Cari uang di sini!

Monday, June 06, 2016

Mengatasi Atasan Tak Kompeten

Maaf, siapa yang tidak kompeten? Atasan Anda? Oh, baiklah. Memang, banyak anak buah yang menganggap atasannya tidak kompeten. Ada yang menilainya secara obyektif. Dan ada pula yang sekedar penilaian subyektif belaka. Lantas, jika benar atasan Anda tidak kompeten; bagaimana mengatasinya?
 
Begini. Pertama, perlu disadari bahwa kehadiran kita sebagai bawahan adalah untuk menjadi penyokong kinerja atasan. Betul? Betul. Maka ketika sadar bahwa atasan Anda tidak kompeten, seharusnya; Anda memperkuat peran itu.
 
Faktanya, tidak ada kok atasan yang bisa mengerjakan semua hal sendirian. Apa lagi jika dia tidak punya background bidang yang kita kuasai. Makanya, nggak tepat kalau menuntut atasan bisa segalanya. Lagian, kita juga nggak serba bisa kan?
 
Anda jago di bidang Anda. Atasan Anda bukan bidang itu keahliannya. So what? Nggak perlu mempermasalahkan itu. Justru sudah menjadi tugas Anda untuk menyokongnya dari aspek keahlian yang Anda miliki.
 
Dari pada fokus pada kekurangannya, mendingan bantu dia dengan peran penting Anda. Sambil memberi kesempatan kepadanya untuk menampilkan sisi terbaiknya. Demi kebaikan kita bersama.
 
Ketiga. Kalau Anda sama sekali tidak suka sama dia sekalipun. Tetap saja bekerja dengan sebaik-baiknya. Tidak usah terlalu mengumbar rasa tidak suka Anda. Kenapa? Karena, hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa dia atasan Anda. Dan Anda, anak buahnya. Bahaya buat Anda malah. Nanti bisa terhambat karir Anda. Minimal, berkurang kenikmatan Anda dalam bekerja.
 
Ketiga. Kembangkan attitude Anda. Skill dan attitude itu dua mahluk yang berbeda. Jika sudah punya skill alias keahlian, maka pastikan juga punya attitude yang bagus. Ciri attitude yang bagus antara lain, menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk mensupport orang lain dalam team. Baik kolega, maupun atasan.
 
Mengungkit-ungkit kekurangan orang lain bisa menjadi indikasi buruknya attitude kita. Ingatlah bahwa banyak orang yang skillnya bagus namun karirnya terhambat oleh attitudenya yang buruk.
 
Jika Anda punya skill yang bagus, dan dengan sabar menunjukkan attitude yang bagus walaupun atasan Anda banyak kekurangannya, maka Anda akan mendapatkan kredit poin yang bagus. Cepat atau lambat, orang juga bakal tahu siapa true leadernya. Masih ingat tentang leader de jure dan leader de facto?
 
Banyak orang yang kecewa dengan kompetensi atasannya. Wajar, sebenarnya. Tapi apakah itu jadi baik atau buruk, bergantung cara kita menyikapinya. Jika karena kecewa pada atasan itu kita jadi kerja asal-asalan. Doyan bergunjing sama teman. Mengikuti irama dan pola kerja buruk orang lain, dampaknya bakal buruk.
 
Tapi jika karena kecewa dengan atasan yang tidak kompeten itu Anda semakin menunjukkan kompetensi Anda dalam menunjang kinerja team, maka Insya Allah; efeknya menjadi baik.
 
Tapi kan cape Dang kalau mesti nambalin bolong-bolongnya peran atasan?! Salah, kalau kita merasa nambalin. Yang bemar adalah, menjadikan kondisi itu momentum untuk bereksperimen; gimana caranya menjadi atasan yang bagus. Mumpung belum jadi atasan.
 
Memang benar, punya atasan yang kompeten itu enak sekali. Tapi kalau atasan kita kurang kompeten juga nggak bakal kalah enak kok. Kalau kita melihatnya sebagai peluang untuk mengembangkan diri.
 
Ketahuilah bahwa, semakin tidak kompeten atasan kita; makin dibutuhkannya dukungan anak buah yang kompeten. Sekarang, tinggal Andanya saja. Mampu menunjukkan kompetensi itu atau tidak. Memang, lebih mudah menonjolkan kelemahan atasan. Dari pada meminimalkannya dengan kompetensi kita. Tapi cara yang saya sarankan ini jelas lebih banyak manfaatnya, kan?
 
