Friday, December 12, 2008

BEKERJA EFEKTIF DI KANTOR


Seorang karyawan tentunya dituntut bertanggung jawab memberikan hasil yang baik dalam mengerjakan tugas-tugas yang diperintahkan. Hasil yang baik memerlukan ketelatenan dan konsenterasi yang baik pula pada proses pengerjaannya. Namun, adakalanya muncul hambatan yang datang di saat anda sedang serius bekerja. Kiat-kiat berikut diharapkan dapat membantu anda agar bekerja lebih efektif.

Pertama, aturlah pekerjaan anda berdasarkan skala prioritas. Seringkali anda bekerja menurut apa yang anda suka, bukan menurut apa yang anda butuhkan.Ingat, setiap pekerjaan memiliki beban dan tanggung jawab yang berbeda pula. Maka pilihlah pekerjaan yang lebih penting dan mendesak agar selalu didahulukan.

Kedua, bagi yang memiliki jaringan internet di kantor, hindarilah mengaktifkan fasilitas seperti chatting pada saat bekerja. Selain dapat mengganggu konsentrasi, hal ini dapat membuat durasi pengerjaan tugas menjadi lebih panjang dari biasanya.

Ketiga, tidak ada salahnya untuk mengaktifkan nada getar pada ponsel atau menonaktifkan untuk sementara ponsel hingga tugas anda selesai. Semua ini akan membuat anda benar-benar fokus dalam bekerja. Kecuali pekerjaan anda memang menuntut anda untuk selalu bergerak dan mudah dihubungi.

Keempat, tanpa anda sadari pekerjaan sering terabaikan karena rekan kantor yang datang tiba-tiba mengajak berbincang-bincang. Hal ini akan membuat anda akan asyik membicarakan hal tersebut lupa pada pekerjaan. Salah satu solusinya adalah, berilah pengertian kepada teman, bahwa anda memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga anda tak ingin diganggu terlebih dahulu sampai pekerjaan anda benar-benar selesai.

Kelima, usahakan jangan terlalu banyak camilan di atas mejakerja anda. Sebab, terlalu banyak memakan camilan dikhawatirkan akan membuat anda mengantuk. Cukup segelas teh atau kopi hangat saja sebagai pendamping setia saat anda bekerja.
Terakhir, setelah pekerjaan anda selesai dengan efektif, segeralah istirahatkan diri anda. Ingat, tubuh dan pikiran anda memerlukan waktu untuk istirahat juga. Tanpa istirahat yang cukup, pekerjaan anda yang berikutnya pun bisa tidak akan terselesaikan dengan efektif juga. (INO/Kompas/ Klasika/30/11/2008)

Sunday, December 07, 2008

STOP OLOK-OLOK!!!


STOP OLOK-OLOK!!!


Saya baru tersadar bahwa bangsa kita gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri. ketika dalam kelas training saya menanyakan apa pendapat peserta tentang acara kolosal kebangkitan nasional yang saya juluki bertema “Indonesia Bisa”, sebagian orang mengomentari penyanyi yang gagal, yang lain secara jenaka memeragakan latihan tenaga dalam yang kurang sukses.

Sementara anggota keluarga saya, secara lengkap, tua-muda, menikmati acara tersebut, terharu-biru begitu dikumandangkannya lagu Indonesia Raya oleh si Putra Papua, Edo Kondologit, dan merasa termotivasi untuk bangkit dari kesulitan, namun di sisi lain ternyata banyak orang yang melihat tontonan ini dari sudut pandang yang “ringan dan lucu”. Kenyataan ini dilanjutkan, ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok juga, ditanggapi sahabatnya dengan ungkapan, “Bukannya Bangsa Indonesia memang biasa berkomunikasi dengan cara ‘olok-olok’ seperti ini?

Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa jadi membuat kita terjebak pada self-fulfiling prophecy, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melalui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa bodoh”, “otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai”, “pemberantasan korupsi tidak akan tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan, action plan pribadi, kelompok maupun perusahaan secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri, bahkan melahirkan “lingkaran setan” yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-oloklah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini perusahaan sendiri, lembaga pemerintah sendiri, ataupun negara sendiri.

Olok-olok sebagai Cerminan “Esteem” Rendah

Tertawa dan bercanda bersama adalah cara manusia untuk mempererat hubungan. Bayangkan betapa runyam hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum dan tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menujukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemampuan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang tidak kasat mata. Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai perspektif terhadap hal yand tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam dan melihatnya dari sudut pandang lucu, gembira dan tidak sendu ataupun serius. Orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih “happy” dan optimistis. Namun, tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan terhadap orang lain, apalagi terhadap diri sendiri.

Olok-olok yang sering kita dengar, terutama akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan esteem atau penghargaan diri. Orang ber-esteem rendah kita kenal sebagai orang mempunyai kebiasaan untuk menilai negatif diri sendiri, tidak menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik tajanm bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi, apalagi disebut “sense of humor”.

Bisa jadi kita berpikir bahwa olok-olok atau sindiran adalah bentuk umpan balik bagi pihak lain untuk mawas diri dan memperbaiki diri. Namun, olok-olok tentu saja tidak bisa kita sebut masukan, karena ia tidak tertuju langsung secara “man to man” pada orang yang kita maksud. Selain olok-olok tidak pernah menjadikan situasi lebih baik, kita yang mengolok-olok juga jadi manusia kerdil karena karena seolah “lempar batu sembunyi tangan”, akibat ketidakmampuan kita untuk ‘pasang badan’ dan mempertanggungjawabkan pendapat dan masukan kita secara ksatria dan elegan.

Rasa Syukur Menarik Kebaikan dan Kesuksesan

Dalam bukunya Best Seller-nya, The Secret, Rhonda Byrne, mengungkapkan hal-hal yang sangat “common sense”, yang sejak dulu dikumandangkan oleh ayah saya, walaupun bentuknya sedikit berbeda. “Hitung berkatmu”, kata ayah saya, “maka kamu akan takjub akan kekayaanmu. Kemudian bersyukurlah”. Menurut Rhonda, mustahil kita menarik kebaikan, kesejahteraan dan keuntungan, tanpa mensyukuri apa yang kita miliki. Rasa syukur yang kita pancarkanlah yang akan menarik energi bagaikan magnet, sehingga kebaikan dan kemudahan akan mendekat dan memberikan “power” dalam kehidupan kita. Kita boleh merasa “kurang” karena itu akan menantang diri kita, membangkitkan motivasi untuk selalu lebih baik dan sempurna. Namun, ratapan tanpa rasa bersyukur yang diwarnai rasa iri dan kekecewaan yang negatif akan membendung kita dari kreativitas dan patriotisme untuk membangun diri, keluarga, perusahaan dan bangsa.

Simak laporan CNN mengenai gempa bumi di Sichuan, 12 Mei yang lau. “Jutaan orang kehilangan keluarga, rumah dan harta benda. Namun tak terdengar ratapan dan keluhan. Yang tampak adalah orang saling menolong satu sama lain. Dalam hitungan jam, orang-orang berlomba untuk memberi bantuan. Sepanjang ratusan meter, orang-orang mengantri untuk mendonorkan darahnya, dan dalam waktu 24 jam, mereka kehabisan tempat untuk menampung darah dari pendonor”. Rupanya, di negara yang sering kita duga “miskin emosi” ini, tidak banyak orang mengidap “bystander aphaty”, penonton yang apatis. Tentu, tak ada salahnya kita mem-“benchmark” semangat solidaritas dan “tidak ada matinya” negeri China ini.

Marilah mulai bangkit dengan membuat daftar sukses, apakah itu keberhasilan memanjat dinding 12 meter, menyelesaikan laporan tepat waktu, menutup penjualan 10 juta, berhemat 200 ribu ataupun sekedar keberhasilan untuk datang ke kantor tepat waktu. Dengan bersyukur, kita memupuk kualitas positif dan kompetensi sebagai modal kita. Selanjutnya, mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistik dan tidak lupa untuk bertindak! (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/31/05/2008)

Saturday, December 06, 2008

SUDAH BERPRESTASIKAH ANDA?


SUDAH BERPRESTASIKAH ANDA?

Jika ditilik dari masa kerja, bias jadi anda sudah tergolong senior. namun bisakah anda menyebutkan apa saja prestasi yang sudah diraih selama ini? Apalagi jika anda ingin mengembangkan sayap menuju jenjang karir yang lebih tinggi, baik di perusahaan yang sekarang atau perusahaan yang lebih bonafit?

Deskripsi mengenai prestasi tentu akan jauh lebih menarik ketimbang deskripsi tugas yang selama ini digeluti.Bahkan, akan memberikan nilai tambah bila anda mencantumkannyadalam resume. Paling tidak, akan menunjukkan bahwa anda adalah seorang pekerja yang berkualitas.

Beberapa jenis prestasi yang sangat mungkin dicantumkan dalam resume, antara lain adalah:

Pencapaian target. Kumpulkan beberapa target tersukses yang pernah yang dibebankan oleh supervisor atau perusahaan kepada anda. Akan sangat mudah mendefinisikannya bila proyek itu merupakan target pribadi. Namun bila hal itu merupakan proyek keroyokan, maka definisikan konstribusi anda dalam pencapaian itu secara jelas.

Menepati tenggat waktu. Boleh dikata, hampir semua industri –terutama industri media- harus berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, jangan heran bila karyawan-karyawan yang mampu melaksanakan tugas dengan hasil yang berkualitas dan tepat waktu cenderung lebih dihargai. Cantumkan hal ini dalam resume bila anda termasuk salah satu orang yang disiplin dan menghargai waktu.

Kemampuan dalam memecahkan masalah. Dalam hidup -apalagi bisnis- pasti selalu saja ada masalah. Jika anda pernah menangani masalah pelik dalam bisnis dengan baik, tak ada salahnya jika hal tersebut dikemukakan dalam resume. Tentu saja tak sembarang masalah bisa dipaparkan dalam resume. Pilih yang memang layak untuk dikemukakan.

