Friday, February 07, 2014

Tulis tangan perkuat ingatan

Menulis di kertas, bukan mengetik di komputer, ternyata memperkuat daya ingat  dan kemampuan memahami konsep.

Menurut penelitian terbaru yang dimuat di jurnal Psychological Science, mencatat dengan pulpen dan kertas, lebih meningkatkan kualitas belajar dibandingkan menggunakan laptop.

Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa menulis merupakan strategi yang lebih baik untuk menyimpan ide dalam waktu yang panjang.

Selain itu, para peneliti mendapati bahwa menulis dapat menguatkan proses belajar yang tak dapat disamai dengan mengetik.

Penelitian tersebut dilakukan psikolog dari Princeton dan Universitas California, Los Angeles, Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer.

Mereka menguji efek menulis catatan pada mahasiswa dalam dua seri percobaan.

Dua kelompok mahasiswa diminta mendengarkan materi kuliah dari dosen yang sama.

Mereka diperbolehkan menggunakan semua strategi untuk menyimpan hal-hal penting di perkuliahan.

Satu setengah jam kemudian, partisipan diuji soal materi kuliah itu.

Hasil studi menunjukkan, mahasiswa yang menggunakan laptop "miskin" soal ide.

Mahasiswa yang menggunakan laptop cenderung lebih banyak menghasilkan catatan, tapi lebih berupa menyalin persis kata demi kata (verbatim) alias "transkrip tanpa otak". 

"Hal ini yang menghilangkan manfaat dari mencatat." .

Sementara itu, mahasiswa yang menulis  dengan tangan jauh lebih baik dalam kualitas belajar.

Penelitian itu menunjukkan bahwa menulis merupakan strategi yang lebih baik untuk menyimpan dan mengendapkan ide dalam kurun waktu lama dibandingkan dengan mengetik.

Studi sejenis yang dipublikasikan Intech menemukan bahwa menulis dengan tangan memberikan kesempatan kepada otak untuk menerima umpan balik.

Hal tersebut tidak terjadi jika orang menggunakan papan ketik (keyboard).

Pergerakan saat menulis dengan tangan "meninggalkan memori (daya ingat) pada bagian sensormotor otak" yang membantu orang mengenal huruf dan membangun hubungan antara membaca dan menulis.

Sumber: http://m.antaranews.com/berita/417971/tulis-tangan-perkuat-ingatan
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Ingin Sukses? Beranilah Ambil Risiko

Persaingan yang sengit dalam dunia kerja membuat banyak orang ingin mengamankan posisinya masing-masing dan takut mengambil risiko. Padahal "bermain aman" sebenarnya berdampak buruk pada jangka panjang.

Kaum wanita biasanya adalah kelompok yang paling takut mengambil risiko. Sebenarnya secara genetik para wanita memang lebih jarang mengambil risiko dibanding pria, mereka cenderung menikmati zona nyaman yang sudah dimilikinya.

Ada beberapa alasan mengapa keberanian mengambil risiko bisa membawa kita pada kesuksesan.

1. Munculnya peluang besar
Kita cenderung melihat risiko secara negatif, karena dianggap berbahaya dan tidak bijaksana. Meski beberapa risiko memang demikian adanya, tapi sebagian besar kesempatan dan peluang besar baru muncul setelah kita mengambil risiko.

2. Lebih percaya diri
Kesempatan untuk belajar hal baru dan peran yang lebih menantang akan muncul setelah kita berani mengambil risiko. Kita pun juga menjadi lebih percaya diri.

3. Belajar dari risiko
Selain manfaat positif yang datang dari luar, sebenarnya dengan berani mengambil risiko kita juga mengalami perkembangan dalam diri. Kita jadi terlatih untuk mempercayai insting dan lebih bersemangat membuktikan pada orang lain kita mampu melakukan hal yang dianggap tidak mungkin.

4. Sukses harus diraih
Berani mengambil risiko mungkin adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk sukses. Dengan mengambil langkah lebih awal dari orang lain, kita akan bertemu dengan kemungkinan-kemungkinan tak terduga, termasuk potensi tersembunyi.

5. Harus penuh perhitungan
Jangan pernah takut untuk gagal. Namun tetap saja Anda harus menyiapkan diri agar sukses menaklukan tantangan. Anda tak cukup hanya memiliki ide tanpa melihat seluruh prosesnya dan menganalisa seperti apa hasil akhirnya.


Penulis: Lusia Kus Anna
Editor: Lusia Kus Anna

Sumber: http://m.kompas.com/female/read/2014/02/07/1350252/Ingin.Sukses.Beranilah.Ambil.Risiko
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, February 05, 2014

5 Ciri Sikap Profesional dalam Berargumentasi

Ada lima hal yang menandakan Anda telah bersikap profesional dalam berargumentasi.

1. Hargai perbedaan pendapat
Ada banyak orang yang memiliki kepribadian berbeda, begitu juga dengan pendapat. Untuk orang tidak setuju dengan pendapat Anda, tak perlu bersikap memusuhinya. Jangan pernah menyebut pendapat mereka salah dan Anda yang benar.

Coba lakukan cara sederhana ini, bayangkan diri Anda dalam posisi mereka. Bagaimana perasaan Anda jika ada orang lain yang memojokkan Anda? Ada baiknya Anda bisa mengekspresikan ketidaksetujuan dengan cara yang halus dan sopan.

2. Akui kesalahan
Dalam suatu argumentasi, Anda menyadari bahwa ternyata pendapat Anda memang salah. Jangan habiskan waktu untuk ngotot mempertahankan pendapat Anda, apalagi pendapat yang salah. Mengakui kesalahan adalah sikap terhormat dan orang-orang juga akan lebih respek kepada Anda. Dengan menerima kesalahan Anda sendiri, orang-orang akan menghubungkannya pada sifat rendah hati. Setiap orang menyenangi orang yang memiliki sifat membumi dan rendah hati.

3. Mulai dengan sesuatu yang menyenangkan
Sebuah argumen biasanya dimulai ketika seseorang bertanya kepada pihak lain. Misalnya, si bos meminta Anda melakukan tugas dalam cara-cara tertentu. It's all about asking. Ketika Anda melakukan ini dalam cara yang bersahabat, Anda akan menenangkan orang tersebut dan "menyelamatkan" mereka dari tindakan defensif.

4. Buat lawan menyetujui
Apa pun masalah yang sedang dibahas, sebenarnya Anda bisa membuat lawan menyetujui pendapat kita. Masalahnya bagaimana membuat sang lawan mengalah dan berhenti menganggap Anda sebagai musuh. Inilah tantangannya. Jika Anda berhasil membuatnya menyetujui pendapat Anda, berarti Anda telah berhasil membuatnya sadar bahwa Anda berdua sebenarnya adalah teman yang cocok.

5. Biarkan mereka yang bicara
Selama argumentasi berlangsung, dengarkan pendapat lawan bicara dengan konsentrasi. Karena bagaimanapun, Anda takkan bisa memenangkan argumentasi jika Anda terus berbicara. Dengan mendengarkan pendapat mereka, Anda bisa mencari celah untuk mematahkan argumen mereka.

Editor: Lusia Kus Anna
Sumber: CHIC

Sumber: http://m.kompas.com/female/read/2014/02/05/1534017/5.Ciri.Sikap.Profesional.dalam.Berargumentasi
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, January 28, 2014

Begitu 'teng' jam 5, kita langsung 'go' (Teng-Go)

Kita lazim menyebutnya sebagai 'teng-go'. Begitu 'teng' jam 5, kita langsung 'go'. Salah nggak sih kalau kita teng-go?
 
Nggak salah. Karena lazimnya kan jam kerja itu jam 8 sampai jam 5. Sekalipun begitu, kita perlu mempertimbangkan beberapa hal. Misalnya:
 
Pagi tadi kita masuk kantor telat gak? Kan nggak lucu kalau masuk kantor telat, tapi pulangnya cepat. Pasti total jam kerja kita kurang kan? Gak lucu. Dan gak profesional.
 
Kita ini ingin karir yang lebih dari sekedar 'biasa-biasa saja' nggak? Semua karyawan ingin karirnya istimewa. Tapi, hanyak sedikit banget yang usahanya, kegigihannya, keuletannya luar biasa.
 
Mengharapkan hasil luar biasa dengan usaha yang sama dengan kebanyakan orang? Hmmmh... Mesti dipikirkan lagi peluangnya keberhasilannya tuch.
 
Saya paham, bahwa tinggal lebih lama dikantor tidak selalu berarti baik. Ada yang karena kurang pandai mengelola waktu. Kalau time managementnya baik, pasti tidak mesti kerja selama itu.
 
Ya pembandingnya jangan orang begitu dong. Kalau ingin sukses, berkacanya mesti pada para profesional hebat. Bukan yang cetek gitu.
 
