Monday, March 18, 2013

5 Langkah Capai Kerja Optimal

Kesuksesan seseorang dalam berbagai bidang ternyata dapat dicapai dengan mengikuti lima langkah dasar ini. Selain berguna meningkatkan produktivitas kinerja individu, lima langkah dasar ini juga akan membantu tim bekerja optimal.

Pakar bidang Knowledge Management, James Van Der Westhuizen, mengatakan bahwa untuk meraih keberhasilan di bidang usaha ada berbagai kompetensi yang mesti dikembangkan. Namun tanpa strategi yang tepat, kompetensi yang ingin dicapai tidak akan bisa terpenuhi.

"Harus ada strategi yang tepat untuk meraih kompetensi dan hasil yang diharapkan," kata Van Der Westhuizen saat acara Indonesian MAKE Study 2013 di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (14/3/2013).

Langkah pertama yang sebaiknya diambil adalah membuat skala prioritas yang tepat. Dengan mulai menyusun skala prioritas ini, maka seseorang dapat berkonsentrasi pada hal yang terpenting sehingga tujuan yang dicapai dapat terpenuhi sesuai dengan deadline yang ditentukan.

Selanjutnya, langkah kedua adalah berani berbagi dengan rekan kerja. Hal ini umumnya jarang dilakukan karena masing-masing orang menyusun prioritas agar terlihat menonjol bukan untuk meningkatkan kinerja tim. Akibatnya, hasil yang diharapkan tentu saja tidak akan tercapai.

"Dari kecil kita diajari untuk mengerjakan semuanya sendiri. Contohnya ujian. Namun saat bekerja itu tidak bisa seperti itu. Dalam sebuah tim, penting bekerjasama dan bukan berkompetisi dengan sesama anggota tim," jelas Van Der Westhuizen.

Langkah ketiga adalah bersiap untuk tantangan tak terduga. Dalam perjalanan sebuah pekerjaan tentu tidak akan semulus yang dibayangkan. Untuk itu, tidak ada salahnya bersiap akan kemungkinan terburuk sehingga saat itu terjadi, anda dan tim kerja sudah tahu rencana pengganti yang akan diambil untuk mengatasinya.

Kemudian langkah keempat adalah disiplin pada diri sendiri. Saat ini gangguan terbesar saat bekerja adalah keberadaan teknologi. Bukannya fokus menyelesaikan tugas, seseorang biasanya malah asyik untuk berbalas pesan di Yahoo Messenger atau membuka facebook atau malah sibuk memperbarui status di twitter.

"Jika ingin mendapat hasil optimal maka disiplin untuk tidak mengindahkan notifikasi yang masuk. Atau dimatikan saja terlebih dahulu agar produktivitas terjaga," ungkap Van Der Westhuizen.

Yang terakhir, tentu saja bekerja sesuai porsi. Keinginan untuk mencapai target yang maksimal terkadang membuat seseorang lupa untuk beristirahat atau rehat sejenak agar energi yang dibutuhkan dapat kembali lagi. Padahal terlalu keras bekerja juga dapat mengakibatkan hasil yang dicapai tidak optimal karena fisik dan otak tidak lagi mendukung sehingga tidak konsentrasi dan muncul banyak kesalahan.

"Ambil rehat sejenak. Energi tidak bisa dieksploitasi berlebihan. Efeknya justru tidak baik bagi anda dan tim," tandasnya.
(Kompas.com - 18 Maret 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, March 05, 2013

5 Jurusan Pencetak Pemimpin Masa Depan

Untuk menjadi pemimpin di bidang pemerintahan atau politik, banyak yang langsung mengambil keputusan untuk menempuh studi di jurusan ilmu politik saja. Padahal, jurusan-jurusan lain juga berpotensi mencetak para pemimpin bangsa dan negarawan.

Di jurusan-jurusan ini, kemampuan seseorang untuk menjadi pemimpin di bidang pemerintahan dan politik juga diasah dengan baik. Ini dia lima jurusan yang bisa dijadikan pilihan apabila tertarik berkarier di dunia pemerintahan dan politik, tentu saja selain jurusan ilmu politik.

1. Ekonomi
Sebagai calon pemimpin, tentu harus paham mengenai masalah ekonomi, baik mikro maupun makro, sehingga dapat mengetahui langkah apa saja yang akan diambil untuk mengembangkan ekonomi negara atau daerah. Hal ini dibuktikan oleh beberapa tokoh yang merupakan ahli ekonomi, tapi berhasil menjadi pemimpin di suatu negara, seperti Perdana Menteri Italia Mario Monti dan Perdana Menteri Kanada Stephen Harper.

2. Filsafat
Siapa bilang ilmu filsafat tidak dapat memiliki masa depan gemilang? Justru ilmu ini yang merupakan dasar dari berbagai ilmu yang ada. Pemikiran yang biasanya berbeda dari orang kebanyakan, membuat lulusan ilmu filsafat memiliki daya saing yang lebih dibandingkan lulusan jurusan lain untuk menjadi salah satu pemimpin masa depan. Salah satu alumnus yang berhasil berkarier di bidang pemerintahan adalah Perdana Menteri Inggris David Cameron.

3. Hukum
Jurusan yang berpotensi melahirkan pemimpin masa depan adalah jurusan hukum. Sebagai pemimpin, tentu saja kemampuan memahami aturan hukum dan menegakkannya sangat dibutuhkan. Hal ini dibuktikan dengan beberapa orang nomor satu di negaranya yang berasal dari jurusan hukum, yaitu Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

4. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jangan salah, lulusan ilmu pasti seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam juga memiliki potensi besar untuk sukses di bidang pemerintahan dan mampu menjadi salah satu pemimpin masa depan. Contoh saja Kanselir Jerman Angela Merkel yang bergelar doktor jurusan kimia dan Sekretaris di bidang energi Amerika Serikat Steven Chu yang bahkan berhasil meraih penghargaan Nobel bidang ilmu fisika.

5. Teknik
Jika tadi ilmu matematika dan pengetahuan alam, maka jurusan terakhir ini juga tidak disangka mampu melahirkan pemimpin masa depan. Kemampuan lulusan jurusan ini dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur yang baik bagi perkembangan sebuah kota atau negara, sehingga akan mendongkrak perkembangan ekonomi. Contoh paling dekat adalah Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Hermanto Dardak yang berasal dari Institut Teknologi Bandung dan mantan Presiden China Jiang Zemin yang merupakan lulusan teknik elektro.

 (Kompas.com - 4 Maret 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, February 21, 2013

Tips Sukses Jadi Bos Baru

Mendapatkan promosi naik jabatan tentu merupakan pencapaian dan prestasi dalam karier. Anda punya tanggung jawab baru, dan untuk bisa menjalankannya dengan lancar, perhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Hubungan Baik

Bila sejak awal hubungan Anda dan anak buah sudah akrab, jadikan ini sebagai modal, sebagai aspek positif yang bisa terus Anda bina. Bila hubungan sudah baik, biasanya teman-teman Anda akan percaya dengan ketulusan dan kapabilitas Anda, sehingga mereka akan cenderung bersikap kooperatif dan mendukung.

2. Tegas soal deadline

Bila dalam suatu kondisi, bawahan menampilkan kinerja yang kurang pas, semisal tidak berhasil memenuhi deadline, maka Anda pun tetap bisa mengingatkan, menegur mereka dengan cara yang pas, sesuai kondisi setiap orang terkait dengan situasi yang sedang mereka alami.

