Wednesday, August 01, 2012

5 Trik "Carmuk" di Depan Atasan

Selama di lakukan dengan cara yang tepat, sah saja cari muka (carmuk) atau menarik perhatian atasan. Anda bukan hanya tampil sebagai pribadi yang menonjol namun juga berprestasi, dan hal ini tentu berdampak pada penilaian kerja, bukan?

Simak cara jitu agar dilirik atasan karena profesionalitas Anda :

1. Berprestasi.

Prestasi kerja yang baik, wawasan luas, dan jaringan yang luas akan membuat Anda lebih menonjol di banding rekan kerja lain. Selanjutnya, kesempatan dilirik atasan pun lebih besar.

2. Hubungan baik.

Jalin hubungan yang menyenangkan dengan atasan dan rekan kerja lain. Terbukalah untuk membantu rekan kerja dan menjadi seseorang yang diandalkan dalam pekerjaan.

3. Jadi teman diskusi.

Jangan enggan memberi banyak ide segar pada atasan atau pun tim kerja. Biasanya mereka yang selalu memiliki banyak ide, selalu membuat orang lain merasa nyaman berdekatan dan berdiskusi dengannya.

4. Menjadi diri sendiri.

Apa pun yang kita lakukan, tetaplah menjadi diri sendiri. Tak perlu bicara dengan nada yang dibuat manis atau berperilaku seperti orang lain. Selain membuat kita lelah "memakai topeng", orang lain pun akan merasa tak nyaman berada di dekat Anda.

5. Penampilan menarik.

Ini tak hanya untuk menarik perhatian, tapi juga meningkatkan rasa percaya diri. saat bertemu atasan.(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, July 06, 2012

6 Langkah Mendetoks Keuangan

Apakah Anda termasuk golongan berpenghasilan "lima koma", alias tanggal lima keuangan Anda sudah mengalami koma atau mati suri? Jangankan merencanakan liburan, investasi, atau menabung, membuat balance saldo antara pendapatan dan pengeluaran saja rasanya mustahil. Kalau sudah separah itu, ini adalah saatnya Anda melakukan "detoks keuangan".

Mulailah langkah ini dari sekarang agar keuangan Anda sehat dan bebaskan diri dari stres.

Kunci kebutuhan dasarPertama, siapkan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup tanpa mengorbankan kesehatan atau pekerjaan Anda. Hal ini termasuk mengisi tangki bensin, transpor, biaya sewa tempat tinggal, atau pengeluaran wajib rumah tangga. Jangan lupa uang makan, dari sarapan, makan siang, hingga makan malam, bila Anda termasuk pekerja dengan jam kerja panjang.

Simpan kartu kredit dan "cash" di rumah

Bawalah uang secukupnya di dompet, tinggalkan kartu kredit dan uang cash di rumah. Hal ini akan membantu Anda menjaga pengeluaran tetap pada budget yang sesuai dengan kemampuan Anda. Jadi, tak ada uang buat mampir membeli segelas kopi, latte, cokelat panas, dan godaan happy hour saat pulang kerja.

Jaga komitmenAkan sangat sulit bila secara alami Anda termasuk orang yang suka bersosialisasi. Selalu saja ada undangan kongko-kongko seusai kerja. Entah itu ngopi bareng teman hingga clubbing. Kalau itu yang terjadi, komitmen akan mudah runtuh, dan Anda kembali pada siklus pembelanjaan uang yang tak Anda butuhkan. Parahnya, uang yang dibelanjakan sebenarnya  Anda tak punya karena Anda membayar dengan kartu kredit.

Anda sebenarnya tak perlu hilang dari peredaran dan menyiksa diri sendiri. Cukup batasi jadwal bersosialisasi menjadi satu atau dua minggu sekali, atau paling tidak sebulan sekali. Atur jadwal sesuai kemampuan. Ingat, jujurlah pada diri sendiri! Tak perlu ada yang tahu (kecuali Anda sendiri) kalau Anda tak mampu makan malam di bistro atau restoran yang baru buka, yang rencananya akan dikunjungi teman-teman Anda pekan ini. Atau mulai melakukan sendiri perawatan kecantikan di rumah.

"Ingin" versus "butuh"

Tidak menghabiskan uang itu terbukti cukup sulit dan bisa dikatakan sebuah misi yang mustahil. Apalagi mal tumbuh menjamur, saat melewati etalase toko,  Anda pasti ingin melihat-lihat dan aksi ini berakhir dengan membeli. Sebelum Anda tergoda membeli, coba tarik napas dan pikirkan, "Apakah saya butuh ini?" Jika masih ingin membeli pikirkan lagi, "Apakah benar-benar mendesak hingga tak bisa ditunda?" Tenang saja, sepatu flat yang lucu itu memang tak akan ada lagi di toko saat Anda punya uang cash, tetapi akan selalu ada barang baru yang keluar dan jauh lebih up to date.

Kerjakan PR Anda

Ketika Anda menghabiskan waktu dengan tidak menghabiskan uang selama masa detoks, penting untuk tetap menyibukkan diri dan mengalihkan perhatian setiap saat.
Caranya, bikin daftar hal yang harus Anda kerjakan (kalau sudah memiliki to do list, saatnya kerjakan!). Misalnya, lemari pakaian yang perlu ditata ulang dan tidak sempat Anda lakukan karena terlalu sibuk bersosialisasi. Singkirkan barang-barang yang sudah tak dibutuhkan yang menumpuk di rumah. Pasti Anda sudah sumpek melihatnya, hanya saja tak pernah "sempat" Anda lakukan. Menata ulang tata letak perabot kamar. Membaca buku yang sudah Anda beli. Dan tentunya menikmati tayangan TV kabel yang tiap bulan Anda bayar tetapi tak pernah "sempat" Anda tonton.

Nah, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya! Anda akan terkejut dengan banyaknya hal yang selama ini tak bisa Anda kerjakan, akhirnya terselesaikan.

Lacak dan hitung

Setiap kali Anda berkeinginan untuk menghabiskan uang untuk sesuatu yang Anda inginkan tetapi bukan kebutuhan, catat item dan harganya. Saat akhir minggu kalkulasikan, dan lihatlah jumlah yang berhasil Anda tabung. (Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, July 05, 2012

Kerja Paruh Waktu, Buang Gengsi Jauh-jauh!

idup di negeri orang saat menimba ilmu tentu bukan perkara gampang, terutama bagi mereka yang jauh dari dukungan finansial orang tua sehingga harus mandiri menghidupi diri sendiri.

Menambah uang saku dengan bekerja paruh waktu (part time) memang sebuah solusi, tetapi itu juga butuh kemauan tinggi dan kerja keras, bukan pekerjaan enteng.

"Saya mempunyai part time job sebagai waitress di Izakaya, semacam restoran kecil bergaya Jepang. Melalui part time job ini saya bisa belajar banyak hal, mulai dari memperlancar bahasa Jepang, belajar berkomunikasi, juga yang belajar etos kerja orang Jepang," ujar Yovita Lily, mahasiswi bidang studi Media, Culture, and Society di Retsumeikan Asia Pacific University (APU), Bepu, Jepang, kepada Kompas.com, Selasa (3/7/2012).

Menurut dia, banyak manfaat ia dapatkan dengan mempelajari etos kerja orang Jepang yang sehari-hari ia temui, mulai soal disiplin waktu, ketahanan mental, ketelitian, memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen atau tamu, dan sebagainya. Selain itu, kata Lily, dengan mempunyai part time ini, dirinya bisa mengurangi beban orang tua dalam masalah ekonomi.