Intinya gini deh: Kita ini sudah dianugerahi potensi tinggi. Tempat kerja yang baik. Peluang yang banyak. Mau nggak, mengoptimalkan semua kebaikan itu untuk meraih pencapaian yang tinggi?
 
Bayangkan jika Anda bekerja dengan durasi lebih lama dari orang lain. Dan mengatur waktu lebih efektif dari orang lain. Produktivitas Anda pasti lebih tinggi kan? Peluang sukses pun terbuka lebih lebar. Kalau tidak teng-go.
 
Anda pasti ingin sukses. Tapi, bersedia membuang kebiasaan teng-go gak? Oh, hari ini sudah terlanjur teng-go ya? Baiklah. Mulai besok, dipraktekkan.
 
Jika masih butuh ilmu, sering-sering aja mampir ke www.dadangkadarusman.com
 
Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya?  Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman  
Author, Trainer, and Publik Speaker

Sumber: Dadang Kadarusman via BBM

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, January 26, 2014

Kemampuan Mengambil Keputusan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Salah satu tugas penting kita sebagai pemimpin adalah 'mengambil keputusan'. Semakin tinggi jabatan kita, bobot keputusan yang kita ambil pun menjadi semakin tinggi. Dampaknya semakin besar. Dan tentu saja, resikonya pun semakin bertambah pula. Jika sebagai pemimpin unit kerja kita tidak bisa mengambil keputusan yang tepat, maka bisa dibayangkan akibatnya kan. Lantas, apakah mengambil keputusan itu selalu mudah dilakukan? Tidak selalu sih pastinya. Kadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit kan? Terus, gimana dong jika demikian.
 
Diantara keluhan yang sering mengemuka di kelas-kelas training kepemimpinan yang saya fasilitasi adalah penilaian para senior leaders terhadap para manager atau supervisor yang mereka pimpin dalam hal pengambilan keputusan. Cukup banyak loh senior leader yang menilai anak buahnya belum terampil dalam mengambil keputusan. Malah masih bergantung kepada boss besarnya. Padahal – kata mereka – mestinya kan di level itu bisa mereka selesaikan sendiri dong. Jika Anda tertarik untuk memenuhi harapan top management itu, saya ajak Anda memahami dan mempraktekkan 5 aspek Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:
 
1.      Tidak ada keputusan yang benar 100%. Kita takut mengambil keputusan antara lain karena takut salah. Padahal, tidak seorang pun yang bisa mengambil keputusan yang dijamin 100% benarnya. Tidak ada juga keputusan yang bisa menyenangkan semua orang. Jadi, tidak perlu takut mengambil keputusan. Justru takutlah kalau tidak mengambil keputusan. Karena mengambil keputusan adalah tugas kepemimpinan kita. Kalau kita takut salah mengambil keputusan lalu kita jadi lebih berhati-hati, lebih teliti, lebih waspada; itu baik. Tapi kalau kita takut hingga tidak berani atau ragu-ragu dalam mengambil keputusan maka itu pertanda kualitas kepemimpinan kita yang belum baik. Beranilah mengambil keputusan. Karena itu tugas kita.
 
2.      Pahami otoritas dan gunakan sebaik-baiknya.Jabatan kita disertai dengan otoritas atau kewenangan yang memungkinkan kita menjalankan kewajiban-kewajiban yang melekat pada jabatan itu. Misalnya, berapa % diskon yang boleh kita berikan kepada pelanggan tanpa harus konsultasi kepada atasan. Atau, berapa biaya yang boleh dikeluarkan untuk mendukung sebuah event. Memahami otoritas itu sangat membantu kecepatan dan efektivitas pengambilan keputusan. Jika keputusan itu masih dalam otoritas kita, kenapa mesti 'nelfon' atasan dulu kan. Jika kita tidak paham otoritas dan batasannya bisa-bisa kita takut mengambil keputusan, atau berani; tapi menyalahi kewenangan yang ada kan?
 
3.      Bantu kolega atau atasan dengan alternatif solusinya. Kalau keputusan atas penyelesaian suatu masalah itu ada dalam batas otoritas kita, ya kita putuskanlah. Tapi, tidak semua masalah yang kita hadapi keputusannya ada dalam otoritas kita kan? Bisa jadi, otoritasnya ada pada kolega kita di team lain. Atau pada atasan yang lebih tinggi. Meski begitu, kita tidak bisa cuek bebek saja, jika masalah itu juga menyangkut unit kerja kita. Sehingga, kita perlu membantu kolega yang pemimpin unit lain atau atasan itu dengan memberi mereka pilihan solusinya. Soalnya kalau masih menyangkut team kita, ada kepentingan kita kan. Dengan begitu, mereka bisa melihat peluang penyelesaiannya dengan lebih cepat dibandingkan mereka harus memikirkannya dari awal kan. Dan unit kerja kita bisa merasakan manfaatnya juga.
 
4.      Perhatikan gejalanya, selesaikan akar masalahnya. Kita sudah sejak lama mengambil keputusan, dan masalah pun bisa diatasi dengan baik. Tapi, kenapa masalah yang sama kerap muncul berulang-ulang? Itu karena kita hanya menyelesaikan 'symptom' atau gejala yang tampak dipermukaan saja. Kita, tidak menyelesaikan akar masalahnya. Seperti Anda menebang pohon pisang. Dia akan tumbuh lagi, dan terus tumbuh lagi meski ditebang lagi. Kecuali jika Anda membongkar akarnya. Masalah pun sama. Akan muncul lagi dan terus muncul lagi, jika kita tidak menyelesaikan akar masalahnya. Gejala atau dampaknya memang penting untuk ditangani. Tapi, akar masalahnya itu mesti dituntaskan.
 
5.      Pastikan eksekusinya berjalan sebaik mungkin. Buruknya hasil dari keputusan yang kita ambil seringkali bukanlah disebabkan oleh keputusan itu sendiri. Melainkan, karena buruknya eksekusi atau implementasi keputusan yang sudah kita ambil itu. Keputusannya sudah benar, tapi eksekusinya buruk. Hasilnya? Pasti buruk. Sekarang coba lihat lagi dikantor Anda, lebih banyak eksekusi yang bagus atau yang buruk? Kalau masalah ditempat kerja Anda tidak kunjung selesai; kemungkinan eksekusi yang buruk lebih banyak dari eksekusi yang baik. Perhatikan anak buah Anda. Kolega Anda. Orang-orang yang terkait dengan eksekusi itu. Apakah mereka sudah melakukan peran masing-masing dengan baik? Biasanya, inilah titik kritisnya.
 
Setiap orang yang punya jabatan, pasti harus mengambil keputusan. Maka salah satu cara mengukur apakah kita sudah menjadi pemimpin yang bagus atau belum adalah dari bagaimana kita mengambil keputusan itu. Kalau kita sudah terampil mengambil keputusan, maka mungkin kita sudah menjadi pemimpin yang lebih baik. Tapi kalau kita masih ragu, takut, atau 'sembunyi dibawah ketiak' boss kita untuk mengambil keputusan penting; artinya, kita mesti lebih serius lagi mempertajam kemampuan dalam proses pengambilan keputusan itu.  Dengan begitu, kelak kita bisa menjadi pemimpin yang lebih baik kan? In sya Allah.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 27 Januari 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel "DING and HER GOKIL PAPA!"
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Sewaktu masih menjadi staff, wajar jika masih bergantung pada atasan dalam proses pengambilan keputusan. Tapi kalau sudah menjadi supervisor, manager atau pemimpin unit kerja; ya tidak cocok lagi dong sikap seperti itu kan? Sudah saatnya sekarang untuk mengambil keputusan, sesuai dengan jabatan dan kewenangan yang kita pegang.

Sumber: Bisnis_Center@yahoogroups.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, December 12, 2013

Mengantre atau Mati ( Herry Tjahjono)

Oleh: Herry Tjahjono

SEORANG sahabat mengirimkan tulisan menarik yang didapatnya dari sebuah milis– tentang "belajar mengantre vs Matematika".
Ketika saya periksa lewat Google, saya mendapatkan salah satu sumbernya: Kaskus. Karena bermanfaat, saya mohon izin mengadaptasinya dalam tulisan ini. Dikisahkan seorang guru yang mengatakan, sebagai guru, ia tak terlalu cemas jika anak didiknya tak pandai Matematika. Dia jauh lebih cemas jika mereka tak pandai mengantre. Ditanya kenapa, dengan penuh keyakinan, dia menjawab, cukup sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai Matematika. Untuk pandai mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu setidaknya 12 tahun.

Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan Matematika, kecuali keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun, yang jelas, semua anak didiknya itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre) sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas, guru itu menjelaskan sebagian nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre, yang akan saya adaptasi sesuai konteks tulisan ini.