3. Ajak berpikir global

Bila deadline masih juga mentok, ajak mereka berpikir global. Misalnya, jika Anda bekerja di divisi public relations, sebagai PR person ingatkan kembali bahwa seseorang "diharuskan" senantiasa rendah hati, luwes dalam bergaul. Karena perlu melayani keinginan beragam user dengan beragam gaya dan sifat user tersebut. Sekiranya satu dealine tidak terpenuhi, maka ada peluang klien akan kecewa, sehingga hubungan yang selama ini bisa terganggu. Dan bila klien sudah tidak percaya, program-program yang dijalankan oleh divisi PR berpeluang kurang berhasil, karena kurang mendapat dukungan optimal dari klien maupun pihak terkait. Sebaliknya, bila PR person dapat melayani dengan baik kebutuhan klien atau pelanggannya, maka hubungan interpersonal dengan mereka juga bisa terbina baik, kepercayaan meningkat, sehingga melancarkan pelaksaan tugas maupun pemenuhan target.

4. Tidak perlu bossy

Cukup berikan gambaran umum pada mereka, apa saja manfaat positif bila mereka memenuhi kinerja dengan baik, manfaat yang khas pada setiap orang. Misal, direksi menjadi lebih mendengar dan memerhatikan prestasi kerja mereka, lebih terbuka peluang promosi, terbuka peluang mengerjakan program mearik, baik di unit kerja saat ini maupun unit kerja lain, bahkan ke luar negeri- tergantung struktur organisasi yang ada.

5.Rendah hati

Tetap menjadi pribadi yang mudah didekati peduli pada tim kerja, sigap menyiapkan data serta fasilitas yang diperlukan. Rajinlah memotivasi anak buah, agar mereka senantiasa terpicu melaksanakan tugas dengan optimal, yang manfaat akhirnya akan secara langsung oleh mereka, Anda, pihak klien, maupun perusahaan.

Selamat merangkul anak buah Anda.
(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, February 19, 2013

Mari Belajar Gaya Hidup Bangsa China

Oleh : KH. A. Hasyim Muzadi
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang


Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRC (Tiongkok) kepada kamu semua. Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa Rasulullah SAW menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke Negeri Cina. Saya perhatikan ada beberapa kekhususan dari China , yaitu:

1. Segi Historis (Sejarah)
China adalah bangsa yang tua karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, China sudah menjadi bangsa yang besar bersama dengan Romawi, Yunani , Persia , India , dll. Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun 
sebelum masehi sudah dikenal dalam sejarah.

2. Segi Geografis
China persis berada pada posisi tengah-tengah dari Benua Asia. Adapun selisih waktu antara Beijing dengan Jakarta hanya 1 jam sebagaimana selisih WIB dan WITA.Luas Negara China ini luar biasa, bahkan melampui luasnya Amerika Serikat dan hampir sama dengan luas Uni Sovyet sebelum pecah.

3. Segi Populasi
Negara China mempunyai jumlah populasi terbesar di dunia, yaitu mencapai 1,3 milyar jiwa. Ini jumlah penduduk yang ada di China daratan, belum lagi bangsa China berada di luar China (Overseas China). Di Negara 
mana-mana pasti ada orang China , termasuk Kalpataru, Cengger Ayam, bahkan daerah yang nyelempit-nyelempit itu. Jadi, tidak ada satu kota pun di dunia ini yang tidak ada orang Chinanya. Jumlah populasi orang 
China yang berada di luar RRC itu kalau ditotal sekitar 600 juta jiwa. Sehingga kalau ditotal secara keseluruhan, maka jumlah populasi warga China mencapai hampir 2 milyar jiwa.

4. Segi Ekonomi
China ini adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan pekerja keras. Dalam satu hari, orang China mampu bekerja selama 11 jam, padahal kita saja yang berkerja 8 jam sehari sudah merasa berat. Perhatikan 
orang China yang buka toko. Pada pukul 06.00 dia sudah membuka toko dan tutup menjelang Maghrib, kemudian malam harinya, dia totalan. Jadi, waktu yang tersisa itu hanya digunakan untuk tidur atau untuk keperluan yang berkaitan dengan usaha dagangnya.

Di samping sebagai pekerja keras, orang China adalah pekerja cerdas. Sekarang ini, tidak ada satu barang pun di dunia ini yang tidak ditiru oleh Negara China . Suatu saat saya pergi ke pasar malem. Di sana saya 
ditunjukkan jam tangan merk Rolex, mulai dari yang asli seharga 70 juta Rupiah, sampai Rolex yang seharga Rp. 70.000, dan kita sulit untuk membedakan antara yang asli dengan yang palsu. Oleh karena itu, RRC 
mempunyai potensi luar biasa untuk menghancurkan Barat. Apalagi produksi-produksi di sana dibuat secara besar-besaran, yaitu kalau satu orang membuat 10 baju, maka dari RRC akan mengekspor sekirat 12-13 
milyar baju.

5. Rasa Persaudaraan (Kecinaan)
Bangsa China mempunyai rasa "kecinaan" ; dunia. Jadi, kalau orang China ketemu sama orang China lainnya, perasaannya lain dibandingkan ketemu dengan kita.

6. Segi Politik
Dahulu Negara China diperintah oleh Kaisar. Tunduk kepada Kaisar adalah harga mati, sehingga pada zaman Kekaisaran, Kaisar menyuruh rakyat untuk membangon tembok besar China meski harus mengorbankan ratusan ribu jiwa. 
Tembok besar China ini dibangun di puncak-puncak bukit dan panjangnya sekita sepanjang 6000 KM. Kalau ada pekerja yang mati, maka langsung dikuburkan di dekat situ. Jadi, tembok besar China itu sebenarnya angker 
karena ada alam arwahnya.

Setelah itu Negara China dipimpin oleh Komunis. Pemerintahan Komunis ditambah dengan etos kerja bangsa China yang luar biasa, menjadikan Negara China memperoleh untung besar. Kenapa?, karena nilai yang dimakan oleh masing-masing orang China , lebih sedikit dari pada nilai hasil kerja mereka. Ibaratnya: kalau nilai kerjanya Rp. 20.000 perhari, maka dia hanya memakainya sebanyak Rp, 10.000 sehari, sedangkan yang Rp. 
10.000 lainnya menjadi hak Negara, sehingga yang semakin kuat adalah Negaranya. Ini terjadi pada waktu pemerintahan Komunis dipimpin oleh tokoh bernama Mao Zedong.

Setelah Mao Zedong meninggal dunia, sistem ekonomi China diubah, namun politiknya tetap berhaluan Komunis. Artinya: orang China masih diperintahkan untuk kolektivitas, tapi ekonomi China mulai dibuka 
pelan-pelan. Dari situ, mulai ada ekspor dan impor, investasi, dsb. Bahkan lebih dari 4 juta anak-anak muda China , dikirim ke seluruh dunia untuk belajar membuat barang-barang yang dibuat di negara-negara yang 
mereka tempati. Semua itu dibiayai oleh Negara.

Akhirnya ekonomi China meledak dan berkembang sangat pesat. Kenapa? karena bangsa China itu tidak suka hidup mewah, di samping karena budaya, juga karena faktor politik Komunisme yang dianut. Jadi, Negara 
China itu dari Komunis, bergeser ke arah Sosialis yang agak longgar, bahkan sekarang menjadi Kapitalis, namun bukan "dikapitalisi& quot; oleh orang lain.

Dalam tempo kurang dari 20 tahun, kota-kota besar di China disulap menjadi lebih hebat dari Washington dan New York . Jadi, di sana saya seperti memasuki daerah yang aneh, karena saya dulu pernah ke China , 
tapi tidak seperti yang sekarang ini. Sekarang ini Negara China luar biasa hebatnya dan mulai menggeser posisi ekonomi Barat. Kenapa itu bisa terjadi?, karena RRC tidak mau terikat dengan semua ikatan ekonomi 
internasional, baik itu IMF, ILO, WTO, dsb. Sehingga RRC ini berjalan tidak berdasarkan konsensus internasional, melainkan menggelinding sendirian dengan kekuatan raksasa yang mereka miliki.