"Sebelum saya bekerja part time, saya mengambil 50.000 yen per bulan dari orang tua. Sekarang, saya mengambil 30.000 yen per bulan. Uang hasil part time ini biasa saya gunakan untuk biaya hidup," ujar Lily, bangga.

Buang gengsi

Menambah uang saku dengan bekerja paruh waktu (part time) memang sebuah solusi ketika harus hidup jauh dari orang tua demi tuntutan studi. Namun, hal itu membutuhkan kemauan tinggi dan kerja keras karena bekerja sebagai part timer bukan pekerjaan enteng.

Gengsi? Buang jauh-jauh!

Demikian menurut pengakuan Erica Marcella Dewi yang mengambil bidang studi International Transaction di jurusan Manajemen APU. Erica mengungkapkan, ada beberapa hal penting perlu diperhatikan menyangkut kerja paruh waktu.

Beberapa hal itu meliputi:

- Motivasi Bagi Erica, motivasi sangat berpengaruh dalam proses mencari part time job. Ia mengaku, motivasinya saat itu adalah keinginan untuk bisa mencukupi biaya hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang tua.

"Saya melakukan part time job di tahun pertama sebagai orang yang bertugas untuk membersihkan setiap ruangan kelas, dan saya mampu membayar 50 persen dari biaya tempat tinggal (AP House). Di akhir tahun kedua, saya mulai mampu membiayai seluruh keperluan saya sendiri, dan hal ini membuat saya bersyukur dan bangga bahwa saya tidak membebani orang tua karena saya berasal dari keluarga menengah ke bawah," kata Erica.

Namun, ia mengaku, semangat dan dorongan orang tuanya juga sangat berpengaruh dalam dirinya.

- Keberanian

Di tahun kedua kuliah, Erica menuturkan, dirinya mulai giat mencari part time job. Setiap hari, ia selalu berpikir keras untuk mencari cara untuk mendapatkan kerja paruh waktu.

"Setiap melihat banner mengenai part time job, selalu saya telepon. Hingga akhirnya, berbekal bahasa Jepang yang standar, saya berhasil mendapatkan part time job di restoran," tutur Erica.Dari pekerjaan inilah, kata Erica, dirinya mampu membiayai semua keperluannya. Bahkan, ia mengaku mampu membayar uang kendaraan (tiket bus seharga 94.900 yen—setara Rp 11.080.524 per tahun) dari hasil menabung. "Sekarang menjadi kepala dapur," ucapnya.

- Tak mudah menyerah

Erica mengaku pernah mendapatkan pekerjaan sebagai chef atau juru masak di salah satu restoran. Pada saat itu, kemampuan bahasa Jepang yang dia miliki masih di bawah standar.

"Tapi, karena kesukaan saya di bidang memasak dan saya sangat ingin mampu untuk belajar masakan Jepang, saya memutuskan untuk menerima tawaran sebagai juru masak meskipun saat training saya sempat merasa putus asa karena bahasa yang belum memadai dan peraturan yang sangat ketat. Tapi di situlah mental saya mulai diuji," kata Erica.

Seiring berjalannya waktu, lanjut Erica, dirinya mampu untuk melewati semua masalah. Ia bahkan berhasil menyandang chef perempuan satu-satunya di restoran itu.

"Banyak hal positif saya dapatkan dari part time job. Hal-hal tersebut adalah kemampuan belajar cara berpikir yang matang, kedewasaan dalam kepribadian, belajar untuk mampu mengatur waktu dengan baik, serta mampu menambah uang saku. Dari situlah perlahan saya berusaha mampu menggapai cita-cita saya, yaitu membahagiakan orang tua saya, apa pun caranya, yang penting halal," ujarnya.

Kini, setelah melalui semua rintangan, Erica mengaku sangat menginspirasi banyak orang. Meskipun hanya pengalaman-pengalaman kecil, harap Erica, kisahnya bisa membawa manfaat yang baik bagi Indonesia.​
(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, June 29, 2012

Fitriyanto, Kuli Bangunan yang Kini Bos Produk Salon Mobil

Fitriyanto hanya lulusan SMA. Tapi, berkat tekad yang diiringi dengan usaha keras, ia sukses menjadi produsen perawatan mobil merek Autofit. Pemilik PT Vitechindo Perkasa ini mampu membikin produk yang bisa bersaing dengan merek terkenal.

Hidup ini bagi Fitriyanto benar-benar sebuah perjuangan. Ia lahir dari keluarga sederhana, kalau tidak disebut miskin. Ayahnya hanya seorang tukang kayu. Tapi, dengan tekad yang bulat dan usaha yang kuat, Fitriyanto mampu menjadi seorang pengusaha produk perawatan mobil yang terbilang sukses. PT Vitechindo Perkasa, perusahaan milik Fitriyanto, berhasil memasok produknya ke bengkel resmi milik agen tunggal pemegang merek (ATPM) besar, seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, Honda, Nissan, Hyundai, Suzuki, Kia, dan Mazda. Bisnis ini menghasilkan omzet Rp 8 miliar per tahun.

Label merek produk buatan Fitriyanto adalah Autofit. Saat ini, ada 20 produk merek Autofit yang sudah diproduksi, antara lain produk sampo, semir ban, pelumas, pembersih evaporator, injection purge, cairan pembersih bahan bakar, pembersih blok mesin, pembersih karburator, dan pembersih ruang bakar mesin kendaraan.

Uniknya, untuk meracik Autofit, Fitriyanto sama sekali tidak memperdalam ilmu kimia secara formal. "Semua saya pelajari secara autodidak," kata pria kelahiran Purbalingga, 10 November 1972 ini. Ayahnya yang seorang tukang kayu tentu tak mampu menyekolahkannya tinggi-tinggi. Maka, ketika lulus SMA, pada tahun 1992, Fitriyanto langsung hijrah ke Jakarta. Anak bungsu dari lima bersaudara ini menjadi kuli bangunan. Enam bulan menjadi kuli bangunan, Fitriyanto pindah menjadi tukang bantu-bantu di rumah Rachmat Gobel, kini Presiden Komisaris PT Panasonic Manufacturing Indonesia. Di rumah itulah ia ketemu dengan salah satu manajer Panasonic. "Saya ditawari kerja," ujarnya. Ia lalu menjadi pegawai di Panasonic, divisi komponen, yang memproduksi semua speaker. Di waktu senggang, Fitriyanto selalu meluangkan waktu untuk membaca buku kisah orang sukses. "Saya menghimpun tekad untuk menjadi orang sukses. Dari buku yang saya baca, orang sukses kebanyakan mengawali karier sebagai tenaga pemasaran (marketing)," kata suami Lihardiana ini.

Fitriyanto lantas hengkang dari Panasonic dan pada tahun 1995, ia menjadi tenaga pemasar di produsen minuman. "Saya mendapat upah Rp 75.000 per bulan, jauh lebih kecil ketimbang jadi kuli bangunan. Ketika jadi kuli, upah saya Rp 60.000 per minggu," kata Fitriyanto yang akhirnya keluar setelah tiga bulan bekerja. Lantaran bertekad jadi tenaga pemasar, Fitriyanto kembali masuk ke perusahaan cokelat selama setahun, sebelum akhirnya pindah ke PT Prima Karya Gandareksa, perusahaan kimia. Ia tetap jadi tenaga pemasar, tetapi dengan gaji Rp 5 juta per bulan. "Saya banyak belajar tentang produk perawatan mobil di sini," katanya.
Lantaran kinerjanya bagus, perusahaan menugaskannya ke Bali. Tapi, ia memilih mundur lantaran tak ingin jauh dari keluarga. Selama setahun, ia beberapa kali pindah kerja di perusahaan kimia. Fitriyanto akhirnya masuk ke perusahaan produk perawatan mobil dari Jerman.