Kemampuan menangani beberapa tugas sekaligus. Mungkin banyak karyawan yamg bisa mengerjakan tugas dengan baik. Namun hanya segelintir yang mampu mengerjakan berbagi pekerjaan dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kualitas yang tetap optimal. Jika anda termasuk salah satunya, biarkan hal tersebut muncul dalam resume.
Jika keempat hal ini ada pada diri anda plus seberkas sertifikat penghargaan sebagai buktinya, maka sudah sepantasnya anda disebut sebagai karyawan yang berprestasi. (AYA/Kompas/Klasika/ 22/20/2008)

MERACIK MASALAH DENGAN TEPAT


MERACIK MASALAH DENGAN TEPAT

Ibarat “bumbu” dalam kehidupan, setiap manusia akan menemui permasalahan dalam perjalanannya. Tidak sedikit yang akhirnya menyebabkan stress, namun hal itu dapat dihindari dengan mengelolanya secara tepat.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, berusaha menerima sebuah masalah dengan sabar dan lapang dada. Biasanya, reaksi awal ketika anda mendapatkan masalah adalah merasa tidak perccaya bahwa masalah itu terjadi. Jika anda seperti itu, justru akan membuat masalah menjadi semakin berat karena tanpa disadari energi anda terkuras memikirkan hal tersebut. Cobalah untuk bersikap santai, ikhlas, dan tidak panik. Dengan demikian, pikiran pun akan lebih tenang dan memudahkan anda mencari cara memecahkan masalah tersebut.

Kedua, carilah akar penyebab masalah tersebut. Tak ada salahnya meminta bantuan dari kerabat atau rekan yang dapat dipercaya untuk membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Hal ini pun dapat membantu mengurangi kegelisahan dan kekhawatiran anda.

ketiga, cobalah memilah masalah menjadi baagian-bagian kecil, lalu selesaikanlah masalah tersebut secara bertahap. Dengan memilah-milah masalah yang besar gambaran masalah anda akan terlihat lebih jelas.

Keempat, setelah mengidentifikasi berbagai penyebab masalah, anda akan lebih mudah berkosentrasi untuk mencari solusinya satu per satu. Apabila masalah-masalah yang lebih kecil terselesaikan, maka secara keseluruhan akan membantu menyelesaikan permasalahan yang lebih besar.

Kelima, ambillah hikmah dari semua permasalahan yang menimpa anda. Jadikan hikmah tersebut sebagai sebuah pengalaman yang dapat membuat anda semakin berkembang dari hari ke hari. Mental anda akan semakin kuat bila semakin terbiasa menghadapi dan memecahkan berbagai masalah.
Keenam, hindari perasaan “down” atau rendah diri setelah menghadapi masalah. Tetaplah bersemangat walaupun masalah datang mendera. jangan biarkan masalah memadamkan kreativitas anda. Seberat apapun masalah anda, tetaplah beryukur karena anda telah diberi “bumbu” kehidupan oleh Tuhan. (INO/Kompas /Klasika/20/112008)

“NOTHING IS FREE”


“NOTHING IS FREE”

Dalam sebuah seminar, pada waktu universitas negeri belum mandiri, seorang mahasiswa yang mengaku kuliah di sebuah universitas negeri besar mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada disiplin ilmu yang sedang ditekuninya dan berkeinginan sekali “pindah bidang”. Ia terkejut saat saya berkomentar bahwa ia sudah menyia-nyiakan uang negara. Dengan membayar uang kuliah, ia merasa telah melunasi kewajibannya, tanpa menyadari bahwa subsidi negara begitu besar kepada universitas-universitas negeri, sehingga uang kuliah yang dibayarkannya sebenarnya tidak masuk akal alias terlalu murah.

Terkadang kita memang bisa lupa akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap apa yang sudah kita terima. Tak sedikit orang yang tidak mengerti bahwa hidupnya di dalam suatu situasi, tempat atau negara juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Mungkin kita juga sulit menghitung berapa banyak orang yang tak peduli atau bahkan berusaha untuk lolos dari kewajiban membayar cukai atau pajak, padahal pajak sangat vital dibutuhkan agar pemerintah mempunyai dana untuk membangun infrastruktur, menalangi kesulitan keuangan, membayar utang negara, membiayai pendidikan dan masih banyak lagi.

Sebaliknya, apa yang diterima oleh orang lain, seperti fasilitas, upah, imbalan dan kemudahan, sering juga tidak mengerti oleh orang-orang yang tidak mendapatkannya. Saya terhenyak ketika cucu saya menanyakan apakah orang berkeinginan menjadi “orang penting” agar bisa mendaptkan kemudahan, seperti diskon, duduk di kelas satu, menghindari kemacetan dengan gaung sirene? Padahal, bila kita renungkan sejenak, di balik apa yang diterima oleh seseorang pastilah ada “harga yang harus dibayar”.

Seorang pembantu rumah tangga saya bercerita bahwa pada usia 6 tahun, ia perlu mencari kayu kering dulu, sebelum ibunya bisa memasak nasi untuk sarapan. Saya jadi ingat ungkapan yang sering disebut-sebut abang saya semasa kecil, “Di dunia ini tak ada yang gratis, kecuali sinar matahari”. Saya semakin menghayati ungkapan tersebut, ketika akan memasang sumur pompa berkedalaman besar. Ternyata sumur pompa tersebut kemudian dipasangi meter dan setiap kubik air yang tersedot perlu dibayarkan kepada pemerintah, karena air tanah pun adalah milik negara dan perlu dikelola pemerintah.

Sadari Risiko dalam Setiap Pilihan

Banyak orang, terutama di negara-negara maju, merasa sangat terpukul dengan terpuruknya pasar saham yang setelah ditunggu berhari-hari tidak juga kunjung pulih, bahkan merosot lagi. Pertanyaan mengenai: “kapan pasar pulih lagi?” beredar dengan harapan adanya pihak menciptakan “magic” dengan mengangkat kejatuhan yang dibuat oleh sekelompok manusia yang tidak ada puasnya. Kita lihat bahwa yang dialami oleh para pengusaha dan investor adalah keharusan menelan konsekwensi dari risiko yang diambil. Apapun pilihan yang kita ambil, kita perlu sadar bahwa ada harga yang perlu dibayar. Di Indonesia, ungkapan Sri Mulyani agar para pengusaha mengurus dan menjaga keuangan perusahaan baik-baik, tentunya menandakan tidak akan ada bantuan “gratis” lagi dari negara untuk menolong pengusaha yang terpuruk.

Dalam setiap peran dan pilihan kita, apakah sebagai wirausaha, pengelola lembaga keuangan, investor, pegawai, pegawai negeri, anggota DPR atau bahkan warga negara, akan senantiasa melekat hak, kewajiban dan konsekwensi serta risiko. Ada pejabat negara dengan gaji yang cukup, dihormati oleh publik, namun beban yang ditanggung berat dan memerlukan dedikasi tinggi. Ada yang memilih pekerjaan mudah, namun bayaran dan risiko yang kecil. Investor yang menginginkan untung yang besar pastinya juga sepenuhnya sadar bahwa risiko keterpurukan yang dialami bisa parah. Selebritas pun membayar kepopulerannya dengan keharusan menjaga penampilan setiap saat, kemungkinan digosipkan dan hilangnya privasi.

Menilai dengan “Fair”, Membayar dengan “Pas”

Saya sungguh terkejut ketika teman saya yang cukup berada, tampak berusaha sekali untuk secara memelas meminta keringanan membayar uang pangkal dan uang pembangunan sekolah putra-putrinya. Komentarnya, “Kalau belum dapat diskon, rasanya kurang sreg”. Saya jadi bertanya-tanya, apakah ia tidak menghitung bahwa kontribusi yang diberikannya untuk sekolah akan dinikmati kembali dalam bentuk fasilitas belajar bagi putra-putrinya untuk menguasai disiplin ilmu? Apakah alasan bahwa masih banyak terjadi penyelewengan dan korupsi, memperbolehkan orang untuk tidak berkontribusi atau membayar yang “pas”?

Ketidaksukaan kita untuk berhitung atau menilai, serta meningkatkan kesadaran kegiatan “membayar” sering menyebabkan kita jadi tidak bisa menimbang ataupun menyeimbangkan hak dan kewajiban. Karyawan yang prestasinya biasa-biasa saja, kemudian di akhir tahun tetap menuntut kenaikan gaji karena karena harga di pasar naik, sebetulnya menuntut lebih dari haknya. Sebaliknya, bila individu berprestasi baik sehingga perusahaan untung, kita semestinya tidak perlu sungkan-sungkan mengungkapkan agar perusahaan ingat untuk membayar lebih banyak.

Dari sisi individu, kita sebenarnya perlu menanamkan sikap fair pada diri sendiri dan pada pihak eksternal. Ukuran yang paling mudah sebenarnya adalah uang. Membayar iuran, pajak, tilang dengan benar adalah latihan yang paling baik untuk meningkatkan “awareness” akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap pembangunan. Bila hal ini sudah kita lakukan, kita bisa meningkat lebih jauh untuk menghitung “harga” yang harus kita keluarkan untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan. Misalnya, untuk bisa berprestasi tinggi, kita perlu membayar dengan latihan dan kerja keras, di saat orang lain memilih bersantai. Agar direspek sebagai orang yang anggun dan bisa mendapatkan servis yang baik, terkadang kita harus membayar dengan kesabaran menunggu, mengantri tanpa melakukan suap atau membeli catutan. Untuk mempertahankan pelanggan, tak jarang kita juga perlu membayar dengan mengorbankan waktu, bahkan perasaan. Demikian pula kita dan perusahaan perlu mematuhi berbagai larangan untuk bisa mendapatkan predikat “corporate governance”. Sepanjang kita masih bisa menyeimbangkan diri, dan tidak mengorbankan bahkan menjual prinsip, kita bisa berjalan lebih tegap, sehat mental dan perkasa bila merasa sudah membayar dengan “pas”. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/ 01/11/2008)

GENGSI


Saat Saya bicara di dalam pelatihan-pelatihan bahwa feedback adalah hal yang unavoidable atau tidak terhindarkan untuk perbaikan dan pengembangan diri, hampir selalu saja ada ‘curhat’ dari peserta menenai banyaknya mereka menemui individu senior yang tidak welcome, sulit atau bahkan meradang saat menerima umpan balik. Saya menduga, bahwa salah satu alas an seseorang sulit menerima umpan balik mengenai kinerja, kesalahan dan pengembangan dirinya, terutama di negara kita ini, adalah lebih dilatarbelakangi gengsi yang besar.

Kritik dipandang sebagai sesuatu yang menjatuhkan ‘muka’ dan menurunkan gengsi. Apalagi bila senior berada pada situasi harus bekerja di bawah pimpinan yang lebih muda, pintar namun kurang pengalaman, bisa-bisa makin besar pula kadar gengsinya. Komentar seperti “anak kemarin sore”-lah “belum pengalaman”-lah dan banyak alasan lain, seakan tidak memperbolehkan diri kita untuk melihat ke dalam dan berpikir mengenai kapasitas, kompetensi, kontribusi dan komitmen yang selama ini kita tampilkan, sehingga kita tidak dipilih menjadi pimpinan tim dan dilangkahi oleh yang lebih muda-muda.

