<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189</id><updated>2012-01-13T00:21:49.665-08:00</updated><category term='motivasi'/><category term='berita'/><category term='membangun perusahaan'/><category term='office'/><category term='kebenaran'/><category term='disiplin'/><category term='artikel'/><category term='pekerjaan'/><category term='keberhasilan'/><category term='kritik'/><category term='opini'/><category term='perubahan'/><category term='pengembangan diri'/><category term='manajemenn waktu'/><category term='bisnis'/><category term='kepribadian'/><category term='manajemen diri sendiri'/><category term='sense of urgency'/><category term='rahasia sukses jepang'/><category term='karir'/><category term='sokrates'/><category term='pengalaman'/><category term='kontrol diri'/><category term='usaha'/><category term='self improvement'/><category term='work'/><category term='topik manajemen'/><title type='text'>Formasio Diri Sendiri</title><subtitle type='html'>Membentuk diri sendiri menjadi peribadi utuh, religius dan bijaksana...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-6733922101505676979</id><published>2011-12-30T02:14:00.001-08:00</published><updated>2011-12-30T02:14:40.876-08:00</updated><title type='text'>9 Resolusi Proaktif untuk Karier Cemerlang</title><content type='html'>Tahun segera berganti. Waktunya Anda memulai perencanaan karier agar lebih baik lagi di tahun depan. Anda bisa mengadopsi saran yang diberikan Shelly Gorman, direktur managemen karier dari UNC Kenan-Flagler Business School, tentang beberapa resolusi proaktif yang bisa dilakukan untuk meningkatkan karier Anda. &lt;p&gt;1. Cek kembali manajemen karier Anda. &lt;p&gt;Untuk memastikan Anda berada pada jalur karier yang tepat untuk Anda, maka tak ada salahnya untuk mengecek kembali dan intropeksi diri Anda dengan pertanyaan seperti, &amp;quot;Dalam pekerjaan ini apakah saya bisa sepenuhnya memanfaatkan keahlian saya?&amp;quot;, &amp;quot;Apa visi lima tahun saya ke depan, dan apakah karier saya yang sekarang bisa mewujudkan hal ini?&amp;quot;, &amp;quot;Apakah saya menikmati apa yang saya lakukan sekarang ini?&amp;quot; &lt;p&gt;2. Miliki pola pikir proaktif. &lt;p&gt;Terkadang banyak orang yang terperangkap untuk selalu menunjukkan nilai dan kemampuan mereka, tapi sayangnya mereka tidak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka tidak berpikir proaktif dan malu bertanya. Dalam manajemen karier, menjadi rendah hati dan proaktif memang sangat dibutuhkan. &lt;p&gt;3. Temukan &amp;quot;merek&amp;quot; Anda dan &amp;quot;jual diri&amp;quot; Anda. &lt;p&gt; Seringkali, banyak orang tidak mampu &amp;quot;menjual diri&amp;quot; mereka dengan baik ketika mencari pekerjaan baru atau bersaing untuk mendapatkan posisi baru di kantor mereka saat ini. Temukan berbagai hal yang menjadi kekuatan Anda dalam bekerja. Setelah Anda menemukan kekuatan diri, Anda akan lebih mudah mengkomunikasikan keterampilan, potensi, dengan pekerjaan yang akan Anda lakukan. &lt;p&gt;4. Memotivasi diri. &lt;p&gt; Untuk mendapatkan posisi dan karier yang lebih baik lagi maka Anda tak boleh berhenti untuk tetap belajar dan memotivasi diri. Ambillah sebuah kelas keterampilan atau kembali ke bangku kuliah untuk mengembangkan keterampilan dan memajukan karier Anda tanpa mengganggu pekerjaan Anda. &lt;p&gt;5. Membangun networking.  &lt;p&gt;Tak bisa dipungkiri bahwa adanya jaringan atau networking bisa berpengaruh pada peningkatan karier Anda. Terutama jika pekerjaan Anda berhubungan dengan orang lain dan membutuhkan adanya hubungan dengan orang lain. Namun Gorman mengatakan, bahwa sebenarnya networking ini hanyalah sebagai alat pendukung untuk melakukan pekerjaan Anda, bukan sepenuhnya dapat membantu Anda mendapatkan pekerjaan. &lt;p&gt;6. Terus belajar.  &lt;p&gt;Jangan pernah malu untuk tetap terus belajar dari orang lain yang lebih sukses untuk membantu membangun kemajuan karier Anda. Namun, jangan hanya belajar dari satu orang saja, ada baiknya untuk belajar dari beberapa orang sukses sekaligus. Karena dengan berkonsultasi pada beberapa orang sekaligus, Anda dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan dari berbagai sudut pandang. &lt;p&gt;7. Jangan terlalu banyak berasumsi. &lt;p&gt; Jangan biarkan asumsi negatif Anda tentang industri atau posisi pekerjaan tertentu menghambat kemajuan karier Anda. Jika kebetulan Anda ditawarkan untuk mengisi posisi jabatan baru, maka jangan terlalu berasumsi negatif. Sebaiknya lakukan beberapa penelitian sederhana tentang pekerjaan tersebut dan posisinya agar Anda bisa melakukannya dengan baik. Jangan mudah menyerah dan pesimis sebelum Anda mencobanya karena terpengaruh berbagai asumsi negatif. &lt;p&gt;8. Buatlah perencanaan pengelolaan karier.  &lt;p&gt;Buatlah rencana manajemen karier Anda lengkap dengan tolok ukur dan metrik rencana kerja. Hal ini bertujuan untuk membantu visi kerja Anda tetap berada di jalur yang tepat. Selain bekerja, buatlah rencana untuk menghadiri berbagai pertemuan untuk menjalin relasi dengan orang lain sekaligus bisa membantu Anda untuk berpikir proaktif. Seringkali, orang-orang terlena dengan menjalankan kehidupan yang mengikuti arus. Padahal, waktu Anda akan lebih bermanfaat dan menyenangkan, karier pun semakin naik kelas, jika Anda memiliki rencana tertentu pada karier dan hidup. &lt;p&gt;9. Jadilah teman yang baik untuk diri sendiri. &lt;p&gt;Kita seringkali mengandalkan teman baik untuk mendapatkan nasihat. Jika Anda begitu yakin dengan nasihat sahabat Anda, mengapa tak coba melakukannya terhadap diri sendiri? Percayalah bahwa Anda bisa memotivasi diri Anda jauh lebih baik karena Andalah yang paling tahu apa yang tepat untuk Anda dan hal yang paling baik yang bisa Anda lakukan.&lt;br&gt;(Kompas.com)&lt;br&gt;Powered by Telkomsel BlackBerry&amp;#174;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-6733922101505676979?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/6733922101505676979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=6733922101505676979' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6733922101505676979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6733922101505676979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2011/12/9-resolusi-proaktif-untuk-karier.html' title='9 Resolusi Proaktif untuk Karier Cemerlang'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5141199347056082064</id><published>2011-12-29T08:16:00.001-08:00</published><updated>2011-12-29T08:16:29.494-08:00</updated><title type='text'>Anies: Gunakan Internet untuk Merajut Masa Depan</title><content type='html'>Rektor Universitas Paramadina Dr Anies Baswedan mengatakan, para pemuda seharusnya menggunakan media sosial di internet untuk merajut masa depan, bukan sekadar menjalin relasi masa lalu. &lt;p&gt;&amp;quot;Bagi anak muda, internet tak boleh sebatas merawat relasi masa lalu, internet harus jadi alat untuk merajut masa depan,&amp;quot; kata Anies yang juga Pendiri Gerakan Indonesia Mengajar melalui akun Twitter-nya di Jakarta, Kamis (29/12/2011). &lt;p&gt;Menurut dia, merugilah anak muda yang menggunakan internet sekadar untuk melanggengkan pertemanan di bangku SD, SMP, SMA, dan kuliah seperti banyak dilakukan anak muda yang sangat gandrung pada Facebook, Friendster, atau media sosial internet lainnya, termasuk messenger, hingga milis (mailing list-red).&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&lt;p&gt;Anak muda seharusnya rajin membangun jaringan masa depan, termasuk dengan memanfaatkan internet dan membuat jejaring dengan para pemuka di berbagai bidang di belahan bumi mana pun. &lt;br&gt;&amp;quot;Sudahkah bangun networking dengan para ahli terkemuka di bidang Anda? Ikutkah Anda&amp;#160; di milis-milis dunia atau &amp;#39;virtual exchanges&amp;#39; di bidang Anda?&amp;quot; katanya. &lt;p&gt;Gunakan internet untuk mendekatkan diri dengan pusat-pusat kemajuan, ujarnya, bukan sebaliknya malah mengisolasi diri dalam lingkar pergaulan masa lalu. &lt;br&gt;Sebelumnya pada Pembukaan Pesta Blogger 2011, Anies juga pernah menyatakan harapannya kepada komunitas online agar dapat membangun optimisme bangsa melalui tulisan-tulisan di blog berhubung media &amp;quot;mainstream&amp;quot; Indonesia akhir-akhir ini dilanda pandangan bernada pesimis. &lt;p&gt;Menurut dia, pesimisme itu dapat dilawan oleh komunitas online di Tanah Air, khususnya melihat potensi pertumbuhan era digital yang kian tinggi di Tanah Air dan membuka kesempatan besar bagi generasi internet di Indonesia untuk membangun sisi optimisme bangsa. &lt;p&gt;&amp;quot;Dengan mengisi blog ataupun media sosial dengan pesan-pesan positif, kita memenuhi persyaratan untuk optimis. Cara pandang optimis selalu melihat kesempatan dalam kesulitan, berbeda dengan cara pandang pesimis yang selalu melihat kesulitan dalam kesempatan,&amp;quot; ujar Anies.&lt;br&gt;(Kompas.com)&lt;br&gt;Powered by Telkomsel BlackBerry&amp;#174;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5141199347056082064?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5141199347056082064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5141199347056082064' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5141199347056082064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5141199347056082064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2011/12/anies-gunakan-internet-untuk-merajut.html' title='Anies: Gunakan Internet untuk Merajut Masa Depan'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7495025549968288474</id><published>2011-10-19T03:24:00.001-07:00</published><updated>2011-10-19T03:24:46.836-07:00</updated><title type='text'>4 Kualitas yang Atasan Harus Punya</title><content type='html'>Posisi baru sebagai atasan berhasil Anda dapatkan. Posisi penting ini harus dijalankan lebih baik dengan kualitas diri terbaik. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sebelum memulai tugas baru, simak kembali pesan Jeffrey J Fox, dalam bukunya How To Become A Great Boss. Menurut Jeffrey, ada empat ciri pemimpin hebat: &lt;br&gt;&lt;br&gt;1. Si atasan tidak takut untuk tidak tahu segalanya, atau untuk tidak tahu sesuatu. Artinya, ia mau terus belajar, bahkan dari bawahan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;2. Si atasan memberikan kesempatan kepada staf untuk berpikir sendiri dan berdiri sendiri. Kepercayaan menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan tim kerja di kantor. &lt;br&gt;&lt;br&gt;3. Si atasan tidak pernah merasa tahu segalanya. Sikap mau mendengarkan juga penting dimiliki atasan. Ini akan menimbulkan perasaan nyaman di level bawah. &lt;br&gt;&lt;br&gt;4. Si atasan mengerti bagus bahwa orang-orang yang bagus dalam bekerja, tahu pekerjaannya. Pemahaman yang baik mengenai kualitas personal dalam tim membuatnya lebih obyektif dalam memberikan penilaian terhadap anggota timnya. (Kompas.com)&lt;br&gt;Powered by Telkomsel BlackBerry&amp;#174;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7495025549968288474?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/7495025549968288474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=7495025549968288474' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7495025549968288474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7495025549968288474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2011/10/4-kualitas-yang-atasan-harus-punya.html' title='4 Kualitas yang Atasan Harus Punya'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5390844823352236329</id><published>2011-09-19T04:41:00.001-07:00</published><updated>2011-12-15T23:26:03.130-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rahasia sukses jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='membangun perusahaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengembangan diri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='usaha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen diri sendiri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='disiplin'/><title type='text'>Rahasia Sukses Orang Jepang</title><content type='html'>1.  Kerja Keras&lt;br /&gt;Sudah  menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam &lt;br /&gt; kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).  Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. &lt;br /&gt;Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak memalukan" di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk "yang tidak dibutuhkan" oleh perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Malu&lt;br /&gt;Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. &lt;br /&gt;Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena "mengundurkan diri" bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa &lt;br /&gt; gagal menjalankan tugasnya. &lt;br /&gt; Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas.&lt;br /&gt;Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada  mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan.&lt;br /&gt;Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun &lt;br /&gt; norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hidup Hemat&lt;br /&gt;Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme &lt;br /&gt; berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan.&lt;br /&gt;Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin kita sedikit heran dengan banyaknya &lt;br /&gt; orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam &lt;br /&gt; 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang  akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum &lt;br /&gt; tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Loyalitas&lt;br /&gt;Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.&lt;br /&gt;Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Inovasi &lt;br /&gt;Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan &lt;br /&gt;orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. &lt;br /&gt;Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai &lt;br /&gt; tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. &lt;br /&gt;Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa &lt;br /&gt; mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pantang Menyerah &lt;br /&gt;Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang &lt;br /&gt; menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke &lt;br /&gt; luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. &lt;br /&gt;Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah.&lt;br /&gt;Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita.&lt;br /&gt;Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo, ternyata Jepang tidak habis.&lt;br /&gt;Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). &lt;br /&gt;Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir &lt;br /&gt; tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era berikutnya. &lt;br /&gt;Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. &lt;br /&gt;Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Budaya Baca&lt;br /&gt;Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.&lt;br /&gt;Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk &lt;br /&gt; materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. &lt;br /&gt;Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan &lt;br /&gt; dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). &lt;br /&gt;Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, &lt;br /&gt; seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman &lt;br /&gt; modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa &lt;br /&gt; minggu sejak buku asingnya diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kerjasama Kelompok&lt;br /&gt;Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. &lt;br /&gt;Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok.&lt;br /&gt;Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa "1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok". &lt;br /&gt;Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan "rin-gi" adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam "rin-gi". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Mandiri&lt;br /&gt;Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. &lt;br /&gt;Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua.&lt;br /&gt;Biasanya mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan &lt;br /&gt; sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orang tua yang  nantinya akan mereka kembalikan di bulan berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Jaga Tradisi &amp;amp; Menghormati Orang Tua &lt;br /&gt;Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan &lt;br /&gt; budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. &lt;br /&gt;Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.&lt;br /&gt;Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata "tidak" apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang &lt;br /&gt; Jepang karena "hai" belum tentu "ya" bagi orang Jepang.&lt;br /&gt;Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. &lt;br /&gt;Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih  bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang &lt;br /&gt; tertinggi di dunia. &lt;br /&gt;(Milis apik)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5390844823352236329?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5390844823352236329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5390844823352236329' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5390844823352236329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5390844823352236329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2011/09/rahasia-sukses-orang-jepang.html' title='Rahasia Sukses Orang Jepang'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8395294547305662982</id><published>2011-07-08T17:32:00.000-07:00</published><updated>2011-12-15T23:30:34.690-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keberhasilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sokrates'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen diri sendiri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebenaran'/><title type='text'>Dialog Sokrates: kebenaran, kebaikan, dan kegunaan</title><content type='html'>Suatu hari di jaman Yunani kuno, datang kepada Socrates (seorang filsuf besar di jaman itu) dan berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu beberapa menit," jawab Socrates, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum Anda menceritakan apa pun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Triple Filter Test?""Benar," kata Socrates."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Filter pertama adalah KEBENARAN. Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak", jawab orang itu, "Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik," kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, malah sebaliknya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada satu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, sama sekali tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi", Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, sesuatu yang buruk, dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa Socrates diakui sebagai filsuf besar dan sangat dihormati.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Diambil dari milis Budaya Nilai KWI (diposkan oleh Sdri. Inri)&lt;br /&gt;Powered by Telkomsel BlackBerry®&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8395294547305662982?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8395294547305662982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8395294547305662982' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8395294547305662982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8395294547305662982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2011/07/dialog-sokrates-kebenaran-kebaikan-dan.html' title='Dialog Sokrates: kebenaran, kebaikan, dan kegunaan'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8863589171776498274</id><published>2011-02-02T00:01:00.000-08:00</published><updated>2011-02-02T00:03:10.016-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepribadian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keberhasilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen diri sendiri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self improvement'/><title type='text'>Dendam Positif</title><content type='html'>Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun  40-an.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan  bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokan yang kering. Ia begitu gembira  ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan segera mengisi air dingin  ke dalam gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah  hardikan: "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air  ini hanya khusus untuk insinyur!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu berasal dari mulut seorangi  nsinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya  terdiam menahan haus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar.  Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi  keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih  dikendalikan oleh manajeman Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hardikan itu selalu terngiang di  kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air  saja dilarang untuk ku?&lt;br /&gt;Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka  insinyur ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa  jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam  dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk  membangkitkan"DENDAM POSITIF".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya.  Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam  hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar  ketertinggalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya.  Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja  kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami  ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master  bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia  pulang&lt;br /&gt;kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia sudah  menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu  dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, karirnya melesat  terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan  pun karirnya menyusul yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karirnya melonjak dari kepala bagian,  kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur,  sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu  pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari insinyur bule  ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin  mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa  lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas  kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jawab sang wakil  direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterimakasih padamu dari  lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku  benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku  meraih sukses ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu  apakah ceritanya sampaidi sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan  ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden  Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukan Anda apa  perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil  Company)perusahaan minyak terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditangannya perusahaan ini  semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan  ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari  100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels  (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas prestasinya Ia  ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral  yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kisah siapa  ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat  ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab  Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam  positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang  penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;Itulah kekuatan"DENDAM POSITIF" &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain  berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa  kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana  menyikapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat  "Dendam Positif."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(dari buku Dendam Positif karya Isa  Alamsyah dan Asma Nadia).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8863589171776498274?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8863589171776498274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8863589171776498274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8863589171776498274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8863589171776498274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2011/02/dendam-positif.html' title='Dendam Positif'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5634069678901582502</id><published>2010-12-07T20:51:00.000-08:00</published><updated>2010-12-07T20:59:27.681-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='membangun perusahaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='topik manajemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='usaha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen diri sendiri'/><title type='text'>Membangun Sebuah Perusahaan</title><content type='html'>Dear Leaders,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar sharing tentang kebijaksanaan2 yang harus dibuat untuk membangun sebuah perushaan. Informasi didapatkan dari beberapa sumber di Internet.Dalam membangun sebuah perusahaan, biasanya kita perlu kebijaksanaan-kebijaksanaan yang harus sudah jelas.Tujuannya supaya perusahaan mempunya peraturan yang jelas dalam melakuakan kegiatan sehari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa topik-topik dasar yang bisa dianggap perlu untuk dibuat kebijaksanaannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masa Percobaan (Trial period)&lt;br /&gt;2. Status Pekerjaan (Employment Status)&lt;br /&gt;3. Jam Kerja (Work Hours)&lt;br /&gt;4. Periode Pembayaran (Pay Periods)&lt;br /&gt;5. Pengaturan Liburan (Holiday Policy)&lt;br /&gt;6. Pengaturan Cuti (Vacation and Leave Policy)&lt;br /&gt;7. Penggunaan Telepon (Telephone Use)&lt;br /&gt;8. Pengaturan Jumlah Kehadiran (Attendance Policy)&lt;br /&gt;9. Time Card&lt;br /&gt;10. Pengumuman Tertulis (Written Notice)&lt;br /&gt;11. Pengaturan Tingkah Laku Karyawan dan Lingkungan Pekerjaan (Employee Conduct and Workplace Environment Policy)&lt;br /&gt;12. Kebijaksanaan Tempat Kerja Mengenai Kekerasan (Workplace Violence Policy)&lt;br /&gt;13. Pelaksanaan dari Kebijkasanaan (Enforcement Policy)&lt;br /&gt;14. Peninjauan Kinerja Karyawan (Employee Performance Review)&lt;br /&gt;15. Pengaturan Ganti Rugi Jaminan Karyawan Workers Compensation Claims Policy)&lt;br /&gt;16. Pengaturan tentang Alkohol dan Obat-Obatan (Drug and Alcohol Policy)&lt;br /&gt;17. Uraian Pekerjaan (Job Description)&lt;br /&gt;18. Penggantian Ongkos Perjalanan dan Pengeluaran (Travel and Expense Reimbursement)&lt;br /&gt;19. Data Karyawan (Personnel Records)&lt;br /&gt;20. Pengaturan Mengenai Kerahasiaan (Confidential Policy)&lt;br /&gt;21. Penggunaan Komputer (Computer Use Policy)&lt;br /&gt;22. Manfaat Asuransi dan Kesehatan Bagi Karyawan (Health Insurance and Benefits Policy)&lt;br /&gt;23. Kebijaksanaan Tempat Kerja Mengenai Pelecehan Sexual (Sexual Haraassment Policy)Daftar di atas hanyalah sebuah guidline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan dari perusahaan.&lt;br /&gt;Semoga Bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Herry WidjajaHAO Event Management"Developing People, One Person at A Time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Powered by Telkomsel BlackBerry®&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5634069678901582502?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5634069678901582502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5634069678901582502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5634069678901582502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5634069678901582502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2010/12/leaders-sekedar-sharing-tentang.html' title='Membangun Sebuah Perusahaan'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8104032508580643395</id><published>2009-03-26T22:28:00.000-07:00</published><updated>2010-02-24T23:47:00.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemenn waktu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='disiplin'/><title type='text'>ATUR WAKTU AGAR TUGAS LANCAR</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Bagi pekerja kantor yang sibuk, waktu ibarat benda hidup yang selalu mengejar-ngejar anda. Seringkali tugas tidak terselesaikan secara maksimal karena diburu-buru waktu. Hal ini salah satunya disebabkan kurangnya kemampuan anda dalam mengatur waktu. Untuk mengantisipasinya, perhatikanlah kiat-kiat berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pertama, kerjakanlah tugas anda sesuai dengan prioritas. Jika tugas anda banyak, susunlah tugas tersebut sesuai dengan skala prioritas. Bisa dimulai dengan mengerjakan tugas yang tersulit hingga yang termudah atau sebaliknya, sebaiknya sesuai dengan cara anda bekerja. Janganlah lupa kerjakanlah tugas tersebut dengan irama pas, tidak terlalu lambat atau cepat.&lt;br /&gt;Kedua, perkirakanlah berapa lama waktu yang anda perlukan untuk menyelesaikan tugas. Selain itu, aturlah waktu yang tepat untuk memulai tugas tersebut. Dengan kedua hal ini, anda akan bersikap realistis terhadap rencana dan tugas-tugas. Jangan lupa, anda juga perlu mempertimbangkan kemampuan anda dan tim dalam menyelesaikan tugas tersebut.&lt;br /&gt;Ketiga, jangan terlalu terpaku pada lama waktu yang anda rencanakan untuk mengerjakan suatu tugas. Jika anda merencanakan untuk menyelesaikan tugas dalam waktu dua jam, misalnya jangan terpaku untuk menyelesaikannya dalam waktu tersebut. Akan jauh lebih baik jika anda berusaha menyelesaikannya dalam waktu yang lebih cepat. Dengan demikian anda dapat segera beralih ke tugas yang berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Keempat, kerjakanlah tugas sesuai dengan disiplin diri yang baik. Kerjakanlah tugas sesuai dengan skala prioritasnya. Usahakan agar anda tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang kecil, seperti browsing internet yang tidak berhubungan dengan pekerjaan anda. Setelah tugas selesai dikerjakan, pastikan tidak ada bagian yang tercecer baru kemudian beri waktu bagi diri anda sendiri beristirahat sejenak untuk melonggarkan pikiran.Kelima, salah satu hal terpenting dalam mengatur waktu adalah dengan bersikap efisien. Hal ini sama dengan bersikap mudah dan berpikir praktis. Anda tak perlu menghabiskan waktu untuk berpikir rumit tentang bagaimana cara mengerjakan tugas. Intinya, jika suatu tugas dapat dibuat sederhana, mengapa harus dibuat sulit. Dengan bersikap efisien, tugas akan mudah diselesaikan dan anda akan mendapatkan lebih banyak waktu lagi untuk menyelesaikan tugas berikutnya. (INO/Kompas/13-11-2008).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8104032508580643395?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8104032508580643395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8104032508580643395' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8104032508580643395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8104032508580643395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/03/atur-waktu-agar-tugas-lancar.html' title='ATUR WAKTU AGAR TUGAS LANCAR'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8515731338578258877</id><published>2009-03-10T21:05:00.000-07:00</published><updated>2010-02-24T23:48:14.204-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen diri sendiri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengalaman'/><title type='text'>Pengalaman Bukan Syarat Mutlak Melamar Pekerjaan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sbc6XlXPzoI/AAAAAAAAALM/YK_JDvkSZTQ/s1600-h/interview.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311778462347808386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sbc6XlXPzoI/AAAAAAAAALM/YK_JDvkSZTQ/s400/interview.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Saat baru lulus kuliah, sering kali para calon pelamar ini bingung akan menulis surat lamaran pekerjaan seperti apa, karena pada umumnya banyak perusahaan yang mensyaratkan pengalaman kerja. Mau tak mau, hal ini membuat sebagian calon pelamar merasa minder lantaran selama kuliah nyaris tak punya pengalaman kerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sebelum melamar pekerjaan kita terlebih dahulu harus tahu apa yang diinginkan perusahaan. Umumnya perusahaan menginginkan calon karyawan yang bisa berkontribusi langsung. Buat yang baru lulus kuliah, jangan pernah putus asa karena pengalaman yang dimaksud bukan melulu pengalaman kerja di perusahaan lain, tetapi pengalaman yang berkaitan dengan bidang industri yang digeluti.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, jika anda ingin berkontribusi dan bekerja pada perusahaan periklanan, pastikan anda memiliki kemampuan – syukur-syukur pernah menang lomba – menggambar, mengkreasikan iklan, atau bahkan menulis karena sebuah biro iklan pastinya memiliki kebutuhan yang tinggi akan desainer grafis atau copy writer sebagai bagiannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dalam melamar, perhatikan kualifikasi apa yang perusahaan tersebut inginkan. Lazimnya lagi, perusahaan mengharapkan oramg yang dapat belajar dan menyesuaikan diri dengan cepat agar bisa dikembangkan untuk kemudian berkontribusi secara maksimal.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tidak sedikit lho, perusahaan yang lebih suka mencari sarjana fresh graduate ketimbang yang sudah berpengalaman agar bisa dididik sesuai dengan visi dan misi perusahaan yang bersangkutan. Pastinya mereka yang terpilih umumnya memiliki prestasi, aktivitas, dan kreativitas di atas rata-rata karena perusahaan mengharapkan kecerdasan dan kreativitas mereka akan berguna bagi perusahaan dan nantinya bisa berkontribusi secara maksimal.Oleh karena itu, saat kuliah jangan hanya terpaku pada buku teks. Tak ada salahnya jika anda sesekali membantu kegiatn kampus, mengikuti kegiatan ekstra kurikuler atau organisasi lainnya yang dapat mengasah kreativitas dan memberikan nilai tambah pada pengalaman hidup anda. AYA/ Kompas/21/12/2008.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8515731338578258877?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8515731338578258877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8515731338578258877' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8515731338578258877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8515731338578258877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/03/pengalaman-bukan-syarat-mutlak-melamar.html' title='Pengalaman Bukan Syarat Mutlak Melamar Pekerjaan'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sbc6XlXPzoI/AAAAAAAAALM/YK_JDvkSZTQ/s72-c/interview.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5533784759302194002</id><published>2009-03-03T00:29:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T23:48:48.764-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen diri sendiri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perubahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kontrol diri'/><title type='text'>KONTROL DIRI ADALAH SENJATA PERUBAHAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sazq8x-vLZI/AAAAAAAAALE/dDi0MWeycF4/s1600-h/anjing+setia1a.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308876390692498834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 231px; CURSOR: hand; HEIGHT: 197px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sazq8x-vLZI/AAAAAAAAALE/dDi0MWeycF4/s400/anjing+setia1a.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Semua orang pasti setuju dengan “magic”-nya puasa di bulan Ramadhan (atau di masa Prapaskah pada umat Katolik, red.). Kekuatan niat yang begitu besar menjadikan kita yang tadinya tidak kuat menahan haus dan lapar di hari biasa, di bulan Ramadhan bisa melakukannya tanpa merasa berat. Bahkan, dengan puasa penyakit malah sembuh, badan terasa lebih ringan. Latihan kesabaran, kegigihan dan keuletan ini memang benar-benar memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk lebih banyak bertaqwa, lebih bisa mengelola diri sendiri dan tentunya “naik kelas” sebagai manusia. Suatu latihan yang sangat berharga untuk individu yang memang ingin mematangkan jiwa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan kita, tentu saja, me-maintain kompetensi control diri, emosi dan pikiran ini seusai masa Ramadhan. Sayang sekali bila kita kembali “loss control”, sehingga upaya latihan kita selama Ramadhan tidak kelihatan impact-nya. Misalnya kita kehilangan control diri lagi dengan kembali memborong barang yang tidak perlu, boros energi, melanggar lampu lalu lintas, terlambat dating ke kantor, sehingga semangat untuk bersabar dan menjadi manusia yang gigih kembali ke titik nol lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan yang naik bobot badannya 20 kg semasa hamil, menjamin bahwa berat badannya bisa kembali seperti sedia kala dalam waktu 4 bulan. Ketika ditanya kunci kesuksesannya, ia menjawab santai: “Puasa”. Ia mengatakan bahwa dengan berpuasa senin kamis, ia mempunyai control diri terhadap pola makannya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa selama ini ia makan berlebihan dan menciptakan mekanisme persepsi terhadap terhadap makahan yang beda. Akhirnya pola disiplin dan pola makannya berubah. Ini adalah contoh orang yang memanfaatkan latihan sebagai sarana peningkatan kualitas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol Diri adalah Senjata Perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti burung-burung yang bermigrasi secara otomatis saat pergantian musim, manusia, makhluk berakal budi paling super di muka bumi ini, memang tidak bisa mengandalkan instingnya lagi untuk berdisiplin. Manusia digerakkan oleh habit-nya. Manusia juga pengambil keputusan yang sangat berbasis emosi, juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, sehingga ia mudah sekali berubah atau melanggar rencananya sendiri. Itulah sebabnya orang bisa memanfaatkan emosi untuk berbisnis, misalnya dengan membuat tren, membentuk komunitas, merangsang konsumerisme dan tanpa sadar menghancurkan pertahanan control diri individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, keunikan individu membuat manusia mempunyai control penuh atas kemauannya, apakah ia akan memenuhi kebutuhannya atau tidak, memilih kapan “timing” terbaik, memilih di mana mendapatkannya dan mengontrol dengan cara apa ia akan memenuhi kebutuhannya. Contoh mudah, kita yang sudah berniat berhenti merokok, tiba-tiba ada di kerumunan perokok, yang menawarkan rokok pula. Pada saat ini, keputusan untuk memilih adalah seratus persen disadari oleh individu. Namun impuls, kebutuhan, keinginan individu bisa berkolaborasi dalam melemahkan control drinya. Pada saat inilah biasanya rasio atau pikiran individu bekerja, untuk mencari alasan pengampunan terhadap pelanggaran dirinya, untuk mengurangi rasa bersalah, sehingga individu tetap merasa “seimbang”. Situasi ini kita kenal dengan istilah rasionalisasi alias pembenaran. Pembenaran ini semula hanyalah dialog internal. Namun, bila individu berhadapan dengan lingkungan social, maka ia akan menyusun cerita pembenaran yang bisa diterima, sehingga perbuatannya cocok dengan situasi. Di sinilah control pertahanan diri bisa bobol dan tanpa sadar, tindakan pelanggaran di-“bela” oleh individu sendiri. Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya berubah tanpa control diri yang kuat. Sebagaimana kita sadari, banyak yang berteori dengan perubahan tetapi tidak sadar bahwa kuncinya justru pada control dirinya. “Everybody thinks of changing humanity and nobody thinks of changing himself” (Leo Tolstoy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin sebagai Impelementasi Kontrol Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman sekarang, kita jarang menemui orang yang sangat bangga dengan sikap disiplinnya. Bahkan disiplin dikaitkan dengan hukuman, surat peringatan, teguran keras, bahkan PHK. Padahal ini baru penerapan disiplin “kelas kambing”. Bila kita menaati rambu lalu lintas hanya bila ada polisi, tentunya kita tidak bisa mengaku bahwa kita orang berdisiplin. Untuk menjadi seorang yang berdisiplin, latihan-latihan untuk mengontrol diri harus dilakukan jutaan kali dan melalui proses yang panjang. Latihannya antara lain menahan desakan keinginan sambil mengevaluasi keyakinan, memperkuat motivasi dengan membayangkan hasil akhir yang lebih baik, serta mengelola konflik dengan membayangkan konsekuensi pelanggaran versus komitmen yang dibuat. Disiplin memang sering dimulai dari peraturan, tetapi disiplin yang sebenarnya adalah kalau sudah menjadi persepsi tentang hidup atau gaya hidup. Pada tingkat inilah individu baru bisa bangga pada kompetensinya ini dan bisa merasa percaya diri karena mempunyai sikap mental yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya Menadi Orang yang Terkontrol&lt;br /&gt;Banyak orang mencampuradukkan sikap mengontrol diri dengan sikap kaku, keras, tegang atau terhambat. Sikap ini tentunya sangat berbeda, karena orang yang bisa mengontrol dirinya, sangat mampu untuk bersikap fleksibel pula. Sementara yang kaku dan terhambat, bisa saja tampil terkontrol, tetapi mudah patah, dan bahkan bisa meledak, lepas control. Orang yang terkontrol biasanya akan tampil tepercaya di pergaulan dan pekerjaan, berintegritas dan yang paling penting, mempunyai daya adaptasi terhadap perubahan. Orang dengan control diri yang baik akan mudah menjadi orang yang inovatif, bahkan dalam pergaulan bisa mengembangkan “sense of humor” dan empatinya. Bagaimana tidak? Orang seperti ini sudah mengalami gemblengan latihan control diri, di luar kewajiban puasa, secara berjuta-juta kali. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas/ 20/09/2008). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5533784759302194002?