"Di perusahaan ini, saya suka memperhatikan para peracik produk. Saya pelajari, bahan apa saja yang diramu menjadi produk perawatan," katanya.

Setiap Sabtu dan Minggu, dia pergi ke toko kimia untuk mempelajari bahan-bahan kimia yang bisa diramu menjadi produk perawatan mobil. Dia bertahan selama lima tahun di perusahaan itu sebelum akhirnya mengundurkan diri dengan posisi gaji terakhir Rp 24 juta per bulan.

Pinjam uang ke bank

Pengalaman di perusahaan pembuatan produk perawatan mobil membuat Fitriyanto percaya diri untuk memulai usaha sendiri.

"Sebagai tenaga pemasar, saya sudah memegang banyak pelanggan. Saya juga sudah bisa membuat produk sendiri," katanya. Dengan memanfaatkan bengkel sepeda motor di Cikeas, Bogor, yang didirikan saat masih bekerja, pada 2007, Fitriyanto memulai usaha produk perawatan mobil.

"Saat itu, cuma ada satu montir dan tempatnya sangat sederhana," kenangnya. Di bengkel itu, dia meracik bahan setelah memenangi tender pengadaan produk perawatan mobil dari salah satu bengkel mobil besar. Lantaran tak punya modal, Fitriyanto mencari pinjaman bank sebesar Rp 25 juta. "Karena tidak ada agunan, modalnya hanya kepercayaan. Bank itu menjadi pelanggan di bengkel kami," katanya.

Dari modal Rp 25 juta, ia bisa menghasilkan omzet Rp 80 juta. Tiga tahun berjalan, usahanya semakin besar. Dengan pinjaman bank yang lebih besar, dia membuka pabrik di daerah Cipayung, Jakarta Timur, dan mendirikan PT Vitechindo Perkasa. Saat ini, Fitriyanto memiliki 35 karyawan dan sejak awal bulan Juni 2012, dia membuka lembaga kursus bahasa Inggris dan komputer. "Saya sendiri tak bisa mengoperasikan komputer," katanya sambil tertawa. Ia juga membuka sekolah taman kanak-kanak sembari menjalankan usaha bengkelnya. (Fransiska Firlana/Kontan)

(Dari Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, June 12, 2012

TIDAK PERLU PINTAR UTK MENJADI SUKSES…

Jwb dgn cpt tnp pakai kalkulator...
Brp hsl 3 x 4..? Mudah?
Ok, kita ljtkan...
8 x 6 = …
9 x 9 = …
17 x 27 = …
53 x 89 = …
273 x 694 = …
Sebagian besar mungkin akan terhenti pada pertanyaan ketiga.
Kenapa?
Bukan karena anda tidak pintar atau kurang cerdas.
Tapi anda hanya tidak biasa melakukan perkalian besar.
Masih ingat saat kecil anda dulu..?
Guru, org tua, kakak & saudara anda mengajari perkalian 1-9 dengan banyak metode, lalu kemudian mereka minta anda utk menghapalkannya?
Itulah jawaban singkatnya.
Manusia memiliki 3 dimensi pikiran yg berbeda yaitu alam sadar (conscious mind), alam bwh sadar (pre-conscious mind) & alam tdk sadar (unconscious mind).
Apa yang anda lakukan dalam menjawab pertanyaan di atas hanyalah dengan memanggil memori yang telah tersimpan dalam alam bawah sadar anda yg dahulu diulang teras menerus dalam waktu yang lama.
Ini dikatakan sebagai Retrieval.
Shiv Khera dlm bukunya "8 kiat menjadi pemenang", bahwa segala sesuatu yang pada awalnya kita lakukan secara sadar & berulang kali & wakta yang cukup lama, akan mendarah daging dalam sistem tubuh & berubah menjadi kebiasaan.
Kenapa seorang Bill Gates yang DROP OUT dari bangku kuliah mampu membuat perusahaan raksasa Microsoft?
Bob Sadino yg hanya lulusan SD bisa menjadi pengusaha hbt di negeri ini, bahkan memberikan lapangan pekerjaan bagi sarjana² yang bingung cari kerja setelah lulus kuliah?
Mereka semua tidak PINTAR. Mereka semua hanya TERBIASA melakukan sesuatu berulang kali secara terus menerus & konsisten.
Itu rahasianya.
Coba bayangkan kalau misalnya waktu kecil dulu anda diajari & dipaksa menghafal perkalian 3 atau bahkan 5 digit.
Tentunya mudah bukan untuk menjawab semua pertanyaan di atas..?
Kuncinya adalah…
TERBIASA melakukan.. & biarkan kemampuan anda tmbh menjadi BESAR dgn sendirinya.
Pintar hanyalah sesuatu yg konseptual, bkn sesuatu yg kongkrit.
• Anda hanya bisa memahami sesuatu secara teoritis, tapi belum tentu mampu melakukannya.
¤ TIDAK PERLU PINTAR UTK MENJADI SUKSES…
¤ ANDA HANYA PERLU TERBIASA…
¤ MASIH BERPIKIR UNTUK MENJADI ORANG PINTAR…?
¤ PIKIRKAN SEKALI LAGI….SEBELUM MENYESAL…
(Charles, Milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, May 01, 2012

Selisih Kemenangan

¤ Untuk memperoleh "Selisih Kemenangan" kita harus berjuang untuk meraih keunggulan bukan kesempurnaan.

¤ Kuda pemenang dalam pacuan, memenangkan lomba 5 atau bahkan 10 banding 1.

• Pertanyaannya...Apakah kuda ini lebih cepat 5 atau 10 kali dari kuda lainnya?

Tentu saja tidak.
Kudanya hanya Menang Tipis.
Mungkin jaraknya sepanjang hidungnya di photo finish.Tapi penghargaannya mungkin 5-10 kali lebih besar.

• Apakah ini Adil?

¤ Siapa Peduli?

¤ Tidak Masalah.
• Semua adalah aturan dari permainan.

• Seperti itulah pertandingan dimainkan.

• Demikian juga dengan hidup kita.
¤ Orang Sukses bukan berarti 10 kali lebih pandai dari orang yang gagal.

¤ Mereka mungkin sedikit lebih baik, tapi imbalannya mungkin 10 kali lebih besar.

• Kita tidak perlu meningkatkan 1000% di bidang apapun.

¤ Yang kita butuhkan hanya• Peningkatan 1% pada 1000 bidang yang berbeda..

• Ini berarti lebih mudah.

¤ Inilah yang disebut"Selisih Kemenangan". (Charles asiku, milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, April 14, 2012

Pemenang Melakukan dengan Cara Berbeda

Seekor lalat terperangkap dlm pintu kaca yg tertutup rapat.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan & kelaparan.

Esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Sekelompok semut serentak mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati.

Seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua"Mengapa dia sekarat?".

"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yg seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh² telah berjuang keras berusaha keluar dari kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan mati".

Semut kecil itu bertanya lagi "Aku masih tak mengerti, bukannya lalat itu sdh berusaha keras? Kenapa dia tidak berhasil?".

Semut tua itu menjawab"Lalat itu bagaikan seorg yg tdk kenal menyerah & telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara² yg sama".

Semut tua dengan mimik & nada serius berkata:

"Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dgn cara yg sama namun mengharapkan hasil yg berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".