Hidup bangsa China tetep sederhana, karena mereka mempunyai budaya yang mengacu kepada filsafat Konghucu. Sekalipun bangsa China adalah komunis yang menganut ajaran tidak bertuhan (atheisme), tapi sebenarnya mereka masih mendewakan Kongfuche sampai hari ini. Orang China yang beragama 
Kristen menganut Konghuchu, orang China yang beragama Islam juga menganut Konghuchu, dsb. Konghuchu sudah menjadi agama negara dan agama bangsa.

Umat Islam di China tidak besar, jumlah mereka kurang lebih sekitar 50 juta saja. Apa artinya 50 juta muslim di tengah-tengah 1.3 milyar penduduk RRC. Orang Islam di sana rata-rata sudah berusia tua yang kelasnya "Husnul khatimah" .

Nah, yang menarik bagi saya dan mungkin cocok dengan kandungan Hadits di atas adalah bahwa bangsa China itu selalu hidup di bawah jumlah penghasilannya. Saya kira, sikap ini perlu kamu tiru. Tidak ada orang 
China yang menghabiskan uang Rp. 10.000 sehari, kalau penghasilannya tidak mencapai Rp. 15.000. Ketika orang China masih berpenghasilan Rp. 5.000, maka dia hanya makan sebanyak Rp. 4.000 saja. Jadi, bangsa China itu pantang memakan habis hasil keringatnya dan harus ada sisa dari hasil keringatnya tadi.

Bangsa China sudah terbiasa hidup sederhana. Mereka bisa bikin mobil, motor, dsb. Mereka juga bisa meniru sepeda motor model Harley Davidson. Meskipun demikian, mereka jarang naik sepeda motor. Saya lihat di kota 
Peking, kalau orang mau bepergian yang jaraknya kurang dari 1 KM, maka mereka memilih jalan kaki; kalau lebih dari 1 KM, mereka memilih naik sepeda; dan kalau lebih dari 5 KM, maka mereka memilih naik bus. Kalau 
sudah kaya betul, baru mereka mempunyai mobil; itupun jarang dipakai, karena mereka lebih suka naik bus sekalipun sudah mempunyai mobil sendiri. Alasan mereka sederhana dan rasional, yaitu jalan kaki itu 
lebih hemat, lebih sehat, lebih selamat, dan anti-polusi.

Di sana juga banyak sepeda pancal, namun sepeda yang dipakai itu jelek-jelek, karena yang baik-baik itu untuk dijual. Jadi, bangsa China ini mempunyai sifat-sifat yang agak aneh dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain. Orang China itu kalau yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang jelek untuk dipakai sendiri.

Di RRC jarang ada rumah mewah, yang banyak adalah rumah susun, maklum jumlah penduduknya milyaran orang. Sedangan bangunan yang megah-megah adalah semacam universitas, pertokoan, mall, kantor, dsb.

Orang-orang China jarang yang gemuk, padahal makannya banyak. Mereka bisa langsing karena sering jalan kaki dan berolah raga. Bahkan hampir seluruh tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat-obatan, tumbuh 
subur di Negara China . Ibaratnya, Negara China adalah miniatur dari tanaman-tanaman yang berkhasiat obat. Lha, ini yang menginspirasi Mr. Li Xiang untuk memproduksi obat-obatan, tapi sudah dimodernisir. Pabrik 
yang dimiliki oleh Mr. Xiang ini sekarang sudah menguasai 1/3 pasaran obat di dunia. Dia menggunakan sistem MLM (Multi Level Marketing) dan sistem bonus, yaitu setiap orang yang berhasil menggaet pelanggan lain, 
akan diberi bonus. Jadi, kalau saya membuat 100 anak Al-Hikam membeli produk obatnya, maka saya akan mendapatkan keuntungan dari 100 orang tadi. Dengan sistem promosi yang berjenjang seperti ini, maka orang 
berlomba-lomba kaya melalui pabrik milik Mr. Xiang ini. Bonusnya juga ndak tanggung-tanggung, ada bonus berupa pesawat, kapal pesiar, mobil, sepeda motor, dsb.

Saya kan sudah ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika, dsb., saya melihat bangsa China ini memang aneh. Mereka lebih mendulukan bekerja dari pada makan. Jumlah yang dimakan harus di bawah hasil kerja. 
Sebenarnya makannya orang China itu banyak sama dengan makanya orang Arab; akan tetapi karena mereka berolah-raga terus, sehingga jarang yang gemuk. Lain hanya dengan orang Amerika, di sana ada wong gowo wetenge tok wis kabotan, mergo kakean badokan (orang bawa perutnya sendiri sudah keberatan, sebab kebanyakan makan. red). Lalu saya teringat pada Hadits Rasulullah SAW , Hadits itu ditujukan untuk urusan kehidupan duniawi.

Bangsa China ini pekerja keras dan pekerja cerdas. Kalau orang Bugis, Madura dan Batak adalah pekerja keras, tapi tidak cerdas, sehingga kalau ayahnya jualan rokok di rombong, maka anaknya juga demikian. Beda dengan 
orang China ; kalau ayahnya jualan kacang buntelan, maka pada saat anaknya nanti, usahanya sudah menjadi pabrik kacang. Jadi, untuk faktor enterpreneurship, mungkin China itu nomer satu di dunia.

Orang Barat itu hebat dalam hal penelitian dan penemuan. Mereka meneliti sampai bisa menemukan listrik, kereta api, silinder, dsb. Adapun masalah berdagang dan mencari rezeki, jagonya adalah China . Sedangkan kalau makan tapi tidak kerja, jagonya adalah orang Indonesia . Jadi, orang Indonesia itu maunya, kalau kerja tidak berkeringat, tapi kalau makan, harus berkeringat. Berarti di sini kita mengalami hambatan budaya untuk 
maju.

Ini semua membuat saya mikir-mikir: seandainya ibadah, tauhid, dan akhlaq kita digandengkan dengan etos kerjanya orang China, maka saya kira, itulah yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW:

Bekerjalah untuk duniammu, seakan-akan engkau hidup selamanya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari

Kesalahan orang Islam adalah menghindari kerja keras, seakan-akan tidak berkerja keras adalah bagian dari tasawuf, padahal pandangan seperti itu adalah bagian dari kebodohan. Tasawuf itu ngeresii ati, bukan nganggur. 
Banyak orang Islam yang merasa mulya ketika ngganggur, tapi kok urip, padahal orang seperti ini pasti menjadi benalu atau seperti bunga teratai yang hidup terombang-ambing di atas air, sekalipun berbunga, ia tidak bisa lepas dari air. Oleh karena itu, saya ingin kamu semua mempunyai etos kerja dan enterpreneurship.

Saya melihat orang China di sana jarang omong. Mereka ngomong seperlunya, karena pekerjaan lebih mereka dahulukan. Sedangkan di sini, omong-omongan tok iso sampek 4 jam sambil ngentekno kopi 4 gelas 
(berbincang- bincang saja bisa sampai 4 jam sambil menghabiskan kopi 4 gelas. red), serta bercerita yang sama sekali tidak ada gunanya. Ini disebut dengan wasting time (menyia-nyiakan waktu), padahal di dalam 
Hadits disebutkan bahwa orang yang menyia-nyiakan waktu atau hidupnya, berarti dia sedang disia-siakan oleh Allah SWT.

Sebenarnya Islam mengajarkan etos kerja ini ketika Rasulullah SAW ditanya: "Rezeki apa yang paling baik?", beliau menjawab; "Rezeki terbaik adalah rezeki hasil tangannya sendiri" . Kadang-kadang, karena orang tua masih cukup, maka seseorang nebeng kepada orang tua, sementara dia sendiri tidak ada mempunyai kreativitas; sehingga begitu ditinggal mati oleh orang tuanya, dia akan kelabakan.

Saya melihat bahwa perusahaan-perusaha an besar milik orang China di Indonesia, rata-rata Grand Manager-nya berusia di bawah 40 tahun. Misalnya: Gudang Garam, Djarum, dsb. Perusahaan-perusaha an itu sudah 
tidak dipegang oleh ayahnya, karena ayahnya sudah menjadi konsultan, sedangkan yang menjadi eksekutif commite-nya adalah anak-anaknya.