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5533784759302194002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5533784759302194002' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5533784759302194002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5533784759302194002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/03/kontrol-diri-adalah-senjata-perubahan.html' title='KONTROL DIRI ADALAH SENJATA PERUBAHAN'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/Sazq8x-vLZI/AAAAAAAAALE/dDi0MWeycF4/s72-c/anjing+setia1a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8949463260875384675</id><published>2009-02-23T01:03:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T23:49:41.687-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengembangan diri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen diri sendiri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kritik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perubahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kontrol diri'/><title type='text'>MARI BERBURU MASUKAN</title><content type='html'>&lt;span style="color:#006600;"&gt;Semua orang pasti setuju pentingnya masukan untuk perbaikan. Namun, seberapa baik dan terbukanya kita mendengar masukan, ketika masukan itu datang di depan mata kita? Seorang pebisnis teman saya tahu persis bahwa saat sekarang, kecanggihan pengaturan cashflow merupakan kunci pertahanan dan kesuksesan bisnisnya saat ini. Ia pun menyetujui direkrutnya seorang eksekutif yang bisa melakukan pengaturan keuangan secara lebih canggih. Saat eksekutif tadi mengemukakan perbaikan  dan langkah perubahan yang ia canangkan, pebisnis tersebut langsung berkilah. Dengan daya persuasi yang kuat, ia justru mengarahkan eksekutifnya untuk mengerjakan cara lama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi lain, saya menyaksikan seorang atasan mendengarkan presentasi bawahan yang menyajikan brutal facts  yang perlu diwaspadai. Lucunya, atasan tersebut tidak me-“welcome” fakta yang disajikan, mengabaikan untuk menggali fakta dengan sikap skeptis yang sehat, tetapi malah berusaha mempersuasi audiens untuk berpikir bahwa ada kemungkinan data salah, cara pengambilan datanya tidak tepat, dan banyaknya pertimbangan yang tidak dimasukkan. Akhirnya, ‘brutal facts’ yang ditemui dimentahkan lagi, situasi pun tidak berubah, perbaikan bahkan tertolak karena tidak masuk ke benak pemikiran orang-orang yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar komentar dari orang-orang yang sedang mengalami ke-“ribet”-an, “Anda tidak ngerti persoalannya, sih”. Padahal, saat kita berada dalam ketidakpastian dan kompleksitas seperti inilah, masukan pihak lain menjadi sangat penting. Rasanya tidak perlu mengadaptasi sikap periset yang selalu mengedepankan sikap kreatif dan kritis dalam memperoleh dan mengolah data. “Stakes are high, Feedback is a must”, kata orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukan: Obyektif atau Subyektif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berburu masukan itu ibarat berkeliling menanyakan pendapat tetangga tentang masakan yang baru pertama kali kita buat. Perasaan yang timbul memang bermacam-macam, mulai dari bertaanya-tanya, bangga, tersinggung, atau was-was. Apakah pendapat orang lain obyektif? Bukankah kita yang lebih tahu mengenai apa yang kita tekuni? Apakah mereka cukup ahli dan tidak asal cuap? Sepanjang kita bisa meyakini bahwa masukan itu berguna, kita akan tetap bisa memanfaatkannya. Kita hanya perlu betul-betul mendengar dulu. Kita sering lupa bahwa masukan itu tidak mengenal pangkat, status atau usia. Masukan dari para sesepuh, senior ataupun pegawai rendahan bisa sama berharganya, tergantung seberapa pasnya masukan itu dengan kebutuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tidak bisa serta merta meragukan obyektivitas masukan orang. Hampir semua situasi atau produk yang kompleks dinilai secara subyektif dan tidak mempunyai ukuran yang pas. Sebut saja produk “I-MAC Supert-thin” atau film “Laskar Pelangi”. Kita tidak akan bisa melihat dan menentukan apakah masukan orang bersifat subyektif atau obyektif, berdasarkan rasa suka atau tidak suka. Lalu, kalau begitu, apakah kita akan berhenti mengejar masukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transparansi Berharga Mahal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah tulisan mengenai tren 2009, dikatakan bahwa ini era adalah era ‘instant feedback’. Melalui GPS (Global Positioning System),  keberadaan dan pembicaraan siapapun bisa dilacak secara real time. Orang butuh memotret kemacetan lalu lintas saat ini juga, polling pendapat mengenai popularitas diri sebagai politisi harus akurat dan terkini, bahkan instant. Ini adalah era transparansi. “Corporate Governance” pun sebetulnya tidak perlu disosialisasikan karena tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bila ada pihak yang menutup-nutupi kecurangan, pasti ada pihak lain yang akan membongkar faktanya. Tengok saja betapa KPK demikian cerdik mendaptkan fakta, demikian pula pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sekarang kita memang mesti berlomba adu cepat untuk mendapatkan fakta, baik mengenai situasi pasar, competitor, kinerja perusahaan, kebijakan yang baru dibuat, terutama mengenai diri sendiri. Inilah saatnya kita menciptakan lingkungan dimana setiap orang dimanfaatkan pendapatnya  tanpa rasa takut bicara. Kebutuhan terhadap masukan bukan berarti mengombang-ambingkan  profesionalisme dan kekokohan prinsip kita, namun kita perlu meyakini bahwa pikiran kita mempunyai keterbatasan dan kita butuh pendapat lain, terutama untuk hal-hal yang menyangkut pengambilan keputusan yang kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola Tetap di Tangan Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa jadi tidak sadar bahwa kita sering mentah-mentah menolak masukan. Padahal. bagi lembaga yang berbisnis servis serta orang-orang yang terbiasa bergerak maju, mereka bahkan rela membayar mekanisme feedback dengan harga mahal.  Individu yang memberi masukan diberi hadiah, bahkan membeli haril riset dan survey kepuasan pelanggan berharga miliyaran rupiah pun dilakukan. Mengapa kesadaran mengenai perlunya berburu masukan ini tidak merata? Bahkan, pengelola pemerintah pun seolah enggan mendengar fakta di lapangan, mengabikan saran-saran ahli yang mumpuni, bahkan menolak brainstorming, yang sesungguhnya bisa menambah wawasan dan khazanah pengetahuan sebelum mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali, tertutupnya pikiran dan hati untuk berburu masukan, disebabkan karena kita tidak bisa memisahkan antara perasaan serta penjiwaan kita dengan permasalahannya secara obyektif. Bila kita terlalu lebur dengan masalahnya, kita bisa merasa ‘diserang’  bila pendapat atau tindakan kita dipertanyakan. Sebaliknya, kita pun sering lupa bahwa kita tidak perlu segera mengubah  apa yang sudah ada pada kita atau kebijakan maupun tindakan yang sudah kita buat, kalau kita mendapatkan masukan yang bertentagan  ataupun “nyeleneh”.  Bolanya tetap di tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu secara intensif melakukan evaluasi tindakan kita, dan hanya masukan pihak lainlah yang bisa kita manfaatkan. Bayangkan, betapa ‘basi’-nya sikap keras kepala  dan tidak mau menerima ‘feedback’. Hanya orang yang aktif berburu masukanlah yang bisa maju dan mampu menembus unpredictables, ketidakjelasan yang memang ditakuti semua orang. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/  Klasika/Kompas, 24/01/2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8949463260875384675?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8949463260875384675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8949463260875384675' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8949463260875384675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8949463260875384675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/02/mari-berburu-masukan.html' title='MARI BERBURU MASUKAN'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1449481945250369557</id><published>2009-01-25T05:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T23:50:27.161-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengembangan diri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen diri sendiri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sense of urgency'/><title type='text'>Sense of  Urgency</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Seorang manajer mengeluh bahwa walaupun pencapaian target bagiannya hampir selalu tercapai, ia merasa bahwa teman-teman di bagiannya kurang berinisiatif untuk mengejar target baru dan kurang kreatif dalam mencari tantangan baru. Bahkan, ada yang berkomentar mengenai dirinya sebagai orang yang tidak pernah puas dan pesimis. “Sebenarnya yang saya inginkan adalah anak buah saya bisa merasakan sense of urgency,  sehingga mereka lebih siap dengan perubahan pasar dan realitas kompetisi. Dalam perasaan nyaman begini, mana mungkin mereka mengidentifikasi dan mendiskusikan potensi krisis sekaligus kesempatan-kesempatan besar?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Ketika pada tahun 1989 Stephen R Covey mengentaskan konsep manajemen waktu, dalam buku 7 Habits, yang diantaranya mengemukakan pentingnya membedakan hal yang “penting dan mendesak (urgen)” dan hal yang “penting dan tidak mendesak”, kita dibuat menyadari betapa kita harus membedakan antara apa yang ‘penting’ dan apa yang ‘urgen’. Stephen R. Covey mengingatkan bahwa kita sering kali hanya berkonsentrasi pada hal yang mendesak (urgen), yang sudah bermasalah dan harus cepat ditangani, karena sebelumnya hal-hal ini diabaikan, tidak diperhatikan karena dianggap tidak penting. Sekarang kita kurang lebih sudah lihat hasilnya: budaya mementingkan “yang penting” menjadi semakin kuat. Buktinya kata ‘penting’ menjadi sangat populer di lingkungan pergaulan. “Ah, nggak penting …” kata seorang remaja atau “Atasan saya hanya mengurusi yang ‘tidak penting’ …” demikian ujar seorang karyawan perusahaan. Mengutamaka hal yang ‘penting’ tentunya merupakan sikap antisipatif yang sangat positif, misalnya menyelesaikan laporan sebelum waktunya, mengecek peralatan secara rutin, melaksanakan pengawasan secara berkala, melakukan rapat regular dan komunikasi efektif, sehingga kita bisa menekan munculnya masalah yang urgen. Pertanyaannya, apakah perhatian terhadap hal-hal yang penting ini juga mencakup perhatian kita terhadap terpeliharanya mental waspada dan sikap “bergegas” kita dalam bekerja?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;“Sense of Urgency” Tidak sama dengan “menghadapi ‘urgency’”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dalam dunia kerja dan bisnis sekarang, kita tentunya harus mempertanyakan kapan masih bisa menerapkan faham “alon-alon asal kelakon”. Kita bisa memilih mengatakan pada rekan kerja kita: “Ayo ini sudah bulan Oktober” atau “Ini masih bulan Oktober”. Kecenderungan untuk hidup ‘enak’, menutup mata dari kabar buruk dan dorongan untuk menghindar dari kenyataan pahit, sering membuat kita menjerumuskan diri dan tim kita dalam posisi ‘nina bobo’ alias comfort zone. Keadaan ini dipersubur bila tidak ada ukuran yang obyektif mengenai kinerja dan sikap yang disingkirkan, sehingga tanpa terasa individu semakin nyaman berada di abu-abu dan menghindari konfrontasi hitam putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Di sebuah bank klien saya, baru-baru ini beredar sebuah selogan unik: “No business as usual”, yang agak bertentangan dengan budaya di dunia perbankan yang biasanya mengembangkan sikap konservatif, mantap dan pasti. Sentakan yang dilontarkan pimpinan perusahaan ternyata menghasilkan kewaspadaan karyawan yang lebih  baik, sehingga semangat kompetisi dan memenangkan tantangan menjadi lebih kuat. Tentunya peningkatan kewaspadaan ini bisa dicapai bila organisai tidak bosan-bosannya menyiapkan sasaran-sasaran baru, meningkatkan tantangan penjualan, produktivitas maupun kepuasan pelanggan, dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka tentang kejadian enak dan tidak enak di dalam dan di luar perusahaan. Tidak banyak “happy talk”  lagi dalam meeting, namun komunikasi digantikan dengan fakta-fakta mengenai pencapaian  target, kesempatan di masa depan dan keberhasilan orang luar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kondisi inilah yang membangunkan individu agar tidak terlalu banyak berkonsentrasi pada upaya ‘menyamankan diri’ dan mendorong diri untuk bersikap waspada, dinamis dan berkeinginan untuk menyambut tantangan baru atau “urgency” yang sesungguhnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;‘4-A’ Sense of Urgency&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Seoran salesman saya terperangah, ketika saya tanyakan sasaran penjualan berikutnya, sesaat setelah baru saja kami sukses menutup sebuah penjualan yang ‘manis’. Mungkin dalam hatinya ia berkata, “Nggak ada matinya ibu ini …”. Persoalannya, sense of urgency adalah sebuah siklus yang berpedoman, “Succes motivates more success”. Siklus 4-A, yang terdiri dari Achive-Asses-Activate  dan Accelerate dimulai dari sebuah upaya pencapaian tantangan (achievemet) yang bila tercapai, segera dievaluasi (asses), kemudian segera direvisi dan dihidupkan kembali (activate) untuk memulai sesuatu yang baru lagi, sambil tak lengah mendorong dan menggenjot energi (accelerate) untukmengoptimalkan pencapaian hasil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Banyak sekali hal-hal yang bisa menyebabkan individu lengah atau “slow down”, seperti menunggu keputusan, merayakan keberhasilan, menyusun anggaran, faktor birokrasi dan proses di pihak ketiga. Di sinilah sesungguhnya kekuatan kita diuji untuk tetap bergerak, dan mengayuh energi. Begitu kita berhasil, atau “achieve” lagi, kita boleh merayakan suksesnya. Namun kita tidak boleh terlena karena dengan segera kita pun meng-“asses” dan membuat tantangan baru lagi. “Sense of urgency” hanya bisa didapatkan oleh individu yang mau menceburkan diri ke dalam siklus yang bergerak kencang, bahkan bergoyang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Jadilah “Person in Motion”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kita semua pasti setuju bahwa lebih mudah mengendalikan obyek yang bergerak daripada diam. Berpatokan pada hal ini, kita bisa mengadaptasi untuk lebih bersikap dinamis daripada statis. Seorang ahli mengatakan bahwa langkah pertama untuk menghidupan “sense of urgency” adalah dengan berjalan kaki lebih cepat, sehingga kita juga mensugesti diri sendiri bahwa kita sedang bergegas. Bersikap responsive, misalnya dengan segera menjawab telepon, merespons email, voice mail, blackberry, SMS, serta berorientasi ‘action’  seperti ini akan mendorong individu tidak mengijinkan dirinya untuk mencari-cari alas an  menunda pekerjaan. Dalam berkomunikasi, kita pun bisa membiasakan untuk tidak berbelit-belit, sehingga orang lain pun terpengaruh untuk berbicara “to the point”. Hal ini membuat kita bisa mengefisiensikan banyak waktu di dalam rapat dan pergaulan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kita mudah sekali melihat orang lain tidak mengadaptasi “sense of urgency”, padahal kita sendiri pun barangkali mempunyai penyakit yang sama. Karenanya, bergeraklah, “Do it now!” (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas, 27 Sept. 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1449481945250369557?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/1449481945250369557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=1449481945250369557' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1449481945250369557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1449481945250369557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/sense-of-urgency.html' title='Sense of  Urgency'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2942661590119020905</id><published>2009-01-25T05:10:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T05:19:10.427-08:00</updated><title type='text'>Cara Jitu Atasi Stres di Kantor</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Rutinitas yang serba sibuk di kantor tentunya dapat membuat pikiran anda menjadi stress. Apalagi ditambah dengan tekanan dari berbagai pihak yang dapat ikut menambah tingkat stress anda. Hati-hati, jangan sampai anda menyalurkan stress pada hal-hal yang negative. Untuk mengatasi stress yang semakin membuncah, simaklah kiat-kita berikut ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pertama, manfaatkan waktu istirahat makan siang. Setelah setengah hari bekerja, tentu anda merasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suntuk dan lapar. Tanpa disadari, rasa lapar dapat memicu tingkat seseorang. Pulihkan kondisi anda pada jam istirahat, sembari menyegarkan pikiran dengan berkumpul bersama rekan atau sahabat anda di kantor. Bicarakan hal-hal yang ringan dan dengarkanlah cerita-cerita humor dari mereka. Bersantai sejenak seperti ini terbukti ampuh untuk mengembalikan kesegaran pikiran anda. Jangan lupa, sebaiknya anda tidak membahas masalah pekerjaan ketika makan siang, agar stress anda tidak muncul lagi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Kedua, lakukan peregangan tubuh. Sesibuk-sibuknya anda jangan biarkan tubuh kelelahan akibat terlalu banyak duduk dan berpikir. Saat merasa lelah, lakukan peregangan tubuh dengan melakukan &lt;i style=""&gt;stretching &lt;/i&gt;ringan di tempat. Caranya, regangkan kedua tangan atau menggerakkan kepala anda ke kiri dan kanan. Lalu, kira-kira setiap dua jam sekali, keluarlah sejenak dari ruangan untuk menghirup udara yang lebih segar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Ketiga, bagi banyak orang, musik terbukti ampuh untuk megatasi stress. Jika anda termasuk salah satu penikmat musik, dengarkanlah musik dari computer anda. Pilihlah musik yang sesuai dengan selera anda. Sambil bekerja, anda pun dapat sambil bersenandung, selama suara anda tidak mengganggu rekan kerja lain.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Keempat, manfaatkan waktu libur untuk melenyapkan segala beban pekerjaan di kantor. Berolahraga, memasak, berkebun, ataupun tidur merupakan beberapa cara untuk mengisi waktu libur anda. Jangan gunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Nikmatilah waktu libur anda sebelum menyambut kembali hari-hari sibuk di kantor.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Satu lagi cara jitu menghindari stress, yaitu selalu berpikir positif. Terkadang rasa stress itu dapat berasal dari pikiran negative anda sendiri. Cobalah berpikir segala sesuatu dengan positif agar anda terhindar dari stress. lagi pula, jika anda bisa menghindari stress, hidup anda akan terasa lebih indah dan damai. &lt;i style=""&gt;(INO/ Klasika/ Kompas. 26 Okt. 2008)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2942661590119020905?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/2942661590119020905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=2942661590119020905' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2942661590119020905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2942661590119020905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/cara-jitu-atasi-stres-di-kantor.html' title='Cara Jitu Atasi Stres di Kantor'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-6921401543194316172</id><published>2009-01-22T21:07:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T21:10:52.488-08:00</updated><title type='text'>Kita Memang Beda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294352111770908258" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 179px; CURSOR: hand; HEIGHT: 153px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SXlRMenxtmI/AAAAAAAAAKY/e5pmVuH8wg8/s400/100E0621.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Kalau ada dua orang berhadapan, saling menatap, dan kemudian salah satu mengambil kesimpulan: “kita beda”, maka menurut pendapat saya, justru mereka sebetulnya sudah menemukan kesamaan. Di sinilah persepsi mengenai perbedaan dan persamaan akan terasa keindahannya, karena masing-masing individu yang berhadapan itu sudah “menemukan dirinya”, keunikannya, dan bahkan value adding-nya, sebagai manusia utuh. Itulah sebabnya kita perlu berbangga dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika; kesamaan dalam perbedaan, yang sampai-sampai oleh DJ Romy, cucu Soekarno juga dijadikan tema album terbarunya: Unity in diversity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, meski kita sering mengakui bahwa perbedaan itu indah, begitu sering juga kita tidak melihat perbedaan sebagai suatu kekayaan. Pikirkan betapa sering kita “buang muka” bila menemukan orang yang berbeda pandangan dengan kita, bergosip di belakang orangnya, membahas mengapa dia beda, dan bahkan kemudian kita mulai melakukan maneuver-manuver penyerangan seolah dia atau mereka itu musuh bebuyutan yang harus dibasmi. Di dalam rapat sering kita menemui jalan buntu sekadar karena berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah atau cara meraih sasaran yang sebetulnya adalah sasaran bersama. Dalam kondisi begini, ternyata perbedaan membuat kita tidak nyaman dan bahkan membangkitkan suasana permusuhan. Alih-alih menyamakan visi dan sasaran, berbicara pun sering tidak kita upayakan, bila sudah terjebak dalam konflik yang disebabkan adanya perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama tapi beda&lt;br /&gt;Sikap jijik terhadap perbedaan adalah sikap yang mutlak salah, karena dengan demikian kita lupa bahwa kesamaan bisa membuat kita justru miskin dan tidak berkembang. Kesamaan latarbelakang, pendidikan, kompetensi, dan komitmen yang sering membuat lingkungan kita nyaman, terkadang justru membuat kita jadi tidak bisa menggerakkan satu tim. Mereka yang bisa menampilkan keberbedaannya, kemenonjolannya, dan keunikannyalah yang kemudian malah bisa mulai memberi nilai tambah kepada tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman mengenai kesamaan dan perbedaan sesungguhnya adalah dasar untuk mengolah sebuah tim yang berkekuatan besar. Tanpa menyamakan persepsi, misalnya mengenai situasi yang kita hadapi, perilaku yang muncul, serta kekuatan dan kelemahan yang ada, kita tidak bisa mempunyai dasar untuk tinggal landas. Padahal, bukankah suatu situasi yang sama sering dilihat dengan pendekatan yang beda? Individu yang satu melihat detilnya, sementara yang lain melihat keseluruhannya. ada individu yang banyak melihat, ada individu yang lebih mendengar, sementara yang lain lebih dominant perasaannya dalam mendekat sutau gejala dan fenomena. Belum lagi, pandangan dua orang yang akan berbeda total bila yang satu melihat dengan kepentingan jangka pendek, sementara yang lain melihat dengan kepentingan jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyamaan persepsi ini sebetulnya terjadi pada setiap manusia dewasa yang berniat dan mampu melihat suatu gejala secara obyektif. Tanpa kemampuan ini, individu akan mencampuradukkan keyakinan, nilai dan visinya dengan perbedaan pandangan pihak lain, sehingga individu lain dianggapnya berseberangan. Di sinilah kemudian, kelompok bisa tidak sejalan satu dengan yang lain, divisi A berkonflik dengan divisi B, partai politik berseteru dengan yang lain, akibat tidak mampu melihat kepentingan bersama, visi dan tujuan bersama yang sebetulnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dengan memotret diri sendiri&lt;br /&gt;Ilmu emotional intelligence mengajarkan pada kita untuk meningkatkan self awareness kita dulu, bila kita berharap untuk mampu menguasai situasi social atau mampu mempengaruhi orang lain. Ini adalah bagian dari eksplorasi mental yang perlu kita lakukan dengan sengaja. Tanpa melakukannya, kita akan tumbuh menjadi orang yang kian picik, karena tidak bisa memanfaatkan keberbedaan yang berangkat dari analisa diri dan situasi yang obyektif. Banyak istilah seperti “test the water”, feel the breeze”, yang kurang lebih artinya adalah menajamkan sensor untuk memahami diri dan situasi sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang paling mudah untuk “memotret diri” ini adalah dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, memahami kesamaan, terutama persepsi dan pemahaman, kemudian mengidentifikasi keunikan serta keberbedaan orang lain. Hanya dengan ketajaman mental seperti ini kita bisa mengembangkan respek terhadap orang lain. Dalam proses eksplorasi mental ini, kita pasti secara otomatis ingin merasa benar, ingin membela diri dan bahkan ingin meneruskan cara-cara kita yang lama dan yang sudah ada. Hal ini sangat manusiawi karena manusia dibekali proses mental untuk menjaga keseimbangan jiwanya. Namun demikian, orang yang ingin memperkuat mentalnya, perlu juga melakukan judging, comparing, interpreting, anticipating, rehearsing, yang artinya mengolah input yang masuk dan mencocokkannya dengan realita, mencari kebenaran dan mengambil resiko bahwa ada kemungkinan ia harus berubah. Hanya dengan cara inilah kita sebagai manusia, berkembang menjadi manusia yang berpikiran fleksibel dan berpikiran terbuka dalam menghadapi tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan kalau kita semua sama&lt;br /&gt;Kalau kita, di dunia ini sama semua, maka pastilah kita akan merasa seperti robot ciptaan manusia yang sudah diberi bobot emosi, seperti yang digambarkan lewat film-film science fiction yang marak sekarang. Berbedanya bakat, latarbelakang, pendidikan, dan kompetensi lainnya adalah kekayaan keluarga, kelompok, bahkan Negara. Perbedaanlah yang memungkinkan kita bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain, hingga terciptanya sinergi. Hanya saja memang perlu diakui bahwa menonjolkan keberbedaan alias keunikan kita tidaklah mudah.&lt;br /&gt;Kita tentunya tidak bisa berperilaku aneh-aneh untuk mengekspresikan keberbedaan kita. Kita pun tidak bisa berkoar-koar menonjolkannya. Kita tahu bahwa kita memang perlu mengekspresikan bahwa “saya adalah saya”, sementara “saya” ini mempunyai nilai, keyakinan, kompetensi dan sasaran sendiri. Satu-satunya jalan bersikap dewasa adalah dengan sedikit mengambil ‘jarak’ terhadap diri dan memperbolehkan diri kita sendiri atau siapa saja meninjau kembali mengetes lagi, kompetensi, nilai, keyakinan kita. Bukankah keyakinan juga bisa salah dan nilai pun bisa usang? Untuk Negara dengan 12.000 pulau dan ribuan suku bangsa yang ingin bersatu, dengan 33 (44) partai politik peserta pemilu 2009 yang disahkan, keterbukaan inilah yang mutlak diperlukan: Bhinneka Tunggal Ika. Merdeka! (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas, 16 Agt. 2008).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-6921401543194316172?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/6921401543194316172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=6921401543194316172' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6921401543194316172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6921401543194316172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/kita-memang-beda.html' title='Kita Memang Beda'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SXlRMenxtmI/AAAAAAAAAKY/e5pmVuH8wg8/s72-c/100E0621.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2063820916361192203</id><published>2009-01-17T06:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T06:08:58.605-08:00</updated><title type='text'>BEBASKAN DIRI DARI KEBIASAAN LAMA</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;BEBASKAN DIRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Menggonta-ganti merek ponsel menyebabkan saya sering  salah ketik saat menulis SMS. Posisi tombol-tombol yang berbeda antara satu produsen dengan produsen lain, menyebabkan kebiasaan menekan tombol tertentu terbawa ketika mengetik di ponsel yang baru.  Anak saya mengkritik, “SMSmu sering aneh. Kenapa sih tidak lebih berhati-hati saat mengetiknya?” Tentu saja kita bisa lebih berhati-hati dan bekerja lebih perlahan. Namun, seringkali saat terburu-buru, secara tidak sadar kita kerap membawa kebiasaan lama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Sadar ataupun tidak,  salah satu sebab kita tidak lincah berubah, jalan di tempat atau bahkan mundur, terjadi karena kita tidak belajar untuk menghapus pola atau kebiasaan di masa lalu. Kita hanya bisa bergerak ke depan dan membuat terobosan bila kita mampu membebaskan diri dari hal-hal yang kekinian, bahkan masa lalu yang menghambat dan menggandoli kita untuk berubah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Mengapa orang sulit membuang kebiasaan lama? Dan juga, mengapa orang sering berfokus pada kegiatan belajar hal baru, tanpa ‘concern’ pada menghilangkan kebiasaan lama terlebih dahulu? Ternyata, bila kita pelajari, tidak bisanya kita berubah, atau bahkan sikap pesimis kita untuk bergerak dan mengadakan perubahan banyak dilatarbelakangi oleh cerita sukses masa lampau, yang sulit kita hilangkan. Kalimat seperti, “Saya memang dari dulu begini”, “biasanya ini yang saya lakukan…”, “dari pengalaman saya…” Saat saya memberi saran pada seorang teman untuk mengurangi biaya hidup sebesar 30 persen, sewaktu ia mengeluh tentang situasi krisis, serta-merta ia menjawab, “Mana mungkin..? Sudah bertahun-tahun…” Bila banyak orang memegang paradigma ini, bisa jadi kita akan mengalami keterpurukan lebih jauh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Tahan  Respons, Aktifkan Berpikir Kritis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Konon, mengajari para pilot juga dimulai dari proses “unleasing”. Proses emosi, asumsi, dan kesalahan ekspekstansi bisa membatasi presisi dalam mengukur jarak. Calon pilot harus belajar untuk  menahan respons yang datang dan berupaya betul memikirkannya sejenak, sebelum bereaksi. Seorang salesman pun harus ‘menghapus’ pengalaman penolakan-penolakan yang pernah dia alami sejak kecil, baru kemudian bisa menumbuhkan “killer instinct”-nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dalam perusahaan, terutama yang sudah sukses mengimplementasi cara konvensional, kebiasaan para pimpinan menyepelekan, bahkan menahan para junior untuk berpendapat, rasanya sudah saatnya di-“unlean”. Persepsi bahwa senior lebih pintar karena lebih berpengalaman, bisa membutakan seluruh organisasi dari bad news yang ada. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya bila kita jalan terus, menghadapi tantangan, tanpa menyadari bahwa masih ada faham-faham yang usang, asumsi-asumsi  dalam system nilai yang menahan kita untuk berubah. Hal inilah yang menyebabkan orang maju mundur untuk berinovasi, terutama bila menghadapi tekanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Manusia yang sehat sebenarnya bisa membekali dirinya dengan daya berpikir kritis, yang sudah disebut-sebut Socrates di zaman dahulu. Berpikir kritis antara lain mempertanyakan persepsi, asumsi, system nilai yang ada dalam system penalaran kita. Dalam menghadapi tekanan, kita perlu mengaktifkan daya berpikir kritis kita untuk memerangi praktik-praktik usang yang sudah kita terapkan selama bertahun-tahun. Saatnya kita mempertanyakan, apa masih mau meneruskan berhutang? Apakah masih meneruskan gaya hidup konsumerisme? Apakah kita akan meneruskan cara berkomunikasi yang lama? “Apa iya, tidak bisa diubah…?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;“The Reality Check”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Jangankan orang-orang pandai, pembantu rumah tangga saya pun mulai berubah pola membelinya. Pelanggan menjadi sangat selektif memilah-milah antara yang perlu dan tidak perlu, mana yang membuat mereka benar-benar happy dan mana yang sekadar mengikuti tren. Kita memang harus mengkalkulasikan kocek konsumen yang akan mengempis karena situasi krisis. Bila kita bisa menangkap kebutuhan tersebut, kita pun bisa menyusun langkah untuk menjadi pemenang kembali. Inilah reasoning utama mengapa cara lama yang membuat sukses sudah tidak bisa disebut-sebut lagi. Konstelasi pasar, organisasi, system penggajian akan berubah sesuai dengan situasi terkini (baca: krisis global). Jadi, kita perlu masuk ke dalam tuntutan baru dan menghapus kebiasaan lama. Tidak ada pilihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan kekuatan yang sudah kita bangun bertahun-tahun? Apakah kita buang begitu saja? Kekuatan seperti pengalaman sukses sebagai professional handal, tentunya bukanlah kekuatan yang tidak bisa digunakan lagi. Hanya saja, kekuatan tersebut harus disiapkan untuk menjawab situasi yang belum kita kenal, belum terbukti dan menantang kita untuk menemukan lahan-lahan baru. Karyawan lama yang kuat dan trampil harus bisa menghandel proses baru, membuat produk baru. Inilah tantangannya. Bahkan ada kompetensi yang perlu dibongkar dan diperbaharui. Misalnya, yang dahulu melakukan penjualan partai besar, sekarang masuk ke ritel  bahkan menjajakan barang sendiri. Kita mesti bertindak, ber-mindset dan berparadigma ibarat pegawai baru yang membawa pemikiran dan persepsi yang segar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;“A Great Moment to Innovate”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Bertahannya manajemen perusahaan atau pemerintahan pada praktik-praktik lama, sering membuat kita yang di dalamnya merasa asing pada hal yang “tidak jelas”. Padahal kalau dipikir-pikir, di dalam ketidakjelasan itulah ada fakta yang membuka peluang bagi kita untuk berinovasi. Sulitnya, inovasi yang kita temukan di dalam ketidakjelasan ini hanya bisa kita lakukan bila kita percaya bahwa kesempatan itu ada, dan terjun di dalamnya. Dalam situasi ini kita tidak bisa mereka-reka karena tidak ada teori yang sudah bisa membuktikan kesuksesannya. Di sinilah kita ditantang untuk kuat dan tetap komit pada semangat mengeksplorasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dengan semangat optimistis kita sebenarnya bisa melihat bahwa budget yang mengerut dan berkurangnya angka penjualan adalah momentum untuk melahirkan pemikiran-pemikiran kreatif. Tentunya hal ini hanya terjadi pada orang-orang yang mempunyai keyakinan, ego kuat serta visi yang jelas. Sekaranglah waktunya meneguhkan diri untuk membuat pendekatan baru, menemukan pangsa pasar baru, membuat produk baru serta terjun dan menggunakan bahasa pelanggan baru. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ klasika/ Kompas/20/12/2008)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2063820916361192203?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/2063820916361192203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=2063820916361192203' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2063820916361192203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2063820916361192203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/bebaskan-diri-dari-kebiasaan-lama.html' title='BEBASKAN DIRI DARI KEBIASAAN LAMA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7683763124351898820</id><published>2009-01-16T05:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T06:01:01.403-08:00</updated><title type='text'>MENJADI MANUSIA BEBAS</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;MENJADI MANUSIA BEBAS&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Krisi dahsyat menghantam Bumi, dan konon, puncaknya akan terjadi di sekitar pertengahan tahun yang baru ini. Disadari atau tidak, kekhawatiran dan ketakutan melanda umat manusia. Ketakutan kehilangan pekerjaan, nasib usaha,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang semuanya bermuara pada ketidakpastian dan ketidaknyamanan. Kegalauan melanda jiwa-jiwa yang tanpa disadari mengganggu produktivitas kerja dan fungsi hidup manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Namun, krisis itu tidak bisa dihadapi dan dijalani hanya dengan rasa takut dan khawatir. Itu adalah sikap mental pecundang (&lt;i style=""&gt;loser mentality)…&lt;/i&gt; Krisis dahsyat itu hanya bisa dihadapi dan ditakhlukkan dengan sikap sebaliknya &lt;i style=""&gt;(winner mentality)&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;ada dua esensi sikap mental pemenang yang diperlukan: Pertama, menjadi “penyapu jalan terbaik”! Martin Luther King Jr&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pernah mengatakan, …Seandainya seseorang terpanggil menjadi tukang sapu, maka seharusnya ia menyapu sebagaimana halnya Michelangelo melukis, atau Bethoven mengomposisi musiknya, atau Shakespeare menuliskan puisinya. Ia seharusnya menyapu sedemikian baiknya sehingga segenap penghuni surga maupun Bumi berhenti sejenak untuk berkata: “Di sini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan demikian baik”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Maka, profesi dan pekerjaan apa pun, yang dijalani sekarang, lebih dulu perlu diterima dengan rasa syukur. Masih banyak saudara lain yang kehilangan pekerjaan, belum bekerja, tak tahu harus berbuat apa. Krisis tak berhak mengganggu dan menggugat yang ada di tangan kita sekarang. Dari rasa syukur akan timbuk kesadaran baru bahwa apa yang masih ada itu adalah karunia, sekaligus amanah. Harus dijalankan sebaik-baiknya dan yang terbaik.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Itulah bentuk mental syukur terpenting dalam kondisi serba krisis dan menakutkan seperti sekarang. Menjalankan sebaik-baiknya apa yang ada di tangan adalah “ibadah” paling bernilai (bentuk rasa syukur paling konkret), yang bukan hanya berguna bagi kita, tetapi juga bagi manusia lain yang terkait dengan kita. Menjalankan segala sesuatunya dibarengi kekhawatiran dan ketakutan akan dahsyatnya krisis, apa adanya, seadanya (yang penting masih ada yang dikerjakan) sama sekali tak berguna bagi siapa pun dan hanya membuat penghuni surga dan Bumi mencibir serta menangis.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Manusia budak atau bebas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Kedua, menjadi “manusia bebas”! Esensi sikap mental pertama tersebut hanya bisa dibentuk melalui esensi kedua, yakni menjadi “manusia bebas”, seperti dimaksudkan Lao Tzu: “…Jika engkau hanya mengerjakan segala sesuatu sebatas apa diharapkan darimu, maka engkau tak ubahnya seorang budak. Namun jika engkau mengerjakan lebih dari yang diharpkan, barulah engkau menjadi manusia bebas”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Kalimat bijak itu sungguh menyiratkan esensi makna yang indah sekaligus dahsyat. Jika kita hanya bekerja dan menjalankan kewajiban sebatas yang diharapkan, di-standardkan, diminta, maka sesungguhnya kita masih dibatasi dan dikurung oleh batasan-batasan eksternal. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Misalnya, karyawan yang bekerja tentu mempunyai target-target atau KPI (&lt;i style=""&gt;Key Performance Indicator).&lt;/i&gt; Target atau KPI ini tentunya ditetapkan oleh pihak eksternal (manajemen, atasan atau perusahaan). Maka, karyawan yang bekerja hanya “sebatas” memenuhi target dan KPI-nya, secara hakiki, ia dibatasi dan dikendalikan oleh pihak eksternal. Itulah yang dimaksud “budak”. Apalagi jika ia bekerja kurang atau di bawah KPI-nya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Bagaimana menjadi manusia bebas? Ya, dia seseorang (sesuai profesinya masing-masing), mau memberi dan bekerja lebih dari apa yang diharapkan, lebih dari target dan KPI-nya. Artinya, ia telah berani, bersedia,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mampu menetapkan sendiri batasan-batasan kerja dan hidupnya (tidak lagi oleh pihak eksternal). Karyawan “budak” hanya bekerja sebatas KPI-nya. Karyawan “bebas” bekerja melebihi KPI-nya tanpa diminta.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;Sikap mental menjadi “manusia bebas” inilah yang sangat diperlukan di negeri ini. Makna kemerdekaan bukan hanya sekedar lepas dari para penjajah bangsa asing. Bukan jadi “bangsa budak”, melainkan bangsa pemenang yang mampu mengatasi krisis global sehebat apapun.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Sesaat lagi kita akan memilih para pemimpin bangsa di segenap dimensinya. Bangsa ini butuh para “manusia bebas” yang mampu menjadi “penyapu jalan terbaik” di bidangnya masing-masing. (Herry Tjahyono, Corporate Culture Theraphist &amp;amp; President The XO Way, Kompas/3/1/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7683763124351898820?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/7683763124351898820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=7683763124351898820' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7683763124351898820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7683763124351898820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/menjadi-manusia-bebas.html' title='MENJADI MANUSIA BEBAS'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1634897060691681436</id><published>2009-01-14T05:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-14T05:44:09.711-08:00</updated><title type='text'>MENYELESAIKAN KONFLIK DI LINGKUNGAN KERJA</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Tw Cen MT Condensed";  panose-1:2 11 6 6 2 1 4 2 2 3;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:7 0 0 0 3 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:5208124;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:314459990 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;} ol  {margin-bottom:0cm;} ul  {margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;MENYELESAIKAN KONFLIK DI LINGKUNGAN KERJA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Ada banyak hal yang bisa memicu konflik di lingkungan kerja, mulai yang terkait dengan tugas dan pekerjaan sampai ke masalah pribadi. Keadaan ini tentu akan menimbulkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketidaknyamanan saat beraktivitas di kantor, dan bukan sesuatu yang mustahil kalau berbuntut pada menurunnya produktivitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Agar tidak semakin berlarut-larut dan malah merambat ke mana-mana, maka sudah sepatutnya kalau hal ini segera diselesaikan dengan beberapa pendekatan diantaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm; color: rgb(51, 204, 0);" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Mengajak orang yang bersangkutan (terlibat konflik)      untuk bicara empat mata di tempat yang jauh dari keramaian. Dengan      demikian anda dan lawan bicara bisa lebih bebas mengemukakan isi hati dan      pikiran tanpa takut terganggu suasana sekitar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Saat berbicara, usahakan untuk tetap tenang dan      jangan terbawa emosi. Ungkapkan isi hati dan pikiran dengan tenang dan      sopan. Satu hal yang perlu diingat adalah mendasarkan semua ucapan      berdasarkan fakta atau kenyataan, bukan atas dasar gossip atau asumsi      pribadi. Jika tidak, bukannya menyelesaikan masalah, anda malah dapat      memperuncing atau menambah masalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Perhatikan pula ekspresi dan bahasa tubuh anda saat      berbicara. Jangan biarkan, misalnya, anda tidak menatap lawan bicara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau menunjukkan mimik wajah cemberut.      Bahasa tubuh yang tepat tentu akan mendukung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;niat baik anda untuk berdamai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Dengarkan dengan baik saat rekan anda berbicara dan      jangan potong pembicaraan agar pesan yang hendak disampaikan bisa diterima      dengan baik. Usahakan untuk berempati, sehingga anda tidak melihat masalah      melulu dari sudut pandang anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:green;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"   lang="IN"&gt;Setelah masing-masing mengungkapkan isi hati dan      pikirannya, cobalah untuk memberi satu solusi yang sifatnya fleksibel dan      terbuka sehingga jalan tengah atas masalah yang dihadapi bisa tercapai.      Jangan lupa di sini anda juga dituntut untuk tenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"    lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Kalau masalah belum juga selesai, ada baiknya untuk berkonsultasi kepada atasan anda, tentunya dengan tidak menjelek-jelekkan rekan anda sendiri. Toh semua ini demi kebaikan anda sendiri. (ASP/Klasika/Kompas/6/11/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1634897060691681436?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/1634897060691681436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=1634897060691681436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1634897060691681436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1634897060691681436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/menyelesaikan-konflik-di-lingkungan.html' title='MENYELESAIKAN KONFLIK DI LINGKUNGAN KERJA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1070836013275984624</id><published>2009-01-01T04:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T04:07:48.717-08:00</updated><title type='text'>KUAT DALAM BADAI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVyyCevdyZI/AAAAAAAAAJ0/6iFvVkRYqwc/s1600-h/kuat+lawan+badai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 122px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVyyCevdyZI/AAAAAAAAAJ0/6iFvVkRYqwc/s400/kuat+lawan+badai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286295818307750290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Sebuah foto hitam putih, menampilkan perahu kecil berbendera merah putih mengarungi badai, yang ditampilkan saat mengawali presentasi seorang pakar ekonomi, membuat saya berpikir, “Kenapa tidak?” Perahu kecil pun bias bertahan, bahkan mencapai tujuannya, asalkan berjuang, cerdik dan melakukan langkah-langkah yang benar, sebelum, selama, dan sesudah badai terjadi.