Saturday, August 29, 2015

INSPIRING True STORY: Mr. George C. Boldt

Suatu malam di suatu kota di Philadelphia, USA, sepasang suami-istri sepuh masuk ke sebuah hotel kecil. Mereka bertanya kepada resepsionis di situ...

Suami : Apakah masih ada kamar untuk kami berdua ...?

Resepsionis: Maaf sekali Pak, kamar kami penuh semua dan kebetulan di kota ini sedang ada 3 events besar, sehingga semua hotel penuh

Suami : Oooh, baiklah kalau begitu ...

Resepsionis : Tetapi saya tidak mungkin menolak Bapak & Ibu serta menyuruh pergi di tengah malam begini sementara di luar hujan badai... Kalau berkenan, bapak dan ibu boleh menginap di kamar saya. Segera saya akan membereskan kamar saya...

Suami & istri : ... (mengangguk tanda setuju) Terima kasih anak muda... Thank you, young man!  

Dua tahun berlalu, dan resepsionis tadi hampir melupakan kejadian itu, ketika menerima surat yang mengingatkannya pada malam hujan badai tersebut.

Lelaki muda ini diminta datang mengunjungi pasangan tersebut di New York & terlampir tiket pesawat pulang-pergi untuk-nya ...

Di New York, laki-laki tua itu membawanya ke sudut 5th Avenue & 34th Street, lalu menunjuk sebuah gedung baru yang megah, sebuah istana dengan batu kemerahan dan menara  (tower) yang menjulang ke langit... Sebuah sky scraper mewah.

Lelaki tua : Itu adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk Anda kelola...

Resepsionis: ha ha...ha.Anda pasti sedang bercanda ... 

Lelaki tua: ... Sure, saya tidak sedang bergura

Nama lelaki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah Waldorf-Astoria Hotel.

Resepsionis itu, adalah Mr. George C. Boldt yg akhirnya menjadi CEO dari jaringan WALDORF-ASTORIA HOTEL yang kini berdiri di hampir seluruh kota-kota besar di seluruh dunia

Moral of this story:

Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik kepada siapa-pun, kapan-pun & dimana-pun...jangan sampai hidup kita dipakai u menekan dan menipu orang...karena semua pasti ada balasannya...

You get what You give, whether it's good or bad.


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Wednesday, August 26, 2015

13 kata “JANGAN MENUNGGU”

************************
πŸ‘1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.
🌻2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.
🌻3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.
🌻4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan ….
🌻5. Jangan menunggu orang memahami kamu. baru kamu memahami dia, tÒÞi pahamilah orangitu, maka orang itu paham dengan kamu.
🌻6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis.tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
🌻7. Jangan menunggu projek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka projek akan menunggumu.
🌻8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.
🌻9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan sekadar uang yang datang tapi juga rezeki yang lainnya.
🌻10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.
🌻11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.
🌻12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa! 
🌻13. Jangan menunggu waktu luang tuk ber-Ibadah.
Tapi luangkan waktu tuk ber-Ibadah.v
🌺Dan… Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan tulisan ini kepada semua orang yang anda kenal…😊

(dari WA)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tuesday, August 04, 2015

Manusia-manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri (Rhenald Kasali)


Sebuah inspirasi menghadapi tantangan & menjalani hidup....

Manusia-manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri
(oleh: Rhenald Kasali)

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.

Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).

Solved!

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan Tenaga Kerja

Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.

Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.

Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. "Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis." Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.

Susah? Kerja Lebih Profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. "Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi," ujarnya.

Kepada putra saya ia mengajari. "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. "Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia." Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, "Suruh orang-orang itu kerja di sini saja."

Tak lama kemudian ia pun meneruskan. "Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile."

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. "Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja," ujarnya.

Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa Merdeka Jangan Cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan.

Lalu dari grup WA para alumnus sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.

Syukuri yang sudah didapat. Kecemasan hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.

Kalau Anda merasa Indonesia sudah "berbahaya" ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Monday, May 04, 2015

"Kita nggak kalah bagus dari bule"

‎Orang bule, tidak selalu memiliki kemampuan lebih baik dari kita. Meski mereka dibayar lebih tinggi. Ada bule yang nggak bisa sama sekali. Ada bule bagus? Tentu. Yang bagus banget juga.

Jika bisa mendidik diri, kita nggak kalah bagus dari bule. Malah bisa lebih bagus dari mereka.
 
Masalahnya, kita sering inferior dihadapan mereka. Belum apa-apa sudah keder duluan. Padahal mungkin, kemampuan kita sepadan.
 
Kita juga sering mempermasalahkan timpangnya bayaran. Gak usah gitu. Mendingan fokus dengan urusan pengembangan diri.
 
Nggak usah mikirin 'diskriminasi'. Itu mah sudah menjadi perilaku global. Bangsa superior, menilai rendah kaum inferior. Makanya, kita tidak boleh menjadi bangsa yang inferior lagi.
 
Anda, boleh berharap presiden RI bisa membangun citra negeri yang berwibawa ke seantero dunia. Seperti Soekarno deh.
 
Tapi entah sampai sejauh mana presiden sekarang mampu membangun citra bangsa berwibawa itu.
 
Lagi pula, kita mesti membangun citra diri secara individu. Supaya punya nyali dan taji untuk memasuki kancah persaingan.
 
Setiap pribadi mesti memiliki kualitas, dignity, dan sikap mental kelas satu. Sehingga, bisa sejajar dengan bule-bule yang bagus. Meski masih dibayar lebih rendah; tapi soal kemampuan, kita nggak boleh kalah.
 
Kejadian di ring tinju kemarin bisa menjadi contoh. Kualitas Paquiao membuat hambar kemenangan 'bule' Mayweather. Meski pun dibayar lebih rendah, dan diganjar dengan angka minim; tapi mata awam dan profesional pun tahu, siapa yang bertinju dengan bagus dalam pertandingan itu.
 
Dikantor, mungkin Anda juga dibayar lebih rendah daripada bule. Tapi Anda bisa membuat semua orang sadar bahwa ternyata, Anda juga bagus banget. Karena faktanya, kita nggak kalah bagus dari bule.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman  
Author, Trainer, and Public Speaker

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Sunday, April 26, 2015

PSIKOLOGI: Psikologi, Peran Alam Bawah Sadar Dalam Memperbaiki Diri (AGUSTINE DWIPUTRI)

Selain menggunakan strategi yang kita lakukan secara sadar, ternyata peran alam bawah sadar juga cukup besar membantu kita. Bagaimana alam bawah sadar menghapus hambatan mental pada diri Anda?