Saya sebenarnya ingin kamu berlatih dua hal, yaitu: jangan memubadzirkan waktumu, demi menegakkan etos kerja dan berusahalah berprestasi lebih tinggi dari pada apa yang kamu butuhkan.

Hal-hal seperti di atas, kalau digandengkan dengan akhlak dan tauhid, maka itulah bentuk nyata dari fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah.

Negara-negara Islam, mulai dari Saudai Arabia sampai Maroko, adalah Negara-negara yang kaya, namun bukan Negara yang maju. Negara-negara di Timur Tengah menjadi Negara kaya, karena mempunyai minyaknya melimpah. Namun karena yang menyedot minyak adalah Amerika, maka Negara-negara Timur Tengah hanya dikasih 15 % dari hasil sedotan. Itu sudah membuat mereka menjadi Negara kaya, akan tetapi tidak bisa 
menjadikan mereka sebagai Negara maju, karena nyedot minyak saja tidak bisa. Sementara Negara-negara di Timur Tengah yang tidak punya minyak, semuanya menjadi Negara miskin, contoh: Mesir , Tunisia , Al-Jazair, 
Moroko, apalagi Sudan . Sudan itu ibukotanya bernama Kartoum, namun bandara Kartoum saja tidak ada WC-nya, sehingga kalau mau kencing harus melayu adoh ke tempat sing gerumbul-gerumbul (yang rimbun. red),
sehabis kencing, diobati (maksudnya; diobat-abit) .

Sebenarnya, perintah melihat bangsa China adalah bagian dari Hadits yang menyatakan bahwa hikmah itu adalah milik orang mukmin. Kalau hikmah itu kececer pada orang lain, maka hikmah itu adalah milikmu. Jangan karena tidak Islam, lalu kamu memusuhi mereka. Karena mutiara itu kececer dan dipegang oleh orang lain, maka ambil kembali hikah itu. Contoh: Penelitian itu kan perintah Islam, lalu kenapa kita tidak memakai hasil 
penelitian orang Eropa?. Dulu, sebelum orang Eropa maju, yang bisa meneliti dalam bidang kedokteran, matematika, gizi, dsb. diteliti oleh ulama'-ulama&# 39; Islam. Oleh karena itu, ambillah hikmah dari mana saja, asal hikmah itu benar menurut syariat Islam.

Jadi, tidak bagus kalau ada orang yang membeda-bedakan antara daerah Islam dengan daerah yang tidak Islam. Karena di daerah Islam itu ada tauhid, namun ada kelemahan; sedangkan di daerah yang tidak Islam, ada 
kekufuran, namun ada kelebihannya. Hanya saja, sampai hari ini, orang-orang Timur Tengah, masih juga membagi peta antara Negara Islam dengan Negara tidak Islam, padahal mutiara-mutiara Islam sebagai agama, 
telah tercecer di sana-sana, karena tidak dipegang oleh orang muslim di negara Islam itu sendiri.

Ketika saya masuk Somalia , penduduknya begitu miskin. Kalau di sana ada orang bisa makan cukup setiap hari, itu sudah Alhamdulillah. Padahal Negara ini mempunyai tambang-tambang yang banyak. Ini semua mengingatkan kita, kenapa Negeri Islam, penduduknya miskin-miskin, sedangkan penduduk di daerah non-muslim kok tidak demikian. Ilmu memang ada di sini, namun yang melakukan adalah orang di luar Islam. Jadi, ilmu etos kerja, ilmu penelitian dan kerja keras adalah Islami. Mereka yang melakukan ilmu 
itu, meskipun ndak pakai syahadat; sedangkan di Negara-negara Islam pakai syahadat, tapi ilmunya tidak diamalkan. Jadi, kalau syahadat itu ibarat lokomitif, sedangkan gerbongnya adalah ilmu. Baik lokomotif 
maupun gerbong, itu sama-sama diperlukan. Kalau ada lokomotif ndak pakai gerbong, itu kan lucu.

Akhirnya di Negara-negara Islam, penduduknya bertentangan karena selisih paham, saling bunuh-membunuh karena selisih aliran, dsb. Jadi, Islam yang kaffah itu bukan Negara harus distempel Islam, namun unsur-unsur 
ke-Islam-an yang harus diterapkan di Negara itu. Nah, sekarang itu, golongan seperti Hizbut Tahrir, FPI, dsb. mengatakan bahwa Islam Kaffah adalah kalau Indonesia yang dihuni oleh banyak orang Islam ini, 
distempel Islam; ndak peduli apakah masyarakat di dalamnya itu menjadi maling atau tidak. Padahal yang akan dihisab nanti adalah orang-perorang, bukan institusi. Jadi yang harus bertanggung jawab adalah individu, bukan nation state-nya. Baru pemahamannya saja, mereka sudah menceng dan tidak karu-karuan. Mereka itu sebenarnya tidak kaffah, tapi merasa paling kaffah. Kemarin saya didatangi oleh Redaktur Majalah Sabili;saya dikritik karena saya kok masih mempertahankan Pancasila, kenapa kok tidak setuju dengan Khilafah, berarti tidak kaffah. Lalu saya jawab: Lho, yang dimaksud kaffah bukan simbolistik- simbolistik, melainkan hikmah-hikmah Islam yang berserakan, kemudian dijadikan satu, itulah Islam kaffah.

Untuk mengerti bahwa shadaqah itu penting, kita cukup membaca Hadits. Akan tetapi untuk menciptaan masyarakat yang mampu bersedekah, maka tidak cukup hanya dengan menghafalkan Hadits-hadits, karena itu adalah proses perjuangan ekonomi kerakyatan. Sementara sekolah-sekolah Islam yang di Timur Tengah, isinya menghafal saja, sehingga berhenti sampai hafalan, tidak pada aktualisasinya. Dino-dino omongane dalil 
(sehari-hari bicara dalil. red), tapi dalil iku gak tahu dilakoni (tidak pernah dilakukan. red).

Semua ini menjadikan saya termenung. Sudah berapa Negara yang saya kelilingi, saya kira sudah lebih dari 40 Negara. Namun, untuk kunjungan ke China , rasanya lain bagi saya. Bagaimana tidak?, mereka punya sesuatu, tapi tidak mau pakai; mempunyai etos kerja tinggi, tetapi hidup sederhana; barang yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang asal jadi, dipakai sendiri. Mereka juga jarang yang mau pakai sepeda motor, karena 
mengakibatkan polusi dan tidak sehat. Maka dari itu, umure wong Chino iku dowo-dowo, gak mati-mati sampek tuek tuyuk-tuyuk (umur orang china itu panjang-panjang, tidak mati-mati sampai tua. red) , bahkan mencapai 
usia lebih dari 100 tahun.

Jadi, budaya kita ternyata tidak produktif. Bagaimana kita bisa mempunyai budaya yang produktif, tapi etis dan tauhidi dan Islami, ini baru menjadi bangunan dari fiddunya hasanah wa fil akhriati hasanah.

Saya masih akan ke Moskow. Rusia itu dedengkot komunis dunia. Mereka telah mendirikan komunisme yang bertahan selama 70 tahun, lalu ambruk. Kenapa Rusia setelah direformasi, kok ambruk, sedangkan China setelah reformasi kok malah melejit, padahal keduanya sama-sama komunis?. Itu karena komunis di China menggunakan budaya China , yaitu makan kurang dari penghasilan; sementara orang Rusia, biaya makan melebihi kapasitas hasil kerjanya. Sekarang ini orang China pergi ke Moskow secara besar-besaran untuk menggarap pertanian-pertanian . Sehingga sekarang ini Rusia tampaknya berada di bawah kendali RRC.