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Situasi tsunami di depan mata ini memang bisa membuat mental kita &lt;i style=""&gt;down&lt;/i&gt; dan bila tidak hati-hati membuat kita tidak berdaya. Riset membuktikan bahwa dalam keadaan terpuruk, banyak eksekutif yang tidak lagi berusaha membuka diri terhadap ide-ide baru pada saat berada dalam situasi stres. Situasi eksternal yang berubah begitu cepat, &lt;i style=""&gt;unpredictable&lt;/i&gt;, membuat tak sedikit orang merasa bahwa segala upaya sudah gagal dan tidak akan da upaya lain yang lebih mempan menanggulangi situasi. Bila dicermati lebih jauh, sebenarnya kegagalan tidak selalu harus berasal dari situasi eksternal yang buruk. Kita pun bisa gagal dalam situasi adem ayem, kalau tindakan, keputusan dan cara monitor kita yang salah. Sebaliknya, Grameen Bank tumbuh cemerlang atas prakarsa Prof. Yunus, di lingkungan yang tanpa hujan dan angin pun sudah sangat miskin dan papa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Cek “Alarm” Diri Anda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dalam pertemuan pada suatu divisi di sebuah bank, saya mengecek reaksi dari para karyawan terhadap situasi krisis, dengan menampilkan berita 12.600 karyawan yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terancam PHK. Sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah peluang bagi perusahaan lain yang membutuhkan. Namun, terasa bahwa mayoritas karyawan yang berada di divisi yang cukup masih bisa merasakan &lt;i style=""&gt;‘comfort zone’ &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini, masih adem ayem, belum betul-betul menangkap pesan krisis yang disampaikan oleh berbagai media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tentu saja, normalnya, tidak seorang pun dalam dunia bisnis maupun non bisnis yang bisa bersikap masa bodoh terhadap kesulitan ekonomi yang dihadapi perusahaan, negara bahkan dunia, saat ini. Kenyataannya, banyak eksekutif yang masih berharap akan datangnya kejutan, atau masih mengira-ngira apakah “mendung” benar-benar akan berubah menjadi “badai”. Sebaliknya, tak sedikit yang berharap bahwa awan yang sedang berkumpul akan berlalu begitu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Seorang teman eksekutif bersungut-sungut ketika rapat memutuskan untuk melakukan &lt;i style=""&gt;brainstorming&lt;/i&gt; mendadak untuk memikirkan langkah-langkah pertahanan perusahaan, karena hasil raker sebulan yang lalu pun belum sempat ia presentasikan. Pada saat-saat beginilah setiap individu mestinya perlun mengecek sistem alarm di dalam dirinya. Jika alarm diri tidak bekerja, tidak membuatnya lebih waspada, tidak menjadikannya “berlari”, perlu dicek mengapa tidak bekerja? Bisa saja keadaan ini disebabkan karena kurangnya informasi, kurangnya bergaul, kurangnya kepekaan atau memang tidak inginnya kita menghadapi kenyataan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Menyusun Kekuatan untuk “Survive”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Teman saya yang tinggal di Inggris mengatakan bahwa krisis ekonomi di negaranya bagaikan siklus. Ia sudah mengalami beberapa kali “&lt;i style=""&gt;ups and down” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan sudah melihatnya dengan cara antisipatif. Dalam keaadaan anjlok begini, tindakan utama yang bisa dilakukan adalah mengencangkan ikat pinggang dan menghentikan pengeluaran yang tidak perlu. Tindakan &lt;i style=""&gt;quick fix &lt;/i&gt;seperti meng-“&lt;i style=""&gt;cut”&lt;/i&gt; karyawan, mengurangi biaya R&amp;amp;D, menghentikan servis-servis tambahan yang tidak terlalu signifikan, dan berfokus pada &lt;i style=""&gt;‘survival”&lt;/i&gt; jangka pendek memang sudah sering dan lumrah kita dengar dimana-mana. Tentunya ini adalah jalan yang paling bijaksana yang bisa dilakukan, bila perusahaan sudah mencapai titik nol dalam angka penjualan, atau titik minus dalam pertumbuhan laba. Kemungkinan terburuk seperti inilah, yang perlu kita waspadai, walaupun sebisa mungkin kita hindari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dalam masa sulit, perusahaan-perusahaan seperti Southwest Airlines, Harley Davidson dan FedEx pernah tidak mem-PHK karyawannya. Sebaliknya, karyawan diajak untuk menggali kekuatan mereka habis-habisan dan mengupayakan segala daya untuk membuat perusahaannya bertahan ketimbang sibuk mencari lowongan pekerjaan lain. Banyak perusahaan bahkan membentuk loyalitas dan kepercayaan karyawan pada situasi yang sulit. Tentunya sudah sangat basi dan ketinggalan kereta jika kita masih memegang &lt;i style=""&gt;mindset “&lt;/i&gt;bagaimana nanti saja ...” atau “kita bangun bila sudah ada kesempatan ...” Saatnyalah kita berpikir untuk “&lt;i style=""&gt;cross cutting”&lt;/i&gt; secara agresif, sambil tetap merapatkan barisan, menyusun serta meningkatkan profesionalisme. Dengan melakukannya sekaligus, sesungguhnya kita bisa menabung tenaga, spirit, kekuatan, kepandaian untuk menghadapi tantangan dan kesempatan baru dengan memanfaatkan sikap proaktif, kreatif dan inovatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Retooling &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;dan restrukturasi tidak bisa dianggap sebagai ancaman, karena perubahan internal sudah harus bersifat sefleksibel mungkin. Lengkah seperti “&lt;i style=""&gt;everybody sells”, &lt;/i&gt;pembentukan kerja lintas fungsi, “gunting-copot” individu yang “&lt;i style=""&gt;in charge”&lt;/i&gt; tidak bisa lagi dilakukan secara berkala, tetapi harus terjadi setiap saat, karena kinerja pun perlu dimonitor setiap saat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Belajar dan Menjadi Lebih Kuat dari Situasi Buruk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dari sejarah yang ada, kita semua menyadari bahwa “badai pasti berlalu”. Tinggal kita jugalah yang menentukan bagaimana kita akan “bermain” di dalamnya. Apakah kita akan mengambil peran sebagai penonton? Sebagai korban? Atau justru aktif berpikir, berencana, belajar dan menjadi lebih kuat dari situasi buruk. Individu atau perusahaan yang cerdik tentunya akan merangkul teman senasib, karyawan, vendor, mitra bisnis, pelanggan, untuk bersama-sama merapatkan barisan dan berstrategi. Perencanaan yang cerdik bahkan membuktikan adanya pertumbuhan bisnis di seputar keterpurukan. “&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Contingency plan”&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt; yang kita kenal dengan istilah plan B, perlu dilengkapi dengan alternatif-alternatif lain, yaitu plan C, D, E dan seterusnya, tanpa meninggalkan fokus dan kekuatan perusahaan. Berada di situasi “bawah” dalam siklus perkembagnan ekonomi, kita bisa berkaca pada ‘mercu suar’, yang selalu berisiko diterjang badai, tetapi tetap melihat jauh ke cakrawala dan bahkan berkinerja terus memancarkan sinar &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;alarm-&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;nya. &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;(Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/Kompas/06/12/2008)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1070836013275984624?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/1070836013275984624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=1070836013275984624' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1070836013275984624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1070836013275984624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2009/01/kuat-dalam-badai.html' title='KUAT DALAM BADAI'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVyyCevdyZI/AAAAAAAAAJ0/6iFvVkRYqwc/s72-c/kuat+lawan+badai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2695509672626639807</id><published>2008-12-29T19:59:00.001-08:00</published><updated>2008-12-29T19:59:33.316-08:00</updated><title type='text'>FAKTOR-FAKTOR MENJADI SUKSES DI KANTOR</title><content type='html'>&lt;span style="color:#009900;"&gt;Semua orang pasti ingin menjadi orang sukses dalam hidupnya. Apalagi sukses dalam karir atau pekerjaannya. Untuk mencapai kesuksesan tentunya tidak akan mudah. Berikut ini adalah beberapa faktor yang harus anda miliki agar menjadi orang yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hilangkan semua pikiran negatif anda. Rasa gugup pasti akan mendera siapa saja. Biasanya rasa gugup inilah akan timbul rasa khawatir gagal. Jika anda membayangkan hal positif maka kemungkinan anda akan sukses semakin besar. Namun, jika anda berpikiran negative, maka kemungkinan anda akan mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hilangkan kebiasaan mengeluh atau menggerutu. Salah satu hambatan untuk sukses adalah kebiasaan mengeluh dan menggerutu. Kebiasaan menggerutu terkadang anda lakukan baik sadar maupun tidak sadar. Contohnya, ketika anda diberi pekerjaan oleh atasan, lalu dalam hati anda berkata, “Aduh... yang ini belum selesai masih diberi lagi”. Jika hal ini sering terjadi pada diri anda, cobalah hentikan kebiasaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,  hilangkan kata-kata seperti “nanti dulu atau tunda dulu”. Sering kali dalam satu hari tugas akan datang silih berganti bahkan hingga menumpuk. Melihat kondisi tersebut, perasaan malas akan langsung menyerang anda. Kemudian, timbullah niat untuk menunda menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Alhasil, tugas anda pun akan terbengkalai. Untuk menyiasatinya, cobalah menyelesaikan  tugas-tugas tersebut sedikit demi sedikit. Jika anda adalah seorang yang pelupa, coba buat daftar tugas yang harus anda lakukan. Berikan setiap tanda apabila tuas tersebut itu selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, salah satu kunci meraih meraih kesuksesan adalah dengan cara selalu fokus. Fokus dalam mengerjakan suatu tugas di kantor memang cukup sulit. Banyaknya beban pikiran dalam diri anda dapat menyebabkan anda kurang fokus terhadap suatu tugas kantor. Oleh sebab itu, cobalah anda bersikap profesional. Pisahkanlah waktu dan pikiran untuk urusan tugas kantor dan masalah pribadi anda. Lalu berikanlah konsentrasi yang lebih pada tugas kantor anda agar hasilnya lebih memuaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Keenam, jadilah orang yang selalu terbuka terhadap pendapat orang lain. Biasanya orang lain lebih bisa menilai kekurangan dan kelebihan anda. Oleh sebab itu, belajarlah menerima pendapat orang lain. Jika anda dinilai kurang oleh orang lain, perbaikilah kekurangan anda. Niscaya, cepat atau lambat kesuksesan akan berhasil anda gapai (INO/Kompas/ Klasika/19/12/2008).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2695509672626639807?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/2695509672626639807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=2695509672626639807' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2695509672626639807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2695509672626639807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/faktor-faktor-menjadi-sukses-di-kantor.html' title='FAKTOR-FAKTOR MENJADI SUKSES DI KANTOR'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5869335234047578468</id><published>2008-12-24T06:17:00.001-08:00</published><updated>2008-12-24T06:23:55.364-08:00</updated><title type='text'>PABRIK TALENTA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVJFIcxEzqI/AAAAAAAAAJs/tgYqKJtMa6M/s1600-h/pabrik+talenta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 143px; height: 175px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVJFIcxEzqI/AAAAAAAAAJs/tgYqKJtMa6M/s400/pabrik+talenta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283361324322311842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;PABRIK TALENTA&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru pernah mengatakan kepada saya bahwa mengasah manusia bekerja jauh lebih mudah daripada mengasuh-asah murid di sekolah. Alasannya, bibit yang masuk ke perusahaan adalah bibit-bibit pilihan, sementara yang masuk ke sekolah, masih tercampur aduk. Hal ini memang ada benarnya.  Namun, teman saya ini lupa bahwa mengajar di sekolah ataupun di universitas, seperti yang saya alami sendiri, sangat dimudahkan oleh niat mahasiswa untuk belajar dan untuk lulus ujian, sehingga si pengajar biasanya lebih punya power.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Di perusahaan, terasa betul betapa manusia dewasa ini punya pilihan untuk belajar ataupun tidak belajar, serta ingin menentukan cara belajarnya sendiri. Sarana pelatihan, “sharing knowledge” maupun seminar-seminar yang sudah susah-susah diupayakan dan diselenggarakan oleh perusahaan untuk mengembangkan talenta, tak jarang disepelekan.  Sebagai fasilitator pelatihan di perusahaan, teman saya geleng-geleng kepala bila melihat sikap-sikap manusia dewasa yang terlihat tidak bersemangat lagi untuk belajar, seperti titip absent, banyak bercanda, dating terlambat, merayu trainer untuk menyelesaikan sesi lebih cepat, sibuk ber-sms, menelepon berlama-lama, ataupun sengaja memperpanjang-panjang waktu istirahat.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bicara mengenai pabrik talenta, banyak orang langsung menarik nafas panjang dan mengisyaratkan ‘frustrasi’. Mulai dari yang lemot, sampai yang tidak ada motivasi. Singkat kata, di samping kesulitan fungsional kita juga menghadapi kesulitan vitalitas, dari yang ingin memperkaya aset maupun yang mau dijadikan  aset. Sebagai akibat, banyak manajemen perusahaan yang kemudian memutuskan untuk “membeli jadi” saja orang bertalenta dan menomorduakan pengembangan sumber daya manusia di tempat kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Membangun talenta bukanlah hal yang baru. Selain itu, istilah talenta bukanlah ditujukan hanya kepada orang-orang yang berbakat spesial (baca: gifted), yang populasinya hanya seperberapa persen dari populasi dunia. Adanya ‘welders’ Indonesia alias tukang las bersertifikat yang bekerja secara global, bukan hal yang terjadi kemarin sore. Tukang kayu yang mumpuni secara teknis, dan bekerja rapih dan teliti, juga adalah individu bertalenta dan bisa membawa devisa negara. Keadaan sekarang di mana ketersediaan orang bertalenta tidak seimbang dibandingkan dengan kebutuhannyalah yang menyebabkan kita tidak bisa berlama-lama menunggu agar talenta sumber daya manusia kita matang.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan pembinaan  talenta perlu kita sikapi secara optimis, terutama karena jumlah manusia di negara kita yang demikian banyak, sehingga menggambarkan potensi kekuatan ‘human capital’ yang tidak terhingga. Bukankah kita sudah membuktikan terciptanya kampung pengrajin tas di Tanggulangin? Bayangkan bila kemudian di salah satu kampung kita, berkembang keterampilan IT yang hebat, sehingga bisa menelorkan programmer-programmer kelas dunia seperti programmer asal Bangalore, India.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Gantung Standar yang Super-Tinggi&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi yang sanggup menelorkan manusia bertalenta, biasanya mempunyai standar kinerja yang menuntut individunya bekerja mati-matian untuk mencapai presisi dan keunggulan kinerja, tidak tanggung-tanggung. GE adalah contoh perusahaan yang tidak ragu-ragu menuntut para top manajemennya untuk berkinerja lebih. Perusahaan ini juga menjunjung tinggi nilai-nilai profesi yang distandarkan dan senantiasa diujikan ke setiap eksekutif. Tidak lulus ujian berarti keluar dari perusahaan. GE juga adalah contoh perusahaan yang memperhatikan dan melakukan pendekatan pada setiap individu di perusahaan secara utuh dan unik, sampai kepada kesejahteraan keluarganya. “Tidak ada formula yang general untuk membentuk talenta individual”, demikian ujar CEO General Electrics.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dapatkan Hatinya Dulu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang sering menghambat dalam pengembangan talenta adalah bila kita melihat talenta sebagai sesuatu yang melulu vocational, sehingga fokus kita hanya memompakan ilmu dan keterampilan pada individunya. Saat individu dinilai seharusnya ‘sudah lulus’ dan ‘bisa dilepas’, pada kenyataannya tak jarang kita frustrasi sendiri bila kita tidak melihat pembelajaran yang diberikan membuahkan hasil yang diinginkan. Ternyata, kita masih sering lupa bahwa individu yang bertalenta adalah individu yang selain pandai, juga bermotivasi tinggi, berinisiatif dan kuat dalam menyambut tantangan. Artinya, latihan keterampilan teknis saja, sama sekali tidak menjamin terbentuknya talenta yang kita inginkan. Individu bertalenta, sudah hafal mati prosedur kerjanya, sudah menikmati seni berprofesinya, bahkan mempunyai semangat yang memancar dari kinerjanya, apapun profesinya.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kita semua setuju bahwa tanpa perhatian sepenuh hati, individu tidak mungkin menguasai suatu keterampilan sampai tuntas. Adanya ‘passion’, konsenterasi dan fokus-lah yang akan membuat individu bisa memberikan seluruh perasaan dan energinya untuk menguasai suatu keterampilan dan pengetahuan. Jangan anggap sepele pernyataan: “companies neet to not only capture people’s minds but their hearts”. Bila dalam mengembangkan individu kita juga menstrategikan program yang menyentuh hatinya, membuatnya excited,  membawa individu merasakan secara langsung, barulah kita bisa lihat pembelajaran membuahkan hasil yang lebih nyata. Saat kita serius melakukan komunikasi efektif dan tidak lelah memacu, mendera, memonitor kemajuannya, barulah pengembangan  ‘mindset’ dan prinsip bekerja berkualitas dan profesional akan menyertai pembelajaran yang diberikan.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan pabrik talenta yang efektif, suasana belajar perlu dibuat kondusif. Hubungan psikologis dilandasi trust dan respect antara manajemen dan individu-lah yang juga akan membentuk sikap belajar individu. Individu perlu mendapat kesempatan untuk mengeluarkan ide, berani bereskperimen, berinovasi dan merasa aman bahwa ide  dan buah pikirannya akan dihargai dan ditanggapi. Talenta yang optimal hanya ditampilkan oleh individu dewasa yang ‘self directed’ dan tertantang untuk menyandang tanggung jawab lebih. Bila kita sudah memahami bahwa pikiran, pengetahuan, keterampilan manusia bisa berkembang tidak terbatas, mengapa tidak kita bersikeras mengembangkannya mati-matian? &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Kompas/Klasika/22/11/2008).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5869335234047578468?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5869335234047578468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5869335234047578468' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5869335234047578468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5869335234047578468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/pabrik-talenta.html' title='PABRIK TALENTA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVJFIcxEzqI/AAAAAAAAAJs/tgYqKJtMa6M/s72-c/pabrik+talenta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2744515257440025243</id><published>2008-12-23T05:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T06:01:36.618-08:00</updated><title type='text'>BERANI SUSAH UNTUK SUKSES DALAM KARIR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDvG5pm42I/AAAAAAAAAJU/BpE_sR0pE4k/s1600-h/kunci+sukses.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDvG5pm42I/AAAAAAAAAJU/BpE_sR0pE4k/s400/kunci+sukses.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282985264739181410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;BERANI SUSAH&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Salah satu karyawan di kantor saya, benar-benar sulit mengkontrol pengeluarannya. Ia tidak bisa lepas untuk melakukan gali lubang tutup lubang dalam me-&lt;i style=""&gt;manage&lt;/i&gt; hutangnya. Hutang itu mula-mula dipinjam dari sebuah jasa kredit tanpa agunan bank dan berkembang menjadi hutang ysng lain, terutama untuk menutupi hutang yang lam. Ketika saya sangat kecewa melihat hal itu bias dilakukan oleh orang yang selama ini saya percaya, teman saya mengatakan bahwa ibu mertuanya juga terbelit hutang dengan cara yang sama. Terkesan bahwa di antar kita sudah banyak kebiasaan mencari solusi yang “ambil gampangnya”, “instant”, dan tidak mau sedikit bersusah untuk mengerem diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saya terkagum-kagum juga dengan cara mendapatkan hutang yang begitu mudah di saat sekarang. Di zaman ketika saya sangat membutuhkan modal atau uang lebih, rasanya tidak mungkin kita bias dengan mudah mendapatkan pinjaman dari bank atau orang lain, bahkan dengan janji bunga yang relatif rendah. Rupanya perkembangan bisnis jasa sudah demikian pesatnya sehingga masyarakaat “dimudahkan” dan “dimanjakan” oleh solusi-solusi sementara, “&lt;i style=""&gt;fast and easy”&lt;/i&gt;, instant, yang tidak prinsipiil lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Ketidaktegasan dalam berdisiplin dan ketidakjelasan dalam aturan, menyebabkan orang mundur maju untuk menentukan apa yang perlu diperjuangkan. Orang jadi enggan meramal, membuat rancangan, berusaha mati-matian dan menentukan hidupnya, alias pasrah, menghidupkan mental yang lemah, mengharapkan hadiah, berhutang, tidak berdaya, bahkan mengemis dan menumbuhkan mental “tidak berani susah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Penyebaran informasi yang tidak memadai mengenai semangat berprofesi, keadaan finansial perusahaan atau pun negara, menyebabkan ketidakjelasan menjadi alasan bagi individu untuk bersikap pasrah dan lemah. Sebaliknya, kita masih bisa menemui sekelompok orang-orang yang sangat produktif, “&lt;i style=""&gt;low profile”, &lt;/i&gt;tetap sabar, optimis dan gigih dalam lingkungan dengan disiplin kuat. Bisa kita bayang kan betapa beruntungnya orang-orang ini, karena sistem atau organisasi sudah menyuguhkan lingkungan yang kondusif. Bagi kebanyak kita yang justru berada di lingkungan yang tidak kondusif, kitalah motor penggerak dan perlu “&lt;i style=""&gt;in charge”&lt;/i&gt; untuk memperkuat diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bangkit!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kita masih ingat bagaimana kita menyaksikan tim piala Uber kita dikalahkan oleh tim China. Saya yakin bahwa setiap penonton berbangsa Indonesia, merasa babak belur, dan merasakan sakitnya kekalahan tim kita, yang rankingnya memang jauh di bawah pemain-pemain China itu. Pada saat itu terasa oleh kita bahwa tim Indonesia berspirit “&lt;i style=""&gt;rise and shine”&lt;/i&gt; bermental “A”. Pada saat itu kita merasa siap bermain, tidak takut, ingin meng-“&lt;i style=""&gt;combat&lt;/i&gt; sukses. Bahkan setelah kalah sekalipun, “rasa” itu masih ada. Tidak ada yang memaki tim piala Uber, tidak ada yang mencerca, semua orang merasa “&lt;i style=""&gt;fight”&lt;/i&gt;nya. Rasa-rasanya semangat seperti ini sudah harus kita hidupkan kembali, melihat kesulitan dan persaingan yang ada di dunia bisnis maupun di arena global. Semua “&lt;i style=""&gt;hardware”&lt;/i&gt;dan perangkat teknis sudah sama, yang bisa bersaing hanyalah manusianya. Bila manusianya berpotensi dan berkompetisi sama, yang bisa disaingkan adalah mentalnya dan “&lt;i style=""&gt;willpower”&lt;/i&gt;nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Perkuat “&lt;i style=""&gt;Willpower”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Sikap “tidak ada matinya” tidak bisa kita biarkan mati suri, karena pada akhirnya hal inilah yang menjadi daya saing bangsa. Kekuatan kemauan atau &lt;i style=""&gt;willpower &lt;/i&gt;ini adalah kemampuan individu untuk menyulut mental dan mengatakan pada diri sendiri untuk bertahan, kemudian mengeluarkan daya sekuat tenaga bagaikan mesin yang saat mulai bekerja selalu mengambil daya listrik yang lebih besar. &lt;i style=""&gt;Willpower &lt;/i&gt;ini adalah pengumpulan energi yang kuat dan besar, yang perlu dikeluarkan sekaligus pada saat kita berada dalam posisi kritis. Pada saat itu kita menyerang titik lemah dalam diri kita, sehinga kita bisa mematahkan ketakutan, keraguan, kecengengan, kelelahan kita untuk untuk sampai pada titik dima kita seolah-olah mempunyai ruang energi untuk melenting dan bergerakdan mendapatkan tenaga untuk maju dan ingin memenangkan situasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kita butuh memelihara &lt;i style=""&gt;willpower&lt;/i&gt; ini pada masing-masing individu. Begitu banyak tantangan berat kita hadapi yang membutuhkan mental yang superkuat. Kita dihadapkan pada tantangan untuk mengencangkan ikat pinggang karena kenaikan harga, melangsingkan badan karena kesehatan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersaing secara profesi di kancah internasional, super hati-hati dalam kontrol kualitas, mencermati keadaan keuangan yang ketat, meningkatkan kinerja tanpa kenaikan imbalan yang kita harapkan, menghentikan kebiasaan korupsi berbentuk uang maupun waktu, menghentikan memberikan suap demi sikap mental “yang penting cepat beres”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;“Susah” untuk Menang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kebanyakan orang mendambakan saat-saat di mana kita merasa situasi rileks, aman, positif dan optimis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, kita sering lupa bahwa perlu cara untuk mencapainya dan kita pun perlu tahu resepnya. Bila kita ingin mencapai situasi yang “nyaman”, tentunya kita tidak bisa berharap bahwa orang lain akan memberikannya secara cuma-cuma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik, kita tampaknya tidak bisa berfokus pada hal-hal material semata karena materi justru sekarang tidak bisa ditandingkan. Seperti prinsip para atlet pelari rintangan, “&lt;i style=""&gt;Run to be good, practice to better, and train to be the best”. &lt;/i&gt;Kita perlu mendera diri-sendiri untuk menyetop kebiasaan-kebiasaan buruk dan mengembangkan perilaku yang lebih positif. Tentunya latihan ini akan butuh ‘pengorbanan’, seperti tersiksanya kita berjam-jam antri untuk mendapatkan servis dengan jalan halal, begadang demi terselesaikannya pekerjaan yang sudah dijanjikan, bekerja sambil belajar demi karir yang lebih baik, melakukan hal yang sama ribuan kali, sampai dianggap kompeten, menerima penugasan yang lebih banyak supaya atasan “percaya”, makan lebih tidak enak demi kesehatan dan penghematan, bahkan hilangnya teman karena mempertaruhkan prinsip. Namun, bersamaan dengan itulah kita berhasil menguatkan &lt;i style=""&gt;willpower&lt;/i&gt; kita dan bisa mengembangkan mental tahan banting. Efek samping yang didapat dari latihan begini adalah hilangnya rasa bersalah, tumbuhnya keberanian menghadapi kenyataan, penghargaan pada diri sendiri, dan meningkatnya kepuasan dan &lt;i style=""&gt;happiness&lt;/i&gt; dalam kehidupan kita. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Kompas/ Klasika/ 21/06/2008)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2744515257440025243?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/2744515257440025243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=2744515257440025243' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2744515257440025243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2744515257440025243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/berani-susah-untuk-sukses-dalam-karir.html' title='BERANI SUSAH UNTUK SUKSES DALAM KARIR'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDvG5pm42I/AAAAAAAAAJU/BpE_sR0pE4k/s72-c/kunci+sukses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7473605188896209338</id><published>2008-12-23T05:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T05:54:11.796-08:00</updated><title type='text'>MENJADI SAHABAT SEJATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDtX9npqzI/AAAAAAAAAJM/SXH4iE1r2y0/s1600-h/teman+sejati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 113px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDtX9npqzI/AAAAAAAAAJM/SXH4iE1r2y0/s400/teman+sejati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282983358839237426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;TRIK MENJADI TEMAN SEJATI&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sulit rasanya membayangkan hidup tanpa kehadiran teman di samping anda. Ya, tanpa kehadiran teman, hari-hari anda akan terasa kosong dan hampa. Oleh sebab itu, hubungan pertemanan harus dipupuk dengan baik. Apakah anda sudah merasa menjadi teman sejati bagi teman anda? Untuk lebih jelasnya simaklah ciri-ciri teman yang sejati berikut ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pertama, teman yang sejati adalah teman yang bersedia mendengarkan segala keluh kesah temannya. Oleh sebab itu, jadilah pendengar yang baik untuk teman-teman anda. Jika mereka membutuhkan masukan, berilah pendapat anda tanpa bersikap menggurui. Lalu, pastikan teman anda mau mendengarkan masihat anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kedua, belajarlah menghargai segala macam perbedaan sifat teman anda. Ingat setiap orang memiliki berbagai kepribadian yang berbeda. Cobalah mengerti bagaimana karakter&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;teman anda. Jika anda mengalami perbedaan pendapat, selesaikanlah masalah tersebut dengan baik-baik. Sebab, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Ketiga, jagalah baik-baik kepercayaan yang telah diberikan oleh teman anda. Jangan pernah sekalipun anda membocorkan rahasia penting teman anda. Apalagi berupa aib. Banyak kejadian teman berubah menjadi musuh karena telah membocorkan rahasia penting temannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Keempat, jadilah teman yang selalu siap memberikan dukungan. Jika teman anda melakukan kesalahan, jadilah orang pertama yang menyemangatinya. Jika perlu sebisa mungkin anda jangan menyalahkannya. Berilah teman anda motivasi agar dapat bangkit dari kesalahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kelima, jangan jadikan teman anda sebagai saingan terberat anda. Hilangkan perasaan iri atas keberhasilan teman anda. Jadikanlah rasa iri tersebut sebagai cambuk bagi anda agar berbuat lebih baik lagi. Lalu, jangan lupa ikutlah berbahagia dengan keberhasilan yang telah dicapainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Keenam, jangan pernah ragu untuk minta maaf kepada teman saat anda melakukan kesalahan padanya. Setelah itu, berusahalah perbaiki kesalahan anda. Begitu pula sebaliknya, berikanlah maaf dan lupakan kesalahan teman anda jika ia bersalah. (INO/Kompas/Klasika/21/12/2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7473605188896209338?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/7473605188896209338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=7473605188896209338' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7473605188896209338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7473605188896209338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/menjadi-sahabat-sejati.html' title='MENJADI SAHABAT SEJATI'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SVDtX9npqzI/AAAAAAAAAJM/SXH4iE1r2y0/s72-c/teman+sejati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7680795404027803060</id><published>2008-12-21T05:41:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T05:52:09.771-08:00</updated><title type='text'>BERPOLITIK DI TEMPAT KERJA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU5J9R1zVpI/AAAAAAAAAJE/is48qwpW4c8/s1600-h/politik+di+kantor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU5J9R1zVpI/AAAAAAAAAJE/is48qwpW4c8/s400/politik+di+kantor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282240730062083730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;POLITIK KANTOR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Pada sebuah acara makan siang seorang teman mengeluhkan suasana kantornya, sebuah perusahaan multinasional, yang sarat dengan kegiatan “berpolitik”. Di tempat kerjanya, berkembang “klik-klikan” makan siang ataupun jemputan yang kemudian menjadi hubungan tertutup. Hubungan tersebut sangat erat satu sama lain, di mana mereka berbagai gossip dan fakta, menunjukkan sikap subyektif dalam melihat masalah dan bahkan mempengaruhi pemilihan dan penunjukkan anggota tim. Teman saya yang lain kemudian berkomentar, “Yaah…, kalau sudah ada lebih dari dua orang karyawan dalam satu tim, sudah pastilah ada ‘politik’-nya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Politik kantor yang sering ditangapi orang dengan sikap “alergik” pada kenyataannya tidak pernah punah, bahkan merupakan realita. Kita sering tidak bersimpati dengan seseorang yang “sok bener” terutama di depan atasan, bahkan tega “menyingkirkan” semua orang dianggap tidak benar, apalagi membahayakan kedudukannya. Ada juga individu yang tidak kita sukai karena ia pandai sekali memanfaatkan “&lt;i style=""&gt;power”&lt;/i&gt;, dan bisa membuat ketergantungan atasan, atau perusahaan kepadanya, sehingga “&lt;i style=""&gt;timing”&lt;/i&gt; yang tepat, ia bisa unjuk gigi alias bermain dengan &lt;i style=""&gt;bargaining power-&lt;/i&gt;nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Mengapa situasi “politik” seperti ini menjengkelkan orang-orang yang berada di luar permainan? Menurut ahlinya, politik kantor ini menjadi kelihatan lebih nyata pada lembaga yang kekuatannya SDM-nya tidak seimbang, misalnya banyak yang produktif sementara banyak yang bermalas-malasan. Ada istilah “&lt;i style=""&gt;like and dislike”&lt;/i&gt;yang muncul karena standar kinerja yang sulit dibuktikan apalagi dihitung, juga &lt;i style=""&gt;job description&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tidak seimbang dan tidak jelas, yang kesemuanya bisa membangkitkan rasa tidak nyaman dalam bekerja. Rasa tidak aman ini terutama akan lebih terasa lagi, pada orang sama sekali tidak mau “bermain” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan tidak menyadari apalagi tahu cara mainnya. Politik kantor memang sangat subyektif dan informal, inilah sebabnya hal itu terasa tetapi sulit diraba dan teraga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Tahu Apa Yang Kita Mau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Teman saya, yang bekerja di sebuah perusahaan yang berukuran sedang merasa bahwa ia juga harus melakukan kegiatan &lt;i style=""&gt;lobby&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengikuti kegiatan-kegiatan minum teh bahkan mempersuasi pengambil keputusan, ketika ia berusaha menjalankan rencana mengubah &lt;i style=""&gt;operating system&lt;/i&gt; jaringan informasi di perusahaannya. Melihat bahwa ia benar-benar berjuang demi penggantian sistem tanpa berniat mendaptkan kedudukan, kedekatan dan &lt;i style=""&gt;power &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bagi dirinya, saya lantas menanyakan hal apa yang ia bela mati-matian. Dengan santai ia menjawab bahwa yang ia bela adalah sekedar kinerja pribadinya. Tanoa kasak-kusuk, bujuk-membujuk, sikap super baik, dan mendekati orang-orang kunci, ia tahu tidak mungkin ia berhasil menjalankan perubahan yang menyulitkan di perusahaan tanpa adanya dukungan. “Sebetulnya saya tidak idealis-idealis amat. Saya tahu bila penerapan sistem ini gagal, karir saya akan terhambat”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Untuk &lt;i style=""&gt;survive &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di lingkungan organisasi, kita memang perlu kuat dan berakar, serta tahu apa yang kita mau. Kita bisa menyasar hal-hal material, kita bisa mementingkan karir, kinerja dan peningkatan kompetensi, sementara orang lain yang memburu keterlibatannya dalam kelompok tertentu, &lt;i style=""&gt;power &lt;/i&gt;atau kontrol terhadap situasi. Namun, berdiam diri, dan berharap bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan sistem yang ada, memang hampir tidak mungkin. “Kita perlu tahu di mana pusat kekuatan, siapa orang yang berpengaruh dan bisa mempengaruhi lingkungan sosial. Kita pun bisa me-‘licin’-kan upaya kita melalui pendekatan” demikian ungkap teman saya. Sepanjang kita bersikap fair, tidak manipulatif dan curang, me-&lt;i style=""&gt;lobby&lt;/i&gt; , mempersuasi dan berpolitik memang harus dilakukan. Sikap negatif seperti yang kita kenal misalnya “sistem kodok”, menyembah ke atas menendang ke bawah, tentunya adalah gaya yang tidak anggun dan tidak dilakukan oleh orang yang tahu berpolitik dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bertindak Halal Tanpa Menghalalkan Segala Cara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Ketika dalam suatu rapat, CEO tempat saya bekerja mengumumkan bahwa rekrutmen di perusahaan ini menganut sistem keluarga dan pertemanan, saya baru memahami bahwa di dalam berorganisasi ada realitas berpolitik yang perlu dicermati. Hal iini menyangkut siapa dekat dengan siapa, siapa mempunyai pandangan yang sama dengan yang mana, siapa pemain kunci dan siapa sekadar pengikut atau penggembira. Jejaring pertemanan yang berdasarkan kedekatan masa kecil, almamater, kesamaan pandangan meupaun ideologi biasanaya merupakan lahan berpolitik, baik di perusahaan maupun di organisasi lainnya. Sama seperti strategi perang, berpolitik pun memiliki pemetaan dan perencanaan yang mapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Dari pengamatan para ahli, orang-orang kuat dalam perusahaan dan organisasi biasanya memang bukannya tidak berstrategi, mereka juga “&lt;i style=""&gt;politically savvy”. &lt;/i&gt;Orang-orang ini tahu berhubungan dengan atasan, bahkan mendukung atasannya agar sukses. Bersamaan dengan upaya itu, seorang yang tahu berpolitik pasti berupaya untuk selalu “tampil” di rapat-rapat penting, tahu mendekati “orang-orang kunci”, menunjukkan “&lt;i style=""&gt;corporate manners” &lt;/i&gt;yang baik, dan menampilkan kemampuannya sebagai “&lt;i style=""&gt;team player”. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berproduksi itu Mutlak, Berpolitik itu Cara Bergaul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Dalam organisasi apapun, kita hanya bisa eksis bila mempunyai kontribusi yang signifikan. Bila kita amati orang yang pandai me-&lt;i style=""&gt;lobby&lt;/i&gt; dan berpolitik, sementaranya produksinya “kosong”, maka orang ini lambat laun tidak bisa meneruskan karirnya. Kekuatan kita dalam berproduksi merupakan modal agar kita bisa diperhitungkan dalam peta organisasi. Individu yang produksinya di atas rata-rata tinggal mengasah cara berinteraksi, berapat, mendekati atasan dan orang-orang kunci, serta membuat diri lebih diperhitungkan dengan berusaha lebih bermain fakta, membina hubungan emosional yang sehat, berusaha menonjolkan orang lain tanpa lupa memunculkan diri sendiri. Kontribusi yang sudah kita tunjukkan jangan sampai dikotori dengan mempraktekkan cara gaul murahan seperti bergosip, menekan, menyalahgunakan jabatan, mencari muka tanpa alasan. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ Kompas/ Klasika/ 28/06/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7680795404027803060?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/7680795404027803060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=7680795404027803060' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7680795404027803060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7680795404027803060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/berpolitik-di-tempat-kerja.html' title='BERPOLITIK DI TEMPAT KERJA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU5J9R1zVpI/AAAAAAAAAJE/is48qwpW4c8/s72-c/politik+di+kantor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1339533555379817005</id><published>2008-12-20T06:34:00.001-08:00</published><updated>2008-12-20T06:36:37.986-08:00</updated><title type='text'>organisasi Pembelajar dan Semangat Pengembangan Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU0ClAnTmWI/AAAAAAAAAI8/LoGIVVaBrj8/s1600-h/organisasi+yang+belajar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 99px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU0ClAnTmWI/AAAAAAAAAI8/LoGIVVaBrj8/s400/organisasi+yang+belajar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281880772818737506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-size:78%;" &gt;ORGANISASI PEMBELAJAR&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sebuah perusahaan yang sukses, namun kegiatan manajemennya dipandang terlalu terlalu “praktis”, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menyelenggarakan program bisnis dan manajemen kepada karyawan, yang dilakukan ekstra di malam hari seusai aktivitas kantor. Salah satu peminat program tersebut dalam acara &lt;i style=""&gt;kick-off&lt;/i&gt; program menanyakan pada saya mengenai “agenda” top manajemen dalam mengadakan program ini. Ternyata, beberapa karyawan di perusahaan yang sudah mencantumkan &lt;i style=""&gt;“learning organization&lt;/i&gt;” dalam falsafah perusahaannya selama hampir 10 tahun, program yang beragenda untuk memintarkan karyawan ini masih dipandang aneh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Di tengah dunia yang kini menjadi begitu kompetitif dan terus berubah, di mana akses informasi menjadi sangat berlimpah dan dan terbuka, kita semua makin sadar bahwa individu dan organisasi yang senantiasa belajar-lah yang bisa &lt;i style=""&gt;survive.&lt;/i&gt; Namun, sekadar menambah kelas &lt;i style=""&gt;training&lt;/i&gt; atau mengirimkan sejumlah karyawan untuk sekolah, nyata-nyata tidak semata lantas membuat organisasi menjadi &lt;i style=""&gt;learning organization.&lt;/i&gt; Sebuah lembaga pemerintah bergengsi, yang secara terprogram membiayai karyawannya untuk meningkatkan gelar pendidikan ke jenjang S2, bahkan sangat lumrah sampai ke jenjang PhD, dan sangat rajin mengirimkan para ahlinya ke luar negeri, tetap belum dapat digolongkan sebagai &lt;i style=""&gt;learning organization&lt;/i&gt; karena budaya belajarnya tidak kelihatan dari luar, maupun tidak terasa di dalam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Menurut para ahli,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;In a learning organization, when one of us gets smarter, we all can get smarter”.&lt;/i&gt; Ternyata dalam organisasi pembelajar, tidak semua orang harus belajar, tetapi proses pembelajaran akan menular tanpa terasa dan perlahan namun pasti pencerdasan sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi tanpa perlu formalitas belajar secara harafiah. Bisa kita bayangkan, kalau dalam sebuah organisasi saja proses pembelajaran formal dan non-formal yang sudah diupayakan mati-matian masih sulit terlaksana, bagaimana nasib sebuah negara yang tidak serius mendesain proses pembelajaran bangsa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Organisasi Pembelajar: “Shared Experiences”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dari beberapa organisasi pembelajar yang sukses, kita bisa mem-&lt;i style=""&gt;bench mark &lt;/i&gt;beberapa praktik yang sebetulnya sudah kita laksanakan, walaupun belum sistematis. Dalam organisasi pembelajar yang sudah jadi, saya amati individunya menampilkan tindakan yang terkontrol dan kata-katanya tidak sekadar “asbun” (asal bunyi), namun lebih bisa dipertanggungjawabkan, terkait &lt;i style=""&gt;“lesson learned” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan informasi kunci untuk menampilkan pemikiran terbaiknya. Yang jelas, setiap individu di dalam perusahaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menampilkan sikap “tidak pelit ilmu” dan juga meyakini bahwa kompetensi seperti sikap, nilai, dan keterampilan juga bisa ditularkan pada orang lain. Suasana dalam organisasi pembelajar tidak muncul dalam suasana “sinau” (belajar intensif, bahasa Jawa), namun lebih tampak pada diskusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seru, komunikasi intensif, keinginan untuk &lt;i style=""&gt;updating&lt;/i&gt;, serta rasa haus akan kesempatan belajar. Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Darimana kamu dapat ide itu?”, “Bagaimana kalau ...”, berkumandang di rapat-rapat, yang membuat setiap orang di perusahaan seperti berada di sebuah laboratorium raksasa yang tiada hentinya menyambut tantangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berasal dari masalah dan kesempatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang terlihat. Kegagalan atau hampir gagal dan kesuksesan di lapanganlah yang menjadi fokus untuk memperoleh “&lt;i style=""&gt;lesson learned”&lt;/i&gt;, bukan semata teori.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Organisasi boleh berharap menjadi organisasi pembelajar, bahkan mengeluarkan banyak biaya untuk mendukung pelatihan dan bentuk program pembelajaran lainnya, tetapi kalau suasana kerja tidak “&lt;i style=""&gt;customer friendly”&lt;/i&gt;, kaku, tidak mampu melakukan komunikasi yang menembus divisi, doyan berpolitik, berperilaku tidak sejalan dengan misi perusahaan alias penuh birokrasi dan sibuk mementingkan kebutuhan pribadi, semua upaya akan percuma. Tampaknya, organisasi pembelajar tercipta hanya bila suasana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerja mendorong “pengembangan pribadi” dan “&lt;i style=""&gt;personal mastery”&lt;/i&gt; secara utuh, menyemangati kerja tim, memberi kesempatan untuk “&lt;i style=""&gt;problem solving” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan mengupayakan evaluasi yang jujur dan tulus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Senantiasa Tumbuhkan Aura “Waspada”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kalau kita ingat di masa sekolah dulu, kita akan belajar lebih intensif bila guru sering membuat pertanyaan tiba-tiba. Sayangnya di perusahaan kita sering lupa menghidupkan aura kewaspadaan ini. Ada yang berpikir harus mencari waktu secara khusus untuk mempelajari, menganalisa atau memikirkan sesuatu. Bahkan ada yang berpikir: “ Ah, belajar hal baru itu tidak penting.