Saya laki-laki, sudah menikah, punya 2 anak perempuan usia 6 dan 4 tahun. Saya ingin menghilangkan perilaku buruk, yaitu merokok. Gara-gara merokok, saya sering bertengkar dengan istri. Anak sulung saya juga ikutan menjauh dari saya, sering mengatakan papa bau rokok. Saya sudah mencoba dengan menggantinya dengan mengunyah permen, tapi belum berhasil. Celakanya, lingkungan kantor juga menerapkan peraturan ketat untuk tidak merokok, kecuali di tempat yang sudah ditetapkan. Lama kelamaan saya jadi merasa frustrasi. Saya merasa jadi orang gagal. Di rumah ataupun di kantor saya merasa dikucilkan.

Makhluk kebiasaan

Menurut Dr Joseph Murphy, direvisi oleh Ian McMahan, PhD, dalam buku The Power of Your Subconscious Mind (2006), dinyatakan bahwa jika Anda meyakini sesuatu tanpa syarat dan menggambarkannya dalam pikiran Anda, Anda dapat menghilangkan hambatan alam bawah sadar yang mencegah Anda untuk mencapai hasil akhir, dan keyakinan Anda akan menjadi kenyataan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kita semua adalah makhluk kebiasaan. Kebiasaan adalah fungsi dari pikiran bawah sadar kita. Kita belajar naik sepeda, menari, dan mengendarai mobil dengan cara sadar melakukannya berulang kali sampai semua itu menjadi jalur yang menetap di dalam pikiran bawah sadar kita. Kemudian, kebiasaan otomatis pikiran bawah sadar mengambil alihnya. Hal ini kadang kala disebut sebagai "sifat/bawaan kedua" (second nature), yaitu reaksi dari pikiran bawah sadar untuk berpikir dan bertindak yang membentuk "sifat pertama" kita.

Jika kita membuat kebiasaan kita sendiri, berarti kita bebas untuk memilih kebiasaan baik atau kebiasaan buruk. Jika kita mengulangi pikiran atau tindakan negatif selama suatu periode waktu, kita akan menempatkan diri di bawah kompulsi dari kebiasaan. Hukum alam bawah sadar kita adalah kompulsi (pengulangan perilaku secara terus-menerus).

Apa yang dapat dilakukan jika Anda dihadapkan pada situasi yang sulit dan tak dapat melihat jalan keluarnya? Solusinya terletak di dalam masalah itu. Setiap pertanyaan menyiratkan jawabannya sendiri. Kecerdasan yang tak terbatas di dalam pikiran bawah sadar Anda mengetahui dan melihat semuanya. Masalah tersebut memiliki jawabannya dan akan mengungkapkannya kepada Anda sekarang, tapi Anda harus mendengarkan.

Anda harus mengikuti desakan kemunculannya dari pikiran bawah sadar Anda dengan keyakinan yang sempurna. Setelah Anda mencapai sikap mental yang baru, kecerdasan kreatif dalam diri Anda akan memberikan solusi yang membahagiakan, Anda akan menemukan jawaban yang Anda cari. Yakinlah bahwa sikap mental seperti itu akan mengatur, memberikan rasa damai, dan makna untuk semua usaha Anda.

Menghilangkan kebiasaan buruk

Ketika fungsi pikiran sadar dan bawah sadar selaras dan bekerja sama, ide atau keinginan yang tertanam dalam pikiran bawah sadar dapat terealisasikan.

Anda tahu bahwa jika kebiasaan yang merusak itu telah menjadi otomatis, Anda memperolehnya melalui pilihan sadar. Anda menyadari bahwa jika Anda telah dikondisikan negatif, Anda juga bisa dikondisikan secara positif. Akibatnya, Anda dapat berhenti berpikir bahwa Anda tidak berdaya untuk mengatasi kebiasaan. Anda paham bahwa tidak ada halangan untuk kesembuhan selain pemikiran Anda sendiri.

Kekuatan gambaran mental

Anda dapat mulai berlatih dengan membuat tubuh menjadi rileks dan mengantuk, tutup mata Anda dan masuklah ke keadaan meditasi. Lalu isi pikiran Anda dengan gambaran akhir yang diinginkan. Ketahuilah bahwa pikiran bawah sadar Anda bisa membawanya melalui cara termudah. Secara teratur dan sistematis duduk dan bermeditasilah dengan cara ini.

Ketika perhatian Anda mengembara, biasakan untuk segera mengingat gambaran mental tentang keluarga Anda, misalnya Anda sedang bercanda dengan istri dan mencium pipi putri Anda di kebun belakang rumah, semua tampak bahagia dan gembira dengan keberadaan Anda.

Semua ini akan merekondisi pikiran Anda. Ini adalah proses yang bertahap dan pertahankan terus pikiran tersebut. Jika Anda tekuni terus, ketahuilah bahwa cepat atau lambat Anda akan membentuk pola kebiasaan baru dalam pikiran bawah sadar Anda. Film hasil pemotretan diproses dalam ruang gelap, demikian pula gambaran mental dikembangkan dalam ruang gelap dari pikiran bawah sadar.

Perhatian yang terpusat

Secara tenang, Anda dapat menyesuaikan pikiran dan memusatkan perhatian Anda pada tempat kejadian atau pemandangan tertentu sampai Anda secara bertahap teridentifikasi dengan gambaran mental. Anda menjadi terserap ke dalam suasana mental, mengulangi gambaran mental tersebut berulang kali. Ketika ada godaan untuk merokok, Anda akan mengalihkan imajinasi Anda dari pikiran serangan merokok kepada perasaan berada di rumah dengan keluarga Anda.

Seberapa banyak Anda menginginkan sesuatu

Seorang anak laki-laki bertanya kepada filosof Socrates bagaimana ia bisa memperoleh kearifan. Socrates mengajak anak itu ke tepi sungai dan mendorong kepalanya ke dalam air. Dia terus memegangnya sampai anak itu berjuang untuk mendapat udara. Kemudian dia biarkan sebentar. Setelah anak itu tenang kembali, Socrates bertanya, "Apa yang paling kau inginkan ketika kepalamu berada di dalam air?"

"Aku ingin udara," jawab anak itu.