Pertama, anak akan belajar manajemen waktu dengan baik, terencana, dan jika ingin mengantre paling depan, ia harus datang lebih awal. Kedua, anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba, terutama jika ia berada di antrean paling belakang. Ketiga, anak belajar menghormati hak orang lain (dan haknya sendiri), yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu. Keempat, anak belajar berdisiplin. Kelima, anak belajar kreatif memikirkan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre). Keenam, anak belajar tabah menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Ketujuh, anak belajar hukum sebab-akibat bahwa jika terlambat, ia harus menerima konsekuensi di antrean belakang. Kedelapan, anak belajar keteraturan dalam hidup. Kesembilan, anak belajar memiliki rasa malu. Kesepuluh, anak belajar jujur kepada diri sendiri dan orang lain.

Mewujud dalam perilaku
Kesepuluh nilai itu memang berhubungan langsung dengan etika atau moral seorang anak. Adapun etika atau moral berhubungan dengan (hati) nurani. Dan sesungguhnya, jika nurani seseorang "mati", kemanusiaan orang itu juga mati. Saya mendadak tercerahkan bahwa budaya korupsi, setidaknya untuk jangka panjang, salah satunya bisa diberantas melalui pendidikan "keterampilan" mengantre sejak masa kanak-kanak. Budaya, secara praksis, adalah values in action atau nilai-nilai yang mewujud dalam perilaku. Maka, jika ingin memberantas korupsi, kita wajib menginternalisasikan nilai-nilai yang berkebalikan dengan nilai-nilai yang dianut para koruptor. Mari kita potret head to head pertempuran antarnilai ini.

Pertama, nilai perencanaan dan manajemen waktu adalah lawan telak dari nilai koruptor yang oportunis, aji mumpung, menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Para koruptor sangat bodoh dalam merencanakan pekerjaan dan kehidupan mereka, tak punya perencanaan kerja yang etis dan profesional di balik nafsu ingin kaya. Kedua, nilai kesabaran menunggu giliran—lawan sempurna dari nilai hidup koruptor yang ingin kaya dengan cepat. Tak ada kesabaran yang mengendalikan dirinya bahwa segala sesuatu ada waktunya dan selama penantian "giliran" harus diisi dengan kerja yang baik dan benar.

Ketiga, nilai tentang hak diri dan orang lain akan melumat nilai koruptor yang tak peduli tentang hak dan kewajiban. Koruptor tak mau tahu, semua yang dijarahnya bukan haknya. Jangankan hak orang lain, hak negara pun dia sikat. Dia tak pernah belajar bahwa yang menjadi haknya mesti sesuai dengan kontribusi yang dia berikan dan kewajiban yang dia jalankan dengan baik, di luar itu sama sekali bukan haknya. Keempat, nilai kedisiplinan, lawan dari nilai hidup koruptor yang tidak pernah taat aturan dan seenak hatinya dalam menjalani pekerjaan dan kehidupan.

Kelima, nilai kreatif—menghancurkan nilai koruptor yang hanya "kreatif" dalam mencuri dan menjarah yang bukan haknya, tetapi bodoh soal berprestasi untuk hal yang positif sesuai dengan kewajibannya. Nilai kreatif bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan (termasuk kekayaan sekalipun) perlu kinerja yang istimewa dan kreativitas adalah salah satu syarat utama untuk berprestasi di balik uraian tugas dan kewajiban standar yang diberikan. Keenam, nilai ketabahan—merupakan lawan nilai hidup koruptor yang lembek, hedonis, rapuh, dan cepat menyerah. Para koruptor bukanlah pejuang kehidupan sebab semua kesejahteraan hanya bisa dicapai melalui perjuangan hidup dan semua perjuangan hidup memerlukan ketabahan. Jadi, koruptor tak lebih dari pecundang kehidupan.

Ketujuh, nilai sebab-akibat atau konsekuensi kehidupan—berkebalikan dengan nilai koruptor yang tak pernah konsekuen dalam bekerja. Koruptor ingin melawan hukum alam atau hukum besi kehidupan bahwa yang bekerja baik dan cepat yang akan dapat sesuatu yang diinginkan. Koruptor ingin memutarbalikkan itu semua, tanpa kerja keras dan bersantai-santai, tetapi cepat kaya dan paling kaya.

Kedelapan, nilai keteraturan dalam kehidupan—menentang nilai kekacauan (chaos) yang dianut para koruptor. Para koruptor dengan sadar membuat kekacauan dalam sistem kerja, lingkungan kerja, dan kehidupan melalui perilaku korupsinya. Dan celakanya, dia tak peduli dengan itu semua. Koruptor adalah orang yang kacau hidup dan kerjanya.

Kesembilan, nilai tentang rasa malu—bertentangan habis dengan nilai koruptor yang tidak pernah menghargai martabat dirinya sebagai manusia, dan bermuara pada sifat tak punya malu. Lihatlah para koruptor yang masih cengengesan di sejumlah tayangan televisi, bahkan sempat melambai-lambaikan tangan meski memakai baju tahanan. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tak punya rasa malu karena hilang martabat diri. Kesepuluh, nilai kejujuran—merupakan lawan sempurna dari nilai diri koruptor yang serba culas dan menipu siapa pun, termasuk Tuhan dan diri sendiri.

Jadi, kesepuluh nilai di balik pelajaran mengantre itu layak dijadikan obat jangka panjang untuk memberantas budaya korupsi di negeri ini. Sesuai dengan konteks tersebut, keterampilan mengantre perlu dilatih sejak dini. Untuk jangka pendek, kita bisa mengandalkan pemberantasan korupsi bersifat sistemik dan law enforcement. Namun jangka panjang, mutlak harus dimulai dengan pendidikan (internalisasi) nilai-nilai seperti dalam keterampilan mengantre sejak usia dini. Mengantre atau mati (nurani), itu saja pilihannya!

Herry Tjahjono, Terapis Budaya Perusahaan

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003599212
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, October 05, 2013

10 KEPRIBADIAN LUAR BIASA

1. TULUS -- Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.

2. RENDAH HATI -- Hanya orang yang kuat batinnya yang bisa bersikap rendah hati. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.

3. SETIA -- Orang yang setia bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak berkhianat.

4. POSITIVE THINKING -- Orang berpikiran positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun.

5. CERIA -- Artinya bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan.

6. TANGGUNG JAWAB -- Ia akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau salah, berani mengakuinya dan tidak mencari kesalahan orang lain.

7. PECAYA DIRI -- Mampu menerima dirinya sebagaimana adanya,
menghargai dirinya dan orang lain. Juga mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungannya.

8. BERJIWA BESAR -- Ia tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar!

9. EASY GOING -- Maksudnya, tidak suka membesar-besarkan masalah kecil atau berusaha mengecilkan masalah besar. Dia tidak mau pusing dengan masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. EMPATI -- Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Sumber: facebook: pendidikan karakter
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, September 30, 2013

10 Kebiasaan Utama Orang-orang Optimis

Menghadapi semua permasalahan hidup terkadang membuat Anda merasa pesimis. Padahal untuk bisa maju Anda harus punya sikap optimis. Berikut 10 kebiasaan orang-orang yang bisa membantu Anda jadi lebih optimis menghadapi kehidupan.

1. Bersyukur
Mulailah hari-hari Anda dengan menghitung berkat yang dimiliki. Jika Anda tak pernah bersyukur untuk hal-hal baik dalam hidup, maka Anda tak akan pernah merasa puas. Jangan cuma bersyukur atas semua keberhasilan saja, tapi juga bersyukurlah atas kesulitan, hambatan dan kegagalan.  Semua rintangan ini akan membantu Anda jadi lebih bijak, memberi kekuatan, dan mengajarkan Anda untuk bertahan. Dasar-dasar inilah yang akan membantu Anda menjadi optimis.

2. Berbagi cerita
Berbagi cerita atau curhat dengan orang lain tentang kegagalan atau keberhasilan dalam hidup juga akan membantu Anda jadi lebih optimis. Mungkin saja ketika menceritakan pengalaman hidup, ada orang lain yang ternyata mengalami masalah yang lebih buruk dari Anda namun tetap bisa melewatinya. Ketika bercerita, secara tak langsung Anda akan memberi kekuatan pada orang lain untuk bisa bertahan.

3. Memaafkan
Hal ini memang lebih mudah diucapkan dibanding melakukannya. Tetapi Anda harus bisa memaafkan orang-orang yang pernah memiliki kesalahan pada Anda. Cara termudah untuk melanjutkan hidup adalah memaafkan dan melupakan semua masa lalu yang salah. Berdamailah dengan masa lalu Anda sehingga tidak akan merusak kehidupan Anda saat ini.

4.Menjadi pendengar yang baik
Menjadi seorang pendengar yang baik akan menambah pengetahuan Anda dengan hal-hal yang baik dibanding hal negatif. Cara ini juga akan membantu menunjukkan kepercayaan diri dan penghargaan terhadap orang lain. Kaya pengetahuan dan kepercayaan diri yang tinggi adalah bukti bahwa Anda merasa positif dengan diri sendiri dan bisa memancarkan energi positif dari dalam diri.