Banyak ahli mengatakan bahwa gengsi adalah dominasi masyarakat Asia. Pada masyarakat Jawa bisa dikonotasikan dengan “projo”, oleh masyarakat Cina dekat dengan pengertian “mianzi” (nama baik) dan “lian” (karakter moral). Dalam bahasa Inggeris sendiri memang tidak ada kata tepat untuk fenomena “menjaga muka” ini, kecuali gabungan antara “reputasi” dan “esteem”. Namun kapanpun dan di negara manapun, setiap orang memang punya kebutuhan untuk menjaga “image” dirinya di depan publik.

Agendakan Bermawas Diri

Andrew Oswald, seorang ahli ekonomi dari University of Warwick, mengatakan bahwa manusia mempunyai nasib untuk selamanya membandingkan dirinya dengan orang lain. Bila kegiatan membandingkan diri ini dilandasi “kerakusan” dan hal-hal yang ada di permukaan saja, maka individu bisa melakukan tindakan salah, berdasarkan analisa pribadinya itu. Tentunya kita ingat cerita klasik, seorang istri membandingkan diri dengan tetangga yang baru membeli motor dan suaminya pulang, ia merengek untuk juga dibelikan motor baru, tanpa berpikir mengenai pendapatan, kesempatan dan kemampuan keluarga untuk meningkatkan konsumsi.

Bila kita tidak punya agenda untuk senantiasa “mengisi diri” dan mencerdaskan diri sendiri, sangat mungkin terjadi situasi membandingkan diri tanpa berupaya menganalisa lebih mendalam, kita ulangi lagi dan lagi. Pada akhirnya, analisa-analisa ini bisa bertumpuk dan berakibat pada kedangkalan berpikir, sehingga kita hanya bisa menumbuhkan “esteem” atau harga diri atau merasa “bergengsi” melalui hal-hal dangkal dan di permukaan saja, seperti materi, jabatan, fasilitas, serta apa yang dikenakan orang.

Teman saya adalah istri seorang ahli perminyakan. Saya mendengar sendiri ia mengomel pada sebuah jamuan makan di rumahnya, “Pah, masa orang lain sudah ganti mobil Maserati, kita masih Kijang Kijang juga ...” Ketika diusut, siapa pengendara Maserati itu, ternyata mereka adalah pemilik perusahaan minyak tempat suaminya bekerja yang kebetulan bersahabat dengannya. Analisa mengenai pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan yang sangat sederhana ini bisa sulit dilakukan bila kita memang tidak berlatih untuk menjadi lebih “dalam” dan mawas diri. Oleh Oswald, gejala ini disebut sebagai “happiness economics”, dimana kebahagiaan sangat relatif dan bergantung pada kegiatan membandingkan diri dengan orang lain, dari waktu ke waktu, lalu mengakibatkan individu tidak pernah stop untuk meningkatkan kebutuhannya. Bisa saja kita jadi terjebak menghalalkan berbagai cara untuk mengejar kedudukan, kekayaan, namun sekaligus membuat makna kemanusiaan kita hampa.

Mengangkat Gengsi: “Being versus “Having”

Bila kita mau sedikit bermawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal dari sebatas kedudukan, kekayaan, dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermiliar dolar, gonta-ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan populer seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata publik bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seserang dibandingkan dengan “having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”-nya tapi belum tahu dari mana sumbernya.

Kita bisa menggaris bawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakekat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kita merasa gengsi naik sepeda, ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru, tetapi gaptek dalam menggunakannya? Menunjang program “busway” adalah salah satu bukti bahwa kita bisa mengangkat harga diri melalui prinsip efisiensi dan efektivitas, dimana kita bisa lebih cepat sampai tujuan tanpa harus bermacet-macet duduk bengong di dalam mobil mewah kita, dengan membayar joki pula. Jadi, manakah yang lebih bergengsi? (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/Kompas/Klasika/08/11/2008)

Friday, December 05, 2008

MENEROBOS MASA DEPAN


MENEROBOS MASA DEPAN

Seorang tokoh yang mencalonkan diri menjadi presiden menyapa saya dan menanyakan komentar saya mengenai fakta bahwa ia mencalonkan diri sebagai presiden. Saya betul-betul membutuhkan waktu untuk mencerna apa dan bagaimana kriteria seorang presiden, sampai saya akhirnya berkomentar menyatakan kekaguman saya pada keberanian dan kesiapannya. Ia tentunya sudah merencanakan terobosan-terobosan, inovasi dan solusi bagi keadaan negara yang sangat kompleks dan besar ini.

Kita sadari bersama bahwa selain krisis energi di tengah kekayaan sumber daya yang belum termanfaatkan seperti air, angin, laut, kita sudah menghadapi masalah-masalah seperti emisi karbon yang harus distop, sementara konsumsi mobil meningkat terus. Biaya pengobatan pun kini sudah tidak terkendalikan mahalnya dan tidak bisa ditanggung oleh kebanyakan orang lagi. Masalah kemiskinan yang diduga sudah mencapai titik nadir, tetapi tetap anjlok lebih dalam dan lebih dalam lagi. Belum lagi bicara terorisme yang selain membunuh orang juga mematikan bisnis dan kesejahteraan rakyat, seperti kejadian di Bali. P-R para pemimpin tentunya tidak berpolitik saja, tetapi juga melakukan hal-hal “back to basic”, program-program “fusion”, atau bahkan membuat “quantum leap”, banting stir, tidak sekadar mereplikasi upaya yang ada tanpa perbaikan, sementara juga membuat proses yang ada berjalan lancar dan tanpa ada hambatan. Mungkin tepatnya, pemimpin perlu kompetensi super istimewa, seperti memperbaiki mobil dalam keadaan sedang berjalan.

Generasi yang Menggerakkan Masa Depan

Bicara masa depan, tentulah tidak bisa dihindari, mata kita juga tertuju pula pada generasi yang baru. Berkat jasa para pendahulu, kita sekarang berada pada generasi yang lebih berfasilitas dan lebih berpendidikan dari sebelumnya. Perubahan kilat dan daya tahan untuk menghadapi kompleksitas hidup pun sudah meningkat. Kita sudah punya akses ke informasi apapun dan juga terkoneksi ke manapun.

ada yang mengatakan bahwa generasi sekarang sudah tidak setangguh generasi dulu. Generasi sekarang tinggal menikmati apa yang sudah dilandaskan oleh generasi pendahulu. Padahal kita mengenal ‘Gen Y’ anak muda sekarang, jauh lebih kreatif, inventif, tahu bagaimana menikmati dunia dan kebebasan. Kreativitas, inovasi serta pikiran bebas sudah menyebabkan generasi baru sudah “beda” dengan generasi lalu. Tanpa terasa “alih generasi” sudah terjadi. Karakteristik ini tentunya menjadi kekuatan untuk menanggulangi abad ke-21 yang sudah di depan mata. Sekaranglah saat-saat perpindahan tongkat estafet, dimana semua hasil karya pendahulu bisa kita nikmati dan perlu diteruskan dengan upaya lebih keras, kreatif dan “beda”. Kalau tidak kita akan terjebak di dalam vakumnya kepemimpinan dan bingung antara mengikuti spektrum lama dan sibuk melakukan penyanggahan, komplain, meratapi keterbatasan dan berontak. Kitalah yang perlu membawa lingkungan untuk menanggapi tantangan abad selanjutnya, menemui kesejahteraan bentuk baru. Dengan adanya darah baru kita sebetulnya berharap akan langkah-langkah yang segar, positif, penuh inspirasi sehingga kekuatan intelektual dan sosial yang berasal dari generasi muda menjadi motor penggerak bangsa.

Kita pun bisa dengan mindset “out of the box” mengembangkan “inside the box” kita. Sebagai inspirasi, kita bisa tengok Thailand, yang area istananya dipenuhi dengan laboratorium-laboratorium yang menjadikan kita dapat menikmati durian monthong secara murah meriah, menikmati beras impor Thailand, bahkan mengimpor iklan karena profesionalisme pembuatan iklan yang diriset di istana. Negara tetangga kita yang lain, Malaysia, yang meskipun garis pantainya begitu pendek, sedang gencarnya mengembangkan marine agriculture atau inshore aquaculture. Mengapa kita yang punya garis pantai kedua terpanjang di dunia, luput mengembangkannya?

Menyambut Tantangan dengan Tindakan

Presentasi para manajer di perusahaan baik di dalam rapat kerja atau analisa penjualan atau bisnis yang kerap menggambarkan kekuatan dan kesempatan di satu sisi, ancaman dan kelemahan di sisi lain, atau SWOT, sering menjebak kita semua untuk berkubang dan memelototi kelemahan diri dan tidak berusaha keluar dari sumur kubangan tersebut? Pendekatan “positive psychology” menganjurkan agar kita hanya menggunakan analisa ancaman dan kelemahan sebagai langkah awal. Kemudian, ‘sejarah’ itu kita simpan baik-baik di belakang untuk berfokus pada S-O-A-R (strength, opportunity, action, result), yaitu masa depan, action dan hasil. Pendekatan seperti ini akan membawa kita dari intelektualisme menuju aktivisme, berorientasi pada gerak sehingga membawa aura “dinamisme”. Kreativitas pun akan dimanfaatkan betul-betul untuk menyambut tantangan. Konsenterasi pada action dan result ini juga lebih cocok untuk generasi sekarang yang cenderung lebih instan dan ingin “menyaksikan hasil” dengan cepat.

Keaktifan Menerobos akan Membawa Hawa Baru

Greget untuk menuju pada kemajuan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan ataupun kualitas hidup lainnya, dalam kondisi “constant change” dan kompetisi, tidak-bisa-tidak tetap perlu dibawa ke depan. Untuk itulah pemimpin butuh visi, strategi dan komitmen yang super kuat. Kesenjangan yang sedang digarap bukanlah sekadar kesenjangan antara masa sekarang dan masa depan, tetapi juga kesenjangan antara masa depan dan komitmen pemimpinnya, antara tindakan yang sudah dibuat dengan keadaan “turbulence” selanjutnya, yang disebut seorang ahli sebagai “Energetic Gap”, yaitu kekuatan energetik yang menembus terciptanya suatu program yang mantap dan antisipatif dari sesuatu yang tidak usah selalu baru dan banyak ongkos, tetapi belum pernah terpikirkan.