Socrates mengangguk pelan dan berkata,

"Bila kau menginginkan kearifan sebanyak keinginan akan udara ketika kepalamu terbenam dalam air, Anda akan menerimanya."

Artinya, melalui cara yang sama, ketika Anda memiliki keinginan yang kuat dan tulus untuk mengatasi hambatan tertentu dalam hidup Anda, Anda akan memperoleh keputusan yang jelas bahwa ada suatu jalan keluar; Anda memutuskan dengan mantap bahwa itu adalah arah/jalan yang ingin Anda ikuti, maka akan sampailah Anda pada kemenangan yang meyakinkan.

Jika Anda benar-benar menginginkan ketenangan pikiran dan batin, Anda pasti mendapatkannya. Tidak peduli seberapa tak adil Anda telah diperlakukan, atau bagaimana buruknya sikap rekan kerja. Semua ini tidak menimbulkan perbedaan jika Anda bangkit dengan kekuatan mental dan spiritual Anda. Anda tahu apa yang Anda inginkan, dan Anda pasti akan menolak untuk membiarkan pikiran akan kebencian, kemarahan, permusuhan, dan rasa sakit akan merampas kedamaian, keharmonisan, kesehatan, dan kebahagiaan.

Selamat berlatih.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 April 2015, di halaman 11 dengan judul "Psikologi, Peran Alam Bawah Sadar Dalam Memperbaiki Diri"
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Monday, March 30, 2015

Mengapa Keahlian Presentasi Penting?

Shutterstock
/Ilustrasi
Senin, 30 Maret 2015 | 07:07 WIB


oleh Jazak YA

@jazakYA

KOMPAS.com - Bisa jadi pertanyaan itu baru terpikir oleh Anda ketika membaca judul artikel ini!
Bagi sebagian orang, Presentation Skill bukanlah topik yang perlu diulas. kata mereka, yang penting idenya!

Sepanjang ide atau gagasan yang mau dipresentasikan memang keren, presentasi yang seperti apa pun bakal disukai. Benarkah? Anda wajib menjawab: SALAH!

Ya siapapun kita, pada suatu ketika kita akan dihadapkan pada situasi dimana kita harus mampu berbicara dihadapan banyak orang, apakah itu dalam rangka menyampaikan ide, program, gagasan atau bahkan melakukan klarifikasi.

Presentation skill atau keahlian presentasi adalah salah satu dari sekian keahlian yang akan meningkatkan kemampuan berbicara di muka umum, atau public speaking.

Jika dihubungkan dengan pekerjaan, maka kemampuan berbicara didepan public adalah salah satu dari sekian media untuk membangun kredibilitas profesional. Artinya orang akan tahu apakah kita dipersepsikan sanggup atau tidak.  Mampu atau tidak mampu dalam menjalankan tugas bisa diamati dari bagaimana seseorang mempresentasikan apa yang menjadi tanggung jawabnya dan apa yang sudah dilakukannya.

Dalam dunia pemasaran dan penjualan, presentasi merupakan bentuk penjualan berbasis massa, digunakan untuk menyampaikan dan mengomunikasikan fitur, manfaat suatu produk, atau jasa, dan bagaimana produk atau jasa tersebut mampu menjawab kebutuhan pelanggan.

Orang-orang hebat berbekal Presentation Skilldapat memenangi tender secara fair, mendapatkan promosi jabatan yang signifikan, memiliki pengaruh yang kuat serta tentunya dihargai akibat secara mantap bisa menjual ide, gagasan, atau anjuran yang membawa perubahan positif bagi kemajuan organisasi.

Dengan demikian Presentation Skill memiliki peran yang penting dalam pengembangan karir, pemasaran produk dan jasa, hingga membangun opini untuk tujuan klarifikasi dan lobi.

Ada anggapan yang tidak tepat bahwa kemampuan presentasi atau berbicara di depan umum hanya milik mereka yang memiliki darah narsis untuk eksis, atau dengan kata lain hanya mereka yang sejak bawaan orok sudah ingin meraih mic untuk berbicara didepan banyak orang.

Presentation skill atau keahlian presentasi yang merupakan salah satu bagian dari public speakingternyata adalah suatu knowledge (pengetahuan) dan skill (keahlian). Sehingga siapapun bisa melakukan dan memiliki keahlian, termasuk Anda.

Memang bakat sebagaimana pada keahlian apapun cukup berperan untuk mempercepat proses pengembangan keahlian. Namun, jika bakat narsis untuk senantiasa eksis tampil tersebut tidak dibangunkan dan dilatih, maka tetap saja raksasa narsis tersebut tertidur.

Presenter atau pembicara yang hebat adalah yang mampu menginspirasi orang di hadapannya, juga mampu mentransfer gagasan secara jelas dan persuasif. 

Baiklah mari kita mulai saja kajian kita dalam High Impressive Presentation Skill dengan mengetahui bagaimana cara Mempersiapkan Sajian Presentasi yang Memikat.

Karena tahap ini adalah setengah perjuangan untuk mendapatkan presentasi yang sukses serta memikat kemudian melekat memberi kesan positif didalam benak audiens.

Beberapa pertanyaan di bawah ini akan membantu Pembicara dalam memulai persiapan:
•    Apakah tema presentasi, seminar atauworkshop ini? Apakah yang akan Pembicara bahas?
•    Berapa lama Pembicara diberi waktu untuk bicara?
•    Hal apakah yang dapat digunakan untuk menarik pendengar saat memulai dan selama presentasi
•    Apakah acara sebelum Pembicara berpresentasi? Jika acara lunch, Pembicara harus merencanakan presentasi Pembicara live dan menghibur.
•    Siapa yang akan memperkenalkan Pembicara? Apakah mereka memerlukan biografi singkat Pembicara?
•    Siapa saja dan berapakah pendengar yang akan hadir?
•    Bagaimana letak tempat Pembicara presentasi dan fasilitasnya?
•    Seperti apakah area presentasi, apakah rapi dan profesional?
•    Perlengkapan Audio visual apakah yang tersedia?  misalnya , LCD, Overhead projector, mikropon, dan  flip chart.
•    Apakah pertanyaan dan tanggapan yang akan muncul selama dan setelah presentasi.

Adalah sangat mutlak bagi seorang Presenter atau Pembicara untuk tahu siapa pendengar atau audiens yang akan hadir dan apa yang mereka butuhkan, dengan menjawab pertanyaan diatas, yakinlah anda telah siap menyajikan satu hidangan presentasi yang sungguh memikat (impresif).