5. Alihkan rasa iri menjadi energi
Ketika Anda merasa iri dan cemburu pada orang lain maka Anda hanya akan menyakiti diri sendiri. Dibanding kebanyakan berpikir negatif dan iri dengan banyak orang, ada baiknya menyalurkan rasa iri ini menjadi sebuah energi untuk menunjang keberhasilan Anda. Jadikan kecemburuan ini sebagai katalis keberhasilan.

6. Banyak tersenyum
Tahukah Anda ketika tersenyum, Anda menciptakan sebuah kebahagiaan yang menstimulasi lingkungan sekitar Anda untuk jadi lebih bahagia. Sebaliknya, muka yang cemberut dan selalu sedih hanya akan membuat lingkungan sekitar jadi muram. Tertawa akan melepaskan hormon serotonin yang membuat hati jadi lebih bahagia,  menyenangkan dan bebas stres.

7. Olahraga, makan sehat dan minum vitamin D
Ini mungkin adalah saran yang sangat umum, namun idealnya semua orang membutuhkan beberapa olahraga di bawah siraman sinar matahari. Ini akan membantu Anda mendapatkan suplemen vitamin D.

Jika sulit mengatur waktu, Anda juga bisa berolahraga di kantor. Misalnya naik tangga bukan lift, atau memperbanyak jalan. Bergeraklah sesering mungkin. Selain itu pertimbangkanlah untuk menyantap makanan sehat dan seimbang seprti sayuran dan buah. Ini akan membantu pikiran jadi jernih dan bebas stres sehingga Anda bisa melakukan hal-hal positif demi kesuksesan

8. Berpikiran positif dan maju
Berpikiran positif dan maju akan membantu Anda untuk menemukan celah positif dalam setiap masalah. Awalnya mungkin sangat sulit, namun cobalah mengambil energi dari masalah yang dihadapi dan gunakan untuk masa depan Anda. Percayalah bahwa kerja keras akan selalu memberikan hasil.

9. Berhenti menyalahkan orang lain
Satu hal yang sangat mudah dilakukan adalah menyalahkan orang lain atas kondisi dan posisi kehidupan saat ini. Anda mungkin menganggap bahwa orang lain punya andil dalam kesalahan yang dilakukan. Padahal hal ini hanya justru membuat Anda jadi pusing dan terus-terusan berpikir negatif. Setelah mampu benar-benar menerima bahwa Andalah yang mengontrol diri sendiri, Anda akan menemukan bahwa optimisme dan kesuksesan akan datang sendirinya, dan bukan dari orang lain.

10. Pahamilah bahwa masa lalu bukanlah "blueprint" untuk masa depan
Hanya karena Anda sudah mengalami banyak kesulitan dalam hidup, ini tak berarti bahwa apa yang dimulai dengan buruk akan berakhir buruk (dalam beberapa hal negatif seperti kebohongan, hal ini mungkin saja terjadi). Namun, dalam urusan pengalaman dan kunci sukses jangan pernah percaya bahwa pengalaman buruk justru akan membuat Anda semakin buruk. Percayalah bahwa kunci utama optimisme seseorang adalah dengan bergerak maju menuju masa depan cerah.

Sumber: http://m.kompas.com/female/read/2013/09/30/1639337/10.Kebiasaan.Utama.Orang-orang.Optimis
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, September 20, 2013

Hanya jika anda tahu.... (bacalah selagi sempat)

Matahari TANPA sinar tidak layak disebut matahari, DEMIKIAN juga dengan diri kita.
Kita adalah MATAHARI yang seharusnya memancarkan sinar, SEKALIPUN mendung kelabu menutupi pandangan orang UNTUK melihat keindahan cahaya kita.

"BUKAN karena hari ini INDAH kita BAHAGIA, tapi karena kita BAHAGIA maka hari ini menjadi INDAH"

BUKAN karena tidak ada "RINTANGAN" kita menjadi "OPTIMIS", tapi karena kita "OPTIMIS" maka "RINTANGAN" menjadi tidak terasa.

BUKAN karena "MUDAH", kita "YAKIN BISA". Tapi karena kita "YAKIN BISA" maka semuanya JADI "MUDAH".

BUKAN karena semua "BAIK" maka kita "TERSENYUM",
tapi karena kita "TERSENYUM" maka semua menjadi "BAIK".

BUKAN karena kita mengucap "SYUKUR" maka "KEBAHAGIAAN" terasa dekat. Tapi "BERSYUKURLAH" maka "KEBAHAGIAAN" senantiasa dekat.

Tidak ada hari yang menyulitkan kecuali kita "SENDIRI" yang membuatnya menjadi "SULIT".

JANGAN pernah mengeluh dengan adanya "KESULITAN", karena "KESULITAN" lah yang telah BIKIN kita lebih BAIK dan KUAT dari sebelumnya.

Sesungguhnya KUNCI sukses dalam hidup ini adalah SELALU mengucap syukur.

Sumber: facebook pendidikan karakter
twitter: @penakarakter
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, September 19, 2013

Kekosongan dan Kesombongan

Banyak orang merasa bangga dengan apa yang mereka miliki.

Saat mereka kaya dengan ilmu atau pun harta, maka akan sangat sulit untuk berbagi dan takut untuk disaingi.

Ketika orang menjadi sombong, mereka akan haus dengan pujian-pujian.

Kita dilahirkan dengan telanjang. Tidak ada bayi yang lahir dengan membawa gelar atau pun kekayaan.

Kita lahir pun juga karena pertolongan orang lain, kita tidak bisa lahir dengan sendirinya. Seorang ibu dengan bantuan dokter, bersama-sama berjuang melawan maut untuk melahirkan kita.

Lalu apa yang pantas untuk kita sombongkan?

Kesombongan dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Saat kita sombong, kita akan menjadi egois dan tidak membutuhkan orang lain.

Bagaimana saat kita mengalami kesukaran?

Dapatkah kita meminta pertolongan pada "kesombongan" itu sendiri?

Kesombongan dapat menjadi alat pembunuh untuk diri sendiri.

Kesombongan yang kita miliki dapat melukai perasaan orang-orang di sekitar kita. Dan sampai pada saatnya nanti, luka itu akan kembali pada kita.

Sombong itu tidak abadi. kerendahan hati membawa kenangan yang tak terlupakan. semoga bermanfaat.

Silahkan berbagi jika ini bermakna dan berkenan mendidik pemahaman anda.

Sumber: Facebook Pendidikan Karakter
Twitter: @penakarakter
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Masalah Hidup: Pahitnya Hidup

Ada seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang menghadapi masalah.

Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengar dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu mengambil segelas air.

Ditaburkanlah serbuk pahit itu ke dlm gelas dan diaduk perlahan, "Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya?" Ujar pak tua

"Pahit sekali....." Jawab pemuda itu

Pak tua itu tersenyum, mengajak pemuda itu untuk berjalan ke tepi danau di belakang rumahnya.

Mereka berjalan berdampingan & akhirnya sampailah mereka berdua ke tepi danau yang tenang itu. Sesampai disana, pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke danau itu dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya,

"Coba ambil air dari danau itu dan minumlah"

Saat si pemuda mereguk air itu, pak tua bertanya lagi, "Bagaimana rasanya...?"

"Segar...." sahut si pemuda....

" Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?" Tanya pak tua itu

" Tidak...." Sahut pemuda itu.

Pak tua itu tertawa sambil berkata "Anak muda..." Dengarkan baik-baik, pahitnya kehidupan sama seperti segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama.

Tapi "INGAT.." kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

*Jadi saat kita merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang kita dapat lakukan:

"Luaskan dan perbesar kapasitas hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu" Hati kita adalah wadah itu.

Jangan jadikan hati kita seperti gelas, tetapi buatlah hati kita seperti danau yang besar dan mampu menampung setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian

Semoga bermanfaat
(jika ada manfatnya, silahkan berbagi dengan sesama)

Sumber: Facebook: Pendidikan Karakter/ twitter: @penakarakte
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, August 15, 2013

PENANGKAPAN RUDI RUBIANDINI: Bersahaja dan Baik Itu Persepsi (Kompas)

Penangkapan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Rudi Rubiandini oleh Komisi Pemberantasan Korupsi mengonfirmasi bahwa kualitas moral dan integritas tak tergantung dari gelar akademik, kesantunan, dan kesalehan formalnya. Kasus Rudi bisa salah persepsi.

Setelah ditangkap KPK pada Selasa (13/8) malam karena diduga menerima suap dari komisaris Kernel Oil Pte Ltd, Simon Gunawan Tanjaya, Rudi langsung diperiksa. Rabu sore, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengumumkan Rudi sebagai tersangka. Malam hari seusai diperiksa, Rudi terlihat canggung saat hendak keluar Gedung KPK.