Gaya pemimpin yang berorientasi paternalistik dan berangan-angan menjadi panutan bagi anak buah rasanya sudah kurang cocok dalam situasi sekarang dimana stakeholder, anak buah, pelanggan sudah ‘sama pandainya’ dengan para pemimpin. Satu-satunya jalan yang dimiliki pemimpin untuk menggerakkan dan mencatat sukses adalah dengan mengajak, mencontohkan kegiatan belajarnya, dan mengakui ketidakbisaannya dengan jujur dan transparan. “leraning” buat para pemimpin perlu menjadi nafas dinamikanya, dimana perlu didorong “blur the line” antara learning dan kerja. Pemimpin yang baru perlu tahu memanfaatkan kompetensi teknis baru pada proses-proses yang berjalan sekarang dan dengan serius mengembangkannya baik di dalam laboratorium maupun dalam diskusi-diskusi sehingga hasil olahan tersebut menelorkan program-program pembenahan, campuran atau yang sama sekali baru. Pemimpin pun perlu sangat transparan akan sasaran dan harapannya, karena hanya dengan pemahaman yang kuat dari para pengikutlah energi yang dibutuhkan untuk bergerak bisa menyala dan tumbuh. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/ Kompas/ Karir/ 02 Agustus 2008)

Thursday, December 04, 2008

KRISIS?


KRISIS?

Saat menyaksikan jumpa pers “full team” para pejabat eksekutif moneter Indonesia terkait dampak dan antisipasi krisis ekonomi global, hari Minggu (05 Oktober 2008) lalu, saya seketika teringat pengalaman dan perasaan luluh-lantaknya saya menghadapi krisis ekonomi tahun 1997-1998. Saya ingat betul, betapa saat itu hutang menjadi berlipat, suku bunga melonjak, order kerja merosot sampai ke titik nol, yang mau tidak mau berakibat pada pengurangan karyawan, kehilangan pekerjaan dan jatuhnya mental untuk waktu yang cukup lama.

Pesan dalam jumpa pers kemarin bahwa pemerintah akan mempercepat reformasi ekonomi dengan pebaikan iklim investasi, perbaikan sarana dan prasarana, percepatan pengadaan listrik yang menjadi keluhan investor, dikomentari oleh media sebagai sesuatu yang klasik, abstrak dan membosankan. Tentunya kita jadinya bertanya-tanya, apakah reformasi ekonomi bisa menjadi jalan keluar instan bagi gejala yang akut seperti ini? Bukankah keadaan ini hanyalah sebagai detonator sebuah depresi, baik kultural, gaya hidup, lingkungan, ekonomi dan politik?

Bicara krisis, tentunya kita pun sangat menyadari, namun terkadang membutakan diri,bahwa praktik-praktik seperti rendahnya disiplin kerja, disiplin waktu, pelanggaran ketertiban, kurangnya ambisi, kesulitan beradaptasi terhadap perubahan dan kesukaan pada hal-hal irrasional menjadi fenomena yang menyebabkan kita lumpuh untuk bereaksi terhadap keadaan ekonomi dan moneter, sulit menghindari dampak krisis dan menjadikan kita sulit bangkit kembali saat didera keterpurukan.

Pada level yang lebih tinggi, bisa jadi kita juga sudah lelah menyaksikan pemberitaan seputar pemberantasan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), penegakan hukum, transparansi dan wacana kepemimpinan yang menjanjikan sebuah tata kelola pemerintahan yang lebih baik, yang mungkin memang sedang diupayakan. Korupsi dan inefisiensi yang merajalela inilah yang menyebabkan manajemen negara kita lemah, tidak mempunyai “power” untuk memaksa rakyat berubah, sehingga tidak bisa diandalkan akan memberi hasil segera. Kitalah sebagai individu yang perlu mengantisipasi, mengurangi keserakahan, dan menghentikan gaya hidup “besar pasak daripada tiang”.

Tunggu Apa lagi?

Pada tanggal 23 September 2008, seusai Olimpiade, Beijing melakukan aksi turning out lights (pemadaman lampu), dengan misi meningkatkan kesadaran akan langkanya energi. Banyak sekali orang berkomentar bahwa tindakan tersebut hanya formalitas belaka. Namun paling tidak, upaya pemerintah Cina untuk membuka mata, telinga dan hati rakyatnya dalam menghadapi krisis energi, dilakukan bukan sekedar berupa wacana saja. Minimalnya, masyarakat jadi lebih mengerti dan lebih bisa mengantisipasi apa yang akan dialami, bila kemungkinan terburuk terjadi.

Bagaimana dengan kita? Bila pemerintah menyerukan untuk melakukan tindakan-tindakan positif demi bertahannya kekuatan ekonomi kita, haruskah kita menunggu saja? Sudahkah kita bergerak, mengeluarkan ide dan saling mengingatkan, sehingga “doing” dan “being” kita optimal? Sudahkan bangsa kita yang mempunyai kultur musyawarah yang kuat, duduk bersama dan melakukan “brainstorming” dengan intensif untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomis serta pemotongan ongkos yang tidak perlu?

Bergaya Hidup Ekonomis

Ketika membaca kiriman dalam milis, mengenai prinsip hidup sederhana yang dijalani Warren Buffet, orang kedua terkaya di dunia, saya menjadi malu sendiri. Saya menyadari betapa kita ini hidup dalam kemanjaan yang membawa kita ke dalam kehidupan yang buta ekonomi. Prinsip ekonomi yang dijalankan oleh Warren, seperti menabung uang kecil, hanya mengkonsumsi apa yang dibutuhkan, mencapai sasaran secara ekonomis, sangat bertentangan dengan gaya hidup kita yang eksesif, seperti punya 2-3 handphone dan kendaraan, menggunakan tissue yang kesemuanya berlebihan.

Saat krisis pangan sudah didengungkan, cepat atau lambat akan dihadapi oleh negara kita yang perlu memberi makanan sehat kepada 225 juta rakyatnya, mestinya kita bisa saling menyadarkan bahwa kita tidak lagi pernah ingin kembali ke tahun 1950-an, saat pangan saja menjadi sasaran yang sulit dicapai. Situasi ini mengingatkan kita Mahatma Gandhi saat membangkitkan kesadaran rakyat India untuk mengangkat kehidupan ekonomi mereka. Dengan prinsip Swadeshi yang digaungkannya, rakyat India didorong untuk membeli hasil tenunannyasendiri, padahal saat itu mutu tenunan India sama sekali jauh di bawah standar. Perlahan tapi pasti, gerakan Swadeshi mengangkat rakyat India untuk bangga dengan produksi dalam negerinya, meningkatkan spirit servis, menguatkan disiplin beragama dan kemanusiaan, da mendorong India menjadi bangsa yang berbudaya kuat sekaligus mandiri, percaya pada kekuatannya sendiri.

Rasanya terobosan ala Gandhi-lah yang perlu kita lakukan. Tidak usah secara massal, karena kita bisa mulai dari diri sendiri, dari rumah dan dengan keberanian tersendiri. Kita bisa mulai berbagi kendaraan yang ditumpangi, nebgurangi pemakaian listrik, bahkan menyehatkan diri dengan banyak melakukan aktivitas manual dan fisik, misalnya bersepeda, ketimbang mondar-mandir mengendarai motor besar berharga ratusan juta.

Tentunya ada resiko bila kita melawan arus gaya hidup yang sudah tertanam di kehidupan kita. Kita mungkin akan dianggap kurang “keren” kalau kita berhemat, bergaya hidup secukupnya, berdandan atau berkendaraan seperlunya. Tetapi, kalau dengan gaya hidup ini kita akan “survive” dalam menghadapi krisis ekonomi manapun dan dimanapun, mengapa tidak? Meskipun kita tidak perlu ssampai bersikap ‘anti mesin’ sepertizaman Mahatma Gandhi lagi, tetapi bersikap ekonomis rasanya tetap merupakan sikap yang paling modern dan pintar. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri, Experd – Kompas/Klasika 18 Oktober 2008)

MENGENAL TANDA TERSERANG STRES


MENGENAL TANDA TERSERANG STRES

Meski sudah lazim terdengar, mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa dirinya terserang stres. Memang, setiap orang memiliki tanda stres yang berbeda. Namun, tak ada salahnya menilik beberapa hal yang kerap dijadikan indikator bila stres telah menyerang.

Mau tau apa saja? Berikut adalah beberapa di antaranya.

Pertama, terjadi perubahan emosi dalam diri seseorang. Jika stres menyerang, biasanya seseorang menjadi lebih mudah marah meski gara-gara hal sepele. Stres berlebihan dan berkepanjangan dapat menghilangkan rasa percaya diri dan memicu timbulnya depresi. Hal ini kadang terjadi tanpa disadari, sehingga keadaan lebih runyam.

Kedua, perubahan nafsu makan. Emosi yang tidak stabil secara tidak langsung memang berpengaruh pada nafsu makan. Pada beberapa orang, nafsu makan bisa tiba-tiba hilang. Sementara pada orang lain, stres dilampiaskan dengan makanan, yang dianggap dapat membantu mengembalikan ketenangan diri. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin memicu timbulnya keluhan lain dari dalam tubuh.

Ketiga, tanda-tanda stres menyerang bisa dilihat melalui wajah. Baik melalui perubahan raut wajah yang terlihat kusam dan murung, maupun timbulnya beberapa jerawat di sekitar area wajah. Hal ini dipicu oleh ketidakseimbangan hormon akibat stres yang mendera.

Keempat, jika terus berulang, lama kelamaan tubuh pun ikut merasakan dampak ketika stres menyerang. Keluhan berupa rasa letih secara terus menerus merupakan salah satu hal yang kerap dijumpai. Terlebih bila diiringi gangguan tidur atau insomnia, yang juga memicu timbulnya rasa lelah berlebihan.

Jika anda mengalami salah satu atau beberapa tanda di atas, tak ada salahnya menilik kembali rutinitas sehari-hari. Berilah waktu istirahat sejenak bagi tubuh dan pikiran anda, agar dapat beraktivitas secara maksimal. Selain itu, melakukan olahraga secara rutin juga dapat membantu mengembalikan stamina dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh. (Ragam/Kompas Klasika 06 November 2008)

Wednesday, December 03, 2008

KETIKA HARI WAWANCARA TIBA


KETIKA HARI WAWANCARA TIBA

Dalam Beberapa tahapan seleksi penerimaan karyawan baru, biasanya diawali dengan aneka tes tertulis dan psikotes. Jika berhasil lolos dalam tahapan tersebut, maka selanjutnya calon karyawan akan dihadapkan pada wawancara atau interview dengan calon bos atau pejabat terkait.

Di tahapan inilah, biasanya terlihat kepribadian si calon karyawan secara umum. Terlihat pula bagaimana sikapnya ketika menghadapi orang, bagaimana caranya memandang sesuatu, bagaimana ia menghadapi sesuatu masalah, dan banyak hal lainnya.