Ketika saya di China , saya bertemu dengan pedagang Amerika yang berasal dari Wall Street di New york . Dia minta dengan hormat, supaya China itu tidak mengekspor barang-barang seperti sekarang ini, karena kalau ini 
diteruskan, maka perekonomian akan ambruk dalam 5 tahun. Jawabnya orang China : "Saya tidak ingin mengekspor barang saya, kalau rakyat Anda tidak ingin membeli barang saya". Itungan China kan begini: Penduduk China itu berjumlah 1.3 Milyar jiwa, kalau setiap orang memperoleh bati 1$ saja, berarti untunganya sudah mencapai 1.3 Milyar dollar. Jadi, gimana mereka mau disaingi, itu kan ndak mungkin.
--
Sumber: dari sebuah milis

6 Cara Sikapi Evaluasi Kerja yang Buruk

Dalam hitungan beberapa bulan atau tahun sekali, kinerja Anda di kantor akan dievaluasi oleh atasan. Tak jarang hasil evaluasi ini tak sesuai dengan harapan Anda. Evaluasi dan penilaian buruk dari atasan terhadap kinerja ini biasanya akan membuat Anda down atau malah menyerah. Padahal seharusnya evaluasi ini menjadi motivasi bagi Anda untuk bekerja lebih baik lagi. Tetapi bagaimana cara mengatasi perasaan down setelah evaluasi kerja yang tak memuaskan?

1. Tarik nafas dalam-dalam

Penilaian buruk terhadap kinerja pasti akan membuat Anda sedih. Akibatnya, Anda jadi ingin menangis atau justru menyerang balik atasan. Kendalikan perasaan dan profesionalitas Anda, paling tidak sampai evaluasi berakhir dan sudah di luar kantor. Tarik nafas dalam-dalam agar lebih tenang dan bisa mengendalikan emosi.

Anda bisa saja membiarkan atasan tahu tentang perasaan terkejut atau kecewa, tapi jangan biarkan ia tahu bahwa Anda merasa emosional atau defensif terhadap mereka. "Cobalah posisikan diri Anda sebagai bos yang ingin memacu karyawannya untuk lebih hebat bekerja. Karena sebenarnya, tujuan utama dari evaluasi ini bukan untuk membuat Anda merasa nyaman, melainkan untuk membuat Anda lebih baik dalam bekerja," ungkap Jodi Glickman, penulis buku Great on the Job: What to Say, How to Say It. The Secrects of Getting Ahead.

2. Tanyakan kemajuan yang diinginkan secara spesifik

Untuk meningkatkan kembali kinerja, tak salah jika Anda meminta saran kepada mereka. Daripada bertanya tentang apa yang harus Anda lakukan untuk meningkatkan kinerja, Glickman menyarankan untuk bertanya tentang kemajuan seperti apa yang diinginkan kantor Anda dengan lebih spesifik.

Misalnya, "Kemajuan seperti apa yang diinginkan kantor kepada saya?", "Tantangan seperti apa yang akan diberikan kantor untuk saya, agar saya bisa membuktikan bahwa saya mampu?" atau "Menurut Anda siapa orang yang bisa melakukan pekerjaan ini dengan sangat baik? Mungkin saya bisa bertanya, sharing, dan mencontoh kinerjanya agar bisa lebih baik."

3. Dengarkan perasaan, bukan hanya kata-kata

Jangan buru-buru menilai atasan Anda kejam atau tak menyukai Anda. Bisa jadi, penilaian ini diberikan untuk membuat Anda lebih hebat lagi. Bedakan saja dari nada suaranya. "Jangan hanya mengenali seseorang dari kata-kata yang diucapkannya, tapi cobalah lebih peka pada nada suaranya. Karena setiap orang ingin didengar dan dipahami bukan hanya secara logis tapi juga secara emosional," ungkap Rick Kirschner, penulis buku How to Click with People: The Secret to Better Relationships in Business and in Life.

Biasanya ada nada kecewa dan sedih saat ia menilai buruk pekerjaan Anda, namun di sisi lain ada nada penuh harap yang menggambarkan bahwa ia berharap banyak dan yakin pada kemampuan Anda dalam bekerja.

4. Ucapkan terima kasih

Sekalipun Anda tak setuju dengan penilaiannya, tak ada salahnya untuk mengucapkan terima kasih. "Ucapkan terima kasih karena ia sudah bersedia duduk bersama dengan Anda dan mengungkapkan pemikirannya," jelas Glickman. Ucapan terima kasih ini menunjukkan Anda memiliki hati yang lapang dan bisa menerima kritik dari orang lain. Selain itu, ini juga menjadi salah satu bentuk profesionalitas Anda dalam bekerja.

5. Katalis perubahan positif

Meski agak sulit untuk menerimanya, namun cobalah ambil sisi positif dari setiap kejadian. Tali Sharot dalam bukunya yang berjudul The Bias Optimisme: A Tour of the Irrationally Positive Brain, mengungkapkan bahwa persepsi Anda tentang segala sesuatu yang buruk akan membawa Anda kepada hal-hal buruk. Misalnya, saat Anda berpikir bahwa Anda tidak mampu mengerjakan tugas, maka Anda akan benar-benar tidak bisa melakukannya.

"Prediksi tentang suatu hal tidak hanya mengubah persepsi kita tapi juga akan memodifikasi tindakan yang dilakukan," tulisnya. Sebaliknya, jika berpikir lebih positif, dan berpikir bahwa penilaian itu sebagai sebuah katalis untuk perubahan positif dalam karier, hasilnya Anda bisa bekerja lebih baik dan positif.

6. Buat target baru

Roy F. Baumeister dan John Tierney, penulis buku Willpower: Rediscovering the Greatest Human Strength mengungkapkan bahwa kunci utama kekuatan manusia terletak pada kemampuannya dalam menentukan tujuan jangka panjang. "Target jangka panjang dalam karier akan membantu Anda untuk bertahan. Tentukan target dalam karier Anda kemudian rencanakan bagaimana cara untuk meraihnya," saran Baumeister.

Tinggalkan fleksibilitas Anda (karena Anda harus bekerja sesuai rencana dan fokus) dan antisipasi semua kemungkinan terjadinya hambatan dan kemunduran. Baumeister menginstilahkan kemauan itu seperti otot tubuh; semakin sering Anda menggunakannya, maka semakin kuat juga otot Anda.
(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, January 28, 2013

Agar Tak Mudah Terpancing Emosi

Seberapa sering Anda terpancing emosi dan menyimpan perasaan negatif karena perbuatan atau ucapan seseorang, baik di kantor maupun dalam kehidupan personal? Semakin sering emosi dan menyimpan perasaan negatif, perilaku Anda pun secara tak sadar terbawa emosi buruk ini.

Pakar hubungan, Deanna Brann, PhD, mengatakan Anda tak bisa menyembunyikan emosi negatif. Betapa pun Anda menyembunyikan emosi negatif, sikap Anda akan merefleksikan apa yang Anda sedang rasakan. Yang terbaik bisa Anda lakukan adalah mengatasi atau mengelola emosi ini.

Agar hal kecil, ucapan atau tindakan orang lain tak mudah memancing amarah apalagi menimbulkan kesan Anda mudah emosi, lakukan beberapa hal ini:

1. Menjaga jarak.
Saat menemukan situasi ini, ucapan atau tindakan teman kantor, pasangan, teman membuat Anda emosi, segera ambil jarak. Ini langkah awal yang bisa menyelamatkan Anda dari serangan emosi negatif dalam diri. Dengan menjaga jarak, Anda bisa melihat situasi lebih objektif bukan menanggapinya dengan penuh amarah.