Hanya untuk 5 perusahaan di JABODETABEK. Inhouse Training 2-4 jam di bulan Ramadhan dengan special rate hanya Rp. 7,5jt saja. Topik yang tersedia "Spirituality At Work" DAN"Building Successful Professional Career". Silakan pilih salah satu topik yang cocok untuk kantor Anda. Hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
HR Development Consultant
 
Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Mungkin perusahaan Anda akan cocok juga dengan materi dan metode pelatihan saya. Hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Friday, April 15, 2016

Gaya Hidup dan Perencanaan Pensiun (PRITA HAPSARI GHOZIE)

Beberapa bulan lalu, saya menerima slip pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan untuk rumah di bilangan Jakarta. Betapa terkejutnya tatkala mendapati bahwa beban pajak yang harus saya bayarkan melonjak dua kali lipat!

Pikiran saya pun langsung melayang kepada beberapa tetangga yang sudah masuk usia pensiun, bagaimana mereka dapat membayar biaya hidup kelak? Kenaikan biaya hidup pasti menjadi sebuah tantangan tersendiri saat memasuki masa pensiun. Sudah siapkah kita apabila tiba masanya?

Persiapan pensiun dalam perencanaan keuangan adalah salah satu tujuan keuangan yang penting dalam hidup seseorang. Berdasarkan riset yang dirilis Bank Dunia, penduduk lansia di Indonesia diprediksi akan mencapai 50 juta orang di tahun 2025 dan akan terus meningkat setiap tahunnya. Dengan kemajuan teknologi kesehatan, para lansia juga memiliki harapan hidup yang lebih baik sehingga banyak saya temui saat ini adalah para pensiunan yang sudah menipis saldo asetnya disebabkan salah memperhitungkan besaran biaya hidup.

Kesalahan yang umum terjadi adalah menyepelekan biaya gaya hidup yang sulit untuk diturunkan. Banyak di antara kita beranggapan saat pensiun pengeluaran akan turun, padahal kenyataannya akan meningkat. Kapankah momen jalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau liburan ke luar kota? Saat bekerja, kegiatan tersebut biasa dilaksanakan di akhir pekan atau saat tanggal merah. Saat pensiun: everyday is a holiday!

Antisipasi

Untuk mengantisipasi kegagalan dalam mempersiapkan biaya hidup di masa depan, maka perencanaan pensiun adalah solusinya. Perencanaan pensiun dapat dibagi menjadi empat tahapan. Tahap pertama adalah masa awal, umumnya first jobber hingga usia 35 tahun. Fokus pada kedisiplinan dalam menyisihkan penghasilan untuk berinvestasi.

Tahap kedua adalah masa kemapanan, umumnya berusia 35 tahun hingga 50 tahun. Fokus dalam investasi seharusnya sudah mulai merambah ke aset keuangan yang dapat memberikan penghasilan pasif. Misalnya, membeli apartemen untuk disewakan, menambah lahan tanah untuk perkebunan, dan lainnya. Di masa ini, investasi juga dapat ditempatkan di produk keuangan yang agresif seperti reksa dana saham atau membeli saham lapis pertama. Aset yang lebih agresif ini diperlukan untuk keperluan biaya hidup di atas usia 65 tahun kelak.

Tahap ketiga adalah masa persiapan pensiun. Umumnya dimulai lima tahun menjelang pensiun. Di masa inilah sangat penting untuk menghitung secara tepat kebutuhan biaya hidup di masa pensiun dan sumber daya apa saja yang telah dimiliki. Khusus untuk pembaca dalam tahapan ini, di tulisan ini saya tambahkan tips dalam hal langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan.

Pertama, hitung jumlah aset dan kewajiban yang Anda miliki saat ini. Apabila Anda masih punya saldo utang pinjaman perumahan atau utang kartu kredit, maka inilah prioritas utama yang harus Anda lunasi mulai dari sekarang. Usahakan memulai pensiun tanpa beban utang.