Oleh sebab itu, tak heran bila proses ini sering kali dianggap sebagai faktor penentu diterima tidaknya ia di perusahaan yang bersangkutan.

Mengingat proses ini cukup penting, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
Gunakanlah busana yang sopan namun tetap menarik. Tak dapat disangkal bila penampilan yang sopan dan menarik bisa menimbulkan kesan pertama yang positif. Selain itu orang pun akan merasa lebih dihargai jika anda menemui mereka dengan kemeja, blazer, dasi, serta rok atau celana berbahan kain ketimbang kaus kerah plus celana jeans.
Ada baiknya jika anda berdandan secara natural dalam arti tidak menor dan berlebihan. Hindari pula dpakaian dengan warna yang seronok dan menyilaukan mata. Pilih saja pakaian kerja dengan warna-warna yang netral seperti hitam, putih, abu-abu, biru atau coklat.
Saat proses wawancara berlangsung, duduklah dengan sopan, kaki rapat, dan dada tegak. Hindari sikap tubuh membungkuk atau loyo.
Dalam menjawab pertanyaan, bicaralah secara tegas dengan intonasi yang sedang namun mantap. Tunjukkan optimisme anda dalam menghadapi kendala yang mungkin muncul dalam bidang diminati. Ingatlah, dari cara bicara pun bisa terlihat kepribadian dan keseriusan anda terhadap pekerjaan.
Dalam berbicara, biasakanlah menatap mata orang yang bersangkutan. Hindari kebiasaan ‘belanja’ mata.

Dengan penampilan, sikap tubuh, dan cara bicara yang sopan, plus IPK, CV dan pengalaman kerja yang memuaskan, yakinlah bahwa anda dapat bekerja di perusahaan yang diinginkan. (AYA-Kompas Klasika Minggu 15 Juni 2008)

Monday, December 01, 2008

Enam Langkah Sukses Meniti Karir


Enam Langkah Sukses Meniti Karir

Tak seorang pun karyawan yang tak ingin sukses. Semua pasti ingin memiliki jenjang karir yang menjanjikan masa depan cerah. Untuk meraihnya, tentu saja dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang cukup besar.

Beberapa tip berikut, mungkin dapat membantu anda mencapai jenjang karir yang diinginkan:

Berdedikasi Tinggi.
Untuk mewujudkan cita-cita akan karir anda yang terus berkembang, diperlukan daya juang dan dedikasi pada perusahaan yang tinggi. Usahakan jangan berdedikasi jika hanya ingin mendapatkan promosi jabatan semata. Lakukan semua pekerjaan dengan disiplin yang tinggi. Bila perlu disertai dengan prestasi yang menonjol di bidang anda geluti.

Berinisiatif.
Jangan ragu untuk melontarkan ide dan inisiatif. Tunjukkan pula hasil karya, penyelesaian tugas, kerja sama dengan komunikasi yang memuaskan semua pihak.

Menambah ilmu dan Pengalaman.
Tingkatkan kepercayaan diri dengan memperbanyak ilmu dan keteranpilan yang relevan dan signifikan agar dapat memberikan hasil karya yang memuaskan.

Tidak gagap Teknologi.
Di jaman yang serba canggih ini, ada baiknya jika anda menguasai teknologi internet, penggunaan software tertentu dalam proses bisnis di perusahaan, dan teknologi yang relevan dengan kompetensi khusus.

Jalin kerja sama dengan unit-unit terkait
Pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari pasti terkait dengan unit bisnis lainnya. Oleh karena itu, ada baiknya jika anda menunjukkan sikap bersahabat, serta menghargai bantuan atau karya orang lain. Lakukan juga hubungan komunikasi yang baik dengan sesama bawahan maupun atasan. jangan lupa untuk mengucapkan kata terima kasih atas bantuan dan kerja sama mereka.

Selalu menjaga sikap.
Sebuah perusahaan yang berkualitas tentunya menuntut karyawannya untuk selalu menjaga penampilan diri, serta kesopanan dalam tutur kata. Ada baiknya jika anda selalu menyesuaikan cara berpakaian dengan budaya perusahaan yang berlaku. Terlebih sikap ramah, tersenyum, dan sopan yang selalu ditunjukkan dalam perilaku kerja. (AYA – Karir – Klasika Kompas Minggu, 1 Juni 2008)

BERPIKIR KRITIS


BERPIKIR KRITIS

Dengan maraknya milis dan forum diskusi yang berkomentar mengenai berbagai gejala, ada satu hal yang semakin berkembang yaitu sikap kritis individu. Ini tentu ada hubungannya dengan pendidikan dan sistem informasi yang semakin mudah diakses, sehingga siapa saja asal mau, bisa mempertanyakan situasi, keputusan dan segala macam pernyataan dan fenomena yang ada. Bukan saja pertanyaan, ungkapan perasaan, ketidaksesuaian pendapat, bahkan juga tuntutan juga terdengar, terbaca dan terlihat.

Simak saja wacana mengenai Arus Minyak Nasional, yang melibatkan protes mahasiswa, DPR, partai, badan eksekutif dan masyarakat banyak. Pertanda apakah ini? Selain demokrasi, kita bisa beranggapan bahwa generasi muda, yang akan menghadapi abad selanjutnya, sudah mempunyai daya pikir yang lebih “advanced” . “Good thinking is an important element of life success in the information age” , demikian ujar Thomas & Smoot (1994).

Kita pasti setuju bahwa kegiatan berpikir adalah kegiatan yang super mulia dan merupakan anugerah Tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada makhluk lain di dunia ini yang bisa berpikir dengan cara secanggih manusia. Dengan adanya kegiatan berpikirlah manusia mampu menggambarkan isi dunia ini. Dan, dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah diuji, dibolak-balik dan dikulik di masyarakat, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berpikirnya.

Sikap Mental untu Berbeda Pendapat

Aturan dan tatakrama yang diajarkan orang tua dan guru kita dulu, misalnya untuk tidak membantah, tidak berdebat untuk menjunjung harmoni, kita sadari tidak selamanya menyuburkan cara berpikir. Kita sering lupa bahwa kita punya kewajiban untuk mengasah cara pikir kita, baik di sekolah maupun setelah keluar dari sistem pendidikan. Dalam perjalanan hidup, saya menyaksikan bahwa kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru dari di-“adu”-nya pendapat kita dengan kritik, pertanyaan, keraguan orang lain, bahkan setelah perdebatan sengit. Yang paling penting, sikap mental juga perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik dan sanggahan.

Para ahli menyarankan agar berfokus pada isu dan bukan pada orangnya, sebagai landasan sikap rasional yang perlu dikembangkan dalam “menembak” masalah, “menelurkan” solusi, dan bukan mengumbar emosi serta kesalahan. Di sini, kita pun bisa mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih pendapat, karena kita tidak “sealiran” atau tidak menyukai individu yang berpendapat.

Saat sekarang, kita juga semakin sadar bahwa sekedar “asbun” (asal bunyi, asal ngomong), tanpa berlatih bertanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya, malahan bisa menjatuhkan harga diri dan kewibawaan kita sendiri. Namun demikian, memang masih banyak kita temui orang yang berpendapat tetapi tidak bertanggung jawab, misalnya, seorang sales manager yang mengatakan, “Di perusahaan ini, sistem administrasi kacau. Masakan tanda terima barang bisa ditandatangani oleh seorang salesman tanpa diketahui oleh penerima barangnya”. Pernyataan yang dilemparkan tanpa memikirkan follow up, sekedar menyulitkan orang lain dan tanpa disertai tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah pembuka diskusi yang sehat. Individu yang ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intelektual, perlu mencermati gejala, tulisan, tindakan atau keputusan dengan hati-hati. “dalam” dan berusaha mendapatkan “point” dari isu tersebut. Seruan misalnya “turunkan harga BBM”, “turunkan harga sembako” akan lebih intelek bila yang berseru sudah mempelajari, apakah gejala kenaikan BBM ini melulu disebabkan oleh korupsi atau gejala mendunia. Kita pun perlu membedakan fakta dari pendapat, kasus dari gejala umum, membersihkan “bias” selain juga tidak berpikir “hitam putih” saja, dan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita sebelumnya kita tidak tahu.

Pemikir Sehat

Individu, tidak terlepas berapa usianya, sering tidak menyadari kesalahan berpikirnya. Ada yang dari muda sampai tua tetap keras kepala. Ada juga yang tidak pernah sadar bahwa ia “sok tahu”, meyakini sesuatu tanpa pernah meng”update ataupun mengecek kebenarannya lebih lanjut. Banyak juga orang berasumsi bahwa kekuatan berpikir berkorelasi besar dengan IQ, tingkat kecerdasan. Bila ada orang pintar berpendapat, orang cenderung meng-iya-kan, dan setuju. Fenomena “tunduk pada yang cerdas” ini sering menumbuhkan sikap submisif dalam kegiatan mengasah cara pikir kita.

Sebenarnya cara berpikir bisa dikembangkan dengan cara yang sangat simpel: memelihara kegiatan mempertanyakan, beranggapan bahwa setiap kebenaran itu sementara, dan bersikap “undogmatic”. Kegiatan ini sudah bisa kita amati di acara-acara debad di televisi maupun radio. Hanya saja, kalau benar-benar ingin sehat kitapun perlu menyadari bahwa otak hanya bisa menyerap sedikit informasi yang tersedia, mengenai suatu isu. Dengan keterbatasannya, otak sering melakukan “oversimplication” yang berakibat pada penyaringan fakta, asumsi maupun keyakinan individu. Berarti bila kita ingin diterima sebagai pemikir obyektif, kita pun perlu siap membuka pikiran seperti layaknya seorang anak sekolah, menyerap informasi sebanyak-banyaknya, baru kemudian memilah dan menyaring sehingga presisi, akurasi, relevansi, logika dan kedalaman bisa tercapai secara optimal.

Mendorong Pencerdasan Bangsa

Saat sekarang, dimana semakin marak sekolah nasional plus, universitas swasta yang harganya bahkan bersaing dengan universitas negeri, gratisnya biaya sekolah, sangat menjanjikan tercapainya pencerdasan bangsa. Sudah waktunya kita bisa berharap untuk berada di kancah berpikir obyektif, “terang” dan positif. Meskipun kebenaran tidak disajikan begitu saja, tetap perlu dikorek-korek, dipikirkan, diendapkan dan dicocokkan, namun kita sudah boleh berharap berdiskusi dalam tingkatan yang sama, tidak meraba dalam gelap, penuh kerendahan hati tetapi tetap siap memodifikasi alam pikir kita. Dengan cara inilah kita maju dan jadi pintar, sambil tetap perlu mempunyai ‘ruang’ untuk berpikir inovatif dan kreatif. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri – EXPERD, Karier Kompas 05 Juli 2008).