2. Jangan berasumsi.
Apa pun yang orang lain katakan atau perbuat, jangan berasumsi hal tersebut selalu ada kaitannya dengan Anda. Jangan mudah tersinggung dengan sikap orang lain. Caranya hindari asumsi. Jangan pernah mulai berasumsi bahwa hal buruk itu menyangkut diri Anda. Bisa jadi berbagai hal buruk tersebut sama sekali tak ada hubungannya dengan Anda. Kalau pun Anda berada dalam kondisi buruk tersebut, bisa jadi ini terjadi tanpa disengaja. Kebetulan saja Anda terjebak dalam suasana tak menyenangkan tersebut.

3. Kenali perasaan Anda.
Saat sikap atau ucapan seseorang memancing emosi, kenali lagi perasaan Anda. Apakah dengan menyimpan emosi negatif tersebut, Anda merasa lebih baik karena merasa Anda benar dan orang tersebut salah? Kalau ini yang terjadi, Anda sedang membela diri. Semakin lama Anda menyimpan emosi negatif dan membela diri karenanya, semakin melelahkan jiwa Anda. Lepaskan saja emosi negatif semacam ini karena takkan membawa pengaruh baik bagi diri sendiri.

4. Alihkan emosi.
Kalau orang lain menyinggung perasaan Anda, jangan berdiam diri dengan emosi negatif yang muncul di dalam diri. Segera alihkan emosi negatif tersebut pada hal lain. Ambil langkah awal, lakukan sesuatu hal kecil sekalipun yang bisa membantu diri sendiri mengalihkan emosi negatif. Kalau Anda merasa lebih baik, ambil langkah berikutnya. Lakukan aktivitas yang membuat perasaan Anda lebih tenang, nyaman tak dipenuhi dengan emosi negatif. Secara bertahap, Anda pun akan teralihkan dari emosi negatif ini.
(Sumber: Kompas.com, 28 Jan 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, January 25, 2013

LOSTA MASTA: Bikin Hidup Lebih Hidup

Kalau hidup sekedar hidup
Babi di hutan juga hidup
Kalau kerja sekedar kerja
Kera juga bekerja
--Buya Hamka—-

Teramat dalam arti sindiran yang dilontarkan almarhum buya Hamka di atas.  Ulama karismatik, cendekiawan, sastrawan Indonesia asal minang tersebut ingin mendorong kita, bangsa Indonesia, menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang hidup bukan sekedar hidup. Yang kerja bukan sekedar bekerja. Kalau hanya hidup dan kerja sekedarnya saja, kita disindir, tak jauh beda dengan babi hutan atau kera.

Tentu, dalam pengertiannya, buya Hamka tidaklah ingin menyamakan manusia dengan binatang. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sempurna. Diciptakan pula dengan sebaik-baik bentuk.

Lalu, hidup dan kerja seperti apa yang semestinya kita jalani? Jawabanyanya: hidup yang menghidupkan. Losta Masta; bikin hidup lebih hidup. Kerja dengan performa terbaik. Do with all our best!

Pertanyaan kemudian adalah, seperti apa hidup yang menghidupkan itu? Hidup yang tidak hanya memikirkan diri sendiri (ego), tapi juga harus berfikir menghidupkan alam sekitarnya (geo). Hidup seperti inilah yang mendatangkan manfaat bagi lingkungannya (manusia dan alam sekitarnya). Karena hidup yang mendatangkan banyak manfaat inilah yang mengantarkan seorang manusia ke kedudukan yang mulia dan terpuji. Khairukum man tanfa'u linnas; sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang banyak memberi manfaat buat ummat manusia.

Jika demikian, apakah dengan kondisi kita saat ini (dengan posisi dan status sosial yang berbeda-beda) bisa termasuk ke dalam golongan sebaik-baik manusia tersebut? Tentu saja BISA. Caranya? Loyallah pada pekerjaan kita (yang halal tentu saja). Jalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Terapkan kedisiplinan tingkat tinggi. Berintegritas. Bekerja dengan kecerdesan. Cermat waktu, cermat tenaga. Camkan dalam semangat terdalam diri bahwa kita bekerja bukan sekedar bekerja. Bukan bekerja hanya untuk diri sendiri. Tapi bekerja yang mendatangkan manfaat untuk banyak orang. Bermanfaat untuk keluarga, bermanfaat untuk masyarakat sekitar, bermanfaat untuk organisasi/perusahaan, bermanfaat untuk Negara, bangsa dan agama.

Setelah kita bisa bekerja dan hidup seperti itu, baru kita bisa tenang dari sindiran buya Hamka di atas.

Sebagai penutup, saya kutipkan kalimat motivasi dari Andrie Wongso berikut ini agar kita senantiasa memperbaiki kualitas diri dalam kehidupan dan pekerjaan kita sehari-hari: "Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda."

Semoga bermanfaat.
 (dari milist)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, January 22, 2013

Membangun Mental Sukses dalam Diri

Setiap orang pasti ingin mendapatkan kesuksesan dan menjadi juara dalam tiap hal yang dilakukannya. Hanya saja, kesuksesan memang tidak selalu mudah untuk diraih. Seringkali ketika tidak berhasil mencapai hasil yang diinginkan, beragam alasan dan justifikasi muncul. Parahnya, ada yang mulai menyalahkan orang lain, situasi, dan lingkungan sekitar.

"Padahal diri Anda sendirilah yang bertanggung jawab pada kesuksesan Anda sendiri. Anda yang memilih, berbuat, maka Anda juga yang harus bertanggung jawab," ungkap motivator Putera Lengkong, MBA, dalam bukunya, 9 Prinsip Kesuksesan Sang Juara.

Putera menambahkan bahwa sebenarnya prinsip kesuksesan dimulai dari diri sendiri. Berikut sembilan prinsip kesuksesan yang bersumber dari diri sendiri:

1. Punya impian spesifik dan menantang
Setiap orang pasti punya impian untuk bisa sukses. Sayangnya, impian ini masih terlalu umum sehingga membuat Anda bingung untuk mulai mewujudkannya. Impian yang jelas akan memotivasi Anda untuk bergerak pasti dan mengambil tindakan nyata. Misalnya, saat ingin punya mobil, jangan hanya bermimpi ingin punya mobil. Perjelas mobil impian yang Anda inginkan mulai merek, warna, dan detail lainnya.

"Untuk sukses, buatlah diri Anda merasa kepepet. Milikilah urgensi sehingga menggerakkan Anda untuk meraih impian tersebut," ungkapnya.

2. Setiap kesuksesan punya "harga"
Kesuksesan tidak bisa didapatkan dengan cara instan. Anda harus membayar semua "harga"nya untuk mendapatkan kesuksesan. Tentu saja bukan dalam bentuk uang, tapi dengan kerja keras.

"Anda harus bekerja keras dan belajar melakukan sesuatu dengan cara, sistem, metode kerja, atau kebiasaan yang berbeda dari sebelumnya. Namun dengan demikian, Anda belajar untuk mengembangkan diri," jelasnya. Ketika memilih maju, tentu Anda harus menunda kenikmatan yang ingin dinikmati.

3. Anda adalah pelakunya
Ketika menghadapi kegagalan, seringkali Anda menyalahkan orang lain atau keadaan. Anda harus menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil dalam hidup Anda semuanya berasal dari diri sendiri. Anda adalah pelaku kehidupan Anda, dan bukan korban dari kehidupan. Dengan demikian Anda bertanggung jawab atas pilihan yang Anda buat dan bertanggung jawab atas kesuksesan Anda sendiri.

Ketika gagal jangan mencari siapa yang salah. Akan lebih baik jika Anda mencari solusi dan cara untuk menjadi lebih baik lagi.

4. Miliki mental sukses
Syarat terpenting untuk menjadi seorang yang sukses adalah kepercayaan diri dan mental sukses. "Bagi saya mental juara berarti melakukan lebih dibanding orang lain. Entah itu lebih sering, lebih banyak, lebih disiplin, lebih kreatif, atau lebih bermanfaat," jelasnya. Memiliki mental juara juga berarti Anda harus fokus pada semua hal yang dilakukan dan memberikan yang terbaik.