Kedua, siapa saja anak atau tanggungan lain yang belum berusia 21 tahun. Anda harus menghitung dengan pasti kebutuhan dana pendidikan untuk mereka ditambah kebutuhan dana menikah. Perhitungan sebaiknya bukan hanya untuk biaya pangkal dan biaya semester, melainkan termasuk juga biaya hidup (kos, transportasi, dan lainnya) serta biaya buku.

Ketiga, buat anggaran untuk biaya hidup di masa pensiun. Perhatikan pos pengeluaran yang berpotensi meningkat di atas tingkat inflasi seperti pos transportasi, pos listrik, pos pajak, dan lainnya. Untuk pos pengeluaran lain, Anda bisa gunakan kenaikan inflasi normal. Jangan lupa juga tambahkan untuk pos biaya kesehatan yang umumnya akan meningkat kebutuhannya di masa pensiun.

Keempat, hitung sumber penghasilan Anda di masa pensiun. Secara umum untuk karyawan, Anda akan mendapatkan saldo Jaminan Hari Tua, saldo dana pensiun, dan mungkin uang jasa dari pekerjaan sebelumnya. Coba hitung kembali, apakah saldo dananya cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda kelak? Jika tidak, periksa jumlah aset yang telah Anda miliki.

Pada tahap ini, pengaturan aset investasi sebaiknya dilakukan dengan cermat. Aset investasi dan dana yang tersedia masih dapat dimaksimalkan untuk kenaikan modal pensiun. Penempatan dana dapat dilakukan di produk obligasi korporasi, reksa dana campuran, ataupun di bisnis. Cermati perkembangan investasi setiap tahun dan pastikan dana darurat tetap tersedia dalam jumlah yang ideal.

Tahap terakhir adalah masa mulai memasuki usia pensiun yang dapat dimulai sejak 55 tahun atau bahkan lebih cepat. Perencanaan dapat dilakukan dengan menyesuaikan aset yang tersedia dengan anggaran hidup yang baru. Alokasi aset investasi penting untuk dilakukan, terutama jika punya aset yang tidak produktif. Sebagian aset investasi yang akan digunakan sebagai sumber pendanaan biaya hidup harus dikonversi menjadi tabungan atau deposito. Usahakan untuk menggunakan bagi hasil bulanan sebagai sumber penghasilan.

Mempersiapkan masa pensiun pasti tidak lepas dari gaya hidup yang dipilih. Saya percaya setiap orang berhak mendapatkan masa emas yang sejahtera dan tidak pernah ada kata terlambat untuk berencana. Live a beautiful life!

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 April 2016, di halaman 25 dengan judul "Gaya Hidup dan Perencanaan Pensiun".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Friday, April 08, 2016

PSIKOLOGI: Penyesalan (AGUSTINE DWIPUTRI)

Dalam hidup adakalanya timbul penyesalan mengenai suatu tindakan yang kita lakukan, misalnya kita telah ingkar janji kepada seseorang; telah menyakiti hati ibu; memilih tempat kerja yang keliru; atau tidak berhasil mendapat beasiswa. Biasanya perasaan tersebut kemudian menghambat kita dalam melangkah ke depan. Bagaimana tindakan kita agar bisa meminimalkan rasa tersebut?

Marc Muchnick (2011) dalam bukunya,No More Regrets, mengatakan bahwa penyesalan berkaitan dengan segala hal yang telah kita lakukan, tetapi kita berharap tidak melakukannya atau ketika kita gagal melakukan sesuatu padahal kita berharap dapat melakukan. Keduanya sama-sama menghasilkan ketidakbahagiaan atau kekecewaan. Dengan kata lain, penyesalan adalah semua hal yang kita lakukan ataupun yang tidak kita lakukan. Oleh karena itu, penyesalan adalah tentang perilaku dan perasaan kita mengenai ketidakbahagiaan atau kekecewaan, yang berkaitan dengan perilaku tersebut.

Memahami penyesalan sebagai hasil dari perilaku kita berimplikasi langsung pada bagaimana kita membuat keputusan. Biasanya kita membawa sejumlah elemen dalam kerangka pengambilan keputusan kita, seperti waktu, konteks, kesempatan, dan biaya. Bagaimana kita akan merasakan sesuatu tentang keputusan setelah dibuat, apa yang akan menjadi dampak, dan sebagainya.