"Para pemenang tdk melakukan hal² yang berbeda, mereka hanya melakukannya dgn cara yg berbeda.
(Charles, milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, April 09, 2012

Atasi 5 Ketakutan dalam Pekerjaan

Takut gagal mencapai target, takut bosan dengan pekerjaan sekarang, atau jadi minder kala ditawari naik jabatan? Bila ketakutan ini juga menghantui Anda, temui sebab dan solusinya segera.
Survei yang dilakukan oleh CareerBuilder.com kepada para follower mereka di Twiiter menyebutkan, ada beberapa professional fears yang kerap menghantui para jobseeker hingga CEO, berkaitan dengan kinerja dan kemampuan diri walau sebenarnya semua berjalan dengan baik-baik saja, yaitu:
1. Dikalahkan oleh si anak bawang.
Hal yang hampir dirasakan oleh semua senior: tak mau kalah banding junior, baik soal gaji hingga kemampuan diri. Hal ini menjadi salah satu faktor munculnya  rasa takut kalau si anak bawang memiliki nilai lebih baik di mata atasan atau mendapat promosi lebih dulu dibanding Anda. Ruth Mott, pemilik dari Mott Consulting di Chicago mengatakan banyak orang cenderung meremehkan kemampuan diri saat bersaing dengan rekan lain.
Solusi:
Evaluasi kinerja. Anda perlu tahu sampai mana kemampuan Anda bila dibandingkan dengan si anak bawang. Lama bekerja kini bukan patokan satu-satunya yang digunakan perusahaan untuk menilai siapa yang lebih layak mendapat promosi.
Saat merasa jenuh dengan pekerjaan dan ini membuat si anak bawang berlari lebih cepat, lakukan kegiatan yang bisa menyegarkan kembali pikiran dan tubuh. Lalu, buat ulang target karier ke depan. Bila tujuan Anda ingin naik jabatan, bangkitkan lagi semangat, asah skill, dan perluas pengalaman demi masa depan cerah.
2. Gagal mencapai target perusahaan.
Misalnya saat ingin diangkat menjadi manajer, di samping rasa bangga, ada rasa takut kalau nantinya tak bisa menjadi atasan yang baik, tak bisa mencapai target,  atau mengambil keputusan yang salah. Ini juga yang kerap dialami oleh sebagian klien Jeffrey Millano, Business Consultant ThePeopleChemist.com.
Solusi:
Berpikir matang sebelum mengambil keputusan memang mutlak, namun tak perlu berlarut-larut mendekati deadline. Lebih baik cepat mengambil keputusan sehingga cepat memperbaiki bila itu salah. Percaya bahwa di dunia ini ada yang namanya kebetulan atau bahkan keberuntungan. Segalanya sesuatunya dapat diupayakan, dipersiapkan dengan matang, dan tentunya dibarengi dengan doa.
3. Tak bisa membagi waktu antara kehidupan pribadi dan profesi.
Bagi sebagian perempuan, mungkin Anda salah satu yang mengalami ketakutan ini. Usia seperempat baya dianggap waktu yang pas untuk punya suami dan anak. Namun, ketakutan tak bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan kerap menghantui kala pernikahan sudah di depan mata. Hal ini dialami oleh perempuan karier yang sudah berkeluarga. "Bukan hal mudah menjalani dua peran sekaligus, namun selalu ada solusi," ujar Bronagh Hanley, Entertainment Publicist di San Francisco.
Solusi:
Buatlah daily plan, selesaikan pekerjaan tepat waktu dan hindari lembur. Bila pekerjaan terlalu banyak, percayalah kalau Anda punya peluang untuk merasakan kerja di tempat lain. Bila bekerja full time tak memungkinkan, coba cari peluang untuk part time, seperti menjadi freelancer atau berbisnis sebagai kegiatan positif untuk mengembangkan diri.
4. Takut mencoba karier baru.
Tak banyak berubah dan berakhir dengan karier yang statis, Anda tentu tak ingin mengalami hal ini bukan? Setiap orang memang wajib bersyukur dengan karena telah mendapat pekerjaan, namun tak ada salahnya untuk mencoba kesempatan lain bila memang kurang afdol dengan pekerjaan sekarang, entah lingkungan kerja atau gaji. Hanley mengatakan, "Sebagian orang mungkin akan menjatuhkan semangat Anda dengan berkata kalau mencari pekerjaan itu sulit. Akhirnya Anda terpaksa makan hati terus karena budaya kerja yang tak sesuai."
Solusi:
Bila keluhan lebih sering keluar dibanding rasa syukur, sebaiknya lakukan sesuatu yang bisa membuat Anda bahagia, berkarier di tempat lain misalnya. Sebelumnya, cari informasi tentang perusahaan itu, apakah sesuai dengan pribadi Anda atau tidak. Jangan memberikan surat pengunduran diri sebelum mendapat pekerjaan pengganti. Pertimbangkanlah biaya hidup Anda sebelum berhenti kerja.
5. Dikucilkan oleh rekan lain.
Ketakutan ini kerap dialami oleh karyawan baru. Apalagi bila rekan senior tampak tak mau terkalahkan. Alhasil Anda bekerja biasa-biasa saja, menolak ajakan makan siang bos, atau merasa tidak enak terus-terusan agar mereka bersikap baik.
Solusi:
Bila Anda punya poin plus di mata perusahaan karena kinerja yang memuaskan, jelas ini bukan kesalahan. Namun bila kedekatan dengan bos membuat pihak lain iri dan melakukan hal yang mengganggu ketenangan, tak ada salahnya meminta solusi pada si bos. Jaga hubungan baik dengan semua rekan dengan tetap bersosialisasi. Tak perlu mengasingkan diri karena hanya akan memperburuk keadaan. (Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, March 22, 2012

‎Ingat 12 Kata "Jangan Menunggu!"

‎​12 kata "Jangan menunggu" yg perlu dihindari:

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru berbagi, tapi berbagilah, maka kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan...

5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tâÞi pahamilah orang itu, maka orang itu akan paham dengan kamu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai,maka kamu akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah,. bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah,maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

Dan...Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan tulisan ini kepada semua orang yang anda kenal...sehingga kita semua tersadar...

Life is beautiful
(NN)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, December 30, 2011