Puluhan wartawan yang menunggu di tangga pintu masuk lobi Gedung KPK sudah bersiap dengan pertanyaan. Kamera foto dan video wartawan siap menyorot wajah Rudi. Di dalam lobi Gedung KPK, Rudi seperti hendak menutupi wajah dengan tudung jaket. Dia mengurungkan niat, jaket bertudung hitam yang dia kenakan terbalut rompi tahanan KPK. Rudi maju perlahan. Sesampainya di pintu, teriakan wartawan yang meminta Guru Besar Ilmu Perminyakan Institut Teknologi Bandung untuk bicara menahan langkahnya.

Rudi terdiam sesaat. Seolah bingung dengan serbuan pertanyaan wartawan, nada suaranya terdengar lemah dan tak sejelas ketika dia masih menjabat sebagai Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ataupun sebagai Kepala SKK Migas. "Saya tidak melakukan korupsi, tetapi saya kelihatannya masuk masalah gratifikasi. Ada teman membawa uang, makanya biar proses hukum yang membuktikan," kata Rudi.

Setelah bicara singkat, Rudi melangkah menuruni tangga depan Gedung KPK menuju mobil tahanan. Dikawal petugas satpam KPK, dia tak peduli lagi pertanyaan wartawan.

Bantahan Rudi bahwa dia tak melakukan korupsi ibarat orang tenggelam terseret arus kencang di sungai. Bahkan, rumput yang tak mampu menahan tubuhnya pun akan coba dia tarik. Rudi tak tahu bahwa, sebagai penyelenggara negara, dia tak boleh menerima gratifikasi.

Namun, sekali lagi Rudi mungkin syok, citra yang telah dia bangun dan telah menumbuhkan persepsi teramat baik di mata orang-orang yang mengenalnya runtuh dalam hitungan jam. Bagaimana tidak, karier Rudi di jalur akademis dan birokrasi begitu cemerlang.

Lahir di Tasikmalaya, 9 Februari 1962, Rudi menamatkan gelar sarjana dari Teknik Perminyakan ITB tahun 1985. Rudi melanjutkan studi pascasarjananya di Technische Universitaet Clausthal, Jerman, dan memperoleh gelar doktor pada 1991. Dikutip dari www.itb.ac.id, Rudi kemudian menjadi Guru Besar ITB pada 2010.

Di ITB, Rudi tercatat meraih sejumlah prestasi sebagai pengajar. Dia pernah diganjar sebagai dosen teladan. Kariernya di pemerintahan mulai menanjak saat jadi penasihat ahli Kepala Badan Pengelola Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), lembaga yang kemudian dibubarkan Mahkamah Konstitusi dan berganti menjadi SKK Migas.

Dari penasihat, dia lalu menjadi Corporate Secretary BP Migas. Tahun 2011, Rudi menjadi Deputi Pengendalian Operasi BP Migas hingga tahun 2012 ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantiknya menjadi Wakil Menteri ESDM. Tak lama jadi wakil menteri, Rudi dipilih memimpin SKK Migas.

Berita penangkapannya membuat banyak orang terkejut. Karier cemerlang sempat membuat orang mencitrakan Rudi berintegritas. Citra pejabat berintegritas itu melekat pada Rudi, antara lain lewat kebijakannya.

Akhir tahun lalu, misalnya, Rudi mendatangi KPK membahas pencegahan korupsi sektor migas. Selaku Wamen ESDM, Rudi yang saat itu ditemui Deputi Pencegahan Korupsi KPK Iswan Elmi mengatakan akan terus melakukan perbaikan dan membuat nota kesepahaman antara Kementerian ESDM, Kementerian BUMN, dan Pertamina dengan KPK guna mencegah korupsi sektor migas.

Dia juga berusaha menunjukkan citra sebagai pejabat sederhana. Lebaran kemarin ketika mudik ke Tasikmalaya, Rudi memilih naik kereta api kelas ekonomi. Tak seperti pejabat yang memilih menggunakan moda transportasi mewah.

"Bersahaja dan baik itu, kan, persepsi. KPK tidak main di wilayah persepsi. Yang diketahui KPK, apakah seseorang ini kami temukan ada bukti awal melakukan korupsi atau tidak. Apakah dia berwajah santun, seperti malaikat, KPK enggak ada hubungannya. Kualitas moral dan integritas seseorang itu tak tergantung dari gelar doktor atau profesor," kata Juru Bicara KPK Johan Budi. (KHAERUDIN)

(Kompas cetak, 16 Agustus 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, June 06, 2013

Kata: Terimakasih, Maaf dan Tolong

Kisah ini terjadi di sebuah pesta perpisahan sederhana tentang pengunduran diri seorang direktur.

Diαdαkanlah sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada Sang Direktur yang akan segera memasuki masa pensiun.

Karena waktu terbatas, kesempatan pernyataan tersebut dipersilahkan dalam bentuk tulisan. Di antara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah tulisan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut :

• Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata TOLONG, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya.

• Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan MAAF, saat Bapak menegur, mengingatkan, dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah saya perbuat, karena Bapak ingin saya mengubahnya menjadi kebaikan.

• Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan TERIMA KASIH kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.

• Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya, sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun Bapak adalah Pak Direktur buat saya.

• Terima kasih sekali lagi. Semoga kebajikan melindungi jalan di mana pun Pak Direktur berada.

Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan.

Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.

3 kata :

1. TERIMA KASIH

2. MAAF

3. TOLONG

adalah kalimat pendek yang sederhana tetapi mempunyai dampak yang sangat positif.

Dengan mampu menghargai orang lain, minimal kita telah menghargai diri kita sendiri ....

(BBM)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, May 17, 2013

Mau Punya "Side Job"? Coba Profesi Ini

Ingin punya double job untuk menambah pemasukan? Atau ingin bekerja dari rumah sebagai freelancer? Kenapa enggak. Berikut ini beberapa profesi yang bisa kita coba. Simak ya!

Penulis
Menulis bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Bila Anda punya kompetensi untuk menulis, coba deh "sumbang" tulisan untuk majalah. Honor untuk satu artikel berkisar Rp 250.000-Rp 400.000 tergantung seberapa banyak dan sulitnya tulisan. Apalagi bila kita menulis untuk rubrik travelling ke luar negeri. Dilengkapi dengan dokumentasi foto? Bisa dihargai sekitar Rp 500.000-Rp 1.000.000.

Fotografer atau videografer
Mengembangkan talenta dalam mengabadikan momen penting juga bisa jadi profesi yang menjanjikan. Bermodal skill fotografi, kamera, dan kemampuan mengedit foto, ada banyak peluang yang bisa diambil, baik menjadi freelancer di majalah, fotografer perkawinan, fotografer event, maupun videografer.

Penerjemah atau editor buku
Banyak buku asing yang perlu diterjemahkan, mulai dari buku pelajaran, novel, ataupun komik. Untuk penerjemah, biasanya honor dihitung per halaman dan bisa dilakukan di mana saja. Lumayan lho menambah uang jajan untuk liburan.

Stylist atau makeup artist
Jago dandan? Kita bisa mengikuti kursus singkat dan mengambil sertifikasi menjadi makeup artist. Pekerjaannya mulai dari rias pengantin hingga model. Honor untuk sekali makeup berkisar antara Rp 300.000-Rp 500.000, tergantung skill yang dimiliki.

Pengusaha
Bila kita punya talenta untuk menciptakan sesuatu, seperti membuat pernak-pernik, perhiasan, atau cookies, kita bisa lho membuka bisnis sendiri. Sangat mungkin menjadikan pekerjaan ini sebagai profesi kedua. Dan teman kantor bisa menjadi target pembeli utama.

Desain grafis
Termasuk web designer. Peluang kerjanya cukup luas, tak hanya terbatas pada layout majalah atau brosur, tetapi juga pembuatan logo dan mempercantik tampilan situs web, yang bisa dilakukan di rumah. Untuk melebarkan sayap, kita bisa lho ikut kontes desain dan menjaring networking agar karya kita makin dikenal.

Admin web atau media sosial
Siapa bilang nge-tweet enggak bisa jadi profesi menjanjikan? Banyak brand yang membutuhkan admin untuk mengelola situs web ataupun media sosial seperti Twitter dan Facebook. Untuk admin Twitter, biasanya honor dihitung dari banyaknya tweet yang kita posting.

Masih banyak pekerjaan lain yang memungkinkan kita kerja dari rumah atau tak harus terikat di kantor. Baik dalam dunia seni, IT, arsitek, maupun musik. Yang pasti, tak ada pekerjaan yang tak mungkin kita geluti bila sungguh-sungguh memperjuangkannya. Yuk, kerja dari rumah.

(Kompas.com - 17 Mei 2013)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, May 14, 2013

Disiplin Tak Boleh Karena Terpaksa

Kita tentu pernah mendengar orang tua kita menasihati, bahwa ketekunan akan membuahkan hasil. Artinya, sesuatu yang dikerjakan terus-menerus, konsisten dan tanpa lelah, pasti akan memberi hasil nyata. Ayah saya bahkan pernah berkata, "Jadi tukang las pinggir jalan pun, asal tekun, pasti bisa hidup layak".

