Jwb dgn cpt tnp pakai kalkulator...
Brp hsl 3 x 4..? Mudah?
Ok, kita ljtkan...
8 x 6 = …
9 x 9 = …
17 x 27 = …
53 x 89 = …
273 x 694 = …
Sebagian besar mungkin akan terhenti pada pertanyaan ketiga.
Kenapa?
Bukan karena anda tidak pintar atau kurang cerdas.
Tapi anda hanya tidak biasa melakukan perkalian besar.
Masih ingat saat kecil anda dulu..?
Guru, org tua, kakak & saudara anda mengajari perkalian 1-9 dengan banyak metode, lalu kemudian mereka minta anda utk menghapalkannya?
Itulah jawaban singkatnya.
Manusia memiliki 3 dimensi pikiran yg berbeda yaitu alam sadar (conscious mind), alam bwh sadar (pre-conscious mind) & alam tdk sadar (unconscious mind).
Apa yang anda lakukan dalam menjawab pertanyaan di atas hanyalah dengan memanggil memori yang telah tersimpan dalam alam bawah sadar anda yg dahulu diulang teras menerus dalam waktu yang lama.
Ini dikatakan sebagai Retrieval.
Shiv Khera dlm bukunya "8 kiat menjadi pemenang", bahwa segala sesuatu yang pada awalnya kita lakukan secara sadar & berulang kali & wakta yang cukup lama, akan mendarah daging dalam sistem tubuh & berubah menjadi kebiasaan.
Kenapa seorang Bill Gates yang DROP OUT dari bangku kuliah mampu membuat perusahaan raksasa Microsoft?
Bob Sadino yg hanya lulusan SD bisa menjadi pengusaha hbt di negeri ini, bahkan memberikan lapangan pekerjaan bagi sarjana² yang bingung cari kerja setelah lulus kuliah?
Mereka semua tidak PINTAR. Mereka semua hanya TERBIASA melakukan sesuatu berulang kali secara terus menerus & konsisten.
Itu rahasianya.
Coba bayangkan kalau misalnya waktu kecil dulu anda diajari & dipaksa menghafal perkalian 3 atau bahkan 5 digit.
Tentunya mudah bukan untuk menjawab semua pertanyaan di atas..?
Kuncinya adalah…
TERBIASA melakukan.. & biarkan kemampuan anda tmbh menjadi BESAR dgn sendirinya.
Pintar hanyalah sesuatu yg konseptual, bkn sesuatu yg kongkrit.
• Anda hanya bisa memahami sesuatu secara teoritis, tapi belum tentu mampu melakukannya.
¤ TIDAK PERLU PINTAR UTK MENJADI SUKSES…
¤ ANDA HANYA PERLU TERBIASA…
¤ MASIH BERPIKIR UNTUK MENJADI ORANG PINTAR…?
¤ PIKIRKAN SEKALI LAGI….SEBELUM MENYESAL…
(Charles, Milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Showing posts with label menjadi bos-pemimpin. Show all posts
Showing posts with label menjadi bos-pemimpin. Show all posts
Tuesday, June 12, 2012
Monday, April 09, 2012
Atasi 5 Ketakutan dalam Pekerjaan
Takut gagal mencapai target, takut bosan dengan pekerjaan sekarang, atau jadi minder kala ditawari naik jabatan? Bila ketakutan ini juga menghantui Anda, temui sebab dan solusinya segera.
Survei yang dilakukan oleh CareerBuilder.com kepada para follower mereka di Twiiter menyebutkan, ada beberapa professional fears yang kerap menghantui para jobseeker hingga CEO, berkaitan dengan kinerja dan kemampuan diri walau sebenarnya semua berjalan dengan baik-baik saja, yaitu:
1. Dikalahkan oleh si anak bawang.
Hal yang hampir dirasakan oleh semua senior: tak mau kalah banding junior, baik soal gaji hingga kemampuan diri. Hal ini menjadi salah satu faktor munculnya rasa takut kalau si anak bawang memiliki nilai lebih baik di mata atasan atau mendapat promosi lebih dulu dibanding Anda. Ruth Mott, pemilik dari Mott Consulting di Chicago mengatakan banyak orang cenderung meremehkan kemampuan diri saat bersaing dengan rekan lain.