Editor: Erlangga Djumena

Sumber:   http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/30/070700326/Mengapa.Keahlian.Presentasi.Penting#
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Sunday, December 21, 2014

Menjadi Mahir dalam Bidang Karir

Sekalipun Anda orang yang serba bisa misalnya, pasti ada sesuatu yang tidak bisa Anda lakukan kan? Benar. Karena, ada banyak hal diluar jangkauan kemampuan kita.

Sebenarnya tidak masalah sih. Toh, kita tidak harus mampu melakukan segala hal untuk mendapatkan kehidupan yang baik. Cukup bisa melakukan apa yang kita butuhkan saja kan sudah memadai.

Yang menjadi persoalan adalah; untuk hal-hal yang tidak penting, kita bisa melakukannya. Sedangkan hal penting dalam hidup justru banyak yang kita tidak mampu lakukan.

Jadinya, kita hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya buat hidup kita. Biar nggak begitu terus, kita mesti mulai membangun kebisaan dan kebiasaan yang benar-benar berguna buat karir kita. Supaya hidup kita menjadi lebih baik.

Dalam banyak situasi, sebenarnya kita ini bukannya tidak bisa. Melainkan belum tahu caranya saja. Begitu tahu, kita bilang 'oh, begini toh... Ternyata gampang banget ya.'

Contoh sederhana. Orang yang kesulitan mengeluarkan saos dari botol di restoran pizza. Cukup dikasih tahu caranya, langsung bisa. Gak perlu susah payah latihan segala.

Sekarang, coba identifikasi. Hal penting apa dalam karir yang belum bisa Anda kuasai? Lalu, temukan siapa yang mahir dalam bidang itu. Anda mungkin hanya perlu memintanya mengajari satu atau dua kali untuk memiliki keterampilan yang sama. Dan dengan keterampilan itu, banyak kejabaiban terjadi dalam hidup Anda.

Sesederhana itu loh caranya. Jika dikantor Anda tidak ada ahlinya gimana? Ya bagus dong. Anda bisa menjadi orang pertama yang menguasainya kan? Cari orang diluar kantor untuk menjadi guru Anda dibidang itu. Luangkan waktu dan sedikit modal tak jadi soal.

Untuk hal-hal tertentu seperti soft skills dan leadership skills misalnya, Anda nggak perlu keluar modal sendiri. Cukup sarankan saja kepada perusahaan agar mengundang trainer yang kompeten dibidangnya. Gampang kan?

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman  
Author, Trainer, and Public Speaker

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, December 17, 2014

Dekat dengan Bos Besar

Seberapa dekat Anda dengan boss besar? Kalau jabatan Anda belum tinggi tentu tidak dekat ya. Kecuali jika Anda sekretarisnya. Tahukah Anda bahwa dekat dengan boss itu penting?

Dengan dekat pada boss besar, maka peluang Anda untuk punya karir bagus menjadi terbuka lebih lebar.

"Halah, itu namanya carmuk dong Dang!" Itulah masalah kita. Setiap kali ada orang yang dekat dengan boss, serta merta kita menganggapnya cari muka. Mungkin memang ada yang begitu. Tapi tidak semuanya kayak gitu.

Kalau Anda dekat dengan boss hanya karena sekedar bikin dia senang, Anda memang carmuk. Tapi kalau kedekatan itu didukung oleh kualitas pribadi yang mumpuni; ya nggak carmuk, dong.

Boss besar butuh orang tangguh disekelilingnya. Anda, bisa nggak jadi orang tangguh itu? Jika bisa, ngapain mesti pusing dituduh carmuk? Anda punya kemampuan lebih kok.

Kecuali kalau Anda memble, ya emang percuma dekat dengan boss kan? Nggak ada manfaat signifikan yang bisa Anda kontribusikan. Dan wajar, kalau dibilang carmuk.

Anda, bisa berkontribusi lebih. Kerahkan segenap kemampuan untuk menarik perhatian boss. Jika cara Anda elegan, nggak usah takut dituduh carmuk. Yang penting, tonjolkan kemampuan profesional itu.

Jika Anda belum memiliki kemampuan yang layak dikenali boss besar gimana? Ya diasahlah sejak sekarang. Sambil membuang stigma pikiran bahwa orang yang dekat dengan atasan pasti cari muka.

Dengan begitu, maka hati Anda menjadi bersih dari prasangka. Sedangkan keterampilan Anda semakin mumpuni. Dan dengan kedua sifat itu, maka Anda bisa menjadi orang dekat bagi boss besar tanpa mengkhawatirkan apapun.

Semua itu, bisa dilakukan melalui latihan secara konsisten. Cari teman yang mempunyai tujuan yang sama dengan Anda. Jika perlu, ikuti pelatihan yang bagus. Boleh dikelas publik. Boleh juga yang diadakan secara internal dikantor Anda.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman  
Author, Trainer, and Public Speaker
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, December 03, 2014

Prestasi Kerja kita tidak hanya Diukur dengan Berapa Lama kita Berada di Kantor

Prestasi kerja kita tidak hanya diukur dengan berapa lama kita berada dikantor. Atau berapa banyak aktivitas yang kita lakukan. Melainkan juga seberapa patuhnya kita pada aturan main yang berlaku disana.

Orang pinter, terampil, dan berpengalaman pun jika tidak 'compatible' atau tidak sanggup menyesuaikan diri dengan aturan main itu biasanya akan mental. Jika tidak mental; maka dia seperti nabrak tembok.
Walhasil, pasti keseharian kerja yang dijalani sehari-hari nggak bakal kerasa asyik. Nyesek aja yang ada. Sehingga, dia nggak benar-benar menikmati pekerjaannya.

Kalau sudah begitu, nggak mungkin banget kan bisa mencatatkan prestasi kerja yang baik. Karena prestasi yang baik hanya dihasilkan dari kesungguhan untuk mencurahkan segenap kemampuan pada pekerjaan.

"Biarin ajalah Dang. Kalau kinerja gue pas-pasan, ya salah perusahaan sendiri. Tahu rasa saja mereka!"

Jika mikir begitu, seolah-olah kalau kita nggak berkinerja bagus yang rugi itu perusahaan. Padahal, kita lebih rugi lagi. Rugi waktu. Rugi umur. Rugi kesempatan. Rugi segala-galanya.