Di jaman yang berubah-ubah dan penuh turbulensi seperti sekarang ini, di mana ketidakjelasan waktu, lalu lintas, dan cuaca semakin sulit diprediksi, kita cenderung mulai melupakan sikap mental tekun dan konsisten ini. Kita mudah membatalkan janji. Kita mudah beralasan untuk tidak berolahraga 4 kali seminggu. Kebiasaan untuk membaca buku, yang kita yakini sebagai keharusan, bisa kita tinggalkan karena "tidak sempat". Menunda sudah menjadi hal yang terlalu biasa.

Dalam setiap forum diskusi, saat seorang olahragawan ditanya mengenai apa yang membuat ia bisa meraih kemenangan dan tidak putus asa saat sedang kalah pertandingan, kita akan mendengar jawabannya adalah ketekunan dalam berlatih. Tidak mungkin ia memenangkan laga bila tidak melakukan latihan secara teratur. Melalui latihan, para olahragawan ini bukan hanya menumbuhkan rasa percaya diri, tapi juga kerendahan hati saat menghadapi lawannya.

Disiplin latihan tidak hanya membentuk kekuatan fisik, tapi juga kesiapan mental untuk menghadapi hal-hal yang tidak sesuai harapan, dan bangkit dari kegagalan. Tengok saja betapa pasukan elite tentara berlatih jauh lebih keras dan lebih banyak daripada pasukan biasa. Ternyata, prinsip untuk mengambil action yang teratur dan konsisten, tidak lekang jaman, masih dibutuhkan, bahkan tidak bisa ditawar-tawar.

Kita selalu bertanya-tanya, apa rahasia perusahaan yang bisa bertahan menghadapi turbulensi, kekacauan, dan krisis. Dalam buku terakhirnya, Great By Choice, Jim Collins dan Morten Hansen mengungkapkan jawabannya terhadap pertanyaan tersebut, melalui riset yang berlangsung selama 9 tahun.

Ternyata, salah satu hal utama yang dilakukan perusahaan ini adalah disiplin yang fanatik dalam menjalankan program, komitmen, dan action plan. Mereka sangat setia pada tujuannya, konsisten melakukan apa yang telah disepakati, tanpa peduli perubahan situasi. Seolah-olah situasi "on-off" tidak diperhitungkan. Bahkan, yang sangat mengejutkan juga, hasil penelitian mengatakan bahwa kesuksesan organisasi ini tidak bergantung pada kepemimpinan perusahaannya.

Ini yang menjawab pertanyaan, mengapa Southwest Airlines melegenda karena kemampuannya melalui krisis, tetap jaya walaupun pemimpinnya sudah berganti. Di Southwest Airlines, pada saat krisis, pemimpin perusahaan tetap fokus dan semakin menekankan: "Doing the 'right thing' for their customers, employees, and stakeholders", tanpa peduli kesulitan lain.

Karena sikap dan willpower inilah mereka sukses. Jadi, banyak sekali bukti bahwa bila kita melakukan "fighting well" secara konsisten, kita lebih kuat, lebih bisa mengatur enerji, dan lebih sehat mental.

Disiplin: konsistensi tindakan
Dalam buku Great by Choice, Jim Collins juga membandingkan dua kelompok pengembara Arctic. Kelompok pertama berdisiplin berjalan 20 mil perjam, secara teratur, tidak kurang tidak lebih. Sementara kelompok kedua, kecepatan berjalannya tergantung cuaca. Pada cuaca yang baik mereka berjalan lebih banyak, sementara bila cuaca sulit, mereka beristirahat.

Hasilnya, kelompok yang disiplin, konsisten dengan komitmennya, bisa bertahan dan lebih cepat mencapai tujuan. Dengan perkataan lain, kita tidak perlu menunggu sampai kondisi memudahkan kita untuk bergerak, tetapi justru kita perlu maju terus ke depan, apapun yang terjadi.

Banyak orang mengaitkan kedisiplinan dengan kemiliteran dan olah raga. Bahkan banyak yang merasa bahwa kedisiplinan hanya cocok untuk kegiatan-kegiatan yang didominasi kepatuhan. Padahal, sudah banyak bukti bahwa sekelompok orang tidak mungkin bisa menjaga konsistensi kegiatannya, bila kedisiplinan itu tidak ada dalam kesadaran dirinya sendiri.

Disiplin adalah sekadar konsistensi tindakan, yang sudah dijanjikan oleh seseorang pada dirinya sendiri. Perlu kita akui bahwa menjaga konsistensi tidaklah mudah. Bisa kita bayangkan beratnya melawan perasaan malas untuk bangun pagi, apalagi di hari libur, cuaca mendung, atau saat kita belum puas tidur. Begitu juga saat kita tengah berpuasa atau berdiet, melihat orang lain makan makanan yang membangkitkan air liur membuat kita kadang "goyah" dengan komitmen dan tujuan kita.

Ada rasa tidak nyaman dalam berdisiplin, yang selalu harus kita kalahkan, di mana kita harus "melakukan" sesuatu padahal kondisi tidak nyaman, dan kita harus "menahan" untuk tidak melakukan  sesuatu dalam kondisi yang nyaman. Hal inilah sesungguhnya yang membuat individu kuat.

Budaya disiplin
Budaya disiplin tentunya dijalankan oleh manusianya. Hal yang paling mudah dilakukan adalah mengumpulkan manusia dengan self-discipline yang tinggi. Bila hal ini belum mungkin tercapai, maka perusahaan atau lembaga perlu melakukan kampanye agar setiap individu mendefinisikan, membuat janji, dan mengontrol dirinya sendiri, sesuai target organisasinya.

Karena itu, kita perlu untuk merefleksikan kembali, apa-apa saja tindakan yang harus kita jaga kedisiplinannya. Misalnya, sebuah perusahaan supply barang bisa mendisiplinkan komunikasi yang lancar. Tidak ada rapat yang tidak di-follow  up, tidak ada email yang tidak dibalas, tidak ada notulen yang tidak terkirim, tidak ada skedul yang tidak ter-update. Bila kedisiplinan ini membudaya, bukankah sebagai pelanggan kita segera merasa ingin selalu berhubungan dengan perusahaan seperti ini?

Bukan hanya tindakan yang didisiplinkan, pemikiran pun harus didisiplinkan. Kita tentu tahu bahwa tumbuhnya sebuah ilmu pun asalnya adalah dari disiplin ilmu tersebut. Artinya, ilmu adalah jawaban terhadap pertanyaan, yang sudah terjawab berulang-ulang, sehingga bisa diramalkan hasil akhirnya.

Disiplin pemikiran dalam satu budaya perlu diwarnai cara memandang "brutalfacts" sebagai studi kasus, tantangan, dan bukan ajang membela diri dan menghindar. Dialog, debat, bedah kasus, harus menjadi disiplin cara pikir, sehingga organisasi siap bergerak maju, tanpa harus menunggu timing yang tepat.

Terakhir, disiplin hanya akan terlihat melalui tindakan yang konsisten yang datang dari kombinasi kebebasan tingkah laku dan tanggung jawab. Bukan keterpaksaan. Tangan harus kotor. Details harus diperhatikan dan ditekuni. Seperti kata para pakar: "Things get uphill pretty quickly. Proper discipline makes the climb slow and steady to make sure things get done."

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)
(Kompas.com - 14 Mei 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, April 30, 2013

7 Cara Jadi Semangat Tiap Pagi

Jangan memulai hari Anda dengan stres. Sejumlah motivator dan konsultan ahli punya berbagai trik untuk membuat Anda selalu bersemangat setiap pagi. Apa saja?

Bangun tanpa terpaksa. Sebagian besar dari kita menyiasati bangun pagi dengan alarm yang berbunyi kencang di dekat telinga. Yang ada kita bangun untuk mematikan bunyinya, lalu tidur lagi. Efeknya bangun pagi jadi hal yang tidak mengenakkan. Kenapa tidak mencoba apa yang dilakukan Lev Natan, life coach, dan konsultan ahli di The Medicine Tree Centre, Hudson Valley, New York ini?

"Saya bangun dengan bunyi melodi alam yang secara berangsur-angsur membuat saya bersemangat," ujarnya. Lev juga punya daftar urutan lagu yang menstimulasi tubuhnya untuk "bangun". Dimulai dengan lagu nada flute, ketukan, lalu makin kencang. Daripada memasang alarm tepat pukul 0.007 dengan bunyi yang memekakkan telinga, lebih baik mencoba cara ini.