Penyesalan dan kesalahan

Perlu diingat bahwa penyesalan tidak selalu sama dengan kesalahan. Kita bisa belajar banyak dari kesalahan kita, tetapi tidak perlu harus menyesalinya. Bahkan, dalam kenyataannya, beberapa pelajaran terbaik dalam hidup berasal dari membuat kesalahan. Pada dasarnya, penyesalan dan kesalahan kita dapat berbeda melalui perasaan positif atau negatif yang kita hubungkan dengan tindakan tertentu. Sementara kita semua masih akan bertindak salah, maka kuncinya adalah menghindari membuat kesalahan yang akhirnya kita menyesal.

Lebih lanjut Muchnick mengatakan, meskipun sumber-sumber penyesalan adalah unik bagi setiap orang, ada aspek tambahan dalam memahami penyesalan, yaitu terdapatnya beberapa tema umum pada penyesalan, di antaranya:

- Kita terjebak dalam berbagai kebiasaan dan menjadi tahanan bagi rasa penyesalan kita.

- Kita mengandalkan banyak hal atau orang lain.

- Kita mengorbankan otentisitas (keaslian) kita.

- Kita berhenti tumbuh, belajar, dan berkembang.

- Kita menjadi terlalu mementingkan diri sendiri, tidak sensitif, dan menghakimi.

Mengurangi munculnya penyesalan

Dari sekian banyak cara yang ditawarkan Muchnick, pertama yang harus dilakukan adalah keluar dari berbagai kebiasaan yang Anda lakukan. Terdapat beberapa langkah untuk menjalani hal utama ini:

1. Berhenti melakukan hal yang tidak berguna.

Jangan berharap hidup menjadi berbeda jika Anda tetap melakukan apa yang selalu Anda lakukan. Apakah Anda berada dalam suatu hubungan yang buruk, pekerjaan yang salah, atau tempat dalam hidup Anda di mana Anda merasa terjebak, milikilah keberanian untuk mengubah dan menghentikan hal-hal yang merugikan Anda. Bebaskan diri dari penyesalan terhadap kondisi Anda dan ambillah arah baru yang berguna untuk Anda.

2. Pilih satu hal untuk memulai.

Lebih baik melakukan satu hal secara sungguh-sungguh daripada banyak hal secara buruk. Ketika melihat daftar hal-hal yang harus Anda lakukan, jangan mencoba untuk mengerjakan semuanya sekaligus. Sebaliknya, pertimbangkan satu hal pada daftar yang akan memberikan kepuasan terbesar dan paling efisien untuk waktu yang Anda gunakan. Kemudian pilih titik awal sehingga Anda dapat mulai bekerja menuju sukses. Ini akan membantu Anda merasa berenergi karena Anda akan memiliki strategi untuk bergerak maju dan tidak akan lagi merasa terjebak.

3. Berdamai dengan diri sendiri.

Penyesalan dapat bertahan kuat pada diri seseorang. Maka kuncinya adalah belajar bagaimana melepaskan diri dari cengkeramannya. Misalnya dengan meyakini bahwa saya tidak lagi terbebani oleh penyesalan yang berat karena saya telah melepaskan beban emosional saya dari kegagalan mempertahankan perkawinan. Ketika menghadapi hal yang menyiksa, hentikan gejolak batin. Berikan diri Anda izin untuk menjadi tidak sempurna dan tidak menyalahkan diri sendiri atas situasi yang tidak bisa Anda kendalikan. Berdamailah dengan diri sendiri dan atur diri Anda agar bebas dari masa lalu.

4. Ubah kesulitan menjadi peluang.

Jika kemudian Anda dihadapkan pada kesulitan, pikirkan bagaimana Anda dapat mengubahnya menjadi sebuah kesempatan. Pertimbangkan cara yang unik dan inovatif dalam mencari solusi. Lihatlah kemungkinan untuk sukses sebagai lawan dari kegagalan. Yakin pada diri sendiri dan miliki kepercayaan diri untuk merangkul situasi serta menghadapi tantangan ke depan.