Solusi:
Evaluasi kinerja. Anda perlu tahu sampai mana kemampuan Anda bila dibandingkan dengan si anak bawang. Lama bekerja kini bukan patokan satu-satunya yang digunakan perusahaan untuk menilai siapa yang lebih layak mendapat promosi.
Saat merasa jenuh dengan pekerjaan dan ini membuat si anak bawang berlari lebih cepat, lakukan kegiatan yang bisa menyegarkan kembali pikiran dan tubuh. Lalu, buat ulang target karier ke depan. Bila tujuan Anda ingin naik jabatan, bangkitkan lagi semangat, asah skill, dan perluas pengalaman demi masa depan cerah.
2. Gagal mencapai target perusahaan.
Misalnya saat ingin diangkat menjadi manajer, di samping rasa bangga, ada rasa takut kalau nantinya tak bisa menjadi atasan yang baik, tak bisa mencapai target, atau mengambil keputusan yang salah. Ini juga yang kerap dialami oleh sebagian klien Jeffrey Millano, Business Consultant ThePeopleChemist.com.
Solusi:
Berpikir matang sebelum mengambil keputusan memang mutlak, namun tak perlu berlarut-larut mendekati deadline. Lebih baik cepat mengambil keputusan sehingga cepat memperbaiki bila itu salah. Percaya bahwa di dunia ini ada yang namanya kebetulan atau bahkan keberuntungan. Segalanya sesuatunya dapat diupayakan, dipersiapkan dengan matang, dan tentunya dibarengi dengan doa.
3. Tak bisa membagi waktu antara kehidupan pribadi dan profesi.
Bagi sebagian perempuan, mungkin Anda salah satu yang mengalami ketakutan ini. Usia seperempat baya dianggap waktu yang pas untuk punya suami dan anak. Namun, ketakutan tak bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan kerap menghantui kala pernikahan sudah di depan mata. Hal ini dialami oleh perempuan karier yang sudah berkeluarga. "Bukan hal mudah menjalani dua peran sekaligus, namun selalu ada solusi," ujar Bronagh Hanley, Entertainment Publicist di San Francisco.
Solusi:
Buatlah daily plan, selesaikan pekerjaan tepat waktu dan hindari lembur. Bila pekerjaan terlalu banyak, percayalah kalau Anda punya peluang untuk merasakan kerja di tempat lain. Bila bekerja full time tak memungkinkan, coba cari peluang untuk part time, seperti menjadi freelancer atau berbisnis sebagai kegiatan positif untuk mengembangkan diri.
4. Takut mencoba karier baru.
Tak banyak berubah dan berakhir dengan karier yang statis, Anda tentu tak ingin mengalami hal ini bukan? Setiap orang memang wajib bersyukur dengan karena telah mendapat pekerjaan, namun tak ada salahnya untuk mencoba kesempatan lain bila memang kurang afdol dengan pekerjaan sekarang, entah lingkungan kerja atau gaji. Hanley mengatakan, "Sebagian orang mungkin akan menjatuhkan semangat Anda dengan berkata kalau mencari pekerjaan itu sulit. Akhirnya Anda terpaksa makan hati terus karena budaya kerja yang tak sesuai."
Solusi:
Bila keluhan lebih sering keluar dibanding rasa syukur, sebaiknya lakukan sesuatu yang bisa membuat Anda bahagia, berkarier di tempat lain misalnya. Sebelumnya, cari informasi tentang perusahaan itu, apakah sesuai dengan pribadi Anda atau tidak. Jangan memberikan surat pengunduran diri sebelum mendapat pekerjaan pengganti. Pertimbangkanlah biaya hidup Anda sebelum berhenti kerja.
5. Dikucilkan oleh rekan lain.
Ketakutan ini kerap dialami oleh karyawan baru. Apalagi bila rekan senior tampak tak mau terkalahkan. Alhasil Anda bekerja biasa-biasa saja, menolak ajakan makan siang bos, atau merasa tidak enak terus-terusan agar mereka bersikap baik.