Punya satu pertanyaan. Begitu bangun, cobalah tanya diri sendiri apa yang dirasakan dalam hidup? Lalu buat skala jawaban dari 1 hingga 10 dengan urutan, "hidup saya menyedihkan", atau "hidup ini indah dan saya menyukainya!". Strategi ini diterapkan Samantha Sutton, life coach Handel Group, New York. Kata dia, jika skornya di bawah delapan, maka ia akan menelepon seorang teman yang diyakini dapat memberi saran dan memotivasinya. Jika skornya sembilan atau sepuluh, maka dia akan berdiam sebentar menikmatinya.

Ingatkan diri sendiri. Setiap bulan Januari di awal tahun, Janet Harvey, life coach di Edmonds, WA, selalu membuat pernyataan penyemangat yang kemudian ia tuliskan di kartu. Meski sekarang tidak lagi Januari, tapi belum terlambat untuk memulainya. Harvey menggunakan "tanda penyeimbang" lewat kartu-kartu ini untuk mengingatkan dirinya sendiri akan apa yang ingin dijalaninya. Apa yang benar-benar dibutuhkan selama satu tahun, dan bagaimana menolak permintaan yang sekiranya tidak begitu dia inginkan untuk dijalani. Setiap pagi, dia akan melihat kartu-kartu ini dan jurnal agenda kegiatannya.

Lihat papan visi. Jairek Robbins, life coach dari perusahaan Jairek Robbins Companies, punya rutinitas yang membuatnya bersemangat setiap hari; yakni melihat ke papan visi atau vision board yang berisi apa saja impian yang ingin dicapainya. Setidaknya dia menghabiskan waktu satu menit untuk menatap papan visi yang berisi macam-macam, dari potongan majalah, kata mutiara, foto-foto, dan ilustrasi yang menampilkan harapan yang ingin dicapainya.

"Ada foto sebuah tempat yang suatu hari ingin saya kunjungi, seperti Machu Picchu dan Gunung Kilimanjaro, beberapa target bisnis, serta berapa orang yang ingin saya bantu tahun ini," ujarnya. Papan visi ini intinya memotivasi dan memberi inspirasi. 

Manjakan diri. Ada kalanya kita memulai hari dengan sedikit memanjakan diri. Seperti yang dilakukan Jennifer Voss, life coach di Martha Beck, Inc., yang selalu menghabiskan waktu sebentar bersama putrinya, Alex, yang berusia 18 tahun. "Kami selalu memulai hari dengan membuat sarapan dan menikmati smoothies di pagi hari," ujarnya. Hal ini menjadi penyegar, tidak hanya secara fisik tapi juga mental dan menjadi tradisi pagi yang membantu satu sama lain.

Membaca buku motivasi. Apakah Anda termasuk salah seorang yang paling cepat bangun pagi dibandingkan orang rumah lainnya? Debra Hickok, life coach dari Boston, selalu berangkat ke kantor lebih awal lalu menutup pintu ruang kerja dan mencari tempat yang nyaman untuk membaca. Debra menghabiskan waktu lima sampai 10 menit untuk menikmati buku berisi motivasi atau seputar filosofi, dan buku sajak. Salah satu favoritnya adalah The Book of Awakening oleh Mark Nepo yang setiap halamannya seolah panduan menjalani hari-hari dalam satu tahun. Favorit lainnya adalah karya Eckhart Tolle, Brene Brown, Rumi, and Pema Chodron. Buku-buku ini menginspirasi dan menjadikan dia lebih bersemangat setiap pagi.

Fokus pada target harian. Seberapa sering Anda membuat daftar agenda yang berisi to-do-list atau yang harus dilakukan dalam satu hari? Jika jawabannya tidak pernah, maka cobalah tip dari Susan Fox, life coach dari A.I.M High Coaching. Setiap pagi, dia membuat tujuan atau target harian hingga sangat detail. Di samping menuliskan apa yang harus dilakukan pada hari itu, ia juga merunutkannya secara spesifik. Misalkan, dari "membuat rencana bisnis", menjadi "detail akhir rencana bisnis dan mengirimkannya ke 10 orang". Dengan begitu dia bisa lebih mudah dan fokus.

 (Kompas.com, 30 April 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, April 09, 2013

Langkah Mengembangkan Integritas Pribadi

Setiap orang perlu membangun integritas dirinya, agar dapat membangun integritas kelompok dan organisasi di mana ia berada. Kalau hal ini dilakukan, pada gilirannya akan dapat pula menyumbang ke arah pembentukan integritas masyarakat secara luas.

Bagaimana mengembangkan integritas pribadi? Beberapa langkah sederhana di bawah ini dapat menjadi pertimbangan bagi Anda dalam mengembangkan integritas pribadi:

1. Berbicara Sesuai Kenyataan
Dari berbagai pengalaman bertemu dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, saya belajar bahwa secara praktik nyata seseorang yang pernah berbohong, ingkar janji, atau pernah mengkhianati kepercayaan orang lain, itu disebut pribadi yang tidak jujur dan tidak memiliki integritas. Hal ini sejalan dengan pandangan agama yang menyatakan bahwa orang munafik itu memiliki tiga ciri utama, yakni:
•Apabila berbicara, ia bohong.
•Apabila berjanji, ia ingkari.
•Apabila diberi kepercayaan atau amanah, ia berkhianat.

Karenanya, untuk membangun integritas pribadi dalam pekerjaan, hindari tiga hal tersebut, seperti berbohong, mengingkari janji, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan. Berbicaralah hanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Memang diperlukan keberanian untuk mengungkapkan segala sesuatunya sesuai dengan kenyataan yang ada, terutama pada hal-hal yang bisa saja tidak mengenakkan.

2. Memenuhi Sesuai Apa yang Dijanjikan
Orang yang memiliki integritas selalu melakukan sesuai dengan apa yang dijanjikannya. Dengan demikian, hindari untuk menjanjikan apa yang tidak dapat Anda lakukan, agar terhindar dari tindakan tidak menepati janji. Lebih baik menjanjikan dengan apa yang bisa Anda lakukan, sehingga dapat menjadi pribadi yang selalu menepati janji.

Pribadi yang memiliki integritas adalah pribadi yang selalu menepati janji yang telah dibuatnya. Ketika ia memberikan janji, ia sudah memperhitungkan hal itu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia akan bersungguh-sungguh memenuhi apa yang sudah dijanjikannya kepada orang lain.

Dalam aplikasi nyata dalam pekerjaan, berarti dituntut untuk senantiasa melaksanakan sesuai dengan apa yang sudah dijanjikannya, baik dalam hubungan dengan sesama rekan kerja, kepada atasan, kepada bawahan, ataupun kepada supplier dan konsumen.

3. Konsisten dalam Perkataan dan Perbuatan
Mereka yang dapat menjaga konsistensi antara perkataan dan perbuatan memiliki karakter terpuji. Kenyataan ini menunjukkan bahwa integritas adalah salah satu karakter terpuji. Berusaha menjaga konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan salah satu cara membangun integritas pribadi. Pada akhirnya akan memiliki karakter terpuji secara konsisten dalam seluruh aspek kehidupan.

Menjadi seseorang yang memiliki integritas tinggi diperlukan komitmen untuk menjaga konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dapat selalu menepati janji sesuai dengan apa yang disampaikannya dalam perkataan dan tindakan. Tidak kalah penting adalah dapat memegang teguh amanah dari orang lain.

(Kompas.com - 9 April 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, April 05, 2013

6 Langkah Menjadi Diri Sendiri

Orang kerap memberi saran, "just be yourself" atau "jadilah diri sendiri". Kedengarannya memang gampang, tapi bagaimana caranya? Nah, itu yang susah. Robert Kelsey, penulis buku What's Stopping You Being More Confident?, mengungkapkan bahwa menerima diri sendiri adalah langkah pertama bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri. Tidak hanya itu, ada lima langkah lainnya yang patut dicoba.

1. Menerima diri sendiri apa adanya
Kata Robert, langkah ini menjadi penting dan berada di urutan pertama karena membenci diri sendiri tidak pernah ada baiknya. Langkah ini ada di urutan pertama agar kita bisa menentukan poin-poin penting menemukan kelebihan yang ada di dalam diri. Ada orang yang butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukannya, ada juga yang mencoba terus dan fokus sehingga bisa lebih cepat menemukan kelebihan dalam dirinya. 

Dalam prosesnya bisa dibilang masa uji coba, seringkali kita trial and error dengan pengalaman. Dari sana kita bisa berhadapan pada kondisi di mana kita harus menerima diri sendiri. Jika sudah berhasil rasanya akan lebih nyaman, ikhlas, dan jauh dari rasa stres.

2. Jangan mengeluh
Tidak populer sewaktu di sekolah? Abaikan. Jangan menaruh perhatian dan berkeluh-kesah akan hal yang tidak penting. Lebih baik beri kesempatan pada diri sendiri untuk bertumbuh dan menentukan batasannya sendiri. Anda yang dulu tidak akan sama dengan Anda 15 atau 35 tahun setelahnya. Jadi belajar dari kesalahan dan teruslah melangkah menjadi lebih baik.