9 Resolusi Proaktif untuk Karier Cemerlang

Tahun segera berganti. Waktunya Anda memulai perencanaan karier agar lebih baik lagi di tahun depan. Anda bisa mengadopsi saran yang diberikan Shelly Gorman, direktur managemen karier dari UNC Kenan-Flagler Business School, tentang beberapa resolusi proaktif yang bisa dilakukan untuk meningkatkan karier Anda.
1. Cek kembali manajemen karier Anda.
Untuk memastikan Anda berada pada jalur karier yang tepat untuk Anda, maka tak ada salahnya untuk mengecek kembali dan intropeksi diri Anda dengan pertanyaan seperti, "Dalam pekerjaan ini apakah saya bisa sepenuhnya memanfaatkan keahlian saya?", "Apa visi lima tahun saya ke depan, dan apakah karier saya yang sekarang bisa mewujudkan hal ini?", "Apakah saya menikmati apa yang saya lakukan sekarang ini?"
2. Miliki pola pikir proaktif.
Terkadang banyak orang yang terperangkap untuk selalu menunjukkan nilai dan kemampuan mereka, tapi sayangnya mereka tidak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka tidak berpikir proaktif dan malu bertanya. Dalam manajemen karier, menjadi rendah hati dan proaktif memang sangat dibutuhkan.
3. Temukan "merek" Anda dan "jual diri" Anda.
Seringkali, banyak orang tidak mampu "menjual diri" mereka dengan baik ketika mencari pekerjaan baru atau bersaing untuk mendapatkan posisi baru di kantor mereka saat ini. Temukan berbagai hal yang menjadi kekuatan Anda dalam bekerja. Setelah Anda menemukan kekuatan diri, Anda akan lebih mudah mengkomunikasikan keterampilan, potensi, dengan pekerjaan yang akan Anda lakukan.
4. Memotivasi diri.
Untuk mendapatkan posisi dan karier yang lebih baik lagi maka Anda tak boleh berhenti untuk tetap belajar dan memotivasi diri. Ambillah sebuah kelas keterampilan atau kembali ke bangku kuliah untuk mengembangkan keterampilan dan memajukan karier Anda tanpa mengganggu pekerjaan Anda.
5. Membangun networking.
Tak bisa dipungkiri bahwa adanya jaringan atau networking bisa berpengaruh pada peningkatan karier Anda. Terutama jika pekerjaan Anda berhubungan dengan orang lain dan membutuhkan adanya hubungan dengan orang lain. Namun Gorman mengatakan, bahwa sebenarnya networking ini hanyalah sebagai alat pendukung untuk melakukan pekerjaan Anda, bukan sepenuhnya dapat membantu Anda mendapatkan pekerjaan.
6. Terus belajar.
Jangan pernah malu untuk tetap terus belajar dari orang lain yang lebih sukses untuk membantu membangun kemajuan karier Anda. Namun, jangan hanya belajar dari satu orang saja, ada baiknya untuk belajar dari beberapa orang sukses sekaligus. Karena dengan berkonsultasi pada beberapa orang sekaligus, Anda dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan dari berbagai sudut pandang.
7. Jangan terlalu banyak berasumsi.
Jangan biarkan asumsi negatif Anda tentang industri atau posisi pekerjaan tertentu menghambat kemajuan karier Anda. Jika kebetulan Anda ditawarkan untuk mengisi posisi jabatan baru, maka jangan terlalu berasumsi negatif. Sebaiknya lakukan beberapa penelitian sederhana tentang pekerjaan tersebut dan posisinya agar Anda bisa melakukannya dengan baik. Jangan mudah menyerah dan pesimis sebelum Anda mencobanya karena terpengaruh berbagai asumsi negatif.
8. Buatlah perencanaan pengelolaan karier.
Buatlah rencana manajemen karier Anda lengkap dengan tolok ukur dan metrik rencana kerja. Hal ini bertujuan untuk membantu visi kerja Anda tetap berada di jalur yang tepat. Selain bekerja, buatlah rencana untuk menghadiri berbagai pertemuan untuk menjalin relasi dengan orang lain sekaligus bisa membantu Anda untuk berpikir proaktif. Seringkali, orang-orang terlena dengan menjalankan kehidupan yang mengikuti arus. Padahal, waktu Anda akan lebih bermanfaat dan menyenangkan, karier pun semakin naik kelas, jika Anda memiliki rencana tertentu pada karier dan hidup.
9. Jadilah teman yang baik untuk diri sendiri.
Kita seringkali mengandalkan teman baik untuk mendapatkan nasihat. Jika Anda begitu yakin dengan nasihat sahabat Anda, mengapa tak coba melakukannya terhadap diri sendiri? Percayalah bahwa Anda bisa memotivasi diri Anda jauh lebih baik karena Andalah yang paling tahu apa yang tepat untuk Anda dan hal yang paling baik yang bisa Anda lakukan.
(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, December 29, 2011

Anies: Gunakan Internet untuk Merajut Masa Depan

Rektor Universitas Paramadina Dr Anies Baswedan mengatakan, para pemuda seharusnya menggunakan media sosial di internet untuk merajut masa depan, bukan sekadar menjalin relasi masa lalu.
"Bagi anak muda, internet tak boleh sebatas merawat relasi masa lalu, internet harus jadi alat untuk merajut masa depan," kata Anies yang juga Pendiri Gerakan Indonesia Mengajar melalui akun Twitter-nya di Jakarta, Kamis (29/12/2011).
Menurut dia, merugilah anak muda yang menggunakan internet sekadar untuk melanggengkan pertemanan di bangku SD, SMP, SMA, dan kuliah seperti banyak dilakukan anak muda yang sangat gandrung pada Facebook, Friendster, atau media sosial internet lainnya, termasuk messenger, hingga milis (mailing list-red).  
Anak muda seharusnya rajin membangun jaringan masa depan, termasuk dengan memanfaatkan internet dan membuat jejaring dengan para pemuka di berbagai bidang di belahan bumi mana pun.
"Sudahkah bangun networking dengan para ahli terkemuka di bidang Anda? Ikutkah Anda  di milis-milis dunia atau 'virtual exchanges' di bidang Anda?" katanya.
Gunakan internet untuk mendekatkan diri dengan pusat-pusat kemajuan, ujarnya, bukan sebaliknya malah mengisolasi diri dalam lingkar pergaulan masa lalu.
Sebelumnya pada Pembukaan Pesta Blogger 2011, Anies juga pernah menyatakan harapannya kepada komunitas online agar dapat membangun optimisme bangsa melalui tulisan-tulisan di blog berhubung media "mainstream" Indonesia akhir-akhir ini dilanda pandangan bernada pesimis.
Menurut dia, pesimisme itu dapat dilawan oleh komunitas online di Tanah Air, khususnya melihat potensi pertumbuhan era digital yang kian tinggi di Tanah Air dan membuka kesempatan besar bagi generasi internet di Indonesia untuk membangun sisi optimisme bangsa.
"Dengan mengisi blog ataupun media sosial dengan pesan-pesan positif, kita memenuhi persyaratan untuk optimis. Cara pandang optimis selalu melihat kesempatan dalam kesulitan, berbeda dengan cara pandang pesimis yang selalu melihat kesulitan dalam kesempatan," ujar Anies.
(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, October 19, 2011

4 Kualitas yang Atasan Harus Punya

Posisi baru sebagai atasan berhasil Anda dapatkan. Posisi penting ini harus dijalankan lebih baik dengan kualitas diri terbaik.

Sebelum memulai tugas baru, simak kembali pesan Jeffrey J Fox, dalam bukunya How To Become A Great Boss. Menurut Jeffrey, ada empat ciri pemimpin hebat:

1. Si atasan tidak takut untuk tidak tahu segalanya, atau untuk tidak tahu sesuatu. Artinya, ia mau terus belajar, bahkan dari bawahan.

2. Si atasan memberikan kesempatan kepada staf untuk berpikir sendiri dan berdiri sendiri. Kepercayaan menjadi salah satu kunci sukses keberhasilan tim kerja di kantor.

3. Si atasan tidak pernah merasa tahu segalanya. Sikap mau mendengarkan juga penting dimiliki atasan. Ini akan menimbulkan perasaan nyaman di level bawah.

4. Si atasan mengerti bagus bahwa orang-orang yang bagus dalam bekerja, tahu pekerjaannya. Pemahaman yang baik mengenai kualitas personal dalam tim membuatnya lebih obyektif dalam memberikan penilaian terhadap anggota timnya. (Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, September 19, 2011

Rahasia Sukses Orang Jepang

1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam
kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama.
Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak memalukan" di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk "yang tidak dibutuhkan" oleh perusahaan.

2. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran.
Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena "mengundurkan diri" bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa
gagal menjalankan tugasnya.
Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas.
Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan.
Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun
norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme
berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan.
Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin kita sedikit heran dengan banyaknya
orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam
19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum
tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.
Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan
orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.
Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai
tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.
Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa
mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang
menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke
luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi.
Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah.
Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita.
Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo, ternyata Jepang tidak habis.
Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).
Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir
tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era berikutnya.
Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya.
Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).

7. Budaya Baca
Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.
Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk
materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA.
Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan
dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb).
Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684,
seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman
modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa
minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.
Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok.
Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa "1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok".
Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan "rin-gi" adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam "rin-gi".