BIASAKAN SELALU BERPIKIR POSITIF


BIASAKAN SELALU BERPIKIR POSITIF

Kegagalan dalam kehidupan, entah dalam pekerjaan atau percintaan, pasti pernah anda rasakan. Seringkali kegagalan tersebut membuat anda putus asa, tidak percaya diri, dan selalu berpikiran negatif. Padahal kegagalan seharusnya menjadi “cambuk” bagi anda untuk menjadi lebih baik lagi. Salah satu caranya adalah dengan selalu berpikir positif. Untuk membantu anda belajar berpikir positif, simaklah hal-hal berikut ini.

Pertama, cobalah abaikan segala macam pikiran negatif. Gantilah pikiran-pikiran negatif anda dengan pikiran-pikiran positif dan bersifat membangun. Contohnya, ubahlah pikiran seperti, “saya tidak bisa melakukan ini”, dengan pikiran positif, “saya pasti dapat melakukan hal ini dengan baik”.

Kedua, sebelum melakukan sesuatu, jangan bayangkan sebuah kegagalan, tapi bayangkanlah keberhasilan yang akan dapat setelah melakukan hal tersebut. Ingat, biasanya apa yang anda bayangkan akan menjadi sugesti tersendiri yang menentukan berhasil atau tidaknya pekerjaan anda.

Ketiga, bergabunglah dengan orang-orang berpikiran positif. Pikiran manusia itu ibarat penyakit menular. Jika anda berada di dekat orang-orang yang pikirannya dipenuhi kebahagiaan dan keoptimisan, secara otomatis anda akan terpengaruh cara berpikir mereka yang positif juga.

Keempat, sering-seringlah membaca buku yang dapat meningkatkan motivasi anda. Bacalah buku tersebut di waktu senggang anda. Lalu, resapilah kalimat per kalimat secara perlahan-lahan. Buku-buku inspiratif tersebut akan membantu anda berpikir positif.

Kelima, perbaiki cara duduk dan jalan anda. Sikap dan tingkat rasa percaya diri seseorang dapat dinilai dari kedua hal tersebut. Biasakana untuk selalu duduk dan berjalan dengan punggung yang tegak. Kebiasaan seperti ini akan membantu rasa percaya diri dan aura positif dalam diri anda.

Keenam, cobalah untuk tidak memikirkan sesuatu secara berlebihan. Sering kali anda terjebak karena terlalu banyak berpikir dan menghabiskan banyak waktu untuk menimbang-nimbang apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita. Padahal belum tentu hal itu benar adanya. Hal ini akan membuat anda tidak mengeluarkan kemampuan terbaik anda.

Ketujuh, pilihlah salah satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai “hari berpikir positif”. Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan anda temui bernilai istimewa. Kemudian perlakukanlah mereka secara positif. Anda akan merasakan bahwa kehidupan ini lebih indah dengan berpikir positif. (INO-Ragam Kompas Sabtu, 15 November 2008).

Sunday, November 30, 2008

Saatnya Mengembangkan Diri


Saatnya Mengembangkan Diri

Tak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Pepatah ini bukanlah sekedar isapan jempol, karena sejatinya manusia terus berkembang seiring berjalannya waktu. Hal ini pun berguna untuk terus mengembangkan diri demi kemajuan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, tips-tips berikut adalah beberapa di antaranya.

Pertama, perluaslah pengetahuan anda dengan membaca. Bacalah majalah, surat kabar, atau buku dengan topik yang belum pernah anda baca sebelumnya. Melalui bacaan-bacaan tersebut anda dapat memperoleh informasi baru, yang berguna untuk merangsang munculnya ide-ide kreatif.

Kedua, menfaatkan waktu senggang anda dengan mengikuti kursus. Ikutilah berbagai macam kursus-kursus keterampilan, seperti fotografi, desain visual, keterampilan menulis kreatif, atau yang menunjang pekerjaan anda.

Ketiga, salurkanlah berbagai macam ide ke dalam suatu “wadah”. Ada berbagai macam “wadah” yang dapat anda gunakan seperti tulisan, artikel, sketsa, gambar, bahkan lukisan. Anda dapat berpikir secara simbolis dan visual dengan menuangkan ide ke dalam coret-coretan berupa simbol yang menggambarkan alur pekerjaan anda. Ini akan membantu anda mulai berpikir dengan gambar, bukan lagi dengan kata-kata, sehingga anda pun mendapat penyegaran dalam membuat ide-ide kreatif yang berguna saat bekerja.

Keempat, dengarkanlah musik yang dapat memacu kreativitas otak anda. Cobalah mendengarkan lagu-lagu jenis musik yang berbeda dari yang biasa anda dengar. Bahkan coba belajar memainkan intrumen musik yang baru. Hal ini akan membantu proses kreatif anda semakin berkembang.

Kelima, kembangkanlah jaringan sosial anda dengan teman-teman yang baru. Dengan bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang baru, anda akan mendapat persepsi baru tentang kahidupan di luar sana. Pelajari juga bagaimana cara orang lain dalam memandang masalah dan mengantisipasinya.

Keenam, carilah alternatif jalan atau rute lain ketika pergi dan pulang bekerja. Selain anda tidak akan terjebak dengan rutinitas perjalanan bekerja, alternatif rute jalan juga berguna menambah pengetahuan jalan dan melatih kemampuan daya ingat. (INO-Ragam Kompas Rabu 19 November 2008)

Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Kepercayaan diri merupakan salah satu faktor yang dapat membawa seseorang pada kesuksesan. Namun dalam kenyataannya untuk memperoleh hal tersebut bukanlah persoalan yang mudah. Untuk itu berikut adalah langkah yang dapat ditempuh untuk mulai menumbuhkan raca percaya diri.

Pertama yang harus anda lakukan adalah mencari waktu luang yang cukup untuk melihat bidang apa saja dalam kehidupan yang membuat anda merasa mampu untuk menghadapinya. Tengoklah ke masa lalu dan ingatlah hal-hal baik apa saja yang pernah anda lalui.

Dengan hati dan pikiran yang tenang buatlah semacam daftar yang berisi kemampuan atau keahlian yang unik. Misalnya anda pandai menggambar, menulis, membaca, berjalan cepat atau keahlian/kelebihan lain yang mungkin tidak semua orang dapat melakukannya sebaik anda. Tidak usah berpikir hal-hal besar, hal sederhana pun jika dilatih terus-menerus akan menjadi nilai yang sangat berharga yang patut dibanggakan. Jangan lupa juga untuk mensyukuri apa yang anda miliki. Karena mungkin tidak semua orang seberuntung anda. Misalnya saja dalam hal kesehatan, banyak orang harus berjuang melawan penyakit tertentu, sedangkan anda tidak. Intinya anda harus mengembangkan sisi positif dalam diri. Ingat pula kejadian-kejadian yang membuat anda merasa bangga, kalau ini sudah dilakukan maka anda telah selangkah lebih maju menjadi orang yang penuh percaya diri.

Sekarang pikirkan rencana dan mimpi-mimp yang belum terwujud. Jika anda merasa sulit untuk menemukan atau merasa sudah meraih semua mimpi, cobalah berpikir untuk merambah ke bidang-bidang yang belum pernah disentuh atau mencari sesuatu yang bisa membuat anda lebih bahagia bersama orang yang dicintai.

Sebaliknya, jika anda merasa ada begitu banyak mimpi yang belum tercapai, segera bangun berdiri dan buat rencana matang untuk mengejarnya. Untuk bisa mencapai mimpi ini mungkin membutuhkan waktu lama. Tapi jangan khawatir, memiliki rencana dan mengatur strategi untuk mengejar mimpi merupakan satu hal yang akan membuat hidup menjadi lebih bermakna. Jangan lupa untuk sesekali melakukan kilas balik untuk mengetahui sampai sejauh mana perkembangan yang telah dilalui, mungkin anda akan kaget melihat hasilnya nanti.

Kepercayaan diri adalah sesuatu yang anda sendiri yang bisa meraihnya, bukan orang lain. Untuk itu tetap semangat, sabar dan terus berdoa menjadi sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Suskses selalu. (ASP – Karier Kompas Rabu 19 November 2008).

Tuesday, May 23, 2006

KEBERHASILAN DALAM HIDUP

KEBERHASILAN DALAM HIDUP

Dalam karya tulis kecil ini, keberhasilan pembentukan diri mendapat tekanan pada pentingnya relasi diri dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan sekitar dan terutama relasi dengan Allah. Relasi itu menuntut perbaikan terus menerus (continual improvement) yang dilandari dengan pandangan filosofis individu manusia dan landasan teologis relasi sendiri. Kemudoian pembentukan diri itu melalui suatu proses belajar dengan bantuan metode Carkhuff.

Keberhasilan pembentukan diri oleh diri sendiri ditentukan oleh kemampuan mengenal diri, kemampuan berrelasi dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan Tuhan. Kemampuan ini mirip dengan kemampuan emosional (emotional quotient) ala Daniel Goleman. Indikasi kemapuan ini adalah adanya kemampuan memahami dan memotivasi potensi diri, memiliki rasa empati terhadap diri dan orang lain, perasaan senang (berpikir positif), asertif yaituterampil menyampaikan pikiran dan perasaan dengan baik, lugas dan jelas tanpa harus membuat orang lain tersinggung. Orang-orang yang memiliki kecakapan emosional ini dalam sejarah Indonesia adalah mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tanjung.

Para psikolog mengatakan bahwa keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup akan diraih seseorang jika ia bisa menggabungkan tiga kecerdasan yaitu intelektual (intelligent quotient-IQ), emosional (emotional quotient-EQ), dan spiritual (spiritual quotient-SQ). Kecerdasa intelektual adalah kecerdasan menghadapi persoalan teknikal dan intelektual. Kecerdasan emosional adalah keterampilan membangun relasi sosial dalam lingkungan keluarga, kantor, bisnis maupun sosial. Kecerdasan ini melahirkan iklim dialogis, demokratis, partisipatif dan dewasa. Yang terakhir, kemampuan spiritual adalah kemampuan membarikan makna, motivasi dan tujuan hidup yang di dalamnya ada kekuatan adikodrati (Allah).

Danah Zohar dan Ian Marshall, penulis buku Spiritual Quotient: The Ultimate Intelligent, seperti dikutip oleh Komaruddin Hidayat, mengatakan bahwa tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberikan keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup.