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Biarkan yang muda-muda saja yang mempelajarinya”. Sikap “layu” inilah yang merupakan cikal bakal kesulitan terbangunnya spirit belajar dari organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Seorang yang kuat belajar pasti meyakini bahwa ia bisa belajar kapan saja, di mana saja, dan dalam situasi apapun. Hanya saja karena proses belajar tidak dilakukan dalam waktu tertentu dan disengaja, maka kita sebagai individulah yang perlu aktif menangkap signal atau gejala yang secara signifikan bisa menambah wawasan kita, sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di sinilah sikap waspada kita sangat diperlukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Belajar Formal Hanya Efektif Bila Semangat Pengembangan Diri Sudah Bangkit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sebuah perusahaan mengambil langkah untuk meningkatkan kualitas &lt;i style=""&gt;customer service-&lt;/i&gt;nya melalui program jumpa pelanggan, riset kepuasan pelanggan dan membuka jalur keluhan langsung. Hasil dari program tersebut adalah “&lt;i style=""&gt;brutal facts”&lt;/i&gt; dan “&lt;i style=""&gt;bad news”&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang bertubi-tubi dan dan membuat semua orang &lt;i style=""&gt;shock&lt;/i&gt;, sehingga terdorong mencari jalan keluarnya bersama-sama. Tanpa diduga, pada saat inilah organisasi merapatkan barisan, bertekad untuk belajar dan mengembangkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Sebuah studi menemukan bahwa 70% dari pembelajaran di tempat kerja bersifat informasi, misalnya dari observasi dan refleksi dari pengalaman individu, tim, perusahaan dan pihak lain. Kita lihat bahwa dalam proses pembelajaran di tempat kerja, dosis “&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;action”&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt; dalam proses belajar memakan hampir seluruh materi pembelajaran. Pencanangan target dan dan tujuan, rotasi jabatan dan kerjasama lintas fungsi justru merupakan kegiatan belajar yang terpenting. Saat semangat untuk belajar, memperbaiki diri dan berubah sudah bangkit dan berapi-api, barulah kemudian pelatihan dan pembelajaran formal bisa lebih efektif sebagai tindak lanjut. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/26/07/2008).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1339533555379817005?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/1339533555379817005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=1339533555379817005' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1339533555379817005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1339533555379817005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/organisasi-pembelajar-dan-semangat.html' title='organisasi Pembelajar dan Semangat Pengembangan Diri'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SU0ClAnTmWI/AAAAAAAAAI8/LoGIVVaBrj8/s72-c/organisasi+yang+belajar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1970742373148190839</id><published>2008-12-19T05:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T06:12:59.755-08:00</updated><title type='text'>Berniat Benar, Bergerak, Bertindak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUurszewIFI/AAAAAAAAAI0/Apll6Up5bN4/s1600-h/pemenang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 172px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUurszewIFI/AAAAAAAAAI0/Apll6Up5bN4/s400/pemenang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281503774243823698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;BERJIWA PEMENANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Tanpa menggunakan alat pengukur yang reliable, kita semua bias membedakan “rasa” di dalam dada kita saat melihat atlet Indonesia di halaman muka &lt;i style=""&gt;Kompas &lt;/i&gt;yang memamerkan medalinya dari ajang olimpiade, disbanding dengan melihat foto model koruptor yang sedang dalam proses “didandani”. Rasa yang “melambung” bila masuk dalam situasi “pemenang” dan sebaliknya rasa “terpukul” dalam situasi “pecundang” sangat mudah kita bedakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saat situasi “pecundang” lebih sering kita alami, rasa pahit yang bertubi-tubi bias tergantikan dengan rasa terpuruk, pesimis, bahkan bila tidak hati-hati bias mengakar menjadi sikap apatis dan cuek terhadap situasi sekitar. Dalam situasi Negara yang sulit begini, baik kondisi moral maupun material, mau tidak mau media massa memberitakan realita yang membuat kita sulit menepuk dada kemenangan. Lebih kecut lagi, bila kita sedang tidak beruntung, dan bertemu dengan individu berbangsa lain, yang dengan sinis membeberkan kelemahan bangsa kita, seperti kesenjangan antara kaya dan miskin, komsumerisme orang-orang berduit, lemahnya solidaritas dan korupsi yang merajalela. Menghadapi situasi ini, berat rasanya bias “merasa menang”, mengangkat dagu dan bersemangat pemenang. Pertanyaannya, haruskah kita merasaa terpuruk terus, dan menuggu terus sampai keadaan Negara dan ekonomi lebih baik, lebih bersih dan lebih makmur?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Disadari atau tidak, sikap pecundang yang terpelihara seperti ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tentunya akan mempengaruhi kinerja kita dalam porsi yang lebih mikro, misalnya di perusahaan, dan akan mempengaruhi “&lt;i style=""&gt;fighting spirit”&lt;/i&gt; kita secara umum dalam bersaing bisnis dengan negara lain. Bisa-bisa kita tergiring oleh lingkaran setan dan semakin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tenggelam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam ke-“pecundang”-an dalam rasa. Vince Lombardi, seorang &lt;i style=""&gt;coach american football &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;legendaris tahun 50-an mengumandangkan: “&lt;i style=""&gt;winning isn’t everything, it’s the only thing”, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sementara kita di sini masih sibuk dengan rasa cemas karena semangat korupsi yang tidak kunjung padam, tidak meyakini bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa pembayaran pajak akan kembali kepada kesejahteraan rakyat, merasa sulit memprediksi sukses, bahkan menyembunyukan perasaan “kalah” dengan bersikap jumawa. Kita semua tahu bahwa bersemangat pemenang itu positif, namun demikian kita tidak gampang memenangkannya tanpa upaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Pemenang yang Sehat, Memperhitungkan Kekalahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Teman saya, anak sulung harapan keluarga, selalu “dimenangkan” oleh orang tuanya dan kebetulan jarang sekali menghadapi kegagalan, baik di dalam pendidikan, berorganisasi dan aspek kehidupan lainya. Keadaan menang terus-menerus ia tidak akrab dengan kekalahan. Sebagai akibat, sikapnya jadi tidak mau menghadapi kekalahan, apapu aturan dan konsekuensinya, alias, “tidak mau kalah atau mengalah”. Teman kita ini memang sering menang, tetapi ia belum mempunyai “&lt;i style=""&gt;mindset”&lt;/i&gt; pemenang yang sebenarnya, karena ia tidak siap kelah. Orang seperti ini bahkan ada yang bisa menghalalkan segala cara demi mempertahankan posisi pemenangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Orang yang berusaha menang secara obsesif semata untuk mendaptkan penghargaan, menghindari rasa malu, biasanya tidak bisa mengatur energi, sehingga dalam situasi kalah ia tidak siap bahkan menunjukkan kemarahan. Mungkin kita masih ingat betapa petenis juara, John McEnroe, yang mengekspresikan kemarahannya dalam banyak situasi pertandinganyang bermasalah baginya, sehingga mengesankan dirinya bukan sebagai pemenang tetapi justru pecundang. Kita perlu sadari bahwa sikap pemenang tidak selalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membawa kemenangan, tetapi justru kita perlu tetap mempertahankan &lt;i style=""&gt;mindset&lt;/i&gt; pemenang dalam situasi apapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Menang yang sebenarnya adalah termasuk memperlihatkan komitmen, kebesaran jiwa dan penghargaan terhadap aturan, aturan main, sistem dan prosedur yang sudah dibuat. Komitmen terhadap semua konsekuensi yang perlu ditanggung,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyebabkan kita bisa berangkat ke suatu situasi dengan sensasi dan memori positif, sehingga dampak emosi positif ini berubah menjadi emosi positif. Inilah mindset pemenang yang sebenarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berniat Benar, Bergerak, Bertindak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Ayah saya selalu mengingatkan, sejahat-jahatnya perbuatan seseorang, pada dasarnya manusia normal itu ingin melakukan hal-hal benar dan baik, bukan kerena diperintahkan, tetapi memang secara natural mempunyai sikap demikian. Kenyataan ini cukup menjadi dasar setiap keyakinan kita untuk senantiasa merasa kuat, benar dan baik terlepas dari situasi yang kita hadapi kondusif atau kurang menguntungkan. Namun, sikap merasa bersikap benar ini saja belum cukup. Tengoklah betapa banyak orang, penulis, kritikus, politikus, ahli-ahli yang betul-betul merasa benar, namun tidak menyambung perasaan ini dengan komitmen untuk berusaha, bertindak, mengubah kebiasaan diri, orang lain dan membangun sukses. Sebuah kalimat bijak mengatakan: “&lt;i style=""&gt;Winners actually SEE their success BEFORE it happens”, &lt;/i&gt;tetapi melihat saja tidak cukup. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Untuk menang atau memiliki jiwa pemenang kita harus bergerak, bertindak, dan “masuk” ke lapangan, bukan menjadi penonton saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Semangat Pemenang Perlu Dipelihara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Dalam penutup email dan sms-nya, seorang teman sering menuliskan kata penyemangat pada rekan-rekan kerjanya. Semula saya sendiri kikuk menerimanya, tetapi lama-kelamaan timbul emosi positif dan semangat menularkannya juga ke orang lain. Tanpa kita sadari kata-kata bisa sangat “powerful” untuk membangkit mindset pemenang, karenanya perlu dipilih secara hati-hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kita juga perlu memelihara semangat pemenang ini dengan berlatih berada di bawah tekanan. Target penjualan yang ditingkatkan terus, tingkat kesulitan pekerjaan yang ditambah, berjuang untuk jabatan yang lebih tinggi, adalah upaya untuk membiasakan diri menguatkan mental dan mempertebal kepercayaan diri untuk menghadapi kesulitan yang tidak kunjung henti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Hal yang juga senantiasa perlu ditemukan individu dalam kehidupan berkarya adalah perasaan bangga atas hasil kerjanya, di mana seorang tukang sapu harus sama bangganya atas hasil sapuannya seperti Micheangelo bangga terhadap hasil sapuan kuasnya. (Eileen Racham &amp;amp; Sylvina Savitri/ Experd/Kompas/ Klasika/23/08/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1970742373148190839?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/1970742373148190839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=1970742373148190839' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1970742373148190839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1970742373148190839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/berniat-benar-bergerak-bertindak.html' title='Berniat Benar, Bergerak, Bertindak'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUurszewIFI/AAAAAAAAAI0/Apll6Up5bN4/s72-c/pemenang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-4065841450915801059</id><published>2008-12-15T04:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T04:47:14.836-08:00</updated><title type='text'>Teknik BerbicaraDi Depan Publik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUZRmL6TuJI/AAAAAAAAAIs/XNBbl-9sHEI/s1600-h/berbicara+di+depan+publik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 121px; height: 188px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUZRmL6TuJI/AAAAAAAAAIs/XNBbl-9sHEI/s400/berbicara+di+depan+publik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279997329612716178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;TEKNIK BERBICARA DI DEPAN UMUM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum atau presentasi seringkali menjadi hal yang sulit dilakukan. Merasa malu, minder, kurang percaya diri, takut ditertawakan, atau merasa belum layak, adalah alasan yang membuat banyak kesempatan “tampil” lewat begitu saja dan diambil oleh orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Untuk mengatasi hal tersebut, anda dapat mencoba teknik-teknik berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;, sebelum tampil di depan umum, persiapkanlah segala macam bahan untuk presentasi. Rincilah bahan-bahan apa saja yang akan dibicarakan. Bahan presentasi sebaiknya singkat, padat, dan jelas. Untuk memudahkan anda, tulislah rincian bahan tersebut pada selembar kertas sehingga anda akan lebih mudah mengingatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;, persiapkanlah penampilan anda sebelum tampil di depan umum. Ingat, penampilan yang baik dan rapi akan membuat rasa percaya diri anda muncul. Perhatikan penampilan anda mulai dari dbawah hingga ke atas. Usahakan agar sepatu anda bersih dan mengkilat. Celana dan kemeja pastikan warnanya selaras dengan dasi dan jas. Sisirlah rambut hingga rapi dan sopan, dan jangan lupa menggunakan parfum yang tepat. Ini merupakan faktor penting yang akan membuat anda lebih percaya diri saat berbicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berlatihlah dengan cara berbicara di depan kaca atau berbicara dengan pasangan, saudara, atau orang dekat anda. Selain itu, jangan lupa siapkan intonasi, gaya bahasa, dan susunan kata yang baik. lalu, mintalah agar mereka menilai penampilan anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Keempat, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengevaluasi diri anda setelah latihan. Salah satu caranya adalah dengan merekam suara anda melalui telepon genggam, atau alat perekam lainnya. Dengan cara ini, anda jadi tahu di bagian mana yang menjadi kelebihan dan kekurangan anda tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kelima, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;perhatikanlah gaya serta cara berbicara dari seorang tokoh yang dapat anda jadikan panutan. Tirulah segala macam hal positif dari tokoh tersebut. Namun, satu hal harus diingat, anda harus tetap menjadi diri anda sendiri. Tonjolkanlah karakter anda dalam berbicara, sehingga para pendengar terkagum-kagum dengan cara anda berbicara di depan umum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Keenam, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;siapkanlah mental positif bahwa anda bisa melakukannya walaupun untuk yang pertama kalinya. Tanamkanlah sikap percaya diri dan berpikiran positif. yakinlah bahwa anda mempunyai kemampuan yang baik untuk dapat berbicara di depan umum. (INO/Kompas/Klasika/3/12/2008).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-4065841450915801059?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/4065841450915801059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=4065841450915801059' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/4065841450915801059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/4065841450915801059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/teknik-berbicaradi-depan-publik.html' title='Teknik BerbicaraDi Depan Publik'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUZRmL6TuJI/AAAAAAAAAIs/XNBbl-9sHEI/s72-c/berbicara+di+depan+publik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-6844641961658129533</id><published>2008-12-14T05:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T05:36:33.720-08:00</updated><title type='text'>Hemat itu Harus Menjadi Gaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUULza18fyI/AAAAAAAAAIk/LaYsVLU78sg/s1600-h/hemat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 186px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUULza18fyI/AAAAAAAAAIk/LaYsVLU78sg/s400/hemat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279639116168593186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;HEMAT ITU GAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;“Dapatkan satu set dapur &lt;i style=""&gt;branded,&lt;/i&gt; ditambah satu jaket kulit ekslusif, bila anda membeli apartemen sebelum akhir bulan ini”, “Bagi putra-putri anda, mainan kecil selama penerbangan”. Serbuan promosi ini, kesemuanya ditanggapi oleh kita, baik yang maupun yang miskin, yang perlu atau tidak memerlukan, dengan ungkapan: “Kenapa tidak?” Apakah sesudah itu jaket maupun mainan di buang ke tong sampah karena tidak cukup “berharga” untuk disimpan, itu urusan lain. Yang penting, kita “mendapatkan”-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Tanpa sadar perilaku konsumsi kita sudah berjalan tanpa pikir panjang lagi. Kita tidak perlu memedulikan lagi, apakah kita menjalankan “&lt;i style=""&gt;over consumption”&lt;/i&gt; yang diikuti perilaku membuang sampah, sesaat menggunakan produk kemudian mengganti lagi dengan produk lain atau mengikuti tren produk selanjutnya. Gejala “&lt;i style=""&gt;over consumption”&lt;/i&gt; ini sudah menggejala di setiap lapisan masyarakat secara menyedihkan. Tengok betapa yang berpenghasilan di bawah satu juta rupiah membelanjakan uangnya untuk membeli pulsa ponsel. Seberapa pentingnyakah komunikasi instan ini bagi dirinya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Seiring dengan ajakan banyak pihak termasuk pemerintah untuk mengencangkan ikat pinggang, semakin gencar pula para produsen bersaing melalui upaya pemasaran yang gila-gilaan. “Lima puluh persen diskon untuk makan di restoran ternama, selama tiga bulan ini”. Alhasil, makanan restoran yang dulunya kita nikmati sedikit dan perlahan-lahan sekarang kita konsumsi lebih banyak, bahkan kadang sampai terbuang percuma. Meskipun beberapa orang tua masih kerap menasehati putra-putrinya untuk “ingat pada yang tidak punya makanan”, namun konsumsi makanan (baca: berlebihan) tetap berjalan terus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kita jadi sadar bahwa kita berada di tengah ambivalensi perasaan dan evaluasi mengenai realitas sosial dan konsumsi kita sendiri. Keadaan yang kita sadari ini pun ingin kita ubah, namun tenaga serasa tidak cukup untuk berubah dan mengubah gaya hidup seketika. Tanpa terasa badai konsumsi sudah begitu kuat mewarnai hidup kita dan sudah kita anggap sebagai kebutuhan pokok. Keluarga menengah yang tinggal, misalnya di bilangan Bekasi, sering kita lihat mengupayakan untuk punya mobil dua. “Saya bekerja di Tangerang dan istri berkantor di daerah Sudirman. kami tidak punya pilihan. Kalau tidak menggunakan 2 mobil, kami tidak punya waktu untuk keluarga”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kenyataan seperti ini seolah berbunyi “&lt;i style=""&gt;no way out”&lt;/i&gt;, yang kemudian bisa membuahkan sikap apatis, tidak berdaya, tanpa ancang-ancang langkah mundur bila, misalnya, harga BBM melonjak dan tidak terbayarkan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Cerminan Diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Semenjak tahun 80-an, keberadaan mal-mal indah, sejuk dan nyaman seakan menjadikan kegiatan &lt;i style=""&gt;shopping&lt;/i&gt; sebagai ritual yang sah,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahkan dijadikan sarana untuk mengumandangkan “siapa saya” alias identitas diri. “Apa yang kita beli dan konsumsi, adalah cerminan dari diri kita”. Tanpa sadar kita sudah berada pada situasi di mana konsumsi tidak ada hubungannya dengan “biaya” dan kebutuhan. Konsumsi adalah “&lt;i style=""&gt;impulse”, &lt;/i&gt;yaitu reaksi impulsif yang secara sengaja dipelajari dan didalami oleh kaum &lt;i style=""&gt;marketers&lt;/i&gt; yang berusaha untuk menyasar para konsumen agar lebih mengonsumsi dan mengonsumsi lagi. Operator telepon, penjual minuman, bahkan rokok sangat menyadari bahwa konsumen yang paling empuk adalah remaja. Dan, karenanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;remaja ini dininabobokan dengan konsumsi yang mudah, ringan tetapi adiktif, menjebak, dan sulit bisa lepas lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertanyaannya, mungkinkah kita kembali ke era dimana kita melakukan “&lt;i style=""&gt;reasonable and reflective consumption”,&lt;/i&gt; dan dengannya berpikir keras&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenai kuantitas dan kualitas berang yang kita konsumsi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Antara ‘Punya” dan “Berbagi”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saya teringat kebiasaan ayah saya di tahun 60-an, yang setiap pagi hari pukul 6 berangkat dari rumah di Cilandak dan mengangkut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa anak sekolah langganan sepanjang Jl. Fatmawati, yang sudah seolah ber-“&lt;i style=""&gt;gentleman agreement”&lt;/i&gt; untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berangkat bersama. “Daripada kosong”, begitu komentar ayah saya, yang dengan bangga mengendarai Austin Thames-nya, mobil pribadi pertama yang dimilikinya. Memiliki mobil pada jaman itu merupakan prestasi yang sangat dibanggakan, tetapi kemudian, berbagi fungsi dan kemudahan membuat hidup lebih bermakna lagi. Mengapa di zaman sekarang, kita tidak kunjung bisa menanggulangi jalan macet dengan berbagai? bahkan, kitamenghalalkan pelanggaran dengan memanfaatkan para “joki” demi “&lt;i style=""&gt;privacy”&lt;/i&gt; alias &lt;i style=""&gt;“selfishness”.&lt;/i&gt; Gaya hidup “berbagi” memang tidak terlalu populer di kalangan “gaul”, dibandingkan dengan isu “mempunyai”. Di sinilah budaya &lt;i style=""&gt;selfishness&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tumbuh subur tanpa sadar bahwa dengan memanfaatkan dan menikmati kebersamaan dan hubungan sosial, kita bisa lebih sejahtera.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berhemat itu Canggih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Isu “matre” atau sikap materialistis nampaknya sudah kuno, basi, tidak signifikan lagi, karena kita memang sudah terbiasa, bahkan terbelenggu menjadi konsumen setia. Kemudahan dan keuntungan sebagai pemegang kartu kredit dan kartu debet dan segala macam kemudahan berutang menjadikan kita tidak kuasa lagi untuk setiap kali berhenti sejenak, berpikir dan mempertimbangkan tentang pengeluaran uang, ongkos, serta keguanaan dari barang, produk maupun jasa yang kita konsumsi. Nampaknya untuk berhemat, semua dari kita perlu “&lt;i style=""&gt;start from scratch”&lt;/i&gt; dan berpikir sangat keras, merekayasa dan mendesain suatu pendekatan, yang lebih manusiawi ketimbang komersialisasi, lokal ketimbang global, dan membuat sendiri ketimbang membeli, demi menyelamatkan kesejahteraan fisiologis, psikologis, emosional, dan spiritual. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/24/05/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-6844641961658129533?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/6844641961658129533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=6844641961658129533' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6844641961658129533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6844641961658129533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/hemat-itu-harus-menjadi-gaya.html' title='Hemat itu Harus Menjadi Gaya'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUULza18fyI/AAAAAAAAAIk/LaYsVLU78sg/s72-c/hemat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8435802018802217277</id><published>2008-12-14T05:29:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T05:32:38.854-08:00</updated><title type='text'>Piawai Menulis Esai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUK4HSxZkI/AAAAAAAAAIc/K0rYTypgUfA/s1600-h/writing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 228px; height: 196px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUK4HSxZkI/AAAAAAAAAIc/K0rYTypgUfA/s400/writing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279638097308509762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"   lang="IN" &gt;PIAWAI MENULIS ESAI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat. Selain melatih logika dan kemampuan berbahasa, aktivitas ini juga melatih pelakunya menyampaikan gagasan – sebuah ketrampilan yang penting namun masih jarang dimiliki oleh pekerja di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Menulis bisa juga menjadi medium ekspresi. Simak saja betapa &lt;i style=""&gt;blogging (&lt;/i&gt;jurnal online) kini sedang marak, bahkan di Indonesia. Selain itu, bukan tak mungkin kegiatan ini mendatangkan uang, jika tulisan anda dimuat di media massa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Untuk mulai menulis, salah satu bentuk tulisan yang dapat dimanfaatkan adalah esai, yaitu karangan yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Pada tulisan ini, kepribadian, pola pikir dan cara pandang esais (pengarang esai) sangat menonjol. Berikut ini beberapa acuan yang dapat digunakan saat menulis esai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan topik. Pillihlah satu topik yang benar-benar disukai agar anda dapat lebih menikmati proses penciptaan esai tersebut, misalnya tentang remaja, kehidupan sosial di perkotaan, atau tentang seni dan budaya. Sebelum memutuskan topik mana yang hendak dipakai, ada baiknya untuk melihat beberapa bahan bacaan guna mengetahui seberapa menarik topik ini untuk diangkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Setelah menentukan topik, persempit ruang pembahasan anda agar nantinya tulisan tersebut tetap fokus, dalam dan tidak rancu. Misalnya topik tentang perkotaan, anda bisa mempersempit pembahasan dengan mengangkat tentang tata kota atau sistem transportasi di dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berikut pikiran atau diskusi denan rekan-rekan merupakan cara produktif untuk mendapat masukan mengenai topik yang akan diangkat dalam esai. Dari diskusi ini pun mungkin anda bisa menemukan argumen-argumen baru untuk mendukung esai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saat menulis anda bisa memasukkan ide-ide menarik atau mengutip komentar orang-orang yang dirasa mampu memberi inspirasi bagi pembaca. Sedapat mungkin hindarilah kata-kata klise yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan dalam tulisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Terakhir adalah kesimpulan yang di dalamnya berisi inti dari semua yang telah anda tulis. Sebaiknya gunakan kalimat yang singkat namun padat. (ASP/Kompas/Klasika/9/12/2008)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8435802018802217277?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8435802018802217277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8435802018802217277' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8435802018802217277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8435802018802217277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/piawai-menulis-esai.html' title='Piawai Menulis Esai'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUK4HSxZkI/AAAAAAAAAIc/K0rYTypgUfA/s72-c/writing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-7950898070574619670</id><published>2008-12-14T05:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T05:29:19.052-08:00</updated><title type='text'>BAGAIMANA MENJAJAKI KARIR?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUKAub8kFI/AAAAAAAAAIU/jC2blXG__Ww/s1600-h/karier.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 218px; height: 219px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUKAub8kFI/AAAAAAAAAIU/jC2blXG__Ww/s400/karier.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279637145743298642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;color:green;"   lang="IN" &gt;RAMUAN UNTUK MENJAJAKI KARIER&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Membuat tujuan dalam bekerja merupakan salah satu bumbuynag diperlukan untuk terus memompa semangat. Seperti yang sering dikatakan, memiliki ambisi diperlukan untuk menuai kesuksesan, namun jangan sampai ambisius tinggi yang memegang peranan. Lakukan dengan cara benar dan tepat sasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Setiap langkah kesuksesan bisa diperoleh dengan cara yang berbeda-beda oleh setiap orang. Namun patut dipahami bahwa ada beberapa nilai dan tahapan yang akan memberi nilai plus bagi anda dan pada akhirnya mendatangkan kesuksesan dalam berkarier, antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kejujuran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bidang pekerjaan apapun membutuhkan nilai kejujuran tinggi, terlebih jika bidang pekerjaan anda menyangkut masalah keuangan. Korupsi dalam skala terkecil, sekalipun adalah bentuk ketidakjujuran yang lama kelamaan akan berkembang ke hal yang lebih besar. Kejujuran ini menjadi dasar dalam segala hal, baik dalam bekerja, hubungan dengan atasan, maupun rekan kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Kenalilah kelemahan dan kekuatan yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Hal ini akan membantu anda untuk memetakan diri dan menentukan bidang pekerjaan yang paling tepat dan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Berani menghadapi tantangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Meski mengetahui kelemahan diri sendiri, bukan berarti anda harus menjauhi pekerjaan yang sama sekali baru atau pekerjaan yang lebih menantang dengan tanggung jawab&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang lebih besar. Justru di sinilah tantangan yang harus dijalani untuk menguji ilmu maupun kemamouan yang telah anda miliki. Di sisi lain, hal ini pun membuktikan anda memiliki satu kelebihan yang dianggap mampu oleh atasan untuk menjalani dan merupakan salah satu bentuk pencapaian dalam berkarier.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Selalu belajar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saat sudah memegang posisi tertentu dengan tanggung jawab yang lebih tinggi, jangan pernah usai untuk terus mengembangkan diri dan belajar. Karena hal hal ini pulalah yang akan mengantarkan anda untuk terus meniti tangga karier selanjutnya. Lagipula, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki juga semakin membantu anda dalam mengemban tugas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Membangun jejaring&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Membuat jejaring komunikasi bisa dilakukan dalam berbagai kesempatan, baik di internal kantor maupun eksternal, seperti &lt;i style=""&gt;training, &lt;/i&gt;seminar, dan masih banyak lagi. Anda bisa belajar banyak dari mereka dan tak ada yang tahu jika suatu hari nanti justru di antara kenalan anda itulah yang akan menghantarakan anda menuju tanggal selanjutnya. (ADT/Kompas/Klasika/7/12/2008).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-7950898070574619670?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/7950898070574619670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=7950898070574619670' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7950898070574619670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/7950898070574619670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/bagaimana-menjajaki-karir.html' title='BAGAIMANA MENJAJAKI KARIR?'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUKAub8kFI/AAAAAAAAAIU/jC2blXG__Ww/s72-c/karier.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8448850021260237366</id><published>2008-12-14T05:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T05:20:20.108-08:00</updated><title type='text'>PEMIMPIN YANG "MELAYANI"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUH_nD8YgI/AAAAAAAAAIM/VgKprghbxI4/s1600-h/pemimpin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 220px; height: 186px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUH_nD8YgI/AAAAAAAAAIM/VgKprghbxI4/s400/pemimpin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279634927560450562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;color:green;"   lang="IN" &gt;Pemimpin yang “Melayani”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Semakin banyak saya membaca literature atau konsep mengenai kepemimpinan, semakin saya merasa tidak mungkin menjadi seorang pemimpin yang baik. Bayangkan, menurut berbagai ahli kepemimpinan, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang kharismatik, &lt;i style=""&gt;inspirational&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;transformational, innovative, motivational, &lt;/i&gt;memiliki kesadaran global, dan masih banyak lagi istilah-istilah canggih yang semakin menunjukkan betapa predikat “pemimpin” menjadi sangat ekslusif. Jika untuk menjadi pemimpin harus memiliki kualifikasiyang secanggih itu, lalu berapa banyak orang yang mampu menjadi pemimpin di masa mendatang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saya teringat pengalaman pada saat menyelesaikan program pasca-sarjana. Saat itu saya melakukan penelitian guna mencari jawaban atas pertanyaan apakah saya dapat memprediksi gaya kepemimpinan seseorang bedasarkan &lt;i style=""&gt;personal value&lt;/i&gt;-nya? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Suatu pertanyaan yang sederhana, namun memiliki jawaban yang membuat saya sering sakit kepala karena saya harus membaca dan memahami berbagai gaya kepemimpinan dari berbagai literatur yang semuanya berakhir pada suatu kesimpulan: konsep kepemimpinan umumnya rumit, sulit dipahami maupun diterapkan. Saya rasa bukan hanya seorang yang merasa demikian. Buktinya? Salah seorang rekan di sebuah perusahaan besar sedang mencari lulusan terbaik dari universitas-universitas di Indonesia untuk didik menjadi manajer atau pemimpin masa depan. Ketika saya tanya, “Kriteria manajer masa depan itu seperti apa?”, ternyata ia sendiri juga bingung. Ia mencoba mengungkapkan istilah-istilah canggih seperti diungkapkan sebelumnya, tanpa mampu memberikan contoh tingkah laku konkret dari manajer masa depan khayalannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Saya jadi bertanya-tanya, adakah konsep kepemimpinan yang sederhana, tidak sulit untuk diterapkan, namun memiliki dampak langsung yang terlihat terhadap kinerja anak buah maupun tim kerja? Menurut saya, seorang pemimpin atau manajer yang baik adalah pemimpin yang bersedia “melayani”, artinya bersedia bekerja bagi tim dan sekaligus memimpin tim tersebut. Tentu saja kita tetap harus mempertimbangkan aspek keseimbangan dalam pelayanan. Artinya, pelayanan dari manajer tidak boleh berlebihan sehingga tugas manajer&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih mirip denan tugas &lt;i style=""&gt;office boy&lt;/i&gt;. Bagaimanapun, peran manajer&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai pemimpin tim tetap harus menonjol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Lalu, agar seorang manajer dapat menjadi pemimpin yang “melayani”, karakter seperti apa yang harus ia miliki? Hal yang paling utama, tentunya manajer tersebut harus menyukai manusia sehingga ia mampu memahami hubungan antar-manusia dengan lebih baik. Dengan demikian, ia akan melihat konsep ini sebagai manifestasi dari rasa cintanya terhadap hubungan antar-manusia, bukan lagi sebagai tuntutan peran semata. Dengan bahasa sederhana, ia mampu melayani anak buah karena ia memang mau dan senang melakukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh seorang manajer kepada anak buahnya dapat bervariasi, dari aktivitas sehari-hari hingga keputusan manajemen yang lebih kompleks. Misalnya ia akan berusaha meluangkan waktu saat anak buahnya sedang membutuhkan saran dan masukan. Atau, setiap kali seorang manajer memberikan tugas kepada anak buahnya, ia tidak lupa menanyakan kegiatan anak buah saat akhir pekan karena ia tidak hanya tertarik dengan masalah pekerjaan tetapi juga kehidupan sosial anak buah (yang sering diartikan oleh sebagian orang sebagai basa-basi yang tidak perlu). Contoh lain, misalnya ketika anak buah tidak berhasil melaksanakan tugas sesuai harapan anda sebagai manajer, maka anda akan berusaha membesarkan hatinya dan menunjukkan cara yang lebih efektif untuk menyelesaikan tugas serupa di masa mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;Selain itu, ada pula bentuk pelayanan dari seorang manajer terhadap anak buahnya dalam bentuk yang lebih luas dan menyangkut kebijaksanaan perusahaan secara keseluruhan. Misalnya, yang diusulkan oleh Tony Barnes berdasarkan teori Kaizen mengenai kepemimpinan (1998:hal.85). Ia menyatakan bahwa pada dasarnya seorang manajer dapat memberikan bantuan dalam 5 bentuk sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau seorang karyawan tidak tahu apa yang harus dikerjakan ...beri ia penjelasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau seorang karyawan tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya ... beri ia pelatihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau seorang karyawan tidak ingin mengerjakannya ....beri ia motivasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;kalau seorang karyawan tahu apa yang harus dikerjakan, berkompetensi, dan memiliki motivasi untuk mengerjakannya ... beri aia kesempatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="IN"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Kalau seorang karyawan sudah mengerjakannya dan memenuhi standar (bahkan melebihi) ... beri ia penghargaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:green;"   lang="IN" &gt;Sudahkan anda menjadi pemimpin yang mampu “melayani” anak buah?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Mira Trispuspita/EXPERD/Kompas/11/11/2001)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8448850021260237366?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8448850021260237366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8448850021260237366' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8448850021260237366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8448850021260237366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/pemimpin-yang-melayani.html' title='PEMIMPIN YANG &quot;MELAYANI&quot;'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUUH_nD8YgI/AAAAAAAAAIM/VgKprghbxI4/s72-c/pemimpin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1038549247735457291</id><published>2008-12-13T03:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T03:07:49.910-08:00</updated><title type='text'>SIAPA  MENENTUKAN KARIR ANDA?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOXdrT9F3I/AAAAAAAAAIE/-3fQKdgDDEI/s1600-h/career.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 216px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOXdrT9F3I/AAAAAAAAAIE/-3fQKdgDDEI/s400/career.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279229724306773874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:22;"  lang="IN" &gt;KARIR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pada sebuah workshop dalam sebuah perusahaan, saat peserta diminta menyatakan pendapatnya atas pernyataan: “&lt;i style=""&gt;Atasan adalah penentu karir”&lt;/i&gt;, serta merta melihat respons yang sangat berbeda antara kelompok ‘top manajemen’ dan kelompok ‘manajemen menengah’. Para pimpinan merasa bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas karir bawahan, sementara yang dipimpin merasa bahwa karir mereka ditentukan atasan. Jelas-jelas para atasan menganut faham bahwa ambisi, kompetensi bawahan ada di tangan bawahan sendiri sementara bawahan masih bersikap “&lt;i style=""&gt;kumaha juragan wae”.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Persepsi di mana manajemen karir, baik penunjukkan, pengangkatan dan penilaian datang dari ‘atas’, memang ada dan masih kita temukan sampai sekarang, terutama di organisasi yang birokratis, seperti organisasi pemerintah atau ketentaraan. Sementara dalam bisnis, dengan perkembangan praktek yang kompetitif dan semakin nyatanya eksodus akibat pasar, kerja global, banyak kita lihat pergeseran pada hubungan ketenagakerjaan. Metafora seperti “karir itu berbentuk tangga atau piramid”, sudah berganti dengan paradigma baru seperti “jeruk makan jeruk”, “wolak walik ing jaman”; atasan bisa jadi bawahan. Tangga karir yang semakin berkurang anak tangganya, bahkan kadang hilang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena dihilangkannya suatu divisi besar dalam organisasi, sudah semakin menggejala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Demi efisiensi, perusahaan biasa melakukan pengurangan karyawan, ‘&lt;i style=""&gt;delayering’,&lt;/i&gt; desentralisasi, automasi dan pengukuran kinerja yang lebih cermat. Kompetensi yang tadinya dikonsenterasikan pada kompetensi teknis, cepat sekali basi dengan tingginya kompetensi untuk meraih &lt;i style=""&gt;excelence&lt;/i&gt;. Sebuah perusahaan bisa bangga sekali dengan kapasitas &lt;i style=""&gt;engineering-&lt;/i&gt;nya pada suatu waktu, lima tahun kemudian ‘&lt;i style=""&gt;excelence’&lt;/i&gt; ini sudah terkikis dengan dibutuhkannya keterampilan-keterampilan baru, misalnya saja peralatan yang semakin dikendalikan software. Menjawab tantangan ini, mau tidak mau, perusahaan akan menyuntikkan tenaga-tenaga mumpuni, bila individu dalam perusahaannya tidak meng-&lt;i style=""&gt;update&lt;/i&gt; ilmu, lemah dalam &lt;i style=""&gt;problem solving&lt;/i&gt; dan tidak bisa dikembangkan lebih lanjut. Hal-hal inilah yang membuat ‘karir’ semakin kompetitif dan semakin sulit ‘digenggam’. Sementara, kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berada di perusahaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pun sulit mengajukan diri bila memang tidak memenuhi spesifikasi lagi. Rasa-rasanya, jeritan agar kitalah yang di dalam perusahaan yang perlu diperhatikan tidak akan mempan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Career Self-Management” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;VS “&lt;i style=""&gt;Career Track” &lt;/i&gt;Perusahaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Saat saya bertanya pada seorang karyawan, mengapa ia terlihat lalai dan “kurang awas” terhadap pengembangan kinerjanya, ia menjawab: “Saya kehilangan buku catatan kinerja saya”. Dari sini kita bisa menyaksikan betapa individu bisa bersandar pada sistem karir yang dibuat orang lain untuknya. Padahal, bukankah kita sama-sama sadar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa kita tidak hanya berhak tetapi juga bertanggung jawab 100% terhadap kebahagiaan karir kita? Paradigma bahwa tidak berkembangnya karir adalah karena lalainya perusahaan sudah mesti kita tinggalkan. Bila tidak, kita akan termakan sendiri oleh stagnannya karir sebelum waktunya karena terninabobokkannya kita dalam sebuah organisasi. Dengan bersandar pada prosedur perusahaan, kita akan merasa bahwa ‘&lt;i style=""&gt;feedback’&lt;/i&gt; akan datang dengan sendirinya. Padahal saat sekarang, masukan dan penilaian, perlu dikejar demi pengembangan diri. Kitalah yang perlu merancang, mengejar, menggapai dan meraih kesempatan, di dalam dan di luar perusahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kelalaian ini bukan saja terjadi tingkat bawah. Teman saya seorang direktur, yang selama 20 tahun “&lt;i style=""&gt;all out”&lt;/i&gt; bekerja di perusahaannya, bingung menentukan karirnya setelah ia pensiun pada usia pensiun yang wajar. Teman saya ini sangat sadar bahwa ini bukan salah-salah siapa kecuali dirinya, yang terlambat membuat rencana karir pasca pensiunnya. Teman lain menahan-nahan karirnya untuk menjadi direktur, karena usianya masih terlalu muda. Menurut pendapatnya ia tidak bisa membayangkan apa yang harus dilakukannya selepas jabatan direktur BUMN ini, karena ia langsung akan di pensiun, berapa pun usianya. Teman-teman kita ini, walaupun super, ternyata tidak menyediakan alternatif karir. Di masa sekarang, individu yang selalu mempunyai alternatif karirlah yang bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih bebas membuat kesempatan bagi dirinya dan tidak melihat dirinya sebagai korban otak-atik strategi manajemen SDM perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;“Portfolio Management”: Tambang Emas Individu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap profesional, apapun keahliannya, perlu me-“maintain”, mengembangkan dan mengelola portfolionya, yaitu catatan mengenai keberhasilan, daftar proyek, keahlian dan pendidikan yang dikantonginya. Inilah sesungguhnya tambang emas individu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Teman saya, tidak bersedia ‘terlalu berpolitik’ untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi lagi di perusahaan BUMN tempatnya bekerja. Dengan santainya ia mengatakan bahwa dengan kompetensi yang dia miliki, ia menunggu “dilamar” saja. Bermodalkan portfolio-nya, seorang profesional akan siap menjawab tantangan karir dan menyikapi ketidakjelasan kesempatan lapangan kerja di pasaran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kunci menebalkan portfolio adalah kita tidak boleh lengah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam meng-“update” ilmu. Kita pun tidak bisa hanya memikirkan “moving up” saja, tetapi perlu melihat ke “dalam”, selain juga senantiasa memperluas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cakrawala ilmunya, bahkan kalau perlu menyerempet kesempatan dengan resiko yang lebih besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;“&lt;i style=""&gt;Employer” &lt;/i&gt;sekarang, berbasis pengetahuan mengenai kompetensi, sudah tidak mudah terkecoh pada kutu loncat berimbalan besar,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi akan mengincar professional dengan kompetensi, kemampuan berkembang yang tinggi dan kualitas pribadi yang kuat, seperti kepemimpinan, hubungan interpersonal dan kreativitas. Kompetensi individu bisa berkembang dalam jalur-jalur yang berbeda: spesialis atau generalis, bisa teknikal bisa juga manajerial, bisa ‘dalam’, bisa juga ‘luar’. Ada individu yang kuat dalam penyelesaian proyek jangka pendek, ada pula yang mampu berkelit di organisasi yang birokratis. Ada yang berbakat menjadi pemain di organisasi kecil dan ‘cair’, ada pula yang baru bisa berkinerja bila struktur organisasi jelas. Mengenali kekuatan diri kita, memang bukan tanggung jawab orang lain. Kitalah yang paling tahu, emas tipe apa yang tertimbun dalam tambang kompetensi kita bagaimana kita menjualnya di pasaran&lt;i style=""&gt;. