&lt;/i&gt; ilmu, lemah dalam &lt;i style=""&gt;problem solving&lt;/i&gt; dan tidak bisa dikembangkan lebih lanjut. Hal-hal inilah yang membuat ‘karir’ semakin kompetitif dan semakin sulit ‘digenggam’. Sementara, kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berada di perusahaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pun sulit mengajukan diri bila memang tidak memenuhi spesifikasi lagi. Rasa-rasanya, jeritan agar kitalah yang di dalam perusahaan yang perlu diperhatikan tidak akan mempan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Career Self-Management” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;VS “&lt;i style=""&gt;Career Track” &lt;/i&gt;Perusahaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Saat saya bertanya pada seorang karyawan, mengapa ia terlihat lalai dan “kurang awas” terhadap pengembangan kinerjanya, ia menjawab: “Saya kehilangan buku catatan kinerja saya”. Dari sini kita bisa menyaksikan betapa individu bisa bersandar pada sistem karir yang dibuat orang lain untuknya. Padahal, bukankah kita sama-sama sadar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa kita tidak hanya berhak tetapi juga bertanggung jawab 100% terhadap kebahagiaan karir kita? Paradigma bahwa tidak berkembangnya karir adalah karena lalainya perusahaan sudah mesti kita tinggalkan. Bila tidak, kita akan termakan sendiri oleh stagnannya karir sebelum waktunya karena terninabobokkannya kita dalam sebuah organisasi. Dengan bersandar pada prosedur perusahaan, kita akan merasa bahwa ‘&lt;i style=""&gt;feedback’&lt;/i&gt; akan datang dengan sendirinya. Padahal saat sekarang, masukan dan penilaian, perlu dikejar demi pengembangan diri. Kitalah yang perlu merancang, mengejar, menggapai dan meraih kesempatan, di dalam dan di luar perusahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kelalaian ini bukan saja terjadi tingkat bawah. Teman saya seorang direktur, yang selama 20 tahun “&lt;i style=""&gt;all out”&lt;/i&gt; bekerja di perusahaannya, bingung menentukan karirnya setelah ia pensiun pada usia pensiun yang wajar. Teman saya ini sangat sadar bahwa ini bukan salah-salah siapa kecuali dirinya, yang terlambat membuat rencana karir pasca pensiunnya. Teman lain menahan-nahan karirnya untuk menjadi direktur, karena usianya masih terlalu muda. Menurut pendapatnya ia tidak bisa membayangkan apa yang harus dilakukannya selepas jabatan direktur BUMN ini, karena ia langsung akan di pensiun, berapa pun usianya. Teman-teman kita ini, walaupun super, ternyata tidak menyediakan alternatif karir. Di masa sekarang, individu yang selalu mempunyai alternatif karirlah yang bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih bebas membuat kesempatan bagi dirinya dan tidak melihat dirinya sebagai korban otak-atik strategi manajemen SDM perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;“Portfolio Management”: Tambang Emas Individu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap profesional, apapun keahliannya, perlu me-“maintain”, mengembangkan dan mengelola portfolionya, yaitu catatan mengenai keberhasilan, daftar proyek, keahlian dan pendidikan yang dikantonginya. Inilah sesungguhnya tambang emas individu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Teman saya, tidak bersedia ‘terlalu berpolitik’ untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi lagi di perusahaan BUMN tempatnya bekerja. Dengan santainya ia mengatakan bahwa dengan kompetensi yang dia miliki, ia menunggu “dilamar” saja. Bermodalkan portfolio-nya, seorang profesional akan siap menjawab tantangan karir dan menyikapi ketidakjelasan kesempatan lapangan kerja di pasaran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kunci menebalkan portfolio adalah kita tidak boleh lengah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam meng-“update” ilmu. Kita pun tidak bisa hanya memikirkan “moving up” saja, tetapi perlu melihat ke “dalam”, selain juga senantiasa memperluas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cakrawala ilmunya, bahkan kalau perlu menyerempet kesempatan dengan resiko yang lebih besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;“&lt;i style=""&gt;Employer” &lt;/i&gt;sekarang, berbasis pengetahuan mengenai kompetensi, sudah tidak mudah terkecoh pada kutu loncat berimbalan besar,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi akan mengincar professional dengan kompetensi, kemampuan berkembang yang tinggi dan kualitas pribadi yang kuat, seperti kepemimpinan, hubungan interpersonal dan kreativitas. Kompetensi individu bisa berkembang dalam jalur-jalur yang berbeda: spesialis atau generalis, bisa teknikal bisa juga manajerial, bisa ‘dalam’, bisa juga ‘luar’. Ada individu yang kuat dalam penyelesaian proyek jangka pendek, ada pula yang mampu berkelit di organisasi yang birokratis. Ada yang berbakat menjadi pemain di organisasi kecil dan ‘cair’, ada pula yang baru bisa berkinerja bila struktur organisasi jelas. Mengenali kekuatan diri kita, memang bukan tanggung jawab orang lain. Kitalah yang paling tahu, emas tipe apa yang tertimbun dalam tambang kompetensi kita bagaimana kita menjualnya di pasaran&lt;i style=""&gt;. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/AXPERD/ Kompas/klasika/19/07/2008)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1038549247735457291?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/siapa-menentukan-karir-anda.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOXdrT9F3I/AAAAAAAAAIE/-3fQKdgDDEI/s72-c/career.jpg' height='72' width='72'/></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8699168905334430100</guid><pubDate>Sat, 13 Dec 2008 11:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-13T03:04:37.271-08:00</atom:updated><title>KOMITMEN</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOWniZKwBI/AAAAAAAAAH8/arwt1KiwIM8/s1600-h/commitment.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 190px; height: 219px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOWniZKwBI/AAAAAAAAAH8/arwt1KiwIM8/s400/commitment.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279228794199785490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;KOMITMEN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tanda bahwa sebuah organisasi sudah mulai tidak efektif adalah kalau karyawannya sudah tidak lagi ingin kompak satu sama lain. Seorang eksekutif HRD menceritakan betapa karyawannya masih harus ditakut-takuti dengan absensi kehadiran, agar mau terlibat dalam kegiatan ataupun &lt;i style=""&gt;meeting&lt;/i&gt; yang tidak langsung berdampak ke pekerjaan, seperti donasi, &lt;i style=""&gt;fun activities, &lt;/i&gt;atau &lt;i style=""&gt;meeting bipartite.&lt;/i&gt; Memang, para karyawan tidak sampai saling memukul, baik dari belakang maupun depan, tidak saling menghina atau tidak menyatakan tidak saling percaya satu sama lain. Secara kasat mata, hubungan interpersonal kelihatan harmonis. Namun, bila perlu adanya koordinasi, katakanlah, &lt;i style=""&gt;crash program, &lt;/i&gt;pembenahan kantor atau pun program yang sifatnya non-kritikal tetapi perlu dikeroyok rame-rame, barulah terlihat bahwa komunikasi dan koordinasi seolah sulit sekali diatur dan diimplementasikan ke dalam kegiatan yang terarah. Di sinilah sesungguhnya kita bisa menyaksikan ketidakefektifan sebuah organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Banyak sekali ribut-ribut di perusahaan yang diakhiri dengan komentar, “Ini &lt;i style=""&gt;cuman&lt;/i&gt; masalah komunikasi, kok ...” Kita banyak lupa bahwa tidak efektifnya komunikasi merupakan “dosa” manajemen yang sangat besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hasil yang kita telan dari tidak efektifnya komunikasi adalah karyawan tidak ter-“konek” dengan misi perusahaan, merasa “tertinggal dalam gelap” dan tidak memahami bagaimana berpartisipasi dan melibatkan diri secara sesuai. Tidak efektifnya komunikasi ini, dalam keadaan parah bisa tidak terdeteksi lagi. Yang terlihat justru pada tidak berkomitmennya setiap bagian, individu atau kelompok terhadap apa yang sudah di-“iya”-kan, dijanjikan atau direncanakan. Lebih parah lagi, bila komitmen terhadap “&lt;i style=""&gt;deadline”, &lt;/i&gt;waktu, kuantitas tidak bisa di-“nyatakan” lagi. Semua rencana dan tindakan hanya bersifat mengambang. Di sinilah kita perlu waspada terhadap matinya spirit perusahaan atau lembaga karena sakitnya komitmen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari Komitmen ke Laba Perusahaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sudah tidak jamannya lagi orang menomorduakan komitmen karyawan di dalam pertimbangan pengembangan organisasi, karena jelas-jelas komitmen karyawan sudah menjadi daya saing utama dalam bisnis. Komitmen bisa terlihat dalam beberapa bentuk. Kita bisa lihat komitmen berkelas rendah karena individu butuh “memperpanjang” karirnya di perusahaan dan tidak punya pilihan lain dalam karirnya, yang sering disebut sebagai ‘&lt;i style=""&gt;continuance commitment”&lt;/i&gt;. Ada juga individu yang komit demi loyalitas, kedisiplinan dan kepatuhannya pada perusahaan, atau komitmen yang bersifat normatif. Orang yang komitmennya normatif akan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan organisasi, walaupun tindakan tersebut belum tentu sesuai dengan keinginan pribadinya. Perusahaan sebetulnya perlu memancing sebanyak-banyaknya komitmen &lt;i style=""&gt;afektif&lt;/i&gt;, di mana &lt;i style=""&gt;passion&lt;/i&gt; dan kesungguhan individu untuk berkontribusi, mengompakkan diri berlandaskan kesamaan pemikiran, sasaran dan idealisme profesinya dengan perusahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komitmen sampai level afektif dan &lt;i style=""&gt;passion&lt;/i&gt; ini tentunya tidak didapatkan secara gratis karena sesungguhnya bermula dari kemudahan, konsistensi dan kejelasan sistem dan prosedur di