Model diri yang berhasil dalam hidup adalah mereka yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual yaitu mereka yang kualitas intelektualnya baik, mampu berrelasi sosial secara simpatik, inspiring dan motivating serta memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai spiritual sebagai pandangan hidup.


PENUTUP

Proses transformasi diri manusia dipengaruhi oleh baik tidaknya relasi seseorang dengan dirinya, orang lain, lingkungan sekitar dan juga relasi dengan Allahnya. Karya tulis kecil ini, setidaknya membarikan gambaran bagaimana menumbuhkembangkan diri lewat perbaikan relasi itu.

Perbaikan relasi menajdi semakin penting dan relevan dalam proses tumbuh-kembang diri manusi. Derasnya arus globalisasi, berjubelnya informasi dan semakin pesatnya teknologi canggih (seperti multimedia) dapat mengaburkan dan merusak relasi manusia dengan dirinya, orang lain, lingkungan dan Allahnya. Aneka tawaran berupa kebudayaan, nilai-nilai, perilaku dan informasi berbagai bidang lainnya berdatangan sendiri ke depan mata. Keadaan demikian menuntut kearifan dan kebijaksanaan dalam menyaring dan memilih apa yang positif dan baik serta tegas mengedepankan nilai-nilai dan pandangan hidup yang kita anut dan yakini. Dengan pilihan tersebut diharapkan perbaikan relasi kita tidak terganggu, sehingga proses penumbuhkembangan diri kita dapat berjalan dengan baik dan sehat.


BAHAN ACUAN

Sumber Utama:
Dayringer, R., The Heart of Pastoral Conseling. Healing Through
Relationship, Revised ed. The Haworth Pastoral
Press: New York,. 1998
Eggert, Max, Perfect Counseling, Arrow Books Limited:London, 1996

Fuster, J.M., SJ, Teknik Mendewasakan Diri, Kanisius : Yogyakarta,
1985
Hidayat Komaruddin, Artikelnnya, Jabatan Tinggi, EQ Rendah? dalam
harian umum Kompas, 23 Februari 2005
Sutanto, Limas, Diktat Mata Kuliah Konseling Pastoral, STFT
Widyasasana: Malang, 2002

Sumber lain:

Badudu-Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Sinar harapan: jakarta,
2001
Sudarsono, Drs., S.H., Kamus Konseling, Rineka Cipta: Jakarta, 1997

Monday, May 22, 2006

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)

Tahap III: Tahap Melangkah dan Keterampilan Memulai

a. Pengertian

Setelah kita mengenal keadaan kita, maka kita akan mengerti akar-akar dalam diri kita yang memunculkan keadaan itu dan kita mengerti kemana tujuan kita, tahap berikutnya adalah tahap melangkah. Kita melangkah dari kedudukan di mana kita ke tempat yang kita inginkan. Kita bertindak, menyusun langkah-langkah yang tepat dan sistematis menuju tujuan.

b. Pelaksanaan

Untuk memperlancar proses menuju tujuan ini kita gunakan keterampilan memulai. Keterampilan memulai mengajak kita untuk melihat langkah-langkah yang harus kita ambil untuk mencapai tujuan kita. Kita menyusun langkah-langkah itu secara sistematis menurut jadwal waktu tertentu. Keterampilan-keterampilan itu secara sistematis menurut jadwal waktu tertentu. Keterampilan memulai mempunyai empat langkah:
1) Menentukan tujuan
2) Memilih langkah-langkah untuk mencapai tujuan
3) Memilih langkah-langkah pertama dan berikutnya
4) Menentukan jadwal waktu

Mari kita ikuti contoh ini. Ali masuk tahap melangkah dengan menggunakan keterampilan memulai. Ia menentukan tujuan dengan bertanya pada diri, “Apa tujuan saya?” Ia menjawab, “Tujuan saya adalah Mengikuti kuliah secara intensif dan memanfaatkan kegiatan rohani: pendalaman iman, kelompok Kitab Suci dan mengikuti kegiatan rohani bersama baik lingkungan maupun di kampus sebagai kesempatan memperdalam arti hidup.

Niat tinggal niat tanpa menentukan langkah-langkah konkrit biasanya mudah kandas. Maka ia bertanya, “Apa langkah-langkah yang akan kutempuh untuk mencapai tujuan saya?” Ia kemudian memilih langkah-langkah untuk mencapai tujuan:
· Saya akan rajin belajar dan mengikuti kuliah di Universitas
Indonesia.
· Saya akan mengikuti kegiatan pendalaman iman/ penyegaran
rohani agama saya.
· Saya akan membeli Kitab Suci dan rajin membacanya.
· Saya akan ikut kegiatan rohani bersama baik di kampus maupn
di lingkungan.
· Saya akan merenungkan dan menghayati apa arti dan tujuan
hidupku.

Ali merasa bahwa dengan langkah-langkah itu keinginan memanfaatkan kegiatan rohani untuk memperdalam arti hidup dapat terlaksana. Ia tidak dapat mengambil langkah-langkah itu sekaligus, karena langkah-langkah itu ada yang mudah dilaksanakan dan ada yang sulit. Ia akan menyusun langkah-langkah itu secara sistematis dari yang paling mudah ke yang paling sulit. Ia menentukan sebagai langkah pertama, “Saya akan mohon kekuatan kepada Allah dalam setiap doaku agar dapat mengatasi kemalasan saya dan dapat mengerti arti hidup”. Mengapa langkah pertama harus ditentukan lebih dulu, karena langkah pertama adalah langkah penting untuk memancing langkah-langkah berikut. Seorang bijaksana, Lao Tse pernah mengatakan, “Sebuah pohon sebesar anda bermula dari sebuah biji yang kecil; perjalanan seribu mil berawal dari sebuah langkah kecil”. Pepatah bijaksana ini patut kita pegang dalam setiap langkah kita membentuk diri kita.

Setelah menentukan langkah pertama, ia menentukan langkah-langkah berikutnya:
1) Saya akan memohon kekuatan kepada Allah dalam setiap doaku
agar dapat mengatasi kemalasan saya dan secara mendalam
dapat mengatasi arti hidup ini. Dalam doa saya akan
meyakinkan diri bahwa Allah dapat mengubah dan membentuk
saya.
2) Saya akan mengikuti jadwal kuliah dengan persiapan malamnya
sebelum jam kuliah dimulai.
3) Saya akan mencari jadwal kegiatan pendalaman iman atau
kegiatan rohani baik di lingkungan maupun di kampus.
4) Saya akan mengikuti kegiatan kelompok Kitab Suci.

Setelah menentukan langkah-langkah itu, ia lalu menentukan jadwal kapan ia harus memulai melakukannya. Ia lalu menetapkan bulan, minggu, hari dan jam pelaksanaan secara tepat.

Sekarang Ali memiliki program langkah terorganisasi rapi. Ia mengerti mulai dan kapan mengharapkan mencapai tujuan. Ia mengerti apa yang harus dilakukan setiap hari, minggu, dan bulan. Dengan cara ini, Ali didorong untuk melangkah terus pelan-pelan karena merasa programnya telah teratur.

Tahap Akhir: Evaluasi

a. Pengertian

Untuk mengetahui apakah program itu terlaksana dengan baik atau tidak, setiap malam Ali meluangkan waktu 10 menit untuk mengevaluasi pelaksanaan programnya. Tanpa evaluasi program langkah belumlah lengkap.

Evaluasi berarti melihat kembali bagaimana program langkah itu dipenuhi; dimana kekuatan-kekuatan dan kelemahannya; pembenahan apa yang perlu dilengkapi; bagaimana kita membangun dan menguatkan motivasi dalam diri kita; bagaimana menjamin keberhasilan dalam penyempurnaannya.

b. Pelaksanaan

Demi keberhasilan program, sebaiknya kita tidak menginjak langkah yang lebih lanjut sebelum yang mendahuluinya sepenuhnya tercapai. Jadwal waktu hendaknya fleksibel sehingga ada kemungkinan diadakan pembenahan berdasarkan perkembangan pelaksanaan. Jadi satu langkah mungkin bisa dilaksanakan lebih cepat, yang lain lebih lambat.

Mungkin yang paling sulit dari pelaksanaan program ini adalah mempertahankan semangat kita dalam memenuhi apa yang telah diputuskan. Di sini pemakaian perangsang positif dan negatif akan sangat membantu yaitu: memberi hadian kepada diri sendiri bila mengambil langkah dengan tepat dan menghukum bila malas atau ada faktor lain yang membuat kita gagal memenuhi apa yang telah kita temukan.

Thursday, May 18, 2006

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)

TahapII: Mengerti diri dan keterampilan mempribadikan

a. Pengertian

Dengan tahap menyelidiki diri kita tahu keadaan diri yang obyektif. Tahap berikut dari proses belajar kita adalah MENGERTI DIRI. Kita mengerti dimana kedudukan kita dalam hubungannya dengan tujuan yang ingin kita capai. Pada tahap mengerti diri ini, kita berusaha mengerti akar-akar penyebab dalam diri kita yang ikut serta menciptakan keadaan kita itu. Dengan kata lain, kita ingin mengerti apa yang saya buat dan tidak saya buat sehingga keadaan saya itu tercipta.

Bila kita ingin mengerti akar penyebab dalam diri kita yaitu apa yang kita buat dan tidak kita buat sehingga keadaan itu terjadi, atau kita tahu apa andil kita dalam menciptakan keadaan kita itu, maka kita kan mengerti pula apa yang sekarang harus kita buat untuk memperbaiki keadaan itu.

b. Pelaksanaan

Untuk memperlancar mengerti diri ini, kita gunakan keterampilan MEMPRIBADIKAN. Ada dua macam keterampilan mempribadikan, yaitu keterampilan mempribadikan permasalahan dan keterampilan mempribadikan tujuan.

Keterampilan mempribadikan permasalahan kita laksanakan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita, “Dengan cara bagaimana saya ikut serta menciptakan keadaan saya itu?” atau “Apa yang saya buat dan tidak sehingga saya iri kepada teman saya?” Saya menjadab, “Saya iri karena saya tidak mau menerima diri saya apa adanya dan saya tidak mendalami perintah kasih sayang kepada sesama. “Sekarang saya tahu akar permasalahan dalam diri saya yang menciptakan keadaan saya itu. Saya tidak mau menerima diri dan tidak mendalami perintah kasih sayang kepada sesama”. Inilah yang disebut mempribadikan masalah.