5. Sinergi dalam tim
Bekerja dalam tim memang tidak mudah. Anda harus menyesuaikan irama, visi dan misi dengan rekan satu tim. Anda harus paham tipe tim seperti apakah kelompok Anda ini. Apakah mereka termasuk tipe tim yang bisa membantu Anda mencapai impian, atau malah menjauh dari impian Anda.
 
Dalam kerja kelompok butuh adanya sinergi dan saling pengertian satu sama lain. Sinergi dengan tim akan membantu mempermudah Anda untuk mencapai kesuksesan. Bahkan kerja tim akan memungkinkan Anda mencapai tujuan yang awalnya terasa sulit karena harus bekerja sendirian. Dalam tim, Anda bisa mengambil banyak pelajaran dan ilmu untuk mendukung karier Anda. Putera menambahkan, bahwa sebenarnya kerja tim yang saling bersinergi adalah jalan tercepat untuk mencapai kesuksesan.

Sumber: Buku 9 Prinsip Kesuksesan Sang Juara, oleh Putera Lengkong, MBA, Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama, Pencetak PT Gramedia.
(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, December 16, 2012

Kita Masih Tetap sangat Berharga

Dalam sebuah kelas training, seorang fasilitator memulai programnya
dengan selembar uang senilai Rp. 100.000 yang masih baru. Di dalam
ruangan tersebut, dia bertanya, "Siapa yang mau uang ini?"

Spontan para partisipan mengacungkan tangan mereka.

"Saya akan memberikan uang ini pada salah satu dari kalian, tapi apakah
kalian masih mau kalau uang ini sudah kusut?" katanya sambil
meremas-remas uang tersebut agar menjadi kusut.

Para partisipan masih tetap mengacungkan tangan mereka.

"Bagaimana kalau saya melakukan ini?" katanya sambil menjatuhkan uang
tersebut ke lantai dan menginjaknya berulang kali. Kemudian uang itu
yang sudah menjadi kusut dan kotor diambilnya kembali, "masih ada yang
mau?"

Para partisipan tetap saja mengacungkan tangan mereka.

"Kita semua baru saja mempelajari sesuatu yang sangat berharga,"
katanya, "tidak peduli apa yang saya lakukan terhadap uang tersebut,
teman-teman sekalian tetap saja menginginkan uang tersebut karena nilai
uang tersebut tidak berkurang, masih tetap 100 ribu rupiah."

"Sering kali dalam kehidupan ini kita jatuh, segala sesuatunya tidak
sesuai dengan keinginan kita, dan terpuruk dikarenakan keputusan yang
kita ambil dan juga hambatan menghadang di tengah perjalanan kita. Kita
merasa bahwa kita sudah tidak berharga lagi. Tetapi, apapun yang telah atau akan terjadi, kita tidak akan pernah kehilangan harga diri kita.
Kotor atau bersih, kacau atau teratur, kita masih tetap sangat
berharga... terutama bagi orang-orang yang mencintai kita."

Harga dari kehidupan yang kita jalani bukan datang dari apa yang kita
lakukan atau siapa yang kita kenal, tetapi dari SIAPA DIRI KITA. (N. Adhi W)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, December 03, 2012

Mengelola Hati dan Rasa Karyawan

Sangat basi bila kita masih mempertanyakan ungkapan "manusia sebagai aset terpenting" perusahaan. Hal yang perlu kita pertanyakan sekarang ini adalah sejauh mana upaya, kesiapan, dan kesungguhan kita untuk mengelola aset terpenting ini? Berapa banyak dan bagaimana kita berkompetisi untuk menginvestasikan waktu dan uang pada manusia, yang kita yakini sebagai aset terpenting, sehingga tiap individu betul-betul bisa mendorong produktivitas tim dan organisasi?

Kita tahu ada perusahaan yang memberi gaji "bersaing" serta fasilitas "wah", dengan harapan individu jadi lebih produktif, bisa menampilkan kinerja terbaik. Namun, kita bisa melihat bahwa upaya ini tidak selalu efektif untuk menumbuhkan spirit, motivasi, kepandaian, dan sikap terpuji dari karyawan. Meski sudah diberi gaji di atas rata-rata, tidak sedikit karyawan yang tetap bertingkah laku tidak produktif, tidak mandiri, tidak berani mengambil keputusan dan resiko.

Riset menunjukkan upaya semacam ini tidak ampuh menghasilkan perubahan perilaku yang bertahan lama, karena motivasinya bersifat eksternal, bukan dari dalam diri individu. Bila karena satu dan lain hal, fasilitas yang ada dihilangkan, sikap kerja karyawan bisa berbalik 180 derajat.

Di sisi lain, ada perusahaan yang penghasilan karyawannya tidak besar, fasilitas untuk karyawan tidak berlebihan, tetapi kerjasama tim, semangat karyawan dan profesionalitasnya sangat menggebu-gebu. Jadi, ada hal lain di luar kompensasi dan remunerasi yang berperan signifikan dalam membangun efektivitas organisasi dan manusia. Faktor lain itu adalah "hati" dan "rasa". 

Dalam mengelola manusia, kita memang seringkali lupa mengukur kekuatan "rasa". Padahal, sering kita kehilangan tenaga andalan karena ketidaknyamanan emosi di lingkungan kerja, karena sakit hati atau merasa tidak dihargai. Ungkapan "jangan membawa emosi" di tempat  kerja memang tidak lagi relevan. Kapasitas emosi malah menjadi barang mewah di era teknologi ini. Tim dan organisasi hanya bisa berkinerja efektif bila ada emosi positif di dalamnya. Pelanggan loyal karena ikatan emosi. Karyawan kompak karena merasa satu rasa.

Afeksi, kemampuan merasakan dan mengekspresikan "rasa" menjadi elemen penting dalam komunikasi dalam tim. Nilai-nilai penting yang menjadi jiwa organisasi harus diekspresikan oleh atasan dalam interaksi dan proses coaching sehari-hari, sehingga karyawan bisa merasakannya.

Kejujuran, kepercayaan, respek, harga diri, keberanian, keterbukaan setiap individu dalam organisasi adalah hal-hal yang harus ditargetkan oleh atasan atau pemimpin. Tanpa ini, semua nilai tadi tertinggal sebagai kata-kata saja.

Positifkah komunikasi tim?
Penelitian Thomas Bradbury dari UCLA menemukan adanya "komunikasi positif' pada organisasi yang efektif, dalam tim yang efektif cara bersepakat, berdebat, dan mengajukan usul bernada positif. Sementara, di tim yang kurang efektif, ada lebih banyak situasi di mana orang bersikap defensif, berdebat dengan cara yang tidak produktif.

Dalam situasi beremosi positif, komunikasi ditandai adanya "passion", afeksi, humor, dan "berjiwa". Sementara di situasi beremosi negatif, orang lebih cepat naik darah, cepat patah arang; memutuskan transaksi komunikasi. Di sinilah atasan berperan penting, karena otomatis atasan sangat memengaruhi warna komunikasi dalam tim. Apakah sebagai atasan kita kerap mengeluarkan komentar bernada mengancam? Atau sebaliknya, mendorong dan me-reward komunikasi positif?

Atasan yang sadar akan perannya sebagai coach betul-betul perlu mawas diri tentang bagaimana ia memberi komentar saat mengoreksi kesalahan anak buah, bagaimana cara komunikasi dalam menengahi beda pendapat.

Kita bisa menemui organisasi di mana ketegangan bisnis tinggi, banyak perdebatan, tetapi kekompakan tetap terjaga. Dalam salah satu organisasi ini, seorang karyawannya berkomentar, "Di sini orang bisa berbeda pendapat, tetapi ini demi satu tujuan yang jelas." 