Solusi:
Bila Anda punya poin plus di mata perusahaan karena kinerja yang memuaskan, jelas ini bukan kesalahan. Namun bila kedekatan dengan bos membuat pihak lain iri dan melakukan hal yang mengganggu ketenangan, tak ada salahnya meminta solusi pada si bos. Jaga hubungan baik dengan semua rekan dengan tetap bersosialisasi. Tak perlu mengasingkan diri karena hanya akan memperburuk keadaan. (Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Survei yang dilakukan oleh CareerBuilder.com kepada para follower mereka di Twiiter menyebutkan, ada beberapa professional fears yang kerap menghantui para jobseeker hingga CEO, berkaitan dengan kinerja dan kemampuan diri walau sebenarnya semua berjalan dengan baik-baik saja, yaitu:
1. Dikalahkan oleh si anak bawang.
Hal yang hampir dirasakan oleh semua senior: tak mau kalah banding junior, baik soal gaji hingga kemampuan diri. Hal ini menjadi salah satu faktor munculnya rasa takut kalau si anak bawang memiliki nilai lebih baik di mata atasan atau mendapat promosi lebih dulu dibanding Anda. Ruth Mott, pemilik dari Mott Consulting di Chicago mengatakan banyak orang cenderung meremehkan kemampuan diri saat bersaing dengan rekan lain.
Solusi:
Evaluasi kinerja. Anda perlu tahu sampai mana kemampuan Anda bila dibandingkan dengan si anak bawang. Lama bekerja kini bukan patokan satu-satunya yang digunakan perusahaan untuk menilai siapa yang lebih layak mendapat promosi.
Saat merasa jenuh dengan pekerjaan dan ini membuat si anak bawang berlari lebih cepat, lakukan kegiatan yang bisa menyegarkan kembali pikiran dan tubuh. Lalu, buat ulang target karier ke depan. Bila tujuan Anda ingin naik jabatan, bangkitkan lagi semangat, asah skill, dan perluas pengalaman demi masa depan cerah.
2. Gagal mencapai target perusahaan.
Misalnya saat ingin diangkat menjadi manajer, di samping rasa bangga, ada rasa takut kalau nantinya tak bisa menjadi atasan yang baik, tak bisa mencapai target, atau mengambil keputusan yang salah. Ini juga yang kerap dialami oleh sebagian klien Jeffrey Millano, Business Consultant ThePeopleChemist.com.
Solusi:
Berpikir matang sebelum mengambil keputusan memang mutlak, namun tak perlu berlarut-larut mendekati deadline. Lebih baik cepat mengambil keputusan sehingga cepat memperbaiki bila itu salah. Percaya bahwa di dunia ini ada yang namanya kebetulan atau bahkan keberuntungan. Segalanya sesuatunya dapat diupayakan, dipersiapkan dengan matang, dan tentunya dibarengi dengan doa.
3. Tak bisa membagi waktu antara kehidupan pribadi dan profesi.
Bagi sebagian perempuan, mungkin Anda salah satu yang mengalami ketakutan ini. Usia seperempat baya dianggap waktu yang pas untuk punya suami dan anak. Namun, ketakutan tak bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan kerap menghantui kala pernikahan sudah di depan mata. Hal ini dialami oleh perempuan karier yang sudah berkeluarga. "Bukan hal mudah menjalani dua peran sekaligus, namun selalu ada solusi," ujar Bronagh Hanley, Entertainment Publicist di San Francisco.
Solusi:
Buatlah daily plan, selesaikan pekerjaan tepat waktu dan hindari lembur. Bila pekerjaan terlalu banyak, percayalah kalau Anda punya peluang untuk merasakan kerja di tempat lain. Bila bekerja full time tak memungkinkan, coba cari peluang untuk part time, seperti menjadi freelancer atau berbisnis sebagai kegiatan positif untuk mengembangkan diri.