9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya.
Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua.
Biasanya mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan
sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orang tua yang nantinya akan mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan
budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.
Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata "tidak" apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang
Jepang karena "hai" belum tentu "ya" bagi orang Jepang.
Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya.
Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang
tertinggi di dunia.
(Milis apik)

Friday, July 08, 2011

Dialog Sokrates: kebenaran, kebaikan, dan kegunaan

Suatu hari di jaman Yunani kuno, datang kepada Socrates (seorang filsuf besar di jaman itu) dan berkata:

"Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"

"Tunggu beberapa menit," jawab Socrates,

"Sebelum Anda menceritakan apa pun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test."

"Triple Filter Test?""Benar," kata Socrates."

Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test".

"Filter pertama adalah KEBENARAN. Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?"

"Tidak", jawab orang itu, "Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu."

"Baik," kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN.

Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, malah sebaliknya...."

"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar.

Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada satu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN.

Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"

"Tidak, sama sekali tidak."

"Jadi", Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, sesuatu yang buruk, dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?"

Itulah mengapa Socrates diakui sebagai filsuf besar dan sangat dihormati.

Sumber: Diambil dari milis Budaya Nilai KWI (diposkan oleh Sdri. Inri)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, February 02, 2011

Dendam Positif

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an.


Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokan yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan segera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur!"

Suara itu berasal dari mulut seorangi nsinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.

Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku?
Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur ?

Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan"DENDAM POSITIF".

Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.

Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu.

Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang
kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja.

Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.

Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.

Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu"

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini."

Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampaidi sini?

Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company)perusahaan minyak terbesar di dunia.

Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan"DENDAM POSITIF"

Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.

Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.

Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat "Dendam Positif."

(dari buku Dendam Positif karya Isa Alamsyah dan Asma Nadia).


Tuesday, December 07, 2010

Membangun Sebuah Perusahaan

Dear Leaders,

Sekedar sharing tentang kebijaksanaan2 yang harus dibuat untuk membangun sebuah perushaan. Informasi didapatkan dari beberapa sumber di Internet.Dalam membangun sebuah perusahaan, biasanya kita perlu kebijaksanaan-kebijaksanaan yang harus sudah jelas.Tujuannya supaya perusahaan mempunya peraturan yang jelas dalam melakuakan kegiatan sehari-harinya.

Berikut adalah beberapa topik-topik dasar yang bisa dianggap perlu untuk dibuat kebijaksanaannya:

1. Masa Percobaan (Trial period)
2. Status Pekerjaan (Employment Status)
3. Jam Kerja (Work Hours)
4. Periode Pembayaran (Pay Periods)
5. Pengaturan Liburan (Holiday Policy)
6. Pengaturan Cuti (Vacation and Leave Policy)
7. Penggunaan Telepon (Telephone Use)
8. Pengaturan Jumlah Kehadiran (Attendance Policy)
9. Time Card
10. Pengumuman Tertulis (Written Notice)
11. Pengaturan Tingkah Laku Karyawan dan Lingkungan Pekerjaan (Employee Conduct and Workplace Environment Policy)
12. Kebijaksanaan Tempat Kerja Mengenai Kekerasan (Workplace Violence Policy)
13. Pelaksanaan dari Kebijkasanaan (Enforcement Policy)
14. Peninjauan Kinerja Karyawan (Employee Performance Review)
15. Pengaturan Ganti Rugi Jaminan Karyawan Workers Compensation Claims Policy)
16. Pengaturan tentang Alkohol dan Obat-Obatan (Drug and Alcohol Policy)
17. Uraian Pekerjaan (Job Description)
18. Penggantian Ongkos Perjalanan dan Pengeluaran (Travel and Expense Reimbursement)
19. Data Karyawan (Personnel Records)
20. Pengaturan Mengenai Kerahasiaan (Confidential Policy)
21. Penggunaan Komputer (Computer Use Policy)
22. Manfaat Asuransi dan Kesehatan Bagi Karyawan (Health Insurance and Benefits Policy)
23. Kebijaksanaan Tempat Kerja Mengenai Pelecehan Sexual (Sexual Haraassment Policy)Daftar di atas hanyalah sebuah guidline.

Bisa ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan dari perusahaan.
Semoga Bermanfaat.

Regards,
Herry WidjajaHAO Event Management"Developing People, One Person at A Time

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, March 26, 2009

ATUR WAKTU AGAR TUGAS LANCAR

Bagi pekerja kantor yang sibuk, waktu ibarat benda hidup yang selalu mengejar-ngejar anda. Seringkali tugas tidak terselesaikan secara maksimal karena diburu-buru waktu. Hal ini salah satunya disebabkan kurangnya kemampuan anda dalam mengatur waktu. Untuk mengantisipasinya, perhatikanlah kiat-kiat berikut ini.

Pertama, kerjakanlah tugas anda sesuai dengan prioritas. Jika tugas anda banyak, susunlah tugas tersebut sesuai dengan skala prioritas. Bisa dimulai dengan mengerjakan tugas yang tersulit hingga yang termudah atau sebaliknya, sebaiknya sesuai dengan cara anda bekerja. Janganlah lupa kerjakanlah tugas tersebut dengan irama pas, tidak terlalu lambat atau cepat.
Kedua, perkirakanlah berapa lama waktu yang anda perlukan untuk menyelesaikan tugas. Selain itu, aturlah waktu yang tepat untuk memulai tugas tersebut. Dengan kedua hal ini, anda akan bersikap realistis terhadap rencana dan tugas-tugas. Jangan lupa, anda juga perlu mempertimbangkan kemampuan anda dan tim dalam menyelesaikan tugas tersebut.
Ketiga, jangan terlalu terpaku pada lama waktu yang anda rencanakan untuk mengerjakan suatu tugas. Jika anda merencanakan untuk menyelesaikan tugas dalam waktu dua jam, misalnya jangan terpaku untuk menyelesaikannya dalam waktu tersebut. Akan jauh lebih baik jika anda berusaha menyelesaikannya dalam waktu yang lebih cepat. Dengan demikian anda dapat segera beralih ke tugas yang berikutnya.

Keempat, kerjakanlah tugas sesuai dengan disiplin diri yang baik. Kerjakanlah tugas sesuai dengan skala prioritasnya. Usahakan agar anda tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang kecil, seperti browsing internet yang tidak berhubungan dengan pekerjaan anda. Setelah tugas selesai dikerjakan, pastikan tidak ada bagian yang tercecer baru kemudian beri waktu bagi diri anda sendiri beristirahat sejenak untuk melonggarkan pikiran.Kelima, salah satu hal terpenting dalam mengatur waktu adalah dengan bersikap efisien. Hal ini sama dengan bersikap mudah dan berpikir praktis. Anda tak perlu menghabiskan waktu untuk berpikir rumit tentang bagaimana cara mengerjakan tugas. Intinya, jika suatu tugas dapat dibuat sederhana, mengapa harus dibuat sulit. Dengan bersikap efisien, tugas akan mudah diselesaikan dan anda akan mendapatkan lebih banyak waktu lagi untuk menyelesaikan tugas berikutnya. (INO/Kompas/13-11-2008).

Tuesday, March 10, 2009

Pengalaman Bukan Syarat Mutlak Melamar Pekerjaan

Saat baru lulus kuliah, sering kali para calon pelamar ini bingung akan menulis surat lamaran pekerjaan seperti apa, karena pada umumnya banyak perusahaan yang mensyaratkan pengalaman kerja. Mau tak mau, hal ini membuat sebagian calon pelamar merasa minder lantaran selama kuliah nyaris tak punya pengalaman kerja.