Emosi positif berkhasiat seperti "teflon" lapisan antilengket di penggorengan. Kerak dan gosong yang mungkin timbul dari tegangan tinggi atau beda pendapat tidak bakal menempel dan tertinggal. Coaching sebagai salah satu proses komunikasi penting perlu dilihat sebagai sarana bagi atasan untuk mengekspresikan "rasa" dan "emosi". Pencapaian sasaran tim, pengembangan kompetensi anak buah harus menjadi obsesi yang dikomunikasi dengan jelas, sehingga coaching betul-betul berbobot dan tidak sekadar formalitas penuh basa-basi.

Menyetel frekuensi
Seorang teman, chairman perusahaan multinasional, yang sangat passionate mengembangkan coaching culture di organisasinya, berkomentar bahwa menjadi coach yang efektif memerlukan ketrampilan interpersonal tingkat tinggi. Coaching pada dasarnya adalah interaksi komunikasi "multisensorik". Dasarnya adalah "hati" dan "keyakinan" yang digunakan untuk mengolah "rasa", yang dihasilkan dari observasi intens seluruh panca indera.

Umpan balik atau pesan, tidak semata dikatakan, tetapi diekspresikan lengkap dengan tindakan. Dengan cara ini, anak buah atau coachee tidak sekadar mendengar tapi juga merasakan. Hanya dengan coaching bernuansa komunikasi positif, anggota tim terdorong untuk berubah tanpa merasa diubah, ia akan merasa dibimbing tanpa merasa digurui, dan merasakan tumbuh tanpa dikerdilkan.

Coaching, baik langsung maupun tidak langsung, baru bisa efektif jika menjadi bagian dari kegiatan organisasi sehari-hari; bukan aktivitas yang berdiri sendiri.

Teman saya ini mengingatkan bahwa hal-hal tadi tidak bisa dicapai tanpa "tuning the frequency". Coach perlu menyesuaikan gelombangnya untuk berada pada frekuensi yang sama dengan bawahannya. Atasanlah yang harus menyetel frekuensinya, bukan bawahan yang menyesuaikan ke atas.

Alam mengajarkan melalui kapasitas jari-jari: jempol adalah pemimpin, jari lain adalah anak buah. Jempol harus bergerak mendekat, agar jari lain bisa menyentuhnya. Kalau jempol tidak mau bergerak untuk menyentuh kelingking, jangan harap kelingking bisa mendekati jempol; apalagi menyentuhnya.

Mau tidak mau atasan harus bisa beroperasi secara multi frekuensi. Ini adalah "active listening" yang dipraktekkan sepenuh hati. Inilah esensi penting dari "The Power of Coaching". Teman saya ini akan menjadi salah satu pembicara di seminar tanggal 6 Desember 2012.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant - Kompas .com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, November 29, 2012

Penting Dilakukan dalam "Personal Branding"

Membangun image sekaligus mempertahankannya, sama sulitnya. Karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

* Temukan dan asah kemampuan.
Hal pertama yang harus Anda ketahui dari diri sendiri adalah apa kelebihan diri yang bisa Anda tonjolkan? Cari tahu dan gali lebih dalam minat, bakat, kemampuan, dan keunggulan. Ingat kembali, kapan Anda merasa sangat senang melakukan sesuatu karena sangat menguasainya? Setelah tahu kekuatan yang Anda miliki, berikutnya adalah mengasah diri hingga menjadi ahli di bidang yang digeluti. Bekali diri dengan keterampilan atau teknologi terbaru yang akan memperlancar pekerjaan. Ikut kursus atau training bila perlu. Selain kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan daya jual juga bisa diasah dengan mengembangkan soft skills, seperti keterampilan presentasi, komunikasi, coaching, dan sebagainya.

* Berani beda dan jadikan trademark.
Saat Anda menjadi berbeda di tengah kumpulan orang yang sama, Anda tentu akan menjadi orang pertama yang menarik perhatian. Setelah berhasil menemukan kekuatan diri, waktunya untuk mengembangkan kekuatan itu menjadi sesuatu yang unik dan berbeda. Apalagi sebenarnya setiap orang sudah memiliki ciri khas yang berbeda dengan lainnya, misalnya gaya berpakaian, gaya bicara, atau kebiasaan tertentu. Jika perlu, jadikan perbedaan dalam diri Anda sebagai trademark.

* Tampilkan karakter.
Merasa tak punya keahlian khusus? Tenang saja, untuk membangun citra diri,  Anda juga bisa mengandalkan karakter diri. Misalnya, selama ini Anda dikenal sebagai pribadi yang ramah dan senang menolong. Gunakan itu sebagai keunggulan. Singkat cerita, ada seseorang yang selalu tergerak jiwanya untuk menolong orang lain yang sedang sakit atau kesusahan, padahal ia bukanlah seorang yang kaya raya. Sampai akhirnya setiap ia memberikan info tentang orang yang butuh pertolongan, semua orang berlomba-lomba ikut membantunya. Ini berarti ia sukses membangun branding sebagai seorang penolong yang murah hati.

* Berani ambil tantangan.
Membangun citra positif butuh waktu yang tak sedikit, harus konsisten dan siap dengan segala risiko. Diperlukan kerja keras untuk membangun image sejak dari nol bahkan lebih sulit lagi untuk mempertahakannya. Proses mencapai kesuksesan memang akan memakan waktu lama, tapi saat mengerjakan sesuatu sesuai minat tentu akan terasa lebih mudah kan?

* Eksis.
Percaya atau tidak, mau atau tidak mau untuk memiliki nilai jual yang bagus, Anda harus berani eksis. Berani menampilkan diri dalam setiap kesempatan. Tak pernah segan bertemu dengan orang-orang baru dan menjalin pertemanan baru. Karena itu, orang dengan "merek" bagus biasanya punya banyak kenalan, teman dan sahabat. Sebab mereka rajin menjalin silaturahmi dan networking, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Tak heran, jika kemudian mereka sering diburu klien, head hunter, atau sekedar "ditodong" untuk berbagai ilmu.

Yasha Chatab, pakar branding mengatakan ada dua hal yang juga penting dilakukan saat branding diri yakni, pertama mendeskripsikan dengan jelas siapa Anda dan apa tujuan Anda, agar orang lain tidak salah menilai dan mengenali Anda. Kedua, berperilaku, berucap, berkontribusi positif secara visi dan pemikiran.
(Kompas.com dicopas Kamis, 29 November 2012)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, August 01, 2012

5 Trik "Carmuk" di Depan Atasan

Selama di lakukan dengan cara yang tepat, sah saja cari muka (carmuk) atau menarik perhatian atasan. Anda bukan hanya tampil sebagai pribadi yang menonjol namun juga berprestasi, dan hal ini tentu berdampak pada penilaian kerja, bukan?

Simak cara jitu agar dilirik atasan karena profesionalitas Anda :

1. Berprestasi.

Prestasi kerja yang baik, wawasan luas, dan jaringan yang luas akan membuat Anda lebih menonjol di banding rekan kerja lain. Selanjutnya, kesempatan dilirik atasan pun lebih besar.

2. Hubungan baik.

Jalin hubungan yang menyenangkan dengan atasan dan rekan kerja lain. Terbukalah untuk membantu rekan kerja dan menjadi seseorang yang diandalkan dalam pekerjaan.

3. Jadi teman diskusi.

Jangan enggan memberi banyak ide segar pada atasan atau pun tim kerja. Biasanya mereka yang selalu memiliki banyak ide, selalu membuat orang lain merasa nyaman berdekatan dan berdiskusi dengannya.

4. Menjadi diri sendiri.

Apa pun yang kita lakukan, tetaplah menjadi diri sendiri. Tak perlu bicara dengan nada yang dibuat manis atau berperilaku seperti orang lain. Selain membuat kita lelah "memakai topeng", orang lain pun akan merasa tak nyaman berada di dekat Anda.

5. Penampilan menarik.

Ini tak hanya untuk menarik perhatian, tapi juga meningkatkan rasa percaya diri. saat bertemu atasan.(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Related Posts with Thumbnails