Dengan kinerja yang buruk, kan nggak mungkin kita membawa pulang reward terbaik. Untung masih dipertahankan. Soalnya sulit buat perusahaan untuk menerima karyawan yang tidak mau menyesuaikan diri dengan aturan main disana.

Jika Anda merasa ada tempat lain yang bakal lebih cocok, pindah mungkin lebih baik. Jika tidak, maka sebaiknya Anda belajar menyesuaikan diri dengan kultur perusahaan. Anda bahkan bisa mempengaruhi perusahaan secara positif. Misalnya, menyarankan untuk mengundang trainer yang Anda inginkan.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman  
Author, Trainer, and Public Speaker

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, November 30, 2014

Pentingnya Sikap, selain Skill

Sebagai seorang trainer, saya menemukan banyak karyawan yang frustrasi dengan karirnya. Galau mereka.

Hasil kerjanya hebat. Terampil dalam pekerjaan. Punya segudang pengalaman. Tapi karirnya, kesalip terus oleh orang lain; bahkan oleh anak kemarin sore. Sehingga perilaku mereka pun semakin memburuk. Kebayang kan, 'sakitnya tuch disini….'
 
Faktanya, Skill bukanlah aspek Nomor 1 dalam perkembangan karir seseorang. Melainkan Attitude alias sikap. Keterampilan kerja kita boleh sangat istimewa, tapi kalau sikap kita buruk; maka karir kita tidak akan pernah bisa berkembang.
 
Pertanyaannya adalah; apakah sikap buruk yang membuat karir kita memburuk? Ataukah karir kita yang buruklah yang justru membuat sikap kita menjadi buruk? Terserah sajalah, mau salah satu atau dua-duanya; gak soal.
 
Yang penting mah ini; pastikan saja sikap Anda dikantor baik. Supaya setiap orang yang berinteraksi dengan Anda merasakan perilaku baik Anda. Karena orang lain, menilai Anda bukan dari keterampilan kerja Anda. Melainkan perilaku Anda.
 
Jika orang lain tidak memilih kita, mungkin itu bukan karena mereka tidak mengakui kompetensi kita. Melainkan karena kita tidak memoles kompetensi itu dengan sikap baik yang tercemin dalam perilaku kita saat berinteraksi dengan mereka.
 
Memang, kadang ada kejadian yang memancing kita untuk bersikap negatif. Tapi, Anda mesti konsisten dengan sikap yang baik itu. Sebab, hanya dibutuhkan setetes noda saja kok untuk mengotori kain yang putih. Makanya, hindari bereaksi secara negatif.
 
Anda, bisa mencari penguatan jika diperlukan. Atau usulkan pada perusahaan untuk sekali-kali mengadakan pelatihan sikap mental positif. Agar energy positif didalam diri Anda, senantiasa terjaga. Siapa trainernya? Terserah Anda saja.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman   
Author, Trainer, and Public Speaker

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, November 27, 2014

Setiap orang punya cerita hebat tentang perjalanan hidupnya

Setiap orang punya cerita hebat tentang perjalanan hidupnya. Dan setiap cerita hebat sarat dengan inspirasi. Sehingga orang lain bisa mendapat manfaat. Lalu tergerak untuk menjadikan hidupnya lebih baik.

Contohnya seorang office boy disebuah perusahaan otomotif. Dia hadir dalam training saya. Beliau menceritakan perjalanan karirnya hingga saat ini mendapat kepercayaan sebagai kepala gudang spare part.

Bagaimana caranya? Pekerjaan sebagai office boy memungkinkan dirinya masuk ke berbagai ruangan. Termasuk ruang training bagi mekanik baru. Kesempatan yang bagus untuk 'menguping' pelajaran dari instruktur ketika sedang mengajar.

Orang ini bekerja sampai larut malam. Bukan untuk mengepel lantai, tapi membaca referensi dan literatur. Sambil memperhatikan seluk beluk dan membongkar pasang mesin di ruang praktikum. Itu membuatnya mengerti cara kerja mesin.

Ketika ada siswa mekanik yang kesulitan memahami pelajaran, beliau membantunya. Ternyata, mereka lebih mudah memahami dengan bahasa pengajarannya yang sederhana.

Perusahaan mendeteksi kejadian itu, lalu mempromosikannya menjadi instruktur. Kepiawaiannya kemudian membawanya kepada kepercayaan yang lebih besar. Sekarang, dia diberi tanggungjawab untuk mengawasi gudang spare part.

Orang ini belum menjadi CEO. Namun, cara menjalani karirnya mengagumkan. Lagi pula, jabatan itu kan hanya dampak saja. Esensinya ada pada bagaimana dia menjalani keseharian kerjanya. Dan itu, cukup untuk melahirkan sebuah cerita hebat yang menginspirasi.

Sudahkah Anda punya cerita hebat juga? Jika belum, mulailah sekarang. Jika Anda melihat ada orang yang bisa menginspirasi, tidak ada salahnya menyarankan kantor untuk mengundangnya kan?

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, November 24, 2014

Anda mesti membangun kepercayaan itu dengan kemampuan professional Anda

Banyak yang merasa kehadirannya tidak diperhitungkan. Padahal, kita bisa bekerja lebih baik jika kehadiran kita dianggap kan? Kalau orang-orang penting itu nggak nganggep kita, ngapain juga kerja keras kan?
 
Ya nggak begitu juga kalee. Sikap seperti itu justru membuat kita semakin tidak dikenali. Kita, mesti membantu orang lain tahu kemampuan bagus yang kita miliki.
 
Masih ingat cerita Celine Dion tentang Josh Groban yang saya sampaikan? Sekarang, saya akan menceritakan kisah itu dari sudut pandang Josh Groban sendiri. Josh mengaku sangat grogi sekali, sehingga malah terpaku dibelakang panggung tanpa ada orang yang mengenalinya.
 
Panitia riweuh menantikan Josh. "Dimana dia? Dimana dia?" demikian mereka saling bertanya. Padahal, orangnya ya ada disitu.

"Saya Josh. Saya sudah disini sejak 30 menit yang lalu…." Mereka bilang; "YYYOU?" Nada yang bukan sekedar tidak percaya, tetapi mempertanyakan apa iya dia bisa menyanyikan bagian Andrea Bocelli.
 