Sebenarnya sebelum melamar pekerjaan kita terlebih dahulu harus tahu apa yang diinginkan perusahaan. Umumnya perusahaan menginginkan calon karyawan yang bisa berkontribusi langsung. Buat yang baru lulus kuliah, jangan pernah putus asa karena pengalaman yang dimaksud bukan melulu pengalaman kerja di perusahaan lain, tetapi pengalaman yang berkaitan dengan bidang industri yang digeluti.


Contohnya, jika anda ingin berkontribusi dan bekerja pada perusahaan periklanan, pastikan anda memiliki kemampuan – syukur-syukur pernah menang lomba – menggambar, mengkreasikan iklan, atau bahkan menulis karena sebuah biro iklan pastinya memiliki kebutuhan yang tinggi akan desainer grafis atau copy writer sebagai bagiannya.


Oleh karena itu dalam melamar, perhatikan kualifikasi apa yang perusahaan tersebut inginkan. Lazimnya lagi, perusahaan mengharapkan oramg yang dapat belajar dan menyesuaikan diri dengan cepat agar bisa dikembangkan untuk kemudian berkontribusi secara maksimal.


Bahkan tidak sedikit lho, perusahaan yang lebih suka mencari sarjana fresh graduate ketimbang yang sudah berpengalaman agar bisa dididik sesuai dengan visi dan misi perusahaan yang bersangkutan. Pastinya mereka yang terpilih umumnya memiliki prestasi, aktivitas, dan kreativitas di atas rata-rata karena perusahaan mengharapkan kecerdasan dan kreativitas mereka akan berguna bagi perusahaan dan nantinya bisa berkontribusi secara maksimal.Oleh karena itu, saat kuliah jangan hanya terpaku pada buku teks. Tak ada salahnya jika anda sesekali membantu kegiatn kampus, mengikuti kegiatan ekstra kurikuler atau organisasi lainnya yang dapat mengasah kreativitas dan memberikan nilai tambah pada pengalaman hidup anda. AYA/ Kompas/21/12/2008.

Tuesday, March 03, 2009

KONTROL DIRI ADALAH SENJATA PERUBAHAN

Semua orang pasti setuju dengan “magic”-nya puasa di bulan Ramadhan (atau di masa Prapaskah pada umat Katolik, red.). Kekuatan niat yang begitu besar menjadikan kita yang tadinya tidak kuat menahan haus dan lapar di hari biasa, di bulan Ramadhan bisa melakukannya tanpa merasa berat. Bahkan, dengan puasa penyakit malah sembuh, badan terasa lebih ringan. Latihan kesabaran, kegigihan dan keuletan ini memang benar-benar memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk lebih banyak bertaqwa, lebih bisa mengelola diri sendiri dan tentunya “naik kelas” sebagai manusia. Suatu latihan yang sangat berharga untuk individu yang memang ingin mematangkan jiwa!

Tantangan kita, tentu saja, me-maintain kompetensi control diri, emosi dan pikiran ini seusai masa Ramadhan. Sayang sekali bila kita kembali “loss control”, sehingga upaya latihan kita selama Ramadhan tidak kelihatan impact-nya. Misalnya kita kehilangan control diri lagi dengan kembali memborong barang yang tidak perlu, boros energi, melanggar lampu lalu lintas, terlambat dating ke kantor, sehingga semangat untuk bersabar dan menjadi manusia yang gigih kembali ke titik nol lagi.

Seorang rekan yang naik bobot badannya 20 kg semasa hamil, menjamin bahwa berat badannya bisa kembali seperti sedia kala dalam waktu 4 bulan. Ketika ditanya kunci kesuksesannya, ia menjawab santai: “Puasa”. Ia mengatakan bahwa dengan berpuasa senin kamis, ia mempunyai control diri terhadap pola makannya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa selama ini ia makan berlebihan dan menciptakan mekanisme persepsi terhadap terhadap makahan yang beda. Akhirnya pola disiplin dan pola makannya berubah. Ini adalah contoh orang yang memanfaatkan latihan sebagai sarana peningkatan kualitas diri.

Kontrol Diri adalah Senjata Perubahan

Tidak seperti burung-burung yang bermigrasi secara otomatis saat pergantian musim, manusia, makhluk berakal budi paling super di muka bumi ini, memang tidak bisa mengandalkan instingnya lagi untuk berdisiplin. Manusia digerakkan oleh habit-nya. Manusia juga pengambil keputusan yang sangat berbasis emosi, juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, sehingga ia mudah sekali berubah atau melanggar rencananya sendiri. Itulah sebabnya orang bisa memanfaatkan emosi untuk berbisnis, misalnya dengan membuat tren, membentuk komunitas, merangsang konsumerisme dan tanpa sadar menghancurkan pertahanan control diri individu.

Untungnya, keunikan individu membuat manusia mempunyai control penuh atas kemauannya, apakah ia akan memenuhi kebutuhannya atau tidak, memilih kapan “timing” terbaik, memilih di mana mendapatkannya dan mengontrol dengan cara apa ia akan memenuhi kebutuhannya. Contoh mudah, kita yang sudah berniat berhenti merokok, tiba-tiba ada di kerumunan perokok, yang menawarkan rokok pula. Pada saat ini, keputusan untuk memilih adalah seratus persen disadari oleh individu. Namun impuls, kebutuhan, keinginan individu bisa berkolaborasi dalam melemahkan control drinya. Pada saat inilah biasanya rasio atau pikiran individu bekerja, untuk mencari alasan pengampunan terhadap pelanggaran dirinya, untuk mengurangi rasa bersalah, sehingga individu tetap merasa “seimbang”. Situasi ini kita kenal dengan istilah rasionalisasi alias pembenaran. Pembenaran ini semula hanyalah dialog internal. Namun, bila individu berhadapan dengan lingkungan social, maka ia akan menyusun cerita pembenaran yang bisa diterima, sehingga perbuatannya cocok dengan situasi. Di sinilah control pertahanan diri bisa bobol dan tanpa sadar, tindakan pelanggaran di-“bela” oleh individu sendiri. Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya berubah tanpa control diri yang kuat. Sebagaimana kita sadari, banyak yang berteori dengan perubahan tetapi tidak sadar bahwa kuncinya justru pada control dirinya. “Everybody thinks of changing humanity and nobody thinks of changing himself” (Leo Tolstoy).

Disiplin sebagai Impelementasi Kontrol Diri

Di zaman sekarang, kita jarang menemui orang yang sangat bangga dengan sikap disiplinnya. Bahkan disiplin dikaitkan dengan hukuman, surat peringatan, teguran keras, bahkan PHK. Padahal ini baru penerapan disiplin “kelas kambing”. Bila kita menaati rambu lalu lintas hanya bila ada polisi, tentunya kita tidak bisa mengaku bahwa kita orang berdisiplin. Untuk menjadi seorang yang berdisiplin, latihan-latihan untuk mengontrol diri harus dilakukan jutaan kali dan melalui proses yang panjang. Latihannya antara lain menahan desakan keinginan sambil mengevaluasi keyakinan, memperkuat motivasi dengan membayangkan hasil akhir yang lebih baik, serta mengelola konflik dengan membayangkan konsekuensi pelanggaran versus komitmen yang dibuat. Disiplin memang sering dimulai dari peraturan, tetapi disiplin yang sebenarnya adalah kalau sudah menjadi persepsi tentang hidup atau gaya hidup. Pada tingkat inilah individu baru bisa bangga pada kompetensinya ini dan bisa merasa percaya diri karena mempunyai sikap mental yang benar.