3. Berhenti menyiksa diri sendiri
Membandingkan diri dengan orang lain itu sama artinya dengan menyiksa diri. Berhentilah dan lihat kelebihan yang ada. Karena apa yang menjadi kelebihan orang lain belum tentu cocok untuk kita. Biarkan orang menjadi dirinya sendiri, dan Anda menjadi diri Anda sendiri juga. Tidak ada gunanya iri atau cemburu dengan apa yang orang lain miliki. Menjadi jujur akan memberi efek positif pada kepribadian, dan itu penting.

4. Kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang
Perlu dicatat bahwa kita tidak akan bisa membuat semua orang senang dengan kita, tentunya ada satu atau dua yang akan membenci kita. Bahkan ada orang yang membenci tokoh-tokoh besar seperti Dalai Lama atau Aung San Su Kyi, meskipun ia juga sangat dikagumi orang lain. Hal pentingnya, berhentilah berusaha untuk selalu tampil seperti yang diinginkan orang lain hanya untuk membuat mereka senang. Tapi jadilah apa adanya, dan biarkan mereka menerima Anda demikian adanya. Berpura-pura menjadi orang lain untuk bisa diterima hanya akan melelahkan Anda saja.

5. Menerima hal negatif yang ada dalam diri
Ketika ada seseorang yang tidak suka dengan Anda, terimalah dan jangan bereaksi berlebihan. Menurut Robert, memang pada kenyataannya akan ada satu atau dua orang yang merasa insecure atau tidak menyukai keberadaan Anda, tapi biarkan saja, jangan terlalu diambil hati. Tetap fokus meningkatkan kemampuan diri menjadi lebih baik.

6. Sediakan waktu khusus untuk menemukan diri sendiri
Waktu khusus ini bisa dibilang sebagai "me-time", atau waktu menyendiri tanpa ada orang lain. Tujuannya bukan berarti senang-senang sendiri, tapi gunakan untuk menemukan apa yang sebenarnya Anda inginkan dan butuhkan. Kesibukan dengan pekerjaan, keluarga, dan teman, kadang membuat kita lupa menyediakan waktu untuk diri kita sendiri.

Secara sederhana, menjadi jujur dan mencintai apa yang kita lakukan akan membuat Anda menjadi diri sendiri dan pribadi yang menyenangkan buat orang lain.
(Kompas.com, 5 April 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, March 18, 2013

5 Langkah Capai Kerja Optimal

Kesuksesan seseorang dalam berbagai bidang ternyata dapat dicapai dengan mengikuti lima langkah dasar ini. Selain berguna meningkatkan produktivitas kinerja individu, lima langkah dasar ini juga akan membantu tim bekerja optimal.

Pakar bidang Knowledge Management, James Van Der Westhuizen, mengatakan bahwa untuk meraih keberhasilan di bidang usaha ada berbagai kompetensi yang mesti dikembangkan. Namun tanpa strategi yang tepat, kompetensi yang ingin dicapai tidak akan bisa terpenuhi.

"Harus ada strategi yang tepat untuk meraih kompetensi dan hasil yang diharapkan," kata Van Der Westhuizen saat acara Indonesian MAKE Study 2013 di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (14/3/2013).

Langkah pertama yang sebaiknya diambil adalah membuat skala prioritas yang tepat. Dengan mulai menyusun skala prioritas ini, maka seseorang dapat berkonsentrasi pada hal yang terpenting sehingga tujuan yang dicapai dapat terpenuhi sesuai dengan deadline yang ditentukan.

Selanjutnya, langkah kedua adalah berani berbagi dengan rekan kerja. Hal ini umumnya jarang dilakukan karena masing-masing orang menyusun prioritas agar terlihat menonjol bukan untuk meningkatkan kinerja tim. Akibatnya, hasil yang diharapkan tentu saja tidak akan tercapai.

"Dari kecil kita diajari untuk mengerjakan semuanya sendiri. Contohnya ujian. Namun saat bekerja itu tidak bisa seperti itu. Dalam sebuah tim, penting bekerjasama dan bukan berkompetisi dengan sesama anggota tim," jelas Van Der Westhuizen.

Langkah ketiga adalah bersiap untuk tantangan tak terduga. Dalam perjalanan sebuah pekerjaan tentu tidak akan semulus yang dibayangkan. Untuk itu, tidak ada salahnya bersiap akan kemungkinan terburuk sehingga saat itu terjadi, anda dan tim kerja sudah tahu rencana pengganti yang akan diambil untuk mengatasinya.

Kemudian langkah keempat adalah disiplin pada diri sendiri. Saat ini gangguan terbesar saat bekerja adalah keberadaan teknologi. Bukannya fokus menyelesaikan tugas, seseorang biasanya malah asyik untuk berbalas pesan di Yahoo Messenger atau membuka facebook atau malah sibuk memperbarui status di twitter.

"Jika ingin mendapat hasil optimal maka disiplin untuk tidak mengindahkan notifikasi yang masuk. Atau dimatikan saja terlebih dahulu agar produktivitas terjaga," ungkap Van Der Westhuizen.

Yang terakhir, tentu saja bekerja sesuai porsi. Keinginan untuk mencapai target yang maksimal terkadang membuat seseorang lupa untuk beristirahat atau rehat sejenak agar energi yang dibutuhkan dapat kembali lagi. Padahal terlalu keras bekerja juga dapat mengakibatkan hasil yang dicapai tidak optimal karena fisik dan otak tidak lagi mendukung sehingga tidak konsentrasi dan muncul banyak kesalahan.

"Ambil rehat sejenak. Energi tidak bisa dieksploitasi berlebihan. Efeknya justru tidak baik bagi anda dan tim," tandasnya.
(Kompas.com - 18 Maret 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, March 05, 2013

5 Jurusan Pencetak Pemimpin Masa Depan

Untuk menjadi pemimpin di bidang pemerintahan atau politik, banyak yang langsung mengambil keputusan untuk menempuh studi di jurusan ilmu politik saja. Padahal, jurusan-jurusan lain juga berpotensi mencetak para pemimpin bangsa dan negarawan.

Di jurusan-jurusan ini, kemampuan seseorang untuk menjadi pemimpin di bidang pemerintahan dan politik juga diasah dengan baik. Ini dia lima jurusan yang bisa dijadikan pilihan apabila tertarik berkarier di dunia pemerintahan dan politik, tentu saja selain jurusan ilmu politik.

1. Ekonomi
Sebagai calon pemimpin, tentu harus paham mengenai masalah ekonomi, baik mikro maupun makro, sehingga dapat mengetahui langkah apa saja yang akan diambil untuk mengembangkan ekonomi negara atau daerah. Hal ini dibuktikan oleh beberapa tokoh yang merupakan ahli ekonomi, tapi berhasil menjadi pemimpin di suatu negara, seperti Perdana Menteri Italia Mario Monti dan Perdana Menteri Kanada Stephen Harper.

2. Filsafat
Siapa bilang ilmu filsafat tidak dapat memiliki masa depan gemilang? Justru ilmu ini yang merupakan dasar dari berbagai ilmu yang ada. Pemikiran yang biasanya berbeda dari orang kebanyakan, membuat lulusan ilmu filsafat memiliki daya saing yang lebih dibandingkan lulusan jurusan lain untuk menjadi salah satu pemimpin masa depan. Salah satu alumnus yang berhasil berkarier di bidang pemerintahan adalah Perdana Menteri Inggris David Cameron.

3. Hukum
Jurusan yang berpotensi melahirkan pemimpin masa depan adalah jurusan hukum. Sebagai pemimpin, tentu saja kemampuan memahami aturan hukum dan menegakkannya sangat dibutuhkan. Hal ini dibuktikan dengan beberapa orang nomor satu di negaranya yang berasal dari jurusan hukum, yaitu Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

4. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jangan salah, lulusan ilmu pasti seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam juga memiliki potensi besar untuk sukses di bidang pemerintahan dan mampu menjadi salah satu pemimpin masa depan. Contoh saja Kanselir Jerman Angela Merkel yang bergelar doktor jurusan kimia dan Sekretaris di bidang energi Amerika Serikat Steven Chu yang bahkan berhasil meraih penghargaan Nobel bidang ilmu fisika.

5. Teknik
Jika tadi ilmu matematika dan pengetahuan alam, maka jurusan terakhir ini juga tidak disangka mampu melahirkan pemimpin masa depan. Kemampuan lulusan jurusan ini dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur yang baik bagi perkembangan sebuah kota atau negara, sehingga akan mendongkrak perkembangan ekonomi. Contoh paling dekat adalah Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Hermanto Dardak yang berasal dari Institut Teknologi Bandung dan mantan Presiden China Jiang Zemin yang merupakan lulusan teknik elektro.

 (Kompas.com - 4 Maret 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Related Posts with Thumbnails