Boss akan meragukan Anda juga, jika dia tidak mengenali kemampuan Anda. Seperti mereka yang ketika itu belum mengenal Josh Groban. Salahkan mereka? Tidak. Mereka bertindak professional, sehingga tidak kepada sembarang orang tugas penting diberikan.
 
Maka, kalau boss besar Anda memandang sebelah mata; itu bukan salah dia. Tapi karena beliau belum mengenal siapa Anda sebenarnya. Tugas Anda adalah untuk memperlihatkan kepadanya bahwa Anda layak mendapatkan kepercayaannya.

Setiap hari, Anda mesti membangun kepercayaan itu dengan kemampuan professional Anda. In sya Allah, keberadaan Anda akan diperhitungkannya.
 
Makanya, kemampuan itu mesti diasah terus melalui berbagai macam cara. Termasuk pelatihan dan kegiatan pengembangan lainnya. Jangan sia-siakan jika kantor Anda mengadakan pembelajaran apapun. Malahan, Anda bisa mengusulkan trainer yang menurut pendapat Anda mampu memberikan tambahan referensi berharga.  
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman   
Author, Trainer, and Public Speaker

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, November 19, 2014

Intelektualitas dan Komunikasi Pemimpin

Intelektualitas berkaitan langsung dengan komunikasi. Artinya, sebagai atasan kita mesti melatih diri agar apa yang dikomunikasikan kepada anak buah bisa diterima oleh akal sehat.

Semakin cerdas anak buah kita, semakin kritis daya pikirnya. Dan semakin besar pula kebutuhannya untuk berkomunikasi secara logis. Jika kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka kita tidak akan mendapat dukungan mereka.

Cara pemerintah mengkomunikasikan kenaikan harga BBM, bisa menjadi contoh berharga. Saat pejabat negara bilang "Rakyat senang dengan kenaikan BBM", misalnya. Bagi orang yang memiliki intelektualitas, pernyataan ini sama sekali tidak logis.

Demikian pula ketika dipidatokan supaya harga-harga produk lain turun dengan naiknya BBM. Hal itu berbenturan dengan logika dan intelektualitas pendengarnya.

"Ah, saya kan nggak butuh dukungan anak buah. Paksain aja. Kalau nggak nurut, bisa dikasih teguran." Anda benar, jika berpikir demikian. Tapi kepemimpinan itu tidak identik dengan 'tangan besi'.

Anak buah Anda, mungkin mau saja mengikuti perintah Anda. Namun ketika Anda tidak ada, mereka meninggalkan tugasnya dengan gembira ria. Bahkan boleh jadi, mereka berdoa agar tidak jumpa lagi dengan Anda.

Sesungguhnya, berkomunikasi secara logis itu merupakan kunci keberhasilan kepemimpinan. Bahkan sekalipun Anda harus mengkomunikasikan hal yang tidak menyenangkan.

Jika Anda bisa menjelaskannya secara logis, dan membantu anak buah untuk memahaminya; maka mereka pun akan menjalankan instruksi Anda. Meskipun mereka nggak suka, tapi paham kenapa mesti begitu; maka mereka jadi mau juga.

Jelaslah bahwa kemampuan komunikasi secara logis meningkatkan efektivitas kepemimpinan kita. Dan itu merupakan skill penting yang mesti kita kuasai.

Nggak rugi kok kalau Anda terampil berkomunikasi secara logis. Jika butuh pelatihan, Anda boleh meminta pada kantor untuk mengadakan trainingnya. Dan Anda juga boleh mengusulkan siapa trainernya.

Salami hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, November 16, 2014

Keterampilan Berkomunikasi

Benar, keterampilan komunikasi itu penting bagi karir kita. Namun, hanya jika kita bisa melakukan komunikasi dengan baik.

Salah satu ciri baiknya komunikasi adalah akurasi informasi yang kita berikan. Bayangkan kalau informasi yang Anda sampaikan kepada boss keliru. Maka boss Anda bisa salah mengambil keputusan kan?

Tgl 10 November lalu misalnya. OJK merilis daftar 262 perusahaan 'investasi bodong'. Sewaktu membaca daftar itu, saya merasakan adanya kejanggalan. Ada beberapa perusahaan dalam daftar itu yang tak patut disebut bodong.

Bagaimana saya bisa seyakin itu? Karena pada saat itu saya sedang melakukan riset untuk sebuah program pelatihan di sebuah lembaga pengawasan dilingkungan Kementerian Perdagangan. Dan ada data terkait yang saya pelajari.

Anda, mungkin tidak ambil pusing, karena tidak ada urusan dengan informasi itu. Tapi bisa dibayangkan dampaknya pada perusahaan bersangkutan. Dan publik yang terkait pun bisa panik.

Dikantor-kantor, lumayan banyak loh keputusan keliru dibuat karena informasi yang keliru macam itu. Makanya, dalam proses planning kita punya prinsip 'garbage in, garbage out'. Bahaya, kalau kita menelan 'sampah'.

Ada kejadian boss marah besar kepada seorang karyawan. Belakangan ketahuan bahwa karyawan tersebut tidak bersalah. Karena boss menerima informasi yang salah, maka dia bertindak salah.

Kalau salah kan bisa minta maaf, Dang. Iya, tapi apa artinya minta maaf jika efek dari kesalahan informasi yang kita komunikasikan itu sudah terlanjur merugikan orang lain?

Banyak pula pelanggan yang marah karena kelirunya informasi yang mereka dapatkan. Reputasi perusahaan pun dipertaruhkan.

Makanya, penting untuk terus mengasah kemampuan komunikasi. Sesekali bahkan kantor perlu juga mengadakan pelatihan. Anda bisa menghubungi trainer yang tepat jika membutuhkan bantuan.

Salami hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, November 14, 2014

"Kita harus melakukan yang terbaik yang kita bisa. Ini adalah tanggung jawab suci sebagai manusia." (Albert Einstein)

1. "Ada kualitas yang harus dimiliki orang untuk menang, yaitu tujuan yang jelas, tahu yang diinginkan, dan semangat membara untuk meraihnya." (Napoleon Hill)

2. "@Your_Say: The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why. –Mark Twain

3. "@ao_Buddha: The mind is everything; what you think you become."