Setelah mengerti akar permasalahan yang ada dalam diri saya, saya menentukan apa yang harus saya buat untuk memperbaiki keadaan. Saya menggunakan keterampilan mempribadikan tujuan. Saya bertanya kepada diriku, “Apa tujuan hidup saya sekarang?” Saya menjawab, “Tujuan hidup saya ialah belajar menerima diri saya apa adanya dan merenungkan perintah kasih kepada sesama manusia”.

Keterampilan mempribadikan permasalahan membuat kita sadar akan akar keterlibatan kita dalam permasalahan kita dan membuat kita bertanggung jawab atas apa yang kita buat dan tidak kita buat. Ini membebaskan kita kecenderungan menyalahkan orang lain dalam menghadapi permasalahan kita. Bila dalam menghadapi permasalahan, kita menyalahkan orang lain, maka kita tidak akan terdorong untuk mengubah diri. Dan permasalahan kita tidak akan terpecahkan. Dengan memusatkan pada apa yang saya buat dan tidak saya buat sehingga keadaan itu muncul, maka saya didorong untuk mengubah diri. Dengan demikian ada harapan perubahan.

Keterampilan mempribadikan tujuan membuat kita mampu mengubah permasalahan menjadi tujuan. Dengan demikian kita tahu arah untuk bertindak. Arah inilah yang harus kita ikuti dan semaksimal mungkin kita mencurahkan daya kita untuk tindakan perbaikan.
Mari kita iktui contoh ini. Ali pada tahap menyelidiki diri menemukan, “Saya tidak bersemangat mengikuti kuliah di Universitas Indonesia karena saya tidak dapat melihat makna dan hidup dan tujuan kuliah bagi masa depan saya”. Dalam keadaan sperti itu, doa saya terasa kering karena sulit menemukan Allah dalam hidup saya”. Selanjutnya ia ingin masuk tahap II dari proses belajar yaitu mengerti diri. Ia menggunakan kecakapan mempribadikan permasalahan. Ia bertanya, “Apa keterlibatan saya dalam permasalahan ini?” Dia merenungkan sejenak dan mohon bimbingan Tuhan. Lalu dia menjawab, “Saya selama ini tidak pernah mencari dan memperdalam arti hidup dengan lebih serius. Rumusan ini masih agak kabur, maka ia bertanya lagi, “Apa yang persis saya maksud? Yang saya maksud adalah bahwa saya selama ini tidak pernah memanfaatkan kegiatan-kegiatan rohani seperti pendalaman iman dan membaca Kitab Suci dan bersama sebagai kesempatan untuk memperdalam arti hidup, sehingga pandangan saya tentang hidup menjadi picik dan dangkal. Ia ikut doa dan pendalaman iman sekedar hadir saja”.

Setelah yakin akan keterlibatannya dalam permasalahannya, Ali melaksananakan keterampilan mempribadikan tujuan dengan mengubah permasalahan menjadi tujuan. “Tujuan saya ialah memanfaatkan kegiata-kegiatan rohani: pendalaman iman, bacaan Kitab Suci dan doa bersama sebagai kesempatan untuk memperdalam arti hidup”. Sekarang Ali melihat dengan jelas arah yang harus dituju sehingga mencurahkan daya untuk mencapai tujuan itu.

Wednesday, May 17, 2006

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI

Metode Carkhuff pada bagian terdahulu tulisan ini sangat membantu kita mengorganisasi sumber-sumber daya manusiawi kita. Pengorganisasian dapat dilakasanakan dengan proses belajar melalui tiga tahap: MENYELIDIKI DIRI, MENGERTI DIRI DAN MELANGKAH. Untuk mempermudah penyelidikan diri, kita perlu memiliki keterampilan menjawab diri. Untuk mempermudah mengerti diri, kita perlu memiliki keterampilan mempribadikan permasalahan dan mempribadikan tujuan. Untuk membantu melangkah, kita perlu memiliki keterampilan memulai. Kita perlukan pula evaluasi dari semua langkah itu. Itu semua kita laksanakan berdasarkan sikap dasar: EMPATI, OTENTIK, RESPEK, KONFRONTASI dan PERWUJUDAN DIRI. Dan yang tidak boleh dilupakan ialah bahwa semua ini harus kita laksanakan dalam semangat doa, terus-menerus memohon rahmat Allah. Sebab betapapun sempurnanya metode itu dilaksanakan, namun tanpa rahmat Allah juga tak akan mendewasakan.

Tahap I: Tahap menyelidikidiri dan keterampilan menjawab diri

a. Pengertian
Tahap pertama proses belajar pembentukan diri adalah menyelidiki diri kita dimana kedudukan kita dalam dunia kita. Ini berarti kita berusaha mengenal keadaan kita yang obyektif, apa adanya, apa yang sesungguhnya.

Kita masuk ke dalam daerah pribadi kita yang kurang lebih kabur bagi kita. Di situ kita dapat memperjelas persoalan-persoalan kita, mencanangkan kembali arah tujuan kita yang sudah hilang, menghubungkan kembali pengalaman-pengalaman kita. Dengan demikian kita dapat menemukan kembali kesatuan dalam diri kita yang menjadi daya untuk menerima pendewasaan dari Allah.

b. Pelaksanaan

Untuk memperlancar penyelidikan diri, kita menggunakan kecakanapan menjadab diri yaitu kita bertanya kepada diri kita dan berusaha menjawabnya. Bagaimana hal ini kita laksanakan?

Kita masuk ke dalam diri kita dengan mengenali perasaan-perasaan yang ada dalam diri kita serta alasan-alasan munculnya perasaan-perasaan itu. Kita bertanya kepada diri kita: “Apa yang saya rasakan sekarang ini? Dan apa sebabnya saya merasakan itu?” Kita menjawab apa adanya misalnya: “saya merasa iri pada teman-teman saya karena dia mendapat nilai baik sedangkan saya tidak”. “Saya merasa gelisah, murung, kecewa karena saya tidak lulus dalam kursus bahasa Perancis”. “Saya kecewa karena keluarga saya miskin dan orang tua tidak dapat membelikan sepeda motor untuk saya”. “Saya merasa penuh syukur karena saya diberikan anugerah iman yang besar”, dan seterusnya. Kita menjawab diri apa adanya dan semua perasaan beserta alasan-alasannya itu dengan nama-nama yang jelas dan tepat.
Untuk memperlancar pengenalan terhadap perasasn-perasaan serta alasan-alasannya dibutuhkan sikap empati dan respek. Bila seseorang mempunyai persoalan, kemudian orang itu mengemukakan persoalannya itu kepada orang lain yang mau mendengarkan penuh pengertian, empati, respek, maka orang itu akan semakin didorong untuk semakin mengungkapkan apa yang dirasakannya. Demikian pula diri kita. Bila kita mendengarkan apa yang dirasakan maka kita akan semakin didorong untuk semakin dalam mengungkapkan apa yang kita rasakan.

Mari kita ikuti contoh ini. Ali selalu merasa kecewa, malas dan tidak bersemangat dalam hidupnya. Ia ingin mengenal keadaan dirinya yang sesungguhnya. Ia mulai mengambil langkah pertama dengan menjawab diri. Ia bertanya pada dirinya. “Apa yang saya rasakan dan mengapa?” Ia menjawab, “Saya merasa kecewa, malas dan tidak bersemangat, karena tidak diterima di Universitas Indonesia”. Ia menerima ungkapan perasaan dirinya itu dengan penuh pengertian, empati dan respek maka ia didorong untuk menjawab diri lebih dalam lagi. “Saya mengikuti pelajaran dan kursus tidak bersemangat; saya lebih suka menyendiri; persahabatan dengan tema-teman mulai kuang hangat; iman menjadi goyah karena kecewa terhadap Tuhan.

Monday, May 15, 2006

BANTUAN METODE CARKHUFF (sambungan)

BANTUAN METODE CARKHUFF (sambungan)

B. Lima Sikap Dasar dalam Metode Carkhuff

Ketiga tahap proses belajar menuju pertumbuhan pribadi pada bagian (a) dapat terlaksana dengan tepat dan lancar kalau didasari dengan 5 sikap dasar. Kelima sikap dasar tersebut adalah seperti di bawah ini.

(1) Sikap Empatik
Sikap empatik merupakan kemampuan merasakan dan mengerti dengan tepat apa yang saya alami dan saya rasakan, dan dengan jelas dapat mengungkapkan pengertian itu. Bila Lidia merasa sedih atau tidak bisa dengan tepat mengungkapkan apa yang ia rasakan, misalnya ia hanya mengatakan, “Saya tidak enak dengan teman-teman”, ia tidak dapat menyelidiki diri.

(2) Sikap Otentik
Otentik berarti orisinil, asli. Orang yang bersikap otentik berarti orang yang mau dengan jujur dan terbuka mengungkapkan apa yang sesungguhnya ada dalam dirinya. Tidak menutup-nutupi karena mungkin keadaannya jelek atau memalukan. Bila Lidia tidak mau dengan jujur mengakui bahwa dirinya disingkiri teman-temannya karena egoistis, tetapi mengatakan, “Teman-teman menyingkiri saya karena mereka sombong”, maka proses belajar menjadi mandek.

(3) Sikap Respek
Respek berarti hormat atau menghargai. Sikap respek terhadap diri berarti mau menerima diri apa adanya dengan penuh kasih karena sadar, bahwa seperti apapun keadaannya, diri saya tetap bernilai dan memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi lebih baik. Bila setelah merasakan dirinya disingkiri oleh teman-temannya, Lidia merasa dirinya tak berharga kemudian malah semakin menyendiri, maka dalam pergaulan Lidia tak akan bertumbuh kembang.

(4) Sikap Konfrontasi
Konfrontasi berarti saling berhadapan atau bertatapan. Sikap konfrontasi terhadap diri berarti mau mencari kekurangan-kekurangan diri dan menyadari secara penuh kekurangan-kekurangannya itu sebagai miliknya. Bila Lidia malas tidak mau menemukan bahwa dirinya egoistis atau tidak mengakui itu sebagai kekurangannya karena jelek, maka dalam pergaulan ia tidak akan tumbuh dan berkembang.

(5) Sikap Perwujudan Diri
Sikap ini boleh dirumuskan sebagai semangat bertumbuh kembang. Sikap ini pada dasarnya merupakan sikap mau mengejar dengan penuh semangat perwujudan diri yang semakin sempurna.Dalam sikap ini termuat suatu kemauan besar untuk maju, untuk mencapai realisasi diri yang semakin penuh. Bila Lidia tidak berminat untuk maju dalam pergaulan maka tidak akan melaksnakan prosesbelajar atau mungkin hanya sampai pada tahap mempribadikan dan enggan mengambil langkah nyata.
Related Posts with Thumbnails