4. Takut mencoba karier baru.
Tak banyak berubah dan berakhir dengan karier yang statis, Anda tentu tak ingin mengalami hal ini bukan? Setiap orang memang wajib bersyukur dengan karena telah mendapat pekerjaan, namun tak ada salahnya untuk mencoba kesempatan lain bila memang kurang afdol dengan pekerjaan sekarang, entah lingkungan kerja atau gaji. Hanley mengatakan, "Sebagian orang mungkin akan menjatuhkan semangat Anda dengan berkata kalau mencari pekerjaan itu sulit. Akhirnya Anda terpaksa makan hati terus karena budaya kerja yang tak sesuai."
Solusi:
Bila keluhan lebih sering keluar dibanding rasa syukur, sebaiknya lakukan sesuatu yang bisa membuat Anda bahagia, berkarier di tempat lain misalnya. Sebelumnya, cari informasi tentang perusahaan itu, apakah sesuai dengan pribadi Anda atau tidak. Jangan memberikan surat pengunduran diri sebelum mendapat pekerjaan pengganti. Pertimbangkanlah biaya hidup Anda sebelum berhenti kerja.
5. Dikucilkan oleh rekan lain.
Ketakutan ini kerap dialami oleh karyawan baru. Apalagi bila rekan senior tampak tak mau terkalahkan. Alhasil Anda bekerja biasa-biasa saja, menolak ajakan makan siang bos, atau merasa tidak enak terus-terusan agar mereka bersikap baik.
Solusi:
Bila Anda punya poin plus di mata perusahaan karena kinerja yang memuaskan, jelas ini bukan kesalahan. Namun bila kedekatan dengan bos membuat pihak lain iri dan melakukan hal yang mengganggu ketenangan, tak ada salahnya meminta solusi pada si bos. Jaga hubungan baik dengan semua rekan dengan tetap bersosialisasi. Tak perlu mengasingkan diri karena hanya akan memperburuk keadaan. (Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
karir,
ketakutan dalam pekerjaan,
kunci sukses,
manajemen karir,
menjadi bos-pemimpin,
self improvement
Wednesday, October 19, 2011
4 Kualitas yang Atasan Harus Punya
Posisi baru sebagai atasan berhasil Anda dapatkan. Posisi penting ini harus dijalankan lebih baik dengan kualitas diri terbaik.
Sebelum memulai tugas baru, simak kembali pesan Jeffrey J Fox, dalam bukunya How To Become A Great Boss. Menurut Jeffrey, ada empat ciri pemimpin hebat:
1. Si atasan tidak takut untuk tidak tahu segalanya, atau untuk tidak tahu sesuatu. Artinya, ia mau terus belajar, bahkan dari bawahan.
2. Si atasan memberikan kesempatan kepada staf untuk berpikir sendiri dan berdiri sendiri. Kepercayaan menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan tim kerja di kantor.
3. Si atasan tidak pernah merasa tahu segalanya. Sikap mau mendengarkan juga penting dimiliki atasan. Ini akan menimbulkan perasaan nyaman di level bawah.
4. Si atasan mengerti bagus bahwa orang-orang yang bagus dalam bekerja, tahu pekerjaannya. Pemahaman yang baik mengenai kualitas personal dalam tim membuatnya lebih obyektif dalam memberikan penilaian terhadap anggota timnya. (Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sebelum memulai tugas baru, simak kembali pesan Jeffrey J Fox, dalam bukunya How To Become A Great Boss. Menurut Jeffrey, ada empat ciri pemimpin hebat:
1. Si atasan tidak takut untuk tidak tahu segalanya, atau untuk tidak tahu sesuatu. Artinya, ia mau terus belajar, bahkan dari bawahan.
2. Si atasan memberikan kesempatan kepada staf untuk berpikir sendiri dan berdiri sendiri. Kepercayaan menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan tim kerja di kantor.
3. Si atasan tidak pernah merasa tahu segalanya. Sikap mau mendengarkan juga penting dimiliki atasan. Ini akan menimbulkan perasaan nyaman di level bawah.
4. Si atasan mengerti bagus bahwa orang-orang yang bagus dalam bekerja, tahu pekerjaannya. Pemahaman yang baik mengenai kualitas personal dalam tim membuatnya lebih obyektif dalam memberikan penilaian terhadap anggota timnya. (Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Subscribe to:
Comments (Atom)