4. "Lakukanlah setiap harinya sedikit lebih banyak daripada apa yang anda pikir sanggup untuk anda lakukan." (Lowell Thomas)

5. "@marshawright: "Enthusiasm is excitement with inspiration, motivation, and a pinch of creativity." - Bo Bennett"

6. "Cara untuk selamat adalah tidak pernah merasa aman." (Thomas Fuller)

7. "Tetaplah puas melakukan pekerjaan yang baik dan biarkan oranglain membicarakan kita sesuka hati mereka." (Pythagoras)

8. "Lihatlah ke dalam. Rahasianya terdapat di dalam diri anda." (Hui Neng).

9. "Dalam Aksara Tiongkok, kata krisis terdiri dari dua karakter. Karakter yang satu berarti bahaya, satu lagi berarti kesempatan." (John F. Kennedy)

10. "@marshawright: "Words and actions will separate a wise man from the crowd." ― Bamigboye Olurotimi"

11. "@thecircledancer: " A writer doesn't have to be the smartest person in the room; only the most observant. " F. Scott Fitzgerald"

12. "Kapal tanpa kemudi dan orang tanpa tujuan akhirnya akan terdampar di gurun." (Napoleon Hill)

13. "Kita harus melakukan yang terbaik yang kita bisa. Ini adalah tanggung jawab suci sebagai manusia." (Albert Einstein)

14. "Dorong diri anda terus dan terus. Jangan berikan satu senti pun sampai tanda berakhir dibunyikan." (Larry Bird)

15. "Kehidupan kita adalah jumlah total semua pilihan yang telah kita buat." (Wayne Dyer)

Dari berbagai sumber.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, November 12, 2014

Menyiapkan Masa Pensiun

Setiap orang ingin mendapatkan kecukupan. Itu pastilah. Karena, hidup berkecukupan memberikan ketenteraman. Stress kita kalau kekurangan kan.

Selama mendapat penghasilan rutin, nggak jadi masalah. Meski nggak berlimpah, minimal ada yang diharapkan. Itulah enaknya menjadi karyawan.

Masalahnya, masa produktif kita dibatasi hingga usia 55. Padahal, hidup kita mungkin bisa lebih lama. Pertanyaannya adalah; apakah 'hasil kerja' selama ini bisa mencukupi sisa perjalanan hidup kita?

Jika gaji Anda puluhan atau ratusan juta, mungkin bisa. Tapi kalau penghasilan pas-pasan ya susah ya. Mau dipaksain gimana juga tetap saja megap-megap.

Tapi, ada satu hal di kantor Anda yang bisa menjadi sumber nafkah Anda sampai akhir hayat. Tahukah Anda apakah itu? Silakan catat ini; 'Keahlian Anda'.

Makanya, Anda jangan bekerja cuman buwat cari duwit. Anda mesti meniatkan untuk membangun keahlian. Meski bayarannya nggak besar, tekun aja kerja disitu. Asah kemampuan Anda. Maka akan Anda dapatkan 2 manfaat ini:

Satu, prestasi kerja Anda bakal bagus sehingga perusahaan senang pada Anda. Dan mungkin, bayaran buat Anda juga akan dinaikan kan? Perusahaan senang, Anda juga senang.

Dua, Anda bakal punya keahlian yang bisa diandalkan untuk mencari penghidupan kelak. Anda nggak akan seperti kebanyakan pensiunan yang bingung mau ngapain. Karena Anda, punya keahlian yang bisa membuat Anda tetap bisa berkarya.

Untuk itu, Anda mesti memulainya sekarang. Melatih diri dengan sepenuh hati. Bekerja dengan penuh dedikasi. Sambil terus mengasah diri. Kalau kantor Anda akan mengadakan training misalnya, Anda juga bisa mengusulkan untuk mengundang trainer yang Anda inginkan.

Salami hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, November 05, 2014

Kompetensi Komunikasi dan Karir

Semua orang bisa berkomunikasi kan ya. Orang 'berkebutuhan khusus' pun bisa. Tapi apakah kualitas komunikasinya baik atau tidak, nah itu tidak dijamin. Padahal, komunikasi sangat menentukan pencapaian karir kita.

Banyak orang pandai, berwawasan luas, terampil dalam bekerja namun tidak berkembang karirnya karena tidak mampu berkomunikasi dengan baik.

Sebaliknya, dengan kemampuan berkomunikasi yang baik; orang standar alias sedang-sedang saja justru karirnya bisa berkembang lebih cemerlang.

Orang-orang pinter pada nggerundel 'kenapa kok si cemen itu yang dipilih menejemen? Gue kan lebih hebat dari dia?!'

Persoalannya bukan soal cemen atau tidak. Tapi soal bagaimana keunggulan Anda itu sampai ke telinga pengambil keputusan. Dan untuk itu, proses komunikasi memegang peran signifikan.

Contoh sederhana deh. Anda punya banyak gagasan. Tapi Anda pendem aja itu ide dikepala Anda. Mau ngomong ke atasan sungkan. Apalagi presentasi ke direksi. Kemampuan komunikasi Anda memble.

Teman Anda, punya ide sederhana. Namun dia susun ide itu secara sistematis. Lalu dikomunikasikan kepada pengambil keputusan. Kemudian mendapat persetujuan. Maka kecanggihan gagasan Anda itu nggak ada gunanya.

Contoh lain. Jabatan tinggi biasanya berkaitan dengan fungsi koordinasi. Memimpin orang lain supaya terbangun sinergi. Bagaimana mungkin menejmen mempercayakan fungsi itu kepada orang yang tidak terampil berkomunikasi?

My friend, communication skill is imperative to develop your career. Makanya mesti diasah terus. Latihan tiap hari. Kalau perlu, usulkan kepada perusahaan agar mengundang trainer yang bagus untuk memberikan pelatihan.

Salami hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, November 02, 2014

Bersaing dengan Hati Bersih

Kita tidak perlu bersaing untuk mendapatkan oksigen. Tuhan kan menyedikannya secara melimpah. Alhamdulillah.
 
Namun untuk hal lainnya dalam hidup, kita mesti berkompetisi. Dan ketika bersaing, kita tidak menginginkan apapun selain kemenangan.
 
Dalam persaingan kita suka tergoda menghalalkan segala cara. Bukan hanya dikancah politik itu kejadian. Dalam persaingan karir pun demikian.
 
Padahal, kekalahan pun sesungguhnya memiliki beribu hikmah. Sehingga kemenangan bukanlah segala-galanya. Karena; "Apa yang kita pandang baik, belum tentu baik. Dan apa yang kita kira buruk, belum tentu buruk." Demikian Allah berfirman.
 