5. Hindari mencari korban/menyalahkan orang.

Cara yang baik untuk memulai adalah dengan mengakui bahwa kita masing-masing memiliki kekuatan untuk mengubah cara kita bereaksi terhadap situasi yang kita hadapi dalam hidup. Misalnya, jika Anda merasa tidak puas dengan pekerjaan Anda, mengalami masalah hubungan dengan orang, bagaimana Anda menangani situasi ini benar-benar tetap bergantung pada Anda. Melihat ke dalam bukannya ke luar untuk mengidentifikasi sumber sejati dari penyesalan Anda. Tahan diri dari menyalahkan orang lain, membuat alasan, dan bertindak tak berdaya. Berhentilah mengeluh, ambil tanggung jawab pribadi untuk situasi Anda dan juga untuk solusi. Ketika kita berhenti mengasihani diri kita sendiri, perasaan menyesal tentang keadaan hidup kita akan mereda dan mampu melihat dunia dengan cara pandang yang lebih baik.

6. Menjauh dari orang yang "meracuni" diri.

Berada di sekitar orang "beracun" adalah suatu resep untuk penyesalan. Hindari mereka dari kehidupan Anda dan tinggal sejauh mungkin dari mereka. Sebaliknya, kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang bersikap positif. Berada di sekitar mereka akan membuat Anda merasa lebih bersemangat, termotivasi, percaya diri, terinspirasi, bahagia, dan terus hidup.

Melakukan hal yang benar

Selain langkah-langkah di atas, hal lain yang juga penting diperhatikan ketika kita tengah memilih satu tindakan melampaui tindakan lainnya dalam hidup adalah selalu melakukan hal benar. Hal yang benar itu bergantung pada interpretasi individual. Ini yang menyebabkan mengapa kita harus membiarkan hati nurani kita menjadi penuntun dalam bertindak. Dalam konteks penyesalan, maka definisi dari hal yang benar mungkin paling diartikulasikan sebagai "pilihan yang tidak akan membuat Anda menyesal".

Melakukan hal yang benar adalah mampu hidup dengan berbagai keputusan Anda dalam setiap bagian kehidupan Anda. Pastikan bahwa keputusan Anda adalah sesuatu yang membuat Anda akan merasa bangga dan siap untuk tetap mendukung atau mempertahankannya. Ketika melakukan hal yang benar, Anda tidak akan pernah menyesali apa yang telah dilakukan.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 April 2016, di halaman 25 dengan judul "Penyesalan".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Saturday, August 29, 2015

INSPIRING True STORY: Mr. George C. Boldt

Suatu malam di suatu kota di Philadelphia, USA, sepasang suami-istri sepuh masuk ke sebuah hotel kecil. Mereka bertanya kepada resepsionis di situ...

Suami : Apakah masih ada kamar untuk kami berdua ...?

Resepsionis: Maaf sekali Pak, kamar kami penuh semua dan kebetulan di kota ini sedang ada 3 events besar, sehingga semua hotel penuh

Suami : Oooh, baiklah kalau begitu ...

Resepsionis : Tetapi saya tidak mungkin menolak Bapak & Ibu serta menyuruh pergi di tengah malam begini sementara di luar hujan badai... Kalau berkenan, bapak dan ibu boleh menginap di kamar saya. Segera saya akan membereskan kamar saya...

Suami & istri : ... (mengangguk tanda setuju) Terima kasih anak muda... Thank you, young man!  

Dua tahun berlalu, dan resepsionis tadi hampir melupakan kejadian itu, ketika menerima surat yang mengingatkannya pada malam hujan badai tersebut.

Lelaki muda ini diminta datang mengunjungi pasangan tersebut di New York & terlampir tiket pesawat pulang-pergi untuk-nya ...

Di New York, laki-laki tua itu membawanya ke sudut 5th Avenue & 34th Street, lalu menunjuk sebuah gedung baru yang megah, sebuah istana dengan batu kemerahan dan menara  (tower) yang menjulang ke langit... Sebuah sky scraper mewah.

Lelaki tua : Itu adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk Anda kelola...

Resepsionis: ha ha...ha.Anda pasti sedang bercanda ... 

Lelaki tua: ... Sure, saya tidak sedang bergura

Nama lelaki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah Waldorf-Astoria Hotel.

Resepsionis itu, adalah Mr. George C. Boldt yg akhirnya menjadi CEO dari jaringan WALDORF-ASTORIA HOTEL yang kini berdiri di hampir seluruh kota-kota besar di seluruh dunia

Moral of this story:

Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik kepada siapa-pun, kapan-pun & dimana-pun...jangan sampai hidup kita dipakai u menekan dan menipu orang...karena semua pasti ada balasannya...