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/AXPERD/ Kompas/klasika/19/07/2008)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1038549247735457291?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/1038549247735457291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=1038549247735457291' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1038549247735457291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1038549247735457291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/siapa-menentukan-karir-anda.html' title='SIAPA  MENENTUKAN KARIR ANDA?'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOXdrT9F3I/AAAAAAAAAIE/-3fQKdgDDEI/s72-c/career.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8699168905334430100</id><published>2008-12-13T03:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T03:04:37.271-08:00</updated><title type='text'>KOMITMEN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOWniZKwBI/AAAAAAAAAH8/arwt1KiwIM8/s1600-h/commitment.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 190px; height: 219px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOWniZKwBI/AAAAAAAAAH8/arwt1KiwIM8/s400/commitment.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279228794199785490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;KOMITMEN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tanda bahwa sebuah organisasi sudah mulai tidak efektif adalah kalau karyawannya sudah tidak lagi ingin kompak satu sama lain. Seorang eksekutif HRD menceritakan betapa karyawannya masih harus ditakut-takuti dengan absensi kehadiran, agar mau terlibat dalam kegiatan ataupun &lt;i style=""&gt;meeting&lt;/i&gt; yang tidak langsung berdampak ke pekerjaan, seperti donasi, &lt;i style=""&gt;fun activities, &lt;/i&gt;atau &lt;i style=""&gt;meeting bipartite.&lt;/i&gt; Memang, para karyawan tidak sampai saling memukul, baik dari belakang maupun depan, tidak saling menghina atau tidak menyatakan tidak saling percaya satu sama lain. Secara kasat mata, hubungan interpersonal kelihatan harmonis. Namun, bila perlu adanya koordinasi, katakanlah, &lt;i style=""&gt;crash program, &lt;/i&gt;pembenahan kantor atau pun program yang sifatnya non-kritikal tetapi perlu dikeroyok rame-rame, barulah terlihat bahwa komunikasi dan koordinasi seolah sulit sekali diatur dan diimplementasikan ke dalam kegiatan yang terarah. Di sinilah sesungguhnya kita bisa menyaksikan ketidakefektifan sebuah organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Banyak sekali ribut-ribut di perusahaan yang diakhiri dengan komentar, “Ini &lt;i style=""&gt;cuman&lt;/i&gt; masalah komunikasi, kok ...” Kita banyak lupa bahwa tidak efektifnya komunikasi merupakan “dosa” manajemen yang sangat besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hasil yang kita telan dari tidak efektifnya komunikasi adalah karyawan tidak ter-“konek” dengan misi perusahaan, merasa “tertinggal dalam gelap” dan tidak memahami bagaimana berpartisipasi dan melibatkan diri secara sesuai. Tidak efektifnya komunikasi ini, dalam keadaan parah bisa tidak terdeteksi lagi. Yang terlihat justru pada tidak berkomitmennya setiap bagian, individu atau kelompok terhadap apa yang sudah di-“iya”-kan, dijanjikan atau direncanakan. Lebih parah lagi, bila komitmen terhadap “&lt;i style=""&gt;deadline”, &lt;/i&gt;waktu, kuantitas tidak bisa di-“nyatakan” lagi. Semua rencana dan tindakan hanya bersifat mengambang. Di sinilah kita perlu waspada terhadap matinya spirit perusahaan atau lembaga karena sakitnya komitmen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari Komitmen ke Laba Perusahaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sudah tidak jamannya lagi orang menomorduakan komitmen karyawan di dalam pertimbangan pengembangan organisasi, karena jelas-jelas komitmen karyawan sudah menjadi daya saing utama dalam bisnis. Komitmen bisa terlihat dalam beberapa bentuk. Kita bisa lihat komitmen berkelas rendah karena individu butuh “memperpanjang” karirnya di perusahaan dan tidak punya pilihan lain dalam karirnya, yang sering disebut sebagai ‘&lt;i style=""&gt;continuance commitment”&lt;/i&gt;. Ada juga individu yang komit demi loyalitas, kedisiplinan dan kepatuhannya pada perusahaan, atau komitmen yang bersifat normatif. Orang yang komitmennya normatif akan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan organisasi, walaupun tindakan tersebut belum tentu sesuai dengan keinginan pribadinya. Perusahaan sebetulnya perlu memancing sebanyak-banyaknya komitmen &lt;i style=""&gt;afektif&lt;/i&gt;, di mana &lt;i style=""&gt;passion&lt;/i&gt; dan kesungguhan individu untuk berkontribusi, mengompakkan diri berlandaskan kesamaan pemikiran, sasaran dan idealisme profesinya dengan perusahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komitmen sampai level afektif dan &lt;i style=""&gt;passion&lt;/i&gt; ini tentunya tidak didapatkan secara gratis karena sesungguhnya bermula dari kemudahan, konsistensi dan kejelasan sistem dan prosedur di perusahaan. Kejelasan aturan main menjadikan karyawan bisa mengandalkan dan berpegang pada aturan. Dalam perkembangannya, karyawan jadi bisa tahu di mana ia bisa “ikut bermain” dan menikmati pekerjaannya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahkan memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu. Hanya dalam tingkatan ini, perusahaan baru bisa mengeruk keuntungan bermodalkan komitmen karyawan. Kita sebagai nasabah tentunya senang berbank dengan bank yang karyawannya jelas-jelas bekerja keras, berkinerja dan berjuang demi kepuasan nasabah dan kesuksesan perusahaannya, ketimbang bank yang santai dan tidak mengejar sasaran yang jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komitmen: Penyatuan Risiko dengan Tindakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut para ahli, komitmen sangat berbeda dari janji atau sekedar pelaksanaan kewajiban. Kewajiban berasal dari otoritas eksternal, sementara komitmen berasal dari dalam diri seseorang. Selain itu komitmen mengandung bobot yang jauh lebih tinggi, karena berkomit berarti menyadari dan bersedia menerima risiko tindakan yang sudah diambil oleh individu. Bila seorang ahli bedah sudah berkomitmen untuk menyelesaikan suatu kasus,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk menyembuhkan si pasien, apakah melalui tangannya sendiri ataupun dengan bantuan ahli lain. Demikian pula, seorang kepala cabang yang sudah berkomitmen untuk mencapai level KPI (&lt;i style=""&gt;key performance indicator) &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tertentu, akan serte merta mengerahkan segala upaya untuk mencapainya. Tentunya ada risiko ia tidak disukai oleh anak buah, karena anak buahnya didera untuk bekerja keras. Namun, tanpa pengambilan risiko tersebut, komitmen atasan akan terasa hampa, ringan tidak bertenaga. Di sini, komitmen justru memberi “&lt;i style=""&gt;flavor” &lt;/i&gt;pada kerja keras kelompok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam sebuah kelompok kerja, komitmen akan terasa bila individu dalam kelompok mau “&lt;i style=""&gt;tune in”&lt;/i&gt; mendukung &lt;i style=""&gt;“action”&lt;/i&gt; ,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersedia untuk di-“expose”, siap bertanggung jawab terhadap tugas, dan bahkan ikut serta menghandel dilema yang pasti muncul dalam mengembangkan tuas. Dari sini jelas kita bisa melihat bahwa gejala &lt;i style=""&gt;“loh kok saya?” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau ‘&lt;i style=""&gt;bukan saya, pak ...’ &lt;/i&gt;tidak laku, karena sikap defensif hanyalah pertanda bahwa komitmen individu tidak ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komitmen itu Pilihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beda tipis dengan kepatuhan dan kewajiban yang normatif, komitmen afektif adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sepenuhnya pilihan individu. Individu yang memilih untuk komit biasanya sudah melalui proses pertimbangan terhadap kebutuhan dan visinya sendiri dan juga sudah yakin pada dampak sikapnya. Karena itu, individu yang berkomitmen tinggi, bisa memberikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;impact”&lt;/i&gt; yang lebih besar di pekerjaan, lebih persuasif, lebih terbuka terhadap kemungkinan kritik. Pilihan perilaku yang diambil seseorang yang berkomitmen pun akan diarahkan pada dua hal yang sangat penting, yaitu &lt;i style=""&gt;mendukung &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;mengembangkan, &lt;/i&gt;karena hanya dengan sikap seperti inilah kelompok dapat maju dan mencapai tujuan yang sudah sama-sama dipahami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komunikasi mengikuti “The 51% Rule”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="" lang="IN"&gt;Rapat-rapat yang diikuti oleh orang-orang yang berkomitmen tinggi akan memakan waktu jauh lebih singkat daripada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bila individu peserta rapat ragu akan komitmennya. Untuk membuat peserta lain ‘hadir’ dalam tantangan yang sedang dibicarakan, seorang ahli komunikasi membuat formula yaitu bila setiap orang yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sedang berkomunikasi, yang sudah pasti dua arah, mengambil 51% tanggung jawab terhadap keberhasilan komunikasi dan &lt;i style=""&gt;follow up-&lt;/i&gt;nya, maka komunikasi pasti akan dipenuhi oleh spirit komitmen yang utuh. Hanya dengan cara inilah kita bisa mengejar “&lt;i style=""&gt;the extra mile”&lt;/i&gt; dan menikmati pekerjaan. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/09/08/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8699168905334430100?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8699168905334430100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8699168905334430100' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8699168905334430100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8699168905334430100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/komitmen.html' title='KOMITMEN'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOWniZKwBI/AAAAAAAAAH8/arwt1KiwIM8/s72-c/commitment.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-3984102302896964384</id><published>2008-12-13T02:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T03:01:09.574-08:00</updated><title type='text'>BERSELANCAR DALAM OMBAK PERUBAHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOVlwEcEbI/AAAAAAAAAH0/ea9v19tkKsM/s1600-h/change.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 156px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOVlwEcEbI/AAAAAAAAAH0/ea9v19tkKsM/s400/change.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279227663999570354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;BERSELANCAR DALAM OMBAK PERUBAHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perubahan pusat ekonomi, revolusi teknologi global seperti bio-teknologi dan nano-teknologi, serta berubahnya peta industri dari global ke lokal atau sebaliknya, membuat setiap orang mengumandangkan perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pepatah kuno yang mengibaratkan perubahan bagaikan ombak, mengatakan, “Yang memberi kita ombak adalah Allah. Bagaimana kita bereaksi terhadapnya, adalah pilihan manusia-nya sendiri-sendiri”. Pada situasi di mana “ombak perubahan” sebesar tsunami, terkadang manusia memang tidak punya pilihan. Namun, dalam kondisi “ombak” lain, kita mempunyai pilihan, untuk sekedar menunggu redanya ombak, berenang mengikuti atau melawan ombak, atau berselancar dan cerdik memilih ombak mana yang yang akan dtiunggangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka yang jago berselancar dalam ombak perubahan, tentunya akan membukukan cerita manis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada krisis tahun 1998, Garuda Food bahkan melakukan diversifikasi, membeli dan memproduksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;biskuit dan jelly secara sukses. Faisal Basri, ekonom kondang telah mengingatkan kita tentang harga saham yang sedang “bagus-bagus”-nya, yang kemungkinan bisa di-&lt;i style=""&gt;caplok&lt;/i&gt; oleh orang asing terlebih dahulu, sementara kita bangsa Indonesia bisa “ketinggalan kereta” dalam melihat peluangnya. Lagi-lagi, kemampuan berselancar kita ditantang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menangkap Ombak, Mengambil Action&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam pembicaraan di pesta-pesta maupun pemberitaan di media, kita dikejutkan oleh banyak sekali perubahan. Bahkan saking banyaknya dan bertubi-tubinya fakta, kita terpaku dan menggeleng-gelengkan kepala. Ada juga yang mampu menganalisa dan segera menyimpulkan tren dan mengira-ngira apa yang akan terjadi. Pertanyaannya, berapa orang yang membuat keputusan dan mengikutinya dengan &lt;i style=""&gt;action plan?i “&lt;/i&gt;Apa yang akan saya lakukanuntuk mengelola &lt;i style=""&gt;cash&lt;/i&gt; dan hutang-hutang? Apa yang perlu diganti dalam rencana-rencana saya? Bagaimana saya mempertahankan pelanggan saya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam kepanikan menghadapi krisis, saya melihat bahwa orang bisa saja “maju-mundur” secara ekstrim dalam mengambil keputusan. Padahal, keputusan harus diambil. Apakah order akan dibatalkan? Apakah kita akan melanggar kommitmen karena besaarnya kerugian yang harus kita tanggung? Apakah kita “berani rugi” untuk mempertahankan hubunan yang baik? Kapan pengorbanan akan membuahkan hasil? Dan, yang juga sangat penting, apakah kita menyadari untuk membedakan antara keputusan yang berfokus pada keuntungan jangka pendek atau jangka panjang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Isu yang sangat penting, yang justru sering terlupakan oleh kita semua adalah menerjemahkan kebingungan dan ketidakjelasan yang sedang berlangsung ke dalam sebuah keputusan dan tindakan yang akan diambil. Sebaliknya tekanan yang tiba-tiba, dan mengejutkan, sering kali pula menyebabkan kita terlalu gegabah mengambil keputusan. Tengok saja reaksi impulsif masyarakat terhadap perubahan nilai tukar rupiah. Masyarakat yang tanpa pikir panjang merespons perubahan nilai tukar rupiahlah yang justru mengakibatkan semakin “goyang”-nya nilai tukar tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keseimbangan untuk memperoleh informasi akurat sebanyak-banyaknya, memahami apa pengaruh dan dampaknya bagi perusahaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan diri sendiri, dan kemudian melihat peluang ke masa depan dan mengambil keputusan yang konkret hampir-hampir adalah suatu seni. Bila kita tidak awas terhadap perubahan, kita ketinggalan. Sebaliknya, bila kia bertindak terlalu jauh, kita bisa terkubur oleh persoalan-persoalan ‘&lt;i style=""&gt;here and now’&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di depan mata. “&lt;i style=""&gt;You can’t grow long-term if you can’t eat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;short-term”. &lt;/i&gt;Di sinilah letaknya tantangan untuk menyeimbangkan keputusan jangka pendek versus jangka panjang, menyeimbangkan upaya &lt;i style=""&gt;survival&lt;/i&gt;, sambil merencanakan masa depan, serta memperhatikan baik pendekatan humanistik dan holistik. Mencari keseimbangan inilay yang sulit, meskipun ‘kita bisa’!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Waktunya Menggalang Kebersamaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seperti yang dikatatakan oleh Jack Welch, &lt;i style=""&gt;“I don’t like to use word efficiency. It’s creativity. It’s a belief that every person counts”.&lt;/i&gt; Kekuatan baru hanay bisa terbentuk dengan menggalang kebersamaan, melakukan diskusi intensif untuk mendengarkan isu-isu, bersama mempelajari tantangan dan peluang yang ada, membahas bersama &lt;i style=""&gt;action-action &lt;/i&gt;untuk &lt;i style=""&gt;recovery&lt;/i&gt;, sehingga keluhan dan ketakutan bisa diubah menjadi komitmen dan optimisme. Dalam situasi inilah sesungguhnya keterampilan mendengar, berdiskusi, ber-&lt;i style=""&gt;brainstorming&lt;/i&gt; paling dibutuhkan. “Orang-orang pintar” di dalam kelompok juga perlu dimanfaatkan agar kita bisa mempertajam kemampuan untuk mengetes asumsi, mengelola keluhan, membaca &lt;i style=""&gt;feedback&lt;/i&gt; dan melihat peluang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rasa takut dan perasaan tidak nyaman yang dirasakan anggota kelompok adalah sinyal-sinyal yang perlu ditangkap dan dipelajari. Pada saat ini &lt;i style=""&gt;feedback&lt;/i&gt;, walaupun menyakitkan juga sangat berguna untuk menjawab: &lt;i style=""&gt;“so what?”&lt;/i&gt; dari gejala-gejala yang terjadi. Inilah saat yang tepat untuk membentuk ‘&lt;i style=""&gt;alignment’&lt;/i&gt; yang kuat di dalam, sambil bersama-sama memandang ‘keluar’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Fleksibilitas di Atas Kompleksibilitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mempersiapkan masa depan dalam situasi penuh tekanan, sambil menjaga kestabilan, memang memerlukan stamina, bukan saja intelektual tetapi juga emosional. Kita harus meletakkan ekstra fokus pada &lt;i style=""&gt;doing the right thing –the right way, &lt;/i&gt;serta pada &lt;i style=""&gt;timing&lt;/i&gt; yang tepat pula. Louis V Gerstner,Jr terbukti melakukannya pada saat IBM diramalkan akan terpuruk tajam, dengan cara “membalik” bisnis &lt;i style=""&gt;mainframe&lt;/i&gt; IBM ke bisnis PC. Di sinilah kemampuan kita diuji, apakah bisa lincah dan fleksibel mengarungi kompleksitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Tentunya para pemimpin perusahaan perlu menambah energi pribadinya untuk mampu mendorong dan menyemangati karyawannya untuk tetap jeli memanfaatkan peluang, menekan biaya, dan menciptakan produk yang murah dengan kualitas tetap prima. Perusahaan yang sukses mengarungi lautan kompleksitas ini adalah mereka yang mampu fokus pada hal-hal penting saja. sambil tetap memelihara fleksibilitas untuk berespon terhadap perubahan, tren serta tekanan baru. Senantiasa ingat kata pepatah, “&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Opportunity is optimism with a plan creatively applied to the future”. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/13/12/2008).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-3984102302896964384?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/3984102302896964384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=3984102302896964384' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/3984102302896964384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/3984102302896964384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/berselancar-dalam-ombak-perubahan.html' title='BERSELANCAR DALAM OMBAK PERUBAHAN'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUOVlwEcEbI/AAAAAAAAAH0/ea9v19tkKsM/s72-c/change.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-1349171783305845094</id><published>2008-12-12T04:06:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T04:13:24.134-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='work'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='office'/><title type='text'>BEKERJA EFEKTIF DI KANTOR</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUJVMY69daI/AAAAAAAAAHs/5PqfyxxXESQ/s1600-h/work+in+office.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278875384568182178" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 132px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUJVMY69daI/AAAAAAAAAHs/5PqfyxxXESQ/s400/work+in+office.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Seorang karyawan tentunya dituntut bertanggung jawab memberikan hasil yang baik dalam mengerjakan tugas-tugas yang diperintahkan. Hasil yang baik memerlukan ketelatenan dan konsenterasi yang baik pula pada proses pengerjaannya. Namun, adakalanya muncul hambatan yang datang di saat anda sedang serius bekerja. Kiat-kiat berikut diharapkan dapat membantu anda agar bekerja lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, aturlah pekerjaan anda berdasarkan skala prioritas. Seringkali anda bekerja menurut apa yang anda suka, bukan menurut apa yang anda butuhkan.Ingat, setiap pekerjaan memiliki beban dan tanggung jawab yang berbeda pula. Maka pilihlah pekerjaan yang lebih penting dan mendesak agar selalu didahulukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bagi yang memiliki jaringan internet di kantor, hindarilah mengaktifkan fasilitas seperti chatting pada saat bekerja. Selain dapat mengganggu konsentrasi, hal ini dapat membuat durasi pengerjaan tugas menjadi lebih panjang dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tidak ada salahnya untuk mengaktifkan nada getar pada ponsel atau menonaktifkan untuk sementara ponsel hingga tugas anda selesai. Semua ini akan membuat anda benar-benar fokus dalam bekerja. Kecuali pekerjaan anda memang menuntut anda untuk selalu bergerak dan mudah dihubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tanpa anda sadari pekerjaan sering terabaikan karena rekan kantor yang datang tiba-tiba mengajak berbincang-bincang. Hal ini akan membuat anda akan asyik membicarakan hal tersebut lupa pada pekerjaan. Salah satu solusinya adalah, berilah pengertian kepada teman, bahwa anda memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga anda tak ingin diganggu terlebih dahulu sampai pekerjaan anda benar-benar selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, usahakan jangan terlalu banyak camilan di atas mejakerja anda. Sebab, terlalu banyak memakan camilan dikhawatirkan akan membuat anda mengantuk. Cukup segelas teh atau kopi hangat saja sebagai pendamping setia saat anda bekerja.&lt;br /&gt;Terakhir, setelah pekerjaan anda selesai dengan efektif, segeralah istirahatkan diri anda. Ingat, tubuh dan pikiran anda memerlukan waktu untuk istirahat juga. Tanpa istirahat yang cukup, pekerjaan anda yang berikutnya pun bisa tidak akan terselesaikan dengan efektif juga. (INO/Kompas/ Klasika/30/11/2008)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-1349171783305845094?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/1349171783305845094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=1349171783305845094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1349171783305845094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/1349171783305845094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/bekerja-efektif-di-kantor.html' title='BEKERJA EFEKTIF DI KANTOR'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SUJVMY69daI/AAAAAAAAAHs/5PqfyxxXESQ/s72-c/work+in+office.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-927106562504365897</id><published>2008-12-07T04:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-07T04:48:22.426-08:00</updated><title type='text'>STOP OLOK-OLOK!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STvFK34rJuI/AAAAAAAAAHk/2VwyHKzmLlk/s1600-h/do+your+best.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 189px; height: 243px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STvFK34rJuI/AAAAAAAAAHk/2VwyHKzmLlk/s400/do+your+best.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277028178985690850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;STOP OLOK-OLOK!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Saya baru tersadar bahwa bangsa kita gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri. ketika dalam kelas &lt;i style=""&gt;training&lt;/i&gt; saya menanyakan apa pendapat peserta tentang acara kolosal kebangkitan nasional yang saya juluki bertema “Indonesia Bisa”, sebagian orang mengomentari penyanyi yang gagal, yang lain secara jenaka memeragakan latihan tenaga dalam yang kurang sukses.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sementara anggota keluarga saya, secara lengkap, tua-muda, menikmati acara tersebut, terharu-biru begitu dikumandangkannya lagu Indonesia Raya oleh si Putra Papua, Edo Kondologit, dan merasa termotivasi untuk bangkit dari kesulitan, namun di sisi lain ternyata banyak orang yang melihat tontonan ini dari sudut pandang yang “ringan dan lucu”. Kenyataan ini dilanjutkan, ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok juga, ditanggapi sahabatnya dengan ungkapan, “Bukannya Bangsa Indonesia memang biasa berkomunikasi dengan cara ‘olok-olok’ seperti ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa jadi membuat kita terjebak pada &lt;i style=""&gt;self-fulfiling prophecy&lt;/i&gt;, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melalui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa bodoh”, “otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai”, “pemberantasan korupsi tidak akan tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan, &lt;i style=""&gt;action plan&lt;/i&gt; pribadi, kelompok maupun perusahaan secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri, bahkan melahirkan “lingkaran setan” yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-oloklah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini perusahaan sendiri, lembaga pemerintah sendiri, ataupun negara sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Olok-olok sebagai Cerminan “Esteem” Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tertawa dan bercanda bersama adalah cara manusia untuk mempererat hubungan. Bayangkan betapa runyam hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum dan tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menujukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemampuan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang tidak kasat mata. Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai perspektif terhadap hal yand tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam dan melihatnya dari sudut pandang lucu, gembira dan tidak sendu ataupun serius. Orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih “happy” dan optimistis. Namun, tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan terhadap orang lain, apalagi terhadap diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);" lang="IN"&gt;Olok-olok yang sering kita dengar, terutama akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan &lt;i style=""&gt;esteem&lt;/i&gt; atau penghargaan diri. Orang ber-&lt;i style=""&gt;esteem &lt;/i&gt;rendah kita kenal sebagai orang mempunyai kebiasaan untuk menilai negatif diri sendiri, tidak menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik tajanm bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi, apalagi disebut “&lt;i style=""&gt;sense of humor”&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bisa jadi kita berpikir bahwa olok-olok atau sindiran adalah bentuk umpan balik bagi pihak lain untuk mawas diri dan memperbaiki diri. Namun, olok-olok tentu saja tidak bisa kita sebut masukan, karena ia tidak tertuju langsung secara “&lt;i style=""&gt;man to man”&lt;/i&gt; pada orang yang kita maksud. Selain olok-olok tidak pernah menjadikan situasi lebih baik, kita yang mengolok-olok juga jadi manusia kerdil karena karena seolah “lempar batu sembunyi tangan”, akibat ketidakmampuan kita untuk ‘pasang badan’ dan mempertanggungjawabkan pendapat dan masukan kita secara ksatria dan elegan.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rasa Syukur Menarik Kebaikan dan Kesuksesan&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam bukunya &lt;i style=""&gt;Best Seller-&lt;/i&gt;nya, &lt;i style=""&gt;The Secret, &lt;/i&gt;Rhonda Byrne,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengungkapkan hal-hal yang sangat “&lt;i style=""&gt;common sense”, &lt;/i&gt;yang sejak dulu dikumandangkan oleh ayah saya, walaupun bentuknya sedikit berbeda. “Hitung berkatmu”, kata ayah saya, “maka kamu akan takjub&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan kekayaanmu. Kemudian bersyukurlah”. Menurut Rhonda, mustahil kita menarik kebaikan, kesejahteraan dan keuntungan, tanpa mensyukuri apa yang kita miliki. Rasa syukur yang kita pancarkanlah yang akan menarik energi bagaikan magnet, sehingga kebaikan dan kemudahan akan mendekat dan memberikan “&lt;i style=""&gt;power”&lt;/i&gt; dalam kehidupan kita. Kita boleh merasa “kurang” karena itu akan menantang diri kita, membangkitkan motivasi untuk selalu lebih baik dan sempurna. Namun, ratapan tanpa rasa bersyukur yang diwarnai rasa iri dan kekecewaan yang negatif akan membendung kita dari kreativitas dan patriotisme untuk membangun diri, keluarga, perusahaan dan bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Simak laporan CNN mengenai gempa bumi di Sichuan, 12 Mei yang lau. “Jutaan orang kehilangan keluarga, rumah dan harta benda. Namun tak terdengar ratapan dan keluhan. Yang tampak adalah orang saling menolong satu sama lain. Dalam hitungan jam, orang-orang berlomba untuk memberi bantuan. Sepanjang ratusan meter, orang-orang mengantri untuk mendonorkan darahnya, dan dalam waktu 24 jam, mereka kehabisan tempat untuk menampung darah dari pendonor”. Rupanya, di negara yang sering kita duga “miskin emosi” ini, tidak banyak orang mengidap “&lt;i style=""&gt;bystander aphaty&lt;/i&gt;”, penonton yang apatis. Tentu, tak ada salahnya kita mem-“&lt;i style=""&gt;benchmark” &lt;/i&gt;semangat solidaritas dan “tidak ada matinya” negeri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;China ini.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);" lang="IN"&gt;Marilah mulai bangkit dengan membuat daftar sukses, apakah itu keberhasilan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memanjat dinding 12 meter, menyelesaikan laporan tepat waktu, menutup penjualan 10 juta, berhemat 200 ribu ataupun sekedar keberhasilan untuk datang ke kantor tepat waktu. Dengan bersyukur, kita memupuk kualitas positif dan kompetensi sebagai modal kita. Selanjutnya, mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistik dan tidak lupa untuk bertindak&lt;i style=""&gt;! (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/31/05/2008)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-927106562504365897?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/927106562504365897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=927106562504365897' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/927106562504365897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/927106562504365897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/stop-olok-olok.html' title='STOP OLOK-OLOK!!!'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STvFK34rJuI/AAAAAAAAAHk/2VwyHKzmLlk/s72-c/do+your+best.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5473692821365891940</id><published>2008-12-06T21:38:00.000-08:00</published><updated>2008-12-06T21:46:28.835-08:00</updated><title type='text'>SUDAH BERPRESTASIKAH ANDA?</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtjKD01XuI/AAAAAAAAAHc/MsaS2hUpVcM/s1600-h/berprestasi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276920412871417570" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 95px; CURSOR: hand; HEIGHT: 96px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtjKD01XuI/AAAAAAAAAHc/MsaS2hUpVcM/s400/berprestasi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;SUDAH BERPRESTASIKAH ANDA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditilik dari masa kerja, bias jadi anda sudah tergolong senior. namun bisakah anda menyebutkan apa saja prestasi yang sudah diraih selama ini? Apalagi jika anda ingin mengembangkan sayap menuju jenjang karir yang lebih tinggi, baik di perusahaan yang sekarang atau perusahaan yang lebih bonafit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi mengenai prestasi tentu akan jauh lebih menarik ketimbang deskripsi tugas yang selama ini digeluti.Bahkan, akan memberikan nilai tambah bila anda mencantumkannyadalam resume. Paling tidak, akan menunjukkan bahwa anda adalah seorang pekerja yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis prestasi yang sangat mungkin dicantumkan dalam resume, antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian target. Kumpulkan beberapa target tersukses yang pernah yang dibebankan oleh supervisor atau perusahaan kepada anda. Akan sangat mudah mendefinisikannya bila proyek itu merupakan target pribadi. Namun bila hal itu merupakan proyek keroyokan, maka definisikan konstribusi anda dalam pencapaian itu secara jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menepati tenggat waktu. Boleh dikata, hampir semua industri –terutama industri media- harus berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, jangan heran bila karyawan-karyawan yang mampu melaksanakan tugas dengan hasil yang berkualitas dan tepat waktu cenderung lebih dihargai. Cantumkan hal ini dalam resume bila anda termasuk salah satu orang yang disiplin dan menghargai waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan dalam memecahkan masalah. Dalam hidup -apalagi bisnis- pasti selalu saja ada masalah. Jika anda pernah menangani masalah pelik dalam bisnis dengan baik, tak ada salahnya jika hal tersebut dikemukakan dalam resume. Tentu saja tak sembarang masalah bisa dipaparkan dalam resume. Pilih yang memang layak untuk dikemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menangani beberapa tugas sekaligus. Mungkin banyak karyawan yamg bisa mengerjakan tugas dengan baik. Namun hanya segelintir yang mampu mengerjakan berbagi pekerjaan dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kualitas yang tetap optimal. Jika anda termasuk salah satunya, biarkan hal tersebut muncul dalam resume.&lt;br /&gt;Jika keempat hal ini ada pada diri anda plus seberkas sertifikat penghargaan sebagai buktinya, maka sudah sepantasnya anda disebut sebagai karyawan yang berprestasi. (AYA/Kompas/Klasika/ 22/20/2008)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5473692821365891940?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5473692821365891940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5473692821365891940' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5473692821365891940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5473692821365891940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/sudah-berprestasikah-anda.html' title='SUDAH BERPRESTASIKAH ANDA?'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtjKD01XuI/AAAAAAAAAHc/MsaS2hUpVcM/s72-c/berprestasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5837974149165796939</id><published>2008-12-06T21:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-06T21:26:51.287-08:00</updated><title type='text'>MERACIK MASALAH DENGAN TEPAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtehv979CI/AAAAAAAAAHU/b-zfASmqUJw/s1600-h/meracik+masalah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276915322299610146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 130px; CURSOR: hand; HEIGHT: 114px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtehv979CI/AAAAAAAAAHU/b-zfASmqUJw/s400/meracik+masalah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;MERACIK MASALAH DENGAN TEPAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat “bumbu” dalam kehidupan, setiap manusia akan menemui permasalahan dalam perjalanannya. Tidak sedikit yang akhirnya menyebabkan stress, namun hal itu dapat dihindari dengan mengelolanya secara tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, berusaha menerima sebuah masalah dengan sabar dan lapang dada. Biasanya, reaksi awal ketika anda mendapatkan masalah adalah merasa tidak perccaya bahwa masalah itu terjadi. Jika anda seperti itu, justru akan membuat masalah menjadi semakin berat karena tanpa disadari energi anda terkuras memikirkan hal tersebut. Cobalah untuk bersikap santai, ikhlas, dan tidak panik. Dengan demikian, pikiran pun akan lebih tenang dan memudahkan anda mencari cara memecahkan masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, carilah akar penyebab masalah tersebut. Tak ada salahnya meminta bantuan dari kerabat atau rekan yang dapat dipercaya untuk membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Hal ini pun dapat membantu mengurangi kegelisahan dan kekhawatiran anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketiga, cobalah memilah masalah menjadi baagian-bagian kecil, lalu selesaikanlah masalah tersebut secara bertahap. Dengan memilah-milah masalah yang besar gambaran masalah anda akan terlihat lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, setelah mengidentifikasi berbagai penyebab masalah, anda akan lebih mudah berkosentrasi untuk mencari solusinya satu per satu. Apabila masalah-masalah yang lebih kecil terselesaikan, maka secara keseluruhan akan membantu menyelesaikan permasalahan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, ambillah hikmah dari semua permasalahan yang menimpa anda. Jadikan hikmah tersebut sebagai sebuah pengalaman yang dapat membuat anda semakin berkembang dari hari ke hari. Mental anda akan semakin kuat bila semakin terbiasa menghadapi dan memecahkan berbagai masalah.&lt;br /&gt;Keenam, hindari perasaan “down” atau rendah diri setelah menghadapi masalah. Tetaplah bersemangat walaupun masalah datang mendera. jangan biarkan masalah memadamkan kreativitas anda. Seberat apapun masalah anda, tetaplah beryukur karena anda telah diberi “bumbu” kehidupan oleh Tuhan. (INO/Kompas /Klasika/20/112008)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5837974149165796939?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5837974149165796939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5837974149165796939' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5837974149165796939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5837974149165796939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/meracik-masalah-dengan-tepat.html' title='MERACIK MASALAH DENGAN TEPAT'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtehv979CI/AAAAAAAAAHU/b-zfASmqUJw/s72-c/meracik+masalah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-2170357519506177318</id><published>2008-12-06T21:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-06T21:14:11.325-08:00</updated><title type='text'>“NOTHING IS FREE”</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtbRxHE3JI/AAAAAAAAAHE/nxPJqku99lg/s1600-h/nothing+is+free.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276911749193587858" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 164px; CURSOR: hand; HEIGHT: 184px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtbRxHE3JI/AAAAAAAAAHE/nxPJqku99lg/s400/nothing+is+free.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;“NOTHING IS FREE”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah seminar, pada waktu universitas negeri belum mandiri, seorang mahasiswa yang mengaku kuliah di sebuah universitas negeri besar mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada disiplin ilmu yang sedang ditekuninya dan berkeinginan sekali “pindah bidang”. Ia terkejut saat saya berkomentar bahwa ia sudah menyia-nyiakan uang negara. Dengan membayar uang kuliah, ia merasa telah melunasi kewajibannya, tanpa menyadari bahwa subsidi negara begitu besar kepada universitas-universitas negeri, sehingga uang kuliah yang dibayarkannya sebenarnya tidak masuk akal alias terlalu murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita memang bisa lupa akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap apa yang sudah kita terima. Tak sedikit orang yang tidak mengerti bahwa hidupnya di dalam suatu situasi, tempat atau negara juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Mungkin kita juga sulit menghitung berapa banyak orang yang tak peduli atau bahkan berusaha untuk lolos dari kewajiban membayar cukai atau pajak, padahal pajak sangat vital dibutuhkan agar pemerintah mempunyai dana untuk membangun infrastruktur, menalangi kesulitan keuangan, membayar utang negara, membiayai pendidikan dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, apa yang diterima oleh orang lain, seperti fasilitas, upah, imbalan dan kemudahan, sering juga tidak mengerti oleh orang-orang yang tidak mendapatkannya. Saya terhenyak ketika cucu saya menanyakan apakah orang berkeinginan menjadi “orang penting” agar bisa mendaptkan kemudahan, seperti diskon, duduk di kelas satu, menghindari kemacetan dengan gaung sirene? Padahal, bila kita renungkan sejenak, di balik apa yang diterima oleh seseorang pastilah ada “harga yang harus dibayar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pembantu rumah tangga saya bercerita bahwa pada usia 6 tahun, ia perlu mencari kayu kering dulu, sebelum ibunya bisa memasak nasi untuk sarapan. Saya jadi ingat ungkapan yang sering disebut-sebut abang saya semasa kecil, “Di dunia ini tak ada yang gratis, kecuali sinar matahari”. Saya semakin menghayati ungkapan tersebut, ketika akan memasang sumur pompa berkedalaman besar. Ternyata sumur pompa tersebut kemudian dipasangi meter dan setiap kubik air yang tersedot perlu dibayarkan kepada pemerintah, karena air tanah pun adalah milik negara dan perlu dikelola pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sadari Risiko dalam Setiap Pilihan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang, terutama di negara-negara maju, merasa sangat terpukul dengan terpuruknya pasar saham yang setelah ditunggu berhari-hari tidak juga kunjung pulih, bahkan merosot lagi. Pertanyaan mengenai: “kapan pasar pulih lagi?” beredar dengan harapan adanya pihak menciptakan “magic” dengan mengangkat kejatuhan yang dibuat oleh sekelompok manusia yang tidak ada puasnya. Kita lihat bahwa yang dialami oleh para pengusaha dan investor adalah keharusan menelan konsekwensi dari risiko yang diambil. Apapun pilihan yang kita ambil, kita perlu sadar bahwa ada harga yang perlu dibayar. Di Indonesia, ungkapan Sri Mulyani agar para pengusaha mengurus dan menjaga keuangan perusahaan baik-baik, tentunya menandakan tidak akan ada bantuan “gratis” lagi dari negara untuk menolong pengusaha yang terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap peran dan pilihan kita, apakah sebagai wirausaha, pengelola lembaga keuangan, investor, pegawai, pegawai negeri, anggota DPR atau bahkan warga negara, akan senantiasa melekat hak, kewajiban dan konsekwensi serta risiko. Ada pejabat negara dengan gaji yang cukup, dihormati oleh publik, namun beban yang ditanggung berat dan memerlukan dedikasi tinggi. Ada yang memilih pekerjaan mudah, namun bayaran dan risiko yang kecil. Investor yang menginginkan untung yang besar pastinya juga sepenuhnya sadar bahwa risiko keterpurukan yang dialami bisa parah. Selebritas pun membayar kepopulerannya dengan keharusan menjaga penampilan setiap saat, kemungkinan digosipkan dan hilangnya privasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menilai dengan “Fair”, Membayar dengan “Pas”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh terkejut ketika teman saya yang cukup berada, tampak berusaha sekali untuk secara memelas meminta keringanan membayar uang pangkal dan uang pembangunan sekolah putra-putrinya. Komentarnya, “Kalau belum dapat diskon, rasanya kurang sreg”. Saya jadi bertanya-tanya, apakah ia tidak menghitung bahwa kontribusi yang diberikannya untuk sekolah akan dinikmati kembali dalam bentuk fasilitas belajar bagi putra-putrinya untuk menguasai disiplin ilmu? Apakah alasan bahwa masih banyak terjadi penyelewengan dan korupsi, memperbolehkan orang untuk tidak berkontribusi atau membayar yang “pas”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaksukaan kita untuk berhitung atau menilai, serta meningkatkan kesadaran kegiatan “membayar” sering menyebabkan kita jadi tidak bisa menimbang ataupun menyeimbangkan hak dan kewajiban. Karyawan yang prestasinya biasa-biasa saja, kemudian di akhir tahun tetap menuntut kenaikan gaji karena karena harga di pasar naik, sebetulnya menuntut lebih dari haknya. Sebaliknya, bila individu berprestasi baik sehingga perusahaan untung, kita semestinya tidak perlu sungkan-sungkan mengungkapkan agar perusahaan ingat untuk membayar lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi individu, kita sebenarnya perlu menanamkan sikap fair pada diri sendiri dan pada pihak eksternal. Ukuran yang paling mudah sebenarnya adalah uang. Membayar iuran, pajak, tilang dengan benar adalah latihan yang paling baik untuk meningkatkan “awareness” akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap pembangunan. Bila hal ini sudah kita lakukan, kita bisa meningkat lebih jauh untuk menghitung “harga” yang harus kita keluarkan untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan. Misalnya, untuk bisa berprestasi tinggi, kita perlu membayar dengan latihan dan kerja keras, di saat orang lain memilih bersantai. Agar direspek sebagai orang yang anggun dan bisa mendapatkan servis yang baik, terkadang kita harus membayar dengan kesabaran menunggu, mengantri tanpa melakukan suap atau membeli catutan. Untuk mempertahankan pelanggan, tak jarang kita juga perlu membayar dengan mengorbankan waktu, bahkan perasaan. Demikian pula kita dan perusahaan perlu mematuhi berbagai larangan untuk bisa mendapatkan predikat “corporate governance”. Sepanjang kita masih bisa menyeimbangkan diri, dan tidak mengorbankan bahkan menjual prinsip, kita bisa berjalan lebih tegap, sehat mental dan perkasa bila merasa sudah membayar dengan “pas”. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ EXPERD/ 01/11/2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-2170357519506177318?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/2170357519506177318/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=2170357519506177318' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2170357519506177318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/2170357519506177318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/nothing-is-free.html' title='“NOTHING IS FREE”'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtbRxHE3JI/AAAAAAAAAHE/nxPJqku99lg/s72-c/nothing+is+free.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5838629561468825682</id><published>2008-12-06T21:03:00.000-08:00</published><updated>2008-12-06T21:07:26.772-08:00</updated><title type='text'>GENGSI</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtZ7n7OG3I/AAAAAAAAAG8/zBH_6Ji2ny8/s1600-h/gengsi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276910269259193202" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 140px; CURSOR: hand; HEIGHT: 119px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtZ7n7OG3I/AAAAAAAAAG8/zBH_6Ji2ny8/s400/gengsi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Saat Saya bicara di dalam pelatihan-pelatihan bahwa feedback adalah hal yang &lt;em&gt;unavoidable&lt;/em&gt; atau tidak terhindarkan untuk perbaikan dan pengembangan diri, hampir selalu saja ada ‘curhat’ dari peserta menenai banyaknya mereka menemui individu senior yang tidak welcome, sulit atau bahkan meradang saat menerima umpan balik. Saya menduga, bahwa salah satu alas an seseorang sulit menerima umpan balik mengenai kinerja, kesalahan dan pengembangan dirinya, terutama di negara kita ini, adalah lebih dilatarbelakangi gengsi yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik dipandang sebagai sesuatu yang menjatuhkan ‘muka’ dan menurunkan gengsi. Apalagi bila senior berada pada situasi harus bekerja di bawah pimpinan yang lebih muda, pintar namun kurang pengalaman, bisa-bisa makin besar pula kadar gengsinya. Komentar seperti “anak kemarin sore”-lah “belum pengalaman”-lah dan banyak alasan lain, seakan tidak memperbolehkan diri kita untuk melihat ke dalam dan berpikir mengenai kapasitas, kompetensi, kontribusi dan komitmen yang selama ini kita tampilkan, sehingga kita tidak dipilih menjadi pimpinan tim dan dilangkahi oleh yang lebih muda-muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ahli mengatakan bahwa gengsi adalah dominasi masyarakat Asia. Pada masyarakat Jawa bisa dikonotasikan dengan “projo”, oleh masyarakat Cina dekat dengan pengertian “mianzi” (nama baik) dan “lian” (karakter moral). Dalam bahasa Inggeris sendiri memang tidak ada kata tepat untuk fenomena “menjaga muka” ini, kecuali gabungan antara “reputasi” dan “esteem”. Namun kapanpun dan di negara manapun, setiap orang memang punya kebutuhan untuk menjaga “image” dirinya di depan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Agendakan Bermawas Diri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Andrew Oswald, seorang ahli ekonomi dari University of Warwick, mengatakan bahwa manusia mempunyai nasib untuk selamanya membandingkan dirinya dengan orang lain. Bila kegiatan membandingkan diri ini dilandasi “kerakusan” dan hal-hal yang ada di permukaan saja, maka individu bisa melakukan tindakan salah, berdasarkan analisa pribadinya itu. Tentunya kita ingat cerita klasik, seorang istri membandingkan diri dengan tetangga yang baru membeli motor dan suaminya pulang, ia merengek untuk juga dibelikan motor baru, tanpa berpikir mengenai pendapatan, kesempatan dan kemampuan keluarga untuk meningkatkan konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita tidak punya agenda untuk senantiasa “mengisi diri” dan mencerdaskan diri sendiri, sangat mungkin terjadi situasi membandingkan diri tanpa berupaya menganalisa lebih mendalam, kita ulangi lagi dan lagi. Pada akhirnya, analisa-analisa ini bisa bertumpuk dan berakibat pada kedangkalan berpikir, sehingga kita hanya bisa menumbuhkan “esteem” atau harga diri atau merasa “bergengsi” melalui hal-hal dangkal dan di permukaan saja, seperti materi, jabatan, fasilitas, serta apa yang dikenakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya adalah istri seorang ahli perminyakan. Saya mendengar sendiri ia mengomel pada sebuah jamuan makan di rumahnya, “Pah, masa orang lain sudah ganti mobil Maserati, kita masih Kijang Kijang juga ...” Ketika diusut, siapa pengendara Maserati itu, ternyata mereka adalah pemilik perusahaan minyak tempat suaminya bekerja yang kebetulan bersahabat dengannya. Analisa mengenai pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan yang sangat sederhana ini bisa sulit dilakukan bila kita memang tidak berlatih untuk menjadi lebih “dalam” dan mawas diri. Oleh Oswald, gejala ini disebut sebagai “happiness economics”, dimana kebahagiaan sangat relatif dan bergantung pada kegiatan membandingkan diri dengan orang lain, dari waktu ke waktu, lalu mengakibatkan individu tidak pernah stop untuk meningkatkan kebutuhannya. Bisa saja kita jadi terjebak menghalalkan berbagai cara untuk mengejar kedudukan, kekayaan, namun sekaligus membuat makna kemanusiaan kita hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Mengangkat Gengsi: “Being versus “Having”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila kita mau sedikit bermawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal dari sebatas kedudukan, kekayaan, dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermiliar dolar, gonta-ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan populer seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata publik bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seserang dibandingkan dengan “having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”-nya tapi belum tahu dari mana sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;Kita bisa menggaris bawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakekat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kita merasa gengsi naik sepeda, ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru, tetapi gaptek dalam menggunakannya? Menunjang program “busway” adalah salah satu bukti bahwa kita bisa mengangkat harga diri melalui prinsip efisiensi dan efektivitas, dimana kita bisa lebih cepat sampai tujuan tanpa harus bermacet-macet duduk bengong di dalam mobil mewah kita, dengan membayar joki pula. Jadi, manakah yang lebih bergengsi? (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ EXPERD/Kompas/Klasika/08/11/2008)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5838629561468825682?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5838629561468825682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5838629561468825682' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5838629561468825682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5838629561468825682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/gengsi.html' title='GENGSI'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STtZ7n7OG3I/AAAAAAAAAG8/zBH_6Ji2ny8/s72-c/gengsi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5246386514991493793</id><published>2008-12-05T01:08:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T01:10:32.950-08:00</updated><title type='text'>MENEROBOS MASA DEPAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STjv_atvCYI/AAAAAAAAAG0/SFN-KO69vFs/s1600-h/my+future.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276230836246481282" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 143px; CURSOR: hand; HEIGHT: 126px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STjv_atvCYI/AAAAAAAAAG0/SFN-KO69vFs/s400/my+future.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;MENEROBOS MASA DEPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh yang mencalonkan diri menjadi presiden menyapa saya dan menanyakan komentar saya mengenai fakta bahwa ia mencalonkan diri sebagai presiden. Saya betul-betul membutuhkan waktu untuk mencerna apa dan bagaimana kriteria seorang presiden, sampai saya akhirnya berkomentar menyatakan kekaguman saya pada keberanian dan kesiapannya. Ia tentunya sudah merencanakan terobosan-terobosan, inovasi dan solusi bagi keadaan negara yang sangat kompleks dan besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sadari bersama bahwa selain krisis energi di tengah kekayaan sumber daya yang belum termanfaatkan seperti air, angin, laut, kita sudah menghadapi masalah-masalah seperti emisi karbon yang harus distop, sementara konsumsi mobil meningkat terus. Biaya pengobatan pun kini sudah tidak terkendalikan mahalnya dan tidak bisa ditanggung oleh kebanyakan orang lagi. Masalah kemiskinan yang diduga sudah mencapai titik nadir, tetapi tetap anjlok lebih dalam dan lebih dalam lagi. Belum lagi bicara terorisme yang selain membunuh orang juga mematikan bisnis dan kesejahteraan rakyat, seperti kejadian di Bali. P-R para pemimpin tentunya tidak berpolitik saja, tetapi juga melakukan hal-hal “back to basic”, program-program “fusion”, atau bahkan membuat “quantum leap”, banting stir, tidak sekadar mereplikasi upaya yang ada tanpa perbaikan, sementara juga membuat proses yang ada berjalan lancar dan tanpa ada hambatan. Mungkin tepatnya, pemimpin perlu kompetensi super istimewa, seperti memperbaiki mobil dalam keadaan sedang berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi yang Menggerakkan Masa Depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara masa depan, tentulah tidak bisa dihindari, mata kita juga tertuju pula pada generasi yang baru. Berkat jasa para pendahulu, kita sekarang berada pada generasi yang lebih berfasilitas dan lebih berpendidikan dari sebelumnya. Perubahan kilat dan daya tahan untuk menghadapi kompleksitas hidup pun sudah meningkat. Kita sudah punya akses ke informasi apapun dan juga terkoneksi ke manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang mengatakan bahwa generasi sekarang sudah tidak setangguh generasi dulu. Generasi sekarang tinggal menikmati apa yang sudah dilandaskan oleh generasi pendahulu. Padahal kita mengenal ‘Gen Y’ anak muda sekarang, jauh lebih kreatif, inventif, tahu bagaimana menikmati dunia dan kebebasan. Kreativitas, inovasi serta pikiran bebas sudah menyebabkan generasi baru sudah “beda” dengan generasi lalu. Tanpa terasa “alih generasi” sudah terjadi. Karakteristik ini tentunya menjadi kekuatan untuk menanggulangi abad ke-21 yang sudah di depan mata. Sekaranglah saat-saat perpindahan tongkat estafet, dimana semua hasil karya pendahulu bisa kita nikmati dan perlu diteruskan dengan upaya lebih keras, kreatif dan “beda”. Kalau tidak kita akan terjebak di dalam vakumnya kepemimpinan dan bingung antara mengikuti spektrum lama dan sibuk melakukan penyanggahan, komplain, meratapi keterbatasan dan berontak. Kitalah yang perlu membawa lingkungan untuk menanggapi tantangan abad selanjutnya, menemui kesejahteraan bentuk baru. Dengan adanya darah baru kita sebetulnya berharap akan langkah-langkah yang segar, positif, penuh inspirasi sehingga kekuatan intelektual dan sosial yang berasal dari generasi muda menjadi motor penggerak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun bisa dengan mindset “out of the box” mengembangkan “inside the box” kita. Sebagai inspirasi, kita bisa tengok Thailand, yang area istananya dipenuhi dengan laboratorium-laboratorium yang menjadikan kita dapat menikmati durian monthong secara murah meriah, menikmati beras impor Thailand, bahkan mengimpor iklan karena profesionalisme pembuatan iklan yang diriset di istana. Negara tetangga kita yang lain, Malaysia, yang meskipun garis pantainya begitu pendek, sedang gencarnya mengembangkan marine agriculture atau inshore aquaculture. Mengapa kita yang punya garis pantai kedua terpanjang di dunia, luput mengembangkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut Tantangan dengan Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi para manajer di perusahaan baik di dalam rapat kerja atau analisa penjualan atau bisnis yang kerap menggambarkan kekuatan dan kesempatan di satu sisi, ancaman dan kelemahan di sisi lain, atau SWOT, sering menjebak kita semua untuk berkubang dan memelototi kelemahan diri dan tidak berusaha keluar dari sumur kubangan tersebut? Pendekatan “positive psychology” menganjurkan agar kita hanya menggunakan analisa ancaman dan kelemahan sebagai langkah awal. Kemudian, ‘sejarah’ itu kita simpan baik-baik di belakang untuk berfokus pada S-O-A-R (strength, opportunity, action, result), yaitu masa depan, action dan hasil. Pendekatan seperti ini akan membawa kita dari intelektualisme menuju aktivisme, berorientasi pada gerak sehingga membawa aura “dinamisme”. Kreativitas pun akan dimanfaatkan betul-betul untuk menyambut tantangan. Konsenterasi pada action dan result ini juga lebih cocok untuk generasi sekarang yang cenderung lebih instan dan ingin “menyaksikan hasil” dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keaktifan Menerobos akan Membawa Hawa Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greget untuk menuju pada kemajuan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan ataupun kualitas hidup lainnya, dalam kondisi “constant change” dan kompetisi, tidak-bisa-tidak tetap perlu dibawa ke depan. Untuk itulah pemimpin butuh visi, strategi dan komitmen yang super kuat. Kesenjangan yang sedang digarap bukanlah sekadar kesenjangan antara masa sekarang dan masa depan, tetapi juga kesenjangan antara masa depan dan komitmen pemimpinnya, antara tindakan yang sudah dibuat dengan keadaan “turbulence” selanjutnya, yang disebut seorang ahli sebagai “Energetic Gap”, yaitu kekuatan energetik yang menembus terciptanya suatu program yang mantap dan antisipatif dari sesuatu yang tidak usah selalu baru dan banyak ongkos, tetapi belum pernah terpikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya pemimpin yang berorientasi paternalistik dan berangan-angan menjadi panutan bagi anak buah rasanya sudah kurang cocok dalam situasi sekarang dimana stakeholder, anak buah, pelanggan sudah ‘sama pandainya’ dengan para pemimpin. Satu-satunya jalan yang dimiliki pemimpin untuk menggerakkan dan mencatat sukses adalah dengan mengajak, mencontohkan kegiatan belajarnya, dan mengakui ketidakbisaannya dengan jujur dan transparan. “leraning” buat para pemimpin perlu menjadi nafas dinamikanya, dimana perlu didorong “blur the line” antara learning dan kerja. Pemimpin yang baru perlu tahu memanfaatkan kompetensi teknis baru pada proses-proses yang berjalan sekarang dan dengan serius mengembangkannya baik di dalam laboratorium maupun dalam diskusi-diskusi sehingga hasil olahan tersebut menelorkan program-program pembenahan, campuran atau yang sama sekali baru. Pemimpin pun perlu sangat transparan akan sasaran dan harapannya, karena hanya dengan pemahaman yang kuat dari para pengikutlah energi yang dibutuhkan untuk bergerak bisa menyala dan tumbuh. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri/ EXPERD/ Kompas/ Karir/ 02 Agustus 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5246386514991493793?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5246386514991493793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5246386514991493793' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5246386514991493793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5246386514991493793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/menerobos-masa-depan.html' title='MENEROBOS MASA DEPAN'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STjv_atvCYI/AAAAAAAAAG0/SFN-KO69vFs/s72-c/my+future.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-6136105272578170477</id><published>2008-12-04T01:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T01:20:23.011-08:00</updated><title type='text'>KRISIS?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STegMEaUohI/AAAAAAAAAGs/2PczuuN00D4/s1600-h/crisis.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275861617690845714" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 118px; CURSOR: hand; HEIGHT: 116px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STegMEaUohI/AAAAAAAAAGs/2PczuuN00D4/s400/crisis.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;KRISIS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyaksikan jumpa pers “full team” para pejabat eksekutif moneter Indonesia terkait dampak dan antisipasi krisis ekonomi global, hari Minggu (05 Oktober 2008) lalu, saya seketika teringat pengalaman dan perasaan luluh-lantaknya saya menghadapi krisis ekonomi tahun 1997-1998. Saya ingat betul, betapa saat itu hutang menjadi berlipat, suku bunga melonjak, order kerja merosot sampai ke titik nol, yang mau tidak mau berakibat pada pengurangan karyawan, kehilangan pekerjaan dan jatuhnya mental untuk waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan dalam jumpa pers kemarin bahwa pemerintah akan mempercepat reformasi ekonomi dengan pebaikan iklim investasi, perbaikan sarana dan prasarana, percepatan pengadaan listrik yang menjadi keluhan investor, dikomentari oleh media sebagai sesuatu yang klasik, abstrak dan membosankan. Tentunya kita jadinya bertanya-tanya, apakah reformasi ekonomi bisa menjadi jalan keluar instan bagi gejala yang akut seperti ini? Bukankah keadaan ini hanyalah sebagai detonator sebuah depresi, baik kultural, gaya hidup, lingkungan, ekonomi dan politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara krisis, tentunya kita pun sangat menyadari, namun terkadang membutakan diri,bahwa praktik-praktik seperti rendahnya disiplin kerja, disiplin waktu, pelanggaran ketertiban, kurangnya ambisi, kesulitan beradaptasi terhadap perubahan dan kesukaan pada hal-hal irrasional menjadi fenomena yang menyebabkan kita lumpuh untuk bereaksi terhadap keadaan ekonomi dan moneter, sulit menghindari dampak krisis dan menjadikan kita sulit bangkit kembali saat didera keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada level yang lebih tinggi, bisa jadi kita juga sudah lelah menyaksikan pemberitaan seputar pemberantasan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), penegakan hukum, transparansi dan wacana kepemimpinan yang menjanjikan sebuah tata kelola pemerintahan yang lebih baik, yang mungkin memang sedang diupayakan. Korupsi dan inefisiensi yang merajalela inilah yang menyebabkan manajemen negara kita lemah, tidak mempunyai “power” untuk memaksa rakyat berubah, sehingga tidak bisa diandalkan akan memberi hasil segera. Kitalah sebagai individu yang perlu mengantisipasi, mengurangi keserakahan, dan menghentikan gaya hidup “besar pasak daripada tiang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu Apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 23 September 2008, seusai Olimpiade, Beijing melakukan aksi turning out lights (pemadaman lampu), dengan misi meningkatkan kesadaran akan langkanya energi. Banyak sekali orang berkomentar bahwa tindakan tersebut hanya formalitas belaka. Namun paling tidak, upaya pemerintah Cina untuk membuka mata, telinga dan hati rakyatnya dalam menghadapi krisis energi, dilakukan bukan sekedar berupa wacana saja. Minimalnya, masyarakat jadi lebih mengerti dan lebih bisa mengantisipasi apa yang akan dialami, bila kemungkinan terburuk terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita? Bila pemerintah menyerukan untuk melakukan tindakan-tindakan positif demi bertahannya kekuatan ekonomi kita, haruskah kita menunggu saja? Sudahkah kita bergerak, mengeluarkan ide dan saling mengingatkan, sehingga “doing” dan “being” kita optimal? Sudahkan bangsa kita yang mempunyai kultur musyawarah yang kuat, duduk bersama dan melakukan “brainstorming” dengan intensif untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomis serta pemotongan ongkos yang tidak perlu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergaya Hidup Ekonomis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca kiriman dalam milis, mengenai prinsip hidup sederhana yang dijalani Warren Buffet, orang kedua terkaya di dunia, saya menjadi malu sendiri. Saya menyadari betapa kita ini hidup dalam kemanjaan yang membawa kita ke dalam kehidupan yang buta ekonomi. Prinsip ekonomi yang dijalankan oleh Warren, seperti menabung uang kecil, hanya mengkonsumsi apa yang dibutuhkan, mencapai sasaran secara ekonomis, sangat bertentangan dengan gaya hidup kita yang eksesif, seperti punya 2-3 handphone dan kendaraan, menggunakan tissue yang kesemuanya berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat krisis pangan sudah didengungkan, cepat atau lambat akan dihadapi oleh negara kita yang perlu memberi makanan sehat kepada 225 juta rakyatnya, mestinya kita bisa saling menyadarkan bahwa kita tidak lagi pernah ingin kembali ke tahun 1950-an, saat pangan saja menjadi sasaran yang sulit dicapai. Situasi ini mengingatkan kita Mahatma Gandhi saat membangkitkan kesadaran rakyat India untuk mengangkat kehidupan ekonomi mereka. Dengan prinsip Swadeshi yang digaungkannya, rakyat India didorong untuk membeli hasil tenunannyasendiri, padahal saat itu mutu tenunan India sama sekali jauh di bawah standar. Perlahan tapi pasti, gerakan Swadeshi mengangkat rakyat India untuk bangga dengan produksi dalam negerinya, meningkatkan spirit servis, menguatkan disiplin beragama dan kemanusiaan, da mendorong India menjadi bangsa yang berbudaya kuat sekaligus mandiri, percaya pada kekuatannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya terobosan ala Gandhi-lah yang perlu kita lakukan. Tidak usah secara massal, karena kita bisa mulai dari diri sendiri, dari rumah dan dengan keberanian tersendiri. Kita bisa mulai berbagi kendaraan yang ditumpangi, nebgurangi pemakaian listrik, bahkan menyehatkan diri dengan banyak melakukan aktivitas manual dan fisik, misalnya bersepeda, ketimbang mondar-mandir mengendarai motor besar berharga ratusan juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya ada resiko bila kita melawan arus gaya hidup yang sudah tertanam di kehidupan kita. Kita mungkin akan dianggap kurang “keren” kalau kita berhemat, bergaya hidup secukupnya, berdandan atau berkendaraan seperlunya. Tetapi, kalau dengan gaya hidup ini kita akan “survive” dalam menghadapi krisis ekonomi manapun dan dimanapun, mengapa tidak? Meskipun kita tidak perlu ssampai bersikap ‘anti mesin’ sepertizaman Mahatma Gandhi lagi, tetapi bersikap ekonomis rasanya tetap merupakan sikap yang paling modern dan pintar. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri, Experd – Kompas/Klasika 18 Oktober 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-6136105272578170477?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/6136105272578170477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=6136105272578170477' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6136105272578170477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6136105272578170477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/krisis.html' title='KRISIS?'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STegMEaUohI/AAAAAAAAAGs/2PczuuN00D4/s72-c/crisis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-6147385939773084594</id><published>2008-12-04T01:14:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T01:16:18.417-08:00</updated><title type='text'>MENGENAL TANDA TERSERANG STRES</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STef0u9ZgQI/AAAAAAAAAGk/3CmxCCmpG2Q/s1600-h/stres.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275861216795394306" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 197px; CURSOR: hand; HEIGHT: 148px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STef0u9ZgQI/AAAAAAAAAGk/3CmxCCmpG2Q/s400/stres.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;MENGENAL TANDA TERSERANG STRES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah lazim terdengar, mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa dirinya terserang stres. Memang, setiap orang memiliki tanda stres yang berbeda. Namun, tak ada salahnya menilik beberapa hal yang kerap dijadikan indikator bila stres telah menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tau apa saja? Berikut adalah beberapa di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, terjadi perubahan emosi dalam diri seseorang. Jika stres menyerang, biasanya seseorang menjadi lebih mudah marah meski gara-gara hal sepele. Stres berlebihan dan berkepanjangan dapat menghilangkan rasa percaya diri dan memicu timbulnya depresi. Hal ini kadang terjadi tanpa disadari, sehingga keadaan lebih runyam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, perubahan nafsu makan. Emosi yang tidak stabil secara tidak langsung memang berpengaruh pada nafsu makan. Pada beberapa orang, nafsu makan bisa tiba-tiba hilang. Sementara pada orang lain, stres dilampiaskan dengan makanan, yang dianggap dapat membantu mengembalikan ketenangan diri. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin memicu timbulnya keluhan lain dari dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tanda-tanda stres menyerang bisa dilihat melalui wajah. Baik melalui perubahan raut wajah yang terlihat kusam dan murung, maupun timbulnya beberapa jerawat di sekitar area wajah. Hal ini dipicu oleh ketidakseimbangan hormon akibat stres yang mendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, jika terus berulang, lama kelamaan tubuh pun ikut merasakan dampak ketika stres menyerang. Keluhan berupa rasa letih secara terus menerus merupakan salah satu hal yang kerap dijumpai. Terlebih bila diiringi gangguan tidur atau insomnia, yang juga memicu timbulnya rasa lelah berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda mengalami salah satu atau beberapa tanda di atas, tak ada salahnya menilik kembali rutinitas sehari-hari. Berilah waktu istirahat sejenak bagi tubuh dan pikiran anda, agar dapat beraktivitas secara maksimal. Selain itu, melakukan olahraga secara rutin juga dapat membantu mengembalikan stamina dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh. (Ragam/Kompas Klasika 06 November 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-6147385939773084594?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/6147385939773084594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=6147385939773084594' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6147385939773084594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6147385939773084594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/mengenal-tanda-terserang-stres.html' title='MENGENAL TANDA TERSERANG STRES'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STef0u9ZgQI/AAAAAAAAAGk/3CmxCCmpG2Q/s72-c/stres.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-861987574110794043</id><published>2008-12-03T01:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T01:29:18.970-08:00</updated><title type='text'>KETIKA HARI WAWANCARA TIBA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STZRVemcvcI/AAAAAAAAAGc/EKp9y_90YlU/s1600-h/interview.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275493442944548290" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 167px; CURSOR: hand; HEIGHT: 158px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STZRVemcvcI/AAAAAAAAAGc/EKp9y_90YlU/s400/interview.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;KETIKA HARI WAWANCARA TIBA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Beberapa tahapan seleksi penerimaan karyawan baru, biasanya diawali dengan aneka tes tertulis dan psikotes. Jika berhasil lolos dalam tahapan tersebut, maka selanjutnya calon karyawan akan dihadapkan pada wawancara atau interview dengan calon bos atau pejabat terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahapan inilah, biasanya terlihat kepribadian si calon karyawan secara umum. Terlihat pula bagaimana sikapnya ketika menghadapi orang, bagaimana caranya memandang sesuatu, bagaimana ia menghadapi sesuatu masalah, dan banyak hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, tak heran bila proses ini sering kali dianggap sebagai faktor penentu diterima tidaknya ia di perusahaan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat proses ini cukup penting, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:&lt;br /&gt;Gunakanlah busana yang sopan namun tetap menarik. Tak dapat disangkal bila penampilan yang sopan dan menarik bisa menimbulkan kesan pertama yang positif. Selain itu orang pun akan merasa lebih dihargai jika anda menemui mereka dengan kemeja, blazer, dasi, serta rok atau celana berbahan kain ketimbang kaus kerah plus celana jeans.&lt;br /&gt;Ada baiknya jika anda berdandan secara natural dalam arti tidak menor dan berlebihan. Hindari pula dpakaian dengan warna yang seronok dan menyilaukan mata. Pilih saja pakaian kerja dengan warna-warna yang netral seperti hitam, putih, abu-abu, biru atau coklat.&lt;br /&gt;Saat proses wawancara berlangsung, duduklah dengan sopan, kaki rapat, dan dada tegak. Hindari sikap tubuh membungkuk atau loyo.&lt;br /&gt;Dalam menjawab pertanyaan, bicaralah secara tegas dengan intonasi yang sedang namun mantap. Tunjukkan optimisme anda dalam menghadapi kendala yang mungkin muncul dalam bidang diminati. Ingatlah, dari cara bicara pun bisa terlihat kepribadian dan keseriusan anda terhadap pekerjaan.&lt;br /&gt;Dalam berbicara, biasakanlah menatap mata orang yang bersangkutan. Hindari kebiasaan ‘belanja’ mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penampilan, sikap tubuh, dan cara bicara yang sopan, plus IPK, CV dan pengalaman kerja yang memuaskan, yakinlah bahwa anda dapat bekerja di perusahaan yang diinginkan. (AYA-Kompas Klasika Minggu 15 Juni 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-861987574110794043?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/861987574110794043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=861987574110794043' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/861987574110794043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/861987574110794043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/ketika-hari-wawancara-tiba.html' title='KETIKA HARI WAWANCARA TIBA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STZRVemcvcI/AAAAAAAAAGc/EKp9y_90YlU/s72-c/interview.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-5295488049047706030</id><published>2008-12-01T21:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T22:02:15.805-08:00</updated><title type='text'>Enam Langkah Sukses Meniti Karir</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STTPWaMZrCI/AAAAAAAAAGU/IEVaDLRgE8k/s1600-h/meniti+karir.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275069047453101090" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 124px; CURSOR: hand; HEIGHT: 83px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STTPWaMZrCI/AAAAAAAAAGU/IEVaDLRgE8k/s400/meniti+karir.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Enam Langkah Sukses Meniti Karir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun karyawan yang tak ingin sukses. Semua pasti ingin memiliki jenjang karir yang menjanjikan masa depan cerah. Untuk meraihnya, tentu saja dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tip berikut, mungkin dapat membantu anda mencapai jenjang karir yang diinginkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdedikasi Tinggi.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan cita-cita akan karir anda yang terus berkembang, diperlukan daya juang dan dedikasi pada perusahaan yang tinggi. Usahakan jangan berdedikasi jika hanya ingin mendapatkan promosi jabatan semata. Lakukan semua pekerjaan dengan disiplin yang tinggi. Bila perlu disertai dengan prestasi yang menonjol di bidang anda geluti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berinisiatif.&lt;br /&gt;Jangan ragu untuk melontarkan ide dan inisiatif. Tunjukkan pula hasil karya, penyelesaian tugas, kerja sama dengan komunikasi yang memuaskan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menambah ilmu dan Pengalaman.&lt;br /&gt;Tingkatkan kepercayaan diri dengan memperbanyak ilmu dan keteranpilan yang relevan dan signifikan agar dapat memberikan hasil karya yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak gagap Teknologi.&lt;br /&gt;Di jaman yang serba canggih ini, ada baiknya jika anda menguasai teknologi internet, penggunaan software tertentu dalam proses bisnis di perusahaan, dan teknologi yang relevan dengan kompetensi khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalin kerja sama dengan unit-unit terkait&lt;br /&gt;Pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari pasti terkait dengan unit bisnis lainnya. Oleh karena itu, ada baiknya jika anda menunjukkan sikap bersahabat, serta menghargai bantuan atau karya orang lain. Lakukan juga hubungan komunikasi yang baik dengan sesama bawahan maupun atasan. jangan lupa untuk mengucapkan kata terima kasih atas bantuan dan kerja sama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu menjaga sikap.&lt;br /&gt;Sebuah perusahaan yang berkualitas tentunya menuntut karyawannya untuk selalu menjaga penampilan diri, serta kesopanan dalam tutur kata. Ada baiknya jika anda selalu menyesuaikan cara berpakaian dengan budaya perusahaan yang berlaku. Terlebih sikap ramah, tersenyum, dan sopan yang selalu ditunjukkan dalam perilaku kerja. (AYA – Karir – Klasika Kompas Minggu, 1 Juni 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-5295488049047706030?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/5295488049047706030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=5295488049047706030' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5295488049047706030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/5295488049047706030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/enam-langkah-sukses-meniti-karir.html' title='Enam Langkah Sukses Meniti Karir'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STTPWaMZrCI/AAAAAAAAAGU/IEVaDLRgE8k/s72-c/meniti+karir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-9160861076861180771</id><published>2008-12-01T00:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T00:50:15.418-08:00</updated><title type='text'>BERPIKIR KRITIS</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STOlMDOHkYI/AAAAAAAAAGM/IXRx445Hkfw/s1600-h/critically+thinking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274741215022518658" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 170px; CURSOR: hand; HEIGHT: 180px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STOlMDOHkYI/AAAAAAAAAGM/IXRx445Hkfw/s400/critically+thinking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#33ccff;"&gt;&lt;strong&gt;BERPIKIR KRITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan maraknya milis dan forum diskusi yang berkomentar mengenai berbagai gejala, ada satu hal yang semakin berkembang yaitu sikap kritis individu. Ini tentu ada hubungannya dengan pendidikan dan sistem informasi yang semakin mudah diakses, sehingga siapa saja asal mau, bisa mempertanyakan situasi, keputusan dan segala macam pernyataan dan fenomena yang ada. Bukan saja pertanyaan, ungkapan perasaan, ketidaksesuaian pendapat, bahkan juga tuntutan juga terdengar, terbaca dan terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja wacana mengenai Arus Minyak Nasional, yang melibatkan protes mahasiswa, DPR, partai, badan eksekutif dan masyarakat banyak. Pertanda apakah ini? Selain demokrasi, kita bisa beranggapan bahwa generasi muda, yang akan menghadapi abad selanjutnya, sudah mempunyai daya pikir yang lebih “advanced” . “Good thinking is an important element of life success in the information age” , demikian ujar Thomas &amp;amp; Smoot (1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti setuju bahwa kegiatan berpikir adalah kegiatan yang super mulia dan merupakan anugerah Tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada makhluk lain di dunia ini yang bisa berpikir dengan cara secanggih manusia. Dengan adanya kegiatan berpikirlah manusia mampu menggambarkan isi dunia ini. Dan, dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah diuji, dibolak-balik dan dikulik di masyarakat, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berpikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Mental untu Berbeda Pendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan dan tatakrama yang diajarkan orang tua dan guru kita dulu, misalnya untuk tidak membantah, tidak berdebat untuk menjunjung harmoni, kita sadari tidak selamanya menyuburkan cara berpikir. Kita sering lupa bahwa kita punya kewajiban untuk mengasah cara pikir kita, baik di sekolah maupun setelah keluar dari sistem pendidikan. Dalam perjalanan hidup, saya menyaksikan bahwa kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru dari di-“adu”-nya pendapat kita dengan kritik, pertanyaan, keraguan orang lain, bahkan setelah perdebatan sengit. Yang paling penting, sikap mental juga perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik dan sanggahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli menyarankan agar berfokus pada isu dan bukan pada orangnya, sebagai landasan sikap rasional yang perlu dikembangkan dalam “menembak” masalah, “menelurkan” solusi, dan bukan mengumbar emosi serta kesalahan. Di sini, kita pun bisa mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih pendapat, karena kita tidak “sealiran” atau tidak menyukai individu yang berpendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sekarang, kita juga semakin sadar bahwa sekedar “asbun” (asal bunyi, asal ngomong), tanpa berlatih bertanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya, malahan bisa menjatuhkan harga diri dan kewibawaan kita sendiri. Namun demikian, memang masih banyak kita temui orang yang berpendapat tetapi tidak bertanggung jawab, misalnya, seorang sales manager yang mengatakan, “Di perusahaan ini, sistem administrasi kacau. Masakan tanda terima barang bisa ditandatangani oleh seorang salesman tanpa diketahui oleh penerima barangnya”. Pernyataan yang dilemparkan tanpa memikirkan follow up, sekedar menyulitkan orang lain dan tanpa disertai tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah pembuka diskusi yang sehat. Individu yang ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intelektual, perlu mencermati gejala, tulisan, tindakan atau keputusan dengan hati-hati. “dalam” dan berusaha mendapatkan “point” dari isu tersebut. Seruan misalnya “turunkan harga BBM”, “turunkan harga sembako” akan lebih intelek bila yang berseru sudah mempelajari, apakah gejala kenaikan BBM ini melulu disebabkan oleh korupsi atau gejala mendunia. Kita pun perlu membedakan fakta dari pendapat, kasus dari gejala umum, membersihkan “bias” selain juga tidak berpikir “hitam putih” saja, dan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita sebelumnya kita tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikir Sehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individu, tidak terlepas berapa usianya, sering tidak menyadari kesalahan berpikirnya. Ada yang dari muda sampai tua tetap keras kepala. Ada juga yang tidak pernah sadar bahwa ia “sok tahu”, meyakini sesuatu tanpa pernah meng”update ataupun mengecek kebenarannya lebih lanjut. Banyak juga orang berasumsi bahwa kekuatan berpikir berkorelasi besar dengan IQ, tingkat kecerdasan. Bila ada orang pintar berpendapat, orang cenderung meng-iya-kan, dan setuju. Fenomena “tunduk pada yang cerdas” ini sering menumbuhkan sikap submisif dalam kegiatan mengasah cara pikir kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya cara berpikir bisa dikembangkan dengan cara yang sangat simpel: memelihara kegiatan mempertanyakan, beranggapan bahwa setiap kebenaran itu sementara, dan bersikap “undogmatic”. Kegiatan ini sudah bisa kita amati di acara-acara debad di televisi maupun radio. Hanya saja, kalau benar-benar ingin sehat kitapun perlu menyadari bahwa otak hanya bisa menyerap sedikit informasi yang tersedia, mengenai suatu isu. Dengan keterbatasannya, otak sering melakukan “oversimplication” yang berakibat pada penyaringan fakta, asumsi maupun keyakinan individu. Berarti bila kita ingin diterima sebagai pemikir obyektif, kita pun perlu siap membuka pikiran seperti layaknya seorang anak sekolah, menyerap informasi sebanyak-banyaknya, baru kemudian memilah dan menyaring sehingga presisi, akurasi, relevansi, logika dan kedalaman bisa tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendorong Pencerdasan Bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sekarang, dimana semakin marak sekolah nasional plus, universitas swasta yang harganya bahkan bersaing dengan universitas negeri, gratisnya biaya sekolah, sangat menjanjikan tercapainya pencerdasan bangsa. Sudah waktunya kita bisa berharap untuk berada di kancah berpikir obyektif, “terang” dan positif. Meskipun kebenaran tidak disajikan begitu saja, tetap perlu dikorek-korek, dipikirkan, diendapkan dan dicocokkan, namun kita sudah boleh berharap berdiskusi dalam tingkatan yang sama, tidak meraba dalam gelap, penuh kerendahan hati tetapi tetap siap memodifikasi alam pikir kita. Dengan cara inilah kita maju dan jadi pintar, sambil tetap perlu mempunyai ‘ruang’ untuk berpikir inovatif dan kreatif. (Eileen Rachman &amp;amp; Sylvina Savitri – EXPERD, Karier Kompas 05 Juli 2008).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-9160861076861180771?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/9160861076861180771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=9160861076861180771' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/9160861076861180771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/9160861076861180771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/berpikir-kritis.html' title='BERPIKIR KRITIS'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STOlMDOHkYI/AAAAAAAAAGM/IXRx445Hkfw/s72-c/critically+thinking.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-8017199401460230766</id><published>2008-12-01T00:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T00:48:02.512-08:00</updated><title type='text'>BIASAKAN SELALU BERPIKIR POSITIF</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STOkpbeJhpI/AAAAAAAAAGE/1dJqSkaBWnw/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274740620236785298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 130px; CURSOR: hand; HEIGHT: 125px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STOkpbeJhpI/AAAAAAAAAGE/1dJqSkaBWnw/s400/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#00cccc;"&gt;BIASAKAN SELALU BERPIKIR POSITIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan dalam kehidupan, entah dalam pekerjaan atau percintaan, pasti pernah anda rasakan. Seringkali kegagalan tersebut membuat anda putus asa, tidak percaya diri, dan selalu berpikiran negatif. Padahal kegagalan seharusnya menjadi “cambuk” bagi anda untuk menjadi lebih baik lagi. Salah satu caranya adalah dengan selalu berpikir positif. Untuk membantu anda belajar berpikir positif, simaklah hal-hal berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, cobalah abaikan segala macam pikiran negatif. Gantilah pikiran-pikiran negatif anda dengan pikiran-pikiran positif dan bersifat membangun. Contohnya, ubahlah pikiran seperti, “saya tidak bisa melakukan ini”, dengan pikiran positif, “saya pasti dapat melakukan hal ini dengan baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sebelum melakukan sesuatu, jangan bayangkan sebuah kegagalan, tapi bayangkanlah keberhasilan yang akan dapat setelah melakukan hal tersebut. Ingat, biasanya apa yang anda bayangkan akan menjadi sugesti tersendiri yang menentukan berhasil atau tidaknya pekerjaan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bergabunglah dengan orang-orang berpikiran positif. Pikiran manusia itu ibarat penyakit menular. Jika anda berada di dekat orang-orang yang pikirannya dipenuhi kebahagiaan dan keoptimisan, secara otomatis anda akan terpengaruh cara berpikir mereka yang positif juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, sering-seringlah membaca buku yang dapat meningkatkan motivasi anda. Bacalah buku tersebut di waktu senggang anda. Lalu, resapilah kalimat per kalimat secara perlahan-lahan. Buku-buku inspiratif tersebut akan membantu anda berpikir positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, perbaiki cara duduk dan jalan anda. Sikap dan tingkat rasa percaya diri seseorang dapat dinilai dari kedua hal tersebut. Biasakana untuk selalu duduk dan berjalan dengan punggung yang tegak. Kebiasaan seperti ini akan membantu rasa percaya diri dan aura positif dalam diri anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, cobalah untuk tidak memikirkan sesuatu secara berlebihan. Sering kali anda terjebak karena terlalu banyak berpikir dan menghabiskan banyak waktu untuk menimbang-nimbang apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita. Padahal belum tentu hal itu benar adanya. Hal ini akan membuat anda tidak mengeluarkan kemampuan terbaik anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, pilihlah salah satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai “hari berpikir positif”. Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan anda temui bernilai istimewa. Kemudian perlakukanlah mereka secara positif. Anda akan merasakan bahwa kehidupan ini lebih indah dengan berpikir positif. (INO-Ragam Kompas Sabtu, 15 November 2008).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-8017199401460230766?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/8017199401460230766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=8017199401460230766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8017199401460230766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/8017199401460230766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/12/biasakan-selalu-berpikir-positif.html' title='BIASAKAN SELALU BERPIKIR POSITIF'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STOkpbeJhpI/AAAAAAAAAGE/1dJqSkaBWnw/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-3206845628199214003</id><published>2008-11-30T02:42:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T03:03:33.794-08:00</updated><title type='text'>Saatnya Mengembangkan Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STJuXqIKLmI/AAAAAAAAAF8/XZOdGvE8cmE/s1600-h/self+development.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 134px; height: 148px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STJuXqIKLmI/AAAAAAAAAF8/XZOdGvE8cmE/s400/self+development.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274399466328829538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saatnya Mengembangkan Diri&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Pepatah ini bukanlah sekedar isapan jempol,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena sejatinya manusia terus berkembang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seiring berjalannya waktu. Hal ini pun berguna untuk terus mengembangkan diri demi kemajuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, tips-tips berikut adalah beberapa di antaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pertama,&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; perluaslah pengetahuan anda dengan membaca. Bacalah majalah, surat kabar, atau buku dengan topik yang belum pernah anda baca sebelumnya. Melalui bacaan-bacaan tersebut anda dapat memperoleh informasi baru, yang berguna untuk merangsang munculnya ide-ide kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kedua,&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; menfaatkan waktu senggang anda dengan mengikuti kursus. Ikutilah berbagai macam kursus-kursus keterampilan, seperti fotografi, desain visual, keterampilan menulis kreatif, atau yang menunjang pekerjaan anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; salurkanlah berbagai macam ide ke dalam suatu “wadah”. Ada berbagai macam “wadah” yang dapat anda gunakan seperti tulisan, artikel, sketsa, gambar, bahkan lukisan. Anda dapat berpikir secara simbolis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan visual dengan menuangkan ide ke dalam coret-coretan berupa simbol yang menggambarkan alur pekerjaan anda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini akan membantu anda mulai berpikir dengan gambar, bukan lagi dengan kata-kata, sehingga anda pun mendapat penyegaran dalam membuat ide-ide kreatif yang berguna saat bekerja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keempat,&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; dengarkanlah musik yang dapat memacu kreativitas otak anda. Cobalah mendengarkan lagu-lagu jenis musik yang berbeda dari yang biasa anda dengar. Bahkan coba belajar memainkan intrumen musik yang baru. Hal ini akan membantu proses kreatif anda semakin berkembang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kelima,&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; kembangkanlah jaringan sosial anda dengan teman-teman yang baru. Dengan bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang baru, anda akan mendapat persepsi baru tentang kahidupan di luar sana. Pelajari juga bagaimana cara orang lain dalam memandang masalah dan mengantisipasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keenam&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;, carilah alternatif jalan atau rute lain ketika pergi dan pulang bekerja.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Selain anda tidak akan terjebak dengan rutinitas perjalanan bekerja, alternatif rute jalan juga berguna menambah pengetahuan jalan dan melatih kemampuan daya ingat. &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;(INO-Ragam Kompas Rabu 19 November 2008)&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:green;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-3206845628199214003?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/3206845628199214003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=3206845628199214003' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/3206845628199214003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/3206845628199214003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/11/saatnya-mengembangkan-diri.html' title='Saatnya Mengembangkan Diri'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STJuXqIKLmI/AAAAAAAAAF8/XZOdGvE8cmE/s72-c/self+development.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-6586413670798548199</id><published>2008-11-30T02:37:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T02:41:01.123-08:00</updated><title type='text'>Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STJthtNcjbI/AAAAAAAAAF0/qcxAI4Y3AmU/s1600-h/clearly+envizion+self+confidence.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 128px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STJthtNcjbI/AAAAAAAAAF0/qcxAI4Y3AmU/s400/clearly+envizion+self+confidence.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274398539443375538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;Kepercayaan diri merupakan salah satu faktor yang dapat membawa seseorang pada kesuksesan. Namun dalam kenyataannya untuk memperoleh hal tersebut bukanlah persoalan yang mudah. Untuk itu berikut adalah langkah yang dapat ditempuh untuk mulai menumbuhkan raca percaya diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;Pertama yang harus anda lakukan adalah mencari waktu luang yang cukup untuk melihat bidang apa saja dalam kehidupan yang membuat anda merasa mampu untuk menghadapinya. Tengoklah ke masa lalu dan ingatlah hal-hal baik apa saja yang pernah anda lalui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;Dengan hati dan pikiran yang tenang buatlah semacam daftar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berisi kemampuan atau keahlian yang unik. Misalnya anda pandai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menggambar, menulis, membaca, berjalan cepat atau keahlian/kelebihan lain yang mungkin tidak semua orang dapat melakukannya sebaik anda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak usah berpikir hal-hal besar, hal sederhana pun jika dilatih terus-menerus akan menjadi nilai yang sangat berharga yang patut dibanggakan. Jangan lupa juga untuk mensyukuri apa yang anda miliki. Karena mungkin tidak semua orang seberuntung anda. Misalnya saja dalam hal kesehatan, banyak orang harus berjuang melawan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penyakit tertentu, sedangkan anda tidak. Intinya anda harus mengembangkan sisi positif dalam diri. Ingat pula kejadian-kejadian yang membuat anda merasa bangga, kalau ini sudah dilakukan maka anda telah selangkah lebih maju menjadi orang yang penuh percaya diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;Sekarang pikirkan rencana dan mimpi-mimp yang belum terwujud. Jika anda merasa sulit untuk menemukan atau merasa sudah meraih semua mimpi, cobalah berpikir untuk merambah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke bidang-bidang yang belum pernah disentuh atau mencari sesuatu yang bisa membuat anda lebih bahagia bersama orang yang dicintai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;Sebaliknya, jika anda merasa ada begitu banyak mimpi yang belum tercapai, segera bangun berdiri dan buat rencana matang untuk mengejarnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk bisa mencapai mimpi ini mungkin membutuhkan waktu lama. Tapi jangan khawatir, memiliki rencana dan mengatur strategi untuk mengejar mimpi merupakan satu hal yang akan membuat hidup menjadi lebih bermakna. Jangan lupa untuk sesekali melakukan kilas balik untuk mengetahui sampai sejauh mana perkembangan yang telah dilalui, mungkin anda akan kaget melihat hasilnya nanti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;; color: green;" lang="IN"&gt;Kepercayaan diri adalah sesuatu yang anda sendiri yang bisa meraihnya, bukan orang lain. Untuk itu tetap semangat, sabar dan terus berdoa menjadi sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Suskses selalu&lt;i style=""&gt;. (ASP – Karier Kompas Rabu 19 November 2008).&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-6586413670798548199?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/6586413670798548199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=6586413670798548199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6586413670798548199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/6586413670798548199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2008/11/kiat-menumbuhkan-rasa-percaya-diri.html' title='Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/STJthtNcjbI/AAAAAAAAAF0/qcxAI4Y3AmU/s72-c/clearly+envizion+self+confidence.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114837337351744379</id><published>2006-05-23T01:30:00.000-07:00</published><updated>2006-05-23T01:36:13.720-07:00</updated><title type='text'>KEBERHASILAN DALAM HIDUP</title><content type='html'>KEBERHASILAN DALAM HIDUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya tulis kecil ini, keberhasilan pembentukan diri mendapat tekanan pada pentingnya relasi diri dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan sekitar dan terutama relasi dengan Allah. Relasi itu menuntut perbaikan terus menerus (continual improvement) yang dilandari dengan pandangan filosofis individu manusia dan landasan teologis relasi sendiri. Kemudoian pembentukan diri itu melalui suatu proses belajar dengan bantuan metode Carkhuff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan pembentukan diri oleh diri sendiri ditentukan oleh kemampuan mengenal diri, kemampuan berrelasi dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan Tuhan. Kemampuan ini mirip dengan kemampuan emosional (emotional quotient) ala Daniel Goleman. Indikasi kemapuan ini adalah adanya kemampuan memahami dan memotivasi potensi diri, memiliki rasa empati terhadap diri dan orang lain, perasaan senang (berpikir positif), asertif yaituterampil menyampaikan pikiran dan perasaan dengan baik, lugas dan jelas tanpa harus membuat orang lain tersinggung. Orang-orang yang memiliki kecakapan emosional ini dalam sejarah Indonesia adalah mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para psikolog mengatakan bahwa keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup akan diraih  seseorang jika ia bisa menggabungkan tiga kecerdasan yaitu intelektual (intelligent quotient-IQ), emosional (emotional quotient-EQ), dan spiritual (spiritual quotient-SQ). Kecerdasa intelektual adalah kecerdasan menghadapi persoalan teknikal dan intelektual. Kecerdasan emosional adalah keterampilan membangun relasi sosial dalam lingkungan keluarga, kantor, bisnis maupun sosial. Kecerdasan ini melahirkan iklim dialogis, demokratis, partisipatif dan dewasa. Yang terakhir, kemampuan spiritual adalah kemampuan membarikan makna, motivasi dan tujuan hidup yang di dalamnya ada kekuatan adikodrati (Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danah Zohar dan Ian Marshall, penulis buku Spiritual Quotient: The Ultimate Intelligent, seperti dikutip oleh Komaruddin Hidayat, mengatakan bahwa tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberikan keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model diri yang berhasil dalam hidup adalah mereka yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual yaitu mereka yang kualitas intelektualnya baik, mampu berrelasi sosial secara simpatik, inspiring  dan motivating serta memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai spiritual sebagai pandangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses transformasi diri manusia dipengaruhi oleh baik tidaknya relasi seseorang dengan dirinya, orang lain, lingkungan sekitar dan juga relasi dengan Allahnya. Karya tulis kecil ini, setidaknya membarikan gambaran bagaimana menumbuhkembangkan diri lewat perbaikan relasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbaikan relasi menajdi semakin penting dan relevan dalam proses tumbuh-kembang diri manusi. Derasnya arus globalisasi, berjubelnya informasi dan semakin pesatnya teknologi canggih (seperti multimedia) dapat mengaburkan dan merusak relasi manusia dengan dirinya, orang lain, lingkungan dan Allahnya. Aneka tawaran berupa kebudayaan, nilai-nilai, perilaku dan informasi berbagai bidang lainnya berdatangan  sendiri ke depan mata. Keadaan  demikian menuntut kearifan dan kebijaksanaan  dalam menyaring dan memilih apa yang positif dan baik serta tegas mengedepankan nilai-nilai dan pandangan hidup yang kita anut dan yakini. Dengan pilihan tersebut diharapkan perbaikan relasi kita tidak terganggu, sehingga proses penumbuhkembangan diri kita dapat berjalan dengan baik dan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN ACUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Utama:&lt;br /&gt;Dayringer, R., The Heart of Pastoral Conseling.  Healing Through   &lt;br /&gt;                Relationship, Revised ed. The Haworth Pastoral&lt;br /&gt;                Press: New York,. 1998&lt;br /&gt;Eggert, Max,  Perfect Counseling, Arrow Books Limited:London, 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuster, J.M., SJ, Teknik Mendewasakan Diri, Kanisius : Yogyakarta,&lt;br /&gt;               1985&lt;br /&gt;Hidayat Komaruddin, Artikelnnya, Jabatan Tinggi, EQ Rendah? dalam&lt;br /&gt;               harian umum Kompas, 23 Februari 2005&lt;br /&gt;Sutanto, Limas, Diktat Mata Kuliah Konseling Pastoral, STFT&lt;br /&gt;               Widyasasana: Malang, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badudu-Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Sinar harapan: jakarta,&lt;br /&gt;               2001&lt;br /&gt;Sudarsono, Drs., S.H., Kamus Konseling, Rineka Cipta: Jakarta, 1997&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114837337351744379?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114837337351744379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114837337351744379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114837337351744379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114837337351744379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/keberhasilan-dalam-hidup.html' title='KEBERHASILAN DALAM HIDUP'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114828246888557141</id><published>2006-05-22T00:17:00.000-07:00</published><updated>2006-05-22T00:21:09.130-07:00</updated><title type='text'>PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)</title><content type='html'>PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap III: Tahap Melangkah dan Keterampilan Memulai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengenal keadaan kita, maka kita akan mengerti akar-akar dalam diri kita yang memunculkan keadaan itu  dan kita mengerti kemana tujuan kita, tahap berikutnya adalah tahap melangkah. Kita melangkah dari kedudukan di mana kita ke tempat yang kita inginkan. Kita bertindak, menyusun langkah-langkah yang tepat dan sistematis menuju tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperlancar proses menuju tujuan ini kita gunakan keterampilan memulai. Keterampilan memulai mengajak kita untuk melihat langkah-langkah yang harus kita ambil untuk mencapai tujuan kita. Kita menyusun langkah-langkah itu secara sistematis menurut jadwal waktu tertentu. Keterampilan-keterampilan itu  secara sistematis menurut jadwal waktu tertentu. Keterampilan memulai mempunyai empat langkah:&lt;br /&gt;1) Menentukan tujuan&lt;br /&gt;2) Memilih langkah-langkah untuk mencapai tujuan&lt;br /&gt;3) Memilih langkah-langkah pertama dan berikutnya&lt;br /&gt;4) Menentukan jadwal waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ikuti contoh ini. Ali masuk tahap melangkah dengan menggunakan keterampilan memulai. Ia menentukan tujuan dengan bertanya pada diri, “Apa tujuan saya?” Ia menjawab, “Tujuan saya adalah Mengikuti kuliah secara  intensif dan memanfaatkan kegiatan rohani: pendalaman iman, kelompok Kitab Suci dan mengikuti kegiatan rohani bersama baik lingkungan maupun di kampus sebagai kesempatan memperdalam arti hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat tinggal niat tanpa menentukan langkah-langkah konkrit biasanya mudah kandas. Maka ia bertanya, “Apa langkah-langkah yang akan kutempuh untuk mencapai tujuan saya?” Ia kemudian memilih langkah-langkah untuk mencapai tujuan:&lt;br /&gt;· Saya akan rajin belajar dan mengikuti kuliah di Universitas  &lt;br /&gt;        Indonesia.&lt;br /&gt;· Saya akan mengikuti kegiatan pendalaman iman/ penyegaran   &lt;br /&gt;        rohani agama saya.&lt;br /&gt;· Saya akan membeli Kitab Suci dan rajin membacanya.&lt;br /&gt;· Saya akan ikut kegiatan rohani bersama baik di kampus maupn&lt;br /&gt;        di lingkungan.&lt;br /&gt;· Saya akan merenungkan dan menghayati apa arti dan tujuan  &lt;br /&gt;        hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali merasa bahwa dengan langkah-langkah itu keinginan memanfaatkan kegiatan rohani untuk memperdalam arti hidup dapat terlaksana. Ia tidak dapat mengambil langkah-langkah itu sekaligus, karena langkah-langkah itu ada yang mudah dilaksanakan dan ada yang sulit. Ia akan menyusun langkah-langkah itu secara sistematis dari yang paling mudah ke yang paling sulit. Ia menentukan sebagai langkah pertama, “Saya akan mohon kekuatan kepada Allah dalam setiap doaku agar dapat mengatasi kemalasan saya dan dapat mengerti arti hidup”. Mengapa langkah pertama harus ditentukan lebih dulu, karena langkah pertama adalah langkah penting untuk memancing langkah-langkah berikut. Seorang bijaksana, Lao Tse pernah mengatakan, “Sebuah pohon sebesar anda bermula dari sebuah biji yang kecil; perjalanan seribu mil berawal dari sebuah langkah kecil”. Pepatah bijaksana ini patut kita pegang dalam setiap langkah kita membentuk diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menentukan langkah pertama, ia menentukan langkah-langkah berikutnya:&lt;br /&gt;1) Saya akan memohon kekuatan kepada Allah dalam setiap doaku&lt;br /&gt;        agar dapat mengatasi kemalasan saya dan secara mendalam&lt;br /&gt;        dapat mengatasi arti hidup ini. Dalam doa saya akan&lt;br /&gt;        meyakinkan diri bahwa Allah dapat mengubah dan membentuk  &lt;br /&gt;        saya.&lt;br /&gt;2) Saya akan mengikuti jadwal kuliah dengan persiapan malamnya&lt;br /&gt;        sebelum jam kuliah dimulai.&lt;br /&gt;3) Saya akan mencari jadwal kegiatan pendalaman iman atau&lt;br /&gt;        kegiatan rohani baik di lingkungan maupun di kampus.&lt;br /&gt;4) Saya akan mengikuti kegiatan kelompok Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menentukan langkah-langkah itu, ia lalu menentukan jadwal kapan ia harus memulai melakukannya. Ia lalu menetapkan bulan, minggu, hari dan jam pelaksanaan secara tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Ali memiliki program langkah terorganisasi rapi. Ia mengerti mulai dan kapan mengharapkan mencapai tujuan. Ia mengerti apa yang harus dilakukan setiap hari, minggu, dan bulan. Dengan cara ini, Ali didorong untuk melangkah terus pelan-pelan karena merasa programnya telah teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Akhir: Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apakah program itu terlaksana dengan baik atau tidak, setiap malam Ali meluangkan waktu 10 menit untuk mengevaluasi pelaksanaan programnya. Tanpa evaluasi program langkah belumlah lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi berarti melihat kembali bagaimana program langkah itu dipenuhi; dimana kekuatan-kekuatan dan kelemahannya; pembenahan apa yang perlu dilengkapi; bagaimana kita membangun dan menguatkan motivasi dalam diri kita; bagaimana menjamin keberhasilan dalam penyempurnaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi keberhasilan program, sebaiknya kita tidak menginjak langkah yang lebih lanjut sebelum yang mendahuluinya sepenuhnya tercapai. Jadwal waktu hendaknya fleksibel sehingga ada kemungkinan diadakan pembenahan berdasarkan perkembangan pelaksanaan. Jadi satu langkah mungkin bisa dilaksanakan lebih cepat, yang lain lebih lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang paling sulit dari pelaksanaan program ini adalah mempertahankan semangat kita dalam memenuhi apa yang telah diputuskan. Di sini pemakaian perangsang positif dan negatif akan sangat  membantu yaitu: memberi hadian kepada diri sendiri bila mengambil langkah dengan tepat dan menghukum bila malas atau ada faktor lain yang membuat kita gagal memenuhi apa yang telah kita temukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114828246888557141?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114828246888557141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114828246888557141' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114828246888557141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114828246888557141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/praktek-pembentukan-diri-sambungan_22.html' title='PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114793889693309336</id><published>2006-05-18T00:53:00.000-07:00</published><updated>2006-05-18T00:54:57.230-07:00</updated><title type='text'>PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)</title><content type='html'>PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TahapII: Mengerti diri dan keterampilan mempribadikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tahap menyelidiki diri kita tahu keadaan diri yang obyektif. Tahap berikut dari proses belajar kita adalah MENGERTI DIRI. Kita mengerti dimana kedudukan kita dalam hubungannya dengan tujuan yang ingin kita capai. Pada tahap mengerti diri ini, kita berusaha mengerti akar-akar penyebab dalam diri kita yang ikut serta menciptakan keadaan kita itu. Dengan kata lain, kita ingin mengerti apa yang saya buat dan tidak saya buat sehingga keadaan saya itu tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita ingin mengerti akar penyebab dalam diri kita yaitu apa yang kita buat dan tidak kita buat sehingga keadaan itu terjadi, atau kita tahu apa andil kita dalam menciptakan keadaan kita itu, maka kita kan mengerti pula apa yang sekarang harus kita buat untuk memperbaiki keadaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperlancar mengerti diri ini, kita gunakan keterampilan MEMPRIBADIKAN. Ada dua macam keterampilan mempribadikan, yaitu keterampilan mempribadikan permasalahan dan keterampilan mempribadikan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan mempribadikan permasalahan kita laksanakan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita, “Dengan cara bagaimana saya ikut serta menciptakan keadaan saya itu?” atau “Apa yang saya buat dan tidak sehingga saya iri kepada teman saya?” Saya menjadab, “Saya iri karena saya tidak mau menerima diri saya apa adanya dan saya tidak mendalami perintah kasih sayang kepada sesama. “Sekarang saya tahu akar permasalahan dalam diri saya yang menciptakan keadaan saya itu. Saya tidak mau menerima diri  dan tidak mendalami perintah kasih sayang kepada sesama”. Inilah yang disebut mempribadikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengerti akar permasalahan yang ada dalam diri saya, saya menentukan apa yang harus saya buat untuk memperbaiki keadaan. Saya menggunakan keterampilan mempribadikan tujuan. Saya bertanya kepada diriku, “Apa tujuan hidup saya sekarang?” Saya menjawab, “Tujuan hidup saya ialah belajar menerima diri saya apa adanya dan merenungkan  perintah kasih kepada sesama manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan mempribadikan permasalahan membuat kita sadar akan akar keterlibatan kita dalam permasalahan kita dan membuat kita bertanggung jawab atas apa yang kita buat dan tidak kita buat. Ini membebaskan kita kecenderungan menyalahkan orang lain dalam menghadapi permasalahan kita. Bila dalam menghadapi permasalahan, kita menyalahkan orang lain, maka kita tidak akan  terdorong untuk mengubah diri. Dan permasalahan kita tidak akan terpecahkan. Dengan memusatkan pada apa yang saya buat dan tidak saya buat sehingga keadaan itu muncul, maka saya didorong untuk mengubah diri. Dengan demikian ada harapan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan mempribadikan tujuan membuat kita mampu mengubah permasalahan menjadi tujuan. Dengan demikian kita tahu arah untuk bertindak. Arah inilah yang harus kita ikuti dan semaksimal mungkin kita mencurahkan daya kita untuk tindakan perbaikan.&lt;br /&gt;Mari kita iktui contoh ini. Ali pada tahap menyelidiki diri menemukan, “Saya tidak bersemangat mengikuti kuliah di Universitas Indonesia karena saya tidak dapat melihat makna dan hidup dan tujuan kuliah bagi masa depan saya”. Dalam keadaan sperti itu, doa saya terasa kering karena sulit menemukan Allah dalam hidup saya”. Selanjutnya ia ingin masuk tahap II dari proses belajar yaitu mengerti diri. Ia menggunakan kecakapan mempribadikan permasalahan. Ia bertanya, “Apa keterlibatan saya dalam permasalahan ini?” Dia merenungkan sejenak dan mohon bimbingan Tuhan. Lalu dia menjawab, “Saya selama ini tidak pernah mencari dan memperdalam arti hidup dengan lebih serius. Rumusan ini masih agak kabur, maka ia bertanya lagi, “Apa yang persis saya maksud? Yang saya maksud adalah bahwa saya selama ini tidak pernah memanfaatkan kegiatan-kegiatan rohani seperti pendalaman iman dan membaca Kitab Suci dan bersama sebagai kesempatan untuk memperdalam arti hidup, sehingga pandangan saya tentang hidup menjadi picik dan dangkal. Ia ikut doa dan pendalaman iman sekedar hadir saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah yakin akan keterlibatannya dalam permasalahannya, Ali melaksananakan keterampilan mempribadikan tujuan dengan mengubah permasalahan menjadi tujuan. “Tujuan saya ialah memanfaatkan kegiata-kegiatan rohani: pendalaman iman, bacaan Kitab Suci dan doa bersama sebagai kesempatan untuk memperdalam arti hidup”. Sekarang Ali  melihat dengan jelas arah yang harus dituju sehingga mencurahkan daya untuk mencapai tujuan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114793889693309336?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114793889693309336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114793889693309336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114793889693309336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114793889693309336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/praktek-pembentukan-diri-sambungan.html' title='PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114785539930731518</id><published>2006-05-17T01:41:00.000-07:00</published><updated>2006-05-17T01:43:19.386-07:00</updated><title type='text'>PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI</title><content type='html'>PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Carkhuff pada bagian terdahulu tulisan ini sangat membantu kita mengorganisasi sumber-sumber daya manusiawi kita. Pengorganisasian dapat dilakasanakan dengan proses belajar melalui tiga tahap: MENYELIDIKI DIRI, MENGERTI DIRI DAN MELANGKAH. Untuk mempermudah penyelidikan diri, kita perlu memiliki keterampilan menjawab diri. Untuk mempermudah mengerti diri, kita perlu memiliki keterampilan mempribadikan permasalahan dan mempribadikan tujuan. Untuk membantu melangkah, kita perlu memiliki keterampilan memulai. Kita perlukan pula evaluasi dari semua langkah itu. Itu semua kita laksanakan berdasarkan sikap dasar: EMPATI, OTENTIK, RESPEK, KONFRONTASI dan PERWUJUDAN DIRI. Dan yang tidak boleh dilupakan ialah bahwa semua ini harus kita laksanakan dalam semangat doa, terus-menerus memohon rahmat Allah. Sebab betapapun sempurnanya metode itu dilaksanakan, namun tanpa rahmat Allah juga tak akan mendewasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap I: Tahap menyelidikidiri dan keterampilan menjawab diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian&lt;br /&gt;Tahap pertama proses belajar pembentukan diri adalah menyelidiki diri kita dimana kedudukan kita dalam dunia kita. Ini berarti kita berusaha mengenal keadaan kita yang obyektif, apa adanya, apa yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masuk ke dalam daerah pribadi kita yang kurang lebih kabur bagi kita. Di situ kita dapat memperjelas persoalan-persoalan kita, mencanangkan kembali arah tujuan kita yang sudah hilang, menghubungkan kembali pengalaman-pengalaman kita. Dengan demikian kita dapat menemukan kembali kesatuan dalam diri kita yang menjadi daya untuk menerima pendewasaan dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperlancar penyelidikan diri, kita menggunakan kecakanapan menjadab diri yaitu kita bertanya kepada diri kita dan berusaha menjawabnya. Bagaimana hal ini kita laksanakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masuk ke dalam diri kita dengan mengenali perasaan-perasaan yang ada dalam diri kita serta alasan-alasan munculnya perasaan-perasaan itu. Kita bertanya kepada diri kita: “Apa yang saya rasakan sekarang ini? Dan apa sebabnya saya merasakan itu?” Kita menjawab apa adanya misalnya: “saya merasa iri pada teman-teman saya karena dia  mendapat nilai baik sedangkan saya tidak”. “Saya merasa gelisah, murung, kecewa karena saya tidak lulus dalam kursus bahasa Perancis”. “Saya kecewa karena keluarga saya miskin dan orang tua tidak dapat membelikan sepeda motor untuk saya”. “Saya merasa penuh syukur karena saya diberikan anugerah iman yang besar”, dan seterusnya. Kita menjawab diri apa adanya dan semua perasaan beserta alasan-alasannya itu dengan nama-nama yang jelas dan tepat.&lt;br /&gt;Untuk memperlancar pengenalan terhadap perasasn-perasaan serta alasan-alasannya dibutuhkan sikap empati dan respek. Bila seseorang mempunyai persoalan, kemudian orang itu mengemukakan persoalannya itu kepada orang lain yang mau mendengarkan penuh pengertian, empati, respek, maka orang itu akan semakin didorong untuk semakin mengungkapkan apa yang dirasakannya. Demikian pula diri kita. Bila kita mendengarkan apa yang dirasakan maka kita akan semakin didorong untuk semakin dalam mengungkapkan apa yang kita rasakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ikuti contoh ini. Ali selalu merasa kecewa, malas dan tidak bersemangat dalam hidupnya. Ia ingin mengenal keadaan dirinya yang sesungguhnya. Ia mulai mengambil langkah pertama dengan menjawab diri. Ia bertanya pada dirinya. “Apa yang saya rasakan dan mengapa?” Ia menjawab, “Saya merasa kecewa, malas dan tidak bersemangat, karena tidak diterima di Universitas Indonesia”.  Ia menerima ungkapan perasaan dirinya itu dengan penuh pengertian, empati dan respek maka ia didorong untuk menjawab diri lebih dalam lagi. “Saya mengikuti pelajaran dan kursus tidak bersemangat; saya lebih suka menyendiri; persahabatan dengan tema-teman mulai kuang hangat; iman menjadi goyah karena kecewa terhadap Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114785539930731518?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114785539930731518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114785539930731518' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114785539930731518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114785539930731518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/praktek-pembentukan-diri.html' title='PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114775923172279427</id><published>2006-05-15T22:59:00.000-07:00</published><updated>2006-05-15T23:00:31.923-07:00</updated><title type='text'>BANTUAN METODE CARKHUFF (sambungan)</title><content type='html'>BANTUAN METODE CARKHUFF (sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Lima Sikap Dasar dalam Metode Carkhuff&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga tahap proses belajar menuju pertumbuhan pribadi pada bagian (a) dapat terlaksana dengan tepat dan lancar kalau didasari dengan 5 sikap dasar. Kelima sikap dasar tersebut adalah seperti di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Sikap Empatik&lt;br /&gt;Sikap empatik merupakan kemampuan merasakan dan mengerti dengan tepat apa yang saya alami dan saya rasakan, dan dengan jelas dapat mengungkapkan pengertian itu. Bila Lidia merasa sedih atau tidak bisa dengan tepat mengungkapkan apa yang ia rasakan, misalnya ia hanya mengatakan, “Saya tidak enak dengan teman-teman”, ia tidak dapat menyelidiki diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Sikap Otentik&lt;br /&gt;Otentik berarti orisinil, asli. Orang yang bersikap otentik berarti orang yang mau dengan jujur dan terbuka mengungkapkan apa yang sesungguhnya ada dalam dirinya. Tidak menutup-nutupi karena mungkin keadaannya jelek atau memalukan. Bila Lidia tidak mau dengan jujur mengakui bahwa dirinya disingkiri teman-temannya karena egoistis, tetapi mengatakan, “Teman-teman menyingkiri saya karena mereka sombong”, maka proses belajar menjadi mandek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Sikap Respek&lt;br /&gt;Respek berarti hormat atau menghargai. Sikap respek terhadap diri berarti mau menerima diri apa adanya dengan penuh kasih karena sadar, bahwa seperti apapun keadaannya, diri saya tetap bernilai dan memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi lebih baik. Bila setelah merasakan dirinya disingkiri oleh teman-temannya, Lidia merasa dirinya tak berharga kemudian malah semakin menyendiri, maka dalam pergaulan Lidia tak akan bertumbuh kembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Sikap Konfrontasi&lt;br /&gt;Konfrontasi berarti saling berhadapan atau bertatapan. Sikap konfrontasi terhadap diri berarti mau mencari kekurangan-kekurangan diri dan menyadari secara penuh kekurangan-kekurangannya itu sebagai miliknya. Bila Lidia malas tidak mau menemukan bahwa dirinya egoistis atau tidak mengakui itu sebagai kekurangannya karena jelek, maka dalam pergaulan ia tidak akan tumbuh dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Sikap Perwujudan Diri&lt;br /&gt;Sikap ini boleh dirumuskan sebagai semangat bertumbuh kembang. Sikap ini pada dasarnya merupakan sikap mau mengejar dengan penuh semangat perwujudan diri yang semakin sempurna.Dalam sikap ini termuat suatu kemauan besar untuk maju, untuk mencapai realisasi diri yang semakin penuh. Bila Lidia tidak berminat untuk maju dalam pergaulan maka tidak akan melaksnakan prosesbelajar atau mungkin hanya sampai pada tahap mempribadikan dan enggan mengambil langkah nyata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114775923172279427?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114775923172279427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114775923172279427' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114775923172279427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114775923172279427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/bantuan-metode-carkhuff-sambungan.html' title='BANTUAN METODE CARKHUFF (sambungan)'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114767985113229976</id><published>2006-05-15T00:54:00.000-07:00</published><updated>2006-05-15T00:57:31.356-07:00</updated><title type='text'>BANTUAN METODE CARKHUFF</title><content type='html'>BANTUAN METODE CARKHUFF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Metode Carkhuff&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Alpha Edison adalah penemu lampu pijar. Prosesnya adalah sebagai berikut: dia mula-mula menyelidiki atau mengamati dengan cermat sifat-sifat dasar listrik, karbon, wolfram, pijar di ruang hampa. Dengan penyelidikan itu, ia mengerti sifat-sifat dasar itu. Setelah  mengerti secukupnya, ia mulai melangkah mengadakan percobaan-percobaan. Hasil percobaan itu diselidiki lagi sehingga, lebih memperdalam pengertian dan ini menjadi dasar percobaan-percobaan berikutnya. Demikianlah ia akhirnya menemukan lampu pijar dan dengan penyelidikan, pengertian yang lebih mendalam serta langkah-langkah percobaan selanjutnya,  sistem lampu pijar semakin disempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem lampu pijar ditemukan melalui suatu proses belajar: menyelidiki, mengerti dan melangkah. Demikianlah pula para ilmuwan yang lain. Mereka mengembangkan ilmunya melalui proses belajar yang sama: menyelidiki obyek, mengerti obyek dan melangkah dengan percobaan-percobaan. Penemuan-penemuan yang sekarang, mendasari proses belajar berikutnya. Melalui cara ini, ilmu terus berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pertumbuhan psikologis pribadi mengalami langkah-langkah yang sama. Robert R. Carkhuff telah meneliti unsur-unsur proses belajar dalam hubungan antar manusia dan pertumbuhan pribadi. Menurut beliau, pertumbuhan pribadi dapat diusahakan dengan lebih intensif melalui tiga tahap proses belajar:&lt;br /&gt;(1)Menyelidiki dimana kedudukan anda dalam dunia anda.&lt;br /&gt;(2)Mengerti dimana kedudukan anda dalam hubungan dengan&lt;br /&gt;   tujuan yang ingin anda capai.&lt;br /&gt;(3)Melangkah dari kedudukan dimana anda ke tujuan yang ingin anda &lt;br /&gt;   capai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap I: Selidikilah dimana kedudukan anda dalam dunia anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelidikan di sini berarti kita berusaha mengenal keadaan diri kita sendiri secara obyektif, apa adanya dan sesuai kenyataan. Tanpa malu bila banyak kelemahan, tanpa mengingkari bila punya kelebihan. Tahap ini membantu kita memiliki gambaran yang benar tentang diri. Ia disebut tahap MENYELIDIKI DIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara kita menyelidiki diri? Caranya adalah dengan bertanya kepada diri sendiri dan berusaha menjawabnya. Semakin terampil kita bertanya dan menjawabi diri, semakin intensif pula penyelidikan diri. Keterampilan bertanya dan menjawabi diri disebut keterampilan MENJAWAB DIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap II: Mengerti dimana kedudukan anda dalam hubungan dengan tujuan yang ingin anda capai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengenal keadaan diri secara obyektif, tahap berikutnya adalah kita berusaha mengerti diri kita dengan mengenal diri kita lebih dalam lagi. Kita berusaha mengerti akar-akar penyebab yang menciptakan keadaan kita itu. Inilah yang disebut tahap MENGERTI DIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hal ini dapat kita lakukan? Dengan menjawab pertanyaan, “Dengan cara bagaimana saya ikut serta menciptakan keadaan saya itu?” atau “Apa yang saya buat dan tidak saya buat hingga keadaan saya ini tercipta?” Semakin terampil kita menjawab pertanyaan ini, semakin intensif pula kita mengetahui akar-akar dalam diri kita yang menciptakan keadaan itu. Keterampilan ini mencegah kita untuk begitu saja menyalahkan orang lain bila ada ketidakadilan dalam diri kita atau perlakuan-perlakuan menyakitkan. Keterampilan ini disebut keterampilan MEMPERIBADIKAN. Ada 2 macam keterampilan mempribadikan yaitu: MEMPERIBADIKAN PERMASALAHAN dan MEMPRIBADIKAN TUJUAN. Yang pertama berarti kita berusaha mencari akar-akar dalam diri kita yang menciptakan keadaan kita yaitu apa yang saya buat dan tidak sehingga menyebabkan keadaan saya itu, maka saya tahu pula apa yang harus saya buat sekarang untuk memperbaiki keadaan. Inilah keterampilan mempribadikan yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap III: Melangkah dari kedudukan dimana anda ke tujuan yang adna inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengenal diri, mengerti akar-akar permasalahan dan mengerti kemana tujuan kita, tahap selanjutnya adalah bertindak yaitu melangkah secara sistematis ke tujuan. Inilah tahap MELANGKAH.&lt;br /&gt;Hal ini kita laksanakan dengan memulai tindakan nyata. Kita memulai langkah-langkah yang sudah disusun secara sistematis mulai dari tindakan pertama hingga tindakan akhir menuju tujuan. Keterampilan ini disebut keterampilan MEMULAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...b. Lima sikap dasar metode Carkhuff&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114767985113229976?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114767985113229976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114767985113229976' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114767985113229976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114767985113229976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/bantuan-metode-carkhuff.html' title='BANTUAN METODE CARKHUFF'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114741859870933613</id><published>2006-05-12T00:21:00.000-07:00</published><updated>2006-05-12T00:23:18.946-07:00</updated><title type='text'>PROSES TUMBUH KEMBANG DIRI MANUSIA</title><content type='html'>PROSES TUMBUH KEMBANG DIRI MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap-tahap pertumbuhan potensi manusiawi diwarnai oleh gerakan menuju kemandirian. Dari tahap tergantung pada orang lain dalam belajar, orang bergerak sedikit demi sedikit menuju kemandirian dimana orang berlatih belajar sendiri. Selanjutnya mereka merasakan bahwa selama mengajarkan orang lain apa yang telah mereka pelajari, mereka juga belajar dari orang lain. Dengan demikian mereka sampai pada tahap yang lebih tinggi yaitu tahap saling tergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, orang yang belajar masih tergantung pada orang lain dalam hal belajar. Mereka hanya memiliki pandangan yang mereka ambil alih dari orang lain. Beberapa diantaranya hanya menjadi pelaksana program yang ditentukan orang lain. Akibatnya mereka biasanya hanya memiliki sebagian dari proses belajar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah para pelajar dapat mandiri, mereka berusaha belajar sendiri yaitu menyelidiki situasi mereka sendiri, mengerti tujuan mereka dan melaksanakan program mereka sendiri. Mereka menjadi pembantu diri mereka sendiri sebagaimana orang lain dahulu membantu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap yang tertinggi, para pelajar mencapai tahap saling tergantung yaitu lebih dari apa yang telah mereka terima pada tahap mandiri. Orang pada tahap ini mengalami dalam setiap proses membagikan pengetahuan mereka kepada orang lain, seraya mereka sendiri menerima umpan balik dan mendapat tambahan pengetahuan dari orang lain. Dengan demikian orang pada tahap ini menyadari kebutuhan mereka akan orang lain untuk memperkaya dirinya.&lt;br /&gt;Boleh dikatakan bahwa tahap-tahap perkembangan potensi manusiawi itu, orang bergerak dari tahap TERGANTUNG PADA ORANG LAIN dalam belajar, melalui tahap belajar sendiri secara MANDIRI, akhirnya menuju tahap belajar sendiri dan dari orang lain yang SALING TERGANTUNG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia secara kodrati memang memiliki keterbatasan-keterbatan. Itulah sebabnya ia membutuhkan orang lain sebagaimana orang lain membutuhkan saya. Sebab kesempurnaan dan kelengkapan manusia sebagai manusia tercapai dalam kehidupan bersama orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang hanya bisa mencapai kebahagiaan dalam hidup bersama orang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114741859870933613?