Tugas kita sesungguhnya bukanlah untuk mengalahkan orang lain. Melainkan mengerahkan segenap kemampuan.
 
Sebuah persaingan hakikatnya bukanlah untuk saling mengalahkan. Melainkan saling menyemangati agar teroptimalkan potensi diri.
 
Jadi, persaingan itu baik. Yang menjadikannya buruk adalah; bibit dengki  didalam hati kita. Yang membisikkan seolah pesaing kita adalah musuh yang mesti dibinasakan.
 
Maka mulai sekarang sahabatku, jika Anda bersaing. Baik dalam urusan bisnis, karir, maupun percintaan. Pastikan hati Anda bersih. Sehingga persaingan itu tidak mengurangi kemuliaan pribadi Anda, dan tidak pula mengendorkan semangat juang Anda.
 
In sya Allah, Anda akan menjadi kontestan yang tangguh. Sekaligus memiliki akhlak yang baik. Sehingga apapun hasil dari persaingan itu; Anda tetap akan menjadi pribadi terpuji.
 
Dengan sifat itu, Anda tidak akan kehilangan respek dari orang lain. Entah Anda menang ataupun kalah. Lebih pentingnya lagi, Anda senantiasa mendapat tempat terpuji dimata Allah.

Dan untuk meningkatkan daya saing, kita tidak boleh berhenti mengasah diri. Kalau perlu, usulkan kepada boss untuk sesekali mengadakan pelatihan buat karyawan. Jika kantor Anda membutuhkan bantuan, jangan ragu menghubungi trainer yang tepat.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, October 09, 2014

Optimisme dan Iman dalam Hidup

Kalau orang pesimis gagal, nggak terlalu sedih. Soalnya dari awal sudah pesimis. Tapi kalau orang optimis gagal, sakitnya kerasa sekali. Apalagi kalau soal finansial. Nyesek banget.

Soalnya sudah keburu kredit ini dan itu. Dibayarnya nanti kalau sudah direalisasikan. Eleh-eleh ndilalah. Meleset. Padahal kartu kredit sudah digesek. Dan surat hutang sudah ditandatangan.
 
Jadi baiknya kita optimis atau pesimis? Orang pesimis jarang berhasil. Karena sikap pesimis menahan dirinya untuk bekerja secara optimal. Potensi dirinya pun hanya sedikit yang tergali.

Orang optimis, selalu terdorong mengerahkan segenap kemampuannya sehingga lebih dekat pada keberhasilan.
 
Makanya, temani optimism dengan 2 hal ini: 1. Bekerja bukan hanya karena uang. Lakukan pekerjaan ini tidak semata-mata demi uang. Melainkan demi mendapatkan restu Ilahi. Kalau beraktivitas dengan mengharap rido Allah, maka dapat uang atau tidak; kita tetap sudah memperoleh berkahNya.

2. Tenteramkan jiwa dengan iman. Sumber ketenteraman jiwa itu ternyata bukan optimisme. Melainkan keimanan kepada Tuhan. Optimisme hanya bisa membangkitkan harapan. Padahal, harapan sering tidak jadi kenyataan.

Beda dengan iman. Ketika sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, kita jadi rela menerima apapun hasilnya. Dan kita, berserah kepada Allah untuk segalanya.
 
Tenteram hati ketika iman menemani setiap ikhtiar kita. Optimisme, menjadi lebih kokoh saat disokong dengan iman. Karena dengan iman, optimisme kita selalu sampai digaris finis berupa "Penerimaan Atas Hasil Apapun Yang Didapatkan".
 
Sudahkah Anda menopang optimisme kita dengan kedua hal itu? In sya Allah.
 
Kesuksesan karir seseorang ternyata tidak hanya ditentukan oleh keterampilan kerjanya saja. Melainkan juga oleh sikap dan perilakunya. Makanya, penting untuk memberikan pelatihan soft skill kepada karyawan. Hubungi saya jika membutuhkan bantuan.

Oleh Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, April 11, 2014

Dalam Berkarier Wajib Berprasangka Baik

Semua orang merasakan dinamika dalam berkarier. Sebagian mungkin cenderung sangat dinamis, sebagian lagi datar saja. Apa pun itu, berbagai masalah dalam karier perlu dilihat sebagai tantangan. Untuk itu, dalam berkarier seseorang wajib membekali dirinya dengan prasangka baik.

Leadership Coach & Motivator, Ainy Fauziyah, mengatakan orang yang berprasangka baik selalu melihat masalah sebagai peluang. Peluang bahwa dirinya bisa menghadapi setiap masalah demi mencapai tujuan.

Karenanya, menurut Ainy, untuk bisa berprasangka baik, seseorang harus paham dan kembali kepada tujuan utamanya.

"Apa tujuan hidupnya. Kalau dalam karier, apa tujuan kariernya. Kalau sudah berprasangka baik tapi seseorang masih belum bisa juga mengatasi masalah, itu karena dia tidak tahu tujuannya apa," tutur Ainy kepada Kompas Female.

Ainy mengatakan setiap pribadi harus mengetahui apa tujuan hidupnya termasuk karier. Dengan mengetahui tujuan dalam berkarier, seseorang setiap kali terkena masalah baik dengan rekan kerja, atasan, bawahan, siapa pun dalam kariernya, ia tidak akan terjebak dalam kesedihan. Ia juga tidak akan minta dikasihani dan terhindar dari kebiasaan memelihara prasangka buruk.

"Mengapa seseorang harus tahu tujuan kariernya, apa yang diimpikannya? Supaya ia tidak lemah menghadapi permasalahan," kata Ainy.

Semakin baik tujuannya, kata Ainy, semakin mudah seseorang menjalani karier dan menghadapi berbagai dinamikanya.

"Tujuan berkarier adalah bagaimana membuat pekerjaannya tersebut memberi manfaat kepada orang lain. Bisa bermanfaat buat satu dua orang, kalau bisa buat 100 orang kenapa tidak," katanya.

Berprasangka baik, tutur Ainy, menyembuhkan hati yang luka juga menjernihkan pikiran sekaligus menyemangati diri sendiri.

"Orang yang berprasangka baik hidupnya nikmat tak terbatas," katanya.

Sumber: http://m.kompas.com/female/read/2014/04/11/1505564/Dalam.Berkarier.Wajib.Berprasangka.Baik
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Related Posts with Thumbnails