Untungnya Menadi Orang yang Terkontrol
Banyak orang mencampuradukkan sikap mengontrol diri dengan sikap kaku, keras, tegang atau terhambat. Sikap ini tentunya sangat berbeda, karena orang yang bisa mengontrol dirinya, sangat mampu untuk bersikap fleksibel pula. Sementara yang kaku dan terhambat, bisa saja tampil terkontrol, tetapi mudah patah, dan bahkan bisa meledak, lepas control. Orang yang terkontrol biasanya akan tampil tepercaya di pergaulan dan pekerjaan, berintegritas dan yang paling penting, mempunyai daya adaptasi terhadap perubahan. Orang dengan control diri yang baik akan mudah menjadi orang yang inovatif, bahkan dalam pergaulan bisa mengembangkan “sense of humor” dan empatinya. Bagaimana tidak? Orang seperti ini sudah mengalami gemblengan latihan control diri, di luar kewajiban puasa, secara berjuta-juta kali. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas/ 20/09/2008).


Monday, February 23, 2009

MARI BERBURU MASUKAN

Semua orang pasti setuju pentingnya masukan untuk perbaikan. Namun, seberapa baik dan terbukanya kita mendengar masukan, ketika masukan itu datang di depan mata kita? Seorang pebisnis teman saya tahu persis bahwa saat sekarang, kecanggihan pengaturan cashflow merupakan kunci pertahanan dan kesuksesan bisnisnya saat ini. Ia pun menyetujui direkrutnya seorang eksekutif yang bisa melakukan pengaturan keuangan secara lebih canggih. Saat eksekutif tadi mengemukakan perbaikan dan langkah perubahan yang ia canangkan, pebisnis tersebut langsung berkilah. Dengan daya persuasi yang kuat, ia justru mengarahkan eksekutifnya untuk mengerjakan cara lama saja.

Dalam situasi lain, saya menyaksikan seorang atasan mendengarkan presentasi bawahan yang menyajikan brutal facts yang perlu diwaspadai. Lucunya, atasan tersebut tidak me-“welcome” fakta yang disajikan, mengabaikan untuk menggali fakta dengan sikap skeptis yang sehat, tetapi malah berusaha mempersuasi audiens untuk berpikir bahwa ada kemungkinan data salah, cara pengambilan datanya tidak tepat, dan banyaknya pertimbangan yang tidak dimasukkan. Akhirnya, ‘brutal facts’ yang ditemui dimentahkan lagi, situasi pun tidak berubah, perbaikan bahkan tertolak karena tidak masuk ke benak pemikiran orang-orang yang hadir.

Kita sering mendengar komentar dari orang-orang yang sedang mengalami ke-“ribet”-an, “Anda tidak ngerti persoalannya, sih”. Padahal, saat kita berada dalam ketidakpastian dan kompleksitas seperti inilah, masukan pihak lain menjadi sangat penting. Rasanya tidak perlu mengadaptasi sikap periset yang selalu mengedepankan sikap kreatif dan kritis dalam memperoleh dan mengolah data. “Stakes are high, Feedback is a must”, kata orang.

Masukan: Obyektif atau Subyektif?

Berburu masukan itu ibarat berkeliling menanyakan pendapat tetangga tentang masakan yang baru pertama kali kita buat. Perasaan yang timbul memang bermacam-macam, mulai dari bertaanya-tanya, bangga, tersinggung, atau was-was. Apakah pendapat orang lain obyektif? Bukankah kita yang lebih tahu mengenai apa yang kita tekuni? Apakah mereka cukup ahli dan tidak asal cuap? Sepanjang kita bisa meyakini bahwa masukan itu berguna, kita akan tetap bisa memanfaatkannya. Kita hanya perlu betul-betul mendengar dulu. Kita sering lupa bahwa masukan itu tidak mengenal pangkat, status atau usia. Masukan dari para sesepuh, senior ataupun pegawai rendahan bisa sama berharganya, tergantung seberapa pasnya masukan itu dengan kebutuhan kita.

Kita juga tidak bisa serta merta meragukan obyektivitas masukan orang. Hampir semua situasi atau produk yang kompleks dinilai secara subyektif dan tidak mempunyai ukuran yang pas. Sebut saja produk “I-MAC Supert-thin” atau film “Laskar Pelangi”. Kita tidak akan bisa melihat dan menentukan apakah masukan orang bersifat subyektif atau obyektif, berdasarkan rasa suka atau tidak suka. Lalu, kalau begitu, apakah kita akan berhenti mengejar masukan?

Transparansi Berharga Mahal

Dalam sebuah tulisan mengenai tren 2009, dikatakan bahwa ini era adalah era ‘instant feedback’. Melalui GPS (Global Positioning System), keberadaan dan pembicaraan siapapun bisa dilacak secara real time. Orang butuh memotret kemacetan lalu lintas saat ini juga, polling pendapat mengenai popularitas diri sebagai politisi harus akurat dan terkini, bahkan instant. Ini adalah era transparansi. “Corporate Governance” pun sebetulnya tidak perlu disosialisasikan karena tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bila ada pihak yang menutup-nutupi kecurangan, pasti ada pihak lain yang akan membongkar faktanya. Tengok saja betapa KPK demikian cerdik mendaptkan fakta, demikian pula pers.

Saat sekarang kita memang mesti berlomba adu cepat untuk mendapatkan fakta, baik mengenai situasi pasar, competitor, kinerja perusahaan, kebijakan yang baru dibuat, terutama mengenai diri sendiri. Inilah saatnya kita menciptakan lingkungan dimana setiap orang dimanfaatkan pendapatnya tanpa rasa takut bicara. Kebutuhan terhadap masukan bukan berarti mengombang-ambingkan profesionalisme dan kekokohan prinsip kita, namun kita perlu meyakini bahwa pikiran kita mempunyai keterbatasan dan kita butuh pendapat lain, terutama untuk hal-hal yang menyangkut pengambilan keputusan yang kompleks.

Bola Tetap di Tangan Kita

Kita bisa jadi tidak sadar bahwa kita sering mentah-mentah menolak masukan. Padahal. bagi lembaga yang berbisnis servis serta orang-orang yang terbiasa bergerak maju, mereka bahkan rela membayar mekanisme feedback dengan harga mahal. Individu yang memberi masukan diberi hadiah, bahkan membeli haril riset dan survey kepuasan pelanggan berharga miliyaran rupiah pun dilakukan. Mengapa kesadaran mengenai perlunya berburu masukan ini tidak merata? Bahkan, pengelola pemerintah pun seolah enggan mendengar fakta di lapangan, mengabikan saran-saran ahli yang mumpuni, bahkan menolak brainstorming, yang sesungguhnya bisa menambah wawasan dan khazanah pengetahuan sebelum mengambil keputusan.

Seringkali, tertutupnya pikiran dan hati untuk berburu masukan, disebabkan karena kita tidak bisa memisahkan antara perasaan serta penjiwaan kita dengan permasalahannya secara obyektif. Bila kita terlalu lebur dengan masalahnya, kita bisa merasa ‘diserang’ bila pendapat atau tindakan kita dipertanyakan. Sebaliknya, kita pun sering lupa bahwa kita tidak perlu segera mengubah apa yang sudah ada pada kita atau kebijakan maupun tindakan yang sudah kita buat, kalau kita mendapatkan masukan yang bertentagan ataupun “nyeleneh”. Bolanya tetap di tangan kita.

Kita perlu secara intensif melakukan evaluasi tindakan kita, dan hanya masukan pihak lainlah yang bisa kita manfaatkan. Bayangkan, betapa ‘basi’-nya sikap keras kepala dan tidak mau menerima ‘feedback’. Hanya orang yang aktif berburu masukanlah yang bisa maju dan mampu menembus unpredictables, ketidakjelasan yang memang ditakuti semua orang. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/Kompas, 24/01/2009)
Related Posts with Thumbnails