You get what You give, whether it's good or bad.


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Wednesday, August 26, 2015

13 kata “JANGAN MENUNGGU”

************************
πŸ‘1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.
🌻2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.
🌻3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.
🌻4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan ….
🌻5. Jangan menunggu orang memahami kamu. baru kamu memahami dia, tÒÞi pahamilah orangitu, maka orang itu paham dengan kamu.
🌻6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis.tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
🌻7. Jangan menunggu projek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka projek akan menunggumu.
🌻8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.
🌻9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan sekadar uang yang datang tapi juga rezeki yang lainnya.
🌻10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.
🌻11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.
🌻12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa! 
🌻13. Jangan menunggu waktu luang tuk ber-Ibadah.
Tapi luangkan waktu tuk ber-Ibadah.v
🌺Dan… Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan tulisan ini kepada semua orang yang anda kenal…😊

(dari WA)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tuesday, August 04, 2015

Manusia-manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri (Rhenald Kasali)


Sebuah inspirasi menghadapi tantangan & menjalani hidup....

Manusia-manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri
(oleh: Rhenald Kasali)

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.

Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).

Solved!

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan Tenaga Kerja

Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.

Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.

Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. "Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis." Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.

Susah? Kerja Lebih Profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. "Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi," ujarnya.

Kepada putra saya ia mengajari. "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. "Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia." Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, "Suruh orang-orang itu kerja di sini saja."

Tak lama kemudian ia pun meneruskan. "Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile."

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. "Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja," ujarnya.

Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa Merdeka Jangan Cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan.

Lalu dari grup WA para alumnus sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.

Syukuri yang sudah didapat. Kecemasan hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.

Kalau Anda merasa Indonesia sudah "berbahaya" ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Monday, May 04, 2015

"Kita nggak kalah bagus dari bule"

‎Orang bule, tidak selalu memiliki kemampuan lebih baik dari kita. Meski mereka dibayar lebih tinggi. Ada bule yang nggak bisa sama sekali. Ada bule bagus? Tentu. Yang bagus banget juga.

Jika bisa mendidik diri, kita nggak kalah bagus dari bule. Malah bisa lebih bagus dari mereka.
 
Masalahnya, kita sering inferior dihadapan mereka. Belum apa-apa sudah keder duluan. Padahal mungkin, kemampuan kita sepadan.
 
Kita juga sering mempermasalahkan timpangnya bayaran. Gak usah gitu. Mendingan fokus dengan urusan pengembangan diri.
 
Nggak usah mikirin 'diskriminasi'. Itu mah sudah menjadi perilaku global. Bangsa superior, menilai rendah kaum inferior. Makanya, kita tidak boleh menjadi bangsa yang inferior lagi.
 
Anda, boleh berharap presiden RI bisa membangun citra negeri yang berwibawa ke seantero dunia. Seperti Soekarno deh.
 
Tapi entah sampai sejauh mana presiden sekarang mampu membangun citra bangsa berwibawa itu.
 
Lagi pula, kita mesti membangun citra diri secara individu. Supaya punya nyali dan taji untuk memasuki kancah persaingan.
 
Setiap pribadi mesti memiliki kualitas, dignity, dan sikap mental kelas satu. Sehingga, bisa sejajar dengan bule-bule yang bagus. Meski masih dibayar lebih rendah; tapi soal kemampuan, kita nggak boleh kalah.
 
Kejadian di ring tinju kemarin bisa menjadi contoh. Kualitas Paquiao membuat hambar kemenangan 'bule' Mayweather. Meski pun dibayar lebih rendah, dan diganjar dengan angka minim; tapi mata awam dan profesional pun tahu, siapa yang bertinju dengan bagus dalam pertandingan itu.
 
Dikantor, mungkin Anda juga dibayar lebih rendah daripada bule. Tapi Anda bisa membuat semua orang sadar bahwa ternyata, Anda juga bagus banget. Karena faktanya, kita nggak kalah bagus dari bule.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman  
Author, Trainer, and Public Speaker

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Related Posts with Thumbnails

My play list


Get a playlist! Standalone player Get Ringtones