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114741859870933613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114741859870933613' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114741859870933613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114741859870933613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/proses-tumbuh-kembang-diri-manusia.html' title='PROSES TUMBUH KEMBANG DIRI MANUSIA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114731655240379529</id><published>2006-05-10T20:01:00.000-07:00</published><updated>2006-05-10T20:02:32.636-07:00</updated><title type='text'>06. MAWAS DIRI YANG BERLEBIHAN</title><content type='html'>06. MAWAS DIRI YANG BERLEBIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mawas diri bisa disebut juga sebagai kegiatan memeriksa diri. Dengan mawas diri berarti kita melihat ke dalam diri sewaktu kita memeriksa batin kita, Pemeriksaan batin dapat dipergunakan secara keliru sehingga lebih bersifat menghalangi daripada membantu pembentukan diri kita. Bila titik perhatian hanya diberikan pada kekurangan-kekurangan diri kita, membuat daftar kesalahan serta terus-menerus diingatkan bahwa kita kurang dalam hal ini dan hal itu, ini akan menyebabkan perasaan depresi dan takut dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rohaniwati Katolik Santa Teresia dari Avila seperti dikutip oleh J&gt;M Fuster SJ, mengatakan, “Sejauh yang saya alami, kita tidak akan berhasil dalam menerima diri kita selain dengan mencari pengertian itu pada Allah... Jika kita berbalik dari diri sendiri menuju allah, pengertian kita dan kehendak kita  akan menjadi lebih mulia dan lebih siap merangkul semua hal yang baik; Bila kita tidak pernah bangkit dari lembah kepapaan kita sendiri, kita akan merugikan diri sendiri”. Ia menasehatkan kepada kita jangan sampai kita ingin tahu diri sendiri dengan menganalisis diri kita secara langsung, tetapi dengan pemeriksaan diri kita di bawah sinar terang ilahi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114731655240379529?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114731655240379529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114731655240379529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114731655240379529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114731655240379529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/06-mawas-diri-yang-berlebihan.html' title='06. MAWAS DIRI YANG BERLEBIHAN'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114725084141682255</id><published>2006-05-10T01:44:00.000-07:00</published><updated>2006-05-10T01:47:21.640-07:00</updated><title type='text'>04. KELEKATAN-KELEKATAN TIDAK TERATUR</title><content type='html'>04. KELEKATAN-KELEKATAN TIDAK TERATUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masa kecil kita sudah mempunyai ikatan persatuan dengan keluarga, sahabat, teman dan sesama. Kasih tanpa ikatan dak dapat dimengerti. Kita juga lekat pada hak milik, negara, profesi kita dan pada sarana-sarana yang kita gunakan untuk kesuksesan  hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan mulai timbul bila suatu kelekatan menjadi tidak teratur yaitu ketika kita menilai seseorang atau sesuatu lebih tinggi daripada kasih dan pengabdian kepada Allah. Sejauh kita mengasihi Allah di atas segala-galanya dan siap mengorbankan segala sesuatu demi kemuliaan Allah, kita tidak memiliki kelekatan-kelekatan tak teratur. Tetapi pada saat kita atau sesuatu mempesonakan kita sedemikian rupa sehingga kita tidak mempergunakannya sesuai dengan kehendak Allah, ini berarti dalam diri kita ada kelekatan-kelekatan tak teratur terhadap seseorang atau terhadap sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05. PENGERTIAN KELIRU TENTANG SEKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seks merupakan sesuatu yang indah yang dianugerahkan Sang Pencipta kepada makhlukNya. Seks menjadi sesuatu daya yang kuat yang kita alami dalam diri dan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya inilah yang membuat sepasang muda-mudi jatuh cinta, saling menyerahkan  diri seutuhnya dan berdua berprasetya saling mencintai selamanya. Daya  ini mendorong merek untuk saling membantu memperkembangkan diri menjadi ibu dan  bapak yang matang dan yang menyayangi anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah bila daya itu dimengerti dan dihayati secara keliru, maka yang terjadi adalah adalah pengejaran kebutuhan egoistis, memburu kepuasan diri, sehingga hal ini akan merusak relasi diri dengan sendiri, orang lain dan menjauhkan diri dari Allah. Akibatnya, orang itu akhirnya jatuh pada kesepian batin dan kekecewaan yang mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian dan penghayatan seks secara keliru benar-benar menjadi penghalang bagi proses pembentukan diri menuju tumbuh kembang pribadi dewasa dan utuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114725084141682255?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114725084141682255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114725084141682255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114725084141682255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114725084141682255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/04-kelekatan-kelekatan-tidak-teratur.html' title='04. KELEKATAN-KELEKATAN TIDAK TERATUR'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114716144510848334</id><published>2006-05-09T00:56:00.000-07:00</published><updated>2006-05-09T00:57:25.360-07:00</updated><title type='text'>03. Luka-luka batin yang mengganggu</title><content type='html'>03. Luka-luka batin yang mengganggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(A). Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seringkali gelisah, takut, marah dan kadang merasa ditolak. Kadang-kadang kita tidak tahu apa penyebabnya. Keadaan gelisah, takut, marah dan merasa ditolak bisa jadi merupakan efek atau akibat dari pengalaman pahit di masa lampau (perlakuan menyakitkan pada masa kecil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kecil, bahka sejak dalam kandungan, kita barang kali pernah diperlakukan tidak adil, tidak dimengerti orang lain, difitnah, tidak dipercaya dan dihargai. Pengalaman tersebut membuat batin kita terluka. Efeknya barulah bisa kita rasakan ketika kita sudah menginjak usia remaja dan dewasa seperti cepat marah, sakit, minder dan frustrasi. Sebab perlakuan-perlakuan itu sedemikian bertumbuh kembang dalam pikiran kita, sehingga mencengkeram kita kuat-kuat sehingga sulit melupakannya. Kita mungkin merasa sangat sulit mengampuni dengan jujur orang yang melukai batin kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(02). Solusi ata luka-luka batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pengalaman pahit atau luka-luka batin kita muncul atau kambuh, kita betapa  sulit berdoa dengan khidmat, tidak dapat memusatkan pikiran pada pekerjaan kita, kurang semangat dan gairah dalam hidup. Dan semua itu menghambat  kita untuk membentuk diri kita menjadi pribadi dewasa dan utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi terbaik tidak bisa tidak, hanyalah memohon bantuan kekuatan rahmat Allah dan kemauan kuat dari diri kita untuk bertumbuh kembang menjadi pribadi dewasa. Dari pihak Allah, kita membutuhkan rahmat Allah. Dari diri kita dituntut kemauan untuk mengakui, menerima, mengolah hal-hal atau perlakuan sakit yang menjadi penyebab luka-luka batin kita serta memaafkan para pelakunya dan lalu mau diubah oleh rahmat Allah melalui komunikasi dengan Allah (DOA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mau mengakui adanya luka-luka batin atau pengalaman pahit tersebut, lalu menerima dan mengolahnya menjadi kekuatan positif serta mengubah sikap dasar kita yaitu mau bertumbuh kembang menjadi pribadi dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha ini memang sulit, tetapi bila kita membiarkan rahmat Allah mengubah dan menguatkan kita untuk bertumbuh kembang, maka kita akan merasa bahagia. Artinya relasi dengan Allah kita jalin mejadi relasi akrab melalui ketekunan berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita peka terhadap kasih Allah pada kita dan merasakan betapa besar perhatianNya kepada kita agar kita semakin dekat padaNya, dan kita percaya akan kekuatanNya yang dapat mengubah hati kita, maka kita akan menghirup hawa segar dan kebahagiaan batiniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.......04. Kelekatan-kelekatan tidak teratur&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114716144510848334?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114716144510848334/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114716144510848334' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114716144510848334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114716144510848334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/03-luka-luka-batin-yang-mengganggu.html' title='03. Luka-luka batin yang mengganggu'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114680947893975091</id><published>2006-05-04T23:10:00.000-07:00</published><updated>2006-05-04T23:11:19.440-07:00</updated><title type='text'>HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PROSES PEMBENTUKAN DIRI MANUSIA</title><content type='html'>HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PROSES PEMBENTUKAN DIRI MANUSIA&lt;br /&gt;(sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gambaran Diri Yang Keliru&lt;br /&gt;Ada berbagai pandangan-pandangan yang membentuk gambaran diri yang keliru. Pandangan-pandangan tersebut antara lain: menghargai diri hanya berdasarkan prestasi, sikap perfeksionis, tak mampu melihat segi baik dalam dirinya, kerendahan hati yang keliru, tidak melihat diri sebagai hasil pilihan dan tuntunan Allah dalam rencanaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menghargai diri hanya berdasarkan prestasi&lt;br /&gt;Kerapkali kehidupan dalam keluarga dan masyarakat membentuk diri kita berpandangan bahwa seseorang dihargai apabila mencapai prestasi akademis, ketrampilan, bakat-bakat khusus dan sebagainya. Maka bila orang tidak puas akan apa yang dicapai dan mutu yang diraihnya, orang memiliki gambaran yang miskin tentang dirinya.&lt;br /&gt;b.  Sikap Perfeksionis&lt;br /&gt;Sejumlah orang yang memiliki sikap  perfeksionis  yang ingin segala-galanya sempurna dan tidak mau melihat kenyataan diri apa adanya dengan seluruh kekurangannya. Mereka sangat ambisius dan tak ada sesuatu pun yang cukup memuaskan bagi mereka. Bila mereka terus menerus gagal mencapai standar yang tinggi ini, mereka merasa dirinya jelek, rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Tak mampu melihat segi baik dalam dirinya&lt;br /&gt;Orang akan memiliki gambaran yang keliru tentang dirinya bila senantiasa  membandingkan apa yang dimiliki oleh orang lain dan dia tidak punya. Hal ini membutakan mereka terhadap segi-segi baik yang mereka miliki/ sehingga mereka tidak dapat melihat hal-hal yang baik yang ada pada diri mereka. Pembandingan yang tidak menguntungkan kerap dibuat sehubungan dengan berbagai hal seperti bentuk tubuh, suara, rambut, kecantikan, keadaan sosial, prestasi akademis, status dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;d.  Kerendahan hati yang keliru&lt;br /&gt;Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa peringatan berulang-ulang melawan cinta diri kerapkali menjadi alat ampuh secara ideologis untuk menekan spontanitas dan perkembangan kepribadian yang bebas. Orang terus menerus dihujani nasehat-nasehat agar semakin taat dan mengorbankan diri. Hanya tindakan-tindakan itulah yang dianggap tidak egoistis, yang tidak mengabdi diri pribadi tetapi hanya mengabdi pada orang lain atau kepentingan di luar diri kita.&lt;br /&gt;Bila orang terus menerus menerapkan nasihat seperti itu, maka orang akan memiliki sikap-sikap negatif terhadap diri orang  tidak akan menghargai dan berbuat sesuatu yang baik bagi dirinya.&lt;br /&gt;e. Tidak melihat diri sebagai hasil pilihan dan tuntunan Allah dalam rencanaNya.&lt;br /&gt; Inilah penyebab utama dan yang mendasar bagi gambaran diri yang keliru yaitu bahwa orang tidak melihat dirinya sebagai hasil dari pilihan dan tuntunan Allah dalam rencanaNya. Orang lebih condong untuk melihat diriNya sebagai hasil usaha sendiri yang berpusat pada diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya gambaran diri yang keliru akan dapat menghalangi dalam memberi dan menerima kasih. Bila kita ingin mengasihi Allah dan sesama dan menerima kasih mereka, kita harus mulai dengan mengasihi diri kita lebih dahulu. Bila kita mengasihi diri kita, kita akan mengalami bahwa diri kita  itu berharga, bernilai, berguna. Pengalaman ini secara spontan akan membuka diri kita untuk memberi dan menerima aksih dan akan mengundang orang lain untuk mengasihi kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114680947893975091?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114680947893975091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114680947893975091' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114680947893975091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114680947893975091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/hambatan-hambatan-dalam-proses.html' title='HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PROSES PEMBENTUKAN DIRI MANUSIA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114672647983318616</id><published>2006-05-04T00:04:00.000-07:00</published><updated>2006-05-04T00:08:00.116-07:00</updated><title type='text'>HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PROSES TUMBUH KEMBANG INDIVIDU MANUSIA</title><content type='html'>HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PROSES TUMBUH KEMBANG INDIVIDU MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hambatan yang terdapat pada diri kita dapat disebutkan antara lain: gambaran keliru tentang Allah, gambaran keliru tentang diri kita, luka-luka batin, kelekatan-kelekatan tak teratur, pengertian keliru tentang seks, mawas diri yang berlebihan, ketakutan dan kekuatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gambaran keliru tentang Allah.&lt;br /&gt;Kerapkali banyak dari kita diarahkan untuk memandang “ayah” sebagai kuasa yang kuat menghukum kita bila kita tidak taat dengan aturan-aturannya dalam keluarga dan masyarakat. Ungkapan “nanti akan saya laporkan pada ayah” menjadi ungkapan yang sangat menakutkan kita sebagai anak pada masa kecil. Dengan perlakuan orang tua yang mengandalkan kekuasaan ini anak-anak tidak dibantu untuk menumbuhkan dalam diri mereka gambaran tentang ayah penuh kasih, yang mau mengerti, yang lebih  memperhatikan kebahagiaan anak-anaknya daripa lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita bertumbuh dalam suasana keluarga seperti itu akibatnya, kita baru akan merasa dikasihi oleh ayah bila kita baik, bila kita belajar, bila kita memperoleh nilai yang tinggi di sekolah dan sebagainya. Dengan demikian kita mendapatkan gambaran bahwa kasih ayah itu bersyarat. Untuk dikasihi, saya harus memenuhi syarat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam belajar menghayati Allah sebagai pelindung, pencipta kita, kita akan terpengaruh oleh budaya keluarga dan masyarakat yang memandang ayah sebagai gambaranNya. Sebenarnya gambaran Allah bukanlah seperti kelakuan ayah tadi, melainkan Allah itu Maha Pengasih, Penyayang dan Maha Pemberi. Hal ini kita ketahui dari Kitab Suci masing-masing agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu kita perlu berpedoman pada prinsip teguh. Prinsip itu adalah bahwa pertumbuhan hidup rohani (spiritual) kita akan menjadi kerdil bila kita membiarkan kebudayaan, pendidikan dan konsep masa kecil kita mengaburkan gambaran Allah yang benar sebagai maha kasih. Kekaburan itu membuat kita tidak merasa ama, melainkan takut karena merasa bersalah terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......................2. Gambaran keliru tentang diri kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114672647983318616?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114672647983318616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114672647983318616' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114672647983318616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114672647983318616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/hambatan-hambatan-dalam-proses-tumbuh.html' title='HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PROSES TUMBUH KEMBANG INDIVIDU MANUSIA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114664364227555087</id><published>2006-05-03T01:03:00.000-07:00</published><updated>2006-05-03T01:07:22.450-07:00</updated><title type='text'>LANDASAN TEOLOGIS TENTANG RELASI</title><content type='html'>LANDASAN TEOLOGIS TENTANG RELASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lahir, manusia adalah insan fana yang tidak pernah merasa lengkap maka ia selalu meraih  sesuatu di luar dirinya lewat relasi dengan orang-orang lain. Jika ditinjau dari sudut pandang kehidupan interpersonal, kehidupan religius merupakan suatu pencarian relasi dengan yang ilahi. Perjumpaan  antara manusia dengan manusia lain yang hidup dalam Tuhan, dalam suatu perjumpaan religius akan meningkatkan  nilai hidup individualnya, serta memperluas makna dirinya di tengah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini ada empat pokok pikiran tentang relasi dalam proses tumbuh kembang individu manusia. Pertama, Tuhan menciptakan manusia untuk suatu relasi kemanusiaan maupun relasi ilahi. Kedua, teladan para nabi merupakan teladan terbaik relasi kemanusiaan dan relasi ilahi. Ketiga, kebutuhan akan interaksi personal dan keraguan terhadap makna dan peran relasi dengan Tuhan demi kebahagiaan hidupnya. Keempat, Tuhan mengejawantahkan suatu relasi dengan manusia lewat pertolongan manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Tuhan menciptakan manusia untuk suatu relasi kemanusiaan maupun relasi ilahi.&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan manusia yang memiliki kapasitas untuk menggalang  relasi kasat mata dengan orang lain, sekaligus kapasitas untuk menggalang relasi tidak kasat mata dengan diriNya. Semua  orang memiliki kebebasan yang dianugerahkan Tuhan untuk memilih berelasi atau tidak dengan Tuhan dan orang lain. Ciri pokok relasi ditawarkan  Tuhan kepada manusia adalah relasi rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan teologi relasi adalah menyadarkan manusia tentang relasinya dengan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta raya. Tiada suatu bagian pun dari kehidupan yang berada di luar jangkauan relasi dengan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta raya. Pada perspektif demikian, teologi tentang relasi memandang kehidupan sebagai suatu proses peraihan identitas yang menyangga dan menggerakkan manusia menuju pemenuhan diri paripurna. Tujuan akhir dari relasi yang benar adalah peraihan kehendak Tuhan di tengah kehidupan riil sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Teladan para nabi mencerminkan teladan terbaik relasi kemanusiaan dan relasi ilahi.&lt;br /&gt;Para Nabi, Guru, Rasul atau pendiri agama seperti Yesus Kristus, Sidharta Gautama, Nabi Muhammad SAW dan para pendiri agama lainnya telah menghadirkan teladan terbaik  perwujudnyataan relasi paling bermakna dengan Tuhan dan sesama. Mereka mengekspresikan teologi tentang relasi dengan mendukung para pengikutnya untuk mempraktekkan kebenaran yang dibeberkan di tengah kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Kebutuhan akan interaksi personal dan keraguan terhadap makna dan peran relasi dengan Tuhan demi kebahagiaan hidupnya&lt;br /&gt;Banyak orang mencoba mengekspresikan keunikan diri masing-masing dengan berbagai cara. Tidak sedikit orang ingin memisahkan diri dari orang-orang lain karena ternyata mereka menuai berbagai masalah justru dalam kedekatan mereka dengan orang-orang lain. Perlukaan emosional tidak jarang terjadi lewat interaksi antar insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, manusia mengakui adanya kebutuhan akan relasi. Sejarah membuktikan betapa individu menjalani kehidupan di tengah keluarga, di tengah suku, di tengah komunitas. Justru pengakuan atas adanya kebutuhan akan relasi atau kebutuhan untuk hidup bermasyarakat ini melandasi pemikiran tentang hukuman pengasingan yang dijatuhkan untuk orang-orang yang melanggar hukum. Memang individu berada dalam medan tarik-menarik simultan atara separasi (pemisahan) dan relasi (kebersamaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak jarang mengingkari peran relasi ilahi dalam memenuhi kekosonga-kekosongan di tengah kehidupannya. Konflik-konflik yang terjadi dalam relasi antarinsan, konflik internal yang terjadi karena kesalahan masa lampau atau karena problem yang berkaitan dengan tujuan di masa depan, bisa senantiasa  memurukkan manusia. Dalam keadaan demikian, tidak sedikit  manusia justru mencari justifikasi dalam dirinya sendiri. Namun ketika dia menyadari  betapa justifikasi diri tidak lagi bisa memenuhi kekosongan-kekosongan yang ia hayati, dia mengembangkan ketergantungan dengan orang-orang lain, mencari manusia penyelamat di tengah keberadaan orang tua, kelompok teman sebaya, kelompok teman sejawat dan paguyuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Tuhan mengejawantahkan suatu relasi dengan manusia lewat pertolongan manusia lain.&lt;br /&gt;Tuhan memakai manusia yang berelasi dengan sesamanya sebagai jalan untuk pengungkapan diriNya. Memang manusia bisa mencari perjumpaan ilahi dengan suatu cara langsung nan vertikal. Namun pada perspektif lebih relasitik, relasi antarmanusia acapkali terbukti merupakan saluran yang memungkinkan seseorang menerima kesan-kesan dan konsep-konsep tentang yang tidak kasat mata dan yang transenden. Interaksi kemanusiaan acapkali justru hadir lebih dahulu, kemudian disusul kehadiran pengalaman relasi ilahi yang dipersepsi lewat tataran kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan antarinsan yang sukses mencakup akseptasi keberbedaan (otherness) sekaligus kebersamaan (togetherness). Dalam relasi aktif, manusia berpartisipasi dalam suatu kemitraan dengan individu lain. Maka pemenuhan psikologis dan religius tidak hanya terjadi pada salah satu insan, melainkan kedua insan sekaligus. Pemenuhan tersebut terjadi dalam dialog. Yaitu pengalaman kebersamaan lewat aktivitas wicara. Dalam dialog yang asali, orang-orang berkomunikasi secara terbuka, jujur dan menyumbangkan bagian dari kehidupan rohaninya. Gambaran demikian merupakan bentuk pertolongan Tuhan dalam menumbuhkembangkan manusia lewat manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: dari bahan-bahan kuliah Konseling, Limas Sutanto, Dosen STFT Widya Sanana Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114664364227555087?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114664364227555087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114664364227555087' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114664364227555087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114664364227555087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/05/landasan-teologis-tentang-relasi.html' title='LANDASAN TEOLOGIS TENTANG RELASI'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114646279873521837</id><published>2006-04-30T12:51:00.000-07:00</published><updated>2006-04-30T22:53:18.883-07:00</updated><title type='text'>LANDASAN FILOSOFIS INDIVIDU MANUSIA</title><content type='html'>LANDASAN FILOSOFIS INDIVIDU MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan diri oleh diri sendiri mengisyaratkan bahwa terlebih dahulu seseorang perlu memahami landasa filosofis tentang individu diri manusia. Seorang konselor, Richard Dayringer meringkaskan sembilan butir permikiran penting untuk memahami individu manusia seperti berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Individu memiliki nilai (kebaikan) dan martabat intrinksik. Inilah implikasi dan citra Tuhan dalam diri manusia. Hal ini tampak dalam kemampuan  berkomunikasi secara cerdas,  mentransendensi diri, merenungkan masa depan, memilih secara bertanggung jawab dan memiliki rasa humor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Individu merepresentasikan nilai tertinggi.  Manusia merepresentasikan nilai tertinggi yang melampaui nilai-nilai lain, semisal nilai institusional dan nilai moralistik. Individu-individu tidak bisa dinilai berdasarkan kualitas jiwani mereka atau berdasarkan status sosial mereka. Mereka seyogiyanya tidak saling memanfaatkan untuk mencapai tujuan-tujuan masing-masing. Justru niscayalah mereka berelasi dengan cara yang dirangkum olen Martin Buber dalam ungkapan I and Thou (Aku dan Engkau Saudaraku). Manusia merupakan makhluk yang merupakan ciptaan tertinggi Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Individu-individu memiliki kebutuhan-kebutuhan. Setiap insan punya kebutuhan tertentu yang melekat pada dirinya. Ada banyak pendapat yang merangkum katalog kebutuhan (motif, dorongan) itu. Daftar tersebut mungkin merangkum kebanyakan kebutuhan dasar: udara, minuman dan makanan, kebersihan, persekutuan antar insan dan komunikasi, cinta kasih dan seksual. Hal-hal itu tidak bersifat opsional, karena diperlukan untuk survivalitas dan kesejahteraan hidup wajar. Hal-hal yang opsional adalah cara-cara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu. Maslow memeringkatkan berbagai kebutuhan dalam suatu  hierarki. Pada tataran paling dasar ada kebutuhan untuk survivalitas, mencakup udara, air, makanan, kebutuhan fisiologis, seks, komunikasi dan istirahat. Pada tataran di atasnya ada kebutuhan akan keamanan, mencakup kebutuhan-kebutuhan yang lahir dari keinginan menepis rasa takut, kebutuhan keamanan fisis, kebutuhan untuk menjaga diri dan kebutuhan ekonomis. Pada tataram berikutnya terdapat kebutuhan sosial, mencakup kebutuhan akan kepemilikan, kebutuhan pada perspektif individu, kelompok, korporasi. Pada tataran berikut terdapat kebutuhan akan harga diri, mencakup pengakuan, penghayatan diri sebagai kemandirian, kebutuhan akan status di tengah masyarakat dan kebutuhan akan orang-orang lain. Pada puncaknya terdapat kebutuhan untuk beraktualisasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Individu-individu mempunyai tujuan-tujuan. Manusia tidak bisa dimengerti secara psikologis lepas dari tujuan-tujuan  individualnya, karena proses mental dan aktivitas fisis yang selalu dihasilkannya selalu berorientasi ke tujuan yang bagi si manusia terasa menawarkan berbagai janji bernilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Individu-individu saling berelasi. Relasi mencerminkan kebutuhan akan interaksi yang memungkinkan individu merealisasikan kepribadiannya. Seperti dikatakan Paul Johnson, sangat sulit dibayangkan bagaimana kepribadian manusia akan berkembang di tengah isolasi diri dari orang-orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Individu memiliki kemerdekaan. Setiap insan punya hak inheren untuk membuat keputusan dan melangsungkan suatu kehidupan pribadi. Individu memiliki potensi untuk memilih secara arif dan menjalani kehidupan yang diarahkan oleh dirinya sendiri, dipenuhi oleh dirinya sendiri dan ditransendensi oleh dirinya sendiri. Bahkan manusia punya hak untuk melakukan kesalahan, kendati hak itu bisa dikontrol oleh institusi sosial, seperti pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Individu mempunyai tanggung jawab. Setiap insan bertanggung jawab atas pilihan pribadi yang telah dibuatnya. Manusia bertanggung jawab atas kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap Tuhan serta orang-orang lain atas setiap keputusan yang dibuatnya. Maka sesungguhnya manusia bertanggung jawab untuk berpartisipasi dalam relasi dengan Tuhan dan orang lain, serta bertanggung jawab untuk memelihara relasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Individu bertumbuh kembang karena cinta kasih (kasih sayang). Selama berabad-abad, cinta kasih (kasih sayang) selalu menjadi tema warta para nabi, para guru dan para penyair di tengah dunia. Kini para saintis perilaku meyakini betapa kehidupan tanpa cinta kasih (kasih sayang) adalah cacat fatal. Anak yang tak diinginkan, kenakalan remaja, neurosis pada orang dewasa dan problem insan lanjut usia, semuanya merepresentasikan keputusasaan karena kondisi miskin cinta kasih (kasih sayang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Individu mempunyai jalan menuju relasi ilahi.  Seiring dengan kian diraihnya pemahaman tentang relasi antar insan, manusia pun makin mungkin menyadari adanya potensi untuk menumbuhkembangkan relasi personal dengan Tuhan. Rasa bersalah atau rasa berdosa bisa memotivasi manusia mencari relasi seperti itu, karena pengampunan Tuhan yang selalu terangkum di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman kesembilan butir landasan filosofis individu manusia tersebut di atas akan membawa kita pada penyadaran terhadap potensi dan kekuatan yang kita miliki untu bertumbuh kembang. Ia merupakan modal pendukung yang amat positif dalam proses pembentukan diri oleh diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======&lt;br /&gt;Sumber: bahan-bahan kuliah Konseling, Limas Sutanto, dosen STFT Widya Sasana Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114646279873521837?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114646279873521837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114646279873521837' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114646279873521837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114646279873521837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/04/landasan-filosofis-individu-manusia.html' title='LANDASAN FILOSOFIS INDIVIDU MANUSIA'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114620104626273603</id><published>2006-04-28T12:10:00.000-07:00</published><updated>2006-04-27T22:10:46.416-07:00</updated><title type='text'>MENYADARI KECEMASAN DALAM HIDUP</title><content type='html'>MENYADARI KECEMASAN DALAM HIDUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan tidak mungkin tidak ada dalam diri kita. Kecemasan disadari atau tidak selalu hadir dalam hidup ketika kita berinteraksi dan berelasi dengan diri sendiri, orang lain dan dunia sekitar kita. Sebenarnya apakah kecemasan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan (anxiety) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu-Zain, 2001) diartikan sebagai kekuatiran, kegelisahan, ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi. Itu juga berarti suatu perasaan takut, kuatir bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kamus Konseling (Drs. Sudarsono, SH, 1996), kecemasan (anxiety) didefinisikan sebagai keadaan emosi yang kronis dan kompleks dengan keterperangkapan dan rasa takut yang menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konseling dikenal 3 (tiga) jenis kecemasan yang senantiasa ada dalam diri kita. Ketiga kecemasan itu adalah kecemasa alamiah (natural anxiety), kecemasan melumpuhkan (toxic anxiety)), dan &lt;br /&gt;kecemasan luhur (sacred anxiety).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan Alamiah (natural anxiety)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan alamiah (natural anxiety) merupakan kekuatiran yang spesifik, relaistik, masuk akal, dan berperan membawa pertolongan. Ia berkaitan dengan ketidakpastian alamiah di tengah kehidupan, ketidakpastian  tentang bagaimana sesuatu bakal terjadi. Ia juga merangkum konflik antara diri sendiri dengan dunia kehidupan. Di sinilah diri kita menghasilkan respon terhadap bahaya atau ancaman riil. Namun kecemasan alamiah tersebut merupakan hal yang wajar dan bisa diterima akal budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan Melumpuhkan (toxic anxiety)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan mmelumpuhkan (toxic anxiety) merupakan kekuatiran bersifat kabur, non-realistik, tak masuk akal, repetitif namun tak efektif. Ia merangkum konflik diri sendiri dengan diri sendiri. Ia bersumber dari afeksi bawah sadar yaitu keinginan, pikiran dan memori yang disupresikan. Ia pula bisa bersumber dari kecemasan alamiah dan luhur yang ditekan dan tidak diekspresikan. Kecemasan ini dapat meracuni dan melumpuhkan diri kita sehingga ia di sebut kecemasan toksik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan Luhur (sacred anxiety)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan luhur (sacred anxiety) merupakan keprihatinan-keprihatinan  atau kegelisahan-kegelisahan akhirat tentang kematian dan makna serta tujuan kehidupan. Ia adalah hasil  interaksi rasionalitas sadar, afeksi bawah sadar dan rahmat Tuhan. Ia lahir dari ketidaktahuan eksistensial yang direpresentasikan oleh pertanyaan seperti: apa makna dan tujuan kehidupan, apa nasibku setelah kematian dan apakah ada Tuhan. Kecemasan ini merangkum konflik diri sendiri terhadap kehidupan. Ia bersifat terus menerus tapi hanya sekali waktu hadir dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya krusialnya adalah apakah kecemasan alamiah harus diterima dan dihadapi atau justru dihindari?&lt;br /&gt;Sebagai manusia rasional kita seyogiyanya menerima dan menghadapinya seturut kemampuan manusiawi dan disertai permohonan bantuan rahmat Allah (orang beragama). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kecemasan-kecemasan ini dihindari atau diabaikan, maka mereka bisa menjadi kekuatan destruktif yang melumpuhkan seluruh proses pembentukan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting kemauan kita untuk bertumbuh kembang secara utuh kita mesti membangun relasi yang baik dulu dengan diri kita sendiri, orang lain dan dunia kehidupan itu. Hal inilah amat membutuhkan komitmen, tanggung jawab dan disiplin yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Kamus Umum Bahasa Indonesia, Badudu-Zain, Sinar Harapan: 1996; Kamus Konseling Drs Sudarsono, 2001; dan bahan-bahan kuliah dosen Limas Sutanto di STFT Widya Sasana Malang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114620104626273603?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114620104626273603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114620104626273603' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114620104626273603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114620104626273603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/04/menyadari-kecemasan-dalam-hidup.html' title='MENYADARI KECEMASAN DALAM HIDUP'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114611817682307068</id><published>2006-04-27T12:07:00.000-07:00</published><updated>2006-04-26T23:09:37.013-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>MENGEMBANGKAN EMOSI DASAR POSITIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi adalah gerakan atau ungkapan perasan yang keluar dari dalam diri seseorang. Dalam Kamus Konseling (Drs. Sudarsono, SH, 1996), semosi digambarkan sebagai suatu keadaan yang komplek dari organisme perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam organ tubuh yang sifatnya luas, biasanya ditandai oleh perasaan yang kuat  yang mengarah ke suatu bentuk perilaku tertentu, erat kaitannya dengan kondisi tubuh, denyut jantung, sirkulasi dan pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian tersebut, emosi merupakan sebuah reaksi kita ketika berelasi dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan hidup kita. Reaksi tersebut disadari atau tidak mempunyai efek entah bersifat membangun entah merusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikatakan bahwa emosi sebenarnya bukan cuma sebagai reaksi terhadap keadaan pada diri maupun luar diri kita, tetapi juga merupakan upaya pencapaian ke arah pembentukan diri menuju hidup yang transendental (spiritual).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum emosi dikategorikan menjadi dua jenis yaitu emosi dasar positif dan emosi dasar negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi dasar positif adalah perasaan berupa sukacita (joy), yakin/ percaya (trust/ faith), pengharapan (hope), syukur (praise),  berbela rasa (compassion), mau mengerti dan menerima (willingness to understand and to accept). Emosi dasar positif ini sering disebut sebagai kekuatan biofilik, (cinta kehidupan, pro vita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan emosi dasar negatif adalah perasaan berupa dengki, dendam, iri, kejam, menolak dan tak mau mengerti. Emosi jenis ini merupakan kekuatan nekrofilik karena dapat menjadi kekuatan yang bersifat merugikan dan mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individu yang mau bertumbuh kembang dan bertransformasi diri seyogiyanya mengembangkan emosi dasar positif dan melawan emosi dasar negatif. Pengembangan perasaan sukacita, yakin/ percaya, pengharapan, syukur, berbela rasa dan mau mengerti serta menerima, harus mempunyai dasar dan sungguh-sungguh sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang kita yakini. Artinya emosi dasar positif harus dikembangkan  secara riil, sadar, responsif dan rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita dapat bertumbuh kembang menuju  pribadi utuh, kita seyogiyanya memiliki komitmen dan tanggung jawab dalam menyadari dan menumbuhkan emosi dasar positif ini. Dengan demikian, perbaikan kecil yang terus menerus dapat berlangsung karena didukung oleh emosi dasar positif yang pro kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==============&lt;br /&gt;Sumber: bahan-bahan kuliah Konseling, Limas Sutanto, dosen STFT Widya Sasana Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114611817682307068?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114611817682307068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114611817682307068' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114611817682307068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114611817682307068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/04/mengembangkan-emosi-dasar-positif.html' title=''/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114601819703998117</id><published>2006-04-26T21:21:00.000-07:00</published><updated>2006-04-25T19:23:17.240-07:00</updated><title type='text'>"CONTINUAL IMPROVEMENT"</title><content type='html'>"CONTINUAL IMPROVEMENT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan diri  adalah proses tumbuh kembang diri dalam segala bidang berdasarkan interaksi dan relasi kita dengan diri kita, orang lain dan dunia sekitar kita. Interaksi dan relasi kita entah dalam bentuk sekecil apa pun akan turut ambil bagian dalam peroses itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses tumbuh kembang merupakan upaya yang dapat kita lakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain. Untuk itulah, sekecil apapun bentuk pengalaman atau peristiwa hidup dan dunia sekitar kita turut berinteraksi dan berbicara kepada diri kita. Everything speaks to us, segala sesuatu berbicara kepada kita, namun apakah kita mendengar dan menanggapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan terbaik pada pembentukan diri kita sendiri dan oleh kita sendiri adalah  melalui perbaikan kecil secara terus menerus. It seems insignificantly, but it must be continual and neverending. Kelihatannya kecil dan remeh, tetapi ia harus terus menerus dan tidak pernah berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penting bagi setiap orang agar menyiapkan mentalnya dengan disposisi batin perlunya perbaikan kecil secara terus menerus. Setiap orang hendaknya terarah kepada perbaikan-perbaikan kecil dalam diri sendiri, orang lain dan dunia sekitar. Dengan demikian proses tumbuh kembang sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Dengan kata lain kehidupan itu sendiri akan menjadi lebih baik. The longer and the old we are will be wiser according to values we live. Semakin lama dan tua kita semakin bijaksana sesuai dengan nilai-nilai universal yang kita yakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: bahan-bahan kuliah Konseling, dosen, Limas Sutanto, ketika saya masih kuliah di STFT Widya Sasana Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114601819703998117?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114601819703998117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114601819703998117' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114601819703998117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114601819703998117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/04/continual-improvement.html' title='&quot;CONTINUAL IMPROVEMENT&quot;'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114594427967208577</id><published>2006-04-24T13:48:00.000-07:00</published><updated>2006-04-24T22:51:20.440-07:00</updated><title type='text'>MANUSIA DAN RELASI</title><content type='html'>MANUSIA DAN RELASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia menuai problem karena relasi dengan  diri sendiri, orang lain dan dunia sekitarnya. Pemecahan masalah manusia pula sesungguhnya berintikan pada perubahan menuju perbaikan relasi dengan diri sendiri,  orang lain dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendidikan, sesungguhnya bila dikatakan pembelajaran berbasis kompetensi berarti berpusat pada cura personalis. Cura personalis adalah perhatian pada manusia sebagai pribadi. Itu berarti ia berkaitan dengan relasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakekatnya relasi antar manusia seyogiyanya bukan relasi subyek-obyek, atau mengobyekkan manusia yang lain, tetapi relasi dimana antar manusia secara bersama-sama bertumbuhkembang (relasi subyek-subyek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bertumbuhkembang kita membangun dulu relasi dengan diri sendiri. Memang tahu bahwa relasi merupakan inti pertumbuhkembangan, tapi belum tentu gampang melaksanakannya. Memang orang dapat menuai masalah  karena relasi tetapi dapat pula sembuh karena relasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hal yang penting dalam membentuk atau menumbuhkembangkan diri adalah  perbaikan relasi dengan diri sendiri, orang lain dan dunia sekitar.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Sumber: dari bahan kuliah Konseling, Limas Sutanto, dosen STFT Widya Sasana Malang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114594427967208577?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114594427967208577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114594427967208577' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114594427967208577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114594427967208577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/04/manusia-dan-relasi.html' title='MANUSIA DAN RELASI'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24568189.post-114585648793420928</id><published>2006-04-24T12:26:00.000-07:00</published><updated>2006-06-03T20:34:07.023-07:00</updated><title type='text'>MEMBENTUK DIRI (SELF FORMATION)</title><content type='html'>MEMBENTUK DIRI (SELF FORMATION)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Globalisasi bukan tidak mungkin dapat menghilangkan identitas pribadi, komunitas atau bahkan bangsa dan negara dalam tataran yang lebih luas. Untuk itu sebuah landasan filosofis dan teologis tentang tumbuh kembang pribadi manusia dibutuhkan. Landasan filsosofis dan teologis  dapat memberikan berbagai pandangan yang lebih kompleks dan dalam perkembangan globalisasi sekarang ini. Meskipun kompleks pasti ada prinsip-prinsip yang harus dipegang seperti yang termaktub dalam karya tulis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, berangkat dari pengalaman hidup sehari-hari, perjalanan hidup kita berawal dari satu titik (kelahiran) menuju ke titik akhir (kematian). Selama perjalanan hidup, kita tidak menyadari bahwa semua pengalaman dan peristiwa hidup yang kita alami merupakan unsur-unsur yang membangun atau merusak pembentukan diri kita (self formation).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah tidak semua orang menyadarinya. Kadangkala semua peristiwa atau pengalaman hidup kita disadari atau tidak biasanya berlalu begitu saja. Dalam tulisan “pembentukan diri” (SELF FORMATION) ini, saya coba menggagas ide pembentukan diri secara holistik yang dapat dipraktekkan oleh setiap orang secara sendiri dan mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca dan menikmati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24568189-114585648793420928?l=formasio-dirisendiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/feeds/114585648793420928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=24568189&amp;postID=114585648793420928' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114585648793420928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24568189/posts/default/114585648793420928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://formasio-dirisendiri.blogspot.com/2006/04/membentuk-diri-self-formation.html' title='MEMBENTUK DIRI (SELF FORMATION)'/><author><name>Pormadi Simbolon,SS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00622135610780088629</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_044hkKqML0c/SfaOJ5_6LXI/AAAAAAAAAM8/bweToUwRb2o/S220/por+avatar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