perusahaan. Kejelasan aturan main menjadikan karyawan bisa mengandalkan dan berpegang pada aturan. Dalam perkembangannya, karyawan jadi bisa tahu di mana ia bisa “ikut bermain” dan menikmati pekerjaannya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahkan memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu. Hanya dalam tingkatan ini, perusahaan baru bisa mengeruk keuntungan bermodalkan komitmen karyawan. Kita sebagai nasabah tentunya senang berbank dengan bank yang karyawannya jelas-jelas bekerja keras, berkinerja dan berjuang demi kepuasan nasabah dan kesuksesan perusahaannya, ketimbang bank yang santai dan tidak mengejar sasaran yang jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komitmen: Penyatuan Risiko dengan Tindakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut para ahli, komitmen sangat berbeda dari janji atau sekedar pelaksanaan kewajiban. Kewajiban berasal dari otoritas eksternal, sementara komitmen berasal dari dalam diri seseorang. Selain itu komitmen mengandung bobot yang jauh lebih tinggi, karena berkomit berarti menyadari dan bersedia menerima risiko tindakan yang sudah diambil oleh individu. Bila seorang ahli bedah sudah berkomitmen untuk menyelesaikan suatu kasus,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk menyembuhkan si pasien, apakah melalui tangannya sendiri ataupun dengan bantuan ahli lain. Demikian pula, seorang kepala cabang yang sudah berkomitmen untuk mencapai level KPI (&lt;i style=""&gt;key performance indicator) &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tertentu, akan serte merta mengerahkan segala upaya untuk mencapainya. Tentunya ada risiko ia tidak disukai oleh anak buah, karena anak buahnya didera untuk bekerja keras. Namun, tanpa pengambilan risiko tersebut, komitmen atasan akan terasa hampa, ringan tidak bertenaga. Di sini, komitmen justru memberi “&lt;i style=""&gt;flavor” &lt;/i&gt;pada kerja keras kelompok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam sebuah kelompok kerja, komitmen akan terasa bila individu dalam kelompok mau “&lt;i style=""&gt;tune in”&lt;/i&gt; mendukung &lt;i style=""&gt;“action”&lt;/i&gt; ,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersedia untuk di-“expose”, siap bertanggung jawab terhadap tugas, dan bahkan ikut serta menghandel dilema yang pasti muncul dalam mengembangkan tuas. Dari sini jelas kita bisa melihat bahwa gejala &lt;i style=""&gt;“loh kok saya?” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau ‘&lt;i style=""&gt;bukan saya, pak ...’ &lt;/i&gt;tidak laku, karena sikap defensif hanyalah pertanda bahwa komitmen individu tidak ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komitmen itu Pilihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beda tipis dengan kepatuhan dan kewajiban yang normatif, komitmen afektif adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sepenuhnya pilihan individu. Individu yang memilih untuk komit biasanya sudah melalui proses pertimbangan terhadap kebutuhan dan visinya sendiri dan juga sudah yakin pada dampak sikapnya. Karena itu, individu yang berkomitmen tinggi, bisa memberikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;impact”&lt;/i&gt; yang lebih besar di pekerjaan, lebih persuasif, lebih terbuka terhadap kemungkinan kritik. Pilihan perilaku yang diambil seseorang yang berkomitmen pun akan diarahkan pada dua hal yang sangat penting, yaitu &lt;i style=""&gt;mendukung &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;mengembangkan, &lt;/i&gt;karena hanya dengan sikap seperti inilah kelompok dapat maju dan mencapai tujuan yang sudah sama-sama dipahami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komunikasi mengikuti “The 51% Rule”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="" lang="IN"&gt;Rapat-rapat yang diikuti oleh orang-orang yang berkomitmen tinggi akan memakan waktu jauh lebih singkat daripada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bila individu peserta rapat ragu akan komitmennya. Untuk membuat peserta lain ‘hadir’ dalam tantangan yang sedang dibicarakan, seorang ahli komunikasi membuat formula yaitu bila setiap orang yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sedang berkomunikasi, yang sudah pasti dua arah, mengambil 51% tanggung jawab terhadap keberhasilan komunikasi dan &lt;i style=""&gt;follow up-&lt;/i&gt;nya, maka komunikasi pasti akan dipenuhi oleh spirit komitmen yang utuh. Hanya dengan cara inilah kita bisa mengejar “&lt;i style=""&gt;the extra mile”&lt;/i&gt; dan menikmati pekerjaan. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/09/08/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8699168905334430100?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/komitmen.html</link><author>noreply@blogger.com (Pormadi Simbolon,SS)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOWniZKwBI/AAAAAAAAAH8/arwt1KiwIM8/s72-c/commitment.jpg' height='72' width='72